Kamis, 04 September 2014

Kisah Pemuda Beribu Bapakkan Babi

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang bisa berbicara langsungdengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan berbicara pada Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di surga nanti yang akan bertetangga denganku?". Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang di beritahu. Setelah beberapa hari dalam perjalanan, akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di sana, beliau berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Anehnya, tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam kamar. Tak lama kemudian, dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu di dirawatnya dengan hati-hati. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa maksudnya ini?, kata Nabi Musa dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu di lap sampai kering serta dipeluk cium  dengan penuh kasih sayang kemudian diantar kembali kedalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. 

Selesai pekerjaannya, pria itu baru melayani Nabi Musa.

"Wahai saudara! Apa agama kamu?" tanya Nabi Musa.

"Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam.

"Lalu, mengapa kamu memelihara babi?" tanya Nabi Musa.

"Wahai tuan," kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapa kandungku. Mereka telah melakukan dosa yang besar, maka Allah telah menukarkan wajah mereka menjadi babi yang buruk rupanya. Dosa mereka dengan Allah itu masalah lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajiban ku sebagai anak.

Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibu bapaku seperti yang tuan lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugas ku.", sambungnya. "Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka di ampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum mengabulkan doaku.", tambah pemuda itu lagi.

Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. “Wahai Musa, inilah orang yang akan pergi dengan kamu di Surga nanti, karena baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya.

orang nya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naik kan derajatnya sebagai anak soleh di sisi Kami." Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerena dia telah berada di tempat anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibu bapaknya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga."Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibu bapak yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke surga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibu bapak nya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi.

Mudah-mudahan ibu bapak kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak. Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibu bapak kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa. Walau banyak sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibu bapak kita diampuni Allah S.W.T. Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibu bapak nya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibu bapak di alam kubur.

Arti sayang seorang anak kepada ibu dan bapak nya bukan melalui uang, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibu bapak nya ialah dengan doanya supaya kedua ibu bapak nya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.  Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL

Selasa, 02 September 2014

[Cerpen] Mentari Sudah Pulang


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit. Kutumpahkan pandangan ke lautan awan di luar sana, yang mulai memerah petang ketika mentari beringsut perlahan kembali ke lingkup terbenamnya. Membiaskan kemilau jingga yang menyebar melalui ceruk lingkaran langit. Indah. Di sudut lain kehidupan, orang-orang dalam busway membawa pulang kelelahan setelah seharian bekerja. Tergambar dari kernyit dahi dan butir peluh yang masih menempel di kerah baju mereka.

Sejenak bola mataku terpaku pada seorang ibu yang berdiri tepat di depanku. Usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Ia membawa sebuah kardus yang sepertinya berat. Ada corat-coret bergambar bunga matahari di kardus tersebut. Kulihat ibu itu kerap memegangi kepalanya yang berbalut jilbab. Aku langsung tahu kalau dia pusing setelah sekian lama berdiri. Sempat terlintas di benakku untuk memberikan tempat dudukku padanya, tapi aku mengurungkan niatku itu. Rumah kos masih jauh, dan aku lebih butuh duduk daripada ibu itu, aku rasa.

Langit senja mulai temaram. Mentari semakin merunduk seolah tunduk pada kekuasaan malam. Dia yang tadi terus mengintip, akhirnya sempurna bersembunyi di peraduannya. Aku turun di sebuah terminal busway, sementara ibu tadi sudah turun di tiga terminal sebelumnya segera setelah adzan maghrib berkumandang. Mungkin dia akan melaksanakan tugasnya sebagai orang muslim, sholat.

Sholat…, hatiku bergetar. Walau di KTP tertera aku beragama Katolik, tapi dulu aku beragama Islam. Jika kau bertanya mengapa aku murtad dari Islam, itu karena aku kehilangan ingatan sewaktu usiaku 13 tahun. Suster yang merawatku di rumah sakit berkata kalau aku kecelakaan, entahlah, aku tidak ingat apapun. Yang kutahu, dulu aku beragama Islam dari jilbab biru muda yang kukenakan waktu itu.

Berbulan-bulan aku tinggal di rumah sakit, seorang wanita dengan tudung kepala dan kalung salib mendatangiku. Dia mengajakku untuk tinggal di panti asuhan bersama anak-anak yang nasibnya sama denganku. Akhirnya, akupun memutuskan tinggal di panti asuhan yang bernaung di bawah gereja tersebut. Para pengasuh berpakaian biarawati dan anak-anak di panti asuhan sangat baik. Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun aku tinggal disana, aku memilih memeluk agama mereka. Aku meyakini tuhan mereka adalah tuhanku juga. Aku sembahyang di gereja setiap hari Minggu. Dan aku merayakan natal sebagaimana teman-temanku yang lain.

“Vina, kau tidak perlu lagi mempedulikan keluargamu. Mereka juga kan tidak mempedulikanmu. Jika mereka mempedulikanmu, seharusnya mereka datang menjengukmu ke rumah sakit! Hanya kami yang peduli denganmu, kau pasti tahu itu!” Riska, temanku di panti berkata padaku beberapa tahun yang lalu. Walau pahit, aku membenarkan ucapannya.

Malam semakin merangkak naik dan aku masih dalam perjalanan pulang. Udara dingin menyeruak ke segenap pori pori ditambah lapar yang mendera, pelupuk mataku pun mulai menggelayut manja, seakan memaksa diri agar cepat tiba di rumah kos. Ketika sampai nanti, aku perlu mandi untuk menghilangkan butir keringat selepas kerja sambilan yang kulakukan demi membiayai kuliah teknik sipilku ini. Setelah itu, makan malam dengan membeli abon dan nasi bungkus dari warung Bi Sumarni. Sehabis makan, baru aku bisa rebahkan tubuh di atas kasur. Menanti gelap menyelimuti lelap.

Sebenarnya aku merasa sebagian teman kampusku sangat beruntung. Ketika mereka pulang berbekal keletihan, air hangat sudah menyambut di rumah. Belum lagi di benak mereka sudah terbayang makan malam sederhana tapi nikmat hasil racikan tangan seorang ibu yang penuh cinta. Ah, nikmatnya…

Buliran bening jatuh membasahi pipi ketika aku mendongakkan kepala. Langit begitu pekat, tiada rembulan dan gemintang. Entahlah bagaimana wajah ibuku, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya.

 “Tuhan, bukankah engkau maha pengasih? Pertemukanlah aku dengan ibuku…,” ucapku lirih. Kucium tanganku setelah menyentuh dahi, bahu kiri, dan kanan. Aku ingin melihat wajah ibuku. Ingin memeluknya begitu erat dan berkata akulah anaknya.

Setelah kuseka buliran bening itu, aku terperangah mendapati seorang anak laki-laki hendak menyebrang, sementara terdapat sebuah mobil kijang yang melaju kencang di jalan gelap tersebut. Eh? Eh? Anak itu berlari begitu saja, tanpa tengok kanan-kiri. Dia akan tertabrak! Aku langsung berteriak memanggilnya tapi seolah dia tidak mendengarku. Langsung saja aku berlari mengejarnya sembari berteriak menyuruhnya minggir, tapi dia tetap tidak menggubris. Anak itu tidak tertabrak. Sementara akulah yang tertabrak, terdorong, dan jatuh terduduk. Ban mobil itu berdecit nyaring. Platnya berada sekitar 5 cm di depan wajahku. Adegan yang sangat cepat.

Deg! Aku tidak bergeming laksana patung. Mataku nanar, nafasku kian tak teratur, dan jantungku memompa lebih kencang. Tiba-tiba bayangan aneh berkelebat di benakku, saling rangkai merangkai menjadi kesatuan yang utuh. Mirip pita film yang terkoyak, atau mirip anak-anak puzzle berterbangan, atau mirip anak rantai yang terputus. Semua itu menyatu menjadi sebuah rekaman masa lalu yang kembali terulang…

-oo0oo-

Sebelas tahun yang lalu…

Sebenarnya ini bukan keinginanku. Tapi Putri, Amalia, dan Mira terus membujukku hingga akhirnya  aku luluh juga oleh rayuan tersebut. Aku pun terpaksa berbohong pada Ayah dan ibu. Aku bilang bahwa aku mau belajar bersama di rumah Putri, dan mereka percaya.

Semula Putri berkata kalau ia hanya ingin pergi ke bioskop untuk nonton film Star Wars. Tadinya rencanaku, aku ingin segera pulang setelah selesai menonton film itu. Tapi, sore itu mall meriah sekali. Membuatku lupa waktu. Selain menonton, aku dan temanku juga makan ayam goreng dan belanja manik-manik lucu khas perempuan. Ya, namanya juga ABG alias Anak Baru Gede.

Usai bersenang-senang, baru kusadari kalau hari sudah malam. Langit sudah hitam dan pijar lampu kota mewarnai tepi jalan. Aku ingin pulang. Begitu pula Putri, Amalia, dan Mira. Dasar ibu kota, ketika pada malam hari pun jalanannya masih saja ramai. Akhirnya, dengan dibantu oleh seorang bapak-bapak, kita pun menyebrangi jalan raya itu untuk selanjutnya naik taksi ke Lenteng.

“Ingat ya, jangan beri tahu orang tua kalian!” kata Putri, temanku yang telah berjasa mentraktir kita hari ini ketika tiba di trotoar.

“Tidak akan…,” kata Amalia.

“Iya. Bisa-bisa aku dihukum sama Abi,” timpal Mira.

“Kalian tunggu disini sebentar ya, aku teringat sesuatu,” ujarku.

“Ada apa, Ri?” tanya Amalia.

“Tasku tertinggal di tempat ayam goreng.”

“Ya sudah, cepat ambil sana! Jangan lama-lama, ya!” kata Putri.

Aku tahu. Aku tidak boleh lama-lama. Makanya aku melangkah dengan setengah berlari menyebrangi jalan raya itu tanpa kusadari sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Kepalaku membentur kaca depan mobil dan kurasakan sakit yang luar biasa menyergap seluruh tubuh. Kulihat darah segar mengalir, kudengar sumpah serapah orang-orang, sebelum akhirnya teriakan itu mengalun makin pelan, pandanganku buram, dan semuanya menjadi gelap.

-oo0oo-
           
Aku sudah ingat semuanya, peristiwa yang hilang sebelas tahun lalu. Orang-orang mengerumuniku, memandangku dengan tatapan yang membuatku tak betah lama-lama duduk disini. Aku pun segera bangkit dan berlari dari tempat ini segera. Tapi, anak laki-laki tadi… dimana? Ah! Aku tidak peduli karena kutahu dia baik-baik saja.

Rasa rindu membuncah di dada. Aku ingin pulang ke rumah lamaku. Tapi apa keluargaku masih tinggal disana?

Detik demi detik berselang, membentuk rangkaian menit dan jam. Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang ibu, Ayah, dan adikku Hasan. Tapi, ini pun sudah terlalu malam untuk mencari dimana keluargaku tinggal sekarang. Jadi  aku putuskan untuk mencarinya besok.

Fajar menyingsing di sudut cakrawala. Mentari menyapa ramah dan sinarnya mengintai dari balik awan-awan yang bergemelayut manja. Sepasang kakiku melangkah, menyusuri rute jalan menuju komplek Mabad II, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sebuah rumah sederhana bercat hijau berada di antara rumah yang lain. Itu adalah rumah dimana keluargaku tinggal sebelas tahun lalu, dan aku akan segera mengetahui apakah mereka masih tinggal disini atau tidak. Langkahku pun semakin mendekat dan mendekat. Kupercepat langkahku seirama dengan ritme jantung yang berdegup kencang. Akhirnya, aku pun tiba di depan pintu rumah ini. Hendak mengetuknya.

Tunggu. Keluargaku beragama Islam, jadi aku harus mengucapkan salam sebagaimana kebiasaan mereka. “Assalamu’alaikum!” sahutku seraya mengetuk pintu dengan nada beruntun, menggambarkan perasaanku yang kini meluap-luap.

“Walaikumsalam...” Seorang pria membuka pintu. Aku terperangah kaget. Aku mengenalinya walau waktu telah menampakkan cukup perbedaan. Dia Ayah!

“Ayah, ini Mentari!” ujarku setengah berteriak.

“Mentari? Mentari? Itukah kamu?” tanya Ayah menengok ke segala arah.

“Iya! Mentari disini!” Aku tidak mengerti kenapa Ayah seakan tidak melihatku.

“Kenapa kamu tidak pulang, nak? Ayah sangat merindukan kamu. Begitu pula ibumu dan Hasan! Itulah kenapa kami tidak pindah rumah, karena kami menunggumu! Sekarang ibumu di rumah sakit. Dia menderita tumor otak. Dokter bilang hidupnya sebentar lagi dan permintaan terakhirnya adalah ingin melihatmu pulang! Tapi, kamu dimana?”

“Mentari sudah pulang dan berdiri di depan Ayah..!”

“Dimana? Kenapa Ayah tidak melihatmu?”

“Ada apa, yah?” seorang anak muda berusia enam belas tahun muncul dari pelosok rumah. Aku tertegun, dia Hasan adikku. Terakhir kulihat dia masih kecil, masih sering merengek minta dibelikan es tung-tung. Kini, dia bahkan lebih tinggi dariku dan wajahnya sangat tampan, mirip Ayahnya.

“Hasan, Ayah mendengar suara kakakmu!”

“Apa?” pekik Hasan

“Sepertinya ada kakakmu disini!”

“Sudahlah, Ayah. Sekarang lebih baik kita menjenguk ibu di rumah sakit. Sakit kepala ibu kambuh lagi setelah kemarin keletihan berdiri di busway. Ibu pasti ingin kita berada di dekatnya,” kata Hasan.

“Iya, Ayah tahu! Tapi suara itu benar-benar nyata!” kata Ayah tidak kalah sengit.

“Ayah hanya berimajinasi. Tidak ada siapa-siapa disini!” ujar Hasan lalu mengangkat sebuah kardus aqua. “Andai saja kemarin aku membantu ibu membawa buku-buku jualan ini, ibu tidak akan selelah tadi malam hingga jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.”

Aku kaget bukan main. Apa mungkin ibu yang kemarin kubiarkan berdiri di busway adalah seorang wanita yang telah melahirkanku? Seorang wanita yang seharusnya aku panggil dia ibu? Kulihat kardus aqua itu, ada gambar bunga mataharinya... Aku langsung jatuh tersungkur. Air mataku tumpah seketika. Dadaku rasanya sesak. Sesak sekali!

“Koran…, Koran…!” Seorang anak muda mengayuh pedal-pedal sepeda ontel sembari melempar sebuah koran hangat ke teras rumah. Aku membaca beberapa baris berita di halaman pertama koran tersebut: Seorang gadis yang diduga bernama Vina (24) tewas semalam. Menurut saksi, awalnya gadis ini berteriak sendiri di tengah jalan hingga akhirnya sebuah mobil kijang menabraknya hingga tewas bersimbah darah…

Kuningan, 11 Mei 2010


Wuiihhh, Ada Mall yang Menjual Istri


Sebuah mall yang menjual istri, baru saja dibuka di sebuah kota. Di sana, laki-laki dapat bebas memilih istri.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

“Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI.”

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai. Setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut.

Diantara petunjuknya, Anda dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Lalu, seorang laki-laki pun pergi ke toko “istri” tersebut untuk mencari istri.

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 1 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada ALLAH. Laki-laki itu tersenyum,kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 2 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, dan senang anak kecil. Kembali laki-laki itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil dan cantik banget. “Wow,” ujarnya, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah laki-laki itu di lantai 4 dan terdapat tulisan Lantai 4 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil, cantik sekali dan suka membantu pekerjaan rumah. “Ya ampun!” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini : Lantai 5: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil,cantik banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis. Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012.000. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “istri”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat Anda. ^^

*Sumber: zilzaal.blogspot.com/foto: artikel muslimah

Senin, 01 September 2014

[Cerpen] Retak


Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan gerimis turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung. Mungkin itu satu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami. Dan barangkali dongeng tentang diriku bermula dari seorang pria bertopeng di dalam kepala.


Masih membekas jelas dalam ingatan, malam-malam raya yang haram dan tidak pernah kumubazirkan. Ibu dan ayah mungkin mencemaskanku semalaman ini. Namun peduli setan. Hawa panas kian menari-nari dalam tubuh, menyeretku lebih jauh dalam hasrat pemuasan nafsu dengan wanita-wanita diskotik setengah telanjang.


       Tetapi, malam-malam itu telah lama berlalu. Saat keringat dingin membanjiri seluruh tubuh dan mendadak otakku nge-blank. Aku jatuh tersungkur ke lantai diskotik yang dingin. Mengejang. Ingin rasanya membentur-benturkan kepalaku dan memecahkannya dalam satu ledakan. Kesakitan mendera, serasa gatal di setiap inci tubuh, ususku seperti diris-iris dan persendian terasa ngilu. Kudengar kembali teriakan-teriakan itu. Sumpah serapah itu… orang-orang menggoncangkan tubuhku yang mematung, menerawang kosong dengan air liur menetes-netes…


            Semenjak aku dilarikan ke rumah sakit dan panti rehabilitasi, semakin sering kudengar omelan si pria bertopeng itu. Aku ingin sekali berteriak mengusirnya, namun dia malah tertawa. Tertawa terbahak-bahak dengan perutnya terkocok-kocok. Dasar! Ia mungkin tidak akan puas menyakitiku hingga aku memecahkan kepalaku sendiri. Namun sepertinya aku hanya seorang pengecut dan tidak pernah berani melakukan itu.


            Malam kian merangkak naik. Orang-orang tidak melepaskan sorotan mata mereka. Aku membalas mereka dengan satu seringai, namun mereka sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin pulang. Pulang ke rumah, bertemu ibu dan ayah juga saudara-saudaraku.


            Malam kian purna. Langkahku kupercepat seiring detak jantung yang berdegup kencang. Mencoba kukumpulkan kenangan-kenangan yang berceceran dimana-mana. Di sudut-sudut kota Jakarta yang ditanami gedung-gedung angkuh, di luapan air sungai yang kelam, di taman-teman penuh embun bergelantungan, di lampu jalan yang remang-remang, ya… dimana-mana. Semuanya bagaikan puzzle-puzzle berserakan atau pita film yang terkoyak menjadi rekaman dongeng masa lalu yang kembali terulang. Ya, terulang mundur.


            “Ravio…” Aku menoleh dan kulihat sesosok wanita paruh baya membawa sekantung belanjaan. Rambutnya mulai memutih dan garis-garis keriput terlihat jelas di wajahnya ketika dia berjalan mendekat Wajah itu tiba-tiba menyesaki ruang kepala. Aku tidak bergeming laksana selaksa bisu.


            “Ibu…”


            “Ayo pulang!” sahutnya dengan senyuman.


            Waktu seakan berhenti berputar. Bayangannya seakan samar, namun mungkinkah dia ibuku? Kembali kucoba mengenalinya setelah sekian lama. Meskipun begitu, kakiku terus mengikuti bayangannya, terus sepanjang malam kian bergulir. Ia membawaku ke sebuah rumah.  Rumah dengan semak-semak belukar yang menjalar dan rerumputuan liar memanjang. Rumah ini berdebu. Saat melangkah masuk, entah kenapa ruangan ini menebarkan aroma duka dan luka penyesalan. Sementara wanita itu pergi menghilang ke dalaman rumah.


          Mataku masih nyalang, menelanjangi setiap sudut rumah yang begitu kelam  dengan debu dan sarang laba-laba. Seakan tiada yang mengurusnya. Sayup-sayup telingaku menyimak suara di tengah ruangan, aku mencoba mendekati sumber suara dan kulihat bocah SD bertubuh ringkih. Tampak terkembang layar kepayahan pada wajahnya setelah bermain playstation seharian. Ia tidur telentang di atas karpet dengan liur berleleran.


            Di pojok ruangan, kulihat seorang pria tua sedang membenarkan beberapa peralatan elektronik rumah ini yang mulai rusak. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari matanya di balik kacamata bundar itu. Aku tak ingin mengganggunya karena kupikir ia sedang serius membetulkan radio tua tersebut. Namun keterpakuanku padanya hanya membuatnya geram.


            Sayup-sayup dari lantai dua kudengar suara music menggema yang sedari tadi tidak berhenti. Oh, itu pasti dia. Dia tidak pernah keluar kamar semenjak diputuskan oleh pacarnya dan berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu rock di kamar. Aku tidak mungkin mengganggunya.

         
            “Ini telor balado kesukaan kamu, Vio…” Wanita itu memanggilku di ruang makan. Dengan sigap aku langsung menyambar makanan tersebut. Namun entah kenapa, masakannya tidak lagi seenak dulu. Tapi tidak apa-apa, perutku memang sejak tadi sedang lapar.

            “Enak gak?” tanyanya.


            “Enak bu. Tapi masih enakan yang dulu,” ujarku yang begitu teringat telor baladonya yang kumakan sewaktu SMA. Dulu telor balado ibu sambalnya yang mantap, bumbunya yang gurih dan kental. Tidak akan kulupakan meski telah bertahun-tahun tidak mencicipinya.


            “Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah pulang…” Wanita itu yang mungkin ibuku, dia membelai wajahku lembut seakan-akan aku ini anak laki-laki yang masih kecil… tunggu, berapa ya usiaku saat ini?


            “Berapa usiaku?”


            “23 tahun, sudah seharusnya kamu memiliki pekerjaan…”


            Aku terdiam hening. Aku tidak tahu pekerjaan apapun kecuali orang-orang di rumah sakit berbaju putih itu. Mereka menyebut diri mereka dokter.  “Aku ingin menjadi seperti mereka, dokter.”


            Ibu mengangguk. Ia pun menjabarkan apa yang harus kulalui untuk menjadi dokter. Namun, karena biaya kuliah kedokteran yang mahal maka akupun harus sedikit bersabar. Ayah akan berjuang untuk mengumpulkan uang demi aku kuliah. Tentu saja aku akan membantunya.


             Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu seterusnya hingga minggu dan minggu kian berganti. Hingga bulan demi bulan.


Setiap harinya kulihat Akmal selalu asyik bermain playstation, kalau sudah capek maka dia akan tertidur lelap terlentang sambil mendengkur dan liur berleleran. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan lain. Ibu tidak pernah memarahinya, begitu pula ayah. Tidak seperti dulu, rumahku benar-benar damai sekarang. Kak Risa mulai keluar dari kamarnya. Kabarnya dia sudah memiliki pacar baru yang benar-benar amat dicintainya. Namun akhirnya, Kak Risa jadi sering pulang dini hari.


           Ayah selalu keluar rumah pukul enam pagi karena ia harus bekerja hingga dzuhur. Ia adalah seorang insinyur mesin dan ahli fisika yang sangat andal. Sementara aku sendiri membantu ayah bekerja dengan menjadi kondektur busway. Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi toh waktu kerjaku hanya dari pukul satu siang hingga pukul tujuh malam. Setiap aku pulang, selalu ada ibu memasak di dapur.


            “Ayo makan…”


            Aku memakannya. Dalam satu suap, kurasakan masakan ibu tetap sama dan tidak pernah seenak dulu.


            “Enak gak?”


“Enak bu, tapi tetap tidak seenak yang dulu.”


Kulihat raut wajah sedih di muka ibu. Dia lalu mengambil buku catatannya dan menuliskan sesuatu di buku catatan itu. Aku penasaran dan berusaha mengintip tulisannya tapi ibu langsung menarik buku tersebut.


“Saat usiamu 21 tahun nanti, barulah kamu boleh membaca tulisan ini.


Aku terdiam. Bingung, berapa usiaku saat ini?


“22 tahun, kau seharusnya sudah lulus kuliah.” Ibu menjawab seperti membaca pertanyaan dalam kepalaku.


            Hanya mengiyakan kata ibu. Aku terlupa akan usiaku saat ini. Aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu yang sering kali tidak bisa kumengerti maknanya dan kehadirannya. Ingatan yang retak, mungkin itu yang kualami.


            “Aku ingin berkuliah seperti ayah kuliah. Bagiku ayah adalah orang yang hebat.”


            “Kalau gitu kamu harus belajar yang rajin. Saingan-sainganmu yang masuk teknik mesin itu orangnya pintar-pintar…”


            Benar kata ibu, orang yang masuk teknik mesin pasti sama seperti ayah. Mereka pintar-pintar dan tentunya aku harus rajin belajar.


Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu terus. Pagi itu dingin, kuluangkan mengerjakan soal fisika. Siang yang datar, kuhabiskan dengan mengerjakan soal kimia. Senja yang panjang, aku membaca buku Biologi, hingga malam yang purna tiba. Tanpa kusadari minggu demi minggu berganti hingga bulan demi bulan.


Suara ketukan pintu terdengar disusul wajah ibu di balik pintu.


“Vio… ibu bawakan telor balado kesukaanmu…”


“Masuk saja bu!”


Ibu pun berdiri di samping meja belajarku. “Anak ibu memang rajin,” ujarnya sambil menaruh nampan berisi telor balado di atas meja belajar. “Kamu kan sudah 21 tahun, emang belum punya pacar?” Tanya ibu.


“Pacar?”


“Besok-besok ikut Risa saja, siapa tahu kakakmu bisa mengenalkanmu dengan temannya. Ibu sudah tidak sabar bertemu dengan pacarmu.” Ibu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Keesokan paginya aku menaiki mobil sedan berwarna merah Kak Risa. Ia tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, mobil ini pasti dari pacarnya. Kudengar pacar Kak Risa kaya raya. Aku hanya mengikutinya ketika ia membawaku ke dalam sebuah tempat karaoke ternama di ibu kota. Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah sofa merah besar bersandar di dinding. Di depan sofa itu ada meja penuh bir di atasnya. Ruangan ini remang-remang dan aku hanya terduduk di sofa sementara Kak Risa terdiam menunggu pacarnya.


“Sebentar lagi pacarku datang, kau harus menyambutnya dengan baik ya… Nanti aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman cewekku juga.”


Tidak lama kemudian, seorang pria jangkung bertubuh ceking memasuki ruangan karaoke. Dari gaya pakaiannya sepertinya ia pasti anak orang kaya.


“Wisnu, ini adikku namanya Ravio…” ujar Kak Risa menunjukku. Aku langsung bangkit dari kursi sambil menjulurkan tanganku untuk kenalan. Pria itu melihatku dengan sorotan mata yang sangat aneh. Ia tertawa melihatku.


“Kamu bercanda ya?” tanyanya pada Kak Risa.


“Bercanda? Aku hanya ingin mengenalkan kamu pada adikku…”


“Adikmu yang mana?”


Kak Risa menarik tanganku. Kali ini pria itu jelas-jelas melihatku.


“Dia ini adikku…!”


“Ada apa sih ini?” Tanya pria itu tidak mengerti.


“Namaku Ravio, aku adik Kak Risa. Bang, katanya abang punya banyak kenalaan cewek?” tanyaku berani membuka suara.


Pria itu mendesah kesal. “Hentikan permainan ini!”


“Kau tidak suka aku membawa adikku?”


“Apa kau gilaa?!” bentak pria itu membuatku naik pitam. Aku langsung meraih kerah bajunya dan melihatnya matanya tajam-tajam. Itu membuatku merasa berkuasa.


“Kau bilang kakakku apa?!” bentakku memelototinya. Membuat mataku dan matanya hanya berjarak beberapa centi.


“Ris, kau kenapa? Apa kau bukan lagi gay?” Tanya pria itu membuatku bingung. Apa dia baru saja memanggilku Risa? Atau menyebutku gay? Aku tertegun… sekelebat ingatan muncul dalam benakku begitu saja. Kenyataan-kenyataan perih yang membuatku ingin melarikan diri dari dunia. Ingatan tentang ruangan itu, topeng, darah, dan mayat-mayat. Pria itu pergi. Begitu pula Kak Risa yang entah sejak kapan sudah tidak ada dalam ruangan. Hanya aku sendiri.


Deg! Pria bertopeng itu kembali muncul dalam kepalaku membuatku tersungkur di dinginnya lanta. Ia menyakitiku dengan menusuk-nusuk kepalaku dengan sebuah belati. Ia ingin membunuhku. Rasanya ingin sekali kupecahkan kepala ini dalam satu ledakan daripada mendengarkan sumpah serapahnya.  Dalam satu embusan napas, membutuhkan waktu bagi untuk menyedot tenaga lebih besar dan jantung memompa lebih kencang.


“AAAARRGGGGHHHHHHHH…………….!!! KAU DIAAAAM!!! DIAAAAMM….”


Sumpah serapah kulontarkan. Pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan. Kebentur-benturkan kepalaku dengan sekuat tenaga ke ujung meja hingga darah mengucur ke lantai. Namun pria bertopeng itu tetap tidak ingin pergi. Tawanya kian membahana mengacak-ngacak isi kepalaku.


Aku merangkak keluar dari karaoke. Kubiarkan pria bertopeng itu muncul kembali dalam kepala. Dengan jalan gontai dan darah yang terus mengucur, kuikuti samar-samar jalan pulang di tengah malam yang kian larut. Orang-orang di sekelilingku terdiam. Bermacam-macam raut wajah mereka pasang. Darah berseliweran, menjadi jejak tersendiri.


Sementara, waktu kulampui dengan terus berjalan, tapi nampaknya aku tengah hilang arah. Yang kudengar hanyalah bisikan angin dan liukan hawa dingin kian mencekam. Kuperhatikan lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram.


Kuteruskan perjalanan, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung angkuh yang mencekam.  Kuperhatikan embun bergelantungan di taman yang remang… kuperhatikan luapan air sugai yang kelam. Kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Lagi-lagi, gerimis turun, mengguyur tiap sendi perkotaan. Aku pejamkan mata… terbuai aroma darah menelusuk raga. Sebelum akhirnya, semuanya gelap…...............


“…..bagaimana?”


“Trauma mendalam di masa lalu. Sepertinya ada ingatan yang tidak ingin dia terima mengakibatkan gangguan disosiasi.”


“Lalu?”


“Kami harus memanggil seorang psikiater.”


Mataku mengerjap-ngerjap dan silau sinar ruangan ini jatuh ke pelupuk mata. Kulihat tubuhku terbaring tak berdaya di sebuah kamar di rumah sakit. Beberapa orang berkemeja rapih tampak mengelilingiku ditambah dengan seorang wanita keturunan Chinese dengan baju jas hitam dikuncir ke belakang. Kini semua sorot mata a melihatku dengan terkejut. Tapi tak satupun dari mereka yang aku kenal.


“Pak Anwar… bapak baik-baik saja?” Tanya pria tersebut. Tampaknya dia lebih tua dariku, kenapa memanggilku pak? Dan Anwar… itu kan nama ayahku.


“Saya menemukan bapak pingsan dekat toko milik saya. Ini, buku yang selalu bapak bawa kemana-mana. Saya tidak berani membukanya pak…”


Aku melihat buku bersampul hitam itu. Itu buku catatan ibu… Ibu pernah bilang agar aku tidak membacanya kecuali di saat yang tepat. Buku ini terlihat begitu dekil apalagi guyuran hujan yang mungkin membuat beberapa halaman tintanya jadi sedikit meluber dan pinggiran-pinggiran bukunya yang sobek. Buku ini kupangku dan kubuka halaman pertamanya. Ternyata ini buku diary bertanggal. Kubaca buku diary ini dengan saksama… Anehnya diary ini bertanggal mundur. Semakin belakang justru tulisan yang lebih dahulu ditulis.


Ini adalah kumpulan diary ibu, ayah, Akmal dan Kak Risa. Cukup lama aku membaca diary mereka satu persatu. Tidak ada yang tulisan dari diriku sendiri.


Kubuka halaman demi halaman…. Lagi, lagi dan lagi. Ternyata beberapa halaman diloncat.


Sampai akhirnya aku melihat bercak darah di bagian tengah buku. Bau busuk terpancar menelusuk hidung…. Membuat perutku berputar. Namun rasa penasaran membuatku ingin membaca halaman selanjutnya… Tulisannya berantakan… buru-buru dan sepertinya tulisan ini sudah sangat lama ditulis oleh penulisnya. Tidak ada tanggal di tulisan ini…. Tapi kutahu dari gaya bahasanya… tulisan ini seperti bersuara. Memunculkan sekelebat bayangan hingga kulemparkan buku tersebut…


“AAArrrgggahh….”


“Kenapa pak? Kenapa teriak?”


Pria bertopeng… pria yang menulis halaman-halaman terakhir buku itu. Pria bertopeng yang selama ini bersarang dalam kepalaku dengan sumpah serapah dan pisau belatinya, kini ikut hadir dalam kamar rumah sakit.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...