Jumat, 08 April 2011

Tak Sekadar Sastra

(Tulisan ini dimuat di majalah Husnul Khotimah edisi Ukhuwah)


“Kalau engkau bukan anak raja atau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”
Al-Ghozali
Dalam konteks Islam, semua yang baik yang dilakukan seorang muslim merupakan ibadah kepada Allah SWT. Termasuk dalam dunia literatur. Seperti dikatakan Al-Ghozali, jadilah penulis jika Anda bukan anak raja atau bukan anak ulama besar. Memangnya, sebegitu bermanfaatnyakah menjadi seorang penulis? Jawabannya, tergantung apa yang Anda tulis. Mari kita bahas sekilas di sini.
Berdakwahlah Lewat Tulisan!
Almarhum Ust. Rahmat Abdullah pernah berkata pada Mbak Helvy Tiana Rosa, “Teruslah berjuang dengan pena-pena itu!” Jadi, dengan menulis pun sebenarnya Anda sedang berjuang. Pertanyaannya, berjuang melawan siapa? Jika Harry Potter saja bisa ‘menyihir’ masyarakat dunia dengan fantasi sihirnya, kenapa Anda tidak menulis buku yang dipenuhi nuansa dan cahaya Islam?
Mengutip ucapan Shanon Ahmad, “Bersastra dalam Islam haruslah bertonggakan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.” Juga sebagaimana firman Allah SWT, "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.”
Karya Sastra Islami
Karya sastra yang “tak sekadar sastra” senantiasa mengajak pembaca untuk kembali mengingat Allah, entah disampaikan secara tersurat maupun tersirat. Selain itu, ia juga selalu mengajak untuk amar ma’ruf nahi munkar.
Sastra Islami bicara tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan malah cinta semu yang diobral Shakespeare di sepanjang Mouff Distrik ataupun dari Place de la Contrescarpe di Paris. Sastra yang Islami juga bukan sekadar bertemakan Islam, melainkan mengarah kepada pembentukan jiwa dan terkandung di dalamnya sebuah pembenaran.
Sastra Islami ditulis oleh pribadi yang Islami pula. Karena prinsip menulis itu pada dasarnya sama seperti ke wc: yang dikeluarkan adalah yang dimasukkan. Jika Anda hanya membaca tentang dunia politik, maka Anda akan menulis seputar dunia politik saja. Jika Anda banyak membaca karya sastra yang Islami, maka Anda akan menjadi penulis karya sastra yang Islami pula. Simpel, kan?
Bicara tentang membaca, data dari UNDP membuktikan kalau minat baca Indonesia berada di peringkat 96 dari negara lain. Bahkan termasuk terendah di Asia Tenggara. Kita bisa lihat fakta santri sendiri, hanya 60% santri Husnul Khotimah yang pergi ke perpustakaan, padahal standar minimal yang telah ditetapkan Internasional adalah 80% dari seluruh siswa.
Sebagian dari kita saat di perpustakaan mungkin cuma akan melihat judul buku sekilas, melihat isi buku dengan membuat angin dari kumpulan kertas kering itu, lalu dengan cepat menaruhnya lagi di rak. Oke, saya mengerti. Tapi jika Anda mau melatih membaca bacaan yang bermanfaat, percaya deh, Anda pasti akan menemukan “sesuatu” yang membuat Anda ketagihan.
Dampak Karya Sastra
Di zaman globalisasi ini, mayoritas anak muda lebih gemar membaca novel teenlit tanpa peduli apakah itu merusak akhlak atau tidak. Mereka akan senantiasa berdalih atas nama “kebebasan berekspresi”. Mengutip perkataan Mbak Helvy Tiana Rosa, kalau sastra tentu saja harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, pada nilai-nilai Islam tanpa harus kehilangan nilai estetikanya.”
Dari fenomena di atas, kita tentu tahu bahwa sangat besar dampak sebuah karya sastra. Bahkan, saya berani mengatakan kalau karya sastra bisa berdampak jauh lebih besar dan lebih lama daripada pidato presiden. Kenapa? Karena karya sastra punya wujud dan mempunyai nilai estetika sendiri di dalamnya. Contohnya, buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” karya Ibu Kartini. Atau mungkin buku “Clash Civilization” karya Samuel Huntington yang pada akhirnya membuat George W. Bush menginvasi Irak dan Afghanistan. Saya yakin sih Anda tahu lebih banyak contoh karya sastra yang sangat berpengaruh di dunia, atau setidaknya berpengaruh untuk diri anda sendiri.
Penutup
Sampai disini, tidak berlebihan jika saya bilang kalau dunia berubah karena karya sastra. Begitu juga, tidak ada paksaan bagi Anda untuk menjadi seorang sastrawan. Hanya saja, jika Anda menjadi seorang penulis, jangan sampai Anda menulis buku yang bisa menjadi tabungan dosa bagi diri Anda sendiri. Wallahu A’lam. (deta/dari berbagai sumber)

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...