Sabtu, 18 Maret 2017

Tips Mendapatkan Sponsor Acara Keluar Negeri

Tulisan ini hampir seluruhnya adalah tulisan yang kubawakan dalam seminar online di grup-grup whatsapp. Tentang tips mendapatkan sponsor untuk menghadiri acara / event / konferensi internasional keluar negeri


Sebelumnya, menurutku kenapa kita harus ikut konferensi internasional keluar negeri... gini.. kebijakan nasional itu selalu dipengaruhi oleh kebijakan internasional, seperti perubahan iklim, pendidikan, kesehatan masyarakat dll. Dan semua itu terelaborasi dalam satu bingkai kerja bernama "Konferensi internasional."

Dari pengalaman aku sih, banyak alasan mengapa para akademisi maupun aktivis sosial sebaiknya menghadiri konferensi. Seperti memperluas networking, bertemu langsung para ahli & pembuat kebijakan face to face, mempertajam pemikiran, keluar dari zona nyaman, berbagi energi positif, invest pada diri sendiri, dan tentunya bersenang-senang dengan jalan-jalan ke luar negeri.


Well, jadi kemarin September 2016 aku mengikuti sebuah konferensi berupa forum di kantor pusat PBB New York Amerika Serikat namanya Merit 360 (www.worldmerit.org). Konferensi itu bisa dibilang 100% self funded alias semuanya dibiayai sendiri. Atau mungkin partially funded karena terdapat potongan cukup besar di biaya program.

Sementara karena masalah visa terlambat (tulisanku ttg visa bisa dilihat di sini: Pengalaman Visa Amerika Ditolak Hingga Diterima) aku jadinyaa beli pesawat PP H-2 penerbangan yang itu artinya mahal banget tiketnya (ke Amerika rata-rata 40 jutaan PP), belum lagi biaya program dan akomodasi. Aku 1 bulan di USA.... 2 minggu aku ikut konferensi 2 minggu sisa waktu di USA kupakai jalan-jalan keliling New York, Philadelphia dan New Jersey.


Jadi bisa dibilang uang yang kudapat dari sponsorship bisa untukku enjoy liburan ke Amerika selama 1 bulan. Hehehe. Uang sponsorshipnya memang besar banget kalau dibandingin keluhan temen-temenku yang banyak kesulitan mendapatkan sponsor meski hanya 2 - 5 juta rupiah. Sementara nominal yang kudapatkan kemarin lebih dari 40 juta rupiah dari 4 institusi yang berbeda.

Aku yang cair adalah Kemenpora (10 juta) , KemenristekDikti (15 juta) , Baznas (Badan Amal Zakat Nasional) (10 Juta) dan pesantrenku sewaktu SMA (5 juta). Sekadar informasi buat temen-temen, Kemenpora tidak akan memberikan lebih dari 10 juta. Kemenristek dikti juga tidak akan memberikan lebih dari 15 juta (dibagi 3 bagian, bantuan dana 5 juta, 10 juta, dan 15 juta tergantung kebutuhan).  Jadi kalaupun kalian kasih proposalnya tulisannya butuh 50 juta, gak akan dikasih segitu. Jadi apply ke beberapa institusi sekalian.


Langsung aja, berikut tips dan trik agar mendapatkan sponsor untuk menghadiri acara keluar negeri:


Konferensi itu ada banyak banget. Tapi kita juga perlu lihat dari quality conferencenya. Sehingga mempengaruhi persuasi kita dalam membuat proposal. Sebenarnya lolos konferensi self funded itu mudaaah bgt apalagi untuk para akademisi, yang susah itu... cari duit sponsornya. Hehe. Jadi pastikan kalian bersusah payah untuk konferensi yang juga memang worth it untuk dihadiri dan pantas diperjuangkan. Eaa.


Informasi. Banyak konferensi fully funded asalkan rajin-rajin googling, cari info di opportunitydesk.org, oyaop.com, youthop.com dsb. Ini link untuk list konferensi & exchange fully funded buat students: https://www.munplanet.com/articles/events/list-of-fully-funded-student-and-youth-opportunities Untuk konferensi ilmiah self-funded bisa cari di http://www.conferencealerts.com tapi saran saya untuk self-funded cari yg jangka waktunya setahun kemudian. Sehingga bisa maksimal, abstrak dan cari travel grantnya.

Untuk berbagai informasi tentang konferensi, pertukaran pelajar, beasiswa, dll bisa difollow instagram @FutureLeaderLeague



Lihat jangka waktu konferensinya. Kalau saya lebih suka cari aman aja, ambil konferensi paling dekat 4 bulan sampai dengan 1 tahun kemudian baru diadakan. Sekarang saya udah wanti-wanti konferensi di Kanada Summer tahun 2018 (di Quebec tempat syuting Goblin). Masih lama sih, tapi minimal setahun sekali keluar negeri lah dan mewujudkan mimpi ke tempat fantasi di drama Goblin. Hehe.

Kalau jangka waktu konferensinya 1 bulan – 3 bulan. Lihat ketentuan pemberi dana sponsor. Kalau kampusku UNJ minimal 40 hari sebelum proposal diberikan. Kalau di kampus lain berbeda-beda. Institusi lain juga bisa berbeda. Tapi tetap sebar proposal ke institusi yang ngasih dana dalam 4-6 bulan ke depan (contoh kemenpora & kemenristek dikti) biasanya mereka turunnya reimburse.


Pahami ketentuan setiap pemberi dana sponsorship. Seperti proposal lengkap khususnya ke kemenristek Dikti dan Kemenpora (Letter, Konten proposal, LoA, CV, NPWP, KTP, buku tabungan, dll). Saya pengalaman bolak-balik kesana dan melihat langsung box penuh dengan proposal yg diterima dan proposal yang gak diterima. Saya juga sempat obrak-abrik itu box nyariin proposal teman saya. Rata-rata alasan gak diterima karena gak memenuhi syarat verifikasi kelengkapan berkas.


Taruh telur di banyak keranjang. Jangan kasih proposal ke satu institusi aja. Apply 30-50 proposal ke berbagai insitutusi yang berbeda jauh-jauh hari. Itulah mengapa teman saya dan dosen saya saja susah mendapatkan travel grant ke Thailand, sementara saya bisa mendapatkan 40 juta ke Amerika. 40 juta dari modal saya nge-print dan jilid 500ribu. Tetep untung kan? Kenapa hanya 4 yang cair, karena proposal saya banyak typonya dan tidak mengamalkan point berikutnya setelah saya dengar dari teman saya yg lain.

Ini point yang tidak saya amalkan, berakibat saya salah sasaran kirim proposal. Dari 40 hanya 4 yang cair.  Jadi... kirim proposal ke berbagai institusi/perusahaan yg memungkinkan kerjasama. Misalnya nih konferensinya ttg gizi, kirim proposalnya ke Nutri Food atau Wings Food dll. Dengan imbalan, hasil penelitian kita boleh jadi bahan mereka mengembangkan produk mereka. Insyaa Allah ini pasti diterima. Atau konferensi Family Planning, apply nya ke Yayasan Cara Cipta Padu dengan imbalan jika lembaga menyumbang 20% dana dibutuhkan maka imbalannya sekian-sekian, jika menyumbang 50% maka imbalannya sekian2. Misalnya laporan konferensi tersebut dan produk inovasi yg kita ciptakan kita kasih untuk lembaga sebagai bahan mereka mengembangkan produk mereka. Tulis rewardnya di proposalnya.


Manfaatkan Channel.... ini juga penting banget biar dapat sponsor besar. Misalnya kita kenal manajer Bank tertentu, pegawai kantor di dalam atau direktur perusahaan tertentu adalah teman ayah kita. Mereka bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses birokrasi.


Dan tentu tidak lupa untuk berdo'a. Karena segala kesuksesan kita bukanlah milik kita, melainkan pemberian dari Allah SWT.


6 Point Permasalahan Teknis


  1. Semua proposal sudah lengkap disusun, dikirim VIA JNE ke tiap alamat kantor. Jangan langsung mendatangi kantornya, karena ada satpam di tiap perusahaan yang mencegah kita masuk kec. Kita kenal orang dalam atau sudah pengalaman mengirimkan langsung dan disambut baik oleh CSnya seperti Kemenristek Dikti.
  2. Nomor telepon yang selalu aktif setiap saat. Jangan sampai tidak terangkat, karena mereka bisa jadi mau mencairkan dana tapi tidak bisa dihubungi berarti tanda kalian tidak serius. Saya pengalaman dua kali lembaga mau membantu tapi tidak terangkat, dan tidak jadi dicairkan.
  3. Jika lembaga memberikan tanda terima berupa kertas yang perlu ditandatangani oleh Pembantu Rektor atau pihak-pihak tertentu. Atau jika lembaga memberikan berbagai berkas apapun bentuknya, FOTOKOPI berkali-kali dan simpan baik-baik. Kalian akan tahu pentingnya itu semua saat pencairan dana.
  4. Follow UP dengan mendatangi kantor pemberi dana sponsor dengan menanyakan status pencairan dana sudah sampai mana. Apakah berkas masih di verifikasi kembali atau sudah di bagian keuangan dll.
  5. Laporan Pertanggung Jawaban (Kemenpora & Kemenristek Dikti akan meminta ini). Karena tanpa LPJ mereka akan meminta kembali uang yang telah diberikan.
  6. Tiket pesawat, bukti-bukti pembayaran apapun, tiket bus atau subway, bon dsb semuanya disimpan sebagai bahan LPJ. Tentunya foto-foto saat kegiatan berlangsung.

Dokumen


Pencarian:
  • Tips Mendapatkan Sponsorship
  • Tips Mendapatkan Sponsor keluar negeri
  • Cara Mendapatkan Sponsor Acara Internasional
  • Konferensi Internasional
  • Cara Membuat Proposal Sponsorship

Selasa, 29 November 2016

Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB


Banyak yang bertanya awalnya mengapa aku bisa ke Amerika…, atau bagaimana ceritanya bisa mewakilkan Indonesia ke PBB. Jadi bermula ketika aku mendaftar sebuah program bernama Merit 360, program ini adalah organisasi perkumpulan para changemakers di dunia yang mau kontribusi secara signifikan dalam memecahkan Sustainable Development Goals 2030.

Sebelumnya… tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku yang sebelumnya:

Merit 360 adalah program partially-funded yang awalnya biaya pendaftarannya mencapai 7000 euro dengan segala fasilitas yang mereka berikan. Namun akibat ketertarikanku sejak setahun sebelumnya, aku mem-bookmark programnya dan akhirnya ada penurunan biaya pendaftaran menjadi 650 euro. Disebabkan banyak organisasi yang mulai bekerjasama termasuk PBB-nya sendiri, strategic partner, media partner, dan donatur akhirnya menjadi partially funded. Meski artinya juga penerimaan jadi lebih selektif.


Karena didukung oleh orang tua, aku dan ummi pun menyusun lebih dari 50 proposal untuk disebar ke setiap institusi maupun lembaga. Termasuk mengirim surat ke istana, dan akhirnya partisipasiku didukung oleh Pak Jusuf Kalla hingga mendapatkan kiriman surat ke rumah dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden.

Surat dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden
Yang orang-orang pikir aku pintar atau aku banyak berkontribusi pada masyarakat, makanya aku diterima. Sejujurnya gak.. sama sekali. Aku merasa bahwa banyak teman-temanku yang bahasa inggrisnya jauh lebih fasih dan kontribusi pada masyarakatnya jauh lebih besar dariku melalui cara mereka masing-masing. Aku hanya berani mengambil risiko dan mengambil setiap kesempatan yang datang. Ini menjadi sarana pembelajaran bagiku untuk opportunity selanjutnya.

Seleksi penerimaannya juga cukup mudah, yaitu dengan seleksi berkas, seleksi ide project yang ingin diimplementasikan, wawancara online dengan robot & pembuatan video. Tidak melihat TOEFL, recommendation letter, transkrip nilai dll. (emangnya beasiswa? Hehehe).


Program ini tidak sepenuhnya di New York, melainkan lebih banyak di Equinunk Pennsylvania (12 hari di Pennsylvania, 4 hari di New York). Equinunk adalah sebuah desa yang penuh dengan padang rumput. Disana aku ditemukan dengan sekitar 17 orang dalam tim Kesehatan dan Kesejahteraan. 16 dari 17 orang itu adalah mahasiswa kedokteran bahkan sudah menjadi dokter. Hanya aku dan Hassan yang bukan kedokteran. Aku psikologi dan dia jurusan teknik kimia.

Dalam menyusun program bersama untuk dipresentasikan di PBB, terdapat 3 component. Yang setiap component, formatnya beda-beda. Awalnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang tim bicarakan untuk Component 1. Karena selain terlambat, juga ini pertama kalinya aku listening langsung bahasa Inggris dipenuhi perdebatan dan  istilah-istilah kedokteran. Hufft… dan cerita pun dimulai.

KOMPONEN 1


Aku baru menyadari…, tentunya mereka bisa disini karena mereka yang terbaik dari kampus mereka. Orang-orang ekstrovert yang cenderung saling mendominasi satu sama lain, kepala mereka dipenuhi ide & belum lagi dilatarbelakangi oleh kultur yang berbeda-beda. Tentu perdebatan takkan terelekkan dari pagi hingga tengah malam. Masalahnya perdebatannya tentang istilah-istilah kedokteran… obat yang dibutuhkan, tenaga medis, harga obat, dll. OMG what are they talking about?. This is why Psychology should be under medical department.

Ada Catherine dari Nigeria; Jordan, Morenika, dan Chidera dari Inggris; Fem, Iris, dan Lissane dari Belanda; Thom dari Vietnam; Omar dari Mesir; CT dari New Zealand, Hassan dari Sudan; Yara dari Palestina; Teresa dari Spanyol; Sidney dari Austria; Rejja dari Pakistan; dan Zee dari Saudi Arabia. Ditambah satu lagi fasilitator kami Nour dari Mesir.


Dari banyak negara-negara tersebut, Nour fasiltator kami mengomentariku yang dari jurusan psikologi, ketika hari pertama aku mengakui bahwa aku tidak mengerti satupun yang mereka bicarakan. “Hampir di semua negara, psikologi di bawah fakultas kedokteran, Maryam…” ujar Nour.

Aku tersenyum pasrah dan berkata, “In Indonesia, Psychology is under Social Science department. Even in my university, it’s under education faculty. I thought we can talk about something like mental health or social well-being, could we? Or maybe we can talk something about family planning which is also a part of SDG3?

Rada shock memang dan sakit hati juga (tidak lebih juga tidak kurang, hanya di luar ekspektasi ketika tidak ada satupun yang membicarakan kesehatan mental, kesejahteraan sosial, ataupun keluarga berencana padahal bagian dari SDG3.), Namun karena sudah terbang 31 jam. Dan menghabiskan ½ tahun semester pertama tahun 2016 untuk program ini… apa mau dikata, aku harus belajar blend-in dengan mereka. Ketika Zee merencanakan program “NGO berjalan” dan aku blend-in ide seputar lomba film dokumenter..

Zee menjelaskan project NGO berjalan.

Jadi itulah tamparan keras bagiku, oh, aku harus belajar atau aku takkan mengerti apapun yang mereka bicarakan selama 2 minggu disini. Dan untuk component 1 yang disusun selama 3 hari itu, aku sejujurnya tidak berkontribusi apapun. Ide tentang NGO berjalan dan film dokumenter dalam perjalanan itu ditolak akibat tidak realistis. Dan akhirnya component 1 memang harus sesuatu yang realistis sesuai dengan format yang diberikan oleh pihak Merit 360.

Ide komponen 1 ini sangatlah sederhana, yaitu  kampanye #WeENDemic. Tulisan #WeENDemic ditulis di atas telapak tangan dan diposting di media sosial seperti twitter. Ditulis pula nama virus yang ingin dilawan dan setiap orang boleh berbeda-beda. Juga ditulis negara dimana ingin mengakhiri virus tersebut, misalnya #WeENDemic #Nigeria. Karena mudah, simple, dan luas, akhirnya ide ini termasuk dinilai tertinggi oleh juri Merit 360 dibandingkan komponen yang lain.


Rejja menjelaskan #WeENDemic campaign.


KOMPONEN 2

3 hari selanjutnya kami memasuki komponen 2. Jadi setiap komponen disusun selama 3 hari 3 malam. Dan ide setiap komponen itu berbeda-beda. Kami pun diberikan sebuah format yang baru, yaitu partnership platform dan dengan siapa kami mau menjalin partnership untuk setiap komponen yang akan dijadikan final submission ke PBB.

Research organisasi Bill & Melinda Gates Foundation
Setiap anggota tim mengusulkan organisasi lokal dan organisasi internasional yang ingin diajak kerjasama. Banyak organisasi masuk list dan diantaranya yang aku usulkan bersama Catherine adalah Bill and Melinda Gates foundation untuk organisasi internasional. Selain itu Gifted Mom terpilih sebagai organisasi lokal yang terpilih untuk diajak kerjasama.

Wihiii… suaraku didengar. Aku menyanggupi membantu untuk bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates, karena pengalaman ICFP 2016 kemarin di Nusa Dua Bali juga voting 15 ribu orang untuk 120 under 40 yang diusung oleh Bill and Melinda Gates. Selain itu juga pernah foto bareng bersama direktur utama Bill and Melinda Gates foundation. Yang sayangnya fotonya ada di tab temanku, Stiven Lim. Intinya gitu deh. Aku bilang, kita butuh uang dan Bill and Melinda Gates foundation butuh pemuda.

Voting  antara Gifted Mom & Bill Melinda
Namun di hari terakhir penyusunan komponen 3, ada instruksi baru dari Merit 360 bahwa hanya satu antara organisasi lokal atau organisasi internasional yang akan dipresentasikan di PBB. Melalui sistem voting, setiap anggota tim punya suara memilih organisasi yang mereka sukai. Dan aku termasuk mendukung Gifted Mom untuk dipresentasikan, bukan Bill and Melinda Gates. Meski kami tetap akan menjalin kerja sama sesuai dengan final-submission.

Component 2 selesai tengah malam.
KOMPONEN 3

Well, dari semua komponen, ini yang paling baper.

Dan tulisan ini akan menjadi tulisan paling baper sepanjang tahun 2016.

Berpikir bersama.
Kenapa? Karena disini, setiap orang punya ide masing-masing, yaitu proposal yang mereka bawa dari rumah. Dan aku pun punya proposalku sendiri tentang pembangunan shelter. Jika ini yang menjadi final-submission, tentunya kemungkinan untuk mendapatkan bantuan dana hibah dari Bill and Melinda Gates foundation akan lebih besar. Dan memang bukankah ini yang kucari dari? Dengan minimal grant yang Bill and Melinda berikan sejumlah $100.000 alias 1,35 Miliar rupiah sesuai tercantum di website?

Dari presentasi proposal setiap anggota tim yang terdiri 18 orang, tim SDG3 memilih 2 besar yaitu punyaku dan punya Catherine. Mereka mungkin tertarik setelah mengetahui bagaimana kesehatan mental juga penting, bukan hanya kesehatan fisik. Juga termasuk jarang dibicarakan selain maternal dan infant mortality.

Catherine menjelaskan SIMI project. Pertanyaan bertubi sesuai BMC.
Namun serius, aku harus belajar banyak dari Catherine. Dia adalah seorang dokter asal pedalaman Nigeria juga sudah sangat berpengalaman bertahun-tahun menangani kasus kematian janin dan bayi (maternal and infant mortality).  Dia mengerti bagaimana menjelaskan program hingga tingkat paling rinci seperti perekrutan volunteer melalui women leaders, obat-obatan apa saja yang akan dibeli, peralatan-peralatan dalam satu pack obat, dan bagaimana bekerjasama dengan organisasi lokal.

Dia juga mengerti betul kondisi di negara asalnya itu yang akhirnya memicu simpati dari semua tim. Dan akhirnya karena rincian program dalam format BMC (Business Model Canvas) yang terpenuhi itulah, tim Merit 360 akhirnya memilih program NGO di Nigeria bernama SIMI Project daripada project-ku.

Well, apa mau dikata. Baper sih baper kehilangan satu kesempatan untuk menyuarakan pentingnya kesehatan mental di PBB. Akibat ketidaksiapanku dalam rincian project melalui format BMC serta keterbatasanku menjelaskan istilah psikologi kepada 17 anak-anak kedokteran full bahasa inggris. My English is very limited, just you know. Tapi ini mudah-mudahan menjadi satu pembelajaran bagiku ke depannya.

Meski menyesal juga, kenapa sampai titik ini life-changing experience sebesar ini… aku masih harus belajar? Kenapaaaaa??? Kenapaaaa….??? Ketika project-ku bisa saja masuk final submission dan dipresentasikan di kantor pusat PBB. Akankah kesempatan kedua hadir kembali untukku?


Memang sih, meski seumur hidup kita takkan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajar.

Dan ya satu lagi… kalau kalian tahu kisah CEO yang tidak memecat pegawainya meski si pegawai sudah merugikan perusahaan jutaan dolar akibat kelalaiannya. Kita mungkin akan berpikir bahwa si pegawai akan dipecat, bukan? Bahkan si pegawai sudah mengajukan undur diri. Namun si CEO malah bilang, “Aku tak mungkin memecatmu. Karena aku sudah menghabiskan jutaan dolar untuk membuatmu belajar.” Catat kalimat itu Maryam Qonita! Ditebelin, distabilo, camkan teruss dalam benakmu!!

Dan perasaanku hari-hari itu mirip dengan si pegawainya saat itu. Dan inilah kontroversi di belakang alasan aku menunda tulisan ini berbulan-bulan.

Dalam hati, “Ya Allah…mudah-mudahan aku masih bisa di-akui sebagai anak oleh ummi dan abi meski tidak memenuhi harapan mereka… tugas anak itu berat ya, meski tugas orang tua jauh lebih beraaat…. dan bikin tugasku makin berat ketika mengetahui tugas orang tua lebih berat. Tapi ummi dan abi pasti punya hati seperti CEO kepada pegawainya itu kan ya? Aku percaya hati mereka jauh lebih besar.” (Nangis dalam hati).

Terus aku berdoa, melihat beberapa teman-temanku yang juga orang tuanya udah gak ada. Mudah-mudahan abi dan ummi diberikan kesehatan selalu, sampai aku bisa benar-benar membanggakan mereka, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan dan kekurangan yang ada padaku. Mudah-mudahan mereka terus sehat… bahkan hingga usia ratusan tahun sehat walafiat… Kalau udah gini baper…, dan baru kemarin nulis di grup whatsapp keluarga dengan penuh linangan air mata.

Tetap senyum paginya.
Besok harinya, aku mulai bisa move on dan melihat dari sisi positif. Aku rada senang juga, setidaknya aku mulai mengerti beberapa istilah medis yang menjadi bahan diskusi sepanjang hari hingga tengah malam itu. Termasuk mencari harga-harga obat di berbagai belahan dunia, dan mengenali berbagai istilah seperti anti-bleeding misoprostol, chlorhexidine dll.  Setidaknya ada yang bisa kukontribusikan.

Merancang costs of simi toolkit.
Aku juga bertugas merancang timeline kinerja SIMI project setahun kedepan dan masuk dalam tim penyusunan naskah pidato ke PBB. Karena hasil voting tim, SIMI project dengan segala rincian yang memenuhi format BMC nya itu, SIMI project lah yang akan dipresentasikan di PBB oleh perwakilan tim, Morenika.

Ketiga komponen pun selesai dirancang.


Final submission semuanya.

11 Hari di Indian Head Camp


Move on dari project sementara, ingin sharing sedikit tentang 11 hariku di Indian Head Camp. Sebuah camp outbond terbaik sedunia yang berada di daerah Equinunk Pennsylvania. Di tengah-tengah camp ada danau luas yang disebut “Reflection Lake” karena merefleksikan pemandangan di sekelilingnya seperti sebuah cermin. Disertai bilik-bilik sederhana di pinggir-pinggir danau.

Saat hari minggu tiba, aku sempat menghabiskan waktu seharian berjemur di tengah danau di atas perahu kayak. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” Menjernihkan pikiranku dengan riak tenang air danau dan desiran angin lembut…”

Pake kaos kaki koq.
The best moment I had in Pennsylvania.

Dan saat malam tiba, beuh.. serius cantik banget momennya. Apalagi ketika senja menyingsing disusul bintang-bintang bertaburan.


Di hari terakhir di Pennsylvania, saat baru saja selesai menyusun naskah pidato bersama tim. Aku ngobrol dan curhat bersama teman-teman sesama perempuan di tim SDG3. Curhat soal cowok sihh... Rejja sudah punya suami, dan suaminya menerima dia apa adanya sebagai pasien kanker yang bertahan hidup bahkan sebentar lagi menjadi dokter yang ingin memberantas kanker. Juga bagaimana Teresa jatuh cinta pada seseorang, dan mereka saling mencintai namun cowok tersebut sudah menjadi pacar orang lain. 

Ketika mereka bertanya padaku adakah orang yang kusuka, mereka gak percaya bahwa aku bahkan tidak menjalin komunikasi dengan orang itu. #GerakanAntiPacaran aneh juga mungkin bagi mereka.


“I don’t have a boyfriend and I don’t have any communication with someone I like. He decided to not make any communication with me. I don’t know the exact reason, maybe because you know, in Islam it’s prohibited.”

“But... how could you getting married with someone if you don’t know the person?” Tanya Teresa.

“That's the question! (I believe it too) At least, I have to know the person in advance before deciding to marry with him or another person. He must be someone I’ve known for years, either he is my friend or something, I will ask him a lot of things. I won't marry someone I don't know...”

Gak percaya bisa curhat sama bule. Wkwkwk.

Terus aku juga bersyukur karena pihak Merit 360 menyediakan dietary needs. Buat mereka yang vegetarian, atau gluten free, punya alergi, atau hanya makan-makanan halal. Dan makanan halal selalu menjadi pilihan.

Insyaa Allah Halal
Kembali ke New York untuk 3 hari terakhir program Merit 360. Ingat pembicaraanku dengan Thom ketika mengelilingi Amsterdam Ave street malam sebelum presentasi di PBB.

“You only eat halal? What is the difference of Halal with other foods?”
“Halal means they killed the animal differently and they didn’t hurt the animal.”
“How do you feel if you don’t eat halal?”
“I am not going in the psychological relax.”
“It’s like Allah… Allah.., right? He will punish you?”
“Yeah, exactly.”


TIM SDG3 UNJUK IDE DI PBB


Dan inilah titik puncak dari semuanya, satu hari kami di PBB. Aku bersama tim SDG3 mempresentasikan ide tentang SIMI Project di Nigeria. Sebuah NGO yang bergerak dalam mencegah kematian janin dan bayi melalui pendidikan ibu dan perekrutan women leaders di ranah akar rumput. Ide yang betul-betul nyaris sempurna disusun oleh Dr. Catherine dari Nigeria. Membuatku belajar banyak darinya tentang bagaimana sebuah proyek disusun sesuai format BMC.

8 jam kami berada dalam satu ruangan, mendengarkan sambutan-sambutan bahkan dari para petinggi PBB langsung dan dihadiri oleh para stakeholders. Mendengarkan presentasi dari setiap tim dan juga diskusi panel dari para aktivis sosial.


Beberapa temanku dari ICFP 2016 kemarin yang sampai sekarang masih menjalin komunikasi, beberapa di antara mereka bekerja di sini, entah di UN Women atau UNFPA atau di WHO. Tapi sayangnya karena sibuk sendiri akunya, padahal kami sudah janjian, tapi memang tidak ketemu. Ingat sebuah quote yang pernah kutemukan, dalam 5 tahun lagi siapa kita akan ditentukan oleh teman-teman kita dan buku yang kita baca.

Bersyukur punya teman-teman seperti mereka semua, menjalin network seluas-luasnya, bersyukur mengambil bagian kecil dari perubahan dunia menuju lebih baik, dan entah kenapa dalam hati merasa yakin… I promise to go back again… United Nations. 


United Nations Headquarters

[Cerpen] Bocah Dalam Hujan



Cerpen Aku terbangun saat sinar matahari jatuh di pelupuk mataku. Silau. Cece membuka jendela kamar dan kulihat jam dinding menunjukkan jam delapan pagi. Huwaaa!!! Aku terlambat sekolah. Kenapa jam weker tidak berdering, ya? Padahal aku sudah nge-set biar berdering jam enam. Bodo, ah! Aku langsung bergegas menuju kamar mandi tapi bukan buat mandi, melainkan buat cuci muka dan gosok gigi doang.

“Ce, kenapa gak bangunin Rafli, sih? Cece tau kan, kalau Rafli sampai gak sekolah, mama gak bakal ngasih uang jajan seminggu?!” lontarku protes keluar dari kamar mandi. 

“Cece udah bangunin Mas Rafli tadi pas subuh, tapi Mas Rafli tidur lagi,” kata si cece sambil ngeberesin ranjangku yang berantakan.

Kok bangunin pas subuh, sih? Ya iyalah Rafli tidur lagi!” balasku. Aku membuka pintu lemari dan melirik ke arah cece. Wanita 50 tahun itu manggut-manggut mengerti isyaratku dan berjalan keluar dari kamar.

“Emang Mas Rafli gak sholat subuh?”

“Banyak nanya nih, ah! Tenang aja, ce. Allah kan maha pengampun!”

 “Mas Rafli ada bener juga, ya? Tapi salah Mas Rafli sendiri sih, pacaran dengan Neng Hepinya kelamaan! Oia, kata Mang Udin mobil lagi di bengkel, nyonya tadi nelpon Mas Rafli naik taksi aja,” kata si cece masih bertahan di ambang pintu kamar. Ia terkekeh saat melihatku mau mengganti baju.“ “Ih, Mas Rafli seksi deh!” ucap cece genit. Aku melotot dan langsung menutup pintu kamar. 

            GRRRHH!!!! Sumpah serapah nyembur dari mulutku gak karuan. Mobil lagi di bengkel?! Aku bener-bener terlambat sekolah kalau gini. Gak tau mau nyalahin siapa, aku mulai menyalahkan jam weker yang gak berdering jam 6 tadi. Jam weker durjana!

Sudah 5 menit, tapi mobil sedan berwarna biru dengan tulisan taksi di atasnya gak satupun nongol. Kulirik jam tangan, sekarang jam delapan lewat lima belas. Aku sih pengennya bolos sekolah aja terus kabur main game online, tapi mengingat kemarin mama marah-marah gara-gara aku ketahuan main PS di rumah Anton. Akhirnya, aku ketahuan ngumpet di kolong kasur dan Anton ketahuan pura-pura sakit biar gak sekolah. Mana aku tahu kalau mama mau jenguk Anton sebagai anak dari sahabatnya mama.

            Sebuah angkot menepi. Pria tua dekil itu membunyikan klakson, isyarat biar aku masuk. Kumohon, aku belum pernah naik angkot sebelumnya. Anak tunggal seorang pejabat tinggi negara naik mobil angkot??

            “Mas, mau ke SMA Merah Putih, kan?” tanya si sopir.

“Emang napa?”

            “Saya mau lewat situ juga soalnya. Murah ko’, cuma 2000 aja.”

            Taksi kapan lewat, ya?” Aku bergumam sambil membuang muka. 

            “Mas, daripada naik taksi 20.000,  gak dateng-dateng lagi!”

            Angkot itu terus bertahan. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mendengus dan masuk ke dalam angkot. Mobil itupun meluncur dengan sangat lambat, mungkin agar bisa melihat jika ada penumpang lain yang mau naik. Sebuah aroma masuk melewati lubang hidungku, itu pasti campuran bau ayam, bau amis ikan, bau keringat, dan berbagai macam bau lainnya. Membuatku mau muntah. Aku mulai ngedumel gak jelas.

            “Anak muda jaman sekarang aneh-aneh aja ya, A? Apa itu gaya terbaru?” tanya seorang ibu terkikik menunjuk ke kakiku. Apa ada sesuatu yang aneh? Aku pun melihat kakiku dengan muka heran. DEG! Sepatuku beda sebelah. Satunya sepatu sekolah dan satunya sepatunya Mang Udin. GRRRHHH!!!!! 

Aku berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Gerbang sudah dikunci tapi biar begitu aku tahu celah lain di sekolah ini. Aku pun berhasil masuk ke pekarangan tanpa ketahuan satpam. Setelah itu langsung berlari masuk kelas mendahului seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap. Guruku di pelajaran berikutnya. Akhirnya akupun berhasil mendahuluinya, semua mata mengarah ke arahku tapi aku cuek dan duduk di bangku paling belakang samping si Anton.

            “Kemane aje lu, Rap?” tanya Anton.

            “Tadi malam gue pacaran sama si hepi kelamaan jadi gue bangun telat, puas lu?”

            “Hepi? Hape maksud lu?”

            “Apa lagi?! Banyak nanya lu, ah!”

            “Jailah, gitu aja marah. Kalo bukan gara-gara nyokap lu kemaren, kayaknya hari ini lu dah bolos, gue bener kan?”

            “Lu diem aja dah! Ini semua kan gara-gara lu juga! Coba kemaren lu gak ngajak gue maen PS, gue bisa main G-O di warnet sekarang dan juga gak perlu ngalamin hari sial kayak gini!”

            “Jah... itu kan pilihan lu sendiri, Rap,” ujar Anton. , “Betewe, lu koq beda hari ini, Rap. Biasanya lu kan wangi sembriwing gitu, koq aromanya jadi lain. Lu gak mandi, ya?”

            “Gue bilang lu diem aja!!” bentakku memenuhi seisi kelas. Saat yang bersamaan, pria setengah botak masuk. Dia melotot ke arahku dan mendehem keras. Rasanya jantung mau copot saat itu juga. Pak Dono emang orang paling serem sepanjang sejarah manusia. Jika saja dia duduk dengan Indiana Jones, Indiana Jones pasti bakal terlihat seperti banci.

            Aku dan Anton mengakhiri pembicaraan. Serempak semua kelas pun membisu setelah mengucapkan sambutan berupa salam. Pak Dono lalu mulai mengajar dan menjelaskan istilah-istilah biologi yang bikin kepala makin mumet. Sfingter pilorus, asam amino, pepton, velum palastini, bla bla bla.

            Pikiranku mulai mengawang. Meninggalkan ruangan kelas yang hanya menjejali otak dengan teori menjemukan. Kurebahkan kepalaku ke atas meja sejenak untuk menghilangkan penat dan kesuntukan. 

&&&

            Aku baru pulang sekolah dan sekarang sedang berdiri di halte pinggir jalan, menunggu bus antar kota. Orang-orang berlalu lalang, puntung rokok terurai burai, pengamen bernyanyi cempreng, pengemis masang wajah melas di emper-emper, pedagang asongan menjajakan dagangannya, semuanya bercampur baur jadi lautan manusia kumal dengan sengak bau keringat. Aku bener-bener mau muntah. 

            Langit berubah gelap, tak lama gerimis menyibak celah-celah hitam awan. Hujan datang dengan deras dan membasahi bumi. Desau angin terdengar kencang sekali bersama dengan kilat yang menyala-nyala. Seorang bocah 5 tahun muncul dengan bertelanjang kaki, bajunya dekil, tubuhnya kurus, dia membawa sebuah payung di tangannya dan menawarkannya kepadaku.

            “Cuma gope,” katanya. Aku masih gak ngerti sampai dia menawarkan payung yang dibawanya itu, “Murah, akan kupinjamkan jika kakak memberiku gope.”

            “Nggak, aku gak perlu,” ujarku melambaikan tangan.

            “Terimakasih, kakak!” ujar bocah itu. Dengan kakinya yang kurus ia kembali menjajakan payungnya pada orang lain dengan semangat. Seakan bocah itu gak mengeluh dengan kerasnya kehidupan yang terkadang angkuh. Aku tersenyum melihat kegigihan mereka sambil menahan malu pada diri sendiri dan mulai memperhatikan bocah itu sembari menunggu bus.

            Ojek payung, aku menyebutnya. Tak urung bocah ojek payung itu menggigil kedinginan membuntuti orang yang meminjam payungnya. Sesekali bocah itu menghapus air yang membasahi wajahnya. Tapi ia tetap tersenyum apalagi saat menerima gope logam dari para peminjam payung. 

            “Terimakasih, tuan!” katanya pada seorang pria yang meminjam payung buat berteduh di halte ini. 

            “Apa kamu nggak sekolah?” tanya pria itu.

            “Nggak, aku gak punya uang buat sekolah, aku juga harus ngurus emak yang lagi sakit,” jawab bocah itu polos. Aku makin menunduk malu, berapa banyak waktu mereka habiskan buat bekerja demi ibunya tanpa mengeluh, sementara nikmat yang kudapatkan bukannya membuatku tambah bersyukur, malah ngabisin waktu dengan mengeluh dan mengeluh.

            Bus yang kutunggu tiba, aku langsung berlari hendak menerobos derasnya hujan. Tapi aku terdiam gak sempat masuk, kehujanan, pandanganku buyar. Dengan setengah sadar, kudengar suara entah dari mana.

            “Ayo bangun! Bangun!” Mataku mengerjap-ngerjap. Wajah seseorang terlihat dengan samar-samar dan makin lama makin jelas. Orang itu memandangku dengan matanya yang melotot sampai sebesar bola pingpong. Seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap memegang segelas sisa air mineral.

            Huwaaa!!!!
&&&


By: Maryam Qonita, dibuat tahun 2011.

Pencarian:


  • Ojek payung
  • cerpen islami
  • cerpen motivasi
  • cerpen 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...