Friday, November 12, 2021

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam Zaman Keemasan

 


Penyakit mental disebabkan oleh setan atau roh jahat sebenarnya berasal dari orang Eropa pada periode Abad pertengahan yang memandang penyakit mental terkait dengan setan. Ini adalah kerangka kerja yang paling umum digunakan untuk memahami kesehatan mental yang buruk pada saat itu (Porter, 1999). Dan memang pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim.

Namun perlu dicatat, bahwa secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistic, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan. Para scholar Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (Avicenna, pendiri Kedokteran Modern) justru menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis.

Dokter dan filsuf di masa lalu, seperti Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi and Abu Zayd Al-Balkhi, mengakui penyakit mental sebagai wacana medis dan menganjurkan pendekatan yang seimbang untuk meraih kesejahteraan.

Ini kemudian menyebabkan pendirian bangsal psikiatri pertama di Baghdad, Irak pada tahun 705 M oleh Al-Razi. Ini juga rumah sakit jiwa pertama di dunia. Menurut Al-Razi, gangguan mental dapat diobati dengan psikoterapi dan perawatan obat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak ada penyakit yang diciptakan oleh Allah, kecuali ia juga menciptakan obatnya.” [Shahih Bukhari]

Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika seseorang mengalami masalah kesahatan mental, ia dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.  Islam memberi Muslim kode perilaku, etika, dan nilai-nilai sosial, yang membantu kita dalam menoleransi dan mengembangkan strategi koping untuk menghadapi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam harmoni dengan orang lain “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Quran 28: 77)

Al-Ghazali juga menulis mengenai pentingnya kesehatan psikospiritual dan relasinya dalam hubungan kita dengan ALLAH SWT. Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menulis, “Ketika Tuhan menginginkan yang terbaik bagi seorang hamba, Dia memberikan kesadaran akan kekurangannya sendiri.” (halaman 256). Ini menekankan pentingnya kesadaran diri kita untuk tidak malu menghubungi profesional jika mengalami masalah kesehatan mental. Pada akhirnya, kesehatan mental itu juga agar kita dapat beribadah secara sebaik-baiknya kepada Allah SWT.


#30DWCJilid33

#Day18

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb