Selasa, 02 September 2014

[Cerpen] Mentari Sudah Pulang


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit. Kutumpahkan pandangan ke lautan awan di luar sana, yang mulai memerah petang ketika mentari beringsut perlahan kembali ke lingkup terbenamnya. Membiaskan kemilau jingga yang menyebar melalui ceruk lingkaran langit. Indah. Di sudut lain kehidupan, orang-orang dalam busway membawa pulang kelelahan setelah seharian bekerja. Tergambar dari kernyit dahi dan butir peluh yang masih menempel di kerah baju mereka.

Sejenak bola mataku terpaku pada seorang ibu yang berdiri tepat di depanku. Usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Ia membawa sebuah kardus yang sepertinya berat. Ada corat-coret bergambar bunga matahari di kardus tersebut. Kulihat ibu itu kerap memegangi kepalanya yang berbalut jilbab. Aku langsung tahu kalau dia pusing setelah sekian lama berdiri. Sempat terlintas di benakku untuk memberikan tempat dudukku padanya, tapi aku mengurungkan niatku itu. Rumah kos masih jauh, dan aku lebih butuh duduk daripada ibu itu, aku rasa.

Langit senja mulai temaram. Mentari semakin merunduk seolah tunduk pada kekuasaan malam. Dia yang tadi terus mengintip, akhirnya sempurna bersembunyi di peraduannya. Aku turun di sebuah terminal busway, sementara ibu tadi sudah turun di tiga terminal sebelumnya segera setelah adzan maghrib berkumandang. Mungkin dia akan melaksanakan tugasnya sebagai orang muslim, sholat.

Sholat…, hatiku bergetar. Walau di KTP tertera aku beragama Katolik, tapi dulu aku beragama Islam. Jika kau bertanya mengapa aku murtad dari Islam, itu karena aku kehilangan ingatan sewaktu usiaku 13 tahun. Suster yang merawatku di rumah sakit berkata kalau aku kecelakaan, entahlah, aku tidak ingat apapun. Yang kutahu, dulu aku beragama Islam dari jilbab biru muda yang kukenakan waktu itu.

Berbulan-bulan aku tinggal di rumah sakit, seorang wanita dengan tudung kepala dan kalung salib mendatangiku. Dia mengajakku untuk tinggal di panti asuhan bersama anak-anak yang nasibnya sama denganku. Akhirnya, akupun memutuskan tinggal di panti asuhan yang bernaung di bawah gereja tersebut. Para pengasuh berpakaian biarawati dan anak-anak di panti asuhan sangat baik. Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun aku tinggal disana, aku memilih memeluk agama mereka. Aku meyakini tuhan mereka adalah tuhanku juga. Aku sembahyang di gereja setiap hari Minggu. Dan aku merayakan natal sebagaimana teman-temanku yang lain.

“Vina, kau tidak perlu lagi mempedulikan keluargamu. Mereka juga kan tidak mempedulikanmu. Jika mereka mempedulikanmu, seharusnya mereka datang menjengukmu ke rumah sakit! Hanya kami yang peduli denganmu, kau pasti tahu itu!” Riska, temanku di panti berkata padaku beberapa tahun yang lalu. Walau pahit, aku membenarkan ucapannya.

Malam semakin merangkak naik dan aku masih dalam perjalanan pulang. Udara dingin menyeruak ke segenap pori pori ditambah lapar yang mendera, pelupuk mataku pun mulai menggelayut manja, seakan memaksa diri agar cepat tiba di rumah kos. Ketika sampai nanti, aku perlu mandi untuk menghilangkan butir keringat selepas kerja sambilan yang kulakukan demi membiayai kuliah teknik sipilku ini. Setelah itu, makan malam dengan membeli abon dan nasi bungkus dari warung Bi Sumarni. Sehabis makan, baru aku bisa rebahkan tubuh di atas kasur. Menanti gelap menyelimuti lelap.

Sebenarnya aku merasa sebagian teman kampusku sangat beruntung. Ketika mereka pulang berbekal keletihan, air hangat sudah menyambut di rumah. Belum lagi di benak mereka sudah terbayang makan malam sederhana tapi nikmat hasil racikan tangan seorang ibu yang penuh cinta. Ah, nikmatnya…

Buliran bening jatuh membasahi pipi ketika aku mendongakkan kepala. Langit begitu pekat, tiada rembulan dan gemintang. Entahlah bagaimana wajah ibuku, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya.

 “Tuhan, bukankah engkau maha pengasih? Pertemukanlah aku dengan ibuku…,” ucapku lirih. Kucium tanganku setelah menyentuh dahi, bahu kiri, dan kanan. Aku ingin melihat wajah ibuku. Ingin memeluknya begitu erat dan berkata akulah anaknya.

Setelah kuseka buliran bening itu, aku terperangah mendapati seorang anak laki-laki hendak menyebrang, sementara terdapat sebuah mobil kijang yang melaju kencang di jalan gelap tersebut. Eh? Eh? Anak itu berlari begitu saja, tanpa tengok kanan-kiri. Dia akan tertabrak! Aku langsung berteriak memanggilnya tapi seolah dia tidak mendengarku. Langsung saja aku berlari mengejarnya sembari berteriak menyuruhnya minggir, tapi dia tetap tidak menggubris. Anak itu tidak tertabrak. Sementara akulah yang tertabrak, terdorong, dan jatuh terduduk. Ban mobil itu berdecit nyaring. Platnya berada sekitar 5 cm di depan wajahku. Adegan yang sangat cepat.

Deg! Aku tidak bergeming laksana patung. Mataku nanar, nafasku kian tak teratur, dan jantungku memompa lebih kencang. Tiba-tiba bayangan aneh berkelebat di benakku, saling rangkai merangkai menjadi kesatuan yang utuh. Mirip pita film yang terkoyak, atau mirip anak-anak puzzle berterbangan, atau mirip anak rantai yang terputus. Semua itu menyatu menjadi sebuah rekaman masa lalu yang kembali terulang…

-oo0oo-

Sebelas tahun yang lalu…

Sebenarnya ini bukan keinginanku. Tapi Putri, Amalia, dan Mira terus membujukku hingga akhirnya  aku luluh juga oleh rayuan tersebut. Aku pun terpaksa berbohong pada Ayah dan ibu. Aku bilang bahwa aku mau belajar bersama di rumah Putri, dan mereka percaya.

Semula Putri berkata kalau ia hanya ingin pergi ke bioskop untuk nonton film Star Wars. Tadinya rencanaku, aku ingin segera pulang setelah selesai menonton film itu. Tapi, sore itu mall meriah sekali. Membuatku lupa waktu. Selain menonton, aku dan temanku juga makan ayam goreng dan belanja manik-manik lucu khas perempuan. Ya, namanya juga ABG alias Anak Baru Gede.

Usai bersenang-senang, baru kusadari kalau hari sudah malam. Langit sudah hitam dan pijar lampu kota mewarnai tepi jalan. Aku ingin pulang. Begitu pula Putri, Amalia, dan Mira. Dasar ibu kota, ketika pada malam hari pun jalanannya masih saja ramai. Akhirnya, dengan dibantu oleh seorang bapak-bapak, kita pun menyebrangi jalan raya itu untuk selanjutnya naik taksi ke Lenteng.

“Ingat ya, jangan beri tahu orang tua kalian!” kata Putri, temanku yang telah berjasa mentraktir kita hari ini ketika tiba di trotoar.

“Tidak akan…,” kata Amalia.

“Iya. Bisa-bisa aku dihukum sama Abi,” timpal Mira.

“Kalian tunggu disini sebentar ya, aku teringat sesuatu,” ujarku.

“Ada apa, Ri?” tanya Amalia.

“Tasku tertinggal di tempat ayam goreng.”

“Ya sudah, cepat ambil sana! Jangan lama-lama, ya!” kata Putri.

Aku tahu. Aku tidak boleh lama-lama. Makanya aku melangkah dengan setengah berlari menyebrangi jalan raya itu tanpa kusadari sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Kepalaku membentur kaca depan mobil dan kurasakan sakit yang luar biasa menyergap seluruh tubuh. Kulihat darah segar mengalir, kudengar sumpah serapah orang-orang, sebelum akhirnya teriakan itu mengalun makin pelan, pandanganku buram, dan semuanya menjadi gelap.

-oo0oo-
           
Aku sudah ingat semuanya, peristiwa yang hilang sebelas tahun lalu. Orang-orang mengerumuniku, memandangku dengan tatapan yang membuatku tak betah lama-lama duduk disini. Aku pun segera bangkit dan berlari dari tempat ini segera. Tapi, anak laki-laki tadi… dimana? Ah! Aku tidak peduli karena kutahu dia baik-baik saja.

Rasa rindu membuncah di dada. Aku ingin pulang ke rumah lamaku. Tapi apa keluargaku masih tinggal disana?

Detik demi detik berselang, membentuk rangkaian menit dan jam. Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang ibu, Ayah, dan adikku Hasan. Tapi, ini pun sudah terlalu malam untuk mencari dimana keluargaku tinggal sekarang. Jadi  aku putuskan untuk mencarinya besok.

Fajar menyingsing di sudut cakrawala. Mentari menyapa ramah dan sinarnya mengintai dari balik awan-awan yang bergemelayut manja. Sepasang kakiku melangkah, menyusuri rute jalan menuju komplek Mabad II, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sebuah rumah sederhana bercat hijau berada di antara rumah yang lain. Itu adalah rumah dimana keluargaku tinggal sebelas tahun lalu, dan aku akan segera mengetahui apakah mereka masih tinggal disini atau tidak. Langkahku pun semakin mendekat dan mendekat. Kupercepat langkahku seirama dengan ritme jantung yang berdegup kencang. Akhirnya, aku pun tiba di depan pintu rumah ini. Hendak mengetuknya.

Tunggu. Keluargaku beragama Islam, jadi aku harus mengucapkan salam sebagaimana kebiasaan mereka. “Assalamu’alaikum!” sahutku seraya mengetuk pintu dengan nada beruntun, menggambarkan perasaanku yang kini meluap-luap.

“Walaikumsalam...” Seorang pria membuka pintu. Aku terperangah kaget. Aku mengenalinya walau waktu telah menampakkan cukup perbedaan. Dia Ayah!

“Ayah, ini Mentari!” ujarku setengah berteriak.

“Mentari? Mentari? Itukah kamu?” tanya Ayah menengok ke segala arah.

“Iya! Mentari disini!” Aku tidak mengerti kenapa Ayah seakan tidak melihatku.

“Kenapa kamu tidak pulang, nak? Ayah sangat merindukan kamu. Begitu pula ibumu dan Hasan! Itulah kenapa kami tidak pindah rumah, karena kami menunggumu! Sekarang ibumu di rumah sakit. Dia menderita tumor otak. Dokter bilang hidupnya sebentar lagi dan permintaan terakhirnya adalah ingin melihatmu pulang! Tapi, kamu dimana?”

“Mentari sudah pulang dan berdiri di depan Ayah..!”

“Dimana? Kenapa Ayah tidak melihatmu?”

“Ada apa, yah?” seorang anak muda berusia enam belas tahun muncul dari pelosok rumah. Aku tertegun, dia Hasan adikku. Terakhir kulihat dia masih kecil, masih sering merengek minta dibelikan es tung-tung. Kini, dia bahkan lebih tinggi dariku dan wajahnya sangat tampan, mirip Ayahnya.

“Hasan, Ayah mendengar suara kakakmu!”

“Apa?” pekik Hasan

“Sepertinya ada kakakmu disini!”

“Sudahlah, Ayah. Sekarang lebih baik kita menjenguk ibu di rumah sakit. Sakit kepala ibu kambuh lagi setelah kemarin keletihan berdiri di busway. Ibu pasti ingin kita berada di dekatnya,” kata Hasan.

“Iya, Ayah tahu! Tapi suara itu benar-benar nyata!” kata Ayah tidak kalah sengit.

“Ayah hanya berimajinasi. Tidak ada siapa-siapa disini!” ujar Hasan lalu mengangkat sebuah kardus aqua. “Andai saja kemarin aku membantu ibu membawa buku-buku jualan ini, ibu tidak akan selelah tadi malam hingga jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.”

Aku kaget bukan main. Apa mungkin ibu yang kemarin kubiarkan berdiri di busway adalah seorang wanita yang telah melahirkanku? Seorang wanita yang seharusnya aku panggil dia ibu? Kulihat kardus aqua itu, ada gambar bunga mataharinya... Aku langsung jatuh tersungkur. Air mataku tumpah seketika. Dadaku rasanya sesak. Sesak sekali!

“Koran…, Koran…!” Seorang anak muda mengayuh pedal-pedal sepeda ontel sembari melempar sebuah koran hangat ke teras rumah. Aku membaca beberapa baris berita di halaman pertama koran tersebut: Seorang gadis yang diduga bernama Vina (24) tewas semalam. Menurut saksi, awalnya gadis ini berteriak sendiri di tengah jalan hingga akhirnya sebuah mobil kijang menabraknya hingga tewas bersimbah darah…

Kuningan, 11 Mei 2010


Wuiihhh, Ada Mall yang Menjual Istri


Sebuah mall yang menjual istri, baru saja dibuka di sebuah kota. Di sana, laki-laki dapat bebas memilih istri.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

“Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI.”

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai. Setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut.

Diantara petunjuknya, Anda dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Lalu, seorang laki-laki pun pergi ke toko “istri” tersebut untuk mencari istri.

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 1 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada ALLAH. Laki-laki itu tersenyum,kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 2 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, dan senang anak kecil. Kembali laki-laki itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil dan cantik banget. “Wow,” ujarnya, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah laki-laki itu di lantai 4 dan terdapat tulisan Lantai 4 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil, cantik sekali dan suka membantu pekerjaan rumah. “Ya ampun!” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini : Lantai 5: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil,cantik banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis. Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012.000. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “istri”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat Anda. ^^

*Sumber: zilzaal.blogspot.com/foto: artikel muslimah

Senin, 01 September 2014

[Cerpen] Retak


Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan gerimis turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung. Mungkin itu satu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami. Dan barangkali dongeng tentang diriku bermula dari seorang pria bertopeng di dalam kepala.


Masih membekas jelas dalam ingatan, malam-malam raya yang haram dan tidak pernah kumubazirkan. Ibu dan ayah mungkin mencemaskanku semalaman ini. Namun peduli setan. Hawa panas kian menari-nari dalam tubuh, menyeretku lebih jauh dalam hasrat pemuasan nafsu dengan wanita-wanita diskotik setengah telanjang.


       Tetapi, malam-malam itu telah lama berlalu. Saat keringat dingin membanjiri seluruh tubuh dan mendadak otakku nge-blank. Aku jatuh tersungkur ke lantai diskotik yang dingin. Mengejang. Ingin rasanya membentur-benturkan kepalaku dan memecahkannya dalam satu ledakan. Kesakitan mendera, serasa gatal di setiap inci tubuh, ususku seperti diris-iris dan persendian terasa ngilu. Kudengar kembali teriakan-teriakan itu. Sumpah serapah itu… orang-orang menggoncangkan tubuhku yang mematung, menerawang kosong dengan air liur menetes-netes…


            Semenjak aku dilarikan ke rumah sakit dan panti rehabilitasi, semakin sering kudengar omelan si pria bertopeng itu. Aku ingin sekali berteriak mengusirnya, namun dia malah tertawa. Tertawa terbahak-bahak dengan perutnya terkocok-kocok. Dasar! Ia mungkin tidak akan puas menyakitiku hingga aku memecahkan kepalaku sendiri. Namun sepertinya aku hanya seorang pengecut dan tidak pernah berani melakukan itu.


            Malam kian merangkak naik. Orang-orang tidak melepaskan sorotan mata mereka. Aku membalas mereka dengan satu seringai, namun mereka sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin pulang. Pulang ke rumah, bertemu ibu dan ayah juga saudara-saudaraku.


            Malam kian purna. Langkahku kupercepat seiring detak jantung yang berdegup kencang. Mencoba kukumpulkan kenangan-kenangan yang berceceran dimana-mana. Di sudut-sudut kota Jakarta yang ditanami gedung-gedung angkuh, di luapan air sungai yang kelam, di taman-teman penuh embun bergelantungan, di lampu jalan yang remang-remang, ya… dimana-mana. Semuanya bagaikan puzzle-puzzle berserakan atau pita film yang terkoyak menjadi rekaman dongeng masa lalu yang kembali terulang. Ya, terulang mundur.


            “Ravio…” Aku menoleh dan kulihat sesosok wanita paruh baya membawa sekantung belanjaan. Rambutnya mulai memutih dan garis-garis keriput terlihat jelas di wajahnya ketika dia berjalan mendekat Wajah itu tiba-tiba menyesaki ruang kepala. Aku tidak bergeming laksana selaksa bisu.


            “Ibu…”


            “Ayo pulang!” sahutnya dengan senyuman.


            Waktu seakan berhenti berputar. Bayangannya seakan samar, namun mungkinkah dia ibuku? Kembali kucoba mengenalinya setelah sekian lama. Meskipun begitu, kakiku terus mengikuti bayangannya, terus sepanjang malam kian bergulir. Ia membawaku ke sebuah rumah.  Rumah dengan semak-semak belukar yang menjalar dan rerumputuan liar memanjang. Rumah ini berdebu. Saat melangkah masuk, entah kenapa ruangan ini menebarkan aroma duka dan luka penyesalan. Sementara wanita itu pergi menghilang ke dalaman rumah.


          Mataku masih nyalang, menelanjangi setiap sudut rumah yang begitu kelam  dengan debu dan sarang laba-laba. Seakan tiada yang mengurusnya. Sayup-sayup telingaku menyimak suara di tengah ruangan, aku mencoba mendekati sumber suara dan kulihat bocah SD bertubuh ringkih. Tampak terkembang layar kepayahan pada wajahnya setelah bermain playstation seharian. Ia tidur telentang di atas karpet dengan liur berleleran.


            Di pojok ruangan, kulihat seorang pria tua sedang membenarkan beberapa peralatan elektronik rumah ini yang mulai rusak. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari matanya di balik kacamata bundar itu. Aku tak ingin mengganggunya karena kupikir ia sedang serius membetulkan radio tua tersebut. Namun keterpakuanku padanya hanya membuatnya geram.


            Sayup-sayup dari lantai dua kudengar suara music menggema yang sedari tadi tidak berhenti. Oh, itu pasti dia. Dia tidak pernah keluar kamar semenjak diputuskan oleh pacarnya dan berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu rock di kamar. Aku tidak mungkin mengganggunya.

         
            “Ini telor balado kesukaan kamu, Vio…” Wanita itu memanggilku di ruang makan. Dengan sigap aku langsung menyambar makanan tersebut. Namun entah kenapa, masakannya tidak lagi seenak dulu. Tapi tidak apa-apa, perutku memang sejak tadi sedang lapar.

            “Enak gak?” tanyanya.


            “Enak bu. Tapi masih enakan yang dulu,” ujarku yang begitu teringat telor baladonya yang kumakan sewaktu SMA. Dulu telor balado ibu sambalnya yang mantap, bumbunya yang gurih dan kental. Tidak akan kulupakan meski telah bertahun-tahun tidak mencicipinya.


            “Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah pulang…” Wanita itu yang mungkin ibuku, dia membelai wajahku lembut seakan-akan aku ini anak laki-laki yang masih kecil… tunggu, berapa ya usiaku saat ini?


            “Berapa usiaku?”


            “23 tahun, sudah seharusnya kamu memiliki pekerjaan…”


            Aku terdiam hening. Aku tidak tahu pekerjaan apapun kecuali orang-orang di rumah sakit berbaju putih itu. Mereka menyebut diri mereka dokter.  “Aku ingin menjadi seperti mereka, dokter.”


            Ibu mengangguk. Ia pun menjabarkan apa yang harus kulalui untuk menjadi dokter. Namun, karena biaya kuliah kedokteran yang mahal maka akupun harus sedikit bersabar. Ayah akan berjuang untuk mengumpulkan uang demi aku kuliah. Tentu saja aku akan membantunya.


             Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu seterusnya hingga minggu dan minggu kian berganti. Hingga bulan demi bulan.


Setiap harinya kulihat Akmal selalu asyik bermain playstation, kalau sudah capek maka dia akan tertidur lelap terlentang sambil mendengkur dan liur berleleran. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan lain. Ibu tidak pernah memarahinya, begitu pula ayah. Tidak seperti dulu, rumahku benar-benar damai sekarang. Kak Risa mulai keluar dari kamarnya. Kabarnya dia sudah memiliki pacar baru yang benar-benar amat dicintainya. Namun akhirnya, Kak Risa jadi sering pulang dini hari.


           Ayah selalu keluar rumah pukul enam pagi karena ia harus bekerja hingga dzuhur. Ia adalah seorang insinyur mesin dan ahli fisika yang sangat andal. Sementara aku sendiri membantu ayah bekerja dengan menjadi kondektur busway. Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi toh waktu kerjaku hanya dari pukul satu siang hingga pukul tujuh malam. Setiap aku pulang, selalu ada ibu memasak di dapur.


            “Ayo makan…”


            Aku memakannya. Dalam satu suap, kurasakan masakan ibu tetap sama dan tidak pernah seenak dulu.


            “Enak gak?”


“Enak bu, tapi tetap tidak seenak yang dulu.”


Kulihat raut wajah sedih di muka ibu. Dia lalu mengambil buku catatannya dan menuliskan sesuatu di buku catatan itu. Aku penasaran dan berusaha mengintip tulisannya tapi ibu langsung menarik buku tersebut.


“Saat usiamu 21 tahun nanti, barulah kamu boleh membaca tulisan ini.


Aku terdiam. Bingung, berapa usiaku saat ini?


“22 tahun, kau seharusnya sudah lulus kuliah.” Ibu menjawab seperti membaca pertanyaan dalam kepalaku.


            Hanya mengiyakan kata ibu. Aku terlupa akan usiaku saat ini. Aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu yang sering kali tidak bisa kumengerti maknanya dan kehadirannya. Ingatan yang retak, mungkin itu yang kualami.


            “Aku ingin berkuliah seperti ayah kuliah. Bagiku ayah adalah orang yang hebat.”


            “Kalau gitu kamu harus belajar yang rajin. Saingan-sainganmu yang masuk teknik mesin itu orangnya pintar-pintar…”


            Benar kata ibu, orang yang masuk teknik mesin pasti sama seperti ayah. Mereka pintar-pintar dan tentunya aku harus rajin belajar.


Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu terus. Pagi itu dingin, kuluangkan mengerjakan soal fisika. Siang yang datar, kuhabiskan dengan mengerjakan soal kimia. Senja yang panjang, aku membaca buku Biologi, hingga malam yang purna tiba. Tanpa kusadari minggu demi minggu berganti hingga bulan demi bulan.


Suara ketukan pintu terdengar disusul wajah ibu di balik pintu.


“Vio… ibu bawakan telor balado kesukaanmu…”


“Masuk saja bu!”


Ibu pun berdiri di samping meja belajarku. “Anak ibu memang rajin,” ujarnya sambil menaruh nampan berisi telor balado di atas meja belajar. “Kamu kan sudah 21 tahun, emang belum punya pacar?” Tanya ibu.


“Pacar?”


“Besok-besok ikut Risa saja, siapa tahu kakakmu bisa mengenalkanmu dengan temannya. Ibu sudah tidak sabar bertemu dengan pacarmu.” Ibu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Keesokan paginya aku menaiki mobil sedan berwarna merah Kak Risa. Ia tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, mobil ini pasti dari pacarnya. Kudengar pacar Kak Risa kaya raya. Aku hanya mengikutinya ketika ia membawaku ke dalam sebuah tempat karaoke ternama di ibu kota. Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah sofa merah besar bersandar di dinding. Di depan sofa itu ada meja penuh bir di atasnya. Ruangan ini remang-remang dan aku hanya terduduk di sofa sementara Kak Risa terdiam menunggu pacarnya.


“Sebentar lagi pacarku datang, kau harus menyambutnya dengan baik ya… Nanti aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman cewekku juga.”


Tidak lama kemudian, seorang pria jangkung bertubuh ceking memasuki ruangan karaoke. Dari gaya pakaiannya sepertinya ia pasti anak orang kaya.


“Wisnu, ini adikku namanya Ravio…” ujar Kak Risa menunjukku. Aku langsung bangkit dari kursi sambil menjulurkan tanganku untuk kenalan. Pria itu melihatku dengan sorotan mata yang sangat aneh. Ia tertawa melihatku.


“Kamu bercanda ya?” tanyanya pada Kak Risa.


“Bercanda? Aku hanya ingin mengenalkan kamu pada adikku…”


“Adikmu yang mana?”


Kak Risa menarik tanganku. Kali ini pria itu jelas-jelas melihatku.


“Dia ini adikku…!”


“Ada apa sih ini?” Tanya pria itu tidak mengerti.


“Namaku Ravio, aku adik Kak Risa. Bang, katanya abang punya banyak kenalaan cewek?” tanyaku berani membuka suara.


Pria itu mendesah kesal. “Hentikan permainan ini!”


“Kau tidak suka aku membawa adikku?”


“Apa kau gilaa?!” bentak pria itu membuatku naik pitam. Aku langsung meraih kerah bajunya dan melihatnya matanya tajam-tajam. Itu membuatku merasa berkuasa.


“Kau bilang kakakku apa?!” bentakku memelototinya. Membuat mataku dan matanya hanya berjarak beberapa centi.


“Ris, kau kenapa? Apa kau bukan lagi gay?” Tanya pria itu membuatku bingung. Apa dia baru saja memanggilku Risa? Atau menyebutku gay? Aku tertegun… sekelebat ingatan muncul dalam benakku begitu saja. Kenyataan-kenyataan perih yang membuatku ingin melarikan diri dari dunia. Ingatan tentang ruangan itu, topeng, darah, dan mayat-mayat. Pria itu pergi. Begitu pula Kak Risa yang entah sejak kapan sudah tidak ada dalam ruangan. Hanya aku sendiri.


Deg! Pria bertopeng itu kembali muncul dalam kepalaku membuatku tersungkur di dinginnya lanta. Ia menyakitiku dengan menusuk-nusuk kepalaku dengan sebuah belati. Ia ingin membunuhku. Rasanya ingin sekali kupecahkan kepala ini dalam satu ledakan daripada mendengarkan sumpah serapahnya.  Dalam satu embusan napas, membutuhkan waktu bagi untuk menyedot tenaga lebih besar dan jantung memompa lebih kencang.


“AAAARRGGGGHHHHHHHH…………….!!! KAU DIAAAAM!!! DIAAAAMM….”


Sumpah serapah kulontarkan. Pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan. Kebentur-benturkan kepalaku dengan sekuat tenaga ke ujung meja hingga darah mengucur ke lantai. Namun pria bertopeng itu tetap tidak ingin pergi. Tawanya kian membahana mengacak-ngacak isi kepalaku.


Aku merangkak keluar dari karaoke. Kubiarkan pria bertopeng itu muncul kembali dalam kepala. Dengan jalan gontai dan darah yang terus mengucur, kuikuti samar-samar jalan pulang di tengah malam yang kian larut. Orang-orang di sekelilingku terdiam. Bermacam-macam raut wajah mereka pasang. Darah berseliweran, menjadi jejak tersendiri.


Sementara, waktu kulampui dengan terus berjalan, tapi nampaknya aku tengah hilang arah. Yang kudengar hanyalah bisikan angin dan liukan hawa dingin kian mencekam. Kuperhatikan lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram.


Kuteruskan perjalanan, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung angkuh yang mencekam.  Kuperhatikan embun bergelantungan di taman yang remang… kuperhatikan luapan air sugai yang kelam. Kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Lagi-lagi, gerimis turun, mengguyur tiap sendi perkotaan. Aku pejamkan mata… terbuai aroma darah menelusuk raga. Sebelum akhirnya, semuanya gelap…...............


“…..bagaimana?”


“Trauma mendalam di masa lalu. Sepertinya ada ingatan yang tidak ingin dia terima mengakibatkan gangguan disosiasi.”


“Lalu?”


“Kami harus memanggil seorang psikiater.”


Mataku mengerjap-ngerjap dan silau sinar ruangan ini jatuh ke pelupuk mata. Kulihat tubuhku terbaring tak berdaya di sebuah kamar di rumah sakit. Beberapa orang berkemeja rapih tampak mengelilingiku ditambah dengan seorang wanita keturunan Chinese dengan baju jas hitam dikuncir ke belakang. Kini semua sorot mata a melihatku dengan terkejut. Tapi tak satupun dari mereka yang aku kenal.


“Pak Anwar… bapak baik-baik saja?” Tanya pria tersebut. Tampaknya dia lebih tua dariku, kenapa memanggilku pak? Dan Anwar… itu kan nama ayahku.


“Saya menemukan bapak pingsan dekat toko milik saya. Ini, buku yang selalu bapak bawa kemana-mana. Saya tidak berani membukanya pak…”


Aku melihat buku bersampul hitam itu. Itu buku catatan ibu… Ibu pernah bilang agar aku tidak membacanya kecuali di saat yang tepat. Buku ini terlihat begitu dekil apalagi guyuran hujan yang mungkin membuat beberapa halaman tintanya jadi sedikit meluber dan pinggiran-pinggiran bukunya yang sobek. Buku ini kupangku dan kubuka halaman pertamanya. Ternyata ini buku diary bertanggal. Kubaca buku diary ini dengan saksama… Anehnya diary ini bertanggal mundur. Semakin belakang justru tulisan yang lebih dahulu ditulis.


Ini adalah kumpulan diary ibu, ayah, Akmal dan Kak Risa. Cukup lama aku membaca diary mereka satu persatu. Tidak ada yang tulisan dari diriku sendiri.


Kubuka halaman demi halaman…. Lagi, lagi dan lagi. Ternyata beberapa halaman diloncat.


Sampai akhirnya aku melihat bercak darah di bagian tengah buku. Bau busuk terpancar menelusuk hidung…. Membuat perutku berputar. Namun rasa penasaran membuatku ingin membaca halaman selanjutnya… Tulisannya berantakan… buru-buru dan sepertinya tulisan ini sudah sangat lama ditulis oleh penulisnya. Tidak ada tanggal di tulisan ini…. Tapi kutahu dari gaya bahasanya… tulisan ini seperti bersuara. Memunculkan sekelebat bayangan hingga kulemparkan buku tersebut…


“AAArrrgggahh….”


“Kenapa pak? Kenapa teriak?”


Pria bertopeng… pria yang menulis halaman-halaman terakhir buku itu. Pria bertopeng yang selama ini bersarang dalam kepalaku dengan sumpah serapah dan pisau belatinya, kini ikut hadir dalam kamar rumah sakit.

Tahun 2022 Negara Israel Musnah



Tahun 2022 Negara Israel musnah dari muka bumi adalah kesimpulan dan bukan analisa politikus, bukan pula paranormal, akan tetapi Nubuaat Qur'aniyah hasil kajian nilai kemu'jizatan Quran dari sisi perangkaan, dari sisi rahasia jumlah huruf-hurufnya, atau kalimat-kalimatnya atau ayat-ayatnya. Maka sebelum masuk dalam kesimpulan judul di atas, kita perlu mengingat akan sisi kemu'jizatan Quran dalam masalah ini. 

I’jazul Quran (Kemu’jizatan Alquran) dari segi angka.

Ijazul Quran maksudnya adalah keluarbiasaan Alquran sehingga orang-orang kafir tidak mampu menentangnya dan membuat yang setara dengannya meskipun dengan menyatukan kemampuan dan kehebatan mereka yang pandai berargumentasi dan berbahasa.

Macam-macam I’jazul Quran:

1.      I’jaz dari sisi kefasehan dan keindahan bahasa.
2.      I’jaz dari segi ilmiyah.
3.      I’jaz dari segi ilmu psykology.
4.      I’jaz dari segi jumlah dan angka.

I’jazul Quran dari segi jumlah  atau angka.

Yang dimaksud dengan I’jazul Quran dari segi jumlah dan angka adalah kesesuaian dan ketepatan pada jumlah dan angka-angka dalam Al-quran seperti penggunaan jumlah angka atau huruf tertentu dalam Al-Quran, seperti suatu kata dipakai sekian kali, atau suatu huruf dipergunakan sekian kali dan seterusnya.

Perbedaan Pendapat  Tentang I’jazul Quran Segi Jumlah atau Angka.

Kelompok yang menentang.

1.      Bagi mereka yang menentang atau tidak menerima adanya I’jazul Quran dari sisi jumlah atau angka ini berpendapat bahwa jenis ini termasuk hal baru yang tidak pernah ada sebelumnya
2.      Berlebih-lebihannya mereka yang berupaya menggali sisi kemu’jizatan Quran dalam menghitung jumlah kata atau huruf-huruf Al-Quran.
3.      Kelompok-kelompok sesat seperti Rosyad Kholifah dan Baha’i yang menggunakan jumlah dan angka-angka dalam Quran.

Kelompok Pendukung.

Adapun para pendukung dan menerima kemu’jizatan Quran dari sisi jumlah dan angka-angka berdalil bahwa dengan tidak adanya dalil yang mengharamkan penelitian Al-Quran hingga jumlah kalimat-kalimatnya dan  ayat-ayatnya serta huruf-hurufnya. Tentu kita tidak boleh mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan olehNya.

Contoh-contoh Kemu’jizatan Quran Segi Angka atau Jumlah

Penyebutan dua kata yang berlawanan  dengan jumlah yang sama banyaknya yaitu:
Kata لآخرة   (Hari Akhir) sebanyak 115 kali dan kata الدنيا    (Dunia) sebanyak 115 kali
Kata الملائكة  (Malaekat) sebanyak 88 kali dan kata الشيطان  (Syetan) sebanyak 88 kali
Kata الموت  (Kematian) sebanyak 145 kali dan kata الحياة  (Kehidupan) 145 kali juga.
Contoh lain adalah kesamaan atau kesesuaian jumlah angka-angka yang ada dalam Al-Quran seperti:
Kata (شهر) bulan disebut dalam Al-Quran sebanyak 12 kali sejumlah bulan dalam setahun
Kata (أيام ) hari dg bentuk plural (mutsanna dan jama’) sebanyak 30 kali, sesuai dengan jumlah hari-hari dalam sebulan.
Kata (يوم) hari dengan bentuk singular sebanyak 365 kali, dan bukankah setahun itu 365 hari? Allohu Akbar.

Contoh lain:
Abu Bakr Al-Warroq menceritakan: Allah SWT membagi malam-malam Romadhon dengan rangkaian kata-kata Surat Al-Qodar, dan pada malam ke dua puluh tujuh memberi isyarat: “mengulang penyebutan ليلة القدر  tiga kali, kalimat tersebut jumlahnya sembilan huruf maka berjumlah 27 (dua puluh tujuh). Dan menceritakan juga bahwa Ibnu Abbas ra mengatakan: ليلة القدر  itu sembilan huruf dan disebutkan tiga kali, sehingga totalnya 27 (dua puluh tujuh).

Contoh lain:
Surat Annaml (Semut) adalah surat ke 27 sesuai urutannya dalam Mushaf, jumlah ayatnya ada 93 (sembilan puluh tiga), surat ini dimulai dengan dua huruf yaitu (ط – س)  bila anda sudah memperhatikan ini berikut analesanya: Huruf ط di dalam surat ini disebutkan 27 (dua puluh tujuh) kali, perhatikan nomer surat ini sesuai urutannya dalam Mushaf, dan huruf ( س )  di dalam surat ini disebutkan sebanyak 93 (sembilan puluh tiga) kali, sesuai dengan jumlah ayat-ayatnya bukan?

Contoh lain lagi:

Surat Annahl (Lebah) adalah surat ke 16 sesuai urutan Mushaf, dan para ilmuwan menyampaikan penelitiannya bahwa jumlah cromosome lebah jantan itu ada 16 cromosome.

Contoh lain:
Kata النحل   (labah) tidak disebut di dalam Al-Quran kecuali di dalam surat Annahl dan itu di dalam ayat ke 68 yang berbunyi: " وأوحى ربك إلى النّحل أن اتخذي من الجبال بيوتاً ومن الشجر ومما يعرشون".  Dan bila anda teliti ayat ini dari awal sampai akhir akan anda dapatkan ayat ini terdiri dari 16 huruf, iya jumlahnya 54 huruf namun terdiri dari 16 huruf saja yaitu: (ا،ب،ج،و،ح،ي،ك،ل،م،ن،ع،ر،ش،ت،خ،ذ).
Bila kita perhatikan lagi surat Annah ini, jumlah ayatnya ada 128, adapun jumlah kata pada ayat terakhirnya ada 8 kata. Bila 128 dibagi 8 maka kita dapatkan angka 16.

I’jazul Quran Tentang Usia Negara Yahudi.

Muhammad Ahmad Arrosyid dalam bukunya “Tatanan Dunia Baru” menyebutkan: Saat diumumkan berdirinya negara Isra’il tahun 1948 M, seorang nenek yahudi datang kepada bundaku dengan menangis, ketia ibuku bertanya kepadanya tentang apa yang menyebabkannya menangis saat orang-orang Yahudi pada umumnya berpesta pora dia menjawab: Sesungguhnya berdirinya negara Yahudi akan menjadi sebab dibantainya Yahudi, kemudian ia mengatakan bahwa “negara ini akan berlangsung selama 76 tahun”.

Dalam naskah kuno yang tersembunyi disebutkan bahwa Isra’il akan berusia 76 tahun (4 X 19) dengan kepastian tahun hitungan bulan (qomariyah), karena Yahudi dalam agamanya menggunakan bulan qomariyah, dan biasa menambahkan pada setiap 3 (tiga) tahunnya satu bulan untuk penyesuaian dengan tahun syamsiyah. Dan maklum bahwa tahun 1948 M itu adalah bertepatan dengan tahun 1367 H. Bila demikian halnya maka Negara Israil akan berlangsung 1367 + 76= 1443 H dan tahun tersebut bertepatan dengan tahun 2022M.

Surat Isro’ yang disebut juga Surat Bani Isro’il mengisyaratkan bahwa Bani Isro’il melakukan dua kali perusakan di tanah suci, dan perusakan tersebut dilakukan secara sosial atau dengan istilah sekarang dalam bentuk bernegara karena tanpa itu kata ولتعلن علوا كبيرا  dan sungguh kalian berada pada posisi tinggi setinggi-tingginya, dengan kesombongan yang besar.

وَآتَيْنَآ مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلاَّ تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلاً
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
فَإِذَا جَاء وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُواْ خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali(^) dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." atau (Berkedudukan tinggi setinggi tingginya)

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Surat Bani Isroil: 2 – 7

Perusakan pertama telah berlalu sebelum Islam datang, adapun perusakan ke dua beberapa kajian menyimpulkan adalah ketika berbentuk negara yang berdiri di Palestina pada tahun 1948M. Setelah dikaji kata "وعد الآخرة"  hanya disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yang pertama saat menceritakan tentang perusakan kedua yang dilakukan Bani Isra’il yaitu di ayat ke 7, dan yang ke dua ketika bercerita tentang perusakan itu sendiri yakni sebelum akhir surat Bani Isro’il ini pada ayat 104

Atas dasar hal tersebut di atas, bila kita menghitung jumlah kata dari awal ayat yang bercerita tentang berita ini yaitu: "وآتينا موسى الكتاب"  Ayat: 2 hingga akhir ayat yang memberitakannya yaitu: "فإذا جاء وعد الآخرة جئنا بكم لفيفا" Ayat: 104  niscaya kita dapatkan jumlah kata yang ada sebanyak 1443 kata, dan angka tersebut adalah merupakan bilangan tahun ( 1367 + 76) = 1443 H sebagaimana kesimpulan kita di atas.

Ulama sepakat bahwa Isro’ dan Mi’roj Nabi terjadi setahun sebelum hijrahnya beliau saw, yakni tahun 621 M, berdasarkan ijma’ ulama’ ini, bila benar pemberitaannya maka ajalnya negara Isra’il  adalah tahun 1443 H, hal ini karena jumlah tahun qomariyah dihitung sejak diturunkannya pemberitaan (Surat Bani Isro’il)  hingga tahun lenyapnya negara Isra’il adalah 1444 tahun, karena Isro’ Mi’roj itu terjadi setahun sebelumnya.

Nabi Sulaiman As wafat tahun 935 S.M, kemudian terbelah negara Isra’il setahun setelah beliau wafat, dan perpecahan inilah perusakan pertama yang disebutkan di awal Surat Bani Isra’il, adapun akhir perusakan keduanya atau terakhirnya diperkirakan pada tahun 2022 M bertepatan pada tahun 1443 H.

Jumlah tahun dihitung sejak mulainya perusakan pertama hingga peristiwa Isro’ dan Mi’roj adalah sebagai berikut: 935 S.M + 621 M (tahun peristiwa Isro’)= 1556 tahun syamsiyah. Yang mengejutkan kita terkait dengan angka 1556 adalah bilangan kata yang ada dalam Surat Bani Isro’il.

Kemudian bila kita menghitung jumlah huruf dari awal Surat Saba’ (Surat yang menceritakan tentang kematian Nabi Sulaiman As) hingga akhir ayat ke 13 yakni sebelum menceritakan tentang wafatnya beliau adalah berjumlah 934 huruf, kemudian disambung dengan huruf (ف)  yang fungsinya menertibkan dan mengurutkan. Huruf ini bersambung dengan kata (لما)  yang memastikan waktu wafatnya beliau sehingga totalnya 935 huruf. Dan yang menakjubkan dengan ini adalah bahwa 935 adalah tanggal wafatnya Nabi Sulaiman As.

Setelah bercerita tentang wafatnya Nabi Sulaiman As pada ayat 14 dalam Surat Saba’ ini, ayat berikutnya langsung bercerita tentang kisah Saba’: "  لقد كان لسبأ في مَسْكَنهم آية..." dan cerita berlangsung hingga ayat ke 21. Apabila huruf-huruf setelah huruf (ف)  dalam firmanNya: " فلما قضينا عليه  الموت " kita hitung hingga akhir ayat ke 21, maka totalnya ada 570 huruf. Dalam kitab Al-Munjid disebutkan bahwa hancurnya bendungan Ma’rib Saba’ adalah tahun 570 M. Atau akhir negeri Saba’ adalah tahun 570 M. Dan ketika 570 huruf setelah huruf ( ف )  adalah berarti 570 tahun setelah masehi, maka 935 huruf sebelumnya berarti 935 sebelum masehi, sehingga dengan demikian telah kita tegaskan tahun wafatnya beliau As pada tahun 935 M.

 Kembali ke Surat Bani Isro’il, bahwa setiap kata berarti satu tahun, perhatikan setiap akhir setiap ayatnya yang diakhiri dengan pemisah sebagai berikut: (وكيلاً، شكوراً، نفيراً، لفيفاً... ) dan seterusnya, jumlahnya ada 111 pemisah, namun ada beberapa yang sama atau disebut berulang, dan apabila yang berulang itu kita hapus maka jumlahnya tinggal 76 pemisah, semoga kita ingat akan umur negara Israil dengan hitungan tahun qomariyah.

Surat Isro’ bila kita perhatikan secara cermat jumlah kata pada setiap ayatnya, maka akan kita dapatkan ada 4 ayat saja yang jumlah “kata”nya ada 19, sehingga totalnya: 76 = (4X19)

Sekarang, mari kita lihat ayat ke 76 surat Bani Isro’il, firmanNya:

وَإِن كَادُواْ لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الأَرْضِ لِيُخْرِجوكَ مِنْهَا وَإِذًا لاَّ يَلْبَثُونَ خِلافَكَ إِلاَّ قَلِيلاً

Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.(^)

(^) Maksudnya: kalau sampai terjadi Nabi Muhammad saw. diusir oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah.  

Kita dapati setelah kata (قليلا)  adalah angka nomor urut ayat 76, dan bukankah angka 76 isyarat akan ajalnya negara Isra’il?

Ayat 76 membicarakan tentang pengusiran penduduk dari sebuah negeri, dan tentang masa keberadaan orang-orang kafir setelah mengusir. Adapun yang kita bahas disini adalah tentang jumlah tahun eksistensi negeri Isra’il setelah berdirinya di tanah maqdis sesudah mengusir penduduknya darinya.

Mungkin ada yang berkomentar bahwa ayat tersebut berbicara tentang pengusiran Muhammad Rosulullah saw? Jawabannya: benar, namun ayat berikutnya berbunyi:

سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً

(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu(^) dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.)

Ayat ini menjelaskan bahwa sunnah (hukum Allah yang berlaku) pada setiap masa,  masa lalu, sekarang dan yang akan datang yang tidak akan berubah.

Hal lain lagi, bagi yang melakukan perenungan terhadap Surat Isro’, lebih husus lagi pada bagian-bagian akhir akan tahu bahwa Surat ini bercerita tentang kemenangan mereka yang berada pada jalan yang dikaruniai nikmat Allah dalam menghadapi mereka yang dimurkai serta tersesat. Tampaknya juga kemenangan ini menghantarkan kepada perubahan besar dalam realita kehidupan seperti posisi terhormat yang disinyalir oleh lafadh ayat: الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِين  (sebuah negeri yang Kami berkahi untuk semua manusia ) yaitu tanah Palestina.

Kesimpulan ini membawa kita untuk menghitung ayat-ayat setelah Al-Fatihah karena juga berbicara tentang " صراط الذين أنعمت عليهم، غير المغضوب عليهم، ولا الضالين " hingga awal Surat Isro’ yang isinya kemenangan jalan yang haq. Hasil penjumlahan seluruh ayat-ayat sejak awal Surat Al-Baqoroh hingga akhir Surat Annahl atau awal Surat Isro’ adalah 2022 ayat. Allohu Akbar, anda ingat tentang tahun 2022 dimana tahun tersebut bertepatan dengan tahun 1443 H?


Hal lain lagi yang perlu kita perhatikan adalah, Surat Isro’ atau Bani Isro’il adalah surat ke 17 dalam Mushaf Al-Quran, surat ini bercerita tentang lenyapnya perusakan yang dilakukan Yahudi di tanah suci, dan setelah kita lihat Surat berikutnya nomer 18 adalah Surat Al-Kahfi, dimana di dalam Surat ini diceritakan tentang kisah Musa As bersama Khidhir namun tidak sedikitpun menyinggung Zionis atau Bani Isro’il . Namun dalam kisah ini kita peroleh informasi di mana pertama kali kita dapatkan seorang Rosul harus menjadi pengikut, sehingga hal ini dapat menjadi isyarat  dan peringatan lain bagi orang-orang Yahudi pasca lenyapnya negara mereka dan kemampuan merusak mereka di tanah suci, bahwa mereka harus tunduk sebagaimana tunduknya Musa As kepada Khidhir As. Maka ambillah kebenaran dari pemiliknya, toh orang tidak binasa karena mengikuti kebenaran dan siapa yang dipilihNya karena IlmuNya. Dan yang terakhir ini tampaknya adalah korelasi antara dua surat, Al-Isro’ dan Al-Kahfi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...