Jumat, 16 Juli 2010

Aisah Malaikat Kecilku


*Based on true story



Pagi mengintai di balik kapas-kapas putih yang melayang. Kelopak mataku menghangat, buliran bening jatuh membasahi pipi ketika Nasywa, anak tetangga sebelah lewat di depan teras rumah. Bocah perempuan itu memeluk erat bolanya sembari tersenyum ke arahku. Bayang-bayang masa lalu pun kembali berkelebat. Aku teringat malaikat kecilku yang juga sangat menyukai benda yang berbentuk bulat. Aku dan istriku, Sarah menamakannya Siti Aisah, kami memanggilnya Ais.

Semenjak kami membelikan Ais sebuah bola, selalu saja ada barang yang pecah di rumah.

“Ayah, kita harus sabar menghadapi kelincahan Ais yang sedang tumbuh besar. Semua ini Insya Allah ada hikmahnya,” begitu kata istriku. Ah, ia memang begitu sabar.

Suatu hari, aku bermaksud menjemput Ais pulang dari TK, bola Ais terlepas dari pelukannya, menggelinding ke tengah jalan. Ais berlari mengejar bolanya. Sementara, kulihat sebuah truk melaju kencang di jalan sempit itu. Aku langsung berlari menyelamatkannya dan Alhamdulillah, Ais selamat. Tapi ternyata cobaan yang kulalui diluar dugaan, kedua kakiku harus diamputasi karena kecelakaan ini. Padahal dengan kakiku itulah aku bisa menafkahi keluarga.

. Semenjak ini, kami tidak ada pemasukan. Aku dipecat. Perusahaan-perusahaan lain juga menolak lamaran kerjaku karena alasan yang klise sekali: tidak punya kaki.

“Ayah, Ibu akan bekerja di pabrik tekstil sampai ayah mendapat pekerjaan. Boleh kan, yah?” ucap Istriku. Aku pun menyetujuinya demi pemasukan keluarga. Baru tiga minggu istriku bekerja ia minta berhenti karena atasannya selalu menggodanya. Entah aku harus senang atau sedih mendengar itu, tapi aku terharu karena istriku begitu setia dalam kondisi begini.

Tiga bulan berlalu, kami bertahan dengan mengandalkan sisa tabungan dan santunan sanak saudara. Hingga akhirnya, lagi-lagi istriku berkata dengan tabahnya, “Ayah, tidak mungkin kita begini terus. Ibu akan ke Malaysia untuk bekerja di sana demi pemasukan keluarga kita. Bisa kan?” tanyanya. Aku keberatan, aku sering mendengar kalau TKW sering mendapat perlakuan yang buruk oleh majikannya. Tapi pada akhirnya aku melepasnya juga karena tuntutan ekonomi yang kian melanda.

Hari terus bergulir, kami hidup dengan uang yang dikirim oleh istriku secara rutin. Ais kini telah memakai seragam SMP. Andai istriku dapat melihatnya juga.

Tahun demi tahun pun berlalu dan Ais bahkan telah menginjak bangku SMU. Istriku tidak lagi mengirimkan uang dan kami kehilangan kontak. Aku cemas dan begitu merindukannya. Begitu pula Ais yang bertahun-tahun tidak lagi melihat wajah ibunya.

“Ayah, Ais sudah besar. Ais ingin pakai jilbab untuk menutupi aurat Ais. Boleh kan, yah?” tanyanya menyentak hatiku. Pelan suaranya tapi menggema di seluruh rongga jiwa. Dan semenjak permintaan itu kuturuti Ais kecilku sudah berubah. Ia memang sudah besar dan ia terlihat lebih anggun dengan jilbab yang kini menutupi rambutnya.

Cobaan kerap mendera kami. Ais kian menjadi bahan olokan teman-temannya karena ayahnya cacat. Kepala Sekolah pun mengancam akan mengeluarkan Ais dari sekolah jika tidak juga bayar SPP. Ya Allah, Engkau yang Maha Adil, kuatkanlah punggungku menghadapi cobaan-cobaan ini...

“Ayah, Ais sayang sama ayah. Ais tidak ingin ayah repot dengan SPP Ais. Ais kan bisa bekerja menjadi TKW di Malaysia sama seperti ibu, jadi disini ayah juga ada pemasukan. Siapa tahu disana Ais bisa ketemu ibu. Boleh kan, yah? Ais mohon...” pintanya. Aku terperangah mendengarnya. Ayah seperti apa yang membiarkan istri dan anaknya bekerja di Malaysia menjadi TKW? Kalau saja aku bisa memilih, lebih baik aku yang bekerja di sana.

Kulihat tekad Ais begitu kuat. Aku tahu ia juga begitu merindukan ibunya. Akhirnya, aku melepas satu-satunya putriku. Kulihat kepergiannya dengan berat hati. Aku hanya bisa berdoa demi kebaikan dan demi keselamatan Ais di tengah kesendirian ini.

Ais begitu rajin mengirim uang kepadaku disini sembari mengirim surat untukku. Di atas kertas, goresan tinta bercerita tentang kehidupannya di Malaysia.

Ayah, disini Ais baik-baik saja. Bagaimana dengan Ayah?
Disini, Ais punya majikan seorang datuk yang kaya raya, ia memiliki dua orang istri. Istri muda datuk baik sekali pada Ais. Jadi ayah tidak usah khawatir.
Tapi Ais belum ketemu ibu. Semoga aja Allah mempertemukan Ais dengan ibu. Ais kangen banget sama ibu. Ais juga kangen banget sama ayah...

Terimakasih, malaikat kecilku. Kau mengajarkanku kasih sayang begitu besar. Ayah disini juga begitu merindukanmu, merindukan senyumanmu, merindukan derai tawamu. Do’a ayah selalu menyertaimu, Ais-ku sayang.

Aku meneteskan air mata.

Bulan berganti bulan, Ais tidak lagi mengirimkan surat. Aku mulai merindukannya. Setiap hari kunanti kedatangan suratnya. Tapi suatu hari yang datang adalah staf Departemen Luar Negeri. Kuterima mereka dengan terbuka lalu bertanya maksud kedatangan mereka dengan penuh tanda tanya.

“Apakah kau adalah orang tua Siti Aisah binti Hasan?”

“Iya. Ada apa, ya?”

“Pengadilan Negeri Sembilan menjatuhkan putrimu hukuman mati atas pidana pembunuhan”

Aku kaget. Aku kaget bukan main. Hatiku hancur mendengarnya. Air mataku tidak terbendung. Sungguh, aku tidak mampu mengatakan apapun saat itu.

“Kau bisa menyewa pengacara untuk membela putrimu, kau pun bisa mengajukan banding agar pengadilan meringankan hukuman putrimu”

Sayangnya, aku tidak mampu melakukan itu Aku tidak punya uang untuk menyewa pengacara, aku juga buta hukum Malaysia. Tapi mereka mengijinkanku bertemu Ais untuk terakhir kalinya.

Akhirnya, aku sampai di negeri Jiran. Aku bertemu Ais di suatu tempat khusus bagi tahanan yang akan divonis mati. Suasana haru menyelimuti ruangan saat itu juga. Kami menangis sejadi-jadinya.

“Ais gak salah, ayah! Ais gak salah...!! Datuk menyuruh Ais melakukan itu di kamar, Ais gak mau tapi datuk terus memaksa. Ais terus menolak sampai Ais tak sengaja mendorong datuk ke luar jendela dan jatuh ke lantai satu. Istri muda datuk tidak terima dan menuntut Ais dihukum mati. Ais gak salah kan, yah? Ayah percaya kan sama Ais?” Tangisku pecah. Tidak terhitung berapa kali aku berkata aku percaya padanya. Tidak terhitung pula aku berkata maaf karena menjadi ayah yang tidak berguna.

“Ayah gak usah minta maaf. Bagi Ais ayah adalah ayah yang terbaik untuk Ais. Sekarang Ais ingin membalas kebaikan ayah yang sudah menyelamatkan nyawa Ais sewaktu kecil. Ais hanya ingin ayah percaya sama Ais karena gak ada lagi orang yang percaya kata-kata Ais.”

Aku terus mendengar tangisannya hingga akhirnya seorang pegawai tahanan yang mengatakan waktu pertemuan telah berakhir.

Hari eksekusi pun tiba. Aku melihat senyum Ais terukir untuk terakhir kalinya terpisahi kaca. Ia lalu mengumandangkan kalimat syahadat serta tahlil sebelum kain hitam menutupi wajah. Algojo bersiap dan menarik besi penyangga. Tubuh Ais tergantung dan ia mati. Aku tidak menangis. Air mataku sudah benar-benar habis.

Kulihat seorang wanita yang berdiri tidak jauh. Seorang wanita mengenakan balutan gamis mahal dan ia tersenyum puas. Aku langsung tahu kalau dia adalah istri muda datuk yang tidak terima kematian suaminya. Beringsut aku mendekatinya menggunakan dua tongkat ini untuk melihat wajah wanita itu seksama.

Masya Allah..., aku benar-benar kaget. Wanita itu mirip Sarah, sosok wanita yang paling Ais ingin temui.

“Sarah, kaukah itu?” tanyaku dengan nada tercekat. Ia menoleh dan terbelalak kaget melihatku. Ia benar-benar Sarah, istriku yang belum kuceraikan.

“Apa kau tahu siapa yang kau bunuh? Dia adalah Ais, anakmu!”

“Ais...!! Dia Ais...?!!!” teriaknya. Semburat terkejut berpendar jelas di wajah Sarah. Ia menekap mulut dengan kedua tangannya.

“Iya, benar! Aku benar-benar bodoh mengiramu setia. Apa kau tahu? Ais menjadi TKW adalah karena ingin bertemu denganmu, ibunya! Tapi kau malah membunuhnya ...?!!”

Buliran bening yang tadi mengendap di mata langsung tumpah. Tangisnya meledak. Ia berlari menghampiri Ais yang kini tidak lagi bernyawa. Semenjak itu mentalnya terganggu. Istri tua datuk mengirimnya pulang ke Indonesia. Sarah pun divonis terkena penyakit jiwa dan mendekam di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Teriakan memilukan kian dikumandanginya, “Ais.. Ais.., apalagi yang pecah hari ini?”

Lima bulan berlalu, Sarah meninggal akibat depresi hebat. Atas permintaanku, ia dimakamkan di samping makam Ais. Tidak ada lagi kebahagiaan dan kehangatan di rumah kecil ini. Hanya ada kesendirian yang menyisakan kesedihan dan lara yang tiada akhir...

Maryam Qonita X aly’

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. beneran serius..
    sampe ngeluarin air mata..

    sedih banget.. T-T

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...