Jumat, 08 April 2016

Hati Yang Hancur Bertanya Pada Otak

Teringat dalam mata kuliah Psikologi Konseling, bahwa mengapa afeksi, kognitif dan perilaku menjadi sasaran dalam Konseling Psikologis adalah karena sering kali terdapat ketimpangan antara ketiganya. Satu pemikiran tentang hal itu, dalam sebuah percakapan sederhana.





Hati yang hancur bertanya kepada otak:
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa hidup itu tidak adil?”
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa cinta akan sangat menyakitkan?”
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa aku telah salah selama ini?”
"Mengapa kau tidak menyuruhku berhenti berharap sejak awal?"
"Mengapa kau tidak memperingatiku adanya ancaman?"
“Mengapa kau tidak menahanku untuk bertindak bodoh saat itu?”
“Mengapa kau tidak menghentikanku?”
"Mengapa kau tidak melakukannya?"
“Mengapa?”

Otak pun menjawab dengan lemah,
“Aku sudah melakukannya..., 
aku sudah melakukannya…”

[Sambung Cerpen] Memori



Disusun dalam pemenuhan tugas BBC 8 April 2016

Hari ini kukeluarkan semua isi memori dari kepalaku. Memilah-milah dan menimbang-nimbang mana yang perlu kusimpan. Sungguh banyak memori yang kusimpan selama hidup puluhan tahun. Bahkan sesuatu yang tak ingin kuingat lagi masih tersimpan. Memori yang baik, kubersihkan dan kususun kembali dengan rapih di kepala. Memori yang jelek dan usang, langsung masuk keranjang sampah.

Tragis, lebih banyak yang terbuang dibanding yang kembali tersimpan. Beberapa justru memalukan: mengajak bolos sekelas waktu SD, pingsan sewaktu upacara, mengulang matakuliah gara-gara sering bolos, lupa syair sewaktu lomba menyanyi, tertangkap Ayah menonton film porno, dan lain sebagainya yang segera kulempar ke keranjang sampah. Pantas saja selama ini aku sering lupa ulang tahun Ayah, Ibu, Kakak dan Adik. Pantas saja aku susah menceritakan kembali apa yang telah kubaca. Kupikir karena aku cuek dan cuek itu membanggakan. Padahal, otakku yang letoy!

Kalau saja aku punya mesin waktu, aku akan kembali ke masa lalu dan memarahi diriku yang lama. “Bangun dan lakukan sesuatu dalam hidupmu, anak pemalas! Hidup itu payah, kau pikir kau dapat berguna di masyarakat dengan perilakumu seperti ini?” Andai saja mesin waktu memang sungguh ada, tentunya aku akan kembali ke masa lalu dan membuat sebuah perubahan berarti pada diri lamaku hingga tidak menjalani hidup payah seperti ini.

Aku membayangkan lagi, andaikan otakku seperti pita film yang terangkai dalam sebuah kaset tua. Aku akan menggunting beberapa bagian dari pita film tersebut, membuang yang tidak berguna, dan menyatukan bagian film yang lain. Jika memang otakku seperti pita film yang bisa kusunting sesuka hatiku, aku tentu bersedia untuk menonton dan memutar ulang kembali masa lalu menyenangkan tanpa melihat masa laluku yang memalukan.

Atau bagaimana jika memoriku seperti kumpulan potongan puzzle. Ada bagian menyenangkan, ada bagian tidak menyenangkan. Ada bagian terang dan ada bagian gelap. Aku tentu saja akan membuang bagian puzzle gelap dan menyusun sisanya. Meski gambarnya tidak sempurna.


[Sambung Puisi] Rindu


Puisi ini dirangkai dalam pemenuhan tugas Bikin Buku Club, 7 April 2016


Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai hembus angin,
Ia mengetuk semua pintu di hatiku.

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai buku cerita,
Ia membacakannya sendiri untuk hatiku.

Ingatkah dulu?
Tiada harimu tanpa gemuruh cintaku
Dan kau membalasnya dengan rindu

Ingatkah dulu?
Kau yang selalu duduk disana
Dan aku yang selalu bergemalayut manja…
Dalam rengkuhmu

Tahukah kau?
Aku masih mampu mengingat kenangan itu
Bersama rindu yang mengalir malu

Tahukah kau?
Aku masih mampu mengingat kenangan itu
Menguraikan cinta yang entah sampai kapan akan terus bertahta
Dalam singgasana hati kita bersama


By: Maryam Qonita
8 April 2016

Rabu, 06 April 2016

[Sambung Cerpen] Banjir

Tulisan ini dibuat untuk pemenuhan tugas harian Bikin Buku Club, melanjutkan cerpen. Tanggal 6 April 2016. 


Entah bagaimana caranya menolak hujan. Katanya, hujan adalah rezeki. Bukannya mau menolak berkah dari langit tapi hujan di rumahku sungguh memilukan. Kami tidak mengerti di mana rezekinya. Yang kami tahu adalah atap rumah yang menangis, tak kuasa menghalau air. Hujan seperti menertawakan rumah kami yang ringkih dan ompong bolong sana-sini.

Di dapur, di kamar dan di mana saja, hujan menyusur semua celah tanpa ampun. Ember, loyang bahkan cangkir sekepal balita kami sebar di mana-mana. Bayangkan riuhnya kami memanen air. Bayangkan paniknya kami menyelamatkan baju, buku dan kasur kumal. Bayangkan kami gigil lembap semalam suntuk. Masih sibuk dengan tingkah hujan di atap, ia kemudian menyamar jadi sungai kecil di lantai. Menggiring sendal-sendal kami ke pojok, menghanyutkan tilam dari ruang tengah ke pintu dapur.

Jika langit masih terus memeras airnya, sungai kecil berubah bandang. Ranjang, kursi dan lemari seperti menyesal tak bisa berenang. Tenggelam. Rumahku seperti akuarium dan kami seperti monyet yang melarikan diri ke atap menunggu berjam-jam sebagai manusia loteng sambil menunggu perahu karet dari kelurahan.

            Masih jam 9 pagi. Suasana masihlah gaduh dan penuh hiruk-pikuk, anak-anak berlarian hilir mudik, diiringi sahut-sahutan klakson kendaraan bermotor yang berparade menuju tempat yang lebih tinggi, ramai nian…! Dari loteng rumah aku melihat beberapa wartawan tampak sibuk meliput kondisi kampung yang sudah bertahun-tahun terkenal rawan banjir ini. Di depan kamera para wartawan tersebut, belasan anak-anak melompat-lompat sambil seringai lebar menghiasi wajah mereka. Hore, masuk tivi!

            Aku dan bapak masih duduk di loteng rumah. Tengah menunggu perahu karet dari kelurahan untuk mengungsikan beberapa barang yang berharga ke tempat yang tinggi. Tapi sepertinya ini masih akan memakan waktu lebih lama, karena setiap warga ingin mengungsikan barang-barang mereka. Sementara beberapa titik tempat pengungsian sudah penuh dan ramai oleh ibu-ibu dan anak-anak.

            “Bos!!” teriak Bang Mamat di depan pintu rumah kami menyahut bapak. Bapak tersentak dan melihat Bang Mamat yang sedang menaiki perahu karet yang diatasnya ada sebuah buntelan sarung.  Ternyata perahu karet datang lebih cepat dari yang kuduga.

            “Ada barang yang mau dibawa gak, bos? Jangan dibawa semua, yang penting-penting aje!” teriak Bang Mamat yang kepalanya mendongak melihat kami di atas loteng.

            “Ada, lu tunggu bentar!” Bapak turun dari loteng untuk masuk ke rumah. Dalam beberapa menit, bapak membuka pintu rumah dan banjir telah membasahi celananya. Kami tak memiliki tivi maupun barang elektronik berharga lainnya, jadi yang diungsikan oleh bapak hanyalah beberapa buku sekolahku dan beberapa kaset-kaset tua film Rhoma Irama tahun 80-an.

            “Di pengungsian ada bini gue, nanti titip aja ke dia ye,” ujar bapak.

            “Siaap..,” timpal Bang Mamat seraya membuka buntelan sarung di atas perahu karetnya. Bang Mamat pun mengeluarkan dua buah kaos dari buntelan sarung tersebut dan memberikannya pada bapak. “Ini kalau bukan karena nomor urut dua, lu bakal nungguin perahu karet sampe malem bos. Lumayanlah, di kelurahan juga ada beras merek Foke dan sembako merek Foke…”

Bapak pun manggut-manggut melihat kaos tersebut, dan seorang pria berkumis tebal tampak tersenyum lebar semanis mungkin.
               
               



Selasa, 05 April 2016

Wishes List on April 2016



Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Tidak terasa sekarang sudah memasuki bulan April. Biasanya, aku selalu menuliskan beberapa harapanku dalam satu bulan tertentu, karena dengan menuliskannya, akan meningkatkan peluangku untuk berhasil dalam mencapai mimpi-mimpi tersebut satu demi satu. Berikut:

  1. Membuat minimal 44 halaman naskah novel untuk diterbitkan
  2. Mengerjakan semua tugas harian BBC sebelum 23:59 WIB.
  3. Hosting event terkait startup and digital business bersama GKJ-Entrepreneur.
  4. Daftar minimal 20 internship ke luar negeri, khususnya bagian dari PBB di USA.
  5. Memposting tulisan di Path 1x dalam 3 hari. Dan di Instagram 1x dalam 7 hari.
  6. Menulis di blog 1x dalam 1 hari.
  7. Daftar minimal 10 program ke luar negeri paling lambat dua hari sebelum deadline.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...