Jumat, 18 Januari 2019

January 2019 Wishes List


Graduate Record Examination (GRE):

  • Menghafalkan 1000 GRE Words Memrise
  • 30 Paragraf Latihan GRE
  • 13 Chapter dari 501 Sentence Completion
  • Setiap hari 2 bab Kuantitatif 5lb Book of GRE Problems
  • 2 Latihan GRE Komprehensif Seperti Tes Sesungguhnya


Open Access Indonesia:

  • Mengadakan Seminar Online yang keempat
  • Mengirimkan sertifikat kepada seluruh anggota dan ambassador OA
  • Mengupload mengenai digital advokasi di Instagram


IYAFP Indonesia:

  • Memperpanjang pendaftaran
  • Mengontak teman-teman yang mendaftar


120 Under 40:

  • Membuat draft proposal buku komik untuk daerah minim akses teknologi


Indonesia Terakhir:

  • Menulis satu hari satu halaman


Konferensi, Fellowship dan Scholarship:

  • 20 Januari Young Global Changers Program 2019 Berlin
  • 21 Januari YSEALI Engage Workshop 2019 Bandung
  • 25 Januari ROTA Youth Conference 2019
  • 27 Januari StuNed Program Short Course Scholarship
  • 31 Januari Future Global Leader Fellowship 
  • 31 Januari CERN OpenLab Summer Program
  • 31 Januari Mendaftar Internship Uni Eropa di Jakarta
  • 31 Januari UTSIP Japan Summer Internship 2019 Kashiwa


Jumat, 04 Januari 2019

Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP


Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP – Di antara tahap akhir substansi LPDP juga adalah Leaderless group discussion atau LGD. Porsi penilaian dari tahap ini sendiri adalah 20% sementara 80% dari wawancara. Bukan berarti tahap ini tidak penting, karena beberapa poin saja bisa mementukan apakah kita akan lulus LPDP atau tidak.

Dari namanya, leaderless, itu artinya dalam diskusi ini tidak ada yang menjadi moderator, tidak ada pula yang menjadi pemimpin diskusi. Setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk membagi pendapat mereka masing-masing. Ketika saya mengikuti LGD pada bulan Desember 2018, kelompok saya terdiri atas 7 orang dengan waktu LGD keseluruhan adalah 25 menit. Itu artinya setiap orang memiliki kesempatan berbicara kurang lebih 3 menit. Pengawas LGD ini terdiri dari 2-3 orang yang merupakan psikolog dan akan memantau kita selama jalannya diskusi. Pengawas LGD ini masang muka jutek jutek loh, tapi ingat untuk tidak gugup ya.

Mengenai tips dan trik LGD sendiri, berikut yang teman-teman bisa persiapkan:

Membaca dan Memahami Isu-Isu Nasional.

Membaca isu-isu nasional menjadi sangat penting dalam LGD ini karena kita akan mendapatkan satu topik secara acak untuk didiskusikan. Alangkah baiknya jika kita sudah familiar dengan berbagai isu nasional sehingga kita mampu mengutarakan pendapat dan argumen dengan baik. Teman-teman bisa memulainya dengan aktif bermain Twitter dan memfollow akun-akun berita, seperti Detik, Tempo, Republika, Kompas, dsb. Isu ini bisa mengenai apa saja, seperti misalnya dana desa, pernikahan anak, penanganan narkoba, ataupun penanganan TBC.

Posisikan Diri Secara Tepat.

Saat melakukan LGD, kita akan diminta untuk melakukan role-play sehingga kita tetap mengutarakan pendapat dengan jelas dan terarah. Setelah membaca artikel LGD, kita akan diminta untuk memposisikan diri entah sebagai masyarakat, LSM, pemerintah, dsb. Memposisikan diri secara tepat bisa menjadi krusial sesuai dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Saya sendiri dengan latar belakang Psikologi, ketika LGD mendapatkan isu mengenai “Apakah pengguna narkoba perlu dipolisikan atau tidak” dan ketika itu saya menempatkan diri tegas sebagai psikolog, itu artinya saya perlu melihat pengguna narkoba selayaknya manusia. Dan saya harus tetap teguh pada pendapat saya.

Tuliskan Poin-Poin Selama LGD.

Setelah kita membaca sebuah artikel mengenai sebuah isu yang akan didiskusikan, kita akan diberikan waktu satu menit untuk menuliskan poin-poin yang ingin diutarakan. Gunakan waktu ini sebaik mungkin dan tuliskan dalamm bentuk poin atau mind mapping. Gunakan catatan di kertas tersebut sebagai arah disksui yang akan kamu utarakan. Ingat, jangan sekali-kali menggambar-gambar, mencorat-coret, menulis curhatan galau, atau melipat-lipat kertas corat-coret kamu. Meski itu hanya corat-coret. Karena kertas ini akan dikumpulkan untuk mengukur apakah kamu fokus pada diskusi atau pikiranmu ngalor ngidul kesana kemari.

Sampaikan Pendapat dengan Baik.

Setelah kita diberikan waktu untuk menuliskan poin-poin yang akan diutarakan, selanjutnya adalah kita perlu mengutarakan pendapat kita mengenai isu tersebut. LGD bukan ajang pintar-pintaran atau kuat-kuatan argumen, melainkan yang diukur di LGD adalah bagaimana kita menyampaikan ide dan pendapat kita dengan manner yang baik. Kita juga perlu memberikan recognition kepada peserta sebelumnya yang relevan, sebelum mengemukakan pendapat sendiri. Seperti misalnya, “Saya memahami poin yang disampaikan oleh Mas Agus sebelumnya, namun menurut saya ada beberapa catatan penting yang juga perlu diperhatikan...”

Jangan menggunakan intonasi nada yang terlalu tinggi, jika memungkinkan untuk tetap tersenyum, maka tersenyumlah. Jangan menunjuk-nunjuk peserta yang lain, jangan baperan, mencak-mencak, dan tetap perhatikan durasi berbicara agar tidak merampas hak milik berbicara orang lain.

Bicara Seperlunya, Fokus pada Intinya, Jangan bertele-tele, dan Jangan Bicara Melebihi 2-3 menit.

Ingat, sekali lagi LGD bukan ajang gagah-gagahan, debat atau adu kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan durasi berbicara peserta lebih disorot dibandingkan konten argumen yang diutarakan oleh peserta itu sendiri. Karena jika terlalu mendominasi, kita akan dinilai arogan dan dominan oleh pengawas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mereka yang berbicara terlalu banyak, justru mendapatkan nilai kecil dari juri LGD.

LISTEN! Dengarkan dan Simak Pendapat Peserta Lain.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dengarkan pendapat peserta yang lain dan tetap fokus selama diskusi. Toh ini hanya beberapa menit saja, jadi fokus! Kita ini diawasi oleh 2-3 orang pengawas, dan mereka mengamati melihat apakah kita menolehkan padangan kesana kemari, membenamkan wajah, memainkan pulpen, atau menggambar di atas kertas corat-coret. Belum lagi kita tidak tahu apakah tiba-tiba ada pertanyaan yang akan dilemparkan ke kita oleh peserta lain, Sehingga memang sebaiknya kita sepenuhnya mengikuti arah jalan diskusi.

Sebisa Mungkin Tawarkan Solusi.

Tidak ada pendapat salah benar dalam diskusi ini. Yang ada hanyalah setuju dan tidak setuju. Kalau tidak setuju, kita bisa mengawali diskusi dengan beberapa pendapat dari teman diskusi lain yang relevan dan disusul oleh poin yang ingin kita utarakan. Sebisa mungkin tawarkan solusi dalam pendapat kita. Bukan hanya menjabarkan masalah saja tanpa solusi.

Sekian tips dan trik Leaderless Group Discussion LPDP. Semoga bermanfaat.

Artikel Berkaitan Mengenai Beasiswa LPDP:

Tips Hadapi Seleksi Wawancara LPDP 2018


Tips Wawancara LPDP - Tahap paling akhir dari seleki LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah seleksi wawancara dan tahap ini memiliki bobot penilaian paling besar dalam tahap seleksi substansi (80%).  Selain itu, semua informasi yang kita berikan dalam tahap ini akan diverifikasi kebenarannya oleh juri LPDP, sehingga menjadi penting untuk bisa melewatinya dengan baik.

Bentuk seleksi wawancara ini sendiri, seorang pelamar akan dihadapkan pada 3 juri. Tahun 2018 sendiri, satu juri merupakan seorang akademisi, seorang juri merupakan psikolog dan seorang lagi adalah utusan Badan Intelijen Negara. Meski informasi mengenai apakah seorang juri itu adalah BIN atau aparat lainnya, masih simpang siur karena baru tahun 2018 ini LPDP menyelidiki nasionalisme setiap pendaftarnya. Hal ini dilakukan agar tidak kecolongan seperti kasus Veronika Koman (penerima beasiswa LPDP yang merupakan pejuang Organisasi Papua Merdeka). Juga agar pelamar tidak mudah terbawa arus aneh-aneh saat berada di luar negeri.

Teman-teman jangan bayangkan wawancara dilakukan dalam ruangan sepi dan sempit ya. Wawancara LPDP dilaksanakan dalam sebuah GOR dan kita bisa melihat kelompok wawancara yang lain. Kelompok wawancara itu sendiri digolongkan berdasarkan bidang keilmuwan. Saat saya mengikuti seleksi wawancara di Jakarta, terdapat 21 kelompok wawancara. Dan kelompok 14 adalah wawancara untuk bidang keilmuan Psikologi.


Terkadang, terdapat pula beberapa pertanyaan yang bersifat menguji ketahanan psikologis seorang peserta, ada pertanyaan yang memancing emosi, ada pula pertanyaan yang berusaha membuat peserta untuk memecah fokus. Maka dari itu, dibutuhkan konsentrasi dan persiapan yang baik dalam sesi ini. Berikut adalah tips dan trik agar lulus seleksi wawancara LPDP:

Bersikaplah Sopan dan Bersahabat.

Di antara bersikap sopan santun adalah jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk. Jika memungkinkan bagi kalian untuk salam, maka salamlah dan berjabat tangan. Namun jika menurut kalian lawan jenis itu bukan mahram, tidak apa-apa untuk tidak berjabat tangan selama tangan kalian menunjukkan "salam". Jangan bersikap terlalu berlebihan, pemalu atau terlalu akrab seperti memanggil dengan panggilan non-formal. Tataplah wajah dan mata pewawancara selayaknya orang tua yang kita hormati. Bersikaplah sewajarnya dan tetap profesional.

Kuasai Esai, CV, dan rencana studi yang Digunakan Untuk Mendaftar.

Kuasai betul esai, CV, dan rencana studi yang kamu gunakan saat mendaftar seleksi administrasi. Karena mereka akan bertanya mengenai apa yang kamu tuliskan lebih jauh lagi. Pewawancara pun memegang laptop mereka masing-masing dan yang ada di layar laptop tersebut adalah formulir pendaftaran kita. Bukan berarti wawancara hanya mengulang apa yang kamu tuliskan di CV ya, melainkan mengeksplorasi lebih jauh apa yang belum dituliskan di CV, esai maupun rencana studi.

Lakukan Simulasi Wawancara Dengan Teman atau Sesama Pendaftar LPDP.

Bagi saya simulasi wawancara ini penting sekali sebelum saya bisa menjalankan wawancara sesungguhnya. Karena saya bisa menyiapkan beberapa pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan, melatih diri menggunakan intonasi dan kata-kata yang lebih tepat, juga sebagai sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Berpenampilan rapih, baik, sopan, dan formal (atau semi-formal).

Hindari menggunakan pakaian berbahan kaos, terlalu transparan, terbuka, ataupun jeans. Gunakan pakaian rapih, tertutup, dan juga enak dipandang. Jika kamu biasa menggunakan make up, gunakanlah seperlunya. Jangan terlalu menor atau berlebihan. Jika kamu tidak biasa menggunakan make up dan ingin menggunakan make up, maka gunakanlah make up selama itu nyaman dan tetap mendefinisikan diri kamu sebagaimana biasanya. Untuk hari itu, be the best of yourself yet still as you are.

Menyiapkan Amunisi Terbaik Untuk Wawancara.

Jika kamu masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan amunisi, persiapkanlah sebaik dan sebanyak mungkin. Menurut saya pribadi, amunisi yang kamu perlu persiapkan sebelum memasuki ruang wawancara adalah:

  1. Buatlah sebuah draft thesis penelitian yang kamu usulkan dan kuasai draft penelitian tersebut. Sebagian besar pendaftar ditanya masalah rencana studi, alangkah baiknya ketika kamu ditanya masalah ini, kamu bisa langsung memberikan proposal atau draft penelitian kamu kepada sang pewawancara.
  2. Jika sudah punya LoA, bawalah LoA tersebut. Jika belum punya, maka lakulakanlah korespondensi dengan profesor, ketua program studi atau staff fakultas. Print out semua email korespondensi tersebut dan bawa ke ruang wawancara.
  3. Melatih diri dengan berbagai kemungkinan pertanyaan yyang ada dan membuat draft jawaban dari setiap pertanyaan. Draft jawaban pertanyaan ini jangan dihafal ya! Hanya sebagai skema untuk latihan saja, agar ketika wawancara nanti kalian tetap alami dan tidak dibuat-buat. Saya sendiri memiliki list 100 pertanyaan LPDP dan membuat isi dari setiap pertanyaannya hingga terdiri dari 42 halamaan.

Menjawab Pertanyaan Dengan Tepat, dengan Pengalaman dan Data. Tidak hanya jawaban normatif.

Ketika kalian menghadapi pewawancara, kalian akan melihat raut wajah mereka sering kali tampak berusaha untuk menangkap inti dari ucapan kalian. Bisa saja kita sesekali menjawab pertanyaan dengan normatif, tapi jika saya jadi mereka, saya sih akan merasa bosan seharian mendengarkan jawaban-jawaban normatif. Jawablah pertanyaan dengan data atau dengan pengalaman, sehingga secara tidak langsung menyiratkan kecerdasan kalian atau kontribusi yang selama ini telah dilakukan.

Body Language itu Penting.

Bahasa tubuh menjadi faktor yang sangat penting namun sering kali tidak disadari oleh peserta wawancara. Mengenai body language, terdapat satu video yang menurut saya pribadi sudah sangat cukup untuk latihan wawancara LPDP. Tidak perlu melihat video yang lain, cukup merujuk kesini saja.


Jangan Menyela Pewawancara, Simaklah pertanyaan dengan baik, dan jawab dengan Baik dan Jelas.

Ketika pewawancara berbicara mengenai sesuatu atau bertanya, tunggulah beberapa saat untuk memastikan apakah mereka telah selesai bertanya atau telah seelsai bicara atau belum. Karena saya sendiri pernah tak sengaja menyela pewawancara ketika dia sedang bertanya, saya pikir beliau sudah selesia. Dan raut wajah pewawancara berubah disana dan cukup memecah fokus saya sendiri. Lalu saya segera menghela napas untuk tetap fokus dan tidak panik. Bagi beberapa orang, perubahan raut wajah pewawancara bisa benar-benar tanpa sadar mempengaruhi kepercayaan diri dan jawaban kalian loh. Jadi berhati-hatilah.

Jawablah pertanyaan dengan baik, lugas, dan jelas. Jika sesekali, kalian mendapati diri kalian seperti sedang memberikan penjelasan pada nenek/kakek kalian sendiri, ketahuilah bahwa itu pertanda baik.

Jawablah Pertanyaan Dengan Santai dan Alami.

Ketika sedang latihan wawancara bersama teman-teman di Discord, seringkali saya mendapati seorang peserta seperti sedang menghafal jawaban pertanyaan dari wawancara tersebut. Mungkin ini bagian dari konsekuensi jika kita menyiapkan jawaban sejak awal. Meski bagi saya menyiapkan konten itu penting, tapi yang perlu disiapkan bukanlah susunan kontennya itu sendiri, melainkan melatih dalam mengemukakan ide dan pendapat.

Jawablah dengan santai dan alami, toh pewawancara juga manusia koq. Anggap saja ini sebagai sarana bagi kalian untuk sharing cita-cita dan kualitas diri, prestasi, dan aspirasi kalian. Bagi saya sendiri, wawancara LPDP itu seperti sarana berbagi dan diskusi. Dan ya, rasanya kurang lamaa.. hmm.

Berusahalah untuk Tidak Baper Selama Wawancara Berlangsung.

Pewawancara mungkin menanyakan kegagalan dan penyesalan terbesar dalam hidup kalian lalu tak kuasa, kalian pun menangis saat itu. Menurut saya sendiri, menangis itu tidak apa-apa. Tapi sesuai porsinya dan berusahalah agar kembali profesional. Karena ketika kalian menangis, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akan membuat kalian sulit berpikir atau membuat kalian sulit mengambil napas. Mungkin lebih baik hindari kondisi seperti ini dengan memberikan jawaban-jawaban seperlunya. Agar sisi sensitif kalian gak semakin digali oleh pewawancara.

Atau jika pewawancara melontarkan suatu pernyataan yang membuat kalian terpojok, ingatlah untuk tetap tersenyum. Jangan memulai perdebatan atau jangan ngotot. Berikanlah jawaban sediplomatis mungkin. Contoh dari pertanyaan yang membuat saya terpojok di antaranya:

Pak Rahman  :  “Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.”
Saya                 : “Mengenai feminis, saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sebagai seorang feminis pak.”
Pak Rahman       : (alis beliau mengerut, karena kata-kata saya secara tidak langsung bermakna ambigu bahwa saya memiliki nilai yang sama dengan feminisme. Sebagaimana Kartini seorang feminis, tapi tidak lahir dari teori feminisme. Dan saya juga tidak tahu bagaimana pandangan beliau soal feminisme).
Saya                       : “Karena definisi feminis itu berbeda-beda tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika dibahas secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi feminisme sekarang nilainya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam.”

Tulisan selengkapnya mengenai wawancara full saya dapat ditemukan di link berikut:



Pelajari Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Muncul.

Seperti yang sudah saya katakan juga sebelumnya, ini merupakan bagian dari amunisi. Bukan berarti teman-teman menghafal teks ya, hanya saja, jadikan ini sebagai sarana latihan untuk mengemukakan pendapat dengan baik, intonasi yang tepat dan memiliki data yang akurat.

Misalnya, kalian mungkin akan ditanya mengenai apakah kalian setuju negara berbasis syariat diterapkan di Indonesia. Tentunya sebagai muslim kalian bisa-bisa memiliki konflik batin. Namun dengan mempelajari tipe pertanyaan seperti ini, kalian bisa memberikan pendapat yang lebih diplomatis berlandaskan nilai-nilai konstitusi dan landasan filosofis. Contoh pertanyaan saya:

Pak Itan: “Bagaimana menurutmu jika Indonesia diubah menjadi negara Islamberbasis syariat?”
Saya: “Saya merasa tidak perlu diubah, Pak. Karena sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 33 ayat 3, pemerintah wajib melaksanakan satuan pendidikan untuk mewujdukan akhlak mulia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu artinya, dalam setiap pembentukan Perpu, perda, peraturan menteri, peraturan presiden, dan juga undang-undang, harus merujuk pada rujukan filosofis dan konstitusi yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pembuatan kebijakan sudah dilandaskan kepada nilai-nilai agama yang luhur. Tinggal yang menjadi tugas sekarang adalah masalah pengimplementasiannya.”

Jadi jawaban kalian gak hanya: “Tidak boleh, Pak. Negara kita negara pancasila, bukan negara berbasis syariat!.” Padahal keduanya, pancasila dan nilai-nilai agama bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan.

Akhiri Wawancara dengan Ucapan Terima kasih dan Salam.

Setelah sesi wawancara berakhir, maka jangan lupa untuk berterima kasih kepada para pewawancara dan memberikan salam. Sembari memohon doa kepada pewawancaranya agar lulus juga boleh, seperti saya. Hehe.

Rabu, 02 Januari 2019

Tips Lulus Seleksi Administrasi Beasiswa LPDP


TIPS LULUS SELEKSI ADMINISTRASI LPDP - Seleksi administrasi ini adalah seleksi yang paling banyak menyisihkan pendaftar beasiswa LPDP. Terdapat sekitar 10.000 pendaftar administrasi beasiswa LPDP Luar negeri tahun 2018 dan yang lulus hingga tahap selanjutnya hanyalah sekitar 2800 peserta. Hal ini karena banyak pendaftar yang tidak memenuhi persyaratan yang diajukan oleh LPDP atau format dokumen yang diupload tidak sesuai. Persyaratan administrasi mungkin yang paling melelahkan dan rumit, dan berikut tips dan trik ini menjadi penting agar kita bisa lulus seleksi administrasi LPDP:

1. Baca buku pedoman dengan detil dan teliti.

Setiap tahunnya, peraturan LPDP itu mengalami perubahan tergantung dengan kebijakan. Sebelum kamu mendaftar LPDP, pastikan bahwa kamu telah mengetahui secara detil peraturan dan persyaratan administrasi LPDP pada tahun mendaftar.  Seperti misalnya, apakah terdapat kebijakan yang akan mempersulit rencana studi kita nantinya atau tidak. Atau apakah kita bisa mengambil jalur afirmasi atau perlu mengambil jalur reguler.

Jika memenuhi kualifikasi sebagai pendaftar afirmasi (PNS, TNI, Polri, Alumni bidik misi, 3T, dsb) lebih baik bagi kita mengambil jalur ini karena passing grade afirmasi lebih rendah daripada reguler. Persyaratan bahasa Inggrisnya pun lebih mudah dan kuota lebih banyak (untuk tahun 2018). Sehingga peluangmu untuk lulus juga lebih tinggi. 

Perhatikan juga kebijakan LPDP yang ditetapkan, contoh kebijakan LPDP tahun 2018 yang mungkin akan berdampak pada rencana studi adalah: “Pelamar tidak boleh mengajukan perpindahan kampus maupun program studi jika telah dinyatakan lulus LPDP”. Itu artinya, jika kamu belum memiliki LoA (Letter of Acceptance), pastikan bahwa dirimu bisa diterima di universitas tersebut. Selain itu, kamu juga perlu yakin bahwa program studi yang dipilih benar-benar yang kamu inginkan dan sesuai dengan bingkai kerja yang dibutuhkan.

2. Lengkapi berkas persyaratan administrasi.

Persyaratan administrasi LPDP itu terbagi dua. 1) Berkas persyaratan yang melibatkan faktor eksternal dan juga; 2) Berkas persyaratan yang tidak melibatkan faktor eksternal.

Berkas persyaratan yang melibatkan faktor eksternal adalah dokumen yang diperoleh dengan proses yang cukup rumit dan panjang, seperti birokrasi dsb. Contohnya:

A. Surat izin belajar dari atasan tempat bekerja, khususnya bagi yang bekerja sebagai PNS ataupun pegawai swasta. 

Persiapkan dokumen ini jauh-jauh hari sebelum kamu melamar beasiswa LPDP.

B. Surat rekomendasi dosen/tokoh masyarakat/atasan kantor sesuai format LPDP. 

Ada baiknya juga, jika penerbitan surat rekomendasi melibatkan kelembagaan (kampus/perusahaan/pemda), maka surat tersebut perlu dengan kop surat dan juga stempel. Siapa yang sebaiknya memberikan rekomendasi? Tentunya adalah orang yang paling mengenalmu secara profesional secara beberapa tahun. Bukan tokoh masyarakat yang terkenal namun tidak mengenalmu dengan baik.

C. Surat keterangan sehat, bebas TBC, dan bebas Narkoba. 

Surat keterangan ini harus diperoleh semuanya dari lembaga pemerintah. Tidak bisa meminta surat keterangan sehat/bebas TBC/bebas narkoba dari rumah sakit swasta! Harus dari rumah sakit pemerintah daerah atau dari kantor BNN setempat.  Untuk Surat keterangan bebas TBC, pastikan bahwa kamu mengambil tes dahak, bukan hanya tes rontgen.  

D. Sertifikat bahasa asing TOEFL atau IELTS sesuai dengan negara yang dituju dan memenuhi syarat minimum LPDP. 

Jika syaratnya TOEFL adalah 550, berarti TOEFL 547 tidak bisa digunakan untuk mendaftar dan tidak boleh diupload. Jika syarat IELTS misalnya 6.5, maka IELTS 6.0 dipastikan tidak akan lulus seleksi administrasi. Jadi pastikan bahwa syarat bahasa Inggrismu terpenuhi!

Kamu bisa mengambil kursus IELTS atau kursus TOEFL bebrapa bulan sebelum deadline pendaftaran LPDP.  Atau jika kamu masih akan mengambil LPDP tahun depan, penting juga adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu terlebih dahulu!

E. LoA (Letter of Acceptance) Unconditional/ Unconditional Offer.

LoA ini bersipat opsional. Namun, dengan keberadaan LoA ini kamu bisa lebih meyakinkan juri LPDP bahwa kamu memang akan menempuh studi di jurusan yang diinginkan saat mendaftar. Akan sangat berguna saat wawancara nanti.

Apakah memiliki LoA sebelum LPDP itu wajib? Tidak wajib. LoA Unconditional menjadi wajib hanya jika IPK kamu semasa S1 di bawah 3.00. Perlu diketahui, sebagian besar pelamar LPDP belum mendapatkan LoA saat pengumuman kelulusan LPDP, dan waktu untuk mendapatkan LoA adalah 1 tahun + 6 bulan sejak pengumuman.

Apakah memiliki LoA akan meningkatkan peluang diterima? Kabar ini masih simpang siur apakah memiliki LoA meningkatkan peluang diterima atau tidak, namun seorang juri LPDP pernah menuliskan sebuah milis bahwa memiliki LoA atau tidak, sebenarnya sama saja dalam penilaian.

F. Surat keterangan suku asli (bagi pendaftar Beasiswa Indonesia Timur). 

Surat ini bisa digabungkan dengan surat keterangan domisili bila di daerahnya tidak ada kantor adat sesuai suku.

Itu semua adalah berkas-berkas yang rumit berkaitan dengan birokrasi/kelembagaan/faktor eksternal. Dahulukan semua berkas-berkas rumit tersebut, bahkan beberapa bulan sebelum deadline pendaftaran LPDP. Pengalaman saya, hampir tidak mungkin memenuhi semua berkas itu hanya dalam waktu beberapa minggu.

Setelah mengurus berkas-berkas yang menguras waktu, jangan lupakan juga berkas-berkas utama lainnya seperti:

  1. KTP, akta kelahiran, atau kartu keluarga. Untuk tahun 2018, yang diminta hanyalah KTP.
  2. Sertifikat-sertifikat prestasi, keorganisasian, dsb (Untuk tahun 2018, sertifikat diminta hanya bagi jalur afirmasi, untuk jalur reguler tidak terdapat opsi untuk mengunggah sertifikat).
  3. Ijazah dan transkrip nilai semasa kuliah S1/S2.
  4. Surat pernyataan pendaftaran beasiswa LPDP (Sesuai format LPDP) bermaterai. Berisi kesediaan untuk kembali ke Indonesia dan pernyataan bahwa semua dokumen yang diupload adalah asli.

Menulis Esai dan Rencana Studi Dengan Baik

Selain berkas-berkas tersebut, terdapat pula esai dan rencana studi yang perlu kamu unggah sebagai persyaratan saat mendaftar LPDP. Tulislah esai dan rencana studi sebaik-baiknya dan hindari menulis ini di hari atau detik-detik terakhir pendaftaran karena terdapat kemungkinan server LPDP akan down. 

Saya sendiri menulis rencana studi H-1 deadline pendaftaran dan menulis esai di jam-jam terakhir pendaftaran LPDP. Selang satu jam setelah saya mengupload semua dokumen, server LPDP down dari siang hingga malam hari dan itu membuat teman-teman pendaftar lainnya sempat panik luar biasa. Sebaiknya, kamu menghindari kondisi seperti ini. Alhamdulillah saya cukup beruntung untuk mendaftar satu jam sebelum server down.

Menulis esai LPDP.

Perhatikan instruksi esai yang diberikan, berapa jumlah minimum dan maksimum kata yang bisa digunakan (biasanya 700-1000), dan sesuaikan kontennya dengan visi misi LPDP. Saya sendiri membaca beberapa esai pelamar LPDP yang lainnya dan banyak yang menuliskan sesuatu yang normatif dan tidak pada intinya. Jika saya menjadi juri, saya akan malas duluan membaca keseluruhan esai karena saya tidak segera mendapatkan inti tulisan yang saya cari. 

Menurut Budi Waluyo, sebuah esai LPDP yang bagus itu perlu memenuhi 3 hal. 1) Isinya langsung menjawab pertanyaan sesuai dengan instruksi yang diberikan. 2) Isinya rinci, padat, dan jelas. 3) Isinya menunjukkan kecerdasan dan pengetahuan si penulis esai di bidang studi sesuai yang diminatinya. 

Untuk panduannya sendiri, saya mengacu pada tulisannya Mas Budi Waluyo: https://sdsafadg.com/2016/02/21/panduan-menulis-esai-lpdp-kontribusiku-bagi-indonesia/

Sementara berikut adalah esai LPDP 2018 saya, mengikuti format Mas Budi dan alhamdulillah mengantarkan saya lulus seleksi beasiswa LPDP:

Apakah esai dituliskan dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Bisa keduanya. Menurut Customer Service LPDP, jika kita bertujuan ke kampus luar negeri, lebih baik esai ditulis dalam bahasa Inggris. Namun esai LPDP saya ditulis dalam bahasa Indonesia, alasannya karena ide tulisan saya akan lebih baik tersampaikan dalam bahasa Indonesia.

Jika kamu masih memiliki cukup waktu sebelum mengupload esa, ada baiknya untuk melakukan proof reading pada seseorang yang pandai dalam menulis esai.

Menulis Rencana Studi

Perhatikan instruksi yang diberikan oleh LPDP dan tuliskan deskripsi yang perlu diutarakan. Jumlah kata juga menjadi penting, biasanya antara 500-700 kata. Ada baiknya kita membuat tabel semua informasi tentang mata kuliah dari semester 1 hingga selesai, jumlah SKS dan juga kalender akademik.

Untuk rencana studi tahun 2018 sendiri, berikut informasi yang perlu dijabarkan: Rencana perkuliahan dan SKS per-semester yang akan ditempuh hingga selesai masa studi, topik yang akan ditulis dalam tesis, aktivitas diluar perkuliahan yang akan diikuti, daftar silabus perkuliahan dan studi lapangan, dsb.

Sementara untuk contoh rencana studi yang saya buat dapat diakses melalui link berikut:



Contoh Esai Rencana Studi LPDP Saya

Contoh Esai Rencana Studi LPDP / Study Objective LPDP -  28 Desember 2018 alhamdulillah saya mendapatkan pengumuman bahwa saya dinyatakan lulus beasiswa LPDP BPI Luar Negeri 2018 ke New York University. Beberapa dari teman-teman ada yang menanyakan contoh rencana studi LPDP yang saya tuliskan, dan saya totally CC-BY (saya berkeyakinan bahwa semua ilmu pengetahuan perlu disebarluaskan agar bisa bermanfaat), maka saya menuliskan contoh esai rencana studi/study objective ini untuk berbagi. Setidaknya rencana studi ini mengantarkan saya hingga lulus seleksi substansi.


Sebelumnya, teman-teman perlu memperhatikan instruksi esai rencana studi yang diminta oleh LPDP. Esai ini bisa dituliskan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Namun jika Anda bertujuan untuk kuliah ke Luar Negeri, maka lebih baik esai ini dituliskan dalam bahasa Inggris. Untuk tahun 2018 sendiri, berikut adalah rincian dari deskripsi yang perlu dituliskan dalam rencana studi:

ESSAY 2 : Rencana Studi (500-700 kata)
Essay meliputi:

  1. Deskripsikan rencana perkuliahan dan sks per-semester yang akan ditempuh hingga selesai studi.
  2. Deskripsikan topik apa yang akan Saudara tulis dalam tesis.
  3. Deskripsikan aktivitas di luar perkuliahan yang akan Saudara lakukan selama studi.
  4. Melampirkan daftar silabus perkuliahan [kuliah studi lapangan (field study) yang mengeluarkan biaya tambahan tidak dibiayai oleh LPDP]


Berikut Esai Rencana Studi Saya

STUDY OBJECTIVE

I am interested to study in Master of Arts in Psychology in New York University with Social Psychology as my area of focus. It is related to my educational background-Bachelor’s Degree in Psychology and social activities I have been working on. A master program will give me more in-depth learning and advanced training so that I will have the expertise I need inside and outside in the academic world and society. 

I specifically interested in this Master of Arts in Psychology – New York University (NYU) because it offers general Psychology with social psychology as its concentration. Social Psychologists have a number of job options available that comes with many responsibilities. The specific duty I would love to pursue in the future is drafting public policies, continuing my work in Satu Hati NGO as a women advocate, and working with politicians in bringing women issues specifically gender-based violence into tables. NYU itself was ranked among top 30 universities internationally by the Academic Ranking of World Universities.

A. PROGRAM
The program I am applying for is the Master of Arts in Psychology – New York University. The details of the following program are:

Program Name
General Psychology, with a concentration in Social Psychology.
Institution
Graduate School of Arts and Science, New York University.
Program Type
Full-time MA program.
Location
New York, NY 10003, USA
Credits
21 credits
Title
Master of Arts, with abbreviation MA.

B. ACADEMIC CURRICULUM

To complete the Master of Arts in the Psychology program, it is required to take a minimum 21 credits divided into 3 cores; 1 required courses, 6 elective courses, and written comprehensive exams/master thesis. Details regarding the courses that planned would be taken are as follows:


C. ACADEMIC CALENDAR 2019 – 2020 


D. MASTER THESIS THEME

The main theme/topic of the thesis I plan to select is: “Gender Stereotypes in Social Psychology Context: Its Impact on Gender-based Violence”. This theme selection is really vital as this will provide a strong foundation upon which to build the rest of my work as a woman advocate. As new surveys show violence against women becomes more widespread in Indonesia. Over 33% of women, aged 15 to 64 years old, had experienced physical and/or sexual violence in her lifetime.

In my research, I am planning to divide key household tasks within social psychology contexts and how gender stereotypes specifically have an impact on gender-based violence and discrimination. A survey will be conducted and in-depth interview will be taken in order to be clear about gender stereotypes starting from the definition of it, social constructs, and continue with data collection.

E. FIELDWORK/TRIP

Dana Eaton, MA Program Administrator Department of Psychology NYU, stated that there are not Fieldwork/field trip programs for MA Students in Psychology. Students may find their own work, research, independent study, or internship. Seminars could be taken to apply for course credits.

F. ACTIVITIES OUTSIDE CAMPUS
During the completion of Master of Arts in Psychology, I am planning to participate in several activities as follows:
  1. Join PPI (Indonesian Student Association) in the United States.
  2. Participating in seminars and conferences either outside or inside the campus.
  3. Routinely writing blogs and articles on mass media.
  4. Writing books about women's studies in the social context.
  5. Internship at the UN Women.





Selasa, 01 Januari 2019

Resolusi 2019 Saya


Resolusi utama
  • September 2019 Memulai kuliah di New york university
  • Melihat novel karya sendiri dipajang di Gramedia.

Resolusi lainnya
  • Mengikuti kelas short courses fully funded atau dengan scholarship 
  • Memiliki penghasilan sendiri.
  • Mengikuti magang berbayar.
  • Mengelilingi minimal 5 negara di Eropa (Spanyol, Jerman, Perancis, Belgia, dan Hungaria)
  • Open Science Fair 2019 sukses.
  • OpenCon 2019 Indonesia.
  • Memiliki dana simpanan untuk Open Access Indonesia
  • Menerbitkan buku komik pendidikan seksual untuk anak-anak di daerah minim teknologi
  • Mengadakan National Youth Festival on Family Planning 2019
  • Memiliki usaha sendiri di bidang makanan
  • Beli Mobil Honda Brio Cash 150 juta dari uang sendiri hasil bisnis
  • 120 Under 40 Global Family Planning Leader
  • Murojaah hafalan 5 juz
  • Menambah hafalan 1 juz
  • Belajar bahasa Perancis minimal hingga level A2
  • Memiliki lebih banyak tidur
  • Meluangkan lebih banyak waktu untuk sholat dhuha dan sholat malam
  • Menurunkan berat badan 10 kg.
  • Lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata tulisan yang dibaca orang banyak.
  • Lebih banyak membaca buku, khususnya mengenai bisnis, ekonomi dan politik.
  • Banyak menonton diskusi-diskusi politik di Youtube.
  • Lebih banyak puasa senin kamis.
  • Lebih banyak bersedekah.
  • Belajar GRE Intensif selama 4 minggu.
  • Menulis satu kebahagiaan setiap harinya dan dimasukkan dalam toples.
  • Memoto atau selfie diri sendiri selama setahun.

Selasa, 25 Desember 2018

Contoh Esai LPDP 2018 Kontribusi Bagi Indonesia

Ini adalah esai yang saya tulis saat mendaftar LPDP. Yang dikerjakn H-1 deadline pendaftaran administrasi LPDP sambil nongkrong di gudang kantor IDP dan nungguin hasil IETLS yang gak nyampe-nyampe karena macet. Huhu. 3 Hari lagi pengumuman LPDP dan sebelum terintervensi oleh perasaan terlalu sedih ataupun terlalu gembira, sementara banyak yang nanya terkait esai, berikut saya posting contoh esai LPDP 2018 "Kontribusiku Bagi Indonesia" yang saya buat. Lulus atau tidaknya yang mana pengumumannya tinggal 3 hari lagi, setidaknya esai ini membantu saya hingga tahap seleksi wawancara. Mudah-mudahan membantu.

Edit: Alhamdulillah mendapatkan pengumuman lulus seleksi LPDP. Terimakasih dukungan teman-teman semua.


Berikut adalah soal esai yang diberikan oleh LPDP BPI Reguler Luar Negeri 2018.

ESSAY: Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya(1.000 kata)

Essay meliputi:
  1. Deskripsikan diri Saudara.
  2. Deskripsikan kontribusi yang telah, sedang dan akan Saudara lakukan untuk masyarakat/lembaga/instantsi/profesi dan komunitas
  3. Deskripsikan mimpi Saudara tentang Indonesia masa depan.
  4. Deskripsikan peran apa yang akan Saudara lakukan.
  5. Deskripsikan cara Saudara mewujudkan mimpi tersebut.

Berikut adalah esai yang saya tulis:

Saya menyelesaikan studi Sarjana di Universitas Negeri Jakarta dengan spesialisasi jurusan Psikologi. Semasa kuliah, saya aktif di berbagai organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BEMFIP) maupun kegiatan sukarelawan; seperti mengajar anak-anak putus sekolah di program PPA-PKH atau menjadi aktivis sosial di LSM Satu Hati: Pemerhati Anak dan Perempuan. Melalui organisasi ini, saya belajar membangun rasa kepedulian sosial dan meningkatkan kebermanfaatan diri kepada sesama.

Saya adalah seseorang yang selalu berusaha meningkatkan kapasitas akademik melalui diskusi dan perdebatan ilmiah di berbagai forum nasional maupun internasional. Sebagian besar konferensi yang saya ikuti menitikberatkan pada dua hal: pemberdayaan perempuan dan akses terbuka pendidikan.

Minat saya di bidang pemberdayaan perempuan berawal ketika saya menghadiri seminar “Penanganan Terhadap ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum)” yang diselenggarakan oleh BKBPP (Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan) dan Pengadilan Negeri Kuningan tahun 2014. Dari seminar tersebut, saya memperoleh pemahaman akan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang pendidikan seks dan bahaya pornografi.

Selanjutnya, saya turut aktif melibatkan diri saya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh LSM Satu Hati, Dinas Sosial, dan juga P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu  Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Kuningan. Kami mengunjungi rumah korban dan rumah pelaku kekerasan seksual. Tugas kami adalah memberikan bimbingan terhadap keluarga korban/pelaku secara moril, psikologis, dan menjelaskan apa yang dapat dilakukan di pengadilan.

Salah satu kasus yang kami tangani adalah kasus mengenai seorang remaja yang berusia 15 tahun dihamili saudara angkatnya sendiri. Pelaku dituntut oleh orang tua angkatnya untuk mendekam di penjara seumur hidup. Mengingat kejadian seks di luar nikah itu dilandaskan rasa suka-sama-suka dan pelaku berusia di bawah 18 tahun, dijatuhkan baginya hukuman hanya satu tahun penjara. Selepas dari penjara anak, kami memberikan pelaku intervensi sosial-psikologis dan juga memasukkan dia ke pesantren hafal quran. Saat ini, anak laki-laki itu telah menghafal beberapa juz Al-Quran dan berkomitmen bahwa dia akan bertanggung jawab pada bayinya. Saat ini, saya masih aktif menjadi bagian dari LSM Satu Hati dan mengadvokasi masyarakat mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Dalam pendidikan, saya merupakan sukarelawan di PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak – Program Keluarga Harapan) yang diselenggarakan oleh Dinas sosial. Setiap tahunnya, seratus anak putus sekolah di Kabupaten Kuningan dikumpulkan untuk diberi bimbingan, motivasi, dan bantuan finansial agar mereka dapat melanjutkan sekolah mereka minimal hingga jenjang SMA/SMK.

Dalam beberapa program yang diadakan oleh Kementerian PPA, saya ikut mensosialiskan perudang-undangan mengenai perlindungan anak dan perempuan. Bersama saya adalah salah satu anggota DPR-RI Bapak Surahman Hidayat yang merupakan bagian dari Komisi VIII DPR-RI dengan ruang lingkup agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan.

Saat penyuluhan, saya menjelaskan mengenai intervensi Psikologis pada korban KDRT melalui emotion-focused coping; yakni penyelesaian masalah emosi dengan cara memaafkan diri sendiri dan pelaku. Penjelasan ini merupakan hasil penelitian skripsi yang saya susun pada tahun 2017 setelah mengumpulkan kuesioner dari 60 wanita korban KDRT di Indonesia. Saat ini saya sedang mengajukan petisi kepada Mahkamah Konstitusi dan DPR-RI untuk merevisi UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah KDRT di Indonesia.

Saya juga dalam persiapan presentasi dana hibah mengenai kesehatan reproduksi perempuan untuk saya ajukan di International Conference on Family Planning 2018 di Kigali, Rwanda. Konferensi ini akan dihadiri kurang lebih 3000 pembuat kebijakan di dunia internasional di bidang Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan. Harapannya, saya dapat memperoleh dana hibah USD 20.000 dari Bill & Melinda Gates foundation untuk dapat mengadakan National Youth Festival on Family Planning di Jakarta pada pertengahan tahun 2019.

Saya percaya, langkah pertama dalam advokasi adalah membangun komunitas, lalu menjadikannya berkesinambungan. Dalam bidang pendidikan, Tahun 2017, saya mendirikan Open Access Indonesia. Yaitu sebuah komunitas yang mengadvokasi gerakan akses terbuka terhadap konten ilmiah dan mengkaji berbagai kemajuan open education dan open access di dunia akademik. Organisasi ini dideklarasikan di Kathmandu, Nepal dalam Asian Regional Meeting: Open in Action Bridging Information Divide pada 2 Desember 2017 di depan 150 peneliti Asia. 

Salah satu misi organisasi ini adalah memberdayakan anak muda Indonesia dalam mengusung pendidikan terbuka agar dapat diakses siapa saja tanpa kendala finansial maupun teknis. Harapannya mahasiswa Indonesia dapat mengakses jurnal-jurnal ilmiah berkualitas secara gratis di Internet. Juga adik-adik dari keluarga kurang mampu dapat mengakses pendidikan gratis melalui Open Education dan Open Textbook.

22 Desember 2018, Open Access Indonesia akan mengadakan Open Science Fair. Open Science Fair adalah festival sains gratis yang memperlihatkan inovasi-inovasi terbaru karya pelajar Indonesia. Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di Aula Mahftuhah Yusuf UNJ dan menghadirkan lebih dari 1500 pelajar dan mahasiswa. Saya harap ke depannya pendidikan berkualitas dapat gratis untuk semua orang dan akses terhadap penelitian semakin terbuka.

Mimpi saya mengenai Indonesia di masa depan dapat disederhanakan dengan terwujudnya amanat UUD 1945, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum” yang termaktub dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945. Karena semenjak kematian RA. Kartini lebih dari 100 tahun lalu, diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum perempuan masih sering terjadi. Perempuan seringkali dipandang sebelah mata dalam posisi strategis, seperti politisi maupun direktur perusahaan. Justru, kekerasan terhadap perempuan semakin marak, 33% perempuan Indonesia mengalami kekerasan fisik, seksual, atau psikis (UNFPA Indonesia, 2017).

Sementara, dalam hal pendidikan, saya harap pendidikan berkualitas di Indonesia dapat dinikmati dan diakses oleh siapa saja. Bukan hanya dinikmati oleh anak-anak dari orang kaya, namun juga oleh mereka yang tinggal di daerah kumuh, 3T, disabilitas, ataupun lahir di kalangan keluarga tidak mampu.

Bila saya berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini, saya ingin meningkatkan peran sebagai seorang aktivis sosial. Saya yakin, pendidikan lanjutan di Psikologi Sosial merupakan bingkai kerja untuk memanfaatkan potensi yang saya miliki dan mengasah kemampuan yang saya butuhkan di dunia akademik dan masyarakat. Selain itu, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang politisi perempuan yang tergabung di Komisi VIII DPR-RI bidang Pemberdayaan Perempuan. Sehingga saya dapat memperluas kontribusi saya lebih jauh dan secara fundamental memperbaiki sistem yang menyebabkan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cara saya mewujudkan mimpi saya adalah dengan terus berkontribusi aktif di masyarakat, menulis buku, dan membangun networking dengan teman-teman dari berbagai kalangan, mulai dari media hingga akar rumput. Termasuk di antaranya, dengan meningkatkan kapasitas akademik dan skill saya melalui program beasiswa LPDP 2018.

--Sekian--


Rabu, 12 Desember 2018

Pengalaman Wawancara LPDP 2018


Edit 29 Desember 2019: Alhamdulillah mendapaktan pengumuman lulus seleksi substansi LPDP. Terimakasih dukungan teman-teman semua.

Pengalaman wawancara LPDP Luar Negeri 2018 - Beberapa hari yang lalu (4 Desember 2018) saya mengikuti seleksi wawancara LPDP tujuan luar negeri tahun 2018. Saya memilih tempat tes subtansi di Jakarta I, PKN Stan student center di daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Alasan saya memilih tes di Jakarta sebenarnya karena ini adalah lokasi paling mudah digapai dari kampung saya Kuningan Jawa Barat dan saya cukup familiar dengan sistem transportasi yang ada di sana.

Sebenarnya saya ingin sekali menceritakan pengalaman saya untuk Leaderless group discussion dan juga Seleksi berbasis komputer. Hanya saja, saya akan menceritakan pengalaman wawancara terlebih dahulu mumpung list daftar pertanyaan dari para juri LPDP itu belum terlalu menghilang dari ingatan. Jika ada pertanyaan lainnya yang muncul kembali di ingatan, insyaa Allah akan saya update terus artikel ini.

Saya datang pada pukul 10.00 WIB dan mengobrol-ngobrol dulu dengan pelamar beasiswa LPDP lainnya. Melihat lokasi kamar mandi, berkeliling, dsb. Selanjutnya, saya melakukan presensi pada pukul 10.30 dan melakukan verifikasi dokumen pada pukul 11.00 WIB. Saya pikir karena melakukan verifikasi dokumen 3 jam lebih awal, nama saya akan dipanggil lebih awal seperti pengalaman beberapa pelamar LPDP di lokasi tes subtansi lainnya. Ternyata tidak. Saya harus menunggu hingga pukul 16.00 hingga nama saya dipanggil wawancara. Mungkin karena jumlah pelamar LPDP yang tes di Jakarta ini banyak sekali, jadi jadwal wawancara saya pun mundur satu jam. Itu artinya saya menunggu 6 jam menunggu dipanggil. Seperti perjalanan Jakarta - Tokyo, tapi deg degan luar biasa.


Nama dipanggil menggunakan mesin dan pengeras suara. Hanya saja, sebelum nama saya dipanggil, pengeras suaranya itu sempat tidak berfungsi, bahkan proyektor jatuh karena angin kencang dan hujan turun. Karena memang tempat pelamar menunggu itu berada di luar ruangan. Jadi memang suasananya cukup gaduh dengan petir dan hujan deras. Akhirnya nama saya dipanggil secara manual oleh panitia LPDPnya. Saya pun segera bergegas masuk menuju ruangan PKN Stan student center dimana di dalamnya ada 24 kelompok wawancara.

Saya pun melihat satu bangku bertuliskan kelompok wawancara 14, yang sebagian besar jurusan psikologi diwawancarai di kelompok pewawancara ini. jadi kelompok pewawancara sudah dikelompokkan sesuai bidang studi. Saya melihat dua orang pria dan seorang wanita berjilbab duduk di tengah kedua pria tersebut.

Mengenai transkrip wawancara ini, hasil ingatan saya saja yang mungkin ada detil terlupakan. Tapi kurang lebih seperti ini:

Saya                       : “Selamat sore, Pak, Bu..” (saya masih berdiri)

Pak Rahman       : “Selamat sore, silakan duduk”

Saya                       : (duduk)

Bu Ita                    : “Namamu siapa?”

Saya                       : “Maryam Qonita, bu.” (masih berusaha mengontrol napas)

Bu Ita                    : “Kami panggil kamu Maryam atau Qonita?”

Saya                   : “Maryam saja bu.” (masih menarik napas agar rileks, dalam hati dzikir)

Bu Ita                    : “Oke Maryam, perkenalkan, beliau Pak Rahman, saya Bu Ita, dan beliau Pak Itan.”

Saya                       : (sambil menunjuk dengan tangan saya) “Pak Rahman, Bu Ita, dan Pak Itan.”

Bu Ita                    : “Iyaa... wawancara ini akan kami rekam ya.”

Saya                       : “Baik bu.” (narik napas)


PEWAWANCARA PERTAMA.

Pak Rahman       : “Baiklah, kamu ingin mendaftar beasiswa ini, apa kelebihan yang kamu lihat ada dalam diri kamu?”

Saya                       : “Dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, Pak?” (jantung deg degan)

Pak Rahman       : “Bahasa Indonesia saja, bahasa Inggris nanti.”

Saya                       : (menarik napas, di awal intonasi saya masih luar biasa gugup, tapi selanjutnya alhamdulillah mulai terkontrol). “Baiklah, bismillahirrahmanirrahim... Terimakasih atas kesempatannya pak, bu. (Dari sini sudah tidak gugup lagi, hamdallah...) Saya melihat diri saya sebagai seseorang yang terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Karena prinsip hidup saya adalah never stop learning because life never stop teaching. Jangan pernah berhenti belajar karena hidup tak pernah berhenti mengajar. Banyak hal manis berbuah dari sifat saya tersebut, Pak Bu. Yaitu saya mudah beradaptasi dan terbuka dengan wawasan baru. Selain itu juga, dalam bidang akademik, saya memiliki beberapa prestasi sebagai mahasiswa berprestasi Psikologi UNJ, alumni berprestasi fakultas dan juga beberapa kali mewakili Indonesia menjadi pembicara di forum internasional. Dalam bidang sosial, saya bekerja di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sejak tahun 2015. Pengalaman itu menjadikan saya mengetahui masalah sosial yang ada di ranah akar rumput.

Pak Rahman       : “Jelaskan lebih jauh mengenai kontribusi sosial kamu.”

Saya                       : “Baiklah pak. Sejak tahun 2015, saya aktif menjadi sukarelawan di LSM Satu Hati, pemerhati perempuan dan anak di kabupaten saya. Program kami sebelumnya banyak berkutat dengan kekerasan seksual pada anak. Jadi saya menjadi pendamping bersama dinas sosial dan P2TP2A untuk keliling dari rumah korban maupun pelaku untuk memberikan arahan apa yang LSM dan dinas sosial berikan di ranah pengadilan maupun medis. Namun sejak tahun 2017, kami lebih banyak aktif di bidang pendidikan khususnya di PPA-PKH (Pengurangan Pekerja Anak Program keluarga harapan) memberikan bantuan pada 100 anak-anak putus sekolah berupa alat tulis. Terkadang saya menjadi motivator mereka saat program karantina. Saya juga mendirikan Open Access Indonesia, saya sebagai ketua dan pendirinya dimana organisasi ini memiliki misi untuk mengadvokasikan keterbukaan akses terhadap jurnal ilmiah. Sehingga meningkatkan kebermanfaatan dan visibilitas jurnal tersebut.”

Pak Rahman       : “Ada berapa orang di LSM ini?” (sebenarnya saya berharap bapaknya fokus pada Open Access Indonesia karena bicara dengan seorang dosen, setidaknya saya bisa membuat semacam koneksi saling berbagi suka duka publikasi penelitian.).

Saya                       : “Kurang lebih ada 10 orang pak.”

Pak Rahman       : “Bagaimana dengan prestasi kamu selama di kampus?”

Saya                       : “Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya pak, saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi psikologi UNJ, alumni berprestasi fakultas, dan beberapa kali mewakili Indonesia di forum internasional.”

Pak Rahman       : “Kamu yakin dapat bertahan hidup di kota New York?”

Saya                       : “Saya yakin pak. Saya pernah di New York selama satu bulan dan saya familiar dengan kehidupan yang ada disana. Ketika itu saya mewakili Indonesia di forum PBB untuk bicara mengenai kekerasan seksual dan intervensi yang tepat diberikan kepada anak-anak korban kekerasan. Ini untuk sebagai referensi, Pak” (Karena setiap yang kita bicarakan akan dibuktikan di google gitu, jadi saya menunjukkan satu halaman koran tahun 2016.) "Dalam paper yang saya ajukan, saya mengajukan intervensi komprehensif pada korban kekerasan seksual. Bukan hanya dari segi intervensi individu saja, namun juga dari segi keluarga, hubungan antar kakak dan adik, komunitas, dan juga sekolah agar mengakhiri stigma pada korban kekerasan."




Pak Rahman       : “Kamu ini dapat rujukan dari siapa?”

Saya                       : “Dari kemenpora, kemenristekdikti dan juga Bapak wakil presiden kita Pak Jusuf Hatta memberikan surat rekomendasi kepada kemenpora.”

Pak Rahman       : “Jusuf Hatta?”

Saya                       : (Agak gugup saat itu jadi kepeleset lidah) “Maaf pak, Jusuf Kalla”

Pak Rahman       : “Lalu apa tantanganmu di sana?”

Saya                       : “Ketika saya berada di New York, saya merasa sulit bagi seorang muslim untuk menemukan tempat beribadah.”

Pak Rahman       : “Nanti kamu jadi jarang sholat lagi.”

Saya                       : “Saya sudah melakukan research pak, terdapat student islamic centre di NYU. Atau jika di tempat umum, kita bisa mencari tempat-tempat sepi untuk beribadah.”

Pak Rahman       : (angguk-angguk) “Silakan lanjutkan Bu Ita.”



PEWAWANCARA KEDUA.

Bu Ita                    : “You still don’t have the LoA, how do you sure you’ll get accepted in NYU?”

Saya                       : “I’m sure I’ll get accepted, Miss. Because I’ve reached the faculty members, the professors and also the director of the programs. They are generelly welcome with my proposed thesis. And the thesis titled ‘gender stereotype in social psychology context, its impact on gender based violence.’ Meanwhile, the professors there also have research focused on stereotype, such as Professor Madeline Heilman and Professor David Amodio. I've visited Professor Madeline's Google Scholars as well and many of her research cited by Indonesian researchers."

Bu Ita                    : “You mentioned the name, could you please say the name again...” (mencatat nama profesor yang kusebut untuk dicek kebenarannya di google)

Saya                       : “Madeline Heilman and David Amodio”

Bu Ita                    : “You have reached the professors and you mentioned names there. Do you have any proof that you have a correspondency with them?”

Saya                       : “The email with the university?”

Bu Ita                    : “Yes”

Saya                       : (Dalam hati bersyukur banget, karena korespondensi ini diprint di detik-detik terakhir. Untung keingetan). “This is the email, Miss” (memberikan 7 halaman korespondensi email dengan staff fakultas dan juga ketua program studi.). “Actually, the professors are not answering my email yet. So the faculty members answered the email on the behalf of the professors. And I also contacted the director of the program.”

Bu Ita                    : “Mr. Liz and Professor Gans?”

Saya                       : “Professor Gans is the director of MA progam in Psychology NYU.”

Bu Ita                    : “24 November... 25 November... 26 November...” (melihat bahwa saya menghubungi mereka seminggu sebelum wawancara.) “Okay!” (lalu mengembalikan lagi korenspondensi itu kepada saya).

Bu Ita                    : “So you mentioned about the social contribution you’ve made in the society. What is the different thing from the contribution you made so we need more people like you?”

Saya                       : “I proposed the method to give interventions of child victims of sexual abuse and it was a comprehensive approach. We don’t give an intervention only for the victims, but also to the parents, to the family, to the community, and their peers in the school to end the stigma of sexual abuse.”

But Ita                   : “How’s you gonna do that? Because it would be very difficult thing to do interventions to all aspects.”

Saya                       : “Firstly, as it stated in the paper, I would need the funding to build the shelter...”

Bu Ita                    : “Yeah of course funding, anything else??”

Saya                       : “Build a partnership with other organizations and maybe they have resources that would benefit for our organization....”

Bu Ita                    : “Yeah, anything else?” (Sepertinya bukan jawaban normatif yang beliau inginkan)

Saya                       : “We’d like to start from something that implementable and reachable, for now, starting from prevention and from teenagers as the future generation. I am currently in a project with IYAFP,  since am the project coordinator of International Youth Alliance on Family Planning...”

But Ita                   : “Could you please repeat the organization name again...” (mencatat)

Saya                       : “International Youth Alliance on Family Planning Indonesia.”

Bu Ita                    : “Okay...”

Saya                       : “So I proposed a grant application during a conference in Kigali, Rwanda on the behalf of IYAFP. The funding is from Packard foundation and the amount of funding is 50.000 USD. This project is about compiling comic books for teenagers with minim access to technology. And the comic books will advocate teenagers about SRHR (Sexual and Reproductive Health Right) and also Sexual Education. So they realize their body is important and private. If we get the funding, this project will be run by 2019 in Kupang as the first region of our target.”

But Ita                   : “Which Kupang?”

Saya                       : “Kupang, Nusa Tenggara Timur. But I have no idea about which particular Kupang sub-region we would like to implement the program. Since many IYAFP Indonesia members mostly came from Kupang and some of them said they have many students with lack access of technology and the comic books would definitely beneficial and useful there.”

Bu Ita                    : “Okay...”

Saya                       : “Instead of addressing sexual abuse cases, Satu Hati NGO itself for now is more focused on education and frequently donating to PPA-PKH program. Since one cases could be really difficult to address and mostly the family’s victims prefer to give up rather than continue the case into legal channels. Mostly we also educate them about sexual education and how to say no to their boyfriend to do premarital sex.”

Bu Ita                    : “What would you do after you arrive in Indonesia.”

Saya                       : “I want to utilize my full potentials and immerse myself as a social advocate and develop strategies and intervention to child victims of sexual abuse. In a long term..., I would like to be a member of DPR-RI or House representative in the 8th commission, with the scope of religion, social and women empowerment.” (Sebenarnya berharap ingin menjadi menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, tapi yang kusebutkan yang kutuliskan di esai dulu. Hehe)

Pak Rahman       : (menambahkan) “Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.”

Saya                       : “Mengenai feminis, saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sebagai seorang feminis pak.”

Pak Rahman       : (alis beliau mengerut, karena kata-kata saya secara tidak langsung bermakna ambigu bahwa saya memiliki nilai yang sama dengan feminisme. Sebagaimana Kartini seorang feminis, tapi tidak lahir dari teori feminisme. Dan saya juga tidak tahu bagaimana pandangan beliau soal feminisme).

Saya                       : “Karena definisi feminis itu berbeda-beda tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika dibahas secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi feminisme sekarang nilainya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam.”

Lebih jauh tulisanku mengenai feminisme: Muslimah Memeluk Feminisme, Emansipasi dan Kesetaraan Gender

Pak Rahman       : (mengangguk-angguk dan mencatat)

Saya                       : (berharap jawaban saya sebelumnya cukup diplomatis, huhu)

Bu Ita                    : “This is your first time applying LPDP?”

Saya                       : “Yes, this is my first time.”

Bu Ita                    : “Apa yang akan kamu lakukan jika beasiswa ini gagal?” (seingatku, pertanyaan ini beliau tanya dalam bahasa Indonesia).

Saya                       : (Sebenarnya dalam pikiranku hanya ingin melakukan yang terbaik. Tapi karena itu adalah pertanyaan, jadi saya rasional saja bahwa saya mungkin akan merasa sedih untuk beberapa waktu dan tentunya apply lagi tahun depan.). “Saya ingin berusaha yang terbaik untuk tahun ini bu, tapi jika memang ditakdirkan gagal, saya akan coba lagi tahun depan. Tapi saya berharap yang terbaik.”

Bu Ita                    : “Daftar lagi tahun depan?” (ibunya tersenyum)

Saya                       : “Iya, bu.”

Pak Rahman       : “Kalaupun kamu lulus, kamu yakin bisa sukses menjalani penelitian dan studi kamu?”

Saya                       : Saya yakin pak. Karena saya cukup familiar dengan dunia publikasi jurnal dan penelitian, khususnya setelah mendirikan Open Access Indonesia. Saya memahami beberapa istilah dalam dunia publikasi, seperti H-index, APC, open access journals, dsb. Saya juga memahami sistem perangkingan universitas.”

Pak Rahman       : “Kamu tahu ISSN?”

Saya                       : “Iya, saya tahu pak.”

Pak Rahman       : “Penelitian kamu sudah ada publikasi di jurnal dengan ISSN?”

Saya                       : “Belum ada pak. Hanya skripsi saya yang mendapat A. Karena di fakultas saya, dari ratusan orang, hanya sekitar 5 orang mendapat nilai skripsi A setahu saya. Dan dosen saya meminta agar penelitian itu diubah menjadi article paper dan dipublikasi di jurnal UNJ.”

Pak Rahman       : “Bagaimana ini, kamu mendirikan Open Access Indonesia namun belum ada penelitianmu yang dipublikasi di jurnal?” (mungkin maksud beliau jurnal terindeks scopus dll seperti itu, atau jurnal dengan impact factor yang tinggi)

Saya                       : (kaget sih sama pertanyaan ini, dan khawatir takut salah ngomong jadi bumerang. Bismillah saja deh.). “Bagi saya, tidak perlu memiliki gelar akademik sederet terlebih dahulu pak untuk bisa memulai kontribusi.”

Pak Rahman       : (Mengangguk-angguk dan mencatat)

Bu Ita                    : “Will you go back to Indonesia?” (tanya bu Ita sambil melihat list pertanyaan) “Oh no..., of course you’ll go back to Indonesia with your responsibility here and because you want to be a member of DPR-RI you said, in the 8th commision.” (melihatku sambil tersenyum)

Saya                       : “Yeah, miss. Of course, I’ll go back to Indonesia.” (dalam hati senang, karena Bu Ita bahkan sudah bisa memastikan saya akan kembali ke Indonesia).

 Bu Ita                   : “Do you believe you will be success?”

Saya                       : “Yes, I believe I will success in the future. I have been working in the field of women empowerment and child protection since 2015 and I would like to be advocate here as long as I can, as much as I can. I have great connection with government and beuracracy, such as Pak Acep the regent of Kuningan. And because I have experienced not only maintaining my personal motivation, but also people motivation in a long term. In Open Access Indonesia, I manage a group of people with different backgrounds to stay motivated and maintaining their perseverance to reach organization’s goal in a long term. I wouldn’t talk about my personal success, I talk about other people success as well as a part of my responsibility. “

Bu Ita                    : (mencatat) “Silakan lanjutkan Pak Itan.”


PEWAWANCARA KETIGA

Pak Itan                : “Perlu diketahui, penerima beasiswa ini akan dibiayai oleh pemerintah untuk melanjutkan sekolah. Sehingga kamu juga harus bermanfaat kepada masyarakat Indonesia demi mengembalikan manfaat itu. Apa yang akan kamu lakukan sepulang dari negara tujuan?”

Saya                       : “Dalam jangka pendek atau jangka panjang, Pak?”

Pak Itan                : “Dua-duanya.. terserah.”

Saya                       : “Baiklah, pak. Sebelumnya saya memahami bahwa penerima beasiswa ini akan menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat demi melanjutkan studi. Bagaimanpun saya akan berusaha untuk dapat mengembalikan nilai tambah dari beasiswa yang diberikan LPDP untuk saya kembalikan kepada masyarakat.”

Pak Itan                : (sampai disitu, Pak Itan langsung membuat catatan. Kemudian melihat saya lagi)

Saya                       : Dalam jangka pendek, saya bersama IYAFP indonesia ingin terus melakukan advokasi mengenai pendidikan seksual melalui buku komik yang akan kami distribusikan ke daerah-daerah minim teknologi di Indonesia. Selain itu juga, saya ingin terus melakukan advokasi mengenai pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di LSM yang saya geluti dan mengembangkan intervensi terbaik pada anak-anak korban kekerasan seksual. Dan dalam bidang Open Access, saya ingin mengadakan lokakarya yang mengadvokasikan minimal 30 dosen dan peneliti dalam sekali lokakarya mengenai publikasi jurnal open access, kalau bisa tanpa biaya APC. Lalu untuk mendapatkan sertifikasi, dosen itu perlu mengadakan seminar lagi dengan 30 peneliti lainnya. Sehingga kebermanfaatan saya bisa mencapai 900 dosen. Dan ketika dosen tersebut melakukan publikasi jurnal, jurnal mereka disitasi oleh 100 penelitian yang lain hingga menghasilkan 90.000 artikel. Dan satu artikel dibaca oleh 100 mahasiswa. Jadi kebermanfaatan saya bisa meluas pak.”

Pak Itan                : “Itu... bukannya jangka panjang?” (Bapaknya melihat catatan beliau)

Saya                       : “Itu jangka pendek, Pak. Untuk jangka panjang... saya ingin menjadi anggota DPR-RI komisi VIII bagian pemberdayaan perempuan, sosial dan agama. Saya ingin memperbaiki sistem dari dalam dan memperluas kebermanfaatan. Juga merevisi sistem yang menyebabkan ketidaksetaraan. Karena kalau bukan orang baik yang berkiprah di politik, siapa lagi?”

Pak Itan                : “Kamu tadi bilang, feminisme bertentangan dengan syariat Islam. Syariat Islam apa yang kamu maksud?” (Pak Itan menoleh ke Bu Ita, lalu beliau berkata ‘jawabannya kurang spesifik’).

Saya                       : “Karena saya berkarir di bidang keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan juga kesehatan reproduksi. Banyak dari lingkungan saya, khususnya ketika saya menghadiri beberapa forum internasional, teman-teman berkeyakinan bahwa seks sebelum menikah adalah sebuah jalan yang baik. Menurut mereka, tidak apa-apa melakukan seks selama menggunakan kontrasepsi. Dan salah satu keyakinan feminisme adalah ‘my body is my choice.’. Saya tidak akan memulai perdebatan & tidak menjustfikasi orang-orang yang memiliki keyakinan tersebut karena itu keyakinan moral mereka yang berbeda. Dan saya hanya akan berdiskusi jika mereka memulai diskusi terlebih dahulu. Karena menurut saya pancasila sila pertama, Ketuhanan yang maha Esa. Pengimplementasiannya juga berdasarkan nilai-nilai agama yang luhur dan iman yang kokoh, maka saya sebagai seorang Muslim tidak setuju dengan seks sebelum menikah.

Pak Itan                : “Pegangan hidupmu itu apa sih?” (Saya tahu beliau tidak ingin menggagalkan wawancara ini dengan pertanyaan terbuka seperti ini. Karena pegangan hidup saya sebagai muslim tentunya Al-Quran dan As Sunnah, sementara pegangan hidup saya sebagai WNI, tentunya pancasila. Meski keduanya tidak perlu dipertentangkan dan memang sejalan, hanya saja saya khawatir ada salah paham. Pak Itan terdiam sejenak melihat ekspresi wajah saya.... lalu melanjutkan kata-kata beliau). “Pegangan hidupmu... sebagai seorang warga negara Indonesia di Indonesia?” (Bahkan beliau bisa membaca isi pikiran saya dalam sepersekian detik!)

Saya                       : “Pegangan hidup saya sebagai warga negara Indonesia tentunya pancasila, Pak.”

Pak Itan                : “Menurutmu Pancasila itu perlu diubah lagi gak? Atau sudah seperti itu saja?”

Saya                       : “Menurut saya pancasila itu sudah final, Pak. Tidak perlu diubah lagi.”

Pak Itan                : “Final yaa.”

Saya                       : “Iya pak.”

Pak Itan                : “Menurutmu pancasila itu final kan, memangnya pancasila itu bagaimana sih?”

Saya                       : “Secara umum begitu, Pak?”

Pak Itan                : “Bukan, pancasila dalam kehidupan kamu.”

Saya                       : “Pengimplementasian setiap butir-butirnya?”

Pak Itan                                : “Iya.”

Saya                       : “Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya seorang Muslim dan juga saya selalu berusaha menjalankan syariat-syariat Islam. Seperti sholat lima waktu. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya berusaha menjunjung tinggi norma dan nilai leluhur bangsa, seperti sikap sopan santun. Sila ketiga, persatuan Indonesia. Saya menghormati perbedaan yang ada, dan saya memiliki kawan baik dari lima agama yang diakui di Indonesia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan.  Saya mengedepan asas musyawarah dan mengakomodasikan masukan anggota dalam menjalankan organisasi. Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya berusaha bersikap adil kepada adik-adik saya, keluarga saya, dan juga anggota organisasi.”

Pak Itan                : “Baiklah, bagaimana pendapatmu mengenai komunisme dan mengubah dasar negara menjadi negara Islam berbasis syariat?”

Saya                       : “Komunisme sepengetahuan saya mereka sistem pemerintahan satu partai pak. Dan mereka meyakini tidak ada kepemilikan individu kepada alat-alat produksi. Sementara negara kita ini menerapkan sistem demokrasi, kita menghormati pendapat orang lain yang terwujud dengan sistem multi partai. Juga pancasila sila pertama, ketuhanan yang maha Esa. Sementara komunis cenderung ateis. Sementara untuk negara Islam berbasis syariat, saya merasa tidak perlu, Pak. Karena sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam setiap pembentukan Perpu, perda, peraturan menteri, peraturan presiden, dan juga undang-undang, harus merujuk pada rujukan filosofis yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pembuatan kebijakan sudah dilandaskan kepada nilai-nilai agama yang luhur.”

Pak Itan                : (Angguk-angguk)

Bu Ita                    : “Sudah Pak?”

Pak Itan                : “Sudah.”

Bu Ita                    : “Bagaimana Pak Rahman”

Pak Rahman       : “Sudah bu.”

Maryam               : “Apakah sudah, bu?”

Bu Ita                    : “Sudah, silakan boleh kembali.”

Maryam               : “Terimakasih bu, pak.” (Lalu salim kepada Bu Ita)

Bu Ita                    : “Mudah-mudahan lulus yaa..” (sambil tersenyum)

Maryam         : (Wajah ketiga pewawancara terlihat puas dan tersenyum. Alhamdulillah. Mudah-mudahan lulus...)

Lalu saya pun keluar dari ruangan merasa cukup puas dan senang sih. Meski ada satu hal yang saya pelajari bermalam-malam untuk amunisi wawancara, yaitu mengenai studi saya dan juga fokus research di NYU tidak banyak ditanyai. Saya sampai bikin draft bab pertama penelitian dan juga semua resources yang dimiliki NYU yang mendukung penelitian tersebut. Tapi ternyata tidak banyak ditanyai. 

Tidak apa-apa, selama sudah berusaha, sejak awal saya yakin apapun yang terjadi di meja dan apapun hasilnya adalah ketentuan-Nya. 

Artikel Berkaitan Mengenai Beasiswa LPDP:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...