Rabu, 12 Desember 2018

Pengalaman Wawancara LPDP 2018


Edit 29 Desember 2019: Alhamdulillah mendapaktan pengumuman lulus seleksi substansi LPDP. Terimakasih dukungan teman-teman semua.

Pengalaman wawancara LPDP Luar Negeri 2018 - Beberapa hari yang lalu (4 Desember 2018) saya mengikuti seleksi wawancara LPDP tujuan luar negeri tahun 2018. Saya memilih tempat tes subtansi di Jakarta I, PKN Stan student center di daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Alasan saya memilih tes di Jakarta sebenarnya karena ini adalah lokasi paling mudah digapai dari kampung saya Kuningan Jawa Barat dan saya cukup familiar dengan sistem transportasi yang ada di sana.

Sebenarnya saya ingin sekali menceritakan pengalaman saya untuk Leaderless group discussion dan juga Seleksi berbasis komputer. Hanya saja, saya akan menceritakan pengalaman wawancara terlebih dahulu mumpung list daftar pertanyaan dari para juri LPDP itu belum terlalu menghilang dari ingatan. Jika ada pertanyaan lainnya yang muncul kembali di ingatan, insyaa Allah akan saya update terus artikel ini.

Saya datang pada pukul 10.00 WIB dan mengobrol-ngobrol dulu dengan pelamar beasiswa LPDP lainnya. Melihat lokasi kamar mandi, berkeliling, dsb. Selanjutnya, saya melakukan presensi pada pukul 10.30 dan melakukan verifikasi dokumen pada pukul 11.00 WIB. Saya pikir karena melakukan verifikasi dokumen 3 jam lebih awal, nama saya akan dipanggil lebih awal seperti pengalaman beberapa pelamar LPDP di lokasi tes subtansi lainnya. Ternyata tidak. Saya harus menunggu hingga pukul 16.00 hingga nama saya dipanggil wawancara. Mungkin karena jumlah pelamar LPDP yang tes di Jakarta ini banyak sekali, jadi jadwal wawancara saya pun mundur satu jam. Itu artinya saya menunggu 6 jam menunggu dipanggil. Seperti perjalanan Jakarta - Tokyo, tapi deg degan luar biasa.


Nama dipanggil menggunakan mesin dan pengeras suara. Hanya saja, sebelum nama saya dipanggil, pengeras suaranya itu sempat tidak berfungsi, bahkan proyektor jatuh karena angin kencang dan hujan turun. Karena memang tempat pelamar menunggu itu berada di luar ruangan. Jadi memang suasananya cukup gaduh dengan petir dan hujan deras. Akhirnya nama saya dipanggil secara manual oleh panitia LPDPnya. Saya pun segera bergegas masuk menuju ruangan PKN Stan student center dimana di dalamnya ada 24 kelompok wawancara.

Saya pun melihat satu bangku bertuliskan kelompok wawancara 14, yang sebagian besar jurusan psikologi diwawancarai di kelompok pewawancara ini. jadi kelompok pewawancara sudah dikelompokkan sesuai bidang studi. Saya melihat dua orang pria dan seorang wanita berjilbab duduk di tengah kedua pria tersebut.

Mengenai transkrip wawancara ini, hasil ingatan saya saja yang mungkin ada detil terlupakan. Tapi kurang lebih seperti ini:

Saya                       : “Selamat sore, Pak, Bu..” (saya masih berdiri)

Pak Rahman       : “Selamat sore, silakan duduk”

Saya                       : (duduk)

Bu Ita                    : “Namamu siapa?”

Saya                       : “Maryam Qonita, bu.” (masih berusaha mengontrol napas)

Bu Ita                    : “Kami panggil kamu Maryam atau Qonita?”

Saya                   : “Maryam saja bu.” (masih menarik napas agar rileks, dalam hati dzikir)

Bu Ita                    : “Oke Maryam, perkenalkan, beliau Pak Rahman, saya Bu Ita, dan beliau Pak Itan.”

Saya                       : (sambil menunjuk dengan tangan saya) “Pak Rahman, Bu Ita, dan Pak Itan.”

Bu Ita                    : “Iyaa... wawancara ini akan kami rekam ya.”

Saya                       : “Baik bu.” (narik napas)


PEWAWANCARA PERTAMA.

Pak Rahman       : “Baiklah, kamu ingin mendaftar beasiswa ini, apa kelebihan yang kamu lihat ada dalam diri kamu?”

Saya                       : “Dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, Pak?” (jantung deg degan)

Pak Rahman       : “Bahasa Indonesia saja, bahasa Inggris nanti.”

Saya                       : (menarik napas, di awal intonasi saya masih luar biasa gugup, tapi selanjutnya alhamdulillah mulai terkontrol). “Baiklah, bismillahirrahmanirrahim... Terimakasih atas kesempatannya pak, bu. (Dari sini sudah tidak gugup lagi, hamdallah...) Saya melihat diri saya sebagai seseorang yang terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Karena prinsip hidup saya adalah never stop learning because life never stop teaching. Jangan pernah berhenti belajar karena hidup tak pernah berhenti mengajar. Banyak hal manis berbuah dari sifat saya tersebut, Pak Bu. Yaitu saya mudah beradaptasi dan terbuka dengan wawasan baru. Selain itu juga, dalam bidang akademik, saya memiliki beberapa prestasi sebagai mahasiswa berprestasi Psikologi UNJ, alumni berprestasi fakultas dan juga beberapa kali mewakili Indonesia menjadi pembicara di forum internasional. Dalam bidang sosial, saya bekerja di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sejak tahun 2015. Pengalaman itu menjadikan saya mengetahui masalah sosial yang ada di ranah akar rumput.

Pak Rahman       : “Jelaskan lebih jauh mengenai kontribusi sosial kamu.”

Saya                       : “Baiklah pak. Sejak tahun 2015, saya aktif menjadi sukarelawan di LSM Satu Hati, pemerhati perempuan dan anak di kabupaten saya. Program kami sebelumnya banyak berkutat dengan kekerasan seksual pada anak. Jadi saya menjadi pendamping bersama dinas sosial dan P2TP2A untuk keliling dari rumah korban maupun pelaku untuk memberikan arahan apa yang LSM dan dinas sosial berikan di ranah pengadilan maupun medis. Namun sejak tahun 2017, kami lebih banyak aktif di bidang pendidikan khususnya di PPA-PKH (Pengurangan Pekerja Anak Program keluarga harapan) memberikan bantuan pada 100 anak-anak putus sekolah berupa alat tulis. Terkadang saya menjadi motivator mereka saat program karantina. Saya juga mendirikan Open Access Indonesia, saya sebagai ketua dan pendirinya dimana organisasi ini memiliki misi untuk mengadvokasikan keterbukaan akses terhadap jurnal ilmiah. Sehingga meningkatkan kebermanfaatan dan visibilitas jurnal tersebut.”

Pak Rahman       : “Ada berapa orang di LSM ini?” (sebenarnya saya berharap bapaknya fokus pada Open Access Indonesia karena bicara dengan seorang dosen, setidaknya saya bisa membuat semacam koneksi saling berbagi suka duka publikasi penelitian.).

Saya                       : “Kurang lebih ada 10 orang pak.”

Pak Rahman       : “Bagaimana dengan prestasi kamu selama di kampus?”

Saya                       : “Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya pak, saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi psikologi UNJ, alumni berprestasi fakultas, dan beberapa kali mewakili Indonesia di forum internasional.”

Pak Rahman       : “Kamu yakin dapat bertahan hidup di kota New York?”

Saya                       : “Saya yakin pak. Saya pernah di New York selama satu bulan dan saya familiar dengan kehidupan yang ada disana. Ketika itu saya mewakili Indonesia di forum PBB untuk bicara mengenai kekerasan seksual dan intervensi yang tepat diberikan kepada anak-anak korban kekerasan. Ini untuk sebagai referensi, Pak” (Karena setiap yang kita bicarakan akan dibuktikan di google gitu, jadi saya menunjukkan satu halaman koran tahun 2016.) "Dalam paper yang saya ajukan, saya mengajukan intervensi komprehensif pada korban kekerasan seksual. Bukan hanya dari segi intervensi individu saja, namun juga dari segi keluarga, hubungan antar kakak dan adik, komunitas, dan juga sekolah agar mengakhiri stigma pada korban kekerasan."




Pak Rahman       : “Kamu ini dapat rujukan dari siapa?”

Saya                       : “Dari kemenpora, kemenristekdikti dan juga Bapak wakil presiden kita Pak Jusuf Hatta memberikan surat rekomendasi kepada kemenpora.”

Pak Rahman       : “Jusuf Hatta?”

Saya                       : (Agak gugup saat itu jadi kepeleset lidah) “Maaf pak, Jusuf Kalla”

Pak Rahman       : “Lalu apa tantanganmu di sana?”

Saya                       : “Ketika saya berada di New York, saya merasa sulit bagi seorang muslim untuk menemukan tempat beribadah.”

Pak Rahman       : “Nanti kamu jadi jarang sholat lagi.”

Saya                       : “Saya sudah melakukan research pak, terdapat student islamic centre di NYU. Atau jika di tempat umum, kita bisa mencari tempat-tempat sepi untuk beribadah.”

Pak Rahman       : (angguk-angguk) “Silakan lanjutkan Bu Ita.”



PEWAWANCARA KEDUA.

Bu Ita                    : “You still don’t have the LoA, how do you sure you’ll get accepted in NYU?”

Saya                       : “I’m sure I’ll get accepted, Miss. Because I’ve reached the faculty members, the professors and also the director of the programs. They are generelly welcome with my proposed thesis. And the thesis titled ‘gender stereotype in social psychology context, its impact on gender based violence.’ Meanwhile, the professors there also have research focused on stereotype, such as Professor Madeline Heilman and Professor David Amodio. I've visited Professor Madeline's Google Scholars as well and many of her research cited by Indonesian researchers."

Bu Ita                    : “You mentioned the name, could you please say the name again...” (mencatat nama profesor yang kusebut untuk dicek kebenarannya di google)

Saya                       : “Madeline Heilman and David Amodio”

Bu Ita                    : “You have reached the professors and you mentioned names there. Do you have any proof that you have a correspondency with them?”

Saya                       : “The email with the university?”

Bu Ita                    : “Yes”

Saya                       : (Dalam hati bersyukur banget, karena korespondensi ini diprint di detik-detik terakhir. Untung keingetan). “This is the email, Miss” (memberikan 7 halaman korespondensi email dengan staff fakultas dan juga ketua program studi.). “Actually, the professors are not answering my email yet. So the faculty members answered the email on the behalf of the professors. And I also contacted the director of the program.”

Bu Ita                    : “Mr. Liz and Professor Gans?”

Saya                       : “Professor Gans is the director of MA progam in Psychology NYU.”

Bu Ita                    : “24 November... 25 November... 26 November...” (melihat bahwa saya menghubungi mereka seminggu sebelum wawancara.) “Okay!” (lalu mengembalikan lagi korenspondensi itu kepada saya).

Bu Ita                    : “So you mentioned about the social contribution you’ve made in the society. What is the different thing from the contribution you made so we need more people like you?”

Saya                       : “I proposed the method to give interventions of child victims of sexual abuse and it was a comprehensive approach. We don’t give an intervention only for the victims, but also to the parents, to the family, to the community, and their peers in the school to end the stigma of sexual abuse.”

But Ita                   : “How’s you gonna do that? Because it would be very difficult thing to do interventions to all aspects.”

Saya                       : “Firstly, as it stated in the paper, I would need the funding to build the shelter...”

Bu Ita                    : “Yeah of course funding, anything else??”

Saya                       : “Build a partnership with other organizations and maybe they have resources that would benefit for our organization....”

Bu Ita                    : “Yeah, anything else?” (Sepertinya bukan jawaban normatif yang beliau inginkan)

Saya                       : “We’d like to start from something that implementable and reachable, for now, starting from prevention and from teenagers as the future generation. I am currently in a project with IYAFP,  since am the project coordinator of International Youth Alliance on Family Planning...”

But Ita                   : “Could you please repeat the organization name again...” (mencatat)

Saya                       : “International Youth Alliance on Family Planning Indonesia.”

Bu Ita                    : “Okay...”

Saya                       : “So I proposed a grant application during a conference in Kigali, Rwanda on the behalf of IYAFP. The funding is from Packard foundation and the amount of funding is 50.000 USD. This project is about compiling comic books for teenagers with minim access to technology. And the comic books will advocate teenagers about SRHR (Sexual and Reproductive Health Right) and also Sexual Education. So they realize their body is important and private. If we get the funding, this project will be run by 2019 in Kupang as the first region of our target.”

But Ita                   : “Which Kupang?”

Saya                       : “Kupang, Nusa Tenggara Timur. But I have no idea about which particular Kupang sub-region we would like to implement the program. Since many IYAFP Indonesia members mostly came from Kupang and some of them said they have many students with lack access of technology and the comic books would definitely beneficial and useful there.”

Bu Ita                    : “Okay...”

Saya                       : “Instead of addressing sexual abuse cases, Satu Hati NGO itself for now is more focused on education and frequently donating to PPA-PKH program. Since one cases could be really difficult to address and mostly the family’s victims prefer to give up rather than continue the case into legal channels. Mostly we also educate them about sexual education and how to say no to their boyfriend to do premarital sex.”

Bu Ita                    : “What would you do after you arrive in Indonesia.”

Saya                       : “I want to utilize my full potentials and immerse myself as a social advocate and develop strategies and intervention to child victims of sexual abuse. In a long term..., I would like to be a member of DPR-RI or House representative in the 8th commission, with the scope of religion, social and women empowerment.” (Sebenarnya berharap ingin menjadi menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, tapi yang kusebutkan yang kutuliskan di esai dulu. Hehe)

Pak Rahman       : (menambahkan) “Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.”

Saya                       : “Mengenai feminis, saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sebagai seorang feminis pak.”

Pak Rahman       : (alis beliau mengerut, karena kata-kata saya secara tidak langsung bermakna ambigu bahwa saya memiliki nilai yang sama dengan feminisme. Sebagaimana Kartini seorang feminis, tapi tidak lahir dari teori feminisme. Dan saya juga tidak tahu bagaimana pandangan beliau soal feminisme).

Saya                       : “Karena definisi feminis itu berbeda-beda tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika dibahas secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi feminisme sekarang nilainya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam.”

Lebih jauh tulisanku mengenai feminisme: Muslimah Memeluk Feminisme, Emansipasi dan Kesetaraan Gender

Pak Rahman       : (mengangguk-angguk dan mencatat)

Saya                       : (berharap jawaban saya sebelumnya cukup diplomatis, huhu)

Bu Ita                    : “This is your first time applying LPDP?”

Saya                       : “Yes, this is my first time.”

Bu Ita                    : “Apa yang akan kamu lakukan jika beasiswa ini gagal?” (seingatku, pertanyaan ini beliau tanya dalam bahasa Indonesia).

Saya                       : (Sebenarnya dalam pikiranku hanya ingin melakukan yang terbaik. Tapi karena itu adalah pertanyaan, jadi saya rasional saja bahwa saya mungkin akan merasa sedih untuk beberapa waktu dan tentunya apply lagi tahun depan.). “Saya ingin berusaha yang terbaik untuk tahun ini bu, tapi jika memang ditakdirkan gagal, saya akan coba lagi tahun depan. Tapi saya berharap yang terbaik.”

Bu Ita                    : “Daftar lagi tahun depan?” (ibunya tersenyum)

Saya                       : “Iya, bu.”

Pak Rahman       : “Kalaupun kamu lulus, kamu yakin bisa sukses menjalani penelitian dan studi kamu?”

Saya                       : Saya yakin pak. Karena saya cukup familiar dengan dunia publikasi jurnal dan penelitian, khususnya setelah mendirikan Open Access Indonesia. Saya memahami beberapa istilah dalam dunia publikasi, seperti H-index, APC, open access journals, dsb. Saya juga memahami sistem perangkingan universitas.”

Pak Rahman       : “Kamu tahu ISSN?”

Saya                       : “Iya, saya tahu pak.”

Pak Rahman       : “Penelitian kamu sudah ada publikasi di jurnal dengan ISSN?”

Saya                       : “Belum ada pak. Hanya skripsi saya yang mendapat A. Karena di fakultas saya, dari ratusan orang, hanya sekitar 5 orang mendapat nilai skripsi A setahu saya. Dan dosen saya meminta agar penelitian itu diubah menjadi article paper dan dipublikasi di jurnal UNJ.”

Pak Rahman       : “Bagaimana ini, kamu mendirikan Open Access Indonesia namun belum ada penelitianmu yang dipublikasi di jurnal?” (mungkin maksud beliau jurnal terindeks scopus dll seperti itu, atau jurnal dengan impact factor yang tinggi)

Saya                       : (kaget sih sama pertanyaan ini, dan khawatir takut salah ngomong jadi bumerang. Bismillah saja deh.). “Bagi saya, tidak perlu memiliki gelar akademik sederet terlebih dahulu pak untuk bisa memulai kontribusi.”

Pak Rahman       : (Mengangguk-angguk dan mencatat)

Bu Ita                    : “Will you go back to Indonesia?” (tanya bu Ita sambil melihat list pertanyaan) “Oh no..., of course you’ll go back to Indonesia with your responsibility here and because you want to be a member of DPR-RI you said, in the 8th commision.” (melihatku sambil tersenyum)

Saya                       : “Yeah, miss. Of course, I’ll go back to Indonesia.” (dalam hati senang, karena Bu Ita bahkan sudah bisa memastikan saya akan kembali ke Indonesia).

 Bu Ita                   : “Do you believe you will be success?”

Saya                       : “Yes, I believe I will success in the future. I have been working in the field of women empowerment and child protection since 2015 and I would like to be advocate here as long as I can, as much as I can. I have great connection with government and beuracracy, such as Pak Acep the regent of Kuningan. And because I have experienced not only maintaining my personal motivation, but also people motivation in a long term. In Open Access Indonesia, I manage a group of people with different backgrounds to stay motivated and maintaining their perseverance to reach organization’s goal in a long term. I wouldn’t talk about my personal success, I talk about other people success as well as a part of my responsibility. “

Bu Ita                    : (mencatat) “Silakan lanjutkan Pak Itan.”


PEWAWANCARA KETIGA

Pak Itan                : “Perlu diketahui, penerima beasiswa ini akan dibiayai oleh pemerintah untuk melanjutkan sekolah. Sehingga kamu juga harus bermanfaat kepada masyarakat Indonesia demi mengembalikan manfaat itu. Apa yang akan kamu lakukan sepulang dari negara tujuan?”

Saya                       : “Dalam jangka pendek atau jangka panjang, Pak?”

Pak Itan                : “Dua-duanya.. terserah.”

Saya                       : “Baiklah, pak. Sebelumnya saya memahami bahwa penerima beasiswa ini akan menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat demi melanjutkan studi. Bagaimanpun saya akan berusaha untuk dapat mengembalikan nilai tambah dari beasiswa yang diberikan LPDP untuk saya kembalikan kepada masyarakat.”

Pak Itan                : (sampai disitu, Pak Itan langsung membuat catatan. Kemudian melihat saya lagi)

Saya                       : Dalam jangka pendek, saya bersama IYAFP indonesia ingin terus melakukan advokasi mengenai pendidikan seksual melalui buku komik yang akan kami distribusikan ke daerah-daerah minim teknologi di Indonesia. Selain itu juga, saya ingin terus melakukan advokasi mengenai pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di LSM yang saya geluti dan mengembangkan intervensi terbaik pada anak-anak korban kekerasan seksual. Dan dalam bidang Open Access, saya ingin mengadakan lokakarya yang mengadvokasikan minimal 30 dosen dan peneliti dalam sekali lokakarya mengenai publikasi jurnal open access, kalau bisa tanpa biaya APC. Lalu untuk mendapatkan sertifikasi, dosen itu perlu mengadakan seminar lagi dengan 30 peneliti lainnya. Sehingga kebermanfaatan saya bisa mencapai 900 dosen. Dan ketika dosen tersebut melakukan publikasi jurnal, jurnal mereka disitasi oleh 100 penelitian yang lain hingga menghasilkan 90.000 artikel. Dan satu artikel dibaca oleh 100 mahasiswa. Jadi kebermanfaatan saya bisa meluas pak.”

Pak Itan                : “Itu... bukannya jangka panjang?” (Bapaknya melihat catatan beliau)

Saya                       : “Itu jangka pendek, Pak. Untuk jangka panjang... saya ingin menjadi anggota DPR-RI komisi VIII bagian pemberdayaan perempuan, sosial dan agama. Saya ingin memperbaiki sistem dari dalam dan memperluas kebermanfaatan. Juga merevisi sistem yang menyebabkan ketidaksetaraan. Karena kalau bukan orang baik yang berkiprah di politik, siapa lagi?”

Pak Itan                : “Kamu tadi bilang, feminisme bertentangan dengan syariat Islam. Syariat Islam apa yang kamu maksud?” (Pak Itan menoleh ke Bu Ita, lalu beliau berkata ‘jawabannya kurang spesifik’).

Saya                       : “Karena saya berkarir di bidang keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan juga kesehatan reproduksi. Banyak dari lingkungan saya, khususnya ketika saya menghadiri beberapa forum internasional, teman-teman berkeyakinan bahwa seks sebelum menikah adalah sebuah jalan yang baik. Menurut mereka, tidak apa-apa melakukan seks selama menggunakan kontrasepsi. Dan salah satu keyakinan feminisme adalah ‘my body is my choice.’. Saya tidak akan memulai perdebatan & tidak menjustfikasi orang-orang yang memiliki keyakinan tersebut karena itu keyakinan moral mereka yang berbeda. Dan saya hanya akan berdiskusi jika mereka memulai diskusi terlebih dahulu. Karena menurut saya pancasila sila pertama, Ketuhanan yang maha Esa. Pengimplementasiannya juga berdasarkan nilai-nilai agama yang luhur dan iman yang kokoh, maka saya sebagai seorang Muslim tidak setuju dengan seks sebelum menikah.

Pak Itan                : “Pegangan hidupmu itu apa sih?” (Saya tahu beliau tidak ingin menggagalkan wawancara ini dengan pertanyaan terbuka seperti ini. Karena pegangan hidup saya sebagai muslim tentunya Al-Quran dan As Sunnah, sementara pegangan hidup saya sebagai WNI, tentunya pancasila. Meski keduanya tidak perlu dipertentangkan dan memang sejalan, hanya saja saya khawatir ada salah paham. Pak Itan terdiam sejenak melihat ekspresi wajah saya.... lalu melanjutkan kata-kata beliau). “Pegangan hidupmu... sebagai seorang warga negara Indonesia di Indonesia?” (Bahkan beliau bisa membaca isi pikiran saya dalam sepersekian detik!)

Saya                       : “Pegangan hidup saya sebagai warga negara Indonesia tentunya pancasila, Pak.”

Pak Itan                : “Menurutmu Pancasila itu perlu diubah lagi gak? Atau sudah seperti itu saja?”

Saya                       : “Menurut saya pancasila itu sudah final, Pak. Tidak perlu diubah lagi.”

Pak Itan                : “Final yaa.”

Saya                       : “Iya pak.”

Pak Itan                : “Menurutmu pancasila itu final kan, memangnya pancasila itu bagaimana sih?”

Saya                       : “Secara umum begitu, Pak?”

Pak Itan                : “Bukan, pancasila dalam kehidupan kamu.”

Saya                       : “Pengimplementasian setiap butir-butirnya?”

Pak Itan                                : “Iya.”

Saya                       : “Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya seorang Muslim dan juga saya selalu berusaha menjalankan syariat-syariat Islam. Seperti sholat lima waktu. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya berusaha menjunjung tinggi norma dan nilai leluhur bangsa, seperti sikap sopan santun. Sila ketiga, persatuan Indonesia. Saya menghormati perbedaan yang ada, dan saya memiliki kawan baik dari lima agama yang diakui di Indonesia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan.  Saya mengedepan asas musyawarah dan mengakomodasikan masukan anggota dalam menjalankan organisasi. Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya berusaha bersikap adil kepada adik-adik saya, keluarga saya, dan juga anggota organisasi.”

Pak Itan                : “Baiklah, bagaimana pendapatmu mengenai komunisme dan mengubah dasar negara menjadi negara Islam berbasis syariat?”

Saya                       : “Komunisme sepengetahuan saya mereka sistem pemerintahan satu partai pak. Dan mereka meyakini tidak ada kepemilikan individu kepada alat-alat produksi. Sementara negara kita ini menerapkan sistem demokrasi, kita menghormati pendapat orang lain yang terwujud dengan sistem multi partai. Juga pancasila sila pertama, ketuhanan yang maha Esa. Sementara komunis cenderung ateis. Sementara untuk negara Islam berbasis syariat, saya merasa tidak perlu, Pak. Karena sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam setiap pembentukan Perpu, perda, peraturan menteri, peraturan presiden, dan juga undang-undang, harus merujuk pada rujukan filosofis yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pembuatan kebijakan sudah dilandaskan kepada nilai-nilai agama yang luhur.”

Pak Itan                : (Angguk-angguk)

Bu Ita                    : “Sudah Pak?”

Pak Itan                : “Sudah.”

Bu Ita                    : “Bagaimana Pak Rahman”

Pak Rahman       : “Sudah bu.”

Maryam               : “Apakah sudah, bu?”

Bu Ita                    : “Sudah, silakan boleh kembali.”

Maryam               : “Terimakasih bu, pak.” (Lalu salim kepada Bu Ita)

Bu Ita                    : “Mudah-mudahan lulus yaa..” (sambil tersenyum)

Maryam         : (Wajah ketiga pewawancara terlihat puas dan tersenyum. Alhamdulillah. Mudah-mudahan lulus...)

Lalu saya pun keluar dari ruangan merasa cukup puas dan senang sih. Meski ada satu hal yang saya pelajari bermalam-malam untuk amunisi wawancara, yaitu mengenai studi saya dan juga fokus research di NYU tidak banyak ditanyai. Saya sampai bikin draft bab pertama penelitian dan juga semua resources yang dimiliki NYU yang mendukung penelitian tersebut. Tapi ternyata tidak banyak ditanyai. 

Tidak apa-apa, selama sudah berusaha, sejak awal saya yakin apapun yang terjadi di meja dan apapun hasilnya adalah ketentuan-Nya. 

Artikel Berkaitan Mengenai Beasiswa LPDP:

Reaksi:
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Terima kasih Deta sudah berkenan berbagi hingga sedemikian detilnya. Saya doakan Deta lulus LPDP dan terus menulis. Agar kami bisa mengikuti jejak sukses Deta.

    BalasHapus
  2. Keren banget..! Jadi flashback ke pengalaman wawancara tahun 2015 dan jadi sadar kenapa saya gagal. Karena aku ga mempersiapkan sebaik ini. Keren banget kamu tu. Boleh share tips n trick nya ga? Seperti daftar pertanyaan yang sudah kamu prepare gtu. Sama kalau misalnya ga punya pengalaman organisasi sebanyak dan sekeren kamu gimanaaaa. Huaaaa...apakah masih ada kesempatan lulus beasiswa lpdp? Oh iya ditunggu postingan yang lgd. Terimakasih atas sharingnya yang keren ini yaaa

    BalasHapus
  3. Mbk kl boleh tau SBK nya berapa passing grade nya untuk tujuan LN?

    BalasHapus
  4. kereeennn... bisa ngejawab detail...

    tapi selain dari LPDP, terkadang ada beasiswa full dari kampus yang dituju (yg pastinya lebih sedikit saingannya meski dengan alur yang sama), salah satunya beasiswa full dari universitas di taiwan ataupun dari pemerintah taiwan, dapat dibaca link di bawah ini juga ya…


    Cara Mendapatkan Beasiswa di National Central University (NCU) Taiwan


    Dokumen yang Dibutuhkan untuk Mendaftar ke NCU (Online)


    Nggak Mahal Kok! Ini Rincian Biaya Hidup Mahasiswa di Taiwan

    BalasHapus
  5. introduce in english aj aku dah panas dingin... pas baca wawancara ini aku hanya bisa bilang wow

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...