Showing posts with label Bahasa Inggris. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Inggris. Show all posts

Tuesday, May 1, 2018

Cara Meningkatkan Skor TOEFL 50 poin dalam Sebulan

Cara meningkatkan skor TOEFL - Tulisan ini ditulis dari pengalaman pribadi saya meningkatkan skor TOEFL ITP resmi ETS secara drastis dalam waktu sebulan, yang tadinya 527 menjadi 573. Well, mungkin gak drastis-drastis amat sih, tapi itu skor yang wajar didapatkan jika cara belajarnya tepat. Bukan cuma TOEFL, skor IETLS kemungkinan akan setara seperti itu. Kalau teman-teman berusaha dengan waktu yang lebih panjang, tentunya peningkatannya akan lebih tinggi lagi. Saya pribadi ngerasa, belajar sebulan itu sangatlah tidak maksimal karena beberapa materi yang saya lewati. Target saya awalnya 600, tapi saya berhenti belajar TOEFL karena mengejar IELTS. Insyaa Allah 2 bulan lagi, kalau nilai saya di atas 6.5, akan saya share disini pengalaman saya :D
 
Antara Februari dan April, saya 1 bulan off belajar TOEFL. Jadi bersih 1 bulan belajar sungguhannya.

Pertama, pelajari bagian paling lemah terlebih dahulu (Kalau saya structure & written expression).

Ketahui kelemahan kalian dari TOEFL ITP, apakah listening, reading, atau grammar (structure and written expression)? Pelajari dulu dari yang terlemah atau dianggap paling sulit, baru yang dianggap paling mudah.

Untuk mengukur nilai TOEFL, teman-teman bisa mengikuti beberapa TOEFL simulation/preparation yang diadakan beberapa kursus bahasa Inggris di Indonesia. Namun, pahamilah bahwa skor TOEFL preparation bukanlah skor TOEFL sesungguhnya dan tidak bisa digunakan untuk mendaftar beasiswa (LPDP, Australia Award, atau Fulbright). Selain itu, skor TOEFL preparation juga selalu jauh lebih mudah daripada tes TOEFL resmi dari ETS dan listeningnya lebih lambat. Tapi setidaknya ini membuat kalian terbiasa dengan suasana tes TOEFL.


Saya sendiri sudah beberapa kali mengambil TOEFL preparation dan 2 TOEFL resmi. Saya paling lemah di Grammar, biasanya nilai Structure Written Expression (Alias Grammar) saya tidak jauh-jauh dari 450-an bahkan di TOEFL preparation!
Skor TOEFL Preparation saya
Nah, kuncinya adalah pelajari bagian paling lemah atau paling dianggap sulit terlebih dahulu. Buku yang saya rekomendasikan adalah The Complete Guide to The TOEFL Test sebagai panduan belajar Grammarnya selanjutnya adalah Practice Exercises TOEFL BARRON 6th Edition dan latihannya bisa ditambahakn dari 4 latihan Peterson TOEFL Practice (Gak harus dari Peterson juga bisa sih, selama paket soalnya standar TOEFL ITP). Dalam satu bulan gak usah intip-intip buku lain deh, saya rekomendasikan dua buku ini aja dulu dab 4 latihan soal. Kebanyakan? Well, dari pengalaman saya, selama kalian memprioritaskan TOEFL dan disiplin, selalu ada waktu buat istirahat koq. Hehe.

Prioritas wajib diselesaikan dan dipahami: The Complete Guide to The TOEFL Test.


Skor saya paling meningkat disini, dari 460 ke 570 (110 poin), jadi temen-temen gak ragu kan sama saran saya? Hehehe. Kenapa kita perlu untuk meningkatkan bagian tersulit dahulu? Karena penting untuk merasa percaya diri saat mengerjakan soal. Lalu beberapa hari sebelum tes dapat mereview ulang materinya tanpa merasa otak kosong melompong.

Well, saya udah belajar bahasa Inggris 15 tahun semenjak saya kelas 3 SD. Dan satu buku ini (yang notabene dipelajari hanya dalam 1 bulan) telah mengalahkan grammar yang udah dipelajari 15 tahun!


Lalu setelah menyelesaikan buku The Complete Guide to the TOEFL Test, saya ke latihan soal Barron dan juga Peterson. Nah di tiap soal, saya menulis tipe grammar apa yang salah dalam soal latihan itu. Misalnya ada soal nomor 28 mengenai penggunaan proper atau properly, terus setelah saya jawab, saya tulis di samping soalnya: “word form: tentang penggunaan adverb atau adjective” seperti itu.  Lalu di structure, ada soal yang diawali oleh kata “not only” berarti ini kondisi aturan kata khusus dalam bahasa Inggris yang disebut inversion. Terus saya tulis disamping soalnya “word order: inversion”. Jadi bukan pakai feeling, tapi memang tahu aturan-aturan khususnya.

Structure and Written Expression jangan pakai feeling. Kalau kalian pakai feeling, kemungkinan nilai kalian disini akan mentok di 500-an sebanyak apapun kalian latihan soal. Kenapa? Karena banyak banget soal jebakan yang menggunakan irregular form dari adverb, irregular form dari adjective, inversion, non-count noun, irregular plural, jebakan antara gerund atau infinitive, dsb.  Nah, soal-soal ini adalah soal-soal “kondisi khusus” atau pengecualian aturan dalam grammar yang biasanya kalau pakai feeling malah salah. Jadi pelajari konsep grammarnya secara menyeluruh. Jangan yang basic saja.


Selanjutnya, pelajari kedua yang dianggap tersulit (Kasus saya reading).

Di sela-sela belajar structure written expression (sebelum saya khusus belajar reading), saya mengistirahatkan diri dengan membaca buku-buku favorit saya dalam bahasa Inggris yaitu buku The Hunger Games, The Catching Fire dan juga Harry Potter and the Philoshopers Stone. Saya istirahat, tapi saya belajar reading juga tanpa sadar. Tadinya mau baca Harry Potter 1-7 sampai habis, tapi gak ada waktunya. Ebook-ebook ini bisa kalian peroleh gratis di internet.


Sebenarnya gak harus banyak sih, dalam sebulan satu buku juga cukup selama kalian disiplin meluangkan waktu kalian “istirahat sambil belajar”. Dari ketiga buku di atas, yang saya baca full hanya “The Catching Fire” karena mindblowing banget plot-twistnya Suzanne Collin.

Setelah saya selesai belajar structure written expression selama 2 minggu, saya meluangkan waktu saya belajar reading satu minggu. Lagi-lagi rekomendasi saya adalah The Complete Guide to the TOEFL test. Hehe.


Latihan skimming (menangkap main point) dan scanning (menemukan keyword detil) itu penting. Scanning adalah bagaimana menemukan keyword yang dicari dalam hitungan detik (2-3 detik). Lalu baca kalimat yang mengandung keyword dan jawab dgn kemantapan hati. Jangan tergoda untuk baca terlalu panjang, karena itu bisa tricky dan menjebak. Kecuali kalimat yang mengandung keyword blum menjawab, baca satu kalimat sebelum dan sesudahnya saja.

Bakal banyak juga pertanyaan tersirat yang biasanya pertanyaannya gini “What does the the passage imply?", ini adalah kemampuan membaca kalimat "tak terlihat" antar kalimat. Orang-orang bilang ini adalah tipe soal tersulit di reading, akhirnya saya ngulang-ngulang latihan soal ini terus selama 7 hari itu.


3 hari dalam 7 hari saya khususkan untuk menambah vocabulary. Kuasai 500 vocabs wajib yang perlu dikuasai di reading. Di The Complete Guide sudah mencantumkan beberapa, tapi gak ada salahnya juga kalian lebih banyak searching di Google dgn keyword “toefl must words”. Biar vocabs kalian makin banyak. Terus hafalkan dengan metode imajinasi dan cerita, ingatan kalian meningkat 10 kali lipat!! Youtube how to memorize fast and easily.


Selanjutnya, belajar yang paling mudah (kasus saya listening).

Karena saya cukup bagus di listening (maklum, sering ngobrol online sama bule ehem!) jadi saya gak belajar listening sama sekali kecuali satu hari untuk menghafal idiom atau peribahasa dalam bahasa Inggris. Sisa seminggunya lagi? Balik lagi ke grammar! Hehehe. Ada syukurnya sih saya lemah di grammar, jadi saya berani ngobrol sama bule tanpa mikirin aturan grammar.

Karakter favoritku, Dany dari Game of Throne aja gak mikirin grammar. wkwk.
Tapi well ini yang saya sengaja lakukan sblm mendapatkan listening 580 (paling tinggi dari semuanya meski tidak belajar):

1.      Nonton serial CTV amerika The Good Doctor (satu hari satu episode) tanpa subtitle.

2.      Nonton serial HBO Game of Thrones (season awal-awal) subtitle bahasa Inggris. Btw, favorit saya Daenerys Targaryan tapi saya gak rekomendasiin kalian nonton ya, karena banyak adultery part-nya. Di luar adultery part, banyak banget yang bisa ditonton dan wow.

3.      Nonton Harry Potter 1-7 tanpa subtitle.

4.      Hafalin idiom.

5.      Latihan soal secara menyeluruh (listening, structure written, dan reading) dalam paket soal Peterson.

Jadi yang saya lakukan kebanyakan nonton, terus hafalin idiom-idiom khusus misalnya “a stone’s throw from” yang artinya “not so far atau close to” atau “under the weather” yang artinya “kinda ill” dsb.

Tapi andaikan nih saya lemah di listening, saya akan mempelajari buku The Complete Guide dan aturan-aturannya dalam listening. Seperti misalnya homonym, similar sound, bagaimana cara fokus dan membedakannya. Selain itu kita perlu memahami berbagai tipe soal, mulai dari di dialog ad  kontradiksi, penolakan, saran, pengulangan, dsb dan kita cukup fokus pada speaker 2. Jadi kalau speaker satu terlewat, gak apa-apa. 90% jawaban biasanya ada di speaker 2.


Listening The Complete Guide bagus karena dialognya cepet seperti tes ETS (bule ngomong sambil makan krupuk maicih), Barron bagus karena soal listeningnya susah-susah (bahkan short dialog bisa yang harusnya cuma 4 line, di Barron bisa 12 line). Terkadang soal tes ETS TOEFL bisa gabungan kesulitan dari kedua buku ono. Gak gitu juga deng, tapi pengalamanku biasanya ada satu dua soal kayak gitu.

Extended conversation, kalau saya sih menempatkan diri saya di si cewek dari percakapan. Lalu membayangkan teman saya yang bicara sebagai laki-lakinya. Jadi itu lebih mudah. Beberapa peserta ada yang menutup mata, saya hanya mengubah posisi duduk saya yang sudah saya program di otak “setiap saya duduk begini, saya akan fokus dan saya masuk ke dalam cerita extended conversation” gitu.

Sementara untuk short lecture, saya mewajibkan diri saya mendengar kalimat pertama dari short lecture tersebut. Lalu setiap kalimat selanjutnya lebih rileks, fokus, dan mengaitkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya untuk menangkap setiap makna tersirat. Well, itu memang bukan tugas mudah apalagi kalau short lecturenya udah ngomongin istilah-istilah yang gak kebayang di otak.


Hmm.. satu tips jitu deh dari saya untuk listening: THINK IN ENGLISH. BERPIKIR DALAM BAHASA INGGRIS. Misalnya gini, short lecture mau dimulai, saya berpikir.. “the short lecture is going to start, from the items I read, I think its gonna about how previous people move heavy things like pyramids in pra-colonial era...  ok, Maryam... focus... ~~

Yaa... berpikirlah dalam bahasa Inggris, jadi otak kalian gak kerja dua kali untuk menerjemahkan listening yang kalian denger ke bahasa Indonesia lalu baca lagi jawabannya dalam bahasa Inggris lalu terjemahin lagi ke Indonesia.... Padahal listeningnya cepeeet banget kayak bule makan kripik maicih. Mempelajari bahasa Inggris dengan menerjemahkannya di otak adalah jalan panjang nan menyakitkan. Solusinya, banyakin nonton tanpa subtitle deh. Jitu!


Ringkasnya cara meningkatkan skor TOEFL 50 poin dalam sebulan adalah:

1.      Ambil TOEFL Preparation Test dan ukur kekuatan dan kelemahan.

2.      Pelajari dulu bagian yang dianggap paling sulit dan hasil paling lemah.

3.      Pelajari dan kerjakan soal buku The Complete Guide to The TOEFL Test.

4.      Belajar dari buku Practice Test TOEFL BARRON 6th Edition.

5.      Perbanyak latihan soal (standar TOEFL ITP).

6.      Untuk reading, baca buku-buku berbahasa Inggris yang disukai.

7.      Latihan skimming dan scanning cepat, latihan menangkap makna tersirat (inference, imply) dan kuasai minimal 500 vocabulary yang sering muncul di test TOEFL.

8.      Untuk listening, perbanyak tayangan televisi atau film berbahasa inggris tanpa subtitle atau dengan subtitle bahasa Inggris. Tanpa subtitle lebih baik.

9.      Ketahui cara terbaik agar diri bisa fokus dan tenang saat listening.

10.  Pelajari idiom-idiom yang sering digunakan dalam short dialog.

11.  Kuasai masalah teknis seperti cara membedakan homonym, similar sound juga bagaimana biasanya similar sound tidak muncul dalam pertanyaan tentang inference question.

12.  Saat short dialog, fokus pada speaker kedua.

13.  Berpikirlah dalam bahasa Inggris.

You Might Also Like
14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional
Tips Mendapatkan Sponsor Keluar Negeri

Thursday, April 5, 2018

Mengapa IELTS bukan TOEFL iBT?

Saya adalah orang yang sebelumnya tak pernah sekalipun berpikir untuk mengambil IELTS. Saya selalu fokus pada TOEFL ITP dan iBT. Sebelum download Ebook IELTS PDF lengkap, saya ingin share pengalaman saya di bawah kenapa pindah ke lain hati. Hehehe. 😁

Mengapa IELTS bukan TOEFL iBT?

Tanggal 30 Maret 2018, saya menghadiri sebuah seminar TOEFL di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon. Pembicara seminar tersebut adalah Mbak Sirniawati Maskud yang sudah memperoleh gelar Master of Arts in TESOL (Teaching English for Speaker of Other Language) di Victoria University of Wellington, New Zealand. Beliau juga dosen bahasa Inggris di IAIN Cirebon. Btw, si mbaknya cantik banget. Tapi sayang gak bisa upload foto, karena HP saya pecah sehari setelahnya. Dan ya, akan membutuhkan waktu lama untuk HP baru.


Singkat cerita saya adalah penanya paling banyak karena saya butuh mendapatkan nilai TOEFL ITP untuk beasiswa Australia Awards 30 April mendatang. Sebelumnya saya gagal mengajukan aplikasi Fulbright 15 Februari lalu karena satu dan lain hal yang begitu mendadak. Meski Fulbright dan Australia Awards yang menerima TOEFL ITP, perguruan tinggi di luar negeri tidak menerima sertifikat itu. Jadi pada akhirnya kita akan diminta untuk memberikan sertifikat TOEFL iBT atau IELTS yang harga satu kali tesnya 3 juta rupiah. 

Terus bedanya dengan TOEFL ITP? TOEFL ITP tidak mengukur kemampuan inggris aktif seperti writing dan speaking sebagaimana keduanya diukur di iBT maupun IELTS. Terus, kenapa ini penting? Karena peluang mendapat beasiswa akan meningkat drastis jika kita punya LoA unconditional (lulus tanpa syarat) dan LoA unconditional hanya dapat diperoleh dengan sertifikat TOEFL iBT atau IELTS resmi. Terimalah kenyataan~



Awalnya saya berencana akan mengambil TOEFL iBT daripada IELTS karena saya pikir saya lebih familiar dengan logat Inggris Amerika daripada Inggris British. Tapi setelah ujian bahasa Inggris EF SET kemarin (ujian EF SET gratis dan dapatkan sertifikat bahasa Inggris resmi untuk Linkedin disini: EF SET Certificate Plus) yang notabene listeningnya ber-logat british kental, ngomongnya cepat dan polanya tidak berstruktur, anehnya saya dapat skor listening C1 66/100 yang setara IELTS kisaran 7.0-8.0. Tiba-tiba saya jadi agak pede gitu deh hehehe.


Katanya, seringkali kita emang gak sadar dengan kemampuan listening karena sering nonton film berbahasa Inggris british. Thanks to Harry Potter; serial inggris british yg semuanya saya tonton tanpa subtitle berkali-kali (maksudnya biar bisa niru Hermione Granger ngomong atau jadi Andhika Wira versi muslimah, wkwk). Thanks juga aktor favorit saya Benedict Cumberbatch dan Eddie Redmayne yang dua-duanya kebetulan aktor british. Semua video mereka di Youtube saya tonton yang asli keduanya kelihatan di The Graham Norton Show, tapi kalau udah akting, apalagi Benedict pas jadi Naga Smaug di The Hobbit... keren.
 
Duo aktor favorit, berbakat dan lucu.
 
Benedict as Smaug

Selain faktor internal yang memang suka aktor dan film British, saya memilih mengambil IELTS juga dipicu oleh faktor eksternal. Yang baru saya ketahui setelah hadir di seminar TOEFL itu kenapa Mbak Sirni sendiri mengambil IELTS (Dalam hati: Ya Allah, selama ini saya kemana aja???). Berbeda dengan TOEFL iBT, Speaking IELTS berbicara langsung kepada manusia dan sebelum sesi speaking, ada jeda istirahat beberapa hari untuk menyiapkan sesi speaking ini. Kayaknya saya bakal lebih pede ngomong sama manusia deh, kayak ngobrol dengan teman bule aja kali ya.. jadi gak awkward ngomong ke komputer... krik krik grong grong mbek mbek...

TOEFL iBT be like
Selain itu juga TOEFL iBT mengharuskan kita duduk 4 jam di depan komputer dan ketika kita sudah menjawab soal, kita tidak bisa mengoreksi jawaban yang salah dengan kembali ke soal sebelumnya. Sebagai orang yang tidak bisa berpikir jernih saat depan komputer, bahkan semua PDF Toefl saja saya print, saya tentu akan memilih IELTS yang menggunakan kertas.

Semua ebook PDF TOEFL saya print. Bahkan 2 ebook yg 600 halaman.
Jadi dua faktor eksternal ini, kalau ujian reading, writing dan listening IELTS menggunakan paper and pencil sementara speakingnya juga langsung dengan manusia.. saya akhirnya hari itu juga berkata, oke saya ambil IELTS aja deh. Terus saya coba daftar IELTS british council, saya lihat..., OMG sertifikat IELTS tiba dalam 13 hari kerja! Sementara TOEFL iBT sertifikatnya akan tiba dalam 2.5 bulan karena dikirim langsung dari Amerika Serikat. Tanpa ba bi bu... saya pun langsung memilih IELTS dan mencoba mulai familiar dengan tipe soal-soalnya dari ebook-ebook di internet. Terus spamming abis-abisan di blog dengan IELTS. Wkwkwk.

Saya pas baru saja mempelajari IELTS
Well, meski suatu hari nanti saya akan mengambil TOEFL iBT karena saya bercita-cita masuk Harvard University buat PhD in Social Psychology. Aamiin.. hehe. Harvard University hanya menerima TOEFL iBT sebagai proof of english proficiency mereka. Seperti teman-teman bisa lihat di sini: Harvard TOEFL Requirement: The Score You Need


Agustus 2018 sebenarnya saya ada presentasi di kampus ini fakultas kedokteran Harvard untuk publikasi jurnal, tapi saya batalkan. Semua konferensi self-funded saya batalkan dan uangnya saya jadikan  untuk belajar. (Baca artikel berkaitan: 14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional) Ini namanya mengorbankan 1 minggu ke Harvard demi 2 tahun kuliah di sana... ea.. aamiin. 

Kayak Budi Waluyo (founder Sekolah TOEFL) yang mengantar temannya ke bandara untuk 2 minggu konferensi di Amerika, terus dalam hatinya berkata "Gak apa-apa dia 2minggu di Amerika, saya 2 tahun di sana.". Dan ya terwujud! Maka berusahalah yang terbaik untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Jangan pernah berhenti untuk meningkatkan kualitas diri.

Ok! Time to study 💜📖

Sunday, March 25, 2018

EF SET: Tes Bahasa Inggris Online dan Gratis


Kita tahu kalau bahasa Inggris adalah bahasa internasional, juga kita tentu paham bahwa sertifikasi bahasa Inggris menjadi sangat penting untuk kita diterima di perguruan tinggi ataupun bekerja di perusahaan bergengsi. Nah, Buat temen-temen yang mencari tes online bahasa Inggris karena butuh sertifikat bahasa Inggris secara cepat, gratis, resmi, dan diakui dunia internasional; temen-temen perlu tahu tes bernama English First bernama EF SET (English First: Standard English Test).

Tes ini pertama kali launching 2014 dan diakui oleh CEFR, diakui oleh 2500 lebih perusahaan dan digunakan di 500 sekolah maupun universitas. EF SET adalah tes standarisasi resmi yang sejajar dengan standar internasional juga disahkan oleh Common European Framework of Reference (CEFR). Mulai dari A-level classes atau kita siap membagikan skor tinggi kita kepada dunia (C1-C2).

Terdapat tiga tes yang yang diadakan dalam EF SET ini.

Pertama adalah tes cepat 15 menit untuk mahasiswa yang sedang mencoba mendaftar kelas di English First https://www.efset.org/quick-english-check/

Kedua adalah tes dengan sertifikat yang durasinya 50 menit https://www.efset.org/english-certificate/ yang digunakan untuk sertifikasi di halaman LinkedIn, memperkaya CV, dan diakui perusahaan-perusahaan sebagai standar bahasa Inggris karyawan mereka.

Ketiga adalah tes dengan sertifikat plus yang durasinya 2 jam https://www.efset.org/id/english-certificate/plus/ dan juga sama-sama bisa digunakna untuk sertifikasi di halaman LinkedIn, memperkaya CV, untuk melamar pekerjaan dan mendaftar beberapa universitas di Eropa (pastikan juga apakah universitasnya menerima sertifikat CEFR atau ketat pada TOEFL dan IELTS saja. Kemarin aku tak sengaja mengunjungi sebuah situs graduate admission sebuah universitas di Perancis, lupa namanya apa, tapi mereka menerima sertifikat CEFR).


EF SET juga dapat disejajarkan dengan nilai TOEFL maupun IELTS. Perbedaannya, EF SET disusun untuk menyiasati masalah ekonomi dan masalah lokasi para pelamar pekerjaan atau pendaftar universitas. EF SET disusun dan dibangun dengan standar yang sama dalam hal akurasi, realiabilitas dan validitas dengan tes bahasa Inggris yang lain. Bahkan tes ini disusun oleh tim yang juga membuat tes TOEFL, IELTS dan TOEIC. Jadi kita bisa cukup percaya diri dengan gambaran hasil yang akan kita dapatkan saat menempuh ujian TOEFL atau IELTS resmi yang harganya jutaan rupiah.

Well, inilah kenapa sebelum saya menempuh tes TOEFL bulan depan, saya sempat latihan EF SET untuk mendapat gambaran nilai TOEFL yang akan saya dapatkan. Karena memang lagi belajar bahasa Inggris tiap harinya alhamdulillah dapat skor 65/100 atau level C1 (Advanced). Jika dikonversi ke TOEFL iBT kisaran 95-120, IELTS kisaran 7.0-8.0, dan TOEFL ITP 637 - 657. Asa tinggi banget dan gak nyangka padahal section terakhir dari listening dan reading saya kehabisan waktu. Tapi sepertinya dari segi “bagaimana soal ini disusun”, soal EF SET memang ditujukan agar bagaimana pelajar tidak dapat mengerjakan semua soal. Setelah saya share di LinkedIn dan Facebook, banyak banget yang bertanya:
Apakah sertifikat tes ini dapat digunakan untuk beasiswa?

Tidak. Karena LPDP, Kemendikbud dan Dikti dalam persyaratan aplikasi mereka hanya menerima sertifikat TOEFL , IELTS, dan TOEIC resmi dari ETS. Dalam Frequently Asked Questions juga ditanyakan, apakah pendaftar bisa menggunakan sertifikat selain dari ETS dan jawabannya adalah tidak.

Lalu apakah sertifikat tes ini dapat digunakan untuk mendaftar universitas di luar negeri?

Pertama coba lihat dulu di website admission-nya, apakah mereka menerima sertifikat CEFR. Kalau jelas-jelas iya, coba ajukan saja jika memang belum punya sertifikat TOEFL dan waktu pendaftaran sebentar lagi.

Jika tulisannya bilang  “internationally recognized english proficiency test equal to TOEFL IELTS TOEIC score bla bla bla..” coba tanyakan pada admission contactnya, apakah mereka menerima sertifikat CEFR karena sertifikat CEFR mungkin yg mereka maksud dengan “setara dengan TOEFL, IELTS, TOEIC dan juga dikenal secara internasional”. Itupun tentu perlu ditinjau kenapa kalian gak ambil TOEFL atau IELTS (misalnya lokasi tes ETS resmi sangatlah jauh). Intinya hanya jika pendaftarannya sangat kepepet.

Menurut saya kita juga harus ambil juga sertifikat resmi dari ETS seperti TOEFL ataupun IELTS apalagi jika kita tidak terhalang lokasi yang jauh maupun dana. Juga untuk menghindari mendapat LoA conditional jika kita dapat sertifikat LoA unconditional. Karena jika mendapatkan LoA conditional, kita diterima tapi tetap dengan syarat melampirkan sertifikat resmi ETS di kemudian hari (sama saja jadinya). LoA conditional juga tidak bisa (kasus beasiswa dikbud) atau sangat sulit (kasus LPDP) digunakan untuk mengajukan beasiswa. Karena toh, sebenarnya diterima universitas luar negeri itu sangat mudah meski nilai TOEFL atau IELTS kecil, tapi kita hanya mendapatkan LoA conditional (lulus bersyarat).
.
Sertifikat resmi ETS juga bukti keseriusan menempuh dan mencari beasiswa S-2 dan agar pintu-pintu semakin banyak yang terbuka lebar, karena untuk saat ini, ETS official certificate is the most widely accepted english certificate around the world. Sebagai founder penggerakan Open Access dan Open Education di Indonesia (Open Access Indonesia), tentunya saya mendukung agar EF SET juga semakin berkembang di kemudian hari. Selama tetap gratis, terbuka untuk siapa saja, dan semakin reliabel.

Sertifikat ini adalah sertifikat resmi, lalu digunakan untuk apa?
1. Melamar pekerjaan ke lebih dari 2500 perusahaan bergengsi yang bekerjasama dengan LinkedIn.
2. Sertifikasi di halaman LinkedIn dan memperoleh 6 kali lipat pengunjung untuk melihat profil.
3. Mengajukan kelengkapan persyaratan konferensi fully-funded keluar negeri jika sertifikat bahasa Inggris diminta.
4. Mengajukan pendaftaran ke berbagai universitas di Eropa jika memang universitas itu menerima sertifikat bahasa Inggris CEFR. Tapi sebaiknya menggunakan sertifikat TOEFL iBT dari ETS.
5. Memperkaya CV.

Untuk latihan soal TOEFL ITP, TOEFL iBT dan GRE temen-temen bisa download ebook + audionya di sini: Download TOEFL Soal dan Pembahasan

Untuk lebih banyak mengetahui tentang tes EF SET ini bisa kunjungi situs www.efset.org/id

Atau juga https://efacademyblog.ef.com/blog/2017/01/06/10-things-to-know-efset/

Download Ebook IELTS

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb