Senin, 01 September 2014

[Cerpen] Retak




Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan gerimis turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung. Mungkin itu satu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami. Dan barangkali dongeng tentang diriku bermula dari seorang pria bertopeng di dalam kepala.



Masih membekas jelas dalam ingatan, malam-malam raya yang haram dan tidak pernah kumubazirkan. Ibu dan ayah mungkin mencemaskanku semalaman ini. Namun peduli setan. Hawa panas kian menari-nari dalam tubuh, menyeretku lebih jauh dalam hasrat pemuasan nafsu dengan wanita-wanita diskotik setengah telanjang.




Malam-malam itu telah lama berlalu. Saat keringat dingin membanjiri seluruh tubuh dan mendadak otakku nge-blank. Aku jatuh tersungkur ke lantai diskotik yang dingin. Mengejang. Ingin rasanya membenturkan kepalaku dan memecahkannya dalam satu ledakan. Kesakitan mendera, serasa gatal di setiap inci tubuh, ususku seperti diris-iris dan persendian terasa ngilu. Kudengar kembali teriakan-teriakan itu. Sumpah serapah itu… orang-orang menggoncang tubuhku yang mematung, menerawang kosong dengan air liur menetes-netes…



Semenjak aku dilarikan ke rumah sakit dan panti rehabilitasi, semakin sering kudengar omelan si pria bertopeng itu. Aku ingin sekali berteriak mengusirnya, namun dia malah tertawa. Tertawa terbahak-bahak dengan perutnya terkocok-kocok. Dasar! Ia mungkin tidak akan puas menyakitiku hingga aku memecahkan kepalaku sendiri. Namun sepertinya aku hanya seorang pengecut dan tidak pernah berani melakukan itu.


Malam kian merangkak naik. Orang-orang tidak melepaskan sorotan mata mereka. Aku membalas mereka dengan satu seringai, namun mereka sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin pulang. Pulang ke rumah, bertemu ibu dan ayah juga saudara-saudaraku.



Malam kian purna. Langkahku kupercepat seiring detak jantung yang berdegup kencang. Mencoba kukumpulkan kenangan-kenangan yang berceceran dimana-mana. Di sudut-sudut kota Jakarta yang ditanami gedung-gedung angkuh, di luapan air sungai yang kelam, di taman-teman penuh embun bergelantungan, di lampu jalan yang remang-remang, ya… dimana-mana. Semuanya bagaikan puzzle-puzzle berserakan atau pita film yang terkoyak menjadi rekaman dongeng masa lalu yang kembali terulang. Ya, terulang mundur.




“Ravio…” Aku menoleh dan kulihat sesosok wanita paruh baya membawa sekantung belanjaan. Rambutnya mulai memutih dan garis-garis keriput terlihat jelas di wajahnya ketika dia berjalan mendekat Wajah itu tiba-tiba menyesaki ruang kepala. Aku tidak bergeming laksana selaksa bisu.


 “Ibu…”


“Ayo pulang!” sahutnya dengan senyuman.


Waktu seakan berhenti berputar. Bayangannya seakan samar, namun mungkinkah dia ibuku? Kembali kucoba mengenalinya setelah sekian lama. Meskipun begitu, kakiku terus mengikuti bayangannya, terus sepanjang malam kian bergulir. Ia membawaku ke sebuah rumah.  Rumah dengan semak-semak belukar yang menjalar dan rerumputuan liar memanjang. Rumah ini berdebu. Saat melangkah masuk, entah kenapa ruangan ini menebarkan aroma duka dan luka penyesalan. Sementara wanita itu pergi menghilang ke dalaman rumah.


Mataku masih nyalang, menelanjangi setiap sudut rumah yang begitu kelam  dengan debu dan sarang laba-laba. Seakan tiada yang mengurusnya. Sayup-sayup telingaku menyimak suara di tengah ruangan, aku mencoba mendekati sumber suara dan kulihat bocah SD bertubuh ringkih. Tampak terkembang layar kepayahan pada wajahnya setelah bermain playstation seharian. Ia tidur telentang di atas karpet dengan liur berleleran.


Di pojok ruangan, kulihat seorang pria tua sedang membenarkan beberapa peralatan elektronik rumah ini yang mulai rusak. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari matanya di balik kacamata bundar itu. Aku tak ingin mengganggunya karena kupikir ia sedang serius membetulkan radio tua tersebut. Namun keterpakuanku padanya hanya membuatnya geram.


Sayup-sayup dari lantai dua kudengar suara music menggema yang sedari tadi tidak berhenti. Oh, itu pasti dia. Dia tidak pernah keluar kamar semenjak diputuskan oleh pacarnya dan berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu rock di kamar. Aku tidak mungkin mengganggunya.

         
“Ini telor balado kesukaan kamu, Vio…” Wanita itu memanggilku di ruang makan. Dengan sigap aku langsung menyambar makanan tersebut. Namun entah kenapa, masakannya tidak lagi seenak dulu. Tapi tidak apa-apa, perutku memang sejak tadi sedang lapar.

“Enak gak?” tanyanya.


“Enak bu. Tapi masih enakan yang dulu,” ujarku yang begitu teringat telor baladonya yang kumakan sewaktu SMA. Dulu telor balado ibu sambalnya yang mantap, bumbunya yang gurih dan kental. Tidak akan kulupakan meski telah bertahun-tahun tidak mencicipinya.


“Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah pulang…” Wanita itu yang mungkin ibuku, dia membelai wajahku lembut seakan-akan aku ini anak laki-laki yang masih kecil… tunggu, berapa ya usiaku saat ini?


“Berapa usiaku?”


“23 tahun, sudah seharusnya kamu memiliki pekerjaan…”


Aku terdiam hening. Aku tidak tahu pekerjaan apapun kecuali orang-orang di rumah sakit berbaju putih itu. Mereka menyebut diri mereka dokter.  “Aku ingin menjadi seperti mereka, dokter.”


Ibu mengangguk. Ia pun menjabarkan apa yang harus kulalui untuk menjadi dokter. Namun, karena biaya kuliah kedokteran yang mahal maka akupun harus sedikit bersabar. Ayah akan berjuang untuk mengumpulkan uang demi aku kuliah. Tentu saja aku akan membantunya.


Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu seterusnya hingga minggu dan minggu kian berganti. Hingga bulan demi bulan.



Setiap harinya kulihat Akmal selalu asyik bermain playstation, kalau sudah capek maka dia akan tertidur lelap terlentang sambil mendengkur dan liur berleleran. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan lain. Ibu tidak pernah memarahinya, begitu pula ayah. Tidak seperti dulu, rumahku benar-benar damai sekarang. Kak Risa mulai keluar dari kamarnya. Kabarnya dia sudah memiliki pacar baru yang benar-benar amat dicintainya. Namun akhirnya, Kak Risa jadi sering pulang dini hari.


Ayah selalu keluar rumah pukul enam pagi karena ia harus bekerja hingga dzuhur. Ia adalah seorang insinyur mesin dan ahli fisika yang sangat andal. Sementara aku sendiri membantu ayah bekerja dengan menjadi kondektur busway. Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi toh waktu kerjaku hanya dari pukul satu siang hingga pukul tujuh malam. Setiap aku pulang, selalu ada ibu memasak di dapur.


 “Ayo makan…”


Aku memakannya. Dalam satu suap, kurasakan masakan ibu tetap sama dan tidak pernah seenak dulu.


“Enak gak?”


“Enak bu, tapi tetap tidak seenak yang dulu.”


Kulihat raut wajah sedih di muka ibu. Dia lalu mengambil buku catatannya dan menuliskan sesuatu di buku catatan itu. Aku penasaran dan berusaha mengintip tulisannya tapi ibu langsung menarik buku tersebut.


“Saat usiamu 21 tahun nanti, barulah kamu boleh membaca tulisan ini.



Aku terdiam. Bingung, berapa usiaku saat ini?



“22 tahun, kau seharusnya sudah lulus kuliah.” Ibu menjawab seperti membaca pertanyaan dalam kepalaku.


 Hanya mengiyakan kata ibu. Aku terlupa akan usiaku saat ini. Aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu yang sering kali tidak bisa kumengerti maknanya dan kehadirannya. Ingatan yang retak, mungkin itu yang kualami.


“Aku ingin berkuliah seperti ayah kuliah. Bagiku ayah adalah orang yang hebat.”


 “Kalau gitu kamu harus belajar yang rajin. Saingan-sainganmu yang masuk teknik mesin itu orangnya pintar-pintar…”


Benar kata ibu, orang yang masuk teknik mesin pasti sama seperti ayah. Mereka pintar-pintar dan tentunya aku harus rajin belajar.



Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu terus. Pagi itu dingin, kuluangkan mengerjakan soal fisika. Siang yang datar, kuhabiskan dengan mengerjakan soal kimia. Senja yang panjang, aku membaca buku Biologi, hingga malam yang purna tiba. Tanpa kusadari minggu demi minggu berganti hingga bulan demi bulan.



Suara ketukan pintu terdengar disusul wajah ibu di balik pintu.


“Vio… ibu bawakan telor balado kesukaanmu…”



“Masuk saja bu!”



Ibu pun berdiri di samping meja belajarku. “Anak ibu memang rajin,” ujarnya sambil menaruh nampan berisi telor balado di atas meja belajar. “Kamu kan sudah 21 tahun, emang belum punya pacar?” Tanya ibu.



“Pacar?”



“Besok-besok ikut Risa saja, siapa tahu kakakmu bisa mengenalkanmu dengan temannya. Ibu sudah tidak sabar bertemu dengan pacarmu.” Ibu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.



Keesokan paginya aku menaiki mobil sedan berwarna merah Kak Risa. Ia tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, mobil ini pasti dari pacarnya. Kudengar pacar Kak Risa kaya raya. Aku hanya mengikutinya ketika ia membawaku ke dalam sebuah tempat karaoke ternama di ibu kota. Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah sofa merah besar bersandar di dinding. Di depan sofa itu ada meja penuh bir di atasnya. Ruangan ini remang-remang dan aku hanya terduduk di sofa sementara Kak Risa terdiam menunggu pacarnya.




“Sebentar lagi pacarku datang, kau harus menyambutnya dengan baik ya… Nanti aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman cewekku juga.”


Tidak lama kemudian, seorang pria jangkung bertubuh ceking memasuki ruangan karaoke. Dari gaya pakaiannya sepertinya ia pasti anak orang kaya.



“Wisnu, ini adikku namanya Ravio…” ujar Kak Risa menunjukku. Aku langsung bangkit dari kursi sambil menjulurkan tanganku untuk kenalan. Pria itu melihatku dengan sorotan mata yang sangat aneh. Ia tertawa melihatku.



“Kamu bercanda ya?” tanyanya pada Kak Risa.



“Bercanda? Aku hanya ingin mengenalkan kamu pada adikku…”



“Adikmu yang mana?”



Kak Risa menarik tanganku. Kali ini pria itu jelas-jelas melihatku.



“Dia ini adikku…!”



“Ada apa sih ini?” Tanya pria itu tidak mengerti.



“Namaku Ravio, aku adik Kak Risa. Bang, katanya abang punya banyak kenalaan cewek?” tanyaku berani membuka suara.


Pria itu mendesah kesal. “Hentikan permainan ini!”




“Kau tidak suka aku membawa adikku?”



“Apa kau gilaa?!” bentak pria itu membuatku naik pitam. Aku langsung meraih kerah bajunya dan melihatnya matanya tajam-tajam. Itu membuatku merasa berkuasa.



“Kau bilang kakakku apa?!” bentakku memelototinya. Membuat mataku dan matanya hanya berjarak beberapa centi.



“Ris, kau kenapa? Apa kau bukan lagi gay?” Tanya pria itu membuatku bingung. Apa dia baru saja memanggilku Risa? Atau menyebutku gay? Aku tertegun… sekelebat ingatan muncul dalam benakku begitu saja. Kenyataan-kenyataan perih yang membuatku ingin melarikan diri dari dunia. Ingatan tentang ruangan itu, topeng, darah, dan mayat-mayat. Pria itu pergi. Begitu pula Kak Risa yang entah sejak kapan sudah tidak ada dalam ruangan. Hanya aku sendiri.



Deg! Pria bertopeng itu kembali muncul dalam kepalaku membuatku tersungkur di dinginnya lanta. Ia menyakitiku dengan menusuk-nusuk kepalaku dengan sebuah belati. Ia ingin membunuhku. Rasanya ingin sekali kupecahkan kepala ini dalam satu ledakan daripada mendengarkan sumpah serapahnya.  Dalam satu embusan napas, membutuhkan waktu bagi untuk menyedot tenaga lebih besar dan jantung memompa lebih kencang.



“AAAARRGGGGHHHHHHHH…………….!!! KAU DIAAAAM!!! DIAAAAMM….”



Sumpah serapah kulontarkan. Pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan. Kebentur-benturkan kepalaku dengan sekuat tenaga ke ujung meja hingga darah mengucur ke lantai. Namun pria bertopeng itu tetap tidak ingin pergi. Tawanya kian membahana mengacak-ngacak isi kepalaku.




Aku merangkak keluar dari karaoke. Kubiarkan pria bertopeng itu muncul kembali dalam kepala. Dengan jalan gontai dan darah yang terus mengucur, kuikuti samar-samar jalan pulang di tengah malam yang kian larut. Orang-orang di sekelilingku terdiam. Bermacam-macam raut wajah mereka pasang. Darah berseliweran, menjadi jejak tersendiri.



Sementara, waktu kulampui dengan terus berjalan, tapi nampaknya aku tengah hilang arah. Yang kudengar hanyalah bisikan angin dan liukan hawa dingin kian mencekam. Kuperhatikan lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram.



Kuteruskan perjalanan, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung angkuh yang mencekam.  Kuperhatikan embun bergelantungan di taman yang remang… kuperhatikan luapan air sugai yang kelam. Kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Lagi-lagi, gerimis turun, mengguyur tiap sendi perkotaan. Aku pejamkan mata… terbuai aroma darah menelusuk raga. Sebelum akhirnya, semuanya gelap…...............



“…..bagaimana?”


“Trauma mendalam di masa lalu. Sepertinya ada ingatan yang tidak ingin dia terima mengakibatkan gangguan disosiasi.”



“Lalu?”



“Kami harus memanggil seorang psikiater.”


Mataku mengerjap-ngerjap dan silau sinar ruangan ini jatuh ke pelupuk mata. Kulihat tubuhku terbaring tak berdaya di sebuah kamar di rumah sakit. Beberapa orang berkemeja rapih tampak mengelilingiku ditambah dengan seorang wanita keturunan Chinese dengan baju jas hitam dikuncir ke belakang. Kini semua sorot mata a melihatku dengan terkejut. Tapi tak satupun dari mereka yang aku kenal.



“Pak Anwar… bapak baik-baik saja?” Tanya pria tersebut. Tampaknya dia lebih tua dariku, kenapa memanggilku pak? Dan Anwar… itu kan nama ayahku.



“Saya menemukan bapak pingsan dekat toko milik saya. Ini, buku yang selalu bapak bawa kemana-mana. Saya tidak berani membukanya pak…”




Aku melihat buku bersampul hitam itu. Itu buku catatan ibu… Ibu pernah bilang agar aku tidak membacanya kecuali di saat yang tepat. Buku ini terlihat begitu dekil apalagi guyuran hujan yang mungkin membuat beberapa halaman tintanya jadi sedikit meluber dan pinggiran-pinggiran bukunya yang sobek. Buku ini kupangku dan kubuka halaman pertamanya. Ternyata ini buku diary bertanggal. Kubaca buku diary ini dengan saksama… Anehnya diary ini bertanggal mundur. Semakin belakang justru tulisan yang lebih dahulu ditulis.




Ini adalah kumpulan diary ibu, ayah, Akmal dan Kak Risa. Cukup lama aku membaca diary mereka satu persatu. Tidak ada yang tulisan dari diriku sendiri.



Kubuka halaman demi halaman…. Lagi, lagi dan lagi. Ternyata beberapa halaman diloncat.


Sampai akhirnya aku melihat bercak darah di bagian tengah buku. Bau busuk terpancar menelusuk hidung…. Membuat perutku berputar. Namun rasa penasaran membuatku ingin membaca halaman selanjutnya… Tulisannya berantakan… buru-buru dan sepertinya tulisan ini sudah sangat lama ditulis oleh penulisnya. Tidak ada tanggal di tulisan ini…. Tapi kutahu dari gaya bahasanya… tulisan ini seperti bersuara. Memunculkan sekelebat bayangan hingga kulemparkan buku tersebut…



“AAArrrgggahh….”



“Kenapa pak? Kenapa teriak?”



Pria bertopeng… pria yang menulis halaman-halaman terakhir buku itu. Pria bertopeng yang selama ini bersarang dalam kepalaku dengan sumpah serapah dan pisau belatinya, kini ikut hadir dalam kamar rumah sakit.


Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...