Kamis, 28 Agustus 2014

[Resensi] Eksistensi Indonesia

Judul             : The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan
Penulis          : R.E. Elson
Penerjemah   : Zia Anshor
Penerbit        : Serambi 
Cetakan        : I, Januari 2009
Tebal            : xxxiii + 543 hlm. (termasuk indeks)

Sebelum abad kedua puluh, Indonesia dapat dikatakan belum ada. Di kepulauan yang membentang antara benua Asia dan Australia ini dulu terdapat negara-negara besar dan kecil yang disatukan dalam kekuasaan penjajahan Belanda. Negara-negara itu memiliki sikap kedaerahan yang melekat di masing-masing daerah juga dengan bendera yang berbeda-beda. Para pelancong dan pejabat non-Belanda hanya menyebutnya antara lain “Lautan Timur”, “Kepulauan Timur”, “Kepulauan Hindia” atau “Hindia Timur Belanda” dll.

Kesatuan pulau tersebut sama-sama dijajah selama 3,4 abad oleh kolonial Belanda. Penjajahan tersebut perlahan menguatkan perasaan sama-sama dijajah dan ditindas. Gagasan politis “Indonesia” yakni ada sebuah negara yang mencakup satu kepulauan di bawah terbentuk dengan sendirinya selama 340 tahun penjajahan Belanda tersebut. Soeriokoesomo dalam “Javaansch Nationalism” mengatakan “Ujung-Ujungnya, Belandalah yang menciptakan Hindia (Indonesia) dan Pribumi. Orang Jawa ada dengan sendirinya,”

Istilah “Indonesia” yang diusung Logan menjadi daya tarik tersendiri. Bagi kaum pribumi memiliki identitas baru secara nasional adalah perangkat meraih kemerdekaan. Padahal gagasan “Indonesia” awalnya tidak terlalu diterima secara antusias. Akhir abad 20, gagasan ini masih setengah-setengah diterima, masih lemah, kacau dan samar. Maka dari itu banyak upaya-upaya Belanda untukk memperkuat sentimen kedaerahan dan tidak menyukai istilah “Indonesia” tersebut.

Dalam buku Elson, The Idea of Indonesia dengan uraian yang kronologisnya yang sangat detail, Elson memulai bagian awal dengan banyak memfokuskan pada tiga serangkai: Suwardi Suryaningrat, Dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangunkusumo. Douwess Dekker mendirikan Partai Hindia untuk menyusun konsep masyarakat kepulauan Hindia secara politis, bukan hanya secara geografis. Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna politis (dalam bentuk 'Hindia' yang harus merdeka) oleh Abdul Rivai, Kartini, Abdul Moeis, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, Ratulangie dan lain-lain antara 1903-1913.

Selain itu, berbagai organisasi-organisasi didirikan sebagai awal kebangkitan rasa nasionalisme bangsa seperti Budi Utomo dan Sarikat Islam. Dalam “pengorganisasian masyarakat Indonesia” itu akhirnya timbullah persinggungan dengan pengalaman kesejarahan beragam suku (seperti Papua Barat yang hingga kini masih merupakan persoalan pelik), agama, dan juga ras yang berbeda.

Gagasan Indonesia mnggema menginjak awal 1920. Berbagai kongres disatukan untuk mengupayakan persatuan. Entah persatuan secara merdeka atau otonomi – mengingat masih banyak PR untuk mewujudkan negara yang merdeka –Seperti Tjokroaminoto mengadakan Kongres Nasional Hindia untuk menyatukan organisasi-organisasai regional dan local itu untuk mencapai kebebasan nasional.

Dalam kaitan mengembangkan gagasan ini, tertuang banyak pemikiran para intelektul dengan latar belakang social dan politik Barat. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupkan produk pemikiran modern yang bersumber dari filsafat dan pemikiran Barat. Termasuk orang-orang yang kelak akan menjadi tokoh seperti Mohammad Hatta, Soetomo, dll. Sebagaimana diuraikan Elson dengan mengutip pernyataan Ali Sastroamijoyo, “existed as a good political idea whose time had (just about) come, and through which they found a new and modern sense of identity…”

Upaya-upaya yang ditekankan lebih kepada pemahaman lebih canggih tentang “Indonesia” dan bagaiaman jalan mencapainya. Sehingga jelaslah “ruang politik” bernama Indonesia yang tadinya masih berupa gagasan lalu menjadi realitas politik.

Meskipun pun peran asing dalam memberikan identitas kebangsaan Indonesia cukup signifikan. Pribumi juga memberikan kontribusi dalam mengupayakan persatuan nasional. Setidaknya ini lahir dari dua golongan pribumi yang memiliki visi dan perasaan yang sama sebagai orang Indonesia di tempat yang berbeda:

1)      solidaritas di kalangan mahasiswa yg ada di Belanda
2)      solidaritas di kalangan mereka yg berangkat ke Mekah untuk naik haji

Dua golongan pribumi ini memberikan warna dalam proses membentuk kesamaan identitas bangsa. Seperti contoh: orang Jawa yang sedang melaksanakan ibdah Haji di Mekkah bertemu dengan orang Aceh, dan mereka saling berkomunikasi dan bertukar informasi mengenai asal daerahnya. Proses inilah yang lama kelamaan menimbulkan kesamaan identitas sebagai orang Indonesia.

Meskipun begitu, menariknya komentar Tan Malaka bahwa para pemikir ini menempel pada kata kemerdekaan yang tidak jelas artinya dan tidak pernah menyentuh analisis sosial ekonomi masyarakat. Dalam makna yang luas, kemerdekaan adalah akhir dari kekuasaan asing dan kedaulatan rakyat. Kemerdekaan juga dipandang sebagai perjuangan anti-feodal. Namun realitasnya, hal ini masih belum dicapai. Kegagalan demokrasi ditandai banyaknya ketegangan-ketegangan dan kekecewaan terhadap orde lama dan orde baru.

Berbagai pertimbangan-pertimbangan dalam menjalankan ruang politik seperti otonomi atau merdeka, kooperasi atau non-kooperasi menimbulkan pertentangan tersendiri d kalangan para pemikir. Hingga akhirnya , tindakan-tindakan represif yang telak menghentikan kubu-kubu yang bertentangan dengan kepentingan nasionalisme.

Selain pemakaian bahasa yang memiliki banyak cerita, budaya, sifat kedaerahan, nasionalisme juga menuntut cukup banyak perngorbanan yang belum pasti dan bisa jadi merugikan. Aliran pemikiran politik yang bertentangan harus dapat diakomodasi demi persatuan. Sebagai contoh, perseteruan antara kelompok muslim dan komunis mengenai Sarikat Islam, kasus Ambon, Persatuan Minahasa yang tidak mau bergabung dengan PPPKI,dll. Perpecahana ideologis terjadi karena setiap organisasi bekerja dengan paradigma yang juga berbeda-beda secara mendasar.

Meski Belanda menolak menerima atau mengakui istilah Indonesia dalam arti apapun.   Dalam sekejap mata, penjajahan Belanda berakhir di hadapi militerisme Jepang. Sejarah Indonesia pun dimulai dengan lembaran baru.

Jepang memiliki dampak tersendiri bagi Bangsa. Jepang memberikan kesempatan bagi kaum nasionalis untuk terlibat di pemerintahan dalam cara-cara yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Dengan jejaring komunikasi, kaum nasionalis mengembangkan pemahaman popular dan gagasan Indonesia hingga daerah-daerah.

Amir Syarifudin mengatakan bahwa gagasan yang disponsori jepang memberikan begitu banyak manfaat. Jepang banyak mendrikan milisi-milisi pribumi yang disponsori olehnya seperti Peta, Heiho, Giyugun, dll. Tindakan ini membuka jalan untuk cita-cita jelas dalam politik pribumi. Dalam menyiapkan kemerdekaan, Jepang pun mengumumkan bredirinya BPUPKI yang merupakan awal dari berdirinya dasar negara atau Pancasila.

Berdirinya “negara Indonesia Merdeka” seperti dinyatakan dalam teks proklamasi, merupakan keinginan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam mencapai kebebasan. Jalan ini telah ditempuh begitu jauh. Namun PR bangsa tidak hanya sampai situ, mempertahankan negara dan merumuskan bangsa juga masih menjadi tantangan ke depannya. Muncullah kelompok-kelompok yang memiliki visi mereka sendiri mengenai Indonesia seperti apa yang ingin dibentuk.

Kemerdekaan ternyata menjadi awal dari sebuah babak baru di mana gagasan tentang Indonesia akan diuji dalam bentuk-bentuk yang tak pernah dibayangkan oleh para pendirinya dulu. Pencarian format kenegaraan, pembangunan struktur politik, dan penguatan pilar-pilar kebangsaan ternyata mengalami banyak tantangan, kelokan dan kegagalan: pemberontakan datang silih berganti, daerah bergolak, hingga pertumpahan darah tak terelakkan.

Warisan militer Jepang seperti bertahan dengan kekerasan dibentuk untuk menegakkan kepemimpinan pusat. Abdul Haris Nasution diangkat menjadi komandan divisi Siliwangi Mei 1946, Sudirman seorang veteran Peta dipilih jadi Panglima tahun 1945. Kekuasaan militer muncul didasarkan pada klaim otoritas dan kehendak rakyat banyak

 Serangkaian tantangan internal pun dilengkapi dengan dorongan federalism dari Belanda. Seperti telah dilihat, pemerintahan federal telah menjadi pemecahan politis yang paling disukai di Belanda. Meskipun begitu upaya-upaya Belanda untuk mematikan republic Indonesia gagal. Seperti aksi polisional untuk memecah belah persatuan Indonesia.

Meski pada akhirnya republik Indonesia secara sepihak membongkar susunan negara federal yang beberapa minggu menaunginya, tindakan itu dilakukan tanpa ada konsultasi dengan daerah-darerha. Upaya ini memancing banyak tanggapan hingga pemberontakan. Pemberontakan Andi Azis adalah tanda nyata dari keraguan terhadap niat sentralisasi bangsa. Ideologi Pancasila pun tak mampu menjalankan peran pemersatu yang dijanjikan.

Demokrasi liberal barat yang makin dirasa tidak cocok dengan jiwa Indonesia. Meskipun sistem ini juga memiliki positif yakni menarik dukungan bagi Indonesia di arena internasional.

Dalam praktiknya memang, masih banyak kegagalan cita-cita proklamasi dan kesatuan bangsa. Seperti maraknya pembangkangan daerah, agenda-agenda politik tentara, kelemahan ekonomi dalam manajemen dan infrastruktur, juga jalan buntu dalam pemilihan umum. Dengan demikian, kata Sudjatmoko, “Ketika tidak ada kemajuan tercapai setelah kemerdekaan, orang mulai kembali ke sikap dan pola pikir tradisional yang muncul ketika cita-cita revolusi memudar.” 

Klimaks paling fatal adalah pemberontakan PRRI yang merupakan tantangan daerah paling seriuss yang pernah dialami Republik Indonesia. PRRI permesta menuntut negosiasi ulang atas pembagian kekuasaan dalam negara Indonesia lewat penggantian pemerintah pusat. Meski demikian, PRRI dapat menarik sejumlah politikus terkemuka seperti Natsir dan Burhanudin Harahap.

Bagi Soekarno, kejayaan yang dijanjikan akan tercapai jika dia yang menentukan dan memimpin. Baginya, cukup dirinya yang menafsirkan aspirasi dan keinginan rakyat yang seringkali tidak rakyat sadari. Maka dari itu Soekarno akhirnya menggusur musuhnya seperti demokrasi liberal, Pengkhianat PRRI permesta dan sistem multipartai. Dalam perkembangannya, sejenis otoritarianisme mulai mapan di bentang politik. Sikap acuh demokrasi terpimpin inilah menandakan akhir politikus Islam dalam mendapat tempat penting di politik Indonesia. Demokrasi terpimpin dimaksudkan sebagai obat untuk ketidakmampuan demokrasi parlementer.

Ekonomi di demokrasi terpimpin memiliki banyak kemerosotan dan inflasi terus miningkat seiring dengan ekonomi yang hanya dijadikan alat politis. Dalam perencanaan ekonomi delapan tahun buatan BPN pun tidak terlalu banyak memuat cara untuk mencapai tujuan-tujuan ambisius Soekarno. Meski Soekarno begitu ambisius untuk memantik mimpinya, namun demokrasi terpimpin tidak pernah memiliki konsep yang jelas. Melainkan hanya gembar-gembor ideologi tidak berisi.

            Digulingkannya Soekarno dan kemunculan mendadak Soeharto juga mengejutkan. Apalagi posisi Soeharto relatif tidak dikenal tahun 1965 itu. Meski begitu Soeharto langsung melakukan pukulan maut kepada legitimasi Soekarno sebagai perwujudan kehendak rakyat Indonesia. Orde baru lahir pada saat krisis dan kekerasan. Soeharto menyadari bahwa tugas utamanya adalah membunuh PKI dan memberantas mereka. Pembantaian mengerikan terjadi dimana-mana. Rezim yang dibangun juga bersifat otoriter serperti Demokrasi terpimpin.

            Dalam pikiran Soeharto, Indonesia adalah proyek mulia yang sulit untuk ditangani, terancam ketidakpastian, nafsu rakyat tidak disiplin, dan tidak tahu apa-apa. Keperluan untuk menghilangkan masalah-masalah itu adalah dengan memberantas sumbernya. Baginya, politik bukanlah perang gagasan, tapi mengelola proses untuk mencapai tujuan yang sudah disepakati.

            Perlawanan terhadap sistem politik Soeharto terpencar-pencar, terbungkam dan lemah. Bentuk-bentuk aksi politik terbatas ruang gerak. Para pensiunan Jenderal seperti Dharsono menuduh orde baru mengkhianati janjinya dahulu dan berubah menjadi rezim represif, keras, dan anti-demokratik. . Orde baru juga memberikan kedudukan istimewa kepada angkatan bersenjata yang telah membantu soeharto naik ke tampuk kekuasaan.

            Segera sesudah kemunculan orde baru, banyak tokoh sipil seperti aktivis mahasiswa Soe Hok Gie dan tokoh intelektual Ismail Suny dan Yap Thiam Hien berbicara dengan antusias terkait pentingnya demokrasi. Meskipun begitu, ada pula gerakan-gerakan kontradiksi yang ingin mempertahankan orde baru. Corak keresahan yang lebih gamblang muncul pada Juli 1996 dalam upaya mendukung Megawati mempertahankan kantor PDI dan menimbulkan kerusuhan meluas di Jakarta. Contoh lain adalah 1300 insiden protes terjadi di Jawa tengah dalam 7 bulan pertama 1998.

            Melemahnya orde baru diawali dengan krisis mata uang Asia. Integralisme yang sudah compang-camping ini akhirnya berujung pada runtuhnya rezim orde baru pada Mei 1998 serta kekacauan politik dan social di Jakarta

            Indonesia yang muncul dari keruntuhan orde baru mengalami krisis parah di berbagai sektor. Maka muncul istilah “reformasi” untuk mereformasi kembali “Indonesia” dalam berbagai bidang. Sesudah itu, presiden-presiden berganti dengan sangat cepat. Bahkan B.J Habibie hanya bertahan 18 bulan setelah menjadi sasaran para demonstrasi yang memuncak pada siding istimewa MPR November 1998. Pergantian presiden pun terjadi dalam waktu kurun waktu sangat singkat. Tidak seperti Gus Dur dan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia lebih lama.

            Pergolakan identitas kedaerahan yang terus melekat di bangsa Indonesia pun bangkit kembali setelah lama ditindas orde baru. Seperti di Aceh munculnya gerakan Aceh merdeka (GAM), di Papua muncul sentiment anti pusat akibat adanya marginalisasi, Timor-Timur yang terus bergejolak, dll. Bangsa Indonesia mengalami tren demokrasi baru yang juga lebih kuat.

Dalam perkembangan demokrasi, serangkaian pemilu juga berhasil dilaksankan. Meskipun tantangan tetap ada. Seperti pendirian partai politik yang umumnya hanya mengutamakan kepentingan sendiri. Sementara, banyak dari partai politik mengalami kelemahan ideologi. Demokrasi pun telah dibajak oleh mereka yang berkuasa untuk menjaga keberlangsungan dominasi elite dan bukan saluran perwujudan kehendak rakyat. Maka, kemerdekaan Indonesia hanya akan menjadi makna yang kosong apabila rakyat saat itu terpisah dalam proses nation-building itu sendiri yang menjadi cita-cita reformasi.

Dalam buku The Idea of Indonesia ini, Elson berhasil membangun argumentasi-argumentasi penting melalui sejumlah data yang begitu kaya. Sayangnya, kata-kata di buku ini lebih sering tampil seperti angka-angka statistik atau tabel yang mendukung argumentasi daripada sebuah upaya mengajak para pembaca untuk memahami suasana zaman dari periode berbeda. Selain itu karya Elson terlalu berfokus pada gagasan tentang Indonesia yang berpusat di Jawa. Elson masih sangat sedikit menjabarkan bagaimana pemikiran tentang Indonesia itu lahir dari kalangan terdidik di luar Jawa seperti di Sumatera, dll.           

Meskipun begitu, ada hal yang menarik. Elson memahami bahwa Indonesia adalah sebuah keajaiban dengan tetap menjadi sebuah negara dan bangsa yang utuh. Segala macam dinamika yang terjadi dalam proses sejarah nyatanya membuat Indonesia lebih dewasa menyikapi dinamika pergerakan negara ke arah yang jauh lebih modern dalam berbagai pemikiran. [Maryam]

[Resensi] Perjalanan Perempuan Indonesia


Penulis: Cora Vreede de Stuers
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: April 2008, Cetakan I
Halaman: 227 halaman


Dari judul buku ini, kita dapat mengetahui bahwa buku ini berusaha menguak awal mula dari gerakan perempuan di Indonesia, terutama di abad ke-20. Gerakan itu sendiri bermakna sebagai alat yang digunakan untuk meraih emansipasi. Cora dengan jelas memaparkan masalah-masalah penting untuk dipahami bersama demi memfokuskan perempuan Indonesia meraih hal tersebut.

Jika bicara tentang gerakan perempuan, maka tidak lepas dari posisi perempuan saat itu yang ditentukan oleh sistem adat dan hukum islam. Adat merupakan satu entitas yang tidak dapat dipisahkan dari peraturan yang tidak tertulis dan berlaku turun temurun dalam suatu masyarakat. Sementara, hukum islam sendiri merupakan refleksi dari apa yang diajarkan dalam agama Islam yang dimana penduduk pribumi mayoritas beragama Islam.

Pernikahan dalam hukum adat merupakan sebuah alat untuk mempertahankan eksistensi kelompok, sementara itu, hukum Islam dapat lebih diterima karena dalam syariat pernikahan merupakan perjanjian antara dua individu. Seperti itu pula dalam pandangan barat, hukum Islam cenderung lebih diterima di masyarakat dibandingkan hukum adat yang cenderung kaku.

Di bab kedua, Cora mulai memaparkan pentingnya peran perempuan di berbagai sektor. Terutama saat terjadi revolusi Industri yang menuntut perempuan turut aktif di bidang perindustrian. Sampai akhirnya, gerakan feminis mulai muncul yang diawali dari program women studies di PBB. Para feminis berusaha untuk memajukan perempuan dalam bidang perkawinan dan pendidikan dimana banyak sekali perempuan buta huruf saat itu. Salah satu contoh adalah Kartini yang terus-terusan mengirim surat kepada Abendanon hingga akhirnya ia meninggal tahun 1904 karena melahirkan.

Pada bab ketiga, Cora memaparkan berbagai kemajuan diantaranya adalah pendidikan modern bagi kaum perempuan. Namun perempuan ternyata tidaklah berjuang sendirian, pria pun ikut mendukung emansipasi di Indonesia. Seperti Kartini yang didukung oleh ayahnya, Dewi Sartika oleh suaminya, dsb. Berbagai sekolah khusus perempuan didirikan, seperti sekolah kautamaan Istri.  Selain pendidikan khusus untuk perempuan, berdiri pula organisasi yang mencoba membebaskan manusia dari metode lama adat yakni Muhamadiyah yang didirkan oleh Ahmad Dahlan.

Pada bab selanjutkaya, banyak kemudian para penulis laki-laki yang mempublikasikan karyanya pada tahun 1920-1940. Muncul karya-karya sastra yang memberontak sistem adat karena dinilai mendiskrimansi perempuan. Contohnya adalah siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, dsb. Buku ini menceritakan secara garis besr alur setiap novel-novel tersebut.

Pada bab-bab selanjutnya, Cora membagi gerakan perempuan dalam tiga periode, yaitu periode kolonial, periode republik, dan periode kontemporer. Saat periode kolonial inilah muncul berbagai macam organisasi perempuan dan kongres-kongres perempuan yang setiap delegasinya membicarakan isu pendidikan dan perkawinan. Hasil penting kongres itu adalah berdirinya PPI. Namun, PPI tidak berurusan dengan politik sampai akhirnya organisasi ini berkembang menjadi PPII yang berurusan dengan politik. Diantaranya adalah mempermasalahkan undang-undang perkawinan.

Segera setelah kemerdekaan, organisasi-organisasi perempuan yang ada bersatu hingga akhirnya bergabung menjadi KOWANI. Kongres ini membicarakan tentang stabilitas politik Indonesia yang waktu itu masih dilawan Belanda. Kongres juga membentuk badan-badan khusus yang menangani bidang politik, sosial, ekonoi, dan budaya. Kowani dibubarkan tahun 1950 dan dibentuk organisasi baru bernama KWI yang garis besar kebijakannya mengikuti prinsip pancasila.

Periode kontemporer kementerian agama dibentuk untuk bertanggung jawab atas dasar pendaftaran perkawinan dan perceraian. Banyak perbaikan atas awal keberadaan biro ini, seperti masalah petugas resmi juga masalah UU No. 22 yang saat itu dianggap tidak memuaskan hati perempuan. Meskipun mengalami perbaikan Undang-undag, sampai sekarang pun poligami masih menuai pro kontra di masyarkat.

Kelebihan buku ini adalah deskripsi atas fakta yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat dijelaskan dengan sangat detail. Selain itu, Cora juga merunut kejadian pergerakan perempuan ini dari tahun 1900 hingga 1960 sehingga saat membacanya tidak ada tumpang tindih. Kekurangan buku ini adalah terlalu memihak gerakan feminisme, sehingga seakan-akan Cora memandang bawa wanita berjilbab adalah tanda kemunduran dan merendahkan martabat bangsa. Selain itu, Cora tampak tidak begitu memahami hukum islam atau syariat atas dasar pengambilan istilah yang tidak pas maknanya.

Ketika Buku Seharga Emas

Ada satu masa ketika harga buku itu dinilai dengan emas. Wah, pasti mahal donk. Mana bisa rakyat menjangkaunya? Bisa tuh karena harga buku tersebut dibayarkan oleh negara dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau harga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak lagi menerima bayaran dari penerbit ataupun royalti. Hal ini terjadi di masa Khalifah Al-Makmun yang memberikan emas kepada Hunain bin Ishak seberat kitab-kitab yang ia salin ke bahasa Arab dengan ukuran yang sama beratnya.

Semua orang boleh dan berhak bahkan wajib menyebarkan buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan. Bukan hanya menyebarkan saja, tapi setiap orang berhak untuk menggandakan dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut.

Tidak ada orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini sangat biasa di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi. Meskipun hak cipta didengungkan di alam Kapitalisme, nasib pengarang tetap saja merana tanpa ada perlindungan sama sekali. Hanya segelintir pengarang yang karyanya best seller saja yang hidup layak. Itu pun juga tidak terlepas dari potongan pajak ini-itu.


Berbeda dengan sistem Islam yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya tersebut di pasaran. Tapi pemimpin dalam hal ini Khalifah telah memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penterjemah dan ilmuwan demi agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi bisa lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu.

Nasib penulis, penterjemah dan ilmuwan di zaman ini lebih menghargai kemolekan tubuh daripada ilmu pengetahuan. Profesi artis, selebritis, foto model dan sebangsanya jauh lebih dihargai mahal daripada mereka yang memeras keringat demi kemajuan bangsa.

Bandingkan dengan nasib penulis, penterjemah dan ilmuwan di zaman ini ketika sistem yang ada jauh lebih menghargai kemolekan tubuh daripada ilmu pengetahuan. Profesi artis, selebritis, foto model dan sebangsanya jauh lebih dihargai mahal daripada mereka yang memeras keringat demi kemajuan bangsa. Sudahlah dihargai murah, hasil keringat dari penulis dan penterjemah banyak yang masuk ke kantong penerbit dalam hal ini sebagai pemilik modal. Parahnya, pemerintah masih dengan teganya memotong hasil yang cuma sekitar 8 % dari harga jual itu dengan pajak. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan nasib penulis dan penterjemah di zaman ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi praktis hampir di seluruh dunia hal ini berlaku.

Melihat hal demikian, hanya orang bebal saja yang bangga dengan kondisi memprihatinkan ini. Hanya orang yang rela hidup terhina saja yang mau dijajah. Orang beriman, tentu saja menolak hidup dalam kungkungan kapitalisme yang selalu mendewakan materi dan kenikmatan jasadi. Tak ada pilihan lain bagi orang beriman kecuali berjuang untuk perubahan. Dakwah tanpa kekerasan untuk merubah kondisi dari terhina menjadi mulia.

Yuk, kita kembalikan lagi kemuliaan manusia ketika isi kepala lebih dihargai daripada goyang ngebor. Kita dudukkan lagi posisi para ilmuwan ke tempatnya yang mulia dengan mendapat penghargaan semestinya, bukan malah yang pamer aurat dihormati di mana-mana. Kita rindu satu masa ketika buku adalah sesuatu yang dirindu karena ada ilmu pengetahuan di sana, dan bukan malah sinetron puluhan episode yang menjadi tuntunan. So, mari berjuang demi perubahan ini. Semangat! ^_^

Sabtu, 08 May 2010


Rabu, 27 Agustus 2014

10 Tips dan Prinsip Menghafal Qur'an


Baiklah, dalam tulisan ini saya akan menyebutkan beberapaprinsip dan tips menghafal Quran. Prinsip dan tips menghafal Quran ini diambil dari beberapa buku, saran-saran para pakar, dan tulisan-tulisan para ulama. Tentu kita ingin dimudahkan dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Quran,bukan? maka sebaiknya prinsip-prinsip dan tips menghafal Quran di bawah ini sebaiknya diamalkan dengan sebaik-baiknya.

Prinsip 1. IKHLAS

Keikhlasan adalah kancing hati. Dimana hati kita dalam menghafal takkan terbuka jika keikhlasan itu tidak kita miliki. Dalam sebuah hadits, orang pertama yang masuk neraka bukanlah para kafir dan munafik melainkan para penghafal Quran yang menghafal karena ingin disebut Hafizh, lalu para dermawan yang menginfakkan hartanya karena riya, dan para mujahid yang meninggal karena ingin dibilang pemberani. Naudzubillah!
                           
Imam Syathibi dalam karangannya Al-Qira’at Assab’u ia berulang-ulang ribuan kali memikirkan keikhlasannya seraya memanjatkan doa: Ya Rabb, in kuntu Qashadtu biha wajhaka, faktub lahal baqa’ “Ya Tuhanku, jika aku berniat untuk peroleh keridhaan-Mu semata, jadikanlah karya ini mengabadi”

Prinsip 2. MENGHAFAL SEMENJAK KECIL

Saat manusia dilahirkan, kemampuannya menghafal sangat luar biasa dengan daya analisis yang rendah. Saat usia beranjak dewasa, maka daya analisis (kemampuan memahami)nya semakin meningkat dengan kemampuan menghafal rendah. Karena itu, tulisan ini adalah tentang prinsip menghafal (bukan memahami) maka sebaiknya mulailah menghafal sejak kecil agar masa kecil dimanfaatkan lebih optimal.

Pernah penulis hadir dalam sebuah majelis menghafal Quran lewat metode matematika (Quranuna), disana sang ustadz penemu metode ini memperlihatkan saat beliau di Malaysia yang beliau ajar adalah anak-anak usia yang amat belia. Namun mereka sudah mampu menghafal 30 Juz bahkan letak ayat, itu ayat berapa, ayat diacak. Otak kanan dan kiri mereka benar-benar teroptimalkan. Bahkan anak ustadz itu (lupa namanya) yang berusia masih 6 tahun sudah hapal Qur’an dengan baik.

Namun bukan berarti orang di atas usia 40 tahun pun sulit menghafal Qur’an. Di samping usia belia yang amat memudahkan menghafal, masih banyak prinsip lain yang akan memudahkan kita semua dalam menghafal Qur’an. Let’s check it out!

Prinsip 3. PILIH WAKTU EMAS

Imam Ibn Jamaah, salah seorang ulama Islam pendidik yang memperoleh gelar summa cumlaude saat meraih gelar MA mempunyai buku bagus dengan juldul “Seni Mengajar Menurut Ibn Jamaah” Katanya, “Waktu paling efektif untuk menghafal adalah waktu sahur. Waktu paling signifikan untuk meneliti adalah waktu pagi. Untuk mengarang di pertengahan siang. Sedang untuk mengulang dan membaca adalah ketika malam.”

Prinsip 4. PILIH LOKASI YANG PAS

Pintu menghapal ada tiga: Mata, mulut dan telinga. Maka dari itu kita harus menghapal dimana kita bisa menjaga ketiganya. Mata dari pandangan yang diharamkan, Mulut dari ghibah dan namimah, telinga dari ghibah, musik, dan sebagainya.

Di Turki, terdapat kamp-kamp konsentrasi yang sangat special untuk tahfizhul Qur’an. Dalam sebuah pesantren tahfizhul Qur’an ada kamar-kamar kecil sekali. Ukurannya hanya 2x2 meter. Ruang-ruang kecil ini dibangun oleh para khalifah dinasti Usman kuno. Ruangan ini khusus untuk mereka yang ingin berloma hapal Al-Quran atau yang ingin muroja’ah. Dan ternyata system ini benar-benar efektif.

Oke, kita di Indonesia… lalu dimana tempat kita bisa menjaga mata, mulut, dan telinga?? Jawabannya adalah di masjid. Paling depan dengan wajah menghadap tembok. Berazamlah sambil berkata: “Saya hanya akan berdua bersama Al-Quran selama … (sebutin angka) jam.”

Saat penulis menerapkan metode ini pada beberapa anak kelas 1 SMP di pesantren tahfidz Al-Hikmah, relatif mereka yang melakukannya mampu menghafal di atas rata-rata. Saat anak-anak lain setengah halaman sehari, mereka yang focus bisa mencapai 3 halaman sehari dan mengejar beberapa anak lainnya. 6 kali lipat lebih cepat.

Prinsip 5. MELAGUKAN BACAAN

Mengapa orang dengan mudah menghafal lirik lagu-lagu dibandingkan dengan bacaan Qur’an? Jawabannya karena mereka menghafal lirik lagu itu dengan bernyanyi dan mengindahkan suara. Begitu pula, mereka yang melagukan bacaan Al-Quran akan jauh lebih mudah dalam menghafal.

Ibarat makanan saja, jika makanan tidak enak, kita pasti makannya Cuma sedikit. Gak napsu. Tapi kalau makanannya enak , tidak hanya 1 piring, kita pasti nambah lagi dan lagi. Kenapa? Karena enak…  Kalau bacaan merdu dan enak di dengar, menghafal sehari sehalaman gak cukup… bahkan sampai berlembar-lembar.

Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari pernah melagukan Al-Quran dan Rasululllah senang dengan bacaannya. Beliau berkata bahwa Abu Musa telah diberi salah satu seruling Dawud. Maka Abu Musa pun berkata: “Kalaulah aku tahu bahwa bagina mendengar sedemikian rupa, niscaya aku membacanya lebih indah dan merdu lagi.”

Prinsip 6. GUNAKAN SATU MUSHAF

Al-Qur’an yang dipakai hendaknya hendaklah yang ujung kertasnya merupakan permulaan ayat dan ujung bawahnya merupakan akhir ayat. Al-Quran ini seperti Al-Quran yang dicetak oleh percetakan Raja Fahd bin Abdul Aziz, Saudi Arabia.

Jika kita sudah nyaman menggunakan satu bentuk mushaf, sebisa mungkin jangan diganti karena otak manusia sifatnya merekam letak ayat dalam halaman, warna-warna di halaman, dll.

Prinsip 7. BENARKAN BACAAN

Jika Anda ingin menghafal, sebaiknya kita menyetorkan bacaan terlebih dulu kepada seorang guru ngaji yang professional. Jangan terlalu percaya diri, sebab Anda pasti melakukan kesalahan.  Lebih baik untuk tidak menghafal jika bacaan masih belum benar. Karena dipastikan akan sangat sulit untuk dibenarkan.

Untuk prinsip yang satu ini: KESABARAN ADALAH HAL URGEN.

Prinsip 8. MUROJA’AH

Sebuah hadits menyebutkan bahwa tidak ada dosa seorang muslim yang lebih besar daripada berpaling daripada Al-Quran. Maka mengulang hafalan Qur’an adalah prinsip yang gak bisa di tawar-tawar. Jika menghafal adalah proses memasukkan file ke dalam computer. Namun hafalan itu bisa terhapus oleh virus-virus yang masuk. Maka mengulang hafalan adalah ibarat memasukkan file ke dalam folder ke permanen.

Prinsip 9. KETEGUHAN

Mengapa tidak sembarang orang mampu menghafal Qur’an 30 juz secara kamil (sempurna)? Jawabannya karena mereka tidak memiliki keteguhan untuk tetap terus menghafal Qur’an. Bisa jadi karena merasa sulit menghafal, tidak memahami kemampuan otak manusia, tidak focus, tidak memahami keuntungan menghafal Qur’an.

Alangkah baiknya untuk memiliki keteguhan yang kokoh, kita memahami keutamaan dan keuntungan menghafal Quran. Penulis sudah menulis di artikelnya di sini: 40 Keutamaan Menghafal Quran

Prinsip 10. DOA

Inilah factor penting untuk memudahkan dalam menghafal Qur’an. Jangan kira kita mampu menghafal Quran adalah karena kemampuan diri sendiri. Ingat: Hafalan Quran adalah titipan Allah… milik Allah. Jika kita merasa karena kemampuan diri sendiri kita sanggup menghafal Qur’an, itu semua nonsense!

Rasulullah pernah berwasiat pada Muadz, “Demi Allah, saya mencintaimu wahai Muadz. Jangan engkau melupakan doa ini: Ya Allah tolonglah aku untuk terus menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...