Beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya di komentar postingan blog yang berjudul "10 Logika Penangkal Pacaran Islami". Karena pertanyaannya cukup unik dan menantang, bahwa apakah tidak pacaran=munafik? Maka aku ingin membalasnya di postingan yang baru. Mudah-mudahan ini jawaban yang cukup memuaskan.
PERTANYAAN
assalaamu'alaikum akhii wa
ukhtii yang Insyaaa ALLAAH senantiasa dirahmati oleh AllaaH...
ada yang mau ana tanyakan nih akh/ukht.....
ada salah satu temen ana ngomong seperti ini :
"Kl org2 yg setuju sm pndpat pacaran=haram,tp sbner ny dihati ny pgn bgt bwt pcaran,kepikiran trus pgn pnya pcr dsb,tp di mulut ny blg ga mw pcran atw anti pacaran,brati org2 ni bsa disebut MUNAFIK???
Atw yg setuju pacaran=haram tp ttp pcran,dsebut MUNAFIK donk???
Krn mnrt kamus besar bahasa indonesia,munafik tu
mu.na.fik
[a] berpura-pura percaya atau
setia dsb kpd agama dsb, tetapi
sebenarnya dl hatinya tidak; suka
(selalu) mengatakan sesuatu yg
tidak sesuai dng perbuatannya; bermuka dua.
coba skrg pilih
1.ga pake pacaran,jd kl mw nikahin lgsg lamar
2.pake pacaran sblm ke jenjang prnikahan
Kl ane jjur aj plih yg no 2.sesuai kta hati (ga munafik) :))".
kesimpulannya, dia lebih mengutamakan hawa nafsu sebagai jalan satu-satunya supaya gak dianggap orang munafiq.....na'uudzubillaaHi mindzaalik.
naah jika ada pertanyaan dan pernyataan seperti itu, apa jawaban terbaik untuk menanggapinya ???
syukron jazakumullaaHu khairan katsiiron
ada yang mau ana tanyakan nih akh/ukht.....
ada salah satu temen ana ngomong seperti ini :
"Kl org2 yg setuju sm pndpat pacaran=haram,tp sbner ny dihati ny pgn bgt bwt pcaran,kepikiran trus pgn pnya pcr dsb,tp di mulut ny blg ga mw pcran atw anti pacaran,brati org2 ni bsa disebut MUNAFIK???
Atw yg setuju pacaran=haram tp ttp pcran,dsebut MUNAFIK donk???
Krn mnrt kamus besar bahasa indonesia,munafik tu
mu.na.fik
[a] berpura-pura percaya atau
setia dsb kpd agama dsb, tetapi
sebenarnya dl hatinya tidak; suka
(selalu) mengatakan sesuatu yg
tidak sesuai dng perbuatannya; bermuka dua.
coba skrg pilih
1.ga pake pacaran,jd kl mw nikahin lgsg lamar
2.pake pacaran sblm ke jenjang prnikahan
Kl ane jjur aj plih yg no 2.sesuai kta hati (ga munafik) :))".
kesimpulannya, dia lebih mengutamakan hawa nafsu sebagai jalan satu-satunya supaya gak dianggap orang munafiq.....na'uudzubillaaHi mindzaalik.
naah jika ada pertanyaan dan pernyataan seperti itu, apa jawaban terbaik untuk menanggapinya ???
syukron jazakumullaaHu khairan katsiiron
JAWABAN
Walaikumsalam
Warrahmatullahi Wabarakatuh
Akh Muhammad Nazar, yang
juga senantiasa dalam perlindungan Allah insyaa Allah.
rasa tertarik dan rasa
suka pada lawan jenis itu kan fitrah bagi manusia. Allah. menjadikan indah
pandangan kita pada lawan jenis (Ali-Imron: 14) , Tapi yang perlu diperjelas
disini,TIDAK PACARAN BUKAN tergolong orang munafik. Rasanya temen antum itu
harus lebih banyak mengkaji kajian keislaman lagi sebelum dia menafsirkan makna
hadits.
أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ومن كانت
فيه خلة منهن كانت فيه خلة من نفاق حتى يدعها إذا حدث كذب وإذا
عاهد غدر وإذا وعد أخلف وإذا خاصم فجر
"Ada empat perkara jika sesiapa yang mempunyai empat perkara tersebut, maka dia merupakan orang munafik. Sesiapa yang bersifat dengan salah satu daripadanya bererti dia bersifat kemunafikan, sehinggalah dia meninggalkannya iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila membuat persetujuan dia mengkhianati, apabila berjanji dia menyalahi dan apabila berlaku pertikaian dia melampaui batas" [Hadith Sahih Riwayat Muslim]
Agaknya hadits tentang ini
sudah sering antum dengar kan??
Jadi munafik BUKAN: Jika
berkeinginan atau berhasrat, tapi tidak memenuhi hasratnya itu. Naudzubillah!!
"Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus menerus" (Al-Qiyamah: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kehendak/keinginan manusia adalah memang untuk bermaksiat. Karena bukankah jalan bermaksiat itu lebih mudah dibandingkan jalan untuk beribadah dan bertakwa???
Jika bertakwa(tidak pacaran)=Munafik, maka
untuk apa diturunkan Al-Quran sebagai peringatan? Andaikan seluruh hasrat dan
isi hati manusia itu baik, maka tidak perlu diturunkan Al-Quran pun manusia
akan selalu melaksanakan kebaikan. Tapi nyatanya TIDAK (Zaman Jahiliyah, manusia
malah menyembah Berhala), Al-Quran itu diturunkan untuk membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk.
"Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan hawa nafsu mereka, tentu
kerusakan dan kejahatan akan merajalela di muka bumi dan, tentu,
keinginan itu akan saling bertentangan. Akan tetapi, Kami menurunkan
al-Qur'n kepada mereka yang mengingatkan pada kebenaran yang diakui oleh
semua orang. Tetapi, meskipun demikian, mereka tetap menolaknya" (Al-Mu'minun: 71)
Studi kasus
#1, hasrat manusia itu
ingin tidur pulas di malam hari. Tapi Allah menyuruh bangun di sepertiga malam
untuk sholat tahajud. Betul kan? Berarti apakah manusia yang sholat malam
(Tidak menuruti hasrat dan keinginannya untuk tidur lagi) disebut orang
munafik?
#2, hasrat manusia itu
ingin makan enak, minum segar di siang hari. Tapi Allah menyuruh puasa di bulan
Ramadhan, puasa sunnah senin Kamis, puasa sunnah Daud, Bulan Muharram, dan
Dzulhijah. Jadi apakah mereka yang taat puasa (tidak menurut hasrat hatinya
untuk makan enak dan minum segar), disebut orang munafik juga??
#3, hasrat manusia itu melihat lawan jenis indah di pandang, melihat boyband dan girlsband Korea itu keren2 dan cantik2. Tapi Allah membenci perbuatan manusia mengikuti orang-orang kafir. Memuja-mujanya berlebihan dan mengikutinya. Makanya tiket konser bisa habis dalam semalam lebih dari puluhan ribu lembar. Sementara pengajian bisa dihitung jari. Makanya surga letaknya di atas, karena sulit dicapai. Dan Neraka di bawah, karena ada hukum gravitasi, dimana manusia cenderung lebih suka jalan yang mudah ke neraka.
Terlepas dari itu, Islam itu sudah mudah tanpa harus dipermudah. Contoh, Allah membolehkan tayamum jika tak ada air, Allah membolehkan sholat dijamak jika diperjalanan, Allah pun membolehkan pernikahan untuk menjaga diri dari fitnah dan membina keharmonisan dalam bahtera yang halal. Dan masih banyak lagi kemudahan Islam yang lain.
Dan semua
perintah Islam itu adalah untuk kebaikan seluruh umat. Sehingga saya sudah telanjur terpesona dan kagum dalam konsep Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Sebaiknya, para pelaku
pacaran yang justru tidak boleh munafik ketika ditanya: “Bukankah pacaran
membuang waktu? Membuang uang? Menguras pikiran? Dan lebih banyak madhorot
daripada manfaatnya?”










