Minggu, 10 April 2011

Cerpen: Hikari no Suugaku


Oleh : Maryam Qonita

“Aah.., berisik!”. Aku menutup telinga. Mencoba menghilang dari kebisingan tersebut. Yuko-san lalu menggoyang-goyangkan lenganku hingga aku terbangun. Segera kusadari semua mata dikelas tertuju ke seorang gadis pemalas di ujung ruangan yang tidak lain adalah diriku, si musuh bebuyutan suugaku (matematika). Kutopang daguku dengan ogah-ogahan.

“Masami-san, apa dirumahmu kau tidak bisa tidur?”, tanya Bu Aufa, guru suugaku. Aku tersentak dan membatin kesal. Aku ini memang tak pernah berjodoh dengan matematika apalagi melihat penampilan guru suugaku itu yang seperti orang timur tengah. Padahal ia orang Jepang asli. Nama aslinya bahkan Rinko Kitazawa. Membuatku bertanya-tanya apa yang membuatnya sampai rela selalu memakai scarf yang selebar karung beras tersebut.

“Aku tidak akan tidur di kelas kalau sekarang bukan matematika.” Aku berharap dia akan marah lalu tidak lagi masuk mengajar. Tapi kudapati dirinya hanya tersenyum. Membuatku bertambah jengkel karena berarti ia akan melanjutkan mata pelajarannya. Aku lalu menerawang ke langit karena bosan. Tempat dudukku yang di ujung kebetulan dekat jendela. Sehingga pandanganku dengan mudah melayang bersama kapas-kapas putih di langit itu. Satoshi-kun, murid paling populer di sekolah mulai merasuki pikiranku. Oh Satoshi-kun, Aishiteru..

Suatu hari, di apato tempat aku tinggal, teman-temanku datang. Mereka adalah Yuko-san dan Aya-san. Awalnya kukira mereka datang untuk mengajakku menonton pertandingan sepakbola di Tokyo Dome. Tapi ternyata mereka datang untuk membuat PR matematika bersama. Akhirnya, aku mencontek hasil pekerjaan mereka saja.

Biarpun datang untuk membuat PR matematika, itu lebih baik daripada tidak ada teman yang datang ke apato. Aku tinggal sendirian karena kedua orang tuaku memaksaku ikut mereka ke Amerika. Karena kutolak akhirnya mereka meminimalisir uang jajanku disini.

Ah, kembali lagi bayangan Satoshi-kun merasuki pikiranku. Kadang aku menemui wajahnya di permukaan air, di langit, di atas mie ramen bahkan kadang aku melihat wajah Satoshi-kun menempel di muka Yuko-san dan Aya-san. Satoshi-kunlah yang membuatku bertahan di Jepang. Ia juga yang membuatku semangat setiap berangkat sekolah (kecuali kalau ada pelajaran matematika). Aku harap Satoshi-kun sadar ada aku yang akan selalu menerima dia apa adanya.

Suatu hari di sekolah, aku kembali akan bertemu pelajaran matematika, aku langsung bersiap siaga untuk tidur. Beberapa teman kelasku protes dan mereka bilang aku ini keterlaluan. Menurutku yang keterlaluan itu orang yang membuat matematika jadi pelajaran di sekolah!

“Hari ini ulangan!”

Aku tersentak dan tidak jadi tidur mendengar yang dikatakan Bu Aufa barusan. Aku belum menyiapakan contekan sama sekali. Biasanya kalau ada contekan, nilaiku bisa mencapai enam puluh. Kalau tidak ada contekan, nilai diatas tiga puluh akan kukenang bertahun-tahun.

Apes sudah nasibku ini. Aku tidak menyiapkan contekan untuk ulangan barusan. Jadi akhirnya tolong jangan ditanya. Nasakenai!!

“Hai, Masami-san, apa kau sakit?”, tanya Satoshi-kun menghampiriku dari belakang ketika pulang sekolah seusai ulangan tadi. Deg! Satoshi-kun menyapaku! Itu berarti dia menyadari keberadaanku di sekolah ini. Kurasa atmosfir langsung berubah 180 derajat. Nafasku terhenti sesaat, aku gemetar. Dan aku terlanjur melihat matanya yang tajam yang telah menusuk hatiku begitu dalam. I Swear! Demi mie ramen, aku lupa semua kejadian yang terjadi sebelum ini.

“Masami-san, kau benar sedang sakit?” Ia bertanya untuk yang kedua kalinya. Ssiiing.., Aku tersentak. “Ah, iie..,” jawabku salah tingkah. “Daijoubu,” tambahku.

Keesokan harinya, ayahku dari Los Angeles menelepon.

“Mi-chan, ayah tahu nilai ulanganmu kemarin Nol! Ayah juga tahu nilai matematika kamu mengecewakan semua! Harusnya kau ikut ayah ke Amerika dan sekolah di Santa Monica High School! Pendidikan disana jauh lebih baik dan kau punya masa depan!” Kutahu dia begitu marah. Omelannya itu membuat hariku redup. Padahal sebelum telepon ini kuterima, setiap detikku terasa indah dan kau tahu kenapa.

“Ayah tidak mengerti, aku sudah berusaha tapi tetap tidak bisa hitung-hitungan. Lagipula, mata pelajaran yang lain nilainya selalu diatas rata-rata.”

“Tidak mengerti? Memangnya ayah tidak tahu kalau kau selalu tidur di setiap pelajaran matematika? Kau sadar bukan kalau matematika diujikan untuk setiap Ujian Nasional?!”

Aku terdiam. Aku ingat kini aku telah kelas 3 SMU. Entah akan lulus atau tidak. Kalau tidak lulus itu artinya aku tidak kuliah, kalau tidak kuliah itu artinya… tamat riwayatku!

“Pokoknya semua nilaimu entah tugas maupun ulangan harian harus diatas 50! Termasuk matematika! Kalau ada yang dibawah 50, kamu akan mengulang SMU di Amerika!”

DEG! Hariku bukan hanya menjadi redup, tapi BLAM! Makkura! Well, Pelajaran lain bagiku tidak masalah. Tapi khusus suugaku, muzukashi!!

Sepanjang jam sekolah, aku tahu ini bukan diriku yang biasanya. Setiap detik kulalui dengan lesu seperti yang dikomentari Yuko-san. Aku tidak peduli, otakku penuh dengan perkataan ayahku kemarin. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali ada tinta pulpen merah yang membetuk bulat lonjong besar di atas kertas ulangan matematika. Tapi baru saat ini ayah mengancam aku akan disekolahkan di Amerika. Entah kenapa aku tidak mau kesana.

Yuko-san dan Aya-san mengajakku pulang bersama tapi kutolak mentah-mentah. Nafsu makan pun hilang. Aku takkan mau ikut orang tua. Jauh lebih baik mereka yang mengunjungiku disini.

Tiga hari telah berlalu. Bentuk bulat besar itu masih saja mondar-mandir menghantuiku. Aku seperti terombang-ambing oleh angin. Biasanya aku yang langsung tidak tahan melihat mie ramen, sekarang tidak lagi. Malam begitu gelap gulita tanpa bintang. Acara televisi tidak ada satupun yang bisa membuat seulas senyum terukir di bibirku. Semua terasa bisu.

Tiga hari selanjutnya, berat badanku turun dua kilo. Bahkan suatu hari ketika aku naik densha, aku duduk di dekat orang yang sedang mengidap penyakit. Kuharap diriku akan tertular lalu menghilang dari semua kenyataan ini. Hhh.., rasanya seperti memikul beban begitu berat dan tidak kunjung membaik. Yang biasanya aku hanya tidur saat mata pelajaran matematika, tapi sekarang lebih sering bolos sekolah.

Keesokan harinya, Yuko-san dan Aya-san kesekian kalinya menghampiriku untuk tahu apa yang terjadi padaku selama ini. Bosan memendam sendiri, maka kuceritakan masalahku dan kudapati mereka mendengarnya dengan segenap hati. Kuharap mereka bisa memberikan solusi.

“Minta diajarkan saja oleh Bu Guru Aufa!” kata Aya-san. Aku buang muka mendengarnya. Apa itu sebuah solusi? Bahkan tidak pernah terlintas di benakku sedikitpun.

“Dia mana sudi mengajariku?” desahku kesal.

“Bu Aufa seorang pemaaf. Lagipula cara mengajarnya mudah dimengerti. Kamu saja yang tidak mengenalnya.” Aku melihat mata Yuko-san untuk tahu dia benar-benar jujur. Tapi setelah itu, aku segera berpaling. Pasti begitu berat untuk minta maaf pada Bu Aufa.

“Aku akan kursus matematika saja!” kataku tegas.

“Terserah kamu, tapi sepertinya kamu harus mengulang matematika dari pelajaran SMP. Sedangkan kau sudah tujuh belas tahun. Apa tidak malu?” tanya Yuko-san.

“Lebih baik minta diajarkan sama Bu Aufa saja. Sekalian dirimu minta maaf!” timpal Aya-san

“Ini alamatnya!”. Aya-san memberikan secarik kertas padaku. Aku melihat kertas itu tapi tidak juga kuambilnya.

“Muri..,” ujarku singkat. Ada gejolak di hati. Apa Yuko-san dan Aya-san dapat merasakannya? Ah, aku ragu.

“Semua itu terserah kamu Masami-san. Kami sudah memberikan solusi yang terbaik,” ujar Aya-san.

“Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang ini. Kau harus percaya pada kami. Jalan yang terbaik adalah minta maaf pada Bu Aufa dan minta diajari olehnya. Dia selalu mencoba memberikan yang terbaik untukmu,” kata Yuko-san.

Aku diam termenung. Mungkin benar mereka berkata begitu. Aku memang harus minta maaf. Mungkin kerongkonganku akan terasa tercekik. Tapi rasa bersalah mulai terbesit di hati. Biarpun tidak mungkin, aku harap Bu Aufa juga masih mau mengajariku matematika. Kalau tidak juga tidak apa-apa, setidaknya dimaafkan olehnya saja aku sudah bersyukur.

Sepulang sekolah, kumantapkan langkahku untuk mendatangi Bu Aufa di rumahnya. Baru pertama kali aku merasa langkah kaki ini terasa begitu berat. Ketika melihat kedatanganku, ia tampak heran. Sedangkan aku hanya diam tapi kurasakan lututku gemetar. Di dalam rumahnya, aku disuguhkan susu hangat dan ia bertanya maksud kedatanganku dengan ramah. Dengan tekad yang kuat, aku mengatakannya.

“Aku ingin minta maaf,” kataku. Lidahku mulai terasa aneh tapi aku teruskan, “Aku selalu tidur di mata pelajaran matematika. Bukan karena cara mengajar Ibu tidak enak, tapi karena aku yang sejak awal tidak suka matematika. Aku tahu Ibu kecewa selama ini. Aku minta maaf!” kataku sambil menunduk.

Bu Aufa dengan wajah teduhnya tersenyum. Membuatku senang melihatnya. Apalagi setelah ia berkata, “Tentu ibu maafkan,” katanya lalu ia melanjutkan, “Emm.. Masami-san, ibu tahu kau kesulitan dalam suugaku. Kalau kamu mau biar ibu ajarkan kamu di rumah ibu.”

Aku kaget. Rasanya terharu sekali. Oh.. Bu Aufa, mengapa engkau bisa sampai segini baiknya padaku? “Ss.. souka?” tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk.

“Iya bu. Aku mau! Arigatho Gozaimasu!”

Akhirnya, hampir setiap hari aku mengunjungi rumah Bu Aufa untuk belajar matematika. Karena aku harus mengulang pelajaran SMP membuatku sering mendatangi rumah Bu Aufa. Sepulang sekolah, kadang aku harus menunggu lima menit Bu Aufa oinori dahulu. Mataku mulai berkeliling melihat isi rumahnya. Ada pajangan terbuat dari kulit kambing berbingkai kayu dan bertuliskan huruf-huruf asing yang tidak kumengerti. Biarpun begitu, tulisan asing itu membuatku tertarik karena tulisannya begitu indah.

Seusai Bu Aufa oinori ia muncul sambil membawakanku segelas teh. Aku meminumnya, lalu kulontarkan pertanyaan yang pasti aku tidak tahan bila kupendam sendiri. “Mengapa ibu meyakini agama yang sudah jelas itu adalah agama teroris?” tanyaku yang mulai kritis pada keseharian Bu Aufa.

“Itu masalah bagimu?” tanyanya. Aku mengangguk dan Bu Aufa tersenyum.

“Kalau begitu, ibu akan juga mempermasalahkan agama Katolik sewaktu Timothy Mcveight meledakkan gedung federal tahun 1996 di kota Oklahoma.”

“Aku tidak mengerti.”

“Jangan salahkan Islam atas apa yang dilakukan sekelompok muslim. Jangan salahkan agama atas apa yang dilakukan pemeluknya, karena agama tidak pernah mengajarkan terorisme. Itu menjawab pertanyaanmu?”

“Lalu kenapa Ibu percaya pada Tuhan yang telah menciptakan setan di dunia ini?”

“Jadi menurutmu, siapa tuhan yang telah menciptakan setan di dunia?”

“Dalam agama Buddha, ada siluman yang merajai para setan. Sementara dibawah raja langit, para dewa memiliki tugasnya masing-masing. Kalau menurut ibu Tuhan itu satu, bukankah itu berarti Tuhan yang Ibu yakini menyesatkan manusia karena dia juga yang menciptakan setan?”

Setiap pertanyaan yang terlintas di kepalaku kutanyakan. Tapi kudapati emosinya tidak tersulut biarpun aku begitu cerewet. Yang kutanyakan hanya berkutat pada keyakinan Bu Aufa yang sulit kumengerti. Mengapa Bu Aufa memilih memeluk agama Islam? Mengapa Ibu percaya pada Tuhan yang tidak dapat dilihat?Bukankah setiap pemeluk agama apapun akan masuk Surga? Kenapa ibu malah memilih agama yang mengharuskan memakai kain lebar ini dan mengharuskan Ibu oinori 5 kali sehari? Mengapa, mengapa, dan mengapa. Tapi ternyata jawaban Bu Aufa lebih sulit kumengerti daripada pelajaran matematika.

Aku mulai memikirkan diriku sendiri. Kalau sejak kecil, aku sudah terbiasa beribadah kemana saja. Kadang ke kuil, jinja, kadang pula aku dan keluargaku ke gereja. Entahlah. Tuhanku siapa? Baiklah, aku tidak akan menceritakan apapun tentang hidupku yang tidak menarik. To the point, aku mulai menyukainya sebagai guruku yang ramah, biarpun scarf nya itu tak jarang membuatku gerah.

Aku mulai senang pergi ke rumah Bu Aufa. Bahkan aku lebih senang berada di rumahnya daripada di apato sepi itu. Di sela-sela belajar, tak jarang aku bermain bersama anak perempuannya yang masih balita. Namanya Nabila dan aku biasa memanggilnya Na-chan. Kadang Na-chan juga memakai tudung kepala yang membuat wajahnya makin menggemaskan.

Setiap hari aku pergi ke rumahnya sampai pernah aku lupa pulang ke apato. Aku betah berada di rumahnya yang hangat itu. Kabar gembiranya, nilai matematiku membaik! Aku tak percaya ketika menerima hasil ulangan matematika milikku yang nilainya 55! Ulangan selanjutnya nilaiku ternyata lebih baik, 60! Dan terus membaik. Itu semua tanpa kertas contekan! Dan aku melihat Bu Aufa tersenyum bangga ke arahku.

Keesokan harinya, aku kembali ke rumah Bu Aufa. Rumah yang sudah kuanggap rumahku sendiri. Ah, iya! Aku kembali teringat tulisan-tulisan yang terpajang di dinding rumahnya Bu Aufa. Huruf apa, ya? Selama ini aku penasaran tapi lupa menanyakannya. Ketika sampai disana aku akan menanyakannya, ah.

“Konnichiwa, apa Bu Aufa ada?” Aku bertanya pada seorang pria Indonesia yang tidak lain adalah suami Bu Aufa yang asli orang Indonesia, Pak Bambang. Dia menunduk sembari menggendong Na-chan di dadanya yang bidang.

“Dia kecelakaan.”

Aku kaget bukan main. Aku merasa ada petir menyambar di siang bolong seperti ini. Bukan, tapi merasa ada bom atom meluluh lantakkan Tokyo. Terpaku di tempat dan tak bisa berkata-kata. Pikiranku seketika menjadi kosong karena shock mendengar kalimat yang keluar dari mulut Pak Bambang. Bu Aufa kecelakaan?! Padahal baru kemarin di kelas dia tersenyum melihat nilai matematikaku yang membaik. Itu tidak mungkin! MURI!!!

“Anda berbohong kan?” tanyaku dengan nada tercekat.

“Saya takkan mampu berbohong seperti ini.”

Air mataku mulai tak terbendung. Kumulai langkah untuk pulang ke apato dengan sangat berat. Jauh lebih berat dari pertama kali aku ingin minta maaf pada Bu Aufa. Jauh lebih berat dari menyatakan rasa suka pada Satoshi-kun. Bahkan lebih berat dari ikut orang tua ke Amerika.

“Kau tidak ingin menengoknya di rumah sakit?” tanya Pak Bambang di dekat mobil Honda miliknya. Aku menoleh. “Dou?” dia bertanya. Aku mulai menangis, lalu berjalan masuk mobil tersebut bersama Pak Bambang dan Na-chan.

–Samui–

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Biarpun aku tidak sempat bertanya pada Bu Aufa tentang rangkaian tulisan indah yang menghiasi dinding rumahnya, aku tahu apa itu. Namanya kaligrafi. Seiring dengan itu aku mulai mencari referensi tentang Islam. Buku-buku tentang Islam kulahap. Tidak jarang muncul banyak pertanyaan yang sulit kuselesaikan. Membuatku rela duduk berjam-jam untuk mendiskusikan masalah ini.

Aku juga sering berpastisipasi dalam acara dan seminar dalam aktifitas keislaman yang melibatkan para pelajar dan mahasiswa non-muslim. Namun aku belum tergerak untuk bersyahadat. Semua ini kulakukan hanya untuk merasakan pengalaman spiritual seperti yang dulu Bu Aufa lakukan.

Hingga suatu hari, aku pergi ke Islamic Cultural Center of Japan. Disana aku menyimak khutbah jum’at oleh Ustadz Zakaria. Dalam khutbahnya, beliau membahas seputar kematian dan hari akhir. Aku tersentuh mendengarnya. Hatiku bergetar. Ketika khutbah jum’at usai, aku memantapkan langkahku menghampiri Ustadz Abdullah di depan pintu.

Alhamdulillah, disaksikan oleh ribuan jamaah. Aku berlinangan air mata, berikrar: “Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah", disambut dengan pekikan takbir berkali-kali oleh para hadirin. Itulah titik ledakan dalam hidupku.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang musim semi, kini aku bahkan telah melalui Ujian Nasional. Di sekolah, Yuko-san menghampiriku setelah melihat daftar nama murid yang lulus.

“Maryam-san, kamu lulus!” ujarnya gembira. Aku tersenyum. Biarpun lulus UN dengan NEM tertinggi, ada rasa kecewa terbesit di hati. Bu Aufa telah pergi dan tidak sempat melihat nilai UN matematikaku kali ini mendapat 100.

Tadi pagi Satoshi-kun menyatakan rasa sukanya padaku. Dia bilang bahwa selama ini dia menyukaiku. Biarpun aku merasa kecewa karena Bu Aufa tidak sempat melihatku yang kini juga memakai scarf yang kusebut jilbab, bahkan tidak kalah lebar dari jilbab yang biasa dikenakan olehnya, kini aku merasa aku adalah orang paling bahagia. Tapi bukan Satoshi-kun yang kumaksud membuatku bahagia. Bahkan aku malah menolaknya. Dia hanya impianku di masa lalu dan aku harap dia mengerti.

Aku melangkah di halaman apato dibawah pohon yang dipenuhi bunga sakura. Ya Allah, indah sekali musim semi ini. Kuserahkan segenap rasa cintaku pada-Mu. Kau tahu apa yang bergolak dihati ini maka biarkanlah seluruh raga dan jiwaku berlabuh hanya pada-Mu, Ya Allah. Dengan segenap hati aku datang pada-Mu ingin menghapus noda dan kesalahan masa lalu.

Samui–

12 Oktober 2008

Keterangan

Suugaku : Matematika

Apato : Apartemen

Nasakenai : Memalukan

Iie : Tidak…

Daijoubo : Tidak apa-apa

Muzukashi : Pasti sulit

Makkura : Gelap gulita

Densha : Kereta Api

Muri : Mustahil

Souka : Benarkah

Arigatho Gozaimasu : Terimakasih banyak

Oinori : Ibadah

Dou : Bagaimana

Reaksi:
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. bagus...bagus..
    saya suka.. saya suka..
    bagus itu cerpen.a!

    keren.keren.keren! hehehe

    :D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D:D
    www.alay.com .... hehehe

    BalasHapus
  2. wah, cerpennya bagus, pengen bisa nulis, hehe

    BalasHapus
  3. Nice Info Jangan Lupa Kunjungi Blog kami http://jasabimbinganskripsisurabaya.blogspot.com/

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...