Jumat, 16 Juli 2010

Cinta Seorang Jutawan



Pencarian:

  • Cerpen cinta
  • Cerpen persahabatan
  • Cerpen islami
  • Cerpen online
  • Cerpen singkat


23 Juli 2008, langit memerah petang di lautan awan, ucapan wanita dengan pengeras suara itu cukup terdengar oleh seluruh penumpang busway. Aku sendiri tengah menghabiskan 3600 detik ini sambil membaca Al-Qur’an. Surat cinta terindah yang selalu kusimpan di saku baju.

Ini kali pertama aku naik busway. Memang terdengar sangat aneh. Ustadz Halim berkata, “agar lebih hemat,” kata beliau. Ternyata memang murah, hanya merogoh kocek 5000 rupiah saja setiap menuju rumah beliau, tempatku melakukan kegiatan rutin setiap hari Kamis: halaqoh. Aku mengikuti halaqoh baru satu tahun yang lalu. Dan kini aku adalah seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi, UI.

Selesai membaca Al-Qur’an, kulihat seorang pria tua berdiri tepat di hadapanku. Pria tua kurus dan cukup tinggi dengan kumis yang cukup lebat. Rambutnya yang beruban itu disisir rapih, begitu pula dengan pakaian yang ia pakai, sangat rapih. Dari penampilannya, aku jadi teringat pada seseorang yang pernah kukenal. Dua tahun yang lalu…

—Samui—

Di dalam sebuah kamar dengan peralatan yang serba mahal, seorang lelaki 17 tahun berbaring di atas kasurnya di balik selimut tebal nan hangat. Ia mencoba menggapai jam weker yang terus berdering sejak pukul tujuh pagi. BRAKK! Benda brisik itu akhirnya rusak terjatuh. Sejurus kemudian, seorang pria tua muncul menghampiri lelaki tersebut.

“Den Farant, waktunya sekolah,” katanya, “akan kami siapkan seragam, tas, air hangat dan mobil untuk den Farant pakai. Tapi, kami tidak tahu, den Farant mau pakai mobil yang mana?”

Farant bangun lalu duduk di kasurnya. “Kalian aja yang milih. Gw gak masalah pakai mobil gw yang mana saja,”

“Baiklah, den.” Pria tua bernama Dadang itu menurut saja. Ia pun melangkah pergi.

Sebuah SMU swasta yang begitu megah dengan kualitas pendidikan yang tidak perlu ditanya menjadi pemberhentian mobil bmw mewah milik Farant. Farant keluar dari mobil itu sambil melonggarkan dasi seragamnya. Ia terlambat 30 menit untuk masuk kelas, tapi dia tidak masalah dengan hal ini. Toh, para guru pun tak ada yang berani menghukum Farant, sang murid super tajir satu sekolah dan pewaris tunggal perusahaan paling sukses se-Nusantara; Sosok sempurna untuk menjadi playboy, tapi tidak ia lakukan.

“Den, ada lagi yang dibutuhkan?” Tanya Dadang. “Den, ada apa?”

—Samui—

“Dek, ada apa?” Pria itu bertanya dan membuyarkan semua kejadian yang terputar begitu saja dalam benakku. Serentak wajah Dadang berubah menjadi pria tua yang kubilang mirip dengannya tersebut. Agaknya dia merasa bahwa aku melihatnya sejak tadi. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng dan kucoba mengalihkan pandanganku ke tempat lain.

“Boleh aku duduk disini?” Seorang gadis SMU bertanya. Aku melihatnya dan kami bertemu pandang. Aku segera menunduk seraya beristighfar. Sementara, parfum yang dipakainya cukup menyengat. Kusadari memang, aku cukup menguasai tempat. Aku berdiri dan mempersilahkannya duduk.

“Tapi mungkin ini masih muat untukmu,” kata gadis itu menunjuk tempat di sebelahnya.

“Tidak, saya berdiri saja mbak,” kataku menjauh. Menghindari wangi parfum yang akhirnya memaksaku teringat pada seseorang…

—Samui—

Irma, cewek yang memakai kacamata cukup tebal dan hampir ke setiap tempat membawa buku pelajaran. Ya! Ia memang cewek paling cupu satu sekolah dan sama sekali tidak seksi. Yang mengejutkan darinya adalah, dia satu-satunya cewek yang namanya terukir indah di hati Farant!

“Loe harus percaya sama gw, Farant! Gw lihat pakai mata kepala gw sendiri plus dua mata kaki, kemarin Irma disiksa sama Melani cs sampai pingsan!” kata Yudha, sahabat Farant yang sebentar lagi ulang tahun, “rambut Irma ditarik sampai jatuh terus mereka siram sama air comberan satu ember!”

“Cerita yang lucu sekali,” kata Farant tidak percaya. Ia terus bermain bola basket di halaman rumahnya itu.

“Gw bakal makan sepatu gw sendiri kalau gw bohong! Irma itu gak bilang sama loe biar loe gak khawatir. Dan Melani cs melakukan itu karena dia gak suka cewek rendah kayak Irma jadi pacar loe!”

“Loe bilang apa? Cewek rendah?!” bentak Farant menarik kerah Yudha. Yudha hanya diam menatap mata sahabatnya yang tajam itu. Mereka hanya saling melotot untuk beberapa menit dan Farant pun melepaskan tarikannya. Ia sadar kalau sahabatnya tidak berbohong.

22 Desember 2006, mendung mulai bergelayut. Dan hujanpun turun. Sore ini, Irma menunggu Farant di sebuah halte pinggir jalan. Tak lama, sebuah mobil Mercedes berparkir di depannya dan Farant muncul (Kali ini Farant bawa mobil Mercedes). “Menunggu lama?” tanyanya.

“Tidak, aku yang datang terlalu awal,” kata Irma. Farant hanya diam. Ia menyimpan kemarahannya sementara. Dilihatnya muka Irma yang penuh luka. Cewek ini benar-benar sudah membohonginya. “Farant, ini untukmu! Kalau tidak enak, kau tetap harus menghargainya.” Irma memberikan sebuah kotak makanan dan Farant mengambilnya. Ia tidak membuka kotak itu tapi malah dilempar ke tengah jalan.

“Kamu pikir aku ini idiot? Kenapa berbohong tentang Melani cs?!” bentaknya.
“A..aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir! Lagipula kalau aku bilang, kamu mungkin akan mengeluarkan mereka dari sekolah,” ujarnya. “Kenapa kamu harus membuang makanan itu? di luar sana masih banyak anak-anak yang tidur dengan perut lapar!” Irma lalu menghampiri kotak makan yang dilempar ke tengah jalan tersebut, hendak memungutnya. Tak lama, sebuah bus antar kota melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan. Terasa begitu cepat hingga akhirnya…

—Samui—

“Pemberhentian Halte Stasiun Gambir,” ujar wanita dengan pengeras suaranya itu. Aku tersentak, segera kusadari kalau aku kembali memikirkan masa lalu. Akhirnya daripada melamun tak menentu, kembali kubuka Al-Qur’an dan membacanya.

Busway berhenti mendadak. Sebuah mobil melaju kencang di jalanan bahkan melewati batas jalur busway. Seakan-akan jalan ini hanya miliknya seorang. Konsentrasi membaca Al-Qur’an pecah, pikiranku kembali ke dua tahun lalu…

—Samui—

Di bawah pengaruh alkohol, mobil Farant meluncur di jalanan dengan kencang. Dan semakin kencang. Tak ada lagi yang dia pikirkan kecuali ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Irma dua hari lalu.

Seorang bocah lari begitu saja, Farant tak dapat melihatnya dan tak lama terdengar teriakan menyakitkan. Bocah itu terserempet mobil. Farant terus mengendarai mobilnya. Hendak berlari dari semua ini! Hingga di ujung jalan sana, ia malah membalikkan arah mobilnya dan menuju tempat anak laki-laki tadi terserempet. Farant keluar dan melihat anak laki-laki itu pingsan. Anak laki-laki itu membawa kecrekan dan membawa gelas aqua yang berisi uang receh.

“Kau harus tanggung jawab! Dia sudah seperti anakku sendiri tapi kau malah menabraknya!” teriak seorang pria ke arah Farant. Farant hanya diam.

“Kalau dia sudah seperti anakmu. Kenapa kau membawanya ke jalan?” kata orang-orang pada pria itu. “Ya! Kenapa kau membawanya ke jalan?!”

Farant diam. Ia menunduk menutup telinganya dan semakin menyalahkan dirinya atas kematian Irma, Seakan-akan semua orang di tempat itu malah berteriak ke arahnya. Puluhan kali. Ratusan kali. “Kenapa kau membawanya ke jalan? Kau yang telah membunuhnya! Kenapa kau membawanya ke jalan?”

—Samui—

“Diam…!!!” Aku berteriak tanpa sadar. Semua mata di busway kini melihat ke arahku. Entah apa yang merasuki pikiranku, semua kejadian itu terputar begitu saja.

Seseorang mendorongku dari belakang dan Al-Qur’an yang kupegang jatuh. “Astaghfirullah,” gumamku kecil. Ketika hendak memungutnya, seseorang telah memungutnya terlebih dahulu dan memberikannya kepadaku. Seorang pria dengan kening hitam bekas sujud dan janggut tipis di dagunya. Ia benar-benar mengingatkanku pada seseorang…

—Samui—

Malam hari, Farant duduk bersandar di mobil jaguarnya. Tak lama kemudian, ia mendengar adzan dari mushola di dekat situ. Ia baru sadar, ia lupa kapan terakhir ia sholat. Ia juga lupa kapan terakhir ia membaca Al-Qur’an. Buku panduan sholat yang diberi Dadang waktu itu malah dijadikannya ganjalan meja. Ia pun keluar dan duduk bersandar ke tiang mushola.

“Farant, kan? Sudah wudhu?” tanya seorang pria sok akrab. Usianya hampir sama dengan Farant. Namanya Ahmad.

“Belum. Gw lupa caranya, puas?” ujar Farant.

Ahmad cuma bisa tersenyum kecewa. “Kalau begitu saya ajarin deh,” katanya, “Astaghfirullah, kamu habis minum alkhohol?”

“Apa peduli loe? Rasanya gw mau mati aja!”

“Lalu apa yang kamu dapatkan setelah itu? Kenapa kamu tidak bersyukur pada apa yang telah Allah berikan padamu? Ibumu? Ayahmu? Kalau kamu mencoba mencari makna hidup yang lebih spesial, kamu tidak akan menjadi seperti ini,” kata Ahmad sok menasehati.

“Maksud loe?”

“Hidup kamu ini memang tidak berarti sampai kamu mau beribadah!”

Sejurus kemudian, handphone Farant berbunyi karena Yudha meneleponnya. “Farant, loe kemana aja sih? Udah kita tungguin dari tadi!” bentaknya.

“Ada apa?”

“Ulang tahun gw!!!”

“Iya, gw lupa.”

“Loe cepet ke sini dah! Gw tahu loe lagi sedih, tapi jangan kelamaan. Loe butuh refreshing, Far. Makanya, loe harus nyoba yang satu ini!” bisiknya pelan. Farant sedikit mengerti maksud sahabatnya itu. Narkoba. Sementara, ia melihat Ahmad yang menuju tempat wudhu. Ada yang sesuatu yang bergetar di hatinya. Dengan segenap hati, ingin rasanya ia menghapus kesalahan yang telah ia perbuat. Ia pun menghela nafas.

“Gw sholat isya dulu,” ujar Farant.

“Sholat? Bwuahaahaha!” Yudha tertawa. Tapi Farant keburu memutuskan sambungan telepon itu.

—Samui—

“Ini Farant kan?” orang itu bertanya padaku. Serentak, bayang-bayang masa lalu itu hilang. Mushola berubah menjadi busway. Aku benar-benar terlalu banyak melamun. Aku pun banyak-banyak beristighfar. “Ini Farant Pratama kan, ya?” orang itu kembali bertanya padaku.

“Iya, saya Farant. Ini Ahmad?” Aku mulai mengenalinya. Dan orang itu mengangguk mantap. Kami mulai melempar senyum dan lalu dia memelukku erat. Dia adalah sahabat yang tidak pernah dapat kulupakan, biarpun kuawali persahabatan ini dengan sedikit pertengkaran. Tapi sedikit banyak ia telah membantuku menemukan konsep hidup yang amazing.

—Samui—
By : Maryam Qonita

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...