Kamis, 11 April 2019

Daftar Beasiswa 2019 Terlengkap dan Terupdate

Deadline Daftar Beasiswa 2019 D3, S1, S2, dan S3 Terupdate dan Terlengkap - Melihat banyaknya teman-teman yang tidak mengetahui berbagai kesempatan beasiswa, karena informasi yang ada tersebar di berbagai sumber di Internet, jadi saya berinisiatif untuk membuat database link dan juga deadline beasiswa yang sedang dibuka. Insyaa Allah tulisan ini akan terus di update setiap pekan dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat.


Beasiswa D3 dan S1

15 April 2019: Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Luar Negeri 2019
19 April 2019: Cargill Global Scholars Program 2019 For Student Leaders
20 April 2019: Beasiswa Tunjangan Bagi Mahasiswa S1 Karya Salemba Empat
30 April 2019: Beasiswa Lembaga Pendidikan Kedinasan 2019 
30 April 2019: Beasiswa S1 Western Union Global Scholarship Program 2019
30 April 2019: Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Dalam Negeri 2019
1 Mei 2019: Beasiswa Calon Mahasiswa oleh Indonesia Leadership Foundation
13 Mei 2019: Beasiswa S1 Mandala Scholarship Program 2019
15 Mei 2019: Beasiswa S1 & S2 Monash International Leadership Scholarship
20 Mei 2019: Beasiswa Djarum Plus 2019/2020 untuk Mahasiswa D4 dan S1
31 Mei 2019: Beasiswa Penuh Bidang Seni D3, S1, S2 di K'ARTS Korea Selatan
31 Mei 2019: Beasiswa Ekstensi (D3/D4 melanjutkan S1) ke Westminster University, Inggris
14 Juni 2019: Beasisa DIII Akademi Meteorologi dan Instrumentasi
15 Juli 2019: Beasiswa Kuliah DIII Asuransi dari PT Asuransi Central Asia
1 Agustus 2019: Beasiswa Tuition Fee untuk kuliah S1 di Abdullah Gül University, Turkey
31 Oktober 2019: Beasiswa S1 Bidik Misi
Deadline variatif: Beasiswa 2019 untuk S1, S2, dan S3 dari Pemerintah Meksiko 

Beasiswa S2 dan S3
30 April 2019: Beasiswa S2 di Polandia Ignacy Łukasiewicz Scholarship Programme
30 April 2019: Beasiswa S2 di University of Sheffield, Inggris
30 April 2019: Beasiswa Penuh S2 dan S3 di Australia, Australia Awards Scholarship
30 April 2019: TDR Postgraduate Scholarship Implementation Program 2019/2020
30 April 2019: Engineering for Development (E4D) Continuing Education Scholarship 2019
15 Mei 2019: Beasiswa S1 & S2 Monash International Leadership Scholarship
17 Mei 2019: Beasiswa Penuh S2 di Prefektur Aichi, Jepang
19 Mei 2019: Beasiswa Doktoral di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB
20 Mei 2019: Confucius Institute Scholarship Beasiswa S2 Untuk Pengajar Bahasa Cina



Selasa, 09 April 2019

April 2019 Wishes List



  1. Mendaftar ke minimal 5 konferensi fully funded keluar negeri.
  2. Melengkapi semua checklist administrasi ke New York University dan LPDP.
  3. Menulis Indonesia Terakhir yang telah direvisi hingga BAB Delapan.
  4. Memposting 5 tulisan blog yang bermanfaat.
  5. Publikasi Open Science Fair 2019.
  6. Mengirimkan proposal sponsorship OSF ke 100 lembaga.
  7. Menyusun draft komik pendidikan seksual untuk anak-anak SMP dan SMA.


Sabtu, 06 April 2019

Wawancara LPDP dengan Nilai Nyaris Sempurna, Bagaimana Caranya?


Banyak yang bertanya kenapa wawancara LPDP saya bisa mendapatkan nilai hampir sempurna, yaitu 792 dari 800. Disini ingin berbagi sedikit pengalaman dan asumsi saya bisa mendapatkan nilai setinggi itu (Dari pengalaman yang lain, katanya ini sangat tinggi sih hehe, sampai kalau gak ikut LGD kemungkinan saya bisa tetap lulus substansi). I know it is so lame to share this... Apalagi saya tidak tahu tolak ukurnya dan skema penilaiannya seperti. Tapi mudah-mudahan asumsi saya ini bermanfaat. Btw, insyaa Allah saya akan melanjutkan S2 di General Psychology New York University tahun 2019 ini dan sudah mendapatkan Letter of Acceptance.

Perlu diketahui juga, saya bukan seorang ahli dalam wawancara dan ini adalah satu-satunya wawancara resmi yang pernah saya lalui dalam hidup saya. Jadi ini murni asumsi pribadi saya mengenai apa yang saya rasa membuat sebuah wawancara bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Mudah-mudahan membantu bagi yang tertarik mengikuti wawancara LPDP ke depannya.


Mungkin teman-teman sudah sering dengar tips-tips wawancara pada umumnya, seperti memperhatikan body language, bersikap sopan dan bersahabat, menggunakan pakaian yang rapih, simulasi wawancara dsb. Kali ini saya akan coba sharing tips yang mungkin masih jarang dibagikan atau dituliskan dalam tips-tips wawancara pada umumnya. Dan berikut adalah tips-tips wawancara dari saya:

1. Jangan Menjawab Terlalu Normatif.

Teman-teman bisa bayangkan gak, pewawancara yang kalian hadapi itu mungkin sudah menghadapi puluhan peserta atau mungkin ratusan. Jawaban-jawaban normatif pasti diulang-diulang dalam setiap sesi wawancara dan itu membosankan. Jawaban normatif itu artinya jawaban dikembalikan kepada etika/aturan/norma/nilai yang sudah diketahui secara bersama. Seperti misalnya jika ditanya "Kenapa ingin melanjutkan sekolah S2 ke Inggris?" Lalu kamu menjawab "Saya ingin meningkatkan skill, menambah pengetahuan dan pengalaman, meningkatkan kebermanfaatan dsb.". Itu adalah jawaban normatif. Lebih baik menjawab dengan detil dan spesifik, misalnya mengenai riset yang ingin ditempuh dan kenapa universitas atau supervisor di universitas tersebut menjadi perfect match buat minat riset kamu. Dan ya kenapa itu secara spesifik dapat berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.

2. Data! Data! Data!

Disini aku mau share sesuatu yang juga mungkin banyak diabaikan oleh peserta LPDP saat wawancara, yaitu kurangnya data. Data itu sangat penting sebagai amunisi untuk kalian wawancara. Memiliki data juga termasuk mencerminkan kecerdasan dan kesiapan kamu sebagai calon penerima beasiswa LPDP. Misalnya apakah kamu tahu berita terbaru mengenai kontroversi Perda Syariah (pertanyaan seputar nasionalisme), atau pertanyaan mengenai kondisi bilateral hubungan Indonesia dengan negara tujuan (Indonesia dengan Swedia misalnya). Jangan sampai ketika ditanya, kita tidak tahu apa berbagai pertanyaan nasionalisme lainnya (organisasi separatisme, perda syariah, khilafah, komunisme, RUU ormas dsb) atau tidak tahu hubungan Indonesia dengan negara tujuan misalnya, pertanyaan seputar akademik seperti biaya studi, organisasi mahasiswa di kampus (islamic centre/komunitas Indonesia), penelitian profesor yang kamu tuju, urgensi jurusanmu di Indonesia dsb. Atau pertanyaan-pertanyaan umum mengenai LPDP, visi misi LPDP, empat nilai LPDP, dsb. Amunisi-amunisi seperti ini harus disiapkan jauh-jauh hari, segera setelah menyelesaikan tahap seleksi sebelumnya (Seleksi Berbasis Komputer).

3. Jawablah Sediplomatis dan Seobjektif Mungkin.

Bias pewawancara itu sangat mungkin terjadi, khususnya di iklim politik saat artikel ini ditulis dan saat si penulis melakukan wawancara. Jadi berusahalah untuk menjawab sediplomatis dan seobjektif mungkin! Karena kamu tidak tahu si pewawancara berpihak pada partai mana atau bahkan Paslon Presiden yang mana atau memiliki pandangan seperti apa pada satu ideologi. Lanjut mengenai Perda Syariah, ya. Kalau saya ditanya apakah setuju atau tidak dengan Perda Syariah, saya akan menjawab seperti ini:

"Dalam UU kita tidak pernah ada istilah Perda Syariah, Pak. Yang ada adalah Perda Provinsi, Perda Kabupaten Kota, Perda daerah istimewa dan Qanun untuk Aceh. Jadi istilah perda syariah itu tidak ada di UU. Dan dalam setiap penyusunan UU, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, dan Peraturan Daerah dilandaskan pada dua hal: Pancasila dan Konstitusi UUD 1945. Dimana sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pasal 29 ayat 1, Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara untuk Perda dilihat juga landasan sosiologis, sehingga sebuah perda itu disusun disesuaikan dengan kondisi sosial yang berlaku di masyarakat lokal. Selain itu, 'memajukan kesejahteraan umum' dalam pembukaan UUD 1945 ini juga dibedah lagi per-daerahnya, seringkali untuk memajukan kesejahteraan itu memiliki nilai dan norma yang sama dengan nilai-nilai agama, seperti membatasi alkohol untuk mencegah kejahatan."

Disini, kita jangan terjebak dengan pertanyaan setuju atau tidak setuju dengan perda syariah. Melainkan memperlihatkan pengetahuan kita mengenai hal tersebut dan memposisikan diri kita secara objektif. Ingat, jangan terlalu terjebak pada pragmatisme juga.

4. Jangan Baper.

Baiklah, seringkali pewawancara mungkin bertanya hal-hal yang menurutmu tidak patut atau memojokkanmu dari pengalamanmu atau argumentasi yang kamu miliki. Terkadang pewawancara bertanya mengenai hal-hal berbau SARA, memasuki ranah perdebatan, berkata dengan nada mengejek, bahkan mempertanyakan paslon presiden pilihanmu. Aku sih merasa dalam satu sesi wawancara tersebut, satu pewawancara memang ditugaskan untuk nyinyir terus. Pertanyaan seperti ini biasanya yang dinilah bukanlah isi dari jawabanmu, melainkan sikap kamu ketika mendapati pertanyaan itu. Apakah kamu baperan, marah, tersinggung, menangis, dsb. Karena kamu akan belajar di luar negeri dan negara akan berinvestasi ke dirimu, mereka mungkin perlu tahu apakah mental kamu cukup kuat atau tidak. Karena misalnya, konflik SARA di Amerika bisa lebih diskriminatif daripada di Indonesia. Kalau kamu langsung marah ditanya mengenai SARA saat wawancara LPDP, saat di luar negeri bisa jadi kamu lebih tidak siap jika dituduh sebagai teroris karena mengenakan jilbab.

Kalau bisa, ubah setiap pertanyaan sebagai ajang bagimu untuk semakin menunjukkan kualifikasi dan kualitas diri. Misalnya, kemarin saya mendapatkan sindiran seperti ini "Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.". Saat itu saya terdiam, sekali lagi, jangan terjebak dengan pragmatisme dengan menolak mentah-mentah tanpa pengetahuan. Justru perlihatkan pengetahuanmu terkait hal itu. Jadi saya berkata "Saya tidak perlu menjelaskan diri saya sebagai feminis, pak.". Dalam hati saya, karena Kartini adalah feminis tanpa lahir dari teori feminisme. Feminisme itu juga nilai yang seringkali kita implementasikan tanpa kita sadari.

Ini jawaban saya: “Karena feminis itu sendiri berbeda-beda pandangan tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika didudukkan secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi mungkin definisi feminisme yang sekarang implementasinya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam. Saya hanya menolak sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak mendefinisikan segala sesuatu yang bertentangan itu sebagai feminisme secara keseluruhan."

Lalu si pewawancara yang tadi menyindir saya mengangguk-angguk.

5. Mampu Memasuki 'Titik Bahaya' Dengan Tahu Apa yang Kau Bicarakan!

Seringkali, seorang peserta berusaha menghindari rentetan pertanyaan dengan menjawab pendek-pendek atau seperlunya saja. Karena jika mereka menjawabnya panjang-panjang, si pewawancara malah tertarik pada satu aspek yang sebenarnya tidak benar-benar peserta itu kuasai. Jadi akhirnya, mereka berusaha menghindari jawaban yang panjang dan detil untuk menghindari 'titik bahaya'. Paham kan maksudnya? Di saat bersamaan, ini akan membosankan bagi si pewawancara karena tidak ada lagi diskusi dan mereka tidak bisa menggalimu lebih jauh. Hal ini dapat diatasi kalau kamu paham dan tahu apa yang kamu bicarakan secara keseluruhan.

Misalnya, ketika saya ditanya apakah saya yakin saya akan sukses dan siap dengan dunia penelitian dan publikasi. Saya tidak menjawab, "Ya bu, saya yakin" begitu saja. Tapi saya menjelaskan lebih jauh, "Ya bu, saya yakin. Meskipun saya masih lulusan S1, namun saya sudah cukup familiar dengan dunia penelitian dan publikasi, seperti H-Index, APC, Open Access Journals, dan sistem bibliometrik di Indonesia." Dan setelah itu ditanya lebih jauh mengenai jurnal terakreditasi dan ISSN, tapi karena saya tahu apa yang saya bicarakan sebelumnya, jadi saya tidak takut memasuki diskusi yang lebih dalam lagi.

Saya bergabung dalam grup LPDP LN di telegram, dan sebagian besar peserta banyak mengeluhkan diri mereka yang menjawab terlalu panjang lalu si pewawancara malah terartik pada aspek yang tidak dikuasai si peserta. Selanjutnya, hal itu malah berusaha digali terus oleh si pewawancara sampai akhir dan peserta terjebak jadi pada 'titik bahaya'. Akhirnya peserta yang lain berkata, "Kalau gitu tips LPDP jawab pendek-pendek aja...". Sekali lagi karena tulisan ini asumsi saya saja, menurut saya lebih baik jika menjawab panjang, detil, dan komprehensif tapi mengetahui apa yang dibicarakan. Karena kalau saya sendiri jadi pewawancara, saya pasti bosan banget kalau tidak bisa menggali peserta lebih jauh untuk tahu kualifikasi mereka yang sebenarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kuasai' titik bahaya' mu apa saja, buat list semua pertanyaan yang mungkin muncul namun kamu tidak siap untuk jawab, dan persiapakan jawaban untuk hal-hal tersebut. Dua hari sebelum wawancara, titik bahaya saya adalah faktor akademik, "Kenapa harus melanjutkan sekolah ke LN dan bukan DN, kenapa harus NYU, kalau Psikologi kan lebih relevan belajar di Indonesia, apa urgensinya belajar di NYU untuk diterapkan di Indonesia dsb." Jadi hal itu saya pelajari habis-habisan, saya melakukan riset, menggali lebih jauh, sampai saya menemukan jawaban yang saya cari.

6. Kalimat Mujarab Untuk Dikatakan

Saya merasa kalimat ini mujarab sekali dan penting untuk dikatakan. "Baiklah, Pak Bu... Sebelumnya saya memahami bahwa penerima beasiswa ini akan menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat demi melanjutkan studi lebih tinggi. Bagaimanpun saya akan berusaha untuk dapat mengembalikan nilai tambah dari beasiswa yang diberikan LPDP untuk saya kembalikan kepada masyarakat Indonesia.”

Kalimat ini menyiratkan bahwa kalian tidak hanya ada di posisi pelamar beasiswa, namun kalian juga memahami berada di posisi si pewawancara. Bayangkan, si pewawancara akan memberikan kalian uang banyak, miliaran rupiah, dan tentunya ssebaiknya kalian bisa mengerti ada di posisi mereka. Cobalah katakan "Saya mengerti/memahami bahwa ini akan menggunakan pajak rakyat" jadi kalian sadar, itu bukan uang kalian. Setelah itu, yakinkan bahwa kalian adalah kandidat yang tepat dan investasi yang baik bagi negara, "Saya akan berusaha mengembalikan nilai tambah dari beasiswa ini kepada Indonesia.". Seperti, kalian berkata, Invest in me and I will give you the best of me.

7. Aktivitas Sosial (Non-akademik) Itu Penting

Sehari sebelum saya wawancara LPDP, seorang awardee LPDP DN yang juga kakak kelas saya berkata. "Tahu gak Mar, kalau pewawancara nanya banyak banget tentang aktivitas sosial kamu, itu artinya kamu bakalan lulus. Percaya deh." Dan memang benar sih, pewawancara kebetulan bertanya banyak sekali tentang aktivitas sosial yang kulakukan untuk bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana. Jadi teman-teman bisa memperkaya aktivitas dari sekarang atau mencoba menuliskan kontribusi sosial yang dilakukan dalam esai dan CV.

Transkrip wawancara ada di link berikut ya: 

Sementara berikut adalah esai yang saya tuliskan 

Bagaimana jika tidak memiliki banyak kontribusi sosial dan organisasi (non-akademik)? Kalau begitu amunisinya ada pada aspek akademik, seperti penelitian, publikasi, prestasi dsb. Maka aspek itu yang perlu ditonjolkan dan dipersiapkan! Tapi jika memiliki lebih banyak amunisi (akademik dan non-akademik) itu akan jauh lebih baik lagi.

8. Mendoakan Kebaikan Pada Pewawancara

Ini mungkin untuk teman-teman Muslim ya. Biasanya kita berdoa untuk diri kita sendiri, agar kita pribadi lulus dan lain sebagainya. Kalau saya justru lebih banyak mendoakan si pewawancaranya, hehe. Saya berdoa agar jika ada kebaikan yang ada di dalam diri saya, kebaikan itu dapat dikirimkan kepada pewawancara saya. Sehingga mereka nantinya akan mengembalikan kebaikan itu berupa hasil wawancara yang baik juga. Ustadz Adi Hidayat sendiri juga pernah berkata, sebelum wawancara beasiswa, beliau mendokan si pewawancara dan mengirimkan Al-fatihah untuk mereka di sepertiga malam terakhir. Saya pernah kasih tips ini pada seorang peserta, dan dia berterimakasih karena akhirnya wawancara dia berlalu dengan baik.

Sekian tips dari saya bagaimana bisa mendapatkan nilai wawancara LPDP nyaris sempurna. Hehe. Tentunya banyak sekali tips-tips lain yang lebih mendasar, seperti berpakaian rapih, menjawab dengan tutur kata yang sopan, bahasa tubuh yang baik, tapi tulisan itu sudah pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya di blog yang bisa dikunjungi di: Tips Wawancar LPDP http://maryam-qonita.blogspot.com/2019/01/tips-wawancara-lpdp-2018.html

Selasa, 26 Maret 2019

Esai Yang Membawaku ke New York University

Tepat 5 hari yang lalu, 21 Maret 2019 saya membuka sebuah email yang memberi tahu bahwa terdapat important update mengenai aplikasi saya mendaftar S2 di New York University jurusan General Psychology. Karena di email tidak dituliskan bahwa itu application decision, saya pikir, mungkin ada beberapa dokumen yang perlu diupload sebagai referensi bagi panitia penerimaan untuk mempertimbangkan kembali aplikasi saya. Saya mengetahui bahwa aplikasi saya mungkin tidak begitu meyakinkan, khususnya nilai GRE verbal saya yang rendah. Sehingga, ketika saya mengunjungi link yang direferensikan di email tersebut dan login di website New York University, saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi apapun bahkan tidak tahu bahwa itu acceptance decision! Saya begitu santai membukanya dan beberapa saat otak saya memproses tulisan yang saya lihat...


Saya seketika langsung tutup wajah dan berteriak kegirangan. Ini adalah kampus yang saya tuju sesuai dengan aplikasi LPDP dan memiliki jurusan Psikologi di antara terbaik di dunia. Dan ya tentu saja, New York! Sebuah kota yang begitu saya impikan dengan banyaknya kesempatan, mulai dari kesempatan magang di kantor PBB hingga menjalin relasi internasional yang lebih luas. Karena banyak yang bertanya mengenai esai saya (personal statement), atau ingin bertanya tapi ragu, saya menuliskan di postingan ini mengenai esai yang saya tulis.

Perlu diketahui, bahwa saya seorang deadliner. Kebetulan saya menuliskan esai itu di dua hari terakhir sembari begadang sebelum pendaftaran universitas. Hal ini dikarenakan sebelumnya, saya fokus belajar GRE, menyusun CV, bulak-balik kampus meminta rekomendasi, dsb. PLEASE JANGAN DITIRU! Karena sampai sekarang, saya menyadari bahwa ini bagian dari kesalahan saya saat mendaftar universitas. I could have done better kalau saya menulis esai ini 2-3 minggu sebelum deadline aplikasi.

Mengenai Proofreading dan Grammar Check.

Untuk grammar check, saya menggunakan Grammarly. Bukan grammarly premium, melainkan versi yang gratis. Tentu saja banyak advance error-nya yang tidak disebutkan mana bagian yang salah dari tulisan saya. Tapi dituliskan bentuk kesalahannya apa, misalnya "Passive Voice Misuse" atau "Inappropriate Colloqualism" dsb. Jadi setiap bentuk kesalahan itu saya Googling untuk saya pelajari dan mencari kesalahan di esai saya untuk dibetulkan hingga saya menuliskan esai tanpa kesalahan grammar. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Grammarly. (Note: as you can see on my bookmark bar, saya suka manhwa dan live action jepang, maklum manusia juga :D)


Tapi kalau saya saranin, kalian perlu memiliki lebih banyak waktu untuk esai ini. Termasuk minta proof reading, bukan oleh diri kalian sendiri, namun juga oleh orang lain yang lebih profesional. Jika kalian tidak mengenal orang profesional yang bisa kalian mintai tolong selalu dengan senang hati, kalian bisa menggunakan website ini https://analyze.academichelp.net/ dengan biaya hanya 4.5 dolar per halaman. Jika saya memiliki lebih banyak waktu dan memiliki kartu kredit, saya akan menggunakan jasa ini sebagai proofreader. Jika kalian sudah tahu lebih dahulu sebelum mendaftar, I know you can do better than me!

You can ignore my bookmark bars, graduate student juga manusia ya.

Kemarin mendapat email personal dari kaprodi jurusan saya, Profesor . Andrianne Gans, kebetulan memang sudah sejak beberapa bulan sebelum saya wawancara LPDP, saya sudah menjalin hubungan dengan beliau menanyakan tentang jurusan ini. Apakah struktur courses-nya cocok dengan yang saya minati dsb. Dan ini menurutnya alasan saya diterima NYU (well, meskipun tidak ada alasan karena nilai standardized test GRE :-( ).




Oke, langsung ke intinya ya, mengenai esai yang saya tulis dalam aplikasi ke universitas ini. Bukan berarti esai harus struktur/format/skemanya seperti ini ya, karena universitas memiliki pertanyaan esai yang berbeda. Perlu teliti dan baca baik-baik pertanyaan tersebut dan buat bullet poin, apakah masing-masing yang ditanyakan sudah terjawab dalam esai atau tidak. Kalau saya diminta menuliskan dua tipe esai. Yang pertama adalah Academic Purpose, mengenai penelitian dan bidang profesionalisme saya sesuai dengan structure courses yang ditawarkan. Yang kedua adalah Personal History Statement, mengenai kehidupan pribadi saya, keunikan dan juga apa yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini.

Berikut Pertanyaan Academic Purpose

Please describe briefly and concisely your past and present academic, research and/or professional accomplishments as they relate to your intended field of study, your educational objectives while at NYU, and your career goals following the master's program. State your specific area of specialization in the general master's program in psychology and include your reasons for choosing this field of study. What specific goals and objectives do you have for applying to NYU?

Esai Saya: Academic Purpose.

My interest in pursuing graduate study within the field of psychology has influenced by a variety of factors inclusive of both academic and non-academic experiences. I am particularly interested in study Master of Arts in General Psychology, New York University because it is related to my educational background, bachelor's degree in psychology. A master program will give me more in-depth learning and advanced training so that I will have the expertise I need inside and outside in the academic world and society.

Before I enroll in a university, I have had one hiatus year. During that time, I had an opportunity to volunteer myself as a teacher in Al-Hikmah Islamic Boarding school, a small boarding school located in the middle of a  rice field and far from the hustle of the city. I became interested in psychology when I notice the importance of coping with stress in my students having an obligation to memorize the Quran. As I listened to my students who experienced peer-problems, fears, and anxiety, I discovered myself eager to learn more about psychology and human behavior. Since then, I decided to take the undergraduate study in psychology major and was further propelled since accepted as a student at the State University of Jakarta in 2013.

I became part of the Student Executive Board and also had an opportunity to volunteer myself as a mentor for 100 school-dropouts in the PPA-PKH program (Return of Child Labor – Family Hope Program). From these non-academic activities, I learned to build a sense of social concern and increase my contribution to others. My interest in social psychology started in 2015, a seminar on gender-based violence was held by BKBPP (Agency of Family Planning and Women Empowerment) in the state high court of Kuningan, West Java. I gained an understanding of the significance of gender equality and sexual education through engaging debates and discussions among governmental representatives, independent experts, and stakeholders.

Social psychology immediately seized my interest that allowed me to work in the area. As my undergraduate work progressed, I involved myself in the activities arranged by Satu Hati NGO and PPA-PKH (Integrated Service Centre for Women Empowerment and Child Protection). We visited one house to another house of gender-based violence victims and perpetrators. Our assignments were to provide support morally, psychologically and explain what can we can help during the court.  The specific duties I would love to pursue in the future are drafting public policies, continuing my work as a social activist, and working as a politician who would bring women issues particularly gender-based violence onto tables. 

To support my dream as a future politician, I participated in programs held by the Ministry of Women Empowerment and Child Protection. I promote people the new legislation regarding women and child protection. Together with me was Mr. Surahman Hidayat, a member of House Representatives from VIIIth Commission in the scopes of religion, social, and women empowerment. I explained about psychological interventions can be done on the victims through emotion-focused coping; namely solving emotional problems by forgiving yourself and the perpetrators.

One of the academic factors inspired me to take a graduate study in psychology is my research interest centers around women empowerment and gender-based violence. The potential topic I plan to propose is “Gender Stereotypes in Social Psychology Contexts: Its Impact on Gender-based violence.”. The theme selection is vital as this will provide a strong foundation upon which to build the rest of my work as a social advocate. As my graduate study would progress, I hope I can discuss further with Professor Madeline Heilman of NYU about the topic. For a while, I am planning to divide key-household tasks within social psychology contexts and how gender-stereotypes specifically have an impact on discrimination and gender-based violence. Graduate study in Psychology NYU itself ranked among top 11 universities by the QS World Ranking.

To sum up, graduate study in Psychology, New York University will give me many great insights I can develop and apply in society after finishing my master degree.  For all these reasons, I am keen to be admitted in your university this fall 2019 term. Your consideration in this matter is highly appreciated. 

Sincerely,
Maryam Qonita.

Pertanyaan Untuk Personal History Statement

The purpose of this optional essay is to get to know you as an individual and as a potential graduate student and to understand how your background will add to the diversity of our school. Please describe how your personal background has motivated you to pursue a graduate degree. You may discuss educational, familial, cultural, socioeconomic, or personal experiences or challenges; gender identity; community services, outreach services, first-generation college status or other matters relevant to your decision to pursue graduate education. Please note that the Personal History Statement is not meant to be a general autobiography.

Esai Saya: Personal History Statement

I am impressed by the anomaly I have become: an Indonesian and obedient Muslim woman who has been actively promoting gender equality. Even though I believe what causes gender-inequality is purely non-religion. It originates from the culture, social, and economic factors. However, many conservative Muslim friends still assume that the Quran signifies superiority of men over women in all aspects. Occasionally, when I talk about the patriarchal system in Indonesia and how it causes gender-based violence, I accused as bringing western and “feminist-liberal” propaganda.

Fortunately, with my family, I am never restricted to express my opinions. Moreover, my mother encourages me to challenge traditions and accepted beliefs. For 25 years, my family has been living inside the area of Husnul Khotimah Islamic Boarding School, a modern boarding school located at the foot of the Ciremai Mountain, far from the hustle and bustle. My father was a co-founder and a former director of the boarding school which has more than 8000 of alumni. The popularity of my family among students and alumni make people expected that I would not talk feminism openly as an opposite of common cultural beliefs. For example, many parents urge their daughters to get married earlier to prevent Zina, an Islamic term for a sexual relationship between unmarried male and female.

My initial interest in gender issues started subsequent to my admittance to the State University of Jakarta, majoring in Psychology. It was further propelled after I engaged in social activities handling gender-based violence cases in my community and advocating people about the coping strategies can be done for the victims. After having done several internship programs, social activities, competitions, and conferences dealing with gender equality, I found my way and decided to give an impact in the area. Hence, I want to be a politician who will be bringing the issues on the tables, end the stigma, and rock the system. As I listened to the victims of gender-based violence, I realized that I am unequipped to deal with such a situation without further formal training in Psychology.

Going to graduate school is necessary for me as it is a framework to utilize my full potentials. I proved myself as a successful undergraduate student with numerous national and international achievements as stated in my CV. In addition to academics, I possess various skills, such as design and reading poets, so that I can bring my future classmates more diversity. I am also a practicing Muslim, proudly wearing hijab, and I respect each other beliefs. Nevertheless, when I had an opportunity to visit New York City in 2016, I realized that I carry a uniqueness that is regularly being discriminated against outside of my country.  

However, I also possess leadership skills. I founded and led  Open Access Indonesia, an organization with a mission advocating open access to scientific journals. I hope my skills and knowledge in open access can help the students' group to finish tasks more efficiently.

Thankfully, I granted a full scholarship from LPDP (Indonesia Endowment Fund for Education) Scholarship to pursue my master degree in 2019. There are different regulations implemented for 2018 awardees: 1) We only have one year to obtain a Letter of Acceptance, 2) We can only apply to one university, and 3) We are not allowed to change the major either change the university destination. It means that if I accepted, I would be a strong potential graduate student. The sponsorship letter has uploaded on the additional information page.

Nevertheless, New York University is my first and only choice because it offers psychology courses with an integrated approach. This method often leads to a novel hypothesis and promotes the synthesis of research findings across disciplines. I have visited NYU, and the university itself has very diverse students that allow me to learn a lot from each one of them. To go to school anywhere else, it seems that I would be missing out that kind quality of education.

------

Sekian adalah esai yang saya tuliskan sehingga diterima di salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat, New York University. Saya memahami bahwa beberapa bagian tulisan saya memang terdengar profokatif bagi beberapa kalangan tertentu, khususnya mengenai Muslimah, Kesetaraan Gender dan Feminisme. Untuk berdiskusi lebih lanjut bisa baca pandangan saya disini: Muslimah Memeluk Feminisme, Emansipasi dan Kesetaraan Gender. Karena Kartini pun adalah seorang Feminis tapi tidak lahir dari teori-teori feminisme kontemporer.

Saya ingin menuliskan lebih jauh lagi sih mengenai apa yang saya pelajari dalam pendaftaran S2 di Amerika dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan esai menurut para admission officer yang saya ketahui baru-baru ini. Saya menyadari bahwa esai saya pun memiliki banyak flaws dan cacat dimana-mana setelah mengumpulkan informasi-informasi tersebut. Hmm.. meskipun I realize that I could have done better on my essay, but the most important thing is that it works!





Jumat, 18 Januari 2019

January 2019 Wishes List


Graduate Record Examination (GRE):

  • Menghafalkan 1000 GRE Words Memrise
  • 30 Paragraf Latihan GRE
  • 13 Chapter dari 501 Sentence Completion
  • Setiap hari 2 bab Kuantitatif 5lb Book of GRE Problems
  • 2 Latihan GRE Komprehensif Seperti Tes Sesungguhnya


Open Access Indonesia:

  • Mengadakan Seminar Online yang keempat
  • Mengirimkan sertifikat kepada seluruh anggota dan ambassador OA
  • Mengupload mengenai digital advokasi di Instagram


IYAFP Indonesia:

  • Memperpanjang pendaftaran
  • Mengontak teman-teman yang mendaftar


120 Under 40:

  • Membuat draft proposal buku komik untuk daerah minim akses teknologi


Indonesia Terakhir:

  • Menulis satu hari satu halaman


Konferensi, Fellowship dan Scholarship:

  • 20 Januari Young Global Changers Program 2019 Berlin
  • 21 Januari YSEALI Engage Workshop 2019 Bandung
  • 25 Januari ROTA Youth Conference 2019
  • 27 Januari StuNed Program Short Course Scholarship
  • 31 Januari Future Global Leader Fellowship 
  • 31 Januari CERN OpenLab Summer Program
  • 31 Januari Mendaftar Internship Uni Eropa di Jakarta
  • 31 Januari UTSIP Japan Summer Internship 2019 Kashiwa


Jumat, 04 Januari 2019

Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP


Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP – Di antara tahap akhir substansi LPDP juga adalah Leaderless group discussion atau LGD. Porsi penilaian dari tahap ini sendiri adalah 20% sementara 80% dari wawancara. Bukan berarti tahap ini tidak penting, karena beberapa poin saja bisa mementukan apakah kita akan lulus LPDP atau tidak.

Dari namanya, leaderless, itu artinya dalam diskusi ini tidak ada yang menjadi moderator, tidak ada pula yang menjadi pemimpin diskusi. Setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk membagi pendapat mereka masing-masing. Ketika saya mengikuti LGD pada bulan Desember 2018, kelompok saya terdiri atas 7 orang dengan waktu LGD keseluruhan adalah 25 menit. Itu artinya setiap orang memiliki kesempatan berbicara kurang lebih 3 menit. Pengawas LGD ini terdiri dari 2-3 orang yang merupakan psikolog dan akan memantau kita selama jalannya diskusi. Pengawas LGD ini masang muka jutek jutek loh, tapi ingat untuk tidak gugup ya.

Mengenai tips dan trik LGD sendiri, berikut yang teman-teman bisa persiapkan:

Membaca dan Memahami Isu-Isu Nasional.

Membaca isu-isu nasional menjadi sangat penting dalam LGD ini karena kita akan mendapatkan satu topik secara acak untuk didiskusikan. Alangkah baiknya jika kita sudah familiar dengan berbagai isu nasional sehingga kita mampu mengutarakan pendapat dan argumen dengan baik. Teman-teman bisa memulainya dengan aktif bermain Twitter dan memfollow akun-akun berita, seperti Detik, Tempo, Republika, Kompas, dsb. Isu ini bisa mengenai apa saja, seperti misalnya dana desa, pernikahan anak, penanganan narkoba, ataupun penanganan TBC.

Posisikan Diri Secara Tepat.

Saat melakukan LGD, kita akan diminta untuk melakukan role-play sehingga kita tetap mengutarakan pendapat dengan jelas dan terarah. Setelah membaca artikel LGD, kita akan diminta untuk memposisikan diri entah sebagai masyarakat, LSM, pemerintah, dsb. Memposisikan diri secara tepat bisa menjadi krusial sesuai dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Saya sendiri dengan latar belakang Psikologi, ketika LGD mendapatkan isu mengenai “Apakah pengguna narkoba perlu dipolisikan atau tidak” dan ketika itu saya menempatkan diri tegas sebagai psikolog, itu artinya saya perlu melihat pengguna narkoba selayaknya manusia. Dan saya harus tetap teguh pada pendapat saya.

Tuliskan Poin-Poin Selama LGD.

Setelah kita membaca sebuah artikel mengenai sebuah isu yang akan didiskusikan, kita akan diberikan waktu satu menit untuk menuliskan poin-poin yang ingin diutarakan. Gunakan waktu ini sebaik mungkin dan tuliskan dalamm bentuk poin atau mind mapping. Gunakan catatan di kertas tersebut sebagai arah disksui yang akan kamu utarakan. Ingat, jangan sekali-kali menggambar-gambar, mencorat-coret, menulis curhatan galau, atau melipat-lipat kertas corat-coret kamu. Meski itu hanya corat-coret. Karena kertas ini akan dikumpulkan untuk mengukur apakah kamu fokus pada diskusi atau pikiranmu ngalor ngidul kesana kemari.

Sampaikan Pendapat dengan Baik.

Setelah kita diberikan waktu untuk menuliskan poin-poin yang akan diutarakan, selanjutnya adalah kita perlu mengutarakan pendapat kita mengenai isu tersebut. LGD bukan ajang pintar-pintaran atau kuat-kuatan argumen, melainkan yang diukur di LGD adalah bagaimana kita menyampaikan ide dan pendapat kita dengan manner yang baik. Kita juga perlu memberikan recognition kepada peserta sebelumnya yang relevan, sebelum mengemukakan pendapat sendiri. Seperti misalnya, “Saya memahami poin yang disampaikan oleh Mas Agus sebelumnya, namun menurut saya ada beberapa catatan penting yang juga perlu diperhatikan...”

Jangan menggunakan intonasi nada yang terlalu tinggi, jika memungkinkan untuk tetap tersenyum, maka tersenyumlah. Jangan menunjuk-nunjuk peserta yang lain, jangan baperan, mencak-mencak, dan tetap perhatikan durasi berbicara agar tidak merampas hak milik berbicara orang lain.

Bicara Seperlunya, Fokus pada Intinya, Jangan bertele-tele, dan Jangan Bicara Melebihi 2-3 menit.

Ingat, sekali lagi LGD bukan ajang gagah-gagahan, debat atau adu kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan durasi berbicara peserta lebih disorot dibandingkan konten argumen yang diutarakan oleh peserta itu sendiri. Karena jika terlalu mendominasi, kita akan dinilai arogan dan dominan oleh pengawas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mereka yang berbicara terlalu banyak, justru mendapatkan nilai kecil dari juri LGD.

LISTEN! Dengarkan dan Simak Pendapat Peserta Lain.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dengarkan pendapat peserta yang lain dan tetap fokus selama diskusi. Toh ini hanya beberapa menit saja, jadi fokus! Kita ini diawasi oleh 2-3 orang pengawas, dan mereka mengamati melihat apakah kita menolehkan padangan kesana kemari, membenamkan wajah, memainkan pulpen, atau menggambar di atas kertas corat-coret. Belum lagi kita tidak tahu apakah tiba-tiba ada pertanyaan yang akan dilemparkan ke kita oleh peserta lain, Sehingga memang sebaiknya kita sepenuhnya mengikuti arah jalan diskusi.

Sebisa Mungkin Tawarkan Solusi.

Tidak ada pendapat salah benar dalam diskusi ini. Yang ada hanyalah setuju dan tidak setuju. Kalau tidak setuju, kita bisa mengawali diskusi dengan beberapa pendapat dari teman diskusi lain yang relevan dan disusul oleh poin yang ingin kita utarakan. Sebisa mungkin tawarkan solusi dalam pendapat kita. Bukan hanya menjabarkan masalah saja tanpa solusi.

Sekian tips dan trik Leaderless Group Discussion LPDP. Semoga bermanfaat.

Artikel Berkaitan Mengenai Beasiswa LPDP:

Tips Hadapi Seleksi Wawancara LPDP 2018


Tips Wawancara LPDP - Substansi LPDP

Baca Artikel Berkaitan Mengenai Tips-Tips Wawancara LPDP Yang Tidak Populer: Wawancara LPDP dengan Nilai Nyaris Sempurna, Bagaimana Caranya?

Tahap paling akhir dari seleki LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah seleksi wawancara dan tahap ini memiliki bobot penilaian paling besar dalam tahap seleksi substansi (80%).  Selain itu, semua informasi yang kita berikan dalam tahap ini akan diverifikasi kebenarannya oleh juri LPDP, sehingga menjadi penting untuk bisa melewatinya dengan baik.

Bentuk seleksi wawancara ini sendiri, seorang pelamar akan dihadapkan pada 3 juri. Tahun 2018 sendiri, satu juri merupakan seorang akademisi, seorang juri merupakan psikolog dan seorang lagi adalah utusan Badan Intelijen Negara. Meski informasi mengenai apakah seorang juri itu adalah BIN atau aparat lainnya, masih simpang siur karena baru tahun 2018 ini LPDP menyelidiki nasionalisme setiap pendaftarnya. Hal ini dilakukan agar tidak kecolongan seperti kasus Veronika Koman (penerima beasiswa LPDP yang merupakan pejuang Organisasi Papua Merdeka). Juga agar pelamar tidak mudah terbawa arus aneh-aneh saat berada di luar negeri.

Teman-teman jangan bayangkan wawancara dilakukan dalam ruangan sepi dan sempit ya. Wawancara LPDP dilaksanakan dalam sebuah GOR dan kita bisa melihat kelompok wawancara yang lain. Kelompok wawancara itu sendiri digolongkan berdasarkan bidang keilmuwan. Saat saya mengikuti seleksi wawancara di Jakarta, terdapat 21 kelompok wawancara. Dan kelompok 14 adalah wawancara untuk bidang keilmuan Psikologi.


Terkadang, terdapat pula beberapa pertanyaan yang bersifat menguji ketahanan psikologis seorang peserta, ada pertanyaan yang memancing emosi, ada pula pertanyaan yang berusaha membuat peserta untuk memecah fokus. Maka dari itu, dibutuhkan konsentrasi dan persiapan yang baik dalam sesi ini. Berikut adalah tips dan trik agar lulus seleksi wawancara LPDP:

Bersikaplah Sopan dan Bersahabat.

Di antara bersikap sopan santun adalah jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk. Jika memungkinkan bagi kalian untuk salam, maka salamlah dan berjabat tangan. Namun jika menurut kalian lawan jenis itu bukan mahram, tidak apa-apa untuk tidak berjabat tangan selama tangan kalian menunjukkan "salam". Jangan bersikap terlalu berlebihan, pemalu atau terlalu akrab seperti memanggil dengan panggilan non-formal. Tataplah wajah dan mata pewawancara selayaknya orang tua yang kita hormati. Bersikaplah sewajarnya dan tetap profesional.

Kuasai Esai, CV, dan rencana studi yang Digunakan Untuk Mendaftar.

Kuasai betul esai, CV, dan rencana studi yang kamu gunakan saat mendaftar seleksi administrasi. Karena mereka akan bertanya mengenai apa yang kamu tuliskan lebih jauh lagi. Pewawancara pun memegang laptop mereka masing-masing dan yang ada di layar laptop tersebut adalah formulir pendaftaran kita. Bukan berarti wawancara hanya mengulang apa yang kamu tuliskan di CV ya, melainkan mengeksplorasi lebih jauh apa yang belum dituliskan di CV, esai maupun rencana studi.

Lakukan Simulasi Wawancara Dengan Teman atau Sesama Pendaftar LPDP.

Bagi saya simulasi wawancara ini penting sekali sebelum saya bisa menjalankan wawancara sesungguhnya. Karena saya bisa menyiapkan beberapa pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan, melatih diri menggunakan intonasi dan kata-kata yang lebih tepat, juga sebagai sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Berpenampilan rapih, baik, sopan, dan formal (atau semi-formal).

Hindari menggunakan pakaian berbahan kaos, terlalu transparan, terbuka, ataupun jeans. Gunakan pakaian rapih, tertutup, dan juga enak dipandang. Jika kamu biasa menggunakan make up, gunakanlah seperlunya. Jangan terlalu menor atau berlebihan. Jika kamu tidak biasa menggunakan make up dan ingin menggunakan make up, maka gunakanlah make up selama itu nyaman dan tetap mendefinisikan diri kamu sebagaimana biasanya. Untuk hari itu, be the best of yourself yet still as you are.

Menyiapkan Amunisi Terbaik Untuk Wawancara.

Jika kamu masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan amunisi, persiapkanlah sebaik dan sebanyak mungkin. Menurut saya pribadi, amunisi yang kamu perlu persiapkan sebelum memasuki ruang wawancara adalah:

  1. Buatlah sebuah draft thesis penelitian yang kamu usulkan dan kuasai draft penelitian tersebut. Sebagian besar pendaftar ditanya masalah rencana studi, alangkah baiknya ketika kamu ditanya masalah ini, kamu bisa langsung memberikan proposal atau draft penelitian kamu kepada sang pewawancara.
  2. Jika sudah punya LoA, bawalah LoA tersebut. Jika belum punya, maka lakulakanlah korespondensi dengan profesor, ketua program studi atau staff fakultas. Print out semua email korespondensi tersebut dan bawa ke ruang wawancara.
  3. Melatih diri dengan berbagai kemungkinan pertanyaan yyang ada dan membuat draft jawaban dari setiap pertanyaan. Draft jawaban pertanyaan ini jangan dihafal ya! Hanya sebagai skema untuk latihan saja, agar ketika wawancara nanti kalian tetap alami dan tidak dibuat-buat. Saya sendiri memiliki list 100 pertanyaan LPDP dan membuat isi dari setiap pertanyaannya hingga terdiri dari 42 halamaan.

Menjawab Pertanyaan Dengan Tepat, dengan Pengalaman dan Data. Tidak hanya jawaban normatif.

Ketika kalian menghadapi pewawancara, kalian akan melihat raut wajah mereka sering kali tampak berusaha untuk menangkap inti dari ucapan kalian. Bisa saja kita sesekali menjawab pertanyaan dengan normatif, tapi jika saya jadi mereka, saya sih akan merasa bosan seharian mendengarkan jawaban-jawaban normatif. Jawablah pertanyaan dengan data atau dengan pengalaman, sehingga secara tidak langsung menyiratkan kecerdasan kalian atau kontribusi yang selama ini telah dilakukan.

Body Language itu Penting.

Bahasa tubuh menjadi faktor yang sangat penting namun sering kali tidak disadari oleh peserta wawancara. Mengenai body language, terdapat satu video yang menurut saya pribadi sudah sangat cukup untuk latihan wawancara LPDP. Tidak perlu melihat video yang lain, cukup merujuk kesini saja.


Jangan Menyela Pewawancara, Simaklah pertanyaan dengan baik, dan jawab dengan Baik dan Jelas.

Ketika pewawancara berbicara mengenai sesuatu atau bertanya, tunggulah beberapa saat untuk memastikan apakah mereka telah selesai bertanya atau telah seelsai bicara atau belum. Karena saya sendiri pernah tak sengaja menyela pewawancara ketika dia sedang bertanya, saya pikir beliau sudah selesia. Dan raut wajah pewawancara berubah disana dan cukup memecah fokus saya sendiri. Lalu saya segera menghela napas untuk tetap fokus dan tidak panik. Bagi beberapa orang, perubahan raut wajah pewawancara bisa benar-benar tanpa sadar mempengaruhi kepercayaan diri dan jawaban kalian loh. Jadi berhati-hatilah.

Jawablah pertanyaan dengan baik, lugas, dan jelas. Jika sesekali, kalian mendapati diri kalian seperti sedang memberikan penjelasan pada nenek/kakek kalian sendiri, ketahuilah bahwa itu pertanda baik.

Jawablah Pertanyaan Dengan Santai dan Alami.

Ketika sedang latihan wawancara bersama teman-teman di Discord, seringkali saya mendapati seorang peserta seperti sedang menghafal jawaban pertanyaan dari wawancara tersebut. Mungkin ini bagian dari konsekuensi jika kita menyiapkan jawaban sejak awal. Meski bagi saya menyiapkan konten itu penting, tapi yang perlu disiapkan bukanlah susunan kontennya itu sendiri, melainkan melatih dalam mengemukakan ide dan pendapat.

Jawablah dengan santai dan alami, toh pewawancara juga manusia koq. Anggap saja ini sebagai sarana bagi kalian untuk sharing cita-cita dan kualitas diri, prestasi, dan aspirasi kalian. Bagi saya sendiri, wawancara LPDP itu seperti sarana berbagi dan diskusi. Dan ya, rasanya kurang lamaa.. hmm.

Berusahalah untuk Tidak Baper Selama Wawancara Berlangsung.

Pewawancara mungkin menanyakan kegagalan dan penyesalan terbesar dalam hidup kalian lalu tak kuasa, kalian pun menangis saat itu. Menurut saya sendiri, menangis itu tidak apa-apa. Tapi sesuai porsinya dan berusahalah agar kembali profesional. Karena ketika kalian menangis, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akan membuat kalian sulit berpikir atau membuat kalian sulit mengambil napas. Mungkin lebih baik hindari kondisi seperti ini dengan memberikan jawaban-jawaban seperlunya. Agar sisi sensitif kalian gak semakin digali oleh pewawancara.

Atau jika pewawancara melontarkan suatu pernyataan yang membuat kalian terpojok, ingatlah untuk tetap tersenyum. Jangan memulai perdebatan atau jangan ngotot. Berikanlah jawaban sediplomatis mungkin. Contoh dari pertanyaan yang membuat saya terpojok di antaranya:

Pak Rahman  :  “Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.”
Saya                 : “Mengenai feminis, saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sebagai seorang feminis pak.”
Pak Rahman       : (alis beliau mengerut, karena kata-kata saya secara tidak langsung bermakna ambigu bahwa saya memiliki nilai yang sama dengan feminisme. Sebagaimana Kartini seorang feminis, tapi tidak lahir dari teori feminisme. Dan saya juga tidak tahu bagaimana pandangan beliau soal feminisme).
Saya                       : “Karena definisi feminis itu berbeda-beda tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika dibahas secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi feminisme sekarang nilainya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam.”

Tulisan selengkapnya mengenai wawancara full saya dapat ditemukan di link berikut:



Pelajari Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Muncul.

Seperti yang sudah saya katakan juga sebelumnya, ini merupakan bagian dari amunisi. Bukan berarti teman-teman menghafal teks ya, hanya saja, jadikan ini sebagai sarana latihan untuk mengemukakan pendapat dengan baik, intonasi yang tepat dan memiliki data yang akurat.

Misalnya, kalian mungkin akan ditanya mengenai apakah kalian setuju negara berbasis syariat diterapkan di Indonesia. Tentunya sebagai muslim kalian bisa-bisa memiliki konflik batin. Namun dengan mempelajari tipe pertanyaan seperti ini, kalian bisa memberikan pendapat yang lebih diplomatis berlandaskan nilai-nilai konstitusi dan landasan filosofis. Contoh pertanyaan saya:

Pak Itan: “Bagaimana menurutmu jika Indonesia diubah menjadi negara Islamberbasis syariat?”
Saya: “Saya merasa tidak perlu diubah, Pak. Karena sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 33 ayat 3, pemerintah wajib melaksanakan satuan pendidikan untuk mewujdukan akhlak mulia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu artinya, dalam setiap pembentukan Perpu, perda, peraturan menteri, peraturan presiden, dan juga undang-undang, harus merujuk pada rujukan filosofis dan konstitusi yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pembuatan kebijakan sudah dilandaskan kepada nilai-nilai agama yang luhur. Tinggal yang menjadi tugas sekarang adalah masalah pengimplementasiannya.”

Jadi jawaban kalian gak hanya: “Tidak boleh, Pak. Negara kita negara pancasila, bukan negara berbasis syariat!.” Padahal keduanya, pancasila dan nilai-nilai agama bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan.

Akhiri Wawancara dengan Ucapan Terima kasih dan Salam.

Setelah sesi wawancara berakhir, maka jangan lupa untuk berterima kasih kepada para pewawancara dan memberikan salam. Sembari memohon doa kepada pewawancaranya agar lulus juga boleh, seperti saya. Hehe.

Rabu, 02 Januari 2019

Tips Lulus Seleksi Administrasi Beasiswa LPDP


TIPS LULUS SELEKSI ADMINISTRASI LPDP - Seleksi administrasi ini adalah seleksi yang paling banyak menyisihkan pendaftar beasiswa LPDP. Terdapat sekitar 10.000 pendaftar administrasi beasiswa LPDP Luar negeri tahun 2018 dan yang lulus hingga tahap selanjutnya hanyalah sekitar 2800 peserta. Hal ini karena banyak pendaftar yang tidak memenuhi persyaratan yang diajukan oleh LPDP atau format dokumen yang diupload tidak sesuai. Persyaratan administrasi mungkin yang paling melelahkan dan rumit, dan berikut tips dan trik ini menjadi penting agar kita bisa lulus seleksi administrasi LPDP:

1. Baca buku pedoman dengan detil dan teliti.

Setiap tahunnya, peraturan LPDP itu mengalami perubahan tergantung dengan kebijakan. Sebelum kamu mendaftar LPDP, pastikan bahwa kamu telah mengetahui secara detil peraturan dan persyaratan administrasi LPDP pada tahun mendaftar.  Seperti misalnya, apakah terdapat kebijakan yang akan mempersulit rencana studi kita nantinya atau tidak. Atau apakah kita bisa mengambil jalur afirmasi atau perlu mengambil jalur reguler.

Jika memenuhi kualifikasi sebagai pendaftar afirmasi (PNS, TNI, Polri, Alumni bidik misi, 3T, dsb) lebih baik bagi kita mengambil jalur ini karena passing grade afirmasi lebih rendah daripada reguler. Persyaratan bahasa Inggrisnya pun lebih mudah dan kuota lebih banyak (untuk tahun 2018). Sehingga peluangmu untuk lulus juga lebih tinggi. 

Perhatikan juga kebijakan LPDP yang ditetapkan, contoh kebijakan LPDP tahun 2018 yang mungkin akan berdampak pada rencana studi adalah: “Pelamar tidak boleh mengajukan perpindahan kampus maupun program studi jika telah dinyatakan lulus LPDP”. Itu artinya, jika kamu belum memiliki LoA (Letter of Acceptance), pastikan bahwa dirimu bisa diterima di universitas tersebut. Selain itu, kamu juga perlu yakin bahwa program studi yang dipilih benar-benar yang kamu inginkan dan sesuai dengan bingkai kerja yang dibutuhkan.

2. Lengkapi berkas persyaratan administrasi.

Persyaratan administrasi LPDP itu terbagi dua. 1) Berkas persyaratan yang melibatkan faktor eksternal dan juga; 2) Berkas persyaratan yang tidak melibatkan faktor eksternal.

Berkas persyaratan yang melibatkan faktor eksternal adalah dokumen yang diperoleh dengan proses yang cukup rumit dan panjang, seperti birokrasi dsb. Contohnya:

A. Surat izin belajar dari atasan tempat bekerja, khususnya bagi yang bekerja sebagai PNS ataupun pegawai swasta. 

Persiapkan dokumen ini jauh-jauh hari sebelum kamu melamar beasiswa LPDP.

B. Surat rekomendasi dosen/tokoh masyarakat/atasan kantor sesuai format LPDP. 

Ada baiknya juga, jika penerbitan surat rekomendasi melibatkan kelembagaan (kampus/perusahaan/pemda), maka surat tersebut perlu dengan kop surat dan juga stempel. Siapa yang sebaiknya memberikan rekomendasi? Tentunya adalah orang yang paling mengenalmu secara profesional secara beberapa tahun. Bukan tokoh masyarakat yang terkenal namun tidak mengenalmu dengan baik.

C. Surat keterangan sehat, bebas TBC, dan bebas Narkoba. 

Surat keterangan ini harus diperoleh semuanya dari lembaga pemerintah. Tidak bisa meminta surat keterangan sehat/bebas TBC/bebas narkoba dari rumah sakit swasta! Harus dari rumah sakit pemerintah daerah atau dari kantor BNN setempat.  Untuk Surat keterangan bebas TBC, pastikan bahwa kamu mengambil tes dahak, bukan hanya tes rontgen.  

D. Sertifikat bahasa asing TOEFL atau IELTS sesuai dengan negara yang dituju dan memenuhi syarat minimum LPDP. 

Jika syaratnya TOEFL adalah 550, berarti TOEFL 547 tidak bisa digunakan untuk mendaftar dan tidak boleh diupload. Jika syarat IELTS misalnya 6.5, maka IELTS 6.0 dipastikan tidak akan lulus seleksi administrasi. Jadi pastikan bahwa syarat bahasa Inggrismu terpenuhi!

Kamu bisa mengambil kursus IELTS atau kursus TOEFL bebrapa bulan sebelum deadline pendaftaran LPDP.  Atau jika kamu masih akan mengambil LPDP tahun depan, penting juga adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu terlebih dahulu!

E. LoA (Letter of Acceptance) Unconditional/ Unconditional Offer.

LoA ini bersipat opsional. Namun, dengan keberadaan LoA ini kamu bisa lebih meyakinkan juri LPDP bahwa kamu memang akan menempuh studi di jurusan yang diinginkan saat mendaftar. Akan sangat berguna saat wawancara nanti.

Apakah memiliki LoA sebelum LPDP itu wajib? Tidak wajib. LoA Unconditional menjadi wajib hanya jika IPK kamu semasa S1 di bawah 3.00. Perlu diketahui, sebagian besar pelamar LPDP belum mendapatkan LoA saat pengumuman kelulusan LPDP, dan waktu untuk mendapatkan LoA adalah 1 tahun + 6 bulan sejak pengumuman.

Apakah memiliki LoA akan meningkatkan peluang diterima? Kabar ini masih simpang siur apakah memiliki LoA meningkatkan peluang diterima atau tidak, namun seorang juri LPDP pernah menuliskan sebuah milis bahwa memiliki LoA atau tidak, sebenarnya sama saja dalam penilaian.

F. Surat keterangan suku asli (bagi pendaftar Beasiswa Indonesia Timur). 

Surat ini bisa digabungkan dengan surat keterangan domisili bila di daerahnya tidak ada kantor adat sesuai suku.

Itu semua adalah berkas-berkas yang rumit berkaitan dengan birokrasi/kelembagaan/faktor eksternal. Dahulukan semua berkas-berkas rumit tersebut, bahkan beberapa bulan sebelum deadline pendaftaran LPDP. Pengalaman saya, hampir tidak mungkin memenuhi semua berkas itu hanya dalam waktu beberapa minggu.

Setelah mengurus berkas-berkas yang menguras waktu, jangan lupakan juga berkas-berkas utama lainnya seperti:

  1. KTP, akta kelahiran, atau kartu keluarga. Untuk tahun 2018, yang diminta hanyalah KTP.
  2. Sertifikat-sertifikat prestasi, keorganisasian, dsb (Untuk tahun 2018, sertifikat diminta hanya bagi jalur afirmasi, untuk jalur reguler tidak terdapat opsi untuk mengunggah sertifikat).
  3. Ijazah dan transkrip nilai semasa kuliah S1/S2.
  4. Surat pernyataan pendaftaran beasiswa LPDP (Sesuai format LPDP) bermaterai. Berisi kesediaan untuk kembali ke Indonesia dan pernyataan bahwa semua dokumen yang diupload adalah asli.

Menulis Esai dan Rencana Studi Dengan Baik

Selain berkas-berkas tersebut, terdapat pula esai dan rencana studi yang perlu kamu unggah sebagai persyaratan saat mendaftar LPDP. Tulislah esai dan rencana studi sebaik-baiknya dan hindari menulis ini di hari atau detik-detik terakhir pendaftaran karena terdapat kemungkinan server LPDP akan down. 

Saya sendiri menulis rencana studi H-1 deadline pendaftaran dan menulis esai di jam-jam terakhir pendaftaran LPDP. Selang satu jam setelah saya mengupload semua dokumen, server LPDP down dari siang hingga malam hari dan itu membuat teman-teman pendaftar lainnya sempat panik luar biasa. Sebaiknya, kamu menghindari kondisi seperti ini. Alhamdulillah saya cukup beruntung untuk mendaftar satu jam sebelum server down.

Menulis esai LPDP.

Perhatikan instruksi esai yang diberikan, berapa jumlah minimum dan maksimum kata yang bisa digunakan (biasanya 700-1000), dan sesuaikan kontennya dengan visi misi LPDP. Saya sendiri membaca beberapa esai pelamar LPDP yang lainnya dan banyak yang menuliskan sesuatu yang normatif dan tidak pada intinya. Jika saya menjadi juri, saya akan malas duluan membaca keseluruhan esai karena saya tidak segera mendapatkan inti tulisan yang saya cari. 

Menurut Budi Waluyo, sebuah esai LPDP yang bagus itu perlu memenuhi 3 hal. 1) Isinya langsung menjawab pertanyaan sesuai dengan instruksi yang diberikan. 2) Isinya rinci, padat, dan jelas. 3) Isinya menunjukkan kecerdasan dan pengetahuan si penulis esai di bidang studi sesuai yang diminatinya. 

Untuk panduannya sendiri, saya mengacu pada tulisannya Mas Budi Waluyo: https://sdsafadg.com/2016/02/21/panduan-menulis-esai-lpdp-kontribusiku-bagi-indonesia/

Sementara berikut adalah esai LPDP 2018 saya, mengikuti format Mas Budi dan alhamdulillah mengantarkan saya lulus seleksi beasiswa LPDP:

Apakah esai dituliskan dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Bisa keduanya. Menurut Customer Service LPDP, jika kita bertujuan ke kampus luar negeri, lebih baik esai ditulis dalam bahasa Inggris. Namun esai LPDP saya ditulis dalam bahasa Indonesia, alasannya karena ide tulisan saya akan lebih baik tersampaikan dalam bahasa Indonesia.

Jika kamu masih memiliki cukup waktu sebelum mengupload esa, ada baiknya untuk melakukan proof reading pada seseorang yang pandai dalam menulis esai.

Menulis Rencana Studi

Perhatikan instruksi yang diberikan oleh LPDP dan tuliskan deskripsi yang perlu diutarakan. Jumlah kata juga menjadi penting, biasanya antara 500-700 kata. Ada baiknya kita membuat tabel semua informasi tentang mata kuliah dari semester 1 hingga selesai, jumlah SKS dan juga kalender akademik.

Untuk rencana studi tahun 2018 sendiri, berikut informasi yang perlu dijabarkan: Rencana perkuliahan dan SKS per-semester yang akan ditempuh hingga selesai masa studi, topik yang akan ditulis dalam tesis, aktivitas diluar perkuliahan yang akan diikuti, daftar silabus perkuliahan dan studi lapangan, dsb.

Sementara untuk contoh rencana studi yang saya buat dapat diakses melalui link berikut:



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...