Selasa, 19 Februari 2019

Draft Pertanyaan Jawaban Wawancara LPDP - Akademik



Does the major you want still needed in Indonesia?

Gender equality is the key to economic growth
The percentage of men and women in Indonesia is balanced, but this condition is not matched by the number of workforce. Women's labor force participation is around 48% while men are 83%. Generally, in various studies it was stated that the increasing number of working women would significantly improve the economic condition of a country.

Therefore, I chose Social Psychology and wanted to learn from Professor Heilman how social constructs are formed, key household tasks about gender stereotypes and also how they affect working women. My research is concerned about inequality and gender-based violence. And I plan, from the skills I improved through higher education, I would like drafting the public policy especially about women empowerment.

Kesetaraan gender adalah kunci pertumbuhan ekonomi
Persentase laki-laki dan perempuan di Indonesia berimbang, namun kondisi itu tidak diimbangi dengan jumlah angkatan kerja. Partisipasi angkatan kerja perempuan berada di sekitar angka 48% sementara laki-laki 83%. Umumnya, dalam berbagai penelitian dan kajian dalam World Economic Forum menyebutkan bahwa meningkatnya jumlah angkatan kerja pada perempuan akan meningkatkan kondisi ekonomi sebuah negara secara signifikan.

Maka dari itu, saya memilih Psikologi sosial dan ingin belajar dari Professor Heilman bagaimana konstruk sosial itu terbentuk, key household tasks mengenai gender sterotype dan juga bagaimana itu mempengaruhi wanita pekerja. Penelitian saya berkutat mengenai ketimpangan dan gender-based violence. Dan saya berencana, dari skill yang telah saya asah ingin membantu menyusun draft pembuatan kebijakan publik, khususnya mengenai pemberdayaan perempuan.

A new nationwide survey commissioned by Indonesia’s Women’s Empowerment and Child Protection Ministry, carried out by the Central Statistics Agency, with assistance from the UN shows that one in three Indonesian women have experienced physical and or sexual violence in their lifetime.

Despite significant progress in gender equality, including increased access for women and girls to education, employment and health services, Gender-Based Violence (GBV) remains a serious public health and human rights concern. The Government of Indonesia recognizes the need for a systematic solution to ending GBV. National policies, strategies and legal documents have been put in place. However, implementation challenges remain.

Survei nasional baru yang ditugaskan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik, dengan bantuan dari PBB menunjukkan bahwa satu dari tiga wanita Indonesia telah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual dalam hidup mereka.

Meskipun ada kemajuan signifikan dalam kesetaraan gender, termasuk peningkatan akses bagi perempuan dan anak perempuan untuk layanan pendidikan, pekerjaan dan kesehatan, Kekerasan Berbasis Gender (GBV) tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia yang serius. Pemerintah Indonesia mengakui perlunya solusi sistematis untuk mengakhiri GBV. Kebijakan, strategi, dan dokumen hukum nasional telah diberlakukan. Namun, tantangan impleme
ntasi tetap ada.
What is the Root causes for gender-based violence?


The “ecological framework” developed by Heise distinguishes risk factors at four levels: the individual, the relationship, the community and the structural level (Heise 1998, cited in WHO 2005). These factors are associated with an increased likelihood that an individual will become a victim or a perpetrator of violence. This model offers a comprehensive framework for understanding the risk factors of GBV and their interplay, and may therefore be used as a guide for designing interventions in the fields of prevention and response (WHO/LSHTM 2010).

"Kerangka ekologis" yang dikembangkan oleh Heise membedakan faktor-faktor risiko pada empat tingkatan: individu, hubungan, masyarakat dan tingkat struktural (Heise 1998, dikutip dalam WHO 2005). Faktor-faktor ini terkait dengan kemungkinan yang meningkat bahwa seseorang akan menjadi korban atau pelaku kekerasan. Model ini menawarkan kerangka kerja komprehensif untuk memahami faktor risiko GBV dan interaksi mereka, dan oleh karena itu dapat digunakan sebagai panduan untuk merancang intervensi di bidang pencegahan dan tanggapan (WHO / LSHTM 2010).


Berapa biaya kuliah dan biaya hidup di universitas tujuan
Komponen
Harga
Estimasi dalam rupiah
Tiket pesawat sekali jalan (Qatar Airways)
USD 747
IDR 10.861.380
Akomodasi
USD 21.600 (per year)
IDR 314.064.000
Internet T-Mobile
USD 600 (per year)
IDR 8.724.000
Makan dan minum per bulan
USD 18.275 (per year)
IDR 265.718.500
Transportasi (Student pass)
USD 753 (per year)
IDR 10.948.620
Tuition fee
USD 35.740 (per year)
IDR 519.659.600
Credit registration & svcs fee
USD 1829 (satu kali)
IDR 26.593.660
Pengumpulan data lapangan ke Indonesia
USD 1250  (satu kali)
IDR 18.175.000
Konferensi dan publikasi jurnal APC Open Access
USD 250 (satu kali)
IDR 3.635.000
Asuransi kesehatan kampus
USD 480 (per year )
IDR 6.979.200
Visa
USD 200 (satu kali)
IDR 2.908.000
Tes IELTS
USD 205 (satu kali)
IDR 2.980.700
Tes GRE
USD 205 (satu kali)
IDR 2.980.700
Terjemahan dokumen
USD 20 (satu kali)
IDR 290.800
Cek kesehatan
USD 60 (satu kali)
IDR 872.400
Biaya lain-lain


TOTAL
USD 82.214
IDR 1.195.391.560


American’s education system is different from Indonesia’s. How well do you know this and how have you prepared yourself?

Saya sudah menghubungi Professor Madeline Heilman, dimana penelitiannya banyak mendiskusikan tentang gender stereotype dan diskriminasi terhadap perempuan. Saya juga mengunjungi google scholar Professor Heilman, dimana penelitiannya banyak disitir oleh penelitian di Indonesia. Selain professor Heilman, saya mengontak ketua program studi dan juga faculty member, Pada umumnya, mahasiswa Psikologi dianjurkan untuk mengambil Ph.D level courses. Itu artinya, meskipun tidak mendapatkan PhD diploma, saya tetap dapat memperoleh informasi dan meningkatkan kapasitas akademik seakan-akan saya mahasiswa S-3. Untuk itu, saya masih mempelajari paper dari professor dari NYU dan apa yang dapat saya kembangkan untuk memberikan intervensi dalam melakukan pencegahan dan penanganan terhadap gender-based violence.

I have contacted Professor Madeline Heilman, where her research discussed a lot about gender stereotypes and discrimination against women. I also visited Google Scholar Professor Heilman, where his research was widely cited by researchers in Indonesia. Besides Professor Heilman, I contacted the director of the MA Program in Psychology and also the faculty member. Psychology students particularly who have an interest in social psychology are recommended to take Ph.D. level courses. That means, even though I don't get a Ph.D. diploma, I can still get information and increase my academic capacity as if I were a PhD student. For that, I am still studying the papers from professors from NYU and what I can develop to provide intervention in preventing and handling gender-based violence.

Rencana setelah kuliah (apa yang akan dilakukan, kerja dimana, kerja apa)

For the short term, I see myself becoming true expert and master at my role as a social psychologist scientist to know real problem in field that I’ve been working on. I plan to immerse myself in the position of social advocate and I want to be able to extend my expertise and offer help to gender-based violence victims through social service and local NGO.

In academic terms, I will also continue to promote Open Access to scientific journals. So it could increase the visibility and usefulness of the journal. And I wanna help youth innovation in conducting research.

Saya melihat diri saya menjadi ahli dalam peran saya sebagai ilmuwan psikolog sosial untuk mengetahui masalah nyata di bidang yang saya telah kerjakan. Saya berencana untuk membenamkan diri dalam posisi advokat sosial dan saya ingin dapat memperluas keahlian saya dan menawarkan bantuan kepada para korban kekerasan berbasis gender melalui layanan sosial dan LSM lokal.

Dalam hal akademik, saya juga akan tetap mempromosikan Open Access terhadap jurnal-jurnal ilmiah. Sehingga meningkatkan visibilitas dan kebermanfaatan jurnal tersebut. Dan membantu menumbuhkan inovasi anak muda dalam melakukan penelitian.

----------------------------------
For the long term, I want to have a career in politics, especially being a member of the DPR-RI commission VIII in the religious, social and women's empowerment section. My biggest dream in politic is to become a minister of women's empowerment and child protection.

Untuk jangka panjang, saya ingin berkarir di bidang politik, khususnya menjadi anggota DPR-RI komisi VIII bagian agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Mimpi terbesar saya di politik adalah menjadi menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Jelaskan mata kuliah yang akan diambil

I am interested to study in Master of Arts in Psychology New York University with the Social Psychology as my concentration. It is related to my educational background-Bachelor’s Degree in Psychology and social activities I have been working on since 2015 in the field Women’s empowerment and child protection.

Saya tertarik untuk belajar di Master of Arts di Psikologi New York University dengan Psikologi Sosial sebagai konsentrasi saya. Hal ini terkait dengan latar belakang pendidikan saya - Gelar Sarjana dalam Psikologi dan kegiatan sosial yang saya kerjakan sejak 2015 di bidang pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak.

Tell about your past academic and nonacademic activities.

Academic activities, saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi di jurusan saya khususnya setelah mengajukan paper berkaitan dengan intervensi psikologis pada anak korban kekerasan seksual. Saya juga mendirikan Open Access Indonesia, organisasi dengan misi salah satunya adalah mengadvokasi open access terhadap jurnal-jurnal ilmiah sehingga meningkatkan visibilitas dan kebermanfaatannya. Open Access ini sendiri mengadakan beberapa seminar dan sebgain besar peminatnya adalah dosen. Jadi kami memfasilitasi pertemuan antar dosen bagaimana mempublikasi penelitian mereka di jurnal open access tanpa biaya APC. Atau juga mengadvokasikan lisensi creative commons.

Academic activities, I was selected as an outstanding student in my department, especially after submitting a paper relating to psychological intervention in children victims of sexual violence. I also founded Open Access Indonesia, an organization with a mission, one of which is advocating open access to scientific journals so as to increase visibility and usefulness. Open Access itself holds several seminars and most of the enthusiasts are lecturers. So we facilitated meetings between lecturers how to publish their research in open access journals without APC fees. Or also advocate them about creative commons licenses.

Sementara untuk non-academic activities, saya bergabung dalam LSM Satu hati dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Bekrjasama dengan dinas sosial, BKBPP, pengadilan negeri kuningan, dsb. Kami keliling, berjalan dari satu rumah ke rumah untuk memberikan penyuluhan pada korban maupun pelaku apa yang dapat kami berikan di ranah hukum dan juga medis. Dari kegiatan tersebut, saya mendapatkan beberapa kesempatan untuk mewakili Indonesia menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional, pembiayaan ditanggung oleh penyelenggara. Di antaranya penelitian saya mengenai intervensi psikologis pada korban kekerasan, waktu itu dijadikan draft untuk dipresentasikan di kantor pusat PBB di New York.

While for non-academic activities, I joined the NGO One heart and was active in various social activities. Collaborate with social services, BKBPP, brass district court, etc. We went around, going from house to house to provide counseling to victims and perpetrators of what we could provide in the legal and medical spheres. From this activity, I got several opportunities to represent Indonesia as a speaker at various international conferences, funding was borne by the organizers. Among other things, my research on psychological intervention in victims of violence, was then used as a draft to be presented at the UN headquarters at New York University.

How are you going to do your coursework or research?

Pertama, menghadiri courses wajib untuk memenuhi persyaratan SKS yang dibutuhkan yaitu 21. Jumlah SKS 21 adalah jumlah credit minimum, saya dapat meningkatkannya dengan mengikuti internship sebagai asisten peneliti ataupun menghadiri Ph.D seminar. Karena khusus Mahasiswa master yang mengambil Psikologi sosial, mereka dianjurkan untuk mengambil Ph.D level courses, bukan berarti saya bisa memperoleh ijazah Ph.D karena saya tahu LPDP melarang itu, tapi mahasiswa dianjurkan untuk mengikuti kelas Ph.D untuk menambah kredit program MA, saya akan mengambilnya untuk meningkatkan skill akademik dan meningkatkan pengetahuan.

First, attending mandatory courses to meet the required SKS requirements is 21. Number of SKS 21 is the minimum credit amount, I can improve it by participating in an internship as a research assistant or attending a Ph.D seminar. Because specifically for master students who take social psychology, they are recommended to take a Ph.D level courses, which does not mean that I can get a PhD because I know the LPDP prohibits it, but students are encouraged to take Ph.D cl asses to increase MA credit programs, I will take it to improve academic skills and increase knowledge as if I was a Ph.D student.

Sementara u
ntuk penelitian, saya akan bekerja sama dengan Professor Heilman dan juga Professor David Amodio dalam menyusun thesis saya mengenai stereotype gender, diskriminasi. Penelitian Professor Heilman banyak berdiskusi seputar gender sementara Professor David lebih menggunakan pendekatan integratif. Sehingga pendekatan ini kuat untuk memunculkan hipotesis baru dan juga memunculkan hasil penemuan lintas disiplin. Seperti bagaimana kognisi dan emosi bisa memunculkan stereotype dsb.
As for research, I will work with Professor Heilman and also Professor David Amodio in compiling my thesis on gender stereotypes, discrimination. Professor Heilman’s research discussed a lot about gender while Professor David used an integrative approach. This integrative approach is useful because it often leads to novel hypotheses and it promotes the synthesis of research findings across disciplines. Like it is not only discussing gender stereotype in social context, but also in neuroscience and health.
Indonesia has had a lot of experts in your area. How do you see you will be able to make a difference

In terms of numbers, Indonesia still lacks the number of psychologists or psychological scientists, especially volunteer psychologists in social activities at the grassroots. My experience in volunteering at PPA-PKH, common children were found to meet psychologists once a week. But it turned out he was busy on the promised day. Likewise, when I visited the social care center for the devotion of love in the Kemayoran area. Nearly 100 female victims of domestic violence there, psychologists come a week to two weeks to handle only 1-2 patients. When I chatted with the staff there, psychologists for victims of domestic violence were very lacking.

Dari segi jumlah, Indonesia masih kekurangan jumlah psikolog maupun ilmuwan psikologi, khususnya psikolog sukarelawan dalam kegiatan sosial di akar rumput. Pengalaman saya menjadi volunteer di PPA-PKH, anak-anak sering dijanjikan agar bertemu psikolog sepekan sekali. Tapi ternyata dia sibuk juga di hari yang dijanjikan. Begitu pula, saat saya mengunjungi panti sosial perlindungan bhakti kasih di daerah Kemayoran. Hampir 100 wanita korban KDRT disana, psikolog datang sepekan hingga dua pekan sekali untuk menangani 1-2 pasien saja. Ketika saya mengobrol dengan staff disana, tenaga psikolog untuk korban KDRT itu sangat kurang sekali.

I want to help draft the public policy based on my knowledge in the field of social psychology. Where not many social psychologists in Indonesia have become consultants in the formation of political policy. And I have also studied how to design right policy in several worlds globally about handling gender-based violence. Where there is a framework called the “ecological framework” can be a reference for how we provide intervention.

Saya ingin membantu penyusunan draft kebijakan publik berlandaskan pengetahuan saya di bidang psikologi sosial. Dimana belum banyak seorang psikolog sosial di Indonesia menjadi konsultan dalam pembentukan kebijakan politik. Dan saya juga telah mempelajari bagaimana designing right policy di beberapa dunia secara global tentang penanganan gender-based violence.  Dimana terdapat satu bingkai kerja yang disebut “ecological framework” bisa menjadi acuan bagaimana kita memberikan intervensi.
Alumni politik dari NYU siapa saja?
Saya mengetahui beberapa alumni dari NYU yang menjadi politisi terkenal di Amerika Serikat, seperti Colin Powell, Alan greenspan, Rudy giuliani.
I know some alumni from NYU who are famous politicians in the United States, such as Colin Powell, Alan Greenspan, Rudy Giuliani,

Definisi Gender stereotypes
A man might say women aren't meant for combat, while a woman might say men do nothing but watch sports. Such expressions represent gender stereotypes, which are over-generalizations about the characteristics of an entire group based on gender. Reflecting impressions and beliefs about what is the right behavior for men and women.

Seorang pria mungkin mengatakan wanita tidak dimaksudkan untuk bertempur, sementara seorang wanita mungkin mengatakan pria tidak melakukan apa-apa selain menonton olahraga. Ekspresi semacam itu merepresentasikan stereotip gender, yang terlalu generalisasi tentang karakteristik seluruh kelompok berdasarkan gender. Merefleksikan kesan dan keyakinan tentang perilaku apa yang benar untuk pria dan wanita.

What have you done to gather information that will support your study in country X?
Saya sudah menghubungi faculty membernya, Dr. Liz dan juga Professor Heilman dengan penelitian berfokus pada gender stereotype dan diskriminasi. Selain itu juga, saya sudah menguhubungi Professor David Amodio yang sering menggunakan pendekatan integratif. Selain itu juga, saya juga menghubungi Prof gans, direktur MA Program in psychology. Pada umumnya, mereka sangat welcome dengan thesis yang saya ajukan.

I have contacted the faculty member, Dr. Liz and Professor Heilman with research focused on gender stereotypes and discrimination. Besides that, I have contacted Professor David Amodio who often uses an integrative approach. In addition, I also contacted Prof. Gans, director of the MA Program in psychology. In general, they are very welcome with the thesis that I submitted.

What do you think is the main problem Indonesia is facing currently and how will your study help Indonesia address the problems?

Inequality, especially gender equality. Besides that, there are also economic problems. Gender equality is the key to economic growth

The percentage of men and women in Indonesia is balanced, but this condition is not matched by the number of workforces. Women's labor force participation is around 48% while men are 83%. Generally, in various studies, it was stated that the increasing number of working women would significantly improve the economic condition of a country.

Therefore, I chose Social Psychology and wanted to learn from Professor Heilman how social constructs are formed, key household tasks about gender stereotypes and also how they affect working women. My research is concerned about inequality and gender-based violence. And I plan, from the skills I improved through higher education, I would like drafting the public policy, especially about women empowerment.

Ketidaksetaraan pada warga negaranya, khususnya isu kesetaraan gender. Di samping itu terdapat pula masalah ekonomi. Kesetaraan gender adalah kunci pertumbuhan ekonomi
Persentase laki-laki dan perempuan di Indonesia berimbang, namun kondisi itu tidak diimbangi dengan jumlah angkatan kerja. Partisipasi angkatan kerja perempuan berada di sekitar angka 48% sementara laki-laki 83%. Umumnya, dalam berbagai penelitian dan kajian dalam World Economic Forum menyebutkan bahwa meningkatnya jumlah angkatan kerja pada perempuan akan meningkatkan kondisi ekonomi sebuah negara secara signifikan.

Maka dari itu, saya memilih Psikologi sosial dan ingin belajar dari Professor Heilman bagaimana konstruk sosial itu terbentuk, key household tasks mengenai gender sterotype dan juga bagaimana itu mempengaruhi wanita pekerja. Penelitian saya berkutat mengenai ketimpangan dan gender-based violence. Dan saya berencana, dari skill yang telah saya asah ingin membantu menyusun draft pembuatan kebijakan publik, khususnya mengenai pemberdayaan perempuan.

Why do you choose NYU?

There are three reasons sir I choose the university:

The first one is about the courses that the university offers. Because this is the only university that available in LPDP regular program that offers social psychology as its concentration. After I contacted the faculty members and director of the program, I found a lot of uniqueness that doesn’t offered in a lot universities. And also they offer us to learn psychological problem with integrated approach. This integrative approach is useful because it often leads to novel hypotheses and it promotes the synthesis of research findings across disciplines. Like, it is Not only discuss about stereotype in social context, but also in neuroscience and health.

Secondly is because for master students who take social psychology, they are recommended to take a Ph.D level courses, which does not mean that I can get a PhD degree, because I know the LPDP prohibits it, but students are encouraged to take Ph.D classes to increase MA credit programs, I will take it to improve academic skills and increase knowledge as if I was a Ph.D student.

Thirdly, I’ve been in the NY. It wasn’t what I was expected. People came from India, China, and so forth. It is the ultimate resoursce here, it is so divers both in demographics but also life experience. The school population as well is so diverse. Where they’ve come from, what they motivations are, it just spans a very broad spectrum. And I feel like I’m able to learn so much from each one of them. I can bring what I learned beyond the walls of NYU and out into Indonesia, my country. To go to school anywhere else, it seems like I would missing out on that kind of education.

Ada tiga alasan Pak saya memilih universitas:

Yang pertama adalah tentang mata kuliah yang ditawarkan universitas. Karena ini adalah satu-satunya universitas yang tersedia dalam program reguler LPDP yang menawarkan psikologi sosial sebagai konsentrasinya. Setelah saya menghubungi anggota fakultas dan direktur program, saya menemukan banyak keunikan yang tidak ditawarkan di banyak universitas. Dan juga mereka menawarkan kita untuk belajar masalah psikologis dengan pendekatan terintegrasi. Pendekatan integratif ini berguna karena sering mengarah ke hipotesis baru dan mempromosikan sintesis temuan penelitian lintas disiplin. Seperti, itu Tidak hanya membahas tentang stereotip dalam konteks sosial, tetapi juga dalam ilmu saraf dan kesehatan.

Kedua adalah karena untuk siswa master yang mengambil psikologi sosial, mereka direkomendasikan untuk mengambil kursus tingkat Ph.D, yang tidak berarti bahwa saya bisa mendapatkan gelar PhD, karena saya tahu LPDP melarangnya, tetapi siswa didorong untuk mengambil Ph .D kelas untuk meningkatkan program kredit MA, saya akan mengambilnya untuk meningkatkan keterampilan akademik dan menambah pengetahuan seolah-olah saya adalah seorang mahasiswa PhD.

Ketiga, saya sudah berada di NY. Itu tidak seperti yang saya harapkan. Orang-orang datang dari India, Cina, dan seterusnya. Ini adalah yang paling luar biasa di sini, itu sangat penyelam baik dalam demografi tetapi juga pengalaman hidup. Populasi sekolah juga sangat beragam. Dari mana mereka berasal, apa motivasi mereka, itu hanya mencakup spektrum yang sangat luas. Dan saya merasa dapat belajar banyak dari masing-masing dari mereka. Saya dapat membawa apa yang saya pelajari di luar tembok NYU dan keluar ke Indonesia, negara saya. Untuk pergi ke sekolah di tempat lain, sepertinya saya akan melewatkan pendidikan semacam itu.

Do you think what you will learn can help you with your career? How?

Definitely, It’s a framework to utilize my full potentials and I can improve the skills I need inside and outside for the academic world and society. I want to learn from Professor Heilman how social constructs are formed, key household tasks about gender stereotypes and also how it creates discrimination. And my proposed research as well is about gender-based violence, an issue that I’ve been working on in my region.
Tentunya, ini adalah kerangka kerja bagi saya untuk memanfaatkan potensi saya sepenuhnya dan saya dapat meningkatkan keterampilan yang saya butuhkan di dalam dunia luar untuk dunia akademis dan masyarakat. Saya ingin belajar dari Profesor Heilman bagaimana konstruksi sosial terbentuk, stereotip gender dan juga bagaimana menciptakan diskriminasi. Dan penelitian yang saya usulkan juga adalah tentang kekerasan berbasis gender, masalah yang saya kerjakan di wilayah saya.

Describe your career you’ve been working on?

Esai LPDP Saya untuk Dipelajari!
Selanjutnya, saya turut aktif melibatkan diri saya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh LSM Satu Hati, Dinas Sosial, dan juga P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Kuningan. Kami mengunjungi rumah korban dan rumah pelaku kekerasan seksual. Tugas kami adalah memberikan bimbingan terhadap keluarga korban/pelaku secara moril, psikologis, dan menjelaskan apa yang dapat dilakukan di pengadilan

Furthermore, I also actively involved myself in the activities held by the Satu Hati NGO, the Social Service Office, and also P2TP2A (Integrated Service Center for Women and Children Empowerment) in Kuningan Regency. We visited the victim's home and the home of the perpetrators of sexual violence. Our task is to provide guidance to the families of victims / perpetrators morally, psychologically, and explain what can be done in court.

Dalam pendidikan, saya merupakan sukarelawan di PPA-PKH (Pengurangan Pekerja Anak – Program Keluarga Harapan) yang diselenggarakan oleh Dinas sosial. Setiap tahunnya, seratus anak putus sekolah di Kabupaten Kuningan dikumpulkan untuk diberi bimbingan, motivasi, dan bantuan finansial agar mereka dapat melanjutkan sekolah mereka minimal hingga jenjang SMA/SMK

In education, I am a volunteer at the PPA-PKH (Reduction of Child Labor - Family Hope Program) organized by the Social Service. Every year, one hundred school dropouts in Kuningan Regency are collected to be given guidance, motivation, and financial assistance so that they can continue their studies at least to the high school / vocational level.

Dalam beberapa program yang diadakan oleh Kementerian PPA, saya ikut mensosialiskan perudang-undangan mengenai perlindungan anak dan perempuan. Bersama saya adalah salah satu anggota DPR-RI Bapak Surahman Hidayat yang merupakan bagian dari Komisi VIII DPR-RI dengan ruang lingkup agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan

In several programs held by the Ministry of PPA, I participated in socializing the legislation regarding the protection of children and women. Together with me is one of the members of the DPR-RI Mr Surahman Hidayat who is part of the Commission VIII DPR-RI with the scope of religion, social and women's empowerment.

Saat penyuluhan, saya menjelaskan mengenai intervensi Psikologis pada korban KDRT melalui emotion-focused coping; yakni penyelesaian masalah emosi dengan cara memaafkan diri sendiri dan pelaku. Penjelasan ini merupakan hasil penelitian skripsi yang saya susun pada tahun 2017 setelah mengumpulkan kuesioner dari 60 wanita korban KDRT di Indonesia. Saat ini saya sedang mengajukan petisi kepada Mahkamah Konstitusi dan DPR-RI untuk merevisi UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah KDRT di Indonesia

When counseling, I explained about psychological interventions in victims of domestic violence through emotion-focused coping; namely solving emotional problems by forgiving yourself and the perpetrator. This explanation is the result of a thesis study that I compiled in 2017 after collecting questionnaires from 60 women victims of domestic violence in Indonesia. I am currently petitioning the Constitutional Court and DPR-RI to revise the Marriage Law No. 1 of 1974 which is one of the causes of the high number of domestic violence in Indonesia

Mimpi saya mengenai Indonesia di masa depan dapat disederhanakan dengan terwujudnya amanat UUD 1945, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum” yang termaktub dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945. Karena semenjak kematian RA. Kartini lebih dari 100 tahun lalu, diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum perempuan masih sering terjadi. Perempuan seringkali dipandang sebelah mata dalam posisi strategis, seperti politisi maupun direktur perusahaan. Justru, kekerasan terhadap perempuan semakin marak, 33% perempuan Indonesia mengalami kekerasan fisik, seksual, atau psikis (UNFPA Indonesia, 2017)

My dream about Indonesia in the future can be simplified by the realization of the mandate of the 1945 Constitution, "All citizens together in the law" are contained in Article 27 paragraph (1) of the 1945 Constitution. Because since RA's death. Kartini more than 100 years ago, discrimination and violence against women still occur frequently. Women are often underestimated in strategic positions, such as politicians and company directors. Indeed, violence against women is increasingly prevalent, 33% of Indonesian women experience physical, sexual, or psychological violence (UNFPA Indonesia, 2017)

Tambahan materi Undang-Undang Tentang Hak Perempuan

Undang-Undang No.8 Tahun 2012 Tentang Politik
Dalam Undang-Undang ini disebutkan jika perempuan berhak untuk berpolitik dengan menyuarakan pendapatnya. Perempuan juga berhak memilih dan dipilih untuk menjadi anggota dewan.

Law No. 8 of 2012 concerning Politics
In this Law, it is stated if women have the right to politics by voicing their opinions. Women also have the right to choose and be elected to the board.

PP No.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi
Peraturan pemerintah ini mengatur bahwa perempuan berhak mendapatkan layanan kesehatan reproduksi sejak remaja. Pengenalan tentang isu kesehatan reproduksi untuk perempuan.

PP No.61 of 2014 concerning Reproductive Health
This government regulation stipulates that women are entitled to reproductive health services since adolescence. Introduction to reproductive health issues for women.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...