Minggu, 03 Juni 2018

OpenCon 2016 Jakarta

Oktober 2016. Hari itu adalah hari saat satelite event Open Con 2016 Jakarta diadakan. Penyelenggara dari event ini adalah Komunitas Peneliti Muda UNJ, Event ini adalah satelite event dari konferensi utama yang sudah diadakan di Washington DC pada November 2016. Penyelenggara konferensi di Belgia itu sendiri adalah SPARC dan juga The Right to Research Coalition.
Konferensi ini bertemakan "Bringing Students Together by Mainstreaming Open Education, Open Access, and Open Data" karena memang, tujuan utama dari konferensi ini adalah me-mainstream-kan tiga fokus utama tersebut: data terbuka, pendidikan terbuka, dan akses terbuka.
Pembicara tamu dalam event ini adalah para pakar dibidangnya, antara lain Joseph McArthur sebagai Asisten Direktur The Right to Research Coalition. Dengan jumlah panitia sebanyak 20 orang, dan jumlah peserta sebanyak 200 orang.
Penulis sendiri yang merupakan penanggung jawab, juga sekalius moderator dalam konferensi tersebut.
 








 

Kamis, 31 Mei 2018

Cara Diterima OpenCon di Kanada (FAQ)


OpenCon 2018 akan diadakan musim gugur di Toronto Kanada bekerjasama dengan York University, Ryerson University, and the University of Toronto. Dan aplikasi akan dibuka pada tanggal 12 Juni 2018 seperti dalam pengumuman https://www.opencon2017.org/opencon_2018_announced.

Tahun ini saya adalah juri dan panitia penyelenggara OpenCon 2018 di Toronto, Kanada. Insyaa Allah, saya dan tim kecil OpenCon (15 orang) akan menilai ribuan aplikasi yang masuk dari seluruh dunia untuk bisa menentukan siapa saja partisipan tahun ini yang akan hadir di OpenCon 2018 dengan scholarship (travel, accommodation and registration fee covered).

Sebelum itu, berikut beberapa pernyataan yang paling sering dilontarkan tentang diterima OpenCon dengan scholarship.

Saya apply beberapa kali semenjak beberapa tahun yang lalu, tapi selalu ditolak. Saya penasaran, jangan-jangann memang tidak ada yang diterima!

Saya apply tahun 2015 dan 2016 dan saya ditolak. Tahun 2017 saya berhasil diterima untuk OpenCon 2017 di Berlin, Jerman dengan scholarship. Tapi karena satu dan lain hal, saya tidak berangkat untuk menghadiri eventnya secara offline. Sebagai ganti tidak hadir yang Berlin, saya datang ke rapat komunitas di Nepal: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia. Meski bukan itu poinnya, poinnya adalah saya diterima shortlisted sebagai peserta OpenCon 2017 di Berlin setelah dua kali gagal tahun 2015 dan 2016. Bahkan tahun ini saya adalah panitia!

Lalu bagaimana agar bisa diterima? Kalian harus lebih banyak research mengenai kriteria peserta yang diinginkan melalui websitenya. Pertama, mungkin kita perlu memahami dulu apa itu gerakan Open Access, Open Data, dan Open Education. Dan memahami sekadar konsepnya saja sebenarnya sangat mudah jika kita melakukan sedikit research, googling, dan banyak membaca. Ini tulisan di website:
Attendance at the meeting is by application only, and the majority of past participants have received full or partial travel scholarships. Each year, most participants are first-time attendees and are selected from a pool of thousands of qualified candidates through a community-run review process based on the likelihood that their participation will translate into impact.
Kedua yang paling penting, kita tidak bisa menghadiri event ini karena kita ingin hadir secara individu lalu membuat impact di event tersebut. BUKAN. Ini adalah tentang membuat impact secara remotely (jarak jauh) di komunitas kita sendiri. Jika masih awam dengan gerakan “openess”, langkah pertama, kita bisa menyelenggarakan OpenCon Satellite Event di kota kita sendiri. Caranya mudah, tinggal apply https://www.opencon2017.org/satellite, tunggu di-ACC, adakan event-nya, lalu berikan report-nya ke panitia!

Foto saya ketiga paling atas, di Berlin Jerman sebagai host satellite event. Tapi tidak hadir.
Ketiga. Secara aktif mempromosikan gerakan Open Access, Open Data dan Open Education. Jika sudah paham tentang Open Access, Open Data, dan Open Education. Temen-temen akan tahu ternyata sudah banyak banget loh komunitas di Indonesia mempromosikan gerakan ini sejak lama! Misalnya DOAJ indonesia, DOAR Indonesia, Open Access Indonesia, maupun Open Science Indonesia dsb.
.
Kita perlu aktif untuk mempromosikan gerakan Open melalui media sosial atau komunitas. Tapi ingat, niat perlu dibenahi kembali. Jangan bergabung organisasi-organisasi di atas karena ingin diterima OpenCon dan jalan-jalan gratis keluar negeri seakan itu semua hanya batu loncatan, melainkan karena memang tulus #EaTulus ingin membuat impact secara remotely, bergabung dengan komunitas Open, dan mempromosikan Open di daerah masing-masing maupun lewat media sosial.

.
Keempat, teman-teman bisa gabung dengan OpenCon Community Call dan Librarian Community Call (daftar di halaman bawah https://www.opencon2017.org) yang diadakan minimal 1-2 kali dalam sebulan sepanjang tahun. Teman-teman bisa langsung gabung dengan komunitas dimanapun dan terbuka untuk siapa saja!! Di sana ada para juri, organizer committee, pembicara, dan juga komunitas opencon se-internasional. Kalau temen-temen aktif diskusi, pastinya dilirik juri dan organizer committe gak sih? Do a little bit research and be active!

Tahun 2015 dan 2016, aplikasi saya ditolak OpenCon. Tapi saya tetap mengadakan OpenCon Satellite Event di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016 tersebut. Sampai juri mengenal saya, “oh anak ini bukan karena ingin gabung dengan main eventnya, tapi karena memang ingin gabung dalam komunitas dan membuat impact.”. Sayangnya, rata-rata applicants hanya ingin hadir di main event-nya, bukan membuat impact di komunitas.

Juri sudah mengetahui siapa yang akan dipilih nih!

Setiap tahun, mayoritas peserta adalah first-time attendees atau baru pertama kali hadir OpenCon. Bahkan bukan hanya peserta yang diregenerasi, juri dan panitiapun di regenerasi! Jadi kami tidak tahu siapa yang akan dipilih.

Jika ada kenalan yang hadir di OpenCon beberapa kali, itu karena dia hadir bukan sebagai peserta lagi yang daftar lewat aplikasi secara online, melainkan sebagai panitia, juri, atau pembicara dalam diskusi panel. Misalnya jadi pembicara; dia mereport hasil output dari tahun lalu dan bagaimana perkembangan gerakan open access sepanjang tahun di negaranya setelah idenya di-pitch di tahun sebelumnya.


OpenCon ini platform yang unik dan berbeda dari event-event lainnya. OpenCon memberdayakan komunitas dan peserta secara nyata, bahkan peserta tahun lalu yang benar-benar ingin berkontribusi akan diregenarasi bukan lagi menjadi peserta, melainkan menjadi panitia. Dan setiap tahun panitia dan peserta berganti.

Well, ini yang saya lakukan, mencari regenarasi setidaknya untuk peserta dari Indonesia. Hehehe.

Saya ilmuwan dan saya ditolak beberapa kali meski isi kualifikasi saya keren. Saya rasa mungkin event ini terlalu keren dan diperuntukkan untuk orang-orang keren saja.

Beberapa applicants sudah menempuh pendidikan S2 bahkan S3nya dan hasil penelitian mereka sudah dipublish di jurnal-jurnal internasional. Tapi seringkali mereka merasa heran ketika kualifikasi diri mereka ternyata tidak cukup membuat mereka sukses dalam mengisi aplikasi OpenCon.

Saya rasa setiap orang itu adalah orang keren, tidak peduli status pendidikan mereka selama tertarik dalam open access dan open data. Mayorita yang diterima OpenCon bukanlah mereka yang hanya ingin menghadiri OpenConnya saja, melainkan motivasinya karena ingin menjadi bagian dari komunitas dan mempromosikan Open Access, Open Data dan Open Education secara berkesinambungan ke depannya.

Mengacu pada pertanyaan pertama lagi ya, tulus. Ea tulus.. Bukan kita ingin sukses dari OpenCon, melainkan kita mensukseskan gerakan open access, open education dan open data. Dan mengacu pada jawaban kedua: Bukan tentang siapa yang paling pintar atau paling memahami apa itu Open Access, tapi siapa yang paling ingin berkontribusi.


Teman-teman bisa kunjungi https://www.youtube.com/user/R2RCvideo bagaimana orang-orang ini mempromosikan open access, open data, dan open education. Selain itu juga teman-teman bisa bergabung dengan komunitas yang sudah ada di negara masing-masing, misalnya Open Access Indonesia dsb. Cukup dengan kunjungi website www.opencon2017.org kalian bisa tahu siapa yang sudah menjadi bagian dari OpenCon. 


Karena kemungkinan pembaca orang Indonesia, ya saya sih kasih tahu aja, kalau itu saya... hehehe. Teman-teman bisa kirim email ke qonitamaryam@gmail.com untuk menanyakan teknisnya lebih lanjut cara bergabung dalam komunitas Open Access Indonesia. Meski gak harus daftar Open Access Indonesia untuk diterima OpenCon, tapi itu satu jalan untuk teman-teman gabung komunitas. Wish you the best luck for this year's application.




Selasa, 08 Mei 2018

S2 Jerman di-Defer Karena Masalah ANABIN?


Pada postingan kali ini saya mau bicara masalah pendaftaran S2 yang lebih spesifik, jadi gak melulu soal IELTS maupun TOEFL ITP. Postingan ini mungkin bakal berguna banget buat temen-temen yang S1 di Indonesia dan mau daftar S2 ke perguruan tinggi di Jerman. Cerita sedikit awal kenapa saya mendaftar perguruan tinggi di Jerman dan kenapa ANABIN itu PENTING BANGET sekaligus RIBET BANGET.

Saya sendiri awalnya gak pernah terpikir untuk daftar S2 ke Jerman. Saya selalu berpikir untuk mendaftar ke negara yang penduduknya mayoritas berbahasa Inggris; khususnya Amerika. Sampai setelah wisuda S1 September 2017 lalu, ummi dan abi bilang kalau mereka gak ngizinin saya kuliah S2 di luar negeri khawatir saya terjerumus pergaulan bebas. Terus saya iya-in orang tua, mendaftar kuliah studi lanjut Profesi di Universitas Indonesia.

Saya hafal ortu saya, gak bisa dipaksa gitu aja kalau komunikasi, perlu pelan-pelan... Pada akhirnya, menjelang hari-hari ujian masuk UI, malam-malam saya nyelinap masuk kamar ortu terus saya bilang pas ummi lagi ngelipetin baju dan abi lagi main sama cucu, “Mi, yang di UI itu bukan S2 loh, tapi itu profesi. Kalau mau lanjut S3, ya harus ambil S2 lagi dulu.”

Terus ummi bilang, “Ya atuh percuma kalau gak bisa S3!”. Ummi saya adalah satu dari segelintir ibu yang lebih mendorong anaknya harus kuliah sampai S3.

Saya, “Kenapa gak sekalian dimana sumber ilmu Psikologi analisis murni berasal, mi? Kalau Amerika kan sumbernya Psikologi terapan dan ummi abi gak ngizinin, kalau di Jerman sumbernya Psikologi Analisis. Lagian disana banyak banget ikhwahnya mi, Deta gak lepas liqo deh.”

Eng ing eng... akhirnya dibolehin deh daftar di perguruan tinggi luar negeri! Tapi saat itu cuma Jerman aja negara yang boleh; mengingat banyak persaudaraan muslimnya (ikhwah). Yang penting boleh kuliah S2 ke Luar negeri. Horee...

Terus karena satu dan lain hal, saya akhirnya pindah jurusan setelah menelaah lebih jauh tentang jurusan dan universitas yang saya inginkan di Jerman: Master of Science in International Health (MScIH), Charite Universitatmedizin Berlin.



MScIH di Charite adalah satu-satunya jurusan kesehatan internasional tapi  minta pelamar S2 berlatar belakang Psikologi untuk penyuluhan tentang kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan psikologi (contoh: pendidikan seks, HIV, dsb). Ditambah lagi saya punya minat dan pengetahuan mengenai Keluarga Berencana.

Saya telaah lebih jauh... saya makin pengen masuk Charite gara-gara universitas ini adalah universitas kedokteran terbesar di Eropa dan bekerjasama dengan universitas kedokteran terbaik di dunia: John Hopkins University. Mengingat 120 Under 40 Global Family Planning Leader (diadakan oleh John Hopkins) yang saya ikuti kemarin menyuruh saya ikut nominasi kembali tahun 2019, it would be perfect jika saya punya afiliasi dengan Charite. Perfeeect semuanya!! Aaaa....


Intinya, ini adalah universitas paling perfect yang sesuai dengan kemauan saya dan kemampuan (saya memenuhi persyaratan semuanya). Maret 2018, semua aplikasi lengkap saya kirimkan ke admission committee untuk intake November 2018. Setelah berbagai proses, saya juga sudah mendapat sponsor yang siap membiayai kuliah dan akomodasi saya 80 juta rupiah untuk semester pertama. Serius, saya udah dapat sponsor. Jadi gak harus menunggu beasiswa DAAD ataupun Erasmus dulu untuk bisa berangkat tahun ini.

Sampai akhirnya saya dapat balasan cukup baik dengan funding statement, motivation letter, CV, professional experience, dsb... kecuali... tulisan horor yang satu ini:

“For the accreditation: the German Ministry of Education only recognizes those degree courses from the Universitas Negeri Jakarta  that are accredited by the “accreditation council BAN-PT”, and Sarjana Psikologi is not on its list.”
What? What? What??? Saya kan masih bingung terus saya tunggu beberapa minggu dan German Ministry of Education belum juga menjawab email dari Charite admission committe-nya. Terus karena saya gak bisa diem aja gitu kan, lalu saya kontak German Ministry of Educationnya sendiri lewat email. Terus mereka bilang, mereka tidak bertanggung jawab untuk masalah akreditasi dan tidak tahu menahu soal hal tersebut.

Terus saya bingung kan masalahnya dimana, lalu setelah kesasar masuk di grup whatsapp “Sekolah di Jerman”, saya langsung menceritakan masalah saya secara panjang lebar dan seseorang  menjawab “jurusannya gak masuk database ANABIN itu.”

Terus dia ngasih link video ini yang akhirnya bermanfaat banget:

ANABIN: Pastikan Gelar Akademis Kamu diakui di Jerman

Jadi saya berkunjung ke situs http://anabin.kmk.org nya dan nyari-nyari jurusan Psikologi UNJ. Akhirnya ketahuan deh masalah saya, situs ANABIN-nya (situs rujukan pendidikan tinggi di Jerman) gak update. Sepertinya terakhir BAN-PT meng-update situs ANABIN adalah sebelum tahun 2008 ketika jurusan Psikologi UNJ masih bernama Psikologi Pendidikan, sebelum akhirnya dihapuskan diganti namanya jadi Psikologi aja.

Parah banget gak sih, jurusan saya dikirain sebagai jurusan ecek-ecek padahal Psikologi UNJ dapat akreditasi A dari BAN-PT. Dan selama situs ini gak update, saya dan adik-adik kelas saya takkan ada yang bisa melanjutkan pendidikan di universitas manapun di Jerman, tak peduli status kita apa, anak presiden kek, anak orang terkaya sedunia kek, kalau jurusan tak terakreditasi di ANABIN, kita takkan bisa melanjutkan studi di Jerman.

Kalau ditanya yang salah siapa? Saya juga tidak tahu. Tapi ini jelas bukan tanggung jawab saya sebagai pelajar/alumni, melainkan pekerjaan institusi yang berwenang untuk akreditasi. Tapi kalau masalah administrasi ini terjadi, ya mau gimana lagi, kita gak bisa hanya duduk dan nonton aja kan???

Lalu apa yang saya lakukan? Saya mengikuti saran-saran dari video di atas. Tapi mungkin penjabaran dokumennya lebih banyak disini (setelah melalui birokrasi nan panjang menuju langit biru~).



Dokumen 1: Sertifikat & SK Akreditasi BAN-PT bukti kampus terakreditasi.

Saya minta sertifikat dan SK Akreditasi BAN-PT mengenai jurusan saya. Ini cerita yang panjang, karena sertifikat akreditasi jurusan saya baru aja kadaluarsa 1 April 2018. Sementar pas saya minta dokumennya adalah tanggal 3 April 2018 (H+2 kadaluarsa). Sementara itu, dokumen akreditasi yang baru masih berada di tangan wakil rektor 1 bidang akademik. Ketika saya kesana mendapat perintah dari fakultas, mereka menolak untuk memberikan dokumennya tersebut karena dokumen baru aja tiba dari BAN-PT. Barulah beberapa hari kemudian (setelah proses birokrasi + ttd konco-koncone) mereka mempostingnya di website.

Dokumen 2: 2 Surat Pengantar Wakil Rektor Bidang Akademik. 1 untuk BAN-PT dan 1 untuk ANABIN.

Kampus saya ini 250 KM jauhnya dari kampung halaman dan saya tidak memiliki tempat tinggal lagi di Jakarta. Seluruh sahabat saya udah menikah dan rumah saya dijadikan kontrakan. 3 hari di jakarta luntang-lantung ngabisin jutaan rupiah, saya meminta surat pengantar dari kampus untuk ke BAN-PT dan ke ANABIN. Setelah 2 hari meminta tanda tangan dekan, hari ketiga wakil rektor menolak tanda tangan sampai ada rapat Divisi Pengembangan Kampus, wakil dekan 1 dan juga wakil rektor 1. 7 hari kerja, barulah dokumen ditandatangani.

Lampiran yang diperlukan untuk mendapatkan surat pengantar rektor adalah:

  • Dokumen email diprint perbincangan dengan admission committe universitas Jerman.
  • Dokumen berisi halaman screenshot bukti jurusan tidak terakreditasi di ANABIN.
  • SK Pengangkatan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta.
  • Surat pengantar dari fakultas.
Setelah mendapat surat pengantar dari kampus, kita juga perlu mendapat dokumen selanjutnya dari BAN-PT.

Dokumen 3: Surat Pengantar direktur BAN-PT ke ANABIN yang mengonfirmasi jurusan kita terakreditasi oleh BAN-PT.

Jadi waktu itu saya ke BAN-PT mengobrol dengan mbak-mbaknya. Kata mbak-mbak staf di BAN-PT, beberapa dokumen ini diperlukan untuk mendapatkan surat pengantar direktur yang ditujukan ke ANABIN:
  • Surat pengantar wakil rektor ke BAN-PT terkait permohonan konfirmasi ke ANABIN.
  • SK Akreditasi dan sertifikat akreditasi jurusan sebagai lampiran.
  • Foto kopi ijazah pemohon (kasusnya kita sebagai pemohon).
  • Surat pengantar dari kita sendiri ke BAN-PT.
  • Fotokopi KTP
Semua dokumen ini bisa dikirimkan via pos, langsung ke kantor, maupun email ke alamat BAN-PT Indonesia. Karena masalah ini sudah sering, biasanya pelamar mengajukan dokumen dalam bentuk email. 7 hari kerja mereka barulah mendapat surat pengantar yang langsung ditandatangani direktur BAN-PT.

Berikut alamatnya BAN-PT:

Gedung II Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Lt, 17. Jl. M.H. Thamrin 8, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. 10340
Nomor telepon: 62213169609
Email: sekretariat@banpt.or.id


Lalu setelah itu kumpulkan semua dokumen ini:

  1. Foto kopi SK Akreditasi dan sertifikat BAN-PT tentang akreditasi jurusan.
  2. Surat pengantar rektor untuk ANABIN.
  3. Surat pengantar direktur BAN-PT untuk ANABIN.
  4. Surat pengantar diri sendiri untuk untuk ANABIN.
  5. Fotokopi paspor.

Lalu kirimkan semua dokumen itu kesini lewat Pos Indonesia maupun DHL:

KULTURMINIZTER KONFERENZ Zentralstelle für ausländisches Bildungswesen (ZAB) im sekretariat der Kulturminizeterkonferenz Graunheindorfer, Str. 157 53117 Bonn.

Jika sudah mendaftar di salah satu universitas, seperti kasus saya misalnya, coba hubungi admission officernya dan kirimkan file scanning dokumen-dokumen tersebut lewat email. Mereka akan berusaha mempercepat proses update akreditasi dengan pihak KMK Anabin-nya.

Pengurusan ini bisa berbulan-bulan lamanya guys. Mbak Findri (yang share pengalamannya melalui vlog pengurusannya bahkan mencapai 6 bulan). Jadi jika sampai universitas kalian tidak terdata di ANABIN karena ANABIN-nya gak update padahal universitas kalian bukan sekolah ecek-ecek, tentu kalian bisa memilih menyerah daripada melalui semua proses ini dan mendaftar selain di Jerman. Atau kalian bisa memilih untuk tidak menyerah dan menyelesaikan masalah perintilan ini hingga tuntas.




Saya juga beberapa kali minta menyerah sama ummi sih sampai pernah nangis kecapean karena merasa percuma; jutaan rupiah dihabiskan bulak-balik Jakarta Kuningan, biaya tiket kereta dan tempat tinggal, juga panas-panasan dibawah sengatnya sinar mahatahari ibu kota, pada akhirnya saya tahu aplikasi saya akan ke-defer juga alias tertunda intake-nya. Tapi kata ummi, “Jangan mikirin uang, namanya juga ikhtiar harus dilakukan semaksimal mungkin...”

Kalau kalian masih S1 (tingkat 3 atau 4) dan berencana melanjutkan studi S2 di Jerman, saran saya, kalian harus persiapkan dari sekarang. Jika ANABIN belum update dengan jurusan kalian karena jurusan sempat ganti nama, baru didirikan, baru diakreditasi, dsb, kalian bisa urus setidaknya dari sekarang. So aplikasi kalian gak akan ke-defer (kayak saya) atau malah tertolak.

Sebenarnya, saya sempat mengusahakan intake 2018 sih, tapi endingnya saya nyerah juga karena belum ada balasan dari KMK ANABIN-nya. Terus saya bilang ke admission officer-nya, saya intake 2019 aja. Hehe. Lalu ini balasannya dari admission officer Charite University-nya:

Hi Maryam! I’ll make a note that you defer your application to 2019, and I’ll be happy to assist with the accreditation process if I can.

Well Done! OFFICIAL! I finished! I did my job very well and the result is up to God.


 
Mengingat saya juga daftar LPDP, Australia Awards, Erasmus, dan banyak lagi universitas-universitas di luar negeri karena dah dibolehin ortu, pengurusan dokumen penuh birokrasi nan panjang antara ANABIN, KAMPUS dan BAN-PT mungkin tidak jadi begitu useful bagi saya jika saya diterima di universitas lain selain Charite. Tapi setidaknya itu memudahkan adik-adik kelas saya jika ingin melanjutkan studi S2 ke Jerman. Dan makanya, saya menulis tulisan ini, biar minimal pengalaman saya terasa bermanfaat buat orang lain, meski untuk saat ini belum terasa manfaatnya bagi saya pribadi. Hmm...

My IELTS Preparation in 2 Months

Hello everyone, I am gonna take IELTS Exam by British council on 30 June 2018, Inshaa Allah. I have a plan to study hard during these 2 months preparation. As I promised, I would like to write a post if my Exam result is above 6.5 and this plan probably gonna useful in the future. At least it helps me to monitor my progress and prevent me from being lazy.

1 - 6 May 2018 : Six days watching Game of Thrones session 1 – 7 with english subtitle.

Speak in English in my everyday life.

Online Course edX IELTS Academic Test Preparation by UCQ.

Estimating IELTS Score through IELTS Free Online Test by British Council.

Practice book: The Official Cambridge Guide to the IELTS.

Practice book: Cambridge IELTS Practice Test Series 9 – 12.

Practice book: Barron IELTS Practice Exam Newest Edition

Everyday, read some news from The Economist, The Guardian, New Scientist, Science Focus, The Jakarta Post, dan BBC World News.

Everyday listening to the BBC Radio and TED Talk.

Free Lesson IELTSLiz.com and learn every essential tips.

Watching all IELTS video from Engvid.com.

Attending IELTS Online Course – oleh British Council & Future Learn.

Speaking and listening practice through Elllo.org

Other book checklist (Optional):


IELTS Listening Recent Actual Test 1, 2, 3

IELTS Reading Recent Actual Test 1, 2, 3, 4


Visual Writing about Graphs, Tables, and Diagrams.

Essay writing for English Test.

High-scoring IELTS writing model answers.

Cambridge Grammar for IELTS.

The Complete Solution for IELTS Speaking Test.

Barron's writing for the IELTS.

Selasa, 01 Mei 2018

Cara Meningkatkan Skor TOEFL 50 poin dalam Sebulan

Cara meningkatkan skor TOEFL - Tulisan ini ditulis dari pengalaman pribadi saya meningkatkan skor TOEFL ITP resmi ETS secara drastis dalam waktu sebulan, yang tadinya 527 menjadi 573. Well, mungkin gak drastis-drastis amat sih, tapi itu skor yang wajar didapatkan jika cara belajarnya tepat. Bukan cuma TOEFL, skor IETLS kemungkinan akan setara seperti itu. Kalau teman-teman berusaha dengan waktu yang lebih panjang, tentunya peningkatannya akan lebih tinggi lagi. Saya pribadi ngerasa, belajar sebulan itu sangatlah tidak maksimal karena beberapa materi yang saya lewati. Target saya awalnya 600, tapi saya berhenti belajar TOEFL karena mengejar IELTS. Insyaa Allah 2 bulan lagi, kalau nilai saya di atas 6.5, akan saya share disini pengalaman saya :D
 
Antara Februari dan April, saya 1 bulan off belajar TOEFL. Jadi bersih 1 bulan belajar sungguhannya.

Pertama, pelajari bagian paling lemah terlebih dahulu (Kalau saya structure & written expression).

Ketahui kelemahan kalian dari TOEFL ITP, apakah listening, reading, atau grammar (structure and written expression)? Pelajari dulu dari yang terlemah atau dianggap paling sulit, baru yang dianggap paling mudah.

Untuk mengukur nilai TOEFL, teman-teman bisa mengikuti beberapa TOEFL simulation/preparation yang diadakan beberapa kursus bahasa Inggris di Indonesia. Namun, pahamilah bahwa skor TOEFL preparation bukanlah skor TOEFL sesungguhnya dan tidak bisa digunakan untuk mendaftar beasiswa (LPDP, Australia Award, atau Fulbright). Selain itu, skor TOEFL preparation juga selalu jauh lebih mudah daripada tes TOEFL resmi dari ETS dan listeningnya lebih lambat. Tapi setidaknya ini membuat kalian terbiasa dengan suasana tes TOEFL.


Saya sendiri sudah beberapa kali mengambil TOEFL preparation dan 2 TOEFL resmi. Saya paling lemah di Grammar, biasanya nilai Structure Written Expression (Alias Grammar) saya tidak jauh-jauh dari 450-an bahkan di TOEFL preparation!
Skor TOEFL Preparation saya
Nah, kuncinya adalah pelajari bagian paling lemah atau paling dianggap sulit terlebih dahulu. Buku yang saya rekomendasikan adalah The Complete Guide to The TOEFL Test sebagai panduan belajar Grammarnya selanjutnya adalah Practice Exercises TOEFL BARRON 6th Edition dan latihannya bisa ditambahakn dari 4 latihan Peterson TOEFL Practice (Gak harus dari Peterson juga bisa sih, selama paket soalnya standar TOEFL ITP). Dalam satu bulan gak usah intip-intip buku lain deh, saya rekomendasikan dua buku ini aja dulu dab 4 latihan soal. Kebanyakan? Well, dari pengalaman saya, selama kalian memprioritaskan TOEFL dan disiplin, selalu ada waktu buat istirahat koq. Hehe.

Prioritas wajib diselesaikan dan dipahami: The Complete Guide to The TOEFL Test.


Skor saya paling meningkat disini, dari 460 ke 570 (110 poin), jadi temen-temen gak ragu kan sama saran saya? Hehehe. Kenapa kita perlu untuk meningkatkan bagian tersulit dahulu? Karena penting untuk merasa percaya diri saat mengerjakan soal. Lalu beberapa hari sebelum tes dapat mereview ulang materinya tanpa merasa otak kosong melompong.

Well, saya udah belajar bahasa Inggris 15 tahun semenjak saya kelas 3 SD. Dan satu buku ini (yang notabene dipelajari hanya dalam 1 bulan) telah mengalahkan grammar yang udah dipelajari 15 tahun!


Lalu setelah menyelesaikan buku The Complete Guide to the TOEFL Test, saya ke latihan soal Barron dan juga Peterson. Nah di tiap soal, saya menulis tipe grammar apa yang salah dalam soal latihan itu. Misalnya ada soal nomor 28 mengenai penggunaan proper atau properly, terus setelah saya jawab, saya tulis di samping soalnya: “word form: tentang penggunaan adverb atau adjective” seperti itu.  Lalu di structure, ada soal yang diawali oleh kata “not only” berarti ini kondisi aturan kata khusus dalam bahasa Inggris yang disebut inversion. Terus saya tulis disamping soalnya “word order: inversion”. Jadi bukan pakai feeling, tapi memang tahu aturan-aturan khususnya.

Structure and Written Expression jangan pakai feeling. Kalau kalian pakai feeling, kemungkinan nilai kalian disini akan mentok di 500-an sebanyak apapun kalian latihan soal. Kenapa? Karena banyak banget soal jebakan yang menggunakan irregular form dari adverb, irregular form dari adjective, inversion, non-count noun, irregular plural, jebakan antara gerund atau infinitive, dsb.  Nah, soal-soal ini adalah soal-soal “kondisi khusus” atau pengecualian aturan dalam grammar yang biasanya kalau pakai feeling malah salah. Jadi pelajari konsep grammarnya secara menyeluruh. Jangan yang basic saja.


Selanjutnya, pelajari kedua yang dianggap tersulit (Kasus saya reading).

Di sela-sela belajar structure written expression (sebelum saya khusus belajar reading), saya mengistirahatkan diri dengan membaca buku-buku favorit saya dalam bahasa Inggris yaitu buku The Hunger Games, The Catching Fire dan juga Harry Potter and the Philoshopers Stone. Saya istirahat, tapi saya belajar reading juga tanpa sadar. Tadinya mau baca Harry Potter 1-7 sampai habis, tapi gak ada waktunya. Ebook-ebook ini bisa kalian peroleh gratis di internet.


Sebenarnya gak harus banyak sih, dalam sebulan satu buku juga cukup selama kalian disiplin meluangkan waktu kalian “istirahat sambil belajar”. Dari ketiga buku di atas, yang saya baca full hanya “The Catching Fire” karena mindblowing banget plot-twistnya Suzanne Collin.

Setelah saya selesai belajar structure written expression selama 2 minggu, saya meluangkan waktu saya belajar reading satu minggu. Lagi-lagi rekomendasi saya adalah The Complete Guide to the TOEFL test. Hehe.


Latihan skimming (menangkap main point) dan scanning (menemukan keyword detil) itu penting. Scanning adalah bagaimana menemukan keyword yang dicari dalam hitungan detik (2-3 detik). Lalu baca kalimat yang mengandung keyword dan jawab dgn kemantapan hati. Jangan tergoda untuk baca terlalu panjang, karena itu bisa tricky dan menjebak. Kecuali kalimat yang mengandung keyword blum menjawab, baca satu kalimat sebelum dan sesudahnya saja.

Bakal banyak juga pertanyaan tersirat yang biasanya pertanyaannya gini “What does the the passage imply?", ini adalah kemampuan membaca kalimat "tak terlihat" antar kalimat. Orang-orang bilang ini adalah tipe soal tersulit di reading, akhirnya saya ngulang-ngulang latihan soal ini terus selama 7 hari itu.


3 hari dalam 7 hari saya khususkan untuk menambah vocabulary. Kuasai 500 vocabs wajib yang perlu dikuasai di reading. Di The Complete Guide sudah mencantumkan beberapa, tapi gak ada salahnya juga kalian lebih banyak searching di Google dgn keyword “toefl must words”. Biar vocabs kalian makin banyak. Terus hafalkan dengan metode imajinasi dan cerita, ingatan kalian meningkat 10 kali lipat!! Youtube how to memorize fast and easily.


Selanjutnya, belajar yang paling mudah (kasus saya listening).

Karena saya cukup bagus di listening (maklum, sering ngobrol online sama bule ehem!) jadi saya gak belajar listening sama sekali kecuali satu hari untuk menghafal idiom atau peribahasa dalam bahasa Inggris. Sisa seminggunya lagi? Balik lagi ke grammar! Hehehe. Ada syukurnya sih saya lemah di grammar, jadi saya berani ngobrol sama bule tanpa mikirin aturan grammar.

Karakter favoritku, Dany dari Game of Throne aja gak mikirin grammar. wkwk.
Tapi well ini yang saya sengaja lakukan sblm mendapatkan listening 580 (paling tinggi dari semuanya meski tidak belajar):

1.      Nonton serial CTV amerika The Good Doctor (satu hari satu episode) tanpa subtitle.

2.      Nonton serial HBO Game of Thrones (season awal-awal) subtitle bahasa Inggris. Btw, favorit saya Daenerys Targaryan tapi saya gak rekomendasiin kalian nonton ya, karena banyak adultery part-nya. Di luar adultery part, banyak banget yang bisa ditonton dan wow.

3.      Nonton Harry Potter 1-7 tanpa subtitle.

4.      Hafalin idiom.

5.      Latihan soal secara menyeluruh (listening, structure written, dan reading) dalam paket soal Peterson.

Jadi yang saya lakukan kebanyakan nonton, terus hafalin idiom-idiom khusus misalnya “a stone’s throw from” yang artinya “not so far atau close to” atau “under the weather” yang artinya “kinda ill” dsb.

Tapi andaikan nih saya lemah di listening, saya akan mempelajari buku The Complete Guide dan aturan-aturannya dalam listening. Seperti misalnya homonym, similar sound, bagaimana cara fokus dan membedakannya. Selain itu kita perlu memahami berbagai tipe soal, mulai dari di dialog ad  kontradiksi, penolakan, saran, pengulangan, dsb dan kita cukup fokus pada speaker 2. Jadi kalau speaker satu terlewat, gak apa-apa. 90% jawaban biasanya ada di speaker 2.


Listening The Complete Guide bagus karena dialognya cepet seperti tes ETS (bule ngomong sambil makan krupuk maicih), Barron bagus karena soal listeningnya susah-susah (bahkan short dialog bisa yang harusnya cuma 4 line, di Barron bisa 12 line). Terkadang soal tes ETS TOEFL bisa gabungan kesulitan dari kedua buku ono. Gak gitu juga deng, tapi pengalamanku biasanya ada satu dua soal kayak gitu.

Extended conversation, kalau saya sih menempatkan diri saya di si cewek dari percakapan. Lalu membayangkan teman saya yang bicara sebagai laki-lakinya. Jadi itu lebih mudah. Beberapa peserta ada yang menutup mata, saya hanya mengubah posisi duduk saya yang sudah saya program di otak “setiap saya duduk begini, saya akan fokus dan saya masuk ke dalam cerita extended conversation” gitu.

Sementara untuk short lecture, saya mewajibkan diri saya mendengar kalimat pertama dari short lecture tersebut. Lalu setiap kalimat selanjutnya lebih rileks, fokus, dan mengaitkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya untuk menangkap setiap makna tersirat. Well, itu memang bukan tugas mudah apalagi kalau short lecturenya udah ngomongin istilah-istilah yang gak kebayang di otak.


Hmm.. satu tips jitu deh dari saya untuk listening: THINK IN ENGLISH. BERPIKIR DALAM BAHASA INGGRIS. Misalnya gini, short lecture mau dimulai, saya berpikir.. “the short lecture is going to start, from the items I read, I think its gonna about how previous people move heavy things like pyramids in pra-colonial era...  ok, Maryam... focus... ~~

Yaa... berpikirlah dalam bahasa Inggris, jadi otak kalian gak kerja dua kali untuk menerjemahkan listening yang kalian denger ke bahasa Indonesia lalu baca lagi jawabannya dalam bahasa Inggris lalu terjemahin lagi ke Indonesia.... Padahal listeningnya cepeeet banget kayak bule makan kripik maicih. Mempelajari bahasa Inggris dengan menerjemahkannya di otak adalah jalan panjang nan menyakitkan. Solusinya, banyakin nonton tanpa subtitle deh. Jitu!


Ringkasnya cara meningkatkan skor TOEFL 50 poin dalam sebulan adalah:

1.      Ambil TOEFL Preparation Test dan ukur kekuatan dan kelemahan.

2.      Pelajari dulu bagian yang dianggap paling sulit dan hasil paling lemah.

3.      Pelajari dan kerjakan soal buku The Complete Guide to The TOEFL Test.

4.      Belajar dari buku Practice Test TOEFL BARRON 6th Edition.

5.      Perbanyak latihan soal (standar TOEFL ITP).

6.      Untuk reading, baca buku-buku berbahasa Inggris yang disukai.

7.      Latihan skimming dan scanning cepat, latihan menangkap makna tersirat (inference, imply) dan kuasai minimal 500 vocabulary yang sering muncul di test TOEFL.

8.      Untuk listening, perbanyak tayangan televisi atau film berbahasa inggris tanpa subtitle atau dengan subtitle bahasa Inggris. Tanpa subtitle lebih baik.

9.      Ketahui cara terbaik agar diri bisa fokus dan tenang saat listening.

10.  Pelajari idiom-idiom yang sering digunakan dalam short dialog.

11.  Kuasai masalah teknis seperti cara membedakan homonym, similar sound juga bagaimana biasanya similar sound tidak muncul dalam pertanyaan tentang inference question.

12.  Saat short dialog, fokus pada speaker kedua.

13.  Berpikirlah dalam bahasa Inggris.

You Might Also Like
Free Download Ebook IELTS + Audio Lengkap
14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional
Tips Mendapatkan Sponsor Keluar Negeri

Mei 2018 Wishes List


Latihan soal IELTS Official Cambridge Reading, listening, speaking, writing.

Menyelesaikan novel Indonesia Terakhir.

Memulai bekerja mencari pemasukan dan mengisi waktu luang (Oktober 2018 terkumpul 10 juta)

Membuat proposal Open Con Jakarta 2018

Murojaah Quran juz 1.

Membuat proposal rangkaian seminar KB di Kuningan

Menyelesaikan urusan situs anabin antara BAN-PT dan kampus.

Mendaftar 10 program fully funded keluar negeri.

Mendaftar 5 program beasiswa keluar negeri.

Menulis 10 artikel bermanfaat di blog.

Rajin sholat dhuha, bangun subuh, dan sholat malam.

Lebih rajin direct selling ASYIK dan gak absen liqo.


Senin, 23 April 2018

Kilas Balik ICFP 2016, Mengapa Bisa Diterima?


Tulisan ini ditulis dalam rangka memotivasi teman-teman yang ingin mendaftar ICFP 2018 di Kigali, Rwanda. Deadline pendaftaran Youth Video Contest adalah 21 Mei 2018. http://fpconference.org/2018/youth/

ICFP 2016 atau International Conference on Family Planning adalah konferensi paling besar dan bergengsi dalam bidang keluarga berencana. Dari tahun ke tahun, 3000 hingga 4000 peserta hadir dalam konferensi ini dan 80% peserta adalah bule. Termasuk di antara pembicara adalah para pembuat kebijakan dunia dan para pejabat tinggi negara. Nama yang terkenal misalnya Pak Jokowi, Pak Habibie maupun Melinda Gates. ICFP ini sendiri dari tahun ke tahun diadakan oleh John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Bill & Melinda Gates Foundation.


Waktu itu saya terpilih mewakili Indonesia sebagai moderator. Konferensi ini adalah konferensi pertama dan fully funded yang saya ikuti sebelum akhirnya banyak mengubah hidup saya secara drastis. Saya mendapat fasilitas tiket PP pesawat garuda, kamar VIP hotel bintang 5 termahal di Bali selama 6 malam, uang saku 2.5 juta rupiah, dan biaya pendaftaran konferensi 400USD atau 6 juta rupiah. Btw itu juga pertama kalinya saya naik pesawat. Hihi.



Jadi sebelum itu, saya melihat pembukaan pendaftaran seleksi videonya di opportunitydesk.org. Tapi saya bingung mengisi aplikasinya karena saya merasa tidak aktif dalam berbagai bidang mengenai keluarga berencana. Biasanya kan kita denger KB itu apa sih? Dua anak cukup, kan?

Lalu ketika saya pulang, saya sempat curhat ke ummi kalau saya ingin mendaftar konferensi di Bali tapi harus ada syarat punya pengalaman di bidang keluarga berencana. Karena saya pengen banget daftar, saya pelajari lebih lanjut. Ternyata, KB bukan hanya tentang dua anak cukup; bisa juga masalah pernikahan dini, kesehatan remaja, pendidikan seks, dunia kebidanan, pemberdayaan perempuan dsb. Begitu pula subtema-subtema dari ICFP 2016 ternyata sangat banyak, bukan cuma bicara mengenai metode-metode alat kontrasepsi. Bicara alat kontrasepsi, dulu saya awam banget beginian. Sekarang mulai sering diundang untuk jadi pemateri bahasan-bahasan yang agak dewasa.

Diantara subtema itu ada pernikahan dini. Terus saya teringat kontribusi saya di PPA-PKH tahun 2015 sebagai salah satu volunteer pengajar. Terdapat ratusan siswa putus sekolah SD maupun SMP dan sebagian besar adalah perempuan di PPA PKH 2015. Rata-rata penyebab anak perempuan putus sekolah adalah karena orang tua mereka berkeyakinan kalau perempuan gak perlu berpendidikan tinggi selama udah bisa mengurus anak dan memasak. Terus saya jadikan pengalaman itu dalam esai seleksi ICFP 2016. Saya kontra pernikahan dini. (Baca juga: Perempuan, Berkaryalah. Jangan Ikut-Ikutan Menikah Muda).


Sementara untuk seleksi video saya bicara soal pengembalian keluarga berencana di Indonesia yang dekade terakhir ini stagnan di angka 2.6. Artinya rata-rata keluarga di Indonesia punya anak 2.6. Padahal targetnya adalah 2 per keluarga. Meski video itu sedikit kontroversial dan mengundang banyak perdebatan. Beberapa teman saya di grup-grup whatsapp bahkan bilang kalau saya anteknya Yahudi. Mereka beranggapan bahwa hukum KB asalnya adalah haram. Padahal banyak hadits-hadits lain yang juga menyirakatkan KB itu boleh dilaksanakan. Bahkan diwajibkan untuk beberapa kondisi. Beberapa ulama mahsyur seperti Sayyid Sabiq saja membolehkan KB demi kesehatan istri. (Baca Juga: Pembatasan Kelahiran dan Keluarga Berencana).

Teman-teman bisa lihat video-video pemenang kompetisi Youth Video Contest lainnya disini: Youth Delegate Video Submission from Previous Years . Ada sekitar 30 pemuda seluruh dunia yang akhirnya dibiayai pesawat dan kamar hotelnya oleh penyelenggara. Rata-rata videonya tidak terlalu bagus dalam kualitas editing danpengambilan gambar. Mungkin juri lebih mementingkan konten dari video tersebut daripada visual editingnya.

Beberapa bulan kemudian, sebuah email masuk ke inbox Yahoo saya. Penyelenggara berkata bahwa saya lulus ICFP 2016. Terus saya girangnya bukan main, sambil loncat-loncat di atas sofa. Hehe.


Saya lalu bertemu dengan Kak Nanda dan Steven. Dua orang Indonesia lainnya yang terpilih dalam Youth Video Contest. Kak Nanda baru selesai menempuh pendidikan dokter UNPAD dan Steven jurusan Hubungan Masyarakat di BINUS University, dia aktif dalam organisasi bernama Generasi Berencana. Organisasi pemuda di bawah BKKBN bicara kesehatan remaja. Saya merasa, dibandingkan mereka, saya adalah yang paling minim pengalamannya dalam bidang keluarga berencana. Tapi daripada minder, saya jadikan itu sebagai sarana belajar.


Saat tiba di acara ICFP 2016, saya bertemu dengan teman-teman bule saya yang lain. Sebagian besar dari mereka menempuh pendidikan kedokteran, kesehatan masyarakat, atau kebidanan. Mereka sudah menghadiri berbagai macam konferensi di berbagai penjuru dunia berbicara mengenai kesehatan. Ketika mereka mengirim foto-foto (di grup wa) saat ICFP 2013 dan juga International AIDS conference, saya baru sadar kalau memang pesertanya biasanya itu lagi-itu lagi. Jadi kalau teman-teman hadir dalam sebuah konferensi tahunan atau ICFP 2018 tahun ini, jangan heran kalau misalnya lebih dari 50% peserta sudah saling mengenal sebelumnya. Saat konferensi Women Deliver di Denmark, para peserta pun melakukan reuni lagi. Tapi sayangnya saya tidak sempat mendaftar konferensi itu karena ketinggalan informasi.


Lalu apakah sulit untuk diterima di konferensi fully funded jika lebih dari 50% peserta itu lagi itu lagi? Saya jawab ya... susah-susah gampang. Tapi selama kalian dapat mendemonstrasikan dengan baik kontribusi kalian yang satu visi misi dengan konferensi itu, insyaa Allah kalian juga bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Dan selalu ada regenerasi untuk peserta yang sudah melewati usia 25 tahun. 

Waktu saya wawancara salah satu senior saya di kampus, info ICFP sebenarnya sampai di kampus-kampus besar seperti UI. Tapi sebagian besar mahasiswa kurang peduli dengan isu KB seperti ini atau tidak terlalu serius ketika diminta berkomitmen untuk menghadiri konferensi. Ada pertanyaan, "Apakah Anda berkomitmen untuk menghadiri ICFP 2016 dari tanggal sekian ke sekian?" terus jawabnya "kalau dosen ngizinin." wkwk.

Hari pertama ICFP 2016, saya dan Steven tertinggal youth meeting selama satu hari karena kesalahan pembelian jadwal pesawat oleh Mbak-mbak dari BKKBN. Tapi selanjut-selanjutnya alhamdulillah saya ikut aktif dalam berbagai diskusi dan juga workshop. Dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas.


Saya terpilih memoderatori sesi bidan, dan saat itu salah satu tokoh idola saya, Pape Gaye (President Intrahealth International) datang menyaksikan sesi bidan itu. Terus saya salting banget. Wkwk. Meski saya sih ngerasa, I could have done better. Dulu speaking saya modal nekat banget dan jelek. Sekarang setelah abis-abisan belajar bahasa Inggris dan juga udah mulai sering rapat sama bule dan hadir di konferensi internasional, saya ngerasa maluuu banget sama bahasa Inggris saya yang jadul. Rasanya mau tenggelem aja di perut bumi kalau inget-inget lagi. Tapi saya masih tulis tulisan ini buat temen-temen... baik kan saya kan? Hehehe.


Teman-teman nih buat yang ingin ikut konferensi apalagi yang maju ke depan untuk ngomong, menurut saya persiapan bahasa Inggris wajib banget. Dulu saya gak persiapan, dan baru nyiapin 1 jam sebelum sesi yang saya bawakan. Hasilnya ancurrr banget bahasa Inggris saya kala itu, bisa dimengerti sih tapi malu ngingetnyaaa. Harusnya kita siapkan dari minggu-minggu sebelumnya, sambil ngaca di depan cermin bawa teks bahasa Inggris kemungkinan isi moderasi atau plenary speaking kita mau kayak apa.


Selain itu dalam sesi exhibition, saya bertemu dengan seorang jurnalis AS dan berdiskusi soal Pancasila dan pre-marital seks saat demonstrasi pemakaian alat kontrasepsi. Terus, mereka terheran-heran karena saya tidak pernah melalukan pre-marital seks. Bahkan saya bilang “I don’t even touch men, how can I do pre-marital sex with them?” Lol. Buat temen-temen yang mau lihat contoh diskusi dalam ICFP 2016, bisa dilihat disini: Diskusi Saya Bersama Jurnalis AS tentang Pancasila.

Hari berlalu dan penutupan ICFP 2016 dilaksanakan. Teman saya Trevor Arnett bersama Otuck William menyanyikan lagu bertema family planning sambil nge-rap. Keduanya teman baik saya. Mereka sering menciptakan lagu tema 17 SDGs bersama Tasya Kamilla di Kantor Pusat PBB. Beberapa bulan kemudian, mereka bahkan mengobrolkan saya dengan Tasya saat di New York City.


Sampai saat ini saya menjaga pertemanan baik dengan bule-bule itu meski berbeda akidah dan pandangan (Mereka pro LGBT, saya tidak. Mereka pro pre-marital sex, saya tidak). Saya berdiskusi dengan mereka, tapi tidak membuat permusuhan atau membuat mereka merasa buruk. Kembali lagi, dengan pancasila sila pertama: ketuhanan yang maha Esa. Nilai-nilai dan norma bangsa ini berdasarkan nilai-nilai agama. Jika ada nilai-nilai yang sama antara nilai Islam dan nilai Barat, maka perlu disatukan dalam sebuah jembatan atas nama kemanusiaan.


Tahun 2018 ini saya mengajukan lagi untuk bisa diterima ICFP 2018. Saya juga mengirimkan beberapa abstrak penelitian saya. Saya sih merasa pengetahuan saya sekarang tentang KB jauh lebih baik daripada 2 tahun lalu. Namun apakah saya diterima atau tidak, itu murni kuasa Allah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...