Selasa, 29 November 2016

Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB


Banyak yang bertanya awalnya mengapa aku bisa ke Amerika…, atau bagaimana ceritanya bisa mewakilkan Indonesia ke PBB. Jadi bermula ketika aku mendaftar sebuah program bernama Merit 360, program ini adalah organisasi perkumpulan para changemakers di dunia yang mau kontribusi secara signifikan dalam memecahkan Sustainable Development Goals 2030.

Sebelumnya… tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku yang sebelumnya:

Merit 360 adalah program partially-funded yang awalnya biaya pendaftarannya mencapai 7000 euro dengan segala fasilitas yang mereka berikan. Namun akibat ketertarikanku sejak setahun sebelumnya, aku mem-bookmark programnya dan akhirnya ada penurunan biaya pendaftaran menjadi 650 euro. Disebabkan banyak organisasi yang mulai bekerjasama termasuk PBB-nya sendiri, strategic partner, media partner, dan donatur akhirnya menjadi partially funded. Meski artinya juga penerimaan jadi lebih selektif.


Karena didukung oleh orang tua, aku dan ummi pun menyusun lebih dari 50 proposal untuk disebar ke setiap institusi maupun lembaga. Termasuk mengirim surat ke istana, dan akhirnya partisipasiku didukung oleh Pak Jusuf Kalla hingga mendapatkan kiriman surat ke rumah dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden.

Surat dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden
Yang orang-orang pikir aku pintar atau aku banyak berkontribusi pada masyarakat, makanya aku diterima. Sejujurnya gak.. sama sekali. Aku merasa bahwa banyak teman-temanku yang bahasa inggrisnya jauh lebih fasih dan kontribusi pada masyarakatnya jauh lebih besar dariku melalui cara mereka masing-masing. Aku hanya berani mengambil risiko dan mengambil setiap kesempatan yang datang. Ini menjadi sarana pembelajaran bagiku untuk opportunity selanjutnya.

Seleksi penerimaannya juga cukup mudah, yaitu dengan seleksi berkas, seleksi ide project yang ingin diimplementasikan, wawancara online dengan robot & pembuatan video. Tidak melihat TOEFL, recommendation letter, transkrip nilai dll. (emangnya beasiswa? Hehehe).


Program ini tidak sepenuhnya di New York, melainkan lebih banyak di Equinunk Pennsylvania (12 hari di Pennsylvania, 4 hari di New York). Equinunk adalah sebuah desa yang penuh dengan padang rumput. Disana aku ditemukan dengan sekitar 17 orang dalam tim Kesehatan dan Kesejahteraan. 16 dari 17 orang itu adalah mahasiswa kedokteran bahkan sudah menjadi dokter. Hanya aku dan Hassan yang bukan kedokteran. Aku psikologi dan dia jurusan teknik kimia.

Dalam menyusun program bersama untuk dipresentasikan di PBB, terdapat 3 component. Yang setiap component, formatnya beda-beda. Awalnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang tim bicarakan untuk Component 1. Karena selain terlambat, juga ini pertama kalinya aku listening langsung bahasa Inggris dipenuhi perdebatan dan  istilah-istilah kedokteran. Hufft… dan cerita pun dimulai.

KOMPONEN 1


Aku baru menyadari…, tentunya mereka bisa disini karena mereka yang terbaik dari kampus mereka. Orang-orang ekstrovert yang cenderung saling mendominasi satu sama lain, kepala mereka dipenuhi ide & belum lagi dilatarbelakangi oleh kultur yang berbeda-beda. Tentu perdebatan takkan terelekkan dari pagi hingga tengah malam. Masalahnya perdebatannya tentang istilah-istilah kedokteran… obat yang dibutuhkan, tenaga medis, harga obat, dll. OMG what are they talking about?. This is why Psychology should be under medical department.

Ada Catherine dari Nigeria; Jordan, Morenika, dan Chidera dari Inggris; Fem, Iris, dan Lissane dari Belanda; Thom dari Vietnam; Omar dari Mesir; CT dari New Zealand, Hassan dari Sudan; Yara dari Palestina; Teresa dari Spanyol; Sidney dari Austria; Rejja dari Pakistan; dan Zee dari Saudi Arabia. Ditambah satu lagi fasilitator kami Nour dari Mesir.


Dari banyak negara-negara tersebut, Nour fasiltator kami mengomentariku yang dari jurusan psikologi, ketika hari pertama aku mengakui bahwa aku tidak mengerti satupun yang mereka bicarakan. “Hampir di semua negara, psikologi di bawah fakultas kedokteran, Maryam…” ujar Nour.

Aku tersenyum pasrah dan berkata, “In Indonesia, Psychology is under Social Science department. Even in my university, it’s under education faculty. I thought we can talk about something like mental health or social well-being, could we? Or maybe we can talk something about family planning which is also a part of SDG3?

Rada shock memang dan sakit hati juga (tidak lebih juga tidak kurang, hanya di luar ekspektasi ketika tidak ada satupun yang membicarakan kesehatan mental, kesejahteraan sosial, ataupun keluarga berencana padahal bagian dari SDG3.), Namun karena sudah terbang 31 jam. Dan menghabiskan ½ tahun semester pertama tahun 2016 untuk program ini… apa mau dikata, aku harus belajar blend-in dengan mereka. Ketika Zee merencanakan program “NGO berjalan” dan aku blend-in ide seputar lomba film dokumenter..

Zee menjelaskan project NGO berjalan.

Jadi itulah tamparan keras bagiku, oh, aku harus belajar atau aku takkan mengerti apapun yang mereka bicarakan selama 2 minggu disini. Dan untuk component 1 yang disusun selama 3 hari itu, aku sejujurnya tidak berkontribusi apapun. Ide tentang NGO berjalan dan film dokumenter dalam perjalanan itu ditolak akibat tidak realistis. Dan akhirnya component 1 memang harus sesuatu yang realistis sesuai dengan format yang diberikan oleh pihak Merit 360.

Ide komponen 1 ini sangatlah sederhana, yaitu  kampanye #WeENDemic. Tulisan #WeENDemic ditulis di atas telapak tangan dan diposting di media sosial seperti twitter. Ditulis pula nama virus yang ingin dilawan dan setiap orang boleh berbeda-beda. Juga ditulis negara dimana ingin mengakhiri virus tersebut, misalnya #WeENDemic #Nigeria. Karena mudah, simple, dan luas, akhirnya ide ini termasuk dinilai tertinggi oleh juri Merit 360 dibandingkan komponen yang lain.


Rejja menjelaskan #WeENDemic campaign.


KOMPONEN 2

3 hari selanjutnya kami memasuki komponen 2. Jadi setiap komponen disusun selama 3 hari 3 malam. Dan ide setiap komponen itu berbeda-beda. Kami pun diberikan sebuah format yang baru, yaitu partnership platform dan dengan siapa kami mau menjalin partnership untuk setiap komponen yang akan dijadikan final submission ke PBB.

Research organisasi Bill & Melinda Gates Foundation
Setiap anggota tim mengusulkan organisasi lokal dan organisasi internasional yang ingin diajak kerjasama. Banyak organisasi masuk list dan diantaranya yang aku usulkan bersama Catherine adalah Bill and Melinda Gates foundation untuk organisasi internasional. Selain itu Gifted Mom terpilih sebagai organisasi lokal yang terpilih untuk diajak kerjasama.

Wihiii… suaraku didengar. Aku menyanggupi membantu untuk bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates, karena pengalaman ICFP 2016 kemarin di Nusa Dua Bali juga voting 15 ribu orang untuk 120 under 40 yang diusung oleh Bill and Melinda Gates. Selain itu juga pernah foto bareng bersama direktur utama Bill and Melinda Gates foundation. Yang sayangnya fotonya ada di tab temanku, Stiven Lim. Intinya gitu deh. Aku bilang, kita butuh uang dan Bill and Melinda Gates foundation butuh pemuda.

Voting  antara Gifted Mom & Bill Melinda
Namun di hari terakhir penyusunan komponen 3, ada instruksi baru dari Merit 360 bahwa hanya satu antara organisasi lokal atau organisasi internasional yang akan dipresentasikan di PBB. Melalui sistem voting, setiap anggota tim punya suara memilih organisasi yang mereka sukai. Dan aku termasuk mendukung Gifted Mom untuk dipresentasikan, bukan Bill and Melinda Gates. Meski kami tetap akan menjalin kerja sama sesuai dengan final-submission.

Component 2 selesai tengah malam.
KOMPONEN 3

Well, dari semua komponen, ini yang paling baper.

Dan tulisan ini akan menjadi tulisan paling baper sepanjang tahun 2016.

Berpikir bersama.
Kenapa? Karena disini, setiap orang punya ide masing-masing, yaitu proposal yang mereka bawa dari rumah. Dan aku pun punya proposalku sendiri tentang pembangunan shelter. Jika ini yang menjadi final-submission, tentunya kemungkinan untuk mendapatkan bantuan dana hibah dari Bill and Melinda Gates foundation akan lebih besar. Dan memang bukankah ini yang kucari dari? Dengan minimal grant yang Bill and Melinda berikan sejumlah $100.000 alias 1,35 Miliar rupiah sesuai tercantum di website?

Dari presentasi proposal setiap anggota tim yang terdiri 18 orang, tim SDG3 memilih 2 besar yaitu punyaku dan punya Catherine. Mereka mungkin tertarik setelah mengetahui bagaimana kesehatan mental juga penting, bukan hanya kesehatan fisik. Juga termasuk jarang dibicarakan selain maternal dan infant mortality.

Catherine menjelaskan SIMI project. Pertanyaan bertubi sesuai BMC.
Namun serius, aku harus belajar banyak dari Catherine. Dia adalah seorang dokter asal pedalaman Nigeria juga sudah sangat berpengalaman bertahun-tahun menangani kasus kematian janin dan bayi (maternal and infant mortality).  Dia mengerti bagaimana menjelaskan program hingga tingkat paling rinci seperti perekrutan volunteer melalui women leaders, obat-obatan apa saja yang akan dibeli, peralatan-peralatan dalam satu pack obat, dan bagaimana bekerjasama dengan organisasi lokal.

Dia juga mengerti betul kondisi di negara asalnya itu yang akhirnya memicu simpati dari semua tim. Dan akhirnya karena rincian program dalam format BMC (Business Model Canvas) yang terpenuhi itulah, tim Merit 360 akhirnya memilih program NGO di Nigeria bernama SIMI Project daripada project-ku.

Well, apa mau dikata. Baper sih baper kehilangan satu kesempatan untuk menyuarakan pentingnya kesehatan mental di PBB. Akibat ketidaksiapanku dalam rincian project melalui format BMC serta keterbatasanku menjelaskan istilah psikologi kepada 17 anak-anak kedokteran full bahasa inggris. My English is very limited, just you know. Tapi ini mudah-mudahan menjadi satu pembelajaran bagiku ke depannya.

Meski menyesal juga, kenapa sampai titik ini life-changing experience sebesar ini… aku masih harus belajar? Kenapaaaaa??? Kenapaaaa….??? Ketika project-ku bisa saja masuk final submission dan dipresentasikan di kantor pusat PBB. Akankah kesempatan kedua hadir kembali untukku?


Memang sih, meski seumur hidup kita takkan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajar.

Dan ya satu lagi… kalau kalian tahu kisah CEO yang tidak memecat pegawainya meski si pegawai sudah merugikan perusahaan jutaan dolar akibat kelalaiannya. Kita mungkin akan berpikir bahwa si pegawai akan dipecat, bukan? Bahkan si pegawai sudah mengajukan undur diri. Namun si CEO malah bilang, “Aku tak mungkin memecatmu. Karena aku sudah menghabiskan jutaan dolar untuk membuatmu belajar.” Catat kalimat itu Maryam Qonita! Ditebelin, distabilo, camkan teruss dalam benakmu!!

Dan perasaanku hari-hari itu mirip dengan si pegawainya saat itu. Dan inilah kontroversi di belakang alasan aku menunda tulisan ini berbulan-bulan.

Dalam hati, “Ya Allah…mudah-mudahan aku masih bisa di-akui sebagai anak oleh ummi dan abi meski tidak memenuhi harapan mereka… tugas anak itu berat ya, meski tugas orang tua jauh lebih beraaat…. dan bikin tugasku makin berat ketika mengetahui tugas orang tua lebih berat. Tapi ummi dan abi pasti punya hati seperti CEO kepada pegawainya itu kan ya? Aku percaya hati mereka jauh lebih besar.” (Nangis dalam hati).

Terus aku berdoa, melihat beberapa teman-temanku yang juga orang tuanya udah gak ada. Mudah-mudahan abi dan ummi diberikan kesehatan selalu, sampai aku bisa benar-benar membanggakan mereka, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan dan kekurangan yang ada padaku. Mudah-mudahan mereka terus sehat… bahkan hingga usia ratusan tahun sehat walafiat… Kalau udah gini baper…, dan baru kemarin nulis di grup whatsapp keluarga dengan penuh linangan air mata.

Tetap senyum paginya.
Besok harinya, aku mulai bisa move on dan melihat dari sisi positif. Aku rada senang juga, setidaknya aku mulai mengerti beberapa istilah medis yang menjadi bahan diskusi sepanjang hari hingga tengah malam itu. Termasuk mencari harga-harga obat di berbagai belahan dunia, dan mengenali berbagai istilah seperti anti-bleeding misoprostol, chlorhexidine dll.  Setidaknya ada yang bisa kukontribusikan.

Merancang costs of simi toolkit.
Aku juga bertugas merancang timeline kinerja SIMI project setahun kedepan dan masuk dalam tim penyusunan naskah pidato ke PBB. Karena hasil voting tim, SIMI project dengan segala rincian yang memenuhi format BMC nya itu, SIMI project lah yang akan dipresentasikan di PBB oleh perwakilan tim, Morenika.

Ketiga komponen pun selesai dirancang.


Final submission semuanya.

11 Hari di Indian Head Camp


Move on dari project sementara, ingin sharing sedikit tentang 11 hariku di Indian Head Camp. Sebuah camp outbond terbaik sedunia yang berada di daerah Equinunk Pennsylvania. Di tengah-tengah camp ada danau luas yang disebut “Reflection Lake” karena merefleksikan pemandangan di sekelilingnya seperti sebuah cermin. Disertai bilik-bilik sederhana di pinggir-pinggir danau.

Saat hari minggu tiba, aku sempat menghabiskan waktu seharian berjemur di tengah danau di atas perahu kayak. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” Menjernihkan pikiranku dengan riak tenang air danau dan desiran angin lembut…”

Pake kaos kaki koq.
The best moment I had in Pennsylvania.

Dan saat malam tiba, beuh.. serius cantik banget momennya. Apalagi ketika senja menyingsing disusul bintang-bintang bertaburan.


Di hari terakhir di Pennsylvania, saat baru saja selesai menyusun naskah pidato bersama tim. Aku ngobrol dan curhat bersama teman-teman sesama perempuan di tim SDG3. Curhat soal cowok sihh... Rejja sudah punya suami, dan suaminya menerima dia apa adanya sebagai pasien kanker yang bertahan hidup bahkan sebentar lagi menjadi dokter yang ingin memberantas kanker. Juga bagaimana Teresa jatuh cinta pada seseorang, dan mereka saling mencintai namun cowok tersebut sudah menjadi pacar orang lain. 

Ketika mereka bertanya padaku adakah orang yang kusuka, mereka gak percaya bahwa aku bahkan tidak menjalin komunikasi dengan orang itu. #GerakanAntiPacaran aneh juga mungkin bagi mereka.


“I don’t have a boyfriend and I don’t have any communication with someone I like. He decided to not make any communication with me. I don’t know the exact reason, maybe because you know, in Islam it’s prohibited.”

“But... how could you getting married with someone if you don’t know the person?” Tanya Teresa.

“That's the question! (I believe it too) At least, I have to know the person in advance before deciding to marry with him or another person. He must be someone I’ve known for years, either he is my friend or something, I will ask him a lot of things. I won't marry someone I don't know...”

Gak percaya bisa curhat sama bule. Wkwkwk.

Terus aku juga bersyukur karena pihak Merit 360 menyediakan dietary needs. Buat mereka yang vegetarian, atau gluten free, punya alergi, atau hanya makan-makanan halal. Dan makanan halal selalu menjadi pilihan.

Insyaa Allah Halal
Kembali ke New York untuk 3 hari terakhir program Merit 360. Ingat pembicaraanku dengan Thom ketika mengelilingi Amsterdam Ave street malam sebelum presentasi di PBB.

“You only eat halal? What is the difference of Halal with other foods?”
“Halal means they killed the animal differently and they didn’t hurt the animal.”
“How do you feel if you don’t eat halal?”
“I am not going in the psychological relax.”
“It’s like Allah… Allah.., right? He will punish you?”
“Yeah, exactly.”


TIM SDG3 UNJUK IDE DI PBB


Dan inilah titik puncak dari semuanya, satu hari kami di PBB. Aku bersama tim SDG3 mempresentasikan ide tentang SIMI Project di Nigeria. Sebuah NGO yang bergerak dalam mencegah kematian janin dan bayi melalui pendidikan ibu dan perekrutan women leaders di ranah akar rumput. Ide yang betul-betul nyaris sempurna disusun oleh Dr. Catherine dari Nigeria. Membuatku belajar banyak darinya tentang bagaimana sebuah proyek disusun sesuai format BMC.

8 jam kami berada dalam satu ruangan, mendengarkan sambutan-sambutan bahkan dari para petinggi PBB langsung dan dihadiri oleh para stakeholders. Mendengarkan presentasi dari setiap tim dan juga diskusi panel dari para aktivis sosial.


Beberapa temanku dari ICFP 2016 kemarin yang sampai sekarang masih menjalin komunikasi, beberapa di antara mereka bekerja di sini, entah di UN Women atau UNFPA atau di WHO. Tapi sayangnya karena sibuk sendiri akunya, padahal kami sudah janjian, tapi memang tidak ketemu. Ingat sebuah quote yang pernah kutemukan, dalam 5 tahun lagi siapa kita akan ditentukan oleh teman-teman kita dan buku yang kita baca.

Bersyukur punya teman-teman seperti mereka semua, menjalin network seluas-luasnya, bersyukur mengambil bagian kecil dari perubahan dunia menuju lebih baik, dan entah kenapa dalam hati merasa yakin… I promise to go back again… United Nations. 


United Nations Headquarters

[Cerpen] Bocah Dalam Hujan



Cerpen Aku terbangun saat sinar matahari jatuh di pelupuk mataku. Silau. Cece membuka jendela kamar dan kulihat jam dinding menunjukkan jam delapan pagi. Huwaaa!!! Aku terlambat sekolah. Kenapa jam weker tidak berdering, ya? Padahal aku sudah nge-set biar berdering jam enam. Bodo, ah! Aku langsung bergegas menuju kamar mandi tapi bukan buat mandi, melainkan buat cuci muka dan gosok gigi doang.

“Ce, kenapa gak bangunin Rafli, sih? Cece tau kan, kalau Rafli sampai gak sekolah, mama gak bakal ngasih uang jajan seminggu?!” lontarku protes keluar dari kamar mandi. 

“Cece udah bangunin Mas Rafli tadi pas subuh, tapi Mas Rafli tidur lagi,” kata si cece sambil ngeberesin ranjangku yang berantakan.

Kok bangunin pas subuh, sih? Ya iyalah Rafli tidur lagi!” balasku. Aku membuka pintu lemari dan melirik ke arah cece. Wanita 50 tahun itu manggut-manggut mengerti isyaratku dan berjalan keluar dari kamar.

“Emang Mas Rafli gak sholat subuh?”

“Banyak nanya nih, ah! Tenang aja, ce. Allah kan maha pengampun!”

 “Mas Rafli ada bener juga, ya? Tapi salah Mas Rafli sendiri sih, pacaran dengan Neng Hepinya kelamaan! Oia, kata Mang Udin mobil lagi di bengkel, nyonya tadi nelpon Mas Rafli naik taksi aja,” kata si cece masih bertahan di ambang pintu kamar. Ia terkekeh saat melihatku mau mengganti baju.“ “Ih, Mas Rafli seksi deh!” ucap cece genit. Aku melotot dan langsung menutup pintu kamar. 

            GRRRHH!!!! Sumpah serapah nyembur dari mulutku gak karuan. Mobil lagi di bengkel?! Aku bener-bener terlambat sekolah kalau gini. Gak tau mau nyalahin siapa, aku mulai menyalahkan jam weker yang gak berdering jam 6 tadi. Jam weker durjana!

Sudah 5 menit, tapi mobil sedan berwarna biru dengan tulisan taksi di atasnya gak satupun nongol. Kulirik jam tangan, sekarang jam delapan lewat lima belas. Aku sih pengennya bolos sekolah aja terus kabur main game online, tapi mengingat kemarin mama marah-marah gara-gara aku ketahuan main PS di rumah Anton. Akhirnya, aku ketahuan ngumpet di kolong kasur dan Anton ketahuan pura-pura sakit biar gak sekolah. Mana aku tahu kalau mama mau jenguk Anton sebagai anak dari sahabatnya mama.

            Sebuah angkot menepi. Pria tua dekil itu membunyikan klakson, isyarat biar aku masuk. Kumohon, aku belum pernah naik angkot sebelumnya. Anak tunggal seorang pejabat tinggi negara naik mobil angkot??

            “Mas, mau ke SMA Merah Putih, kan?” tanya si sopir.

“Emang napa?”

            “Saya mau lewat situ juga soalnya. Murah ko’, cuma 2000 aja.”

            Taksi kapan lewat, ya?” Aku bergumam sambil membuang muka. 

            “Mas, daripada naik taksi 20.000,  gak dateng-dateng lagi!”

            Angkot itu terus bertahan. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mendengus dan masuk ke dalam angkot. Mobil itupun meluncur dengan sangat lambat, mungkin agar bisa melihat jika ada penumpang lain yang mau naik. Sebuah aroma masuk melewati lubang hidungku, itu pasti campuran bau ayam, bau amis ikan, bau keringat, dan berbagai macam bau lainnya. Membuatku mau muntah. Aku mulai ngedumel gak jelas.

            “Anak muda jaman sekarang aneh-aneh aja ya, A? Apa itu gaya terbaru?” tanya seorang ibu terkikik menunjuk ke kakiku. Apa ada sesuatu yang aneh? Aku pun melihat kakiku dengan muka heran. DEG! Sepatuku beda sebelah. Satunya sepatu sekolah dan satunya sepatunya Mang Udin. GRRRHHH!!!!! 

Aku berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Gerbang sudah dikunci tapi biar begitu aku tahu celah lain di sekolah ini. Aku pun berhasil masuk ke pekarangan tanpa ketahuan satpam. Setelah itu langsung berlari masuk kelas mendahului seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap. Guruku di pelajaran berikutnya. Akhirnya akupun berhasil mendahuluinya, semua mata mengarah ke arahku tapi aku cuek dan duduk di bangku paling belakang samping si Anton.

            “Kemane aje lu, Rap?” tanya Anton.

            “Tadi malam gue pacaran sama si hepi kelamaan jadi gue bangun telat, puas lu?”

            “Hepi? Hape maksud lu?”

            “Apa lagi?! Banyak nanya lu, ah!”

            “Jailah, gitu aja marah. Kalo bukan gara-gara nyokap lu kemaren, kayaknya hari ini lu dah bolos, gue bener kan?”

            “Lu diem aja dah! Ini semua kan gara-gara lu juga! Coba kemaren lu gak ngajak gue maen PS, gue bisa main G-O di warnet sekarang dan juga gak perlu ngalamin hari sial kayak gini!”

            “Jah... itu kan pilihan lu sendiri, Rap,” ujar Anton. , “Betewe, lu koq beda hari ini, Rap. Biasanya lu kan wangi sembriwing gitu, koq aromanya jadi lain. Lu gak mandi, ya?”

            “Gue bilang lu diem aja!!” bentakku memenuhi seisi kelas. Saat yang bersamaan, pria setengah botak masuk. Dia melotot ke arahku dan mendehem keras. Rasanya jantung mau copot saat itu juga. Pak Dono emang orang paling serem sepanjang sejarah manusia. Jika saja dia duduk dengan Indiana Jones, Indiana Jones pasti bakal terlihat seperti banci.

            Aku dan Anton mengakhiri pembicaraan. Serempak semua kelas pun membisu setelah mengucapkan sambutan berupa salam. Pak Dono lalu mulai mengajar dan menjelaskan istilah-istilah biologi yang bikin kepala makin mumet. Sfingter pilorus, asam amino, pepton, velum palastini, bla bla bla.

            Pikiranku mulai mengawang. Meninggalkan ruangan kelas yang hanya menjejali otak dengan teori menjemukan. Kurebahkan kepalaku ke atas meja sejenak untuk menghilangkan penat dan kesuntukan. 

&&&

            Aku baru pulang sekolah dan sekarang sedang berdiri di halte pinggir jalan, menunggu bus antar kota. Orang-orang berlalu lalang, puntung rokok terurai burai, pengamen bernyanyi cempreng, pengemis masang wajah melas di emper-emper, pedagang asongan menjajakan dagangannya, semuanya bercampur baur jadi lautan manusia kumal dengan sengak bau keringat. Aku bener-bener mau muntah. 

            Langit berubah gelap, tak lama gerimis menyibak celah-celah hitam awan. Hujan datang dengan deras dan membasahi bumi. Desau angin terdengar kencang sekali bersama dengan kilat yang menyala-nyala. Seorang bocah 5 tahun muncul dengan bertelanjang kaki, bajunya dekil, tubuhnya kurus, dia membawa sebuah payung di tangannya dan menawarkannya kepadaku.

            “Cuma gope,” katanya. Aku masih gak ngerti sampai dia menawarkan payung yang dibawanya itu, “Murah, akan kupinjamkan jika kakak memberiku gope.”

            “Nggak, aku gak perlu,” ujarku melambaikan tangan.

            “Terimakasih, kakak!” ujar bocah itu. Dengan kakinya yang kurus ia kembali menjajakan payungnya pada orang lain dengan semangat. Seakan bocah itu gak mengeluh dengan kerasnya kehidupan yang terkadang angkuh. Aku tersenyum melihat kegigihan mereka sambil menahan malu pada diri sendiri dan mulai memperhatikan bocah itu sembari menunggu bus.

            Ojek payung, aku menyebutnya. Tak urung bocah ojek payung itu menggigil kedinginan membuntuti orang yang meminjam payungnya. Sesekali bocah itu menghapus air yang membasahi wajahnya. Tapi ia tetap tersenyum apalagi saat menerima gope logam dari para peminjam payung. 

            “Terimakasih, tuan!” katanya pada seorang pria yang meminjam payung buat berteduh di halte ini. 

            “Apa kamu nggak sekolah?” tanya pria itu.

            “Nggak, aku gak punya uang buat sekolah, aku juga harus ngurus emak yang lagi sakit,” jawab bocah itu polos. Aku makin menunduk malu, berapa banyak waktu mereka habiskan buat bekerja demi ibunya tanpa mengeluh, sementara nikmat yang kudapatkan bukannya membuatku tambah bersyukur, malah ngabisin waktu dengan mengeluh dan mengeluh.

            Bus yang kutunggu tiba, aku langsung berlari hendak menerobos derasnya hujan. Tapi aku terdiam gak sempat masuk, kehujanan, pandanganku buyar. Dengan setengah sadar, kudengar suara entah dari mana.

            “Ayo bangun! Bangun!” Mataku mengerjap-ngerjap. Wajah seseorang terlihat dengan samar-samar dan makin lama makin jelas. Orang itu memandangku dengan matanya yang melotot sampai sebesar bola pingpong. Seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap memegang segelas sisa air mineral.

            Huwaaa!!!!
&&&


By: Maryam Qonita, dibuat tahun 2011.

Pencarian:


  • Ojek payung
  • cerpen islami
  • cerpen motivasi
  • cerpen 

Minggu, 27 November 2016

Makna Memaafkan yang Sesungguhnya


Apa itu memaafkan?

Ketika kita mendengar kata ‘memaafkan’ pasti ada satu skema dalam pikiran kita tentang definisi memaafkan menurut kita masing-masing. Saat mengisi seminar kemarin, dua orang siswa ditanya tentang definisi memaafkan dan diantara mereka berkata bahwa memaafkan adalah “melupakan yang jelek-jeleknya” sementara yang satunya berpendapat bahwa memaafkan adalah “tidak lagi menyimpan rasa dendam.”

Panitia, asdos, dan dosen pembimbing.
Tulisan ini terinpirasi saat aku menjadi seorang pembicara dalam seminar “Forgiveness” yang diadakan di aula SMAN 77 Jakarta yang dihadiri oleh kelas 3 IPA C. Menjadi satu tantangan tersendiri bagiku ketika mengetahui bahwa penggolongan kelas A, B, C adalah berdasarkan sistem nilai. A adalah murid dengan nilai rata-rata tertinggi sementara C adalah murid dengan nilai rata-rata terendah. Mengetahui hal tersebut, aku membuka seminar dengan kalimat: “Nilai tidak menentukan kesuksesan dan prestasi seseorang.” Dan disambut sorak sorai anak-anak satu aula.

Pemberian materi pun dimulai, dan aku menayangkan slide presentasi yang kubuat dalam waktu semalam. Alhamdulillah teman-teman sekelompok bilang design-nya bagus. Hehehe.

Memaafkan Bukan Melupakan


Sering kali kita mendengar nasihat teman-teman kita kalau abis disakiti orang “Udah lupain aja sih… lupain rasa sakitnya, lupain aja orangnya, lupain aja kesalahannya…”. Pertanyaannya, apakah bisa? Well.. mungkin bisa kalau kita mendadak amnesia atau otak kita seperti computer yang file-nya bisa di-delete dan computer diinstall ulang.

Memaafkan bukanlah melupakan. Karena pada dasarnya, memori tidak bisa dibatalkan. Jika saja kita mengetahui suatu informasi, tentu informasi itu masuk ke dalam pikiran kita dan kita proses. Apalagi suatu kejadian atau suatu peristiwa yang membekas begitu dalam, tidak mungkin dilupakan.

Kalau memaafkan adalah melupakan, itu artinya memaafkan adalah satu hal yang mustahil.

Memaafkan Bukan Pembenaran


Memaafkan juga bukan pembenaran. Tentunya berbeda antara pembenaran dan kebenaran. Sementara kita tahu dengan jelas, bahwa kebenarannya adalah si fulan telah menyakiti kita dan membuat kita terluka. Maka bisakah kita cukup berani mengatakan pada si fulan: “Hey…, kamu egois, kamu telah menyakitiku dan membuatku kecewa, aku tidak mau kamu mengulanginya lagi.”

Pernah aku menghabiskan waktu untuk berdiskusi masalah ini dengan beberapa teman sesama perempuan, dimana mereka berkeyakinan bahwa “wanita hebat adalah mereka yang tetap tersenyum, ketika hati mereka menangis.

Pertanyaannya, sampai kapan perasaan akan terus dipendam? Kenapa kita tidak cukup beraniuntuk percaya diri dan lebih asertif? Asertif memang memicu perbedaan dan perdebatan, tapi itu membuka diskusi dan pemahaman. Seorang dosenku yang juga psikolog keluarga berkata bahwa kunci dalam awetnya hubungan hanya dua fondasi dasar: Komitmen dan komunikasi. Tanpa salah satunya, secinta apapun dua orang tersebut tentu tidak akan awet.

Memaafkan Bukan Berkata “Aku Maafkan Kamu”


Loh? Maksudnya?

Iya, memaafkan bukanlah sekadar berkata “Aku maafkan kamu” dan setelah itu selesai. Memaafkan bukanlah satu event atau satu kejadian, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Karena terkadang, ketika kita memaafkan seseorang, kita hanya mengatakannya secara lisan namun hati kita tidak berkomitmen untuk benar-benar memaafkan orang itu.

Memaafkan Butuh Mendefinisikan Rasa Sakit


Memaafkan itu butuh menyalahkan terlebih dahulu, kita bisa mendefinisikan rasa sakitnya di buku diari dan memberi nama dengan jelas setiap ancaman yang datang atau pengkhianatan yang telah terjadi. Kita beri nama setiap rasa sakit secara spesifik, penyebab, dan dampak yang kita alami. Luapkan perasaan kita sejujur-jujurnya, bisa di buku diari maupun dengan curhat kepada sahabat terdekat kita yang bisa kita percaya.

Mengapa kita perlu mendefinisikan rasa sakit ini? Karena kita harus tahu jelas berapa harga dari maaf yang akan kita berikan. Bagi penerima maaf, maaf itu tentunya gratis. Namun bagi pemberi maaf, ada harga yang harus kita bayar demi kebahagiaan kita sendiri. Jadi kita harus tahu jelas takarannya.

Memaafkan itu Menerima


Memaafkan itu menerima, menerima bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di luar kendali kita. Menerima bahwa setiap orang memiliki kekurangan begitu pula kita juga punya kekurangan. Menerima bahwa memang hal itu terjadi telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Menerima bahwa itu semua adalah proses menuju kedewasaan. Menerima dan sanggup menghadapi rasa sakit itu dengan ikhlas, dan menyadari pada akhirnya kita akan baik-baik saja.

Memaafkan Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Bayangkan situasi ini, jika kita terus merawat luka dan menyimpan dendam pada seseorang yang telah menyakiti kita. Namun orang yang telah menyakiti kita tersebut malah hidup senang dan bergembira. See? It’s all about yourself.

Memaafkan tidak bergantung pada orang lain. Dalam artian, apakah orang tersebut meminta maaf atau tidak, kita tetap harus memaafkannya. Dan orang yang bersalah pada kita tidak harus selalu tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.

Memaafkan pada dasarnya dilakukan untuk diri sendiri, to get well soon and move on.

Memaafkan itu Tanpa Syarat


Kata kunci dari forgive adalah ‘give’ yang artinya ‘memberi’. Maka dalam hal memaafkan, ada yang memberi dan menerima. Yang memberi maaf adalah pemberi maaf. Dan yang menerima maaf adalah penerima maaf.

Jika aku ingin memberikan kado kepada ummiku, tentu aku akan memberi kado tersebut dilandasi cinta. Itulah kata kunci dan akar dari memaafkan, yaitu cinta. Ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang, tentunya dilandasi oleh rasa cinta. Cinta itu tulus dan cinta itu tanpa syarat.

Memaafkan Adalah Proses dalam Lingkaran Pemaafan


Banyak dari peserta seminar tidak mengerti ketika aku menyajikan slideshow di atas. Hehehe.. padahal ini adalah inti dari seminarku sepanjang 20 menit di aula SMAN 77. Sebelumnya, aku pikir memaafkan adalah sebuah event atau satu kejadian seperti berkata secara lisan “aku memaafkan kamu” namun sebenarnya tidaklah seperti itu.

Memaafkan adalah sebuah proses, proses yang aktif dan bukan proses pasif. Yang mana proses ini terbentuk karena cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita, maka kita seharusnya bisa memaafkan orang lain dengan cinta tanpa syarat pula.

Misalnya, di jalan tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang. Maka aku membutuhkan sedikit cinta tanpa syarat darinya untuk bisa mendapatkan maaf tanpa syarat itu. Sehingga karena cinta dan maaf yang sudah diberikan kepadaku dari orang-orang disekelilingku, maka aku juga seharusnya bisa memberikan maaf kepada orang yang bersalah kepadaku.

Seperti kisah dalam buku 3 pohon yang menari karangan Miroslav. Ada 3 pohon, satu pohon bertugas untuk memberi, satu pohon bertugas untuk menerima, dan satu pohonnya lagi bertugas untuk menjaga perputaran tersebut tanpa henti. Dan dalam lingkaran tersebut, tidak ada yang statusnya lebih tinggi maupun lebih rendah. Seperti inilah lingkaran pemaafan yang kumaksud. Dan lingkaran pemaafan ini ada di masyarakat, jika lingkaran pemaafan ini putus, maka masyarakat akan hancur.

Memaafkan Adalah Sebuah Komitmen


Ketika kita sudah memilih untuk memaafkan seseorang, aku tidak menafikkan bahwa terkadang perasaan pahit dan sakit itu kembali muncul lagi dan lagi dan lagi. Namun bisakah kita stay committed pada pilihan yang telah kita ambil?

Kita memang terluka, namun kita takkan menjadi korban. Tidak peduli seberapa besar perasaan sakit hati ataupun pahit yang kembali muncul, itu takkan mendefinisikan kita, melainkan kita jadikan kesempatan untuk memaafkan lagi… memaafkan lagi… dan memaafkan lagi.

Lalu pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah,:

Mengapa kita harus memaafkan?


  • Untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena jika kita terus menyimpan dendam, itu artinya kita terikat dengan masa lalu dan menghambat diri kita dari progresivitas.
  • Karena kita lebih besar daripada emosi-emosi itu. You’re bigger than those emotions.
  • Karena kita juga melakukan banyak kesalahan.
  • Karena kita hanya memiliki satu hati. Kita tidak bisa membaginya menjadi dua, untuk membenci atau mencintai. Kita harus menjadikan hati kita utuh untuk salah satu saja (membenci atau mencintai).
  • Dan karena Tuhan Maha Pengampun. Dan Dia menyuruh hamba-Nya untuk saling memaafkan.


Memaafkan Diri Sendiri


Pernahkah kita melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya kita sesali?

Atau kegagalan yang terjadi dalam hidup kita akibat dari kelalaian yang kita sadari?

Atau kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita karena dia telah kita sakiti?

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan seringkali kita menyalahkan diri sendiri akan hal-hal tersebut. Dan itu hal wajar, karena memaafkan selalu dimulai dari menyalahkan. Maka jangan menghindari hal tersebut, mengakui kesalahan diri sendiri berarti kita mengambil kendali untuk juga memaafkan diri sendiri. Meski itu sangat sulit dan lebih sulit dilakukan daripada memaafkan orang lain.

Jika tadi aku bicara lingkaran pemaafan yang ada di masyarakat, sekarang lingkaran pemaafan tersebut ada di dalam diri sendiri. Karena kasusnya adalah pemberi dan penerima maaf adalah diri sendiri. Sehingga itu tidak lepas, melainkan berputar antara perasaan harapan dan penyeselan. Seperti misalnya saat aku berusaha bangkit kembali dari kegagalan, dulu langganan rangking 29 dari 30, hingga kini pun penyesalannya masih ada. 


Banyak orang yang bilang untuk melupakan, ada juga yang bilang untuk melepaskan.

Namun aku memilih sebuah pepatah ibrani yang berkata “nasa” yaitu menerima dan membawanya dengan cinta.

Hidup seperti ini memang melelahkan, karena lingkaran kembali berputar, maka tak heran jika perasaan pahit dan menyesal itu datang kembali, lagi dan lagi. Namun itu takkan mendefinisikan kita tentu saja, melainkan sebagai kesempatan bagi kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi. 

Salah satu kasus yang kualami kutulis disini: 
http://maryam-qonita.blogspot.co.id/2016/11/forgiving-unforgivable.html 

Ada satu kisah menarik dengan memilih hidup seperti ini. Yaitu kisah Santa Claus yang mencuri pohon natal, namun dia kembalikan. Dan setiap dia kembalikan, maka hatinya akan tumbuh 3x lebih besar. Begitu pula ketika kita mengizinkan diri kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi, maka kita akan berjalan ke depannya dengan hati yang sangat besar tersebut.




To forgive is always a gift we give ourselves.



Pemateri, pembimbing, dan terapis.

Pencarian:

  • Kata mutiara memaafkan
  • Memaafkan orang yang menyakiti kita
  • Cara memaafkan orang lain dengan tulus
  • Cara memaafkan orang yang telah menyakiti kita
  • Definisi memaafkan
  • Memaafkan dalam islam
  • Memaafkan adalah
  • Tips memaafkan orang lain
  • Menyikapi orang yang menyakiti kita


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...