Sunday, June 2, 2019

Pengalaman dan Tips SBK LPDP

Pengalaman SBK LPDP | Tips SBK LPDP | Seleksis Berbasis Komputer LPDP 2018 | Tes Potensi Akademik | Soft Competency | Esai On The Spot LPDP

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya mengikuti seleksi berbasis komputer (SBK) LPDP pada tahun 2018 kemarin. Juga sekaligus berbagi tips dan trik yang saya harap dapat membantu teman-teman dalam melewati fase seleksi SBK alias seleksi berbasis komputer. Karena banyak sekali teman-teman yang bertanya pada saya mengenai pengalaman saya ini.

Sebelumnya, pengertian tes SBK itu sendiri adalah Seleksi Berbasis Komputer untuk mengukur kemampuan akademik peserta LPDP menggunakan standar CAT (Computer Assisted Test) CPNS dan diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) bekerja sama dengan LPDP. Tes ini tergolong baru dan baru diterapkan di LPDP 2018 kemarin.  Setelah kita dinyatakan lulus seleksi administrasi, selanjutnya kita akan diminta untuk memilih lokasi tes SBK. Setelah kita memilih, kita tidak boleh mengganti tempat lagi karena alasan apapun. Lalu saya mendapatkan lokasi di Jakarta dan memilih tempat tes SBK di Kanreg V Ciracas.

Sesuai dengan waktunya, akan diberikan surat edaran melalui email dan SMS mengenai dresscode baju dan juga barang-barang yang harus dibawa, seperti KTP dan kartu registrasi peserta. Tahun 2018 kemarin, kami diwajibkan untuk menggunakan kemeja warna putih dan rok atau celana hitam. Sementara untuk yang berjilbab, menggunakan jilbab warna hitam penitian. Sepatu bebas selama tidak pakai sendal. Kita juga diminta untuk hadir 60 menit sebelum tes dilaksanakan untuk registrasi.

SEBULAN SEBELUM SBK


Untuk tes SBK, saya mempersiapkan kurang lebih dalam waktu satu bulan. Karena sebelum saya dinyatakan lulus administrasi, saya merasa tidak percaya diri akan lolos administrasi. Juga, saya disibukkan dengan persiapan untuk menghadiri konferensi ke Kanada dan Rwanda. Dan sehari sebelum SBK dilaksanakan, saya mengadakan sebuah acara  sebagai ketua pelaksana. Jadi super padat dan hampir sangat sulit belajar TPA saat itu. Padahal jauh-jauh hari saya sudah beli buku TPA-nya, namun sebelum pengumuman kelulusan administrasi, saya tidak buka sama sekali karena saya takut tidak lulus. Namun, alhamdulillah, saya dinyatakan lulus seleksi administrasi LPDP dan hari itu juga saya baru berani membuka buku TPA yang sudah saya beli.

Dalam Tes Potensi akademik, terdapat tiga tipe soal. Soal verbal, soal numerik, dan soal penalaran. Kebetulan 70% waktu saya, saya gunakan untuk belajar tipe soal numerik karena saya merasa tidak percaya diri dengan tipe soal ini. Saya orang dengan latar belakang sosial, dan saya pikir, nilai saya akan sangat kecil jika saya tidak mempelajarinya. Sisanya saya gunakan untuk belajar verbal. Dan sangat sedikit sekali saya sisihkan untuk belajar penalaran, atau mungkin, bisa dibilang saya tidak belajar tipe soal penalaran sama sekali. Kemudian saya menyadari, tidak belajar penalaran sama sekali adalah sebuah kesalahan besar.

HARI-H SEBELUM TES DILAKSANAKAN




Kebetulan saya mendapatkan jadwal tes paling pagi, jadi saya berangkat subuh-subuh dari rumah saya di Lenteng Agung ke Ciracas menggunakan mobil Grab. Waktu itu saya langsung habis Rp 100.000,-. Tapi tidak apa-apa, saya tidak mau kepala saya terpenuhi dengan banyak asap kendaraan bermotor saat tes berlangsung, risiko terlambat jika naik angkutan umum, atau saya masuk angin jika naik grab motor. Hari itu saya harus memberikan yang terbaik.

Ketika tiba di tempat tes, saya melihat sudah ada dua orang laki-laki sedang duduk di gerbang yang masih di tutup. Jadi saya datang sangat pagi saat itu, sekitar jam enam atau setengah tujuh pagi. Lalu beberapa satpam membuka gerbang dan menyuruh kita duduk di ruang tunggu yang disediakan. Lalu saya di sana mengobrol dengan para peserta lain yang hadir. Di antara peserta, saya mengobrol dengan salah satu peserta yang lulus S1 Fisika dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat. Dan sudah mendapat offer dari kampus tujuannya untuk S2. Saya mengobrol dengan peserta yang lain, banyak dari mereka sepertinya memang pintar-pintar dan background mereka cukup kuat. Lalu saya merasa agak minder sendiri sejujurnya.

Setelah mendekati jam sesuai jadwal, barulah saya dan para peserta lainnya dipanggil satu demi satu sesuai abjad. Lalu kita menuju meja registrasi, mengisi daftar hadir, dan panitia menuliskan password di kartu ujian untuk login tes. Di sini, yang dibawa masuk hanyalah kartu ujian, KTP asli, dan juga kunci loker. Semua barang bawaan saya disimpan di dalam loker (Buku, HP, jaket, jam tangan, pulpen, pensil, kertas, makanan, minuman,dsb) dan HP wajib dimatikan. Setelah selesai registrasi, peserta dipersilahkan masuk ruang tunggu selanjutnya. Sebelum memasuki ruang tunggu tersebut, kita diperiksa dengan metal detector dan lalu diberikan minum air putih gelas jika merasa haus.

Jika waktunya telah tiba, kita diminta untuk berdiri dan berbaris. Berdiri dan berbarisnya berdasarkan tempat duduk yang tadi kita sedang duduk di ruang tunggu itu. Kita memilih sendiri tempat duduknya kan, jadi bisa dibilang masuknya pun sebenarnya random. Ada gosip bahwa tes TPA yang duduk di belakang katanya soalnya sedikit lebih sulit, jadi untung saja, tempat saya berdiri memungkinkan saya untuk masuk duluan juga. Dan memilih tempat duduk lebih awal.

SAAT SELEKSI DILAKSANAKAN


Pada SBK LPDP ada tiga macam tes yang diuji: 
  1. Tes Potensi Akademik (TPA),  
  2. Soft Competency, 
  3. On The Spot Writing Essay. 
Dari ketiga tes ini, pengambilan keputusan lulus atau tidaknya peserta LPDP dalam seleksi SBK hanyalah berdasarkan Tes Potensi Akademik. Dalam arti kata, meski nilai test Soft Competency kita bagus, kalau nilai tes TPA kita di bawah passing grade, kita tetap tidak lulus. Jadi teman-teman perlu maksimalkan untuk tes TPA. Sementara untuk tes Soft Competency dan On the Spot Writing Essay, meski dinilai, keduanya hanya menjadi rujukan atau referensi tambahan bagi juri LPDP.

TES POTENSI AKADEMIK

Seperti saya telah jelaskan sebelumnya, dalam ujian TPA ini terbagi dari berbagai tipe soal dengan waktu pengerjaan keseluruhan adalah 90 menit. 
  1. Verbal 30 Soal (Sinonim, antonim, analogi, serta soal cerita),
  2. Numerik 15 soal (Deret aritmatika, bangun ruang, diskon, persamaan garis dan lain-lain)
  3. Penalaran 15 Soal (Analitis dan Logis)
Total ada 60 soal, dan satu soal nilainya adalah 5 poin. Jika benar semua berarti 300 poin. Tahun 2018, passing grade untuk reguler dalam negeri adalah 180 poin (minimal benar 36 soal dari 60 soal), passing grade untuk reguler tujuan luar negeri adalah 195 poin (minimal benar 39 soal dari 60 soal), dan passing grade untuk program afirmasi tujuan dalam dan luar negeri adalah 160 poin (minimal benar 32 soal dari 60 soal). Passing grade ini tidak dirilis oleh LPDP tahun 2018 kemarin, tapi diperoleh setelah para pelamar LPDP mengumpulkan nilai semua yang masuk dan membagi peserta dengan nilai yang lulus berapa dan tidak lulus berapa. Katanya, untuk berada di posisi aman, minimal nilainya harus 200 poin.

Saya duduk di bangku paling depan. Lalu kami diminta untuk mengisi nomor registrasi peserta dan password baru bisa login. Saya telah berkata ini sebelumnya, saya sangat tidak percaya diri dengan kemampuan saya mengerjakan soal numerik, orang bilang soalnya sangatlah sulit, setidaknya satu tingkat lebih sulit dari soal-soal TPA CPNS. Pengerjaaannya juga tidak hanya dikerjakaan satu langkah, mungkin baru selesai dalam 2 hingga 3 langkah. Jadi saya agak gugup saat itu, namun ingin maksimal karena telah belajar khusus untuk numerik. 

Segera setelah login, saya langsung memilih soal nomor 16 (numerik), karena peserta dibolehkan memilih soal secara acak dan membenarkan kembali jawabannya di lain waktu yang tersisa. Saya kaget, gils, benar soalnya beneran sulit. Sepertinya dari semua soal  yang telah saya pelajari, soal ini masih satu langkah lebih sulit. 50 menit lebih waktu berlalu, tinggal 40 menit lagi, saya tengok sedikit kanan dan kiri, kotak-kotak mereka sudah banyak yang hijau. Artinya mereka sudah mengerjakan mayoritas soal. Sementara saya belum selesai dengan soal numerik. Verbal dan penalaran belum saya lirik! Saya langsung keringat dingin saat itu, gugup dan nervous. Sampai akhirnya saya ingat nasihat teman yang lulus LPDP Dalam Negeri, segugup apapun situasimu, jangan cemas. Tenang, rileks dan ambil napas. Kalau perlu minum, minum. Kalau perlu ke WC, ke WC.

Jadi saya langsung berpindah ke soal verbal dan soal penalaran. Menyelesaikan masing-masing dari 45 soal dalam waktu kurang dari satu menit atau bahkan lebih cepat dari itu. Waktu saya tersisa 12 menit lagi, hff. Dalam hati, ternyata saya cepat juga mengerjakan soal verbal dan penalaran setelah melewati krisis. Lalu saya memeriksa ulang semua jawaban keseluruhan mulai dari verbal, numerik, dan penalaran. Saya juga mengerjakan beberapa yang masih kosong. Dan menulis nomor (di kertas corat-coret) soal yang benar-benar sulit atau rumusnya mentok alias lupa sama sekali.

Waktu menunjukkan 5 menit lagi. Dan banyak dari peserta sudah selesai dan memilih mengerjakan tes selanjutnya yaitu soft competency. Waktu itu saya takut kalau sebelum saya submit, gedung ini akan mati lampu atau tiba-tiba komputer saya mengalami kendala teknis. Jadi saya juga ikut tergoda untuk segera men-submit punya saya juga. Lalu saya pencet lah itu kotak tulisan “SELESAIKAN TES INI”. Dan setelah itu muncul kotak dialog bertuliskan “Apakah Anda Yakin Untuk Menyelesaikan Tes ini dan Berlanjut ke Tes Berikutnya?” semacam itu. Dengan perut lemas, lutut lemas, jantung deg-degan, akhirnya saya klik “BATALKAN” saja dulu deh. Hati saya bilang, belum yakin. Saya tidak akan pernah tahu sebelumnya, bahwa bersitan hati sekilas ini akan mengubah hidup saya secara drastis dan fundamental.

Akhirnya saya memeriksa ulang kembali beberapa soal yang saya tandai sangat sulit atau rumusnya mentok, alias lupa sama sekali. Lalu ketemu satu soal barisan dan deret yang akhirnya saya tiba-tiba teringat rumusnya yg sempat ilang di kepala. Tiba-tiba rumusnya muncul gitu aja gak tahu kenapa. Benar-benar seperti ilham. Akhirnya saya ganti jawaban yang saya tahu insyaa Allah pasti benar. Tinggal 2 menit lagi, barulah saya selesaikan ujian.

Lalu setelah itu langsung muncul hasil skor TPA saya: 195. Entah harus senang atau sedih, karena posisi aman adalah 200. Haduh, satu soal lagi dan saya bisa bernapas lega! Jadi saya masih ada di zona bahaya saat itu. Meski saya di atas passing grade reguler dalam negeri 180, tapi passing grade luar negeri tentunya akan sedikit lebih tinggi (Saat ujian, belum diketahui berapa passing grade LN).

SOFT COMPETENCY.

Soft competency adalah soal tes kepribadian mirip tes kepribadian CPNS. Waktu pengerjaan adalah 30 menit dan jumlah soal adalah 60 soal pilihan ganda yang terdiri dari pilihan A-E. Dilihat dari durasi dan jumlah soal, teman-teman bisa mengerjakan satu soal maksimal 30 detik saja. Meski sangat bisa dikerjakan kurang dari itu. Tes Soft Competency tidak menjadi tolak ukur kelulusan, dan setiap pilihan jawaban ada nilainya dari 1-5. Jadi tidak ada jawaban benar dan salah.

Teman-teman mungkin bisa menjawab sesuai dengan kepribadian teman-teman sendiri. Namun, saat saya mengerjakan tes itu, dalam pikiran saya, saya berkomitmen untuk memperbaiki diri saja. Jadi setelah saya mengerjakan semua soal dalam waktu 20 menit. 10 menit saya kerjakan ulang beberapa soal, dengan landasan pemikiran bahwa saya sebagai pengambil kebijakan di pemerintah. Kebetulan saya emang bercita-cita duduk di posisi pemerintahan, jadi mungkin saya akan berpikir seperti itu kalau sudah menjadi pejabat publik.

Setelah selesai tes soft competency, nilai saya langsng keluar 270 dari maksimal 300. Wah, jauh lebih tinggi daripada soal TPA.

ON THE SPOT WRITING ESSAY

Setelah men-submit tes soft-competency, langsung dilanjutkan dengan Essay OTS. Waktu pengerjaan adalah 30 menit dengan jumlah kata sebaiknya 250 kata. Dan harus dalam bahasa Inggris untuk tujuan luar negeri, kecuali negara-negara Arab dan Timur Tengah boleh bahasa Indonesia karena komputer BKN belum disupport dengan keyboard bahasa Arab. Untuk tes berlangsung selama 30 menit dan mewajibkan menulis 250 kata, menurut saya pribadi, agak sulit ya, karena IELTS saja 250 kata dalam 40 menit saya masih sering keteteran.

Topiknya beragam, kebetulan waktu itu saya mendapatkan topik mengenai Tuberculosis. Saya dengar yang lain mendapatkan topik: nikah muda, dana desa, BPJS, Student loan, tenaga asing, pembuatan SIM dsb. Agak sedih sih, karena kalau bahasannya nikah muda, nulis 1000 kata pun saya akan sangat mengalir dengan banyak sekali argumen. Tapi topik TBC ini saya sangat awam. Semua argumen saya hanya berlandaskan poster mengenai TBC yang saya lihat di Poli Paru saat tes dahak dan rontgen TBC di rumah sakit (demi memenuhi persyaratan administrasi LPDP).

Lalu saya kerjain saja seadanya, menulis seadanya dan pengetahuan seadanya. Lalu saya submit esainya dan alhamdulillah menyelesaikan seluruh rangkaian tes SBK hari itu.

HARI H PASCA TES 



Setelah saya menyelesaikan seleksi tersebut, saya keluar ruangan dengan bernapas lega. Bukan lega karena yakin lulus, melainkan karena telah menyelesaikan seleksi itu. Nilai TPA dan soft competency seluruh peserta langsung dipajang di mading dan di layar projector segera setelah kita keluar ruangan. Untuk TPA, saya berada di rangking 30 dari 81 peserta  dengan nilai 195, dan untuk Soft Competency berada di rangking ke-7 dari 81 dengan nilai 270.  

Yang unik adalah: Ternyata nilai saya di penalaran dan logika sangatlah kecil, well, saya tidak belajar juga dan menganggap remeh soal ini. Sebuah kesalahan besar. Karena jika saya belajar konsepnya saja, saya bisa memahami yang dimaksud dalam soal. Nilai verbal saya standar, sebagaimana saya belajarnya juga standar dan biasa-biasa saja. Tapi nilai saya numerik adalah 70, alias saya benar 14 soal dari 15 soal. 

Kurang lebih hanya ada 5 orang dari 81 peserta yang nilai numeriknya sama atau lebih tinggi dari saya. Padahal bisa dibilang, mungkin sekitar setengah peserta di sana adalah anak latar belakang Sains dan IPTEK. Saya juga lihat teman saya yang S1 Fisika di Amerika, dia memperoleh nilai numerik yang sama dengan saya. Meski secara keseluruhan, nilai TPA-nya sangat tinggi, di atas 260. Saya merasa, sepertinya saya ternyata agak berlebihan belajar dan mengerjakan soal numerik ini, untuk bisa mendapat nilai setinggi itu, dan notabene sebagai orang  dengan latar belakang sosial. 

Sempat mengobrol dengan beberapa peserta yang lain, sebelum akhirnya mereka masuk ruang ujian untuk batch selanjutnya. Mereka juga agak kaget dengan nilai numerik saya. Meski sayang sekali, nilai penalaran saya kecil dan bikin saya berada di zona bahaya. Hal yang paling saya sesali sepanjang setelah SBK LPDP.

Hari itu saya langsung merasa lapar karena belum sarapan. Dan uang juga habis. Jadi saya menunggu orang tua untuk transfer dulu, dua jam di BKN segera setelahnya saya harus mengambil visa Kanada ke VFS Global. Sembari menunggu, saya merasakan angin sepoi-sepoi, menikmati kesendirian, ketenangan, dan kepasrahan....

SEMINGGU SETELAH SBK


25 Oktober 2018, akhirnya para peserta mendapatkan pengumuman SBK secara serentak. Dan alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Saya langsung loncat kegirangan bukan main di rumah saat itu. Setelah berbagi dengan grup LPDP LN di telegram, ternyata passing grade untuk SBK LPDP reguler tujuan luar negeri adalah 195. Lutut saya langsung lemas dan saya gak jadi girang lagi, jika satu soal saja salah, sudahlah wassalam. Saya jadi teringat, ketika saya sudah meng-klik “SELESAIKAN TES INI” padahal masih ada 5 menit lagi, dan saya memilih “BATALKAN” dan memeriksa kembali semua soalnya sampai nemu satu soal numerik yang rumusnya tiba-tiba terilham di kepala. Andaikan jika saya pilih tombol "YA". Sudahlah wassalam. Tidak lulus LPDP 2018.

Alhamdulillah juga, lulus seleksi substansi dan tepat beberapa waktu lalu, dinyatakan lulus kampus tujuan New York University dengan semua keterbatasan dan kekurangan yang ada. Terimakasih ya Allah. 

Dari pengalaman yang saya jabarkan tersebut, berikut TIPS-TIPS MENGHADAPI SELEKSI SBK yang saya rangkum,

TIPS- TIPS MENGHADAPI SELEKSI SBK LPDP

  1. Latihan soal CAT sebanyak-banyaknya dari buku-buku TPA BAPPENAS atau TPA CPNS yang banyak bertebaran di toko-toko buku. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh.
  2. Meski belum dipastikan lulus seleksi administrasi, sebaiknya teman-teman mulai belajar saja. Karena saya pribadi merasa, waktu yang ada untuk belajar setelah pengumuman seleksi administrasi ke seleksi SBK sangatlah singkat, jadi hasilnya pun tidak maksimal.
  3. Bergabung dengan grup grup online lalu belajar bersama di grup tersebut. Saya merekomendasikan grup LPDP LN di telegram yang dapat diakses dengan mengunjungi tautan berikut https://t.me/LPDPLN
  4. Ketemuan dengan teman-teman di grup online untuk belajar bersama, khususnya untuk soal TPA dan diskusi bareng.
  5. Untuk ketiga jenis tes SBK (Verbal, numerik, dan penalaran), jangan meremehkan satu pun jenis soal. Seperti saya meremehkan penalaran dan akibatnya sangatlah fatal. Nilai saya sangat kecil di penalaran sampai saya tidak mempercayainya. Menyadari saya tidak tahu konsep sama sekali.
  6. List berbagai kemungkinan topik Essay OTS dan persiapkan masing-masing esainya untuk satu topik dalam sebuah draft khusus. 
  7. Perbanyak membaca koran, menonton televisi, membaca berita hangat di Twitter, demi memperkuat dan memperkaya argumen yang dimiliki.
  8. Sebelum masuk ruangan ujian pastikan telah memenuhi hajat ke toilet, untuk buang air kecil maupun buang air besar.
  9. Penuhi sarapan terlebih dahulu meskipun sedikit. Karena ada salah satu teman saya yang maag nya kambuh saat melangsungkan SBK dan dia dipulangkan karena muntah-muntah. Sayang sekali, karena nilai numerik saya begitu tinggi, juga karena belajar dari dia.
  10. Tenanglah dan jangan cemas. Setiap kali cemas atau gugup melanda, tarik napas terlebih dahulu, berpikirlah dengan kepala yang dingin, jika butuh minum, maka minumlah, jika butuh ke WC, maka minta izin untuk ke WC. Sesulit apapun soal yang muncul, yakinkan dalam hati, bahwa dirimu akan baik-baik saja.
  11. Periksa kembali semua jawaban bahkan hingga detik-detik terakhir. Jangan tergoda untuk segera men-submit tes hanya karena yang lain telah menyelesaikannya.
  12. Banyak berdoa dan meminta doa dari orang tua. Karena ikhtiar hanyalah salah satu resep dari kesuksesan.



5 Drama Korea Favorit Sepanjang Masa

Drama Korea Terbaik | Drama Korea Terbaru | Drama Korea Romantis | Drama Korea 2018 | Drama Korea Terbaik 2019 | Korean Drama | Drama Korea Komedi | Download Drama Korea | Drama Korea Favorit | Drama Korea Rekomendasi

Sepuluh tahun merilis blog ini, dan ini mungkin sedikit bentuk perayaan. Sepuluh tahun mungkin udah cukup lama untuk menulis 5 Drama Terfavorit Sepanjang Masa versi saya. Tiba-tiba pengen nulis ini karena merasa ada yang agak hilang beberapa tahun belakangan ini. Sekarang drama Korea udah banyak yang kutonton, hampir semua genre, banyak yang bener-bener bagus saat menontonnya, lucu, dan menyenangkan. Tapi hanya sedikit sekali yang perasaannya bisa tetap melekat hingga bertahun-tahun. And for these drama, I never had say goodbye.

1. Gaksital / Bridal Mask (2012)


BEST DRAMA EVER. EPIC, INTENSE, REVOLUTIONARY. Sayangnya, aku dengan sangat yakin sekaligus bersedih mengatakan bahwa drama ini akan selalu ada di urutan pertama. Tepat tujuh tahun sejak episode pertama Gaksital tayang, dan aku belum bisa move on sama sekali. Sekarang, aku tidak tahu harus menggunakan kata-kata apalagi untuk bisa cukup mendeskripsikan semuanya, seperti aku telah mengeluarkan ratusan ribu kata di berbagai media dan itu tidak pernah cukup. I know I kinda pity myself for being ultimate crazy in love with this show, but I literally can't help... (menangis di pojokan). Tentu, drama ini tidaklah sempurna, namun setelah menonton banyak sekali drama, belum ada yang emosinya bisa menyamai perasaan roller-coaster antara benci, cinta, marah, sedih, kasihan, khawatir, dan semua perasaan lainnya campur aduk untuk satu karakter bernama Lee Kang To. Aaaaghhh~~!!! Kang-To ya, aku akan mencintaimu dan menempel denganmu selama bertahun-tahun.

2. My Ajusshi / My Mister (2018)


HUMAN RAW EMOTION. Menonton ini adalah sebuah perjalanan emosional tentang manusia di saat-saat tergelap dan terdalam mereka, menampilkan emosi yang sangat mentah dan telanjang, menyajikan cinta murni sesama manusia. Cinta murni di atas sekadar romantisme laki-laki dan perempuan. Hal-hal terpenting tidak terungkapkan sebagaimana kehidupan sesungguhnya, lalu drama ini tidak membiarkan kita (penonton) move on begitu saja.  Hffftt... Meninggalkan perasaan rindu yang begitu melekat dan berkepanjangan yang tidak akan kuperoleh lagi di drama lain.

3. The Princess' Man (2011)


MY TYPICAL ANGST ROMANCE. Aku ingat, butuh kira-kira 5-6 tahun setelah drama ini tayang sampai aku menontonnya dan setelah itu, aku berkata ke diri sendiri, "Selama ini kemana aja, buk??". Bad-ass hero and heroine dengan gaya Romeo and Juliet versi Sageuk. Hate-to-Love-to-Hate-to-Love kind of story and it's thrilling. Menggunakan landasan kisah nyata Joseon sebagai kerangka kerjanya dan menyajikan romantisme yang -kuat. Oh, mungkin aku gak bisa mendeskripsikannya dengan baik. Setelah drama ini usai, perasaanku mirip setelah nonton Pride and Prejudice, "yah... akan sangat lama untuk menemukan romantisme seperti ini lagi". Pride and Prejudice juga masih bertahan dalam memoriku sebagai best romance story ever, bahkan ini telah 200 tahun dari pertama bukunya Jean Austin itu dirilis. Menurutku, untuk versi Korean Drama mungkin posisi best romance ever adalah untuk The Princess' Man. Dan aku menuliskan ini dengan yakin.

4. Goong / Princess' Hours (2006)


MY YOUTH LIFE. MY FIRST LOVE. Drama ini mungkin selalu datang pertama kali di pikiran sebagai template untuk semua Drama Korea ber-genre romantis komedi. Mungkin jika dibandingkan dengan banyak sekali drama Korea se-tipe yang muncul setelahnya, kalau versiku misal The King 2 Hearts. Secara keseluruhan, Princess Hours tidaklah lebih sempurna. Alurnya lambat, tipikal cerita Cinderella klise, konspirasi politik yang tidak menyenangkan, dan akhir cerita yang aneh. Namun, sebuah drama bisa benar-benar sempurna, namun itu tidak menjadikannya serta-merta sebagai kesukaan kita, kan? Karena kesukaan adalah penilaian subjektif yang timbul dari perasaan pribadi, muncul setelah menontonnya, dan bertahan dengan sangat lama. Dan ya, drama ini mewakili memori masa kecilku sebagai anak perempuan yang hopeless romantic. Menyajikan visual yang sempurna, soundtrack yang indah, cerita masa SMA, dan cinta segitiga antara dua pangeran tampan, yang satu berkarakter Darcy (Pride and Prejudice) dan yang satu lagi hangat dan lembut, elemen-elemen ini menjadikan Goong magnet tersendiri di zamannya.

5. Answer Me 1988 / Reply 1988 (2015)


OH MY HEART, BE STILL. Aku hampir saja tidak mau menuliskan drama ini dan berusaha membuangnya jauh-jauh dari memoriku. Drama ini meninggalkan sebuah luka besar menganga di hati yang mungkin takkan pernah tertutup. I love it but it hurts me so bad. Ya, seperti mantan terindah. Satu-satunya drama yang membuat bantalku basah kuyup air mata, sampai mungkin bantal itu bisa diperas dan airnya memenuhi sebuah ember. Jung Hwan telanjur memiliki tempat tersendiri di hatiku, aku menguncinya, aku memastikan itu akan permanen. Berharap dia tidak akan terluka lagi di sana. Oke, aku akan berbicara episode 1-18 saja, anggap dua episode terakhir tidak pernah ada. 

Drama ini membuktikan, tidak perlu penjahat untuk melahirkan konflik, karena tidak ada kisah yang lebih luar biasa daripada cinta orang tua, keluarga, dan teman-teman kita sendiri. Menghangatkan hati, seperti masakan ibu di rumah. Drama ini kutonton satu episode tiga kali, saat tayang live-streaming di Korea (sehari aku menghabiskan pulsa hingga Rp 50.000,- demi kuota streaming dan download), saat sudah ada file download-nya, dan sudah rilis subtitle. Ending yang sangat mengecewakan membuatku mengalami sindrom penarikan diri dari semua drama Korea dan masalah kepercayaan hingga tidak menonton drama Korea sepanjang tahun 2016. Seorang penggemar Drama Korea berhenti menonton drama Korea selama setahun, -is a thing.


Honorable Mentions:
  • Forest of Secret: Definisi sesungguhnya drama yang jenius dan sempurna. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. 
  • Time Between Dog and Wolf: Aku ingat jantungku berdetak kencang dan lututku lemas saat menonton episode-episodenya. 
  • Misaeng: Berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mengubah perspektif akan drama Korea dan ini tumbuh dalam diriku.
  • Coffee Prince: Banyak sekali drama jadul yang dulu kita sukai, dan kita temukan banyak cacatnya. Entah pengorbanan bodoh, sakit kritis, Cinderella klise dsb. Namun Coffee Prince tetap sempurna bersama berjalannya waktu.
  • The King 2 Hearts: Tidak pernah bosan dengan Lee Seung Gi dan ya, konflik politik yang menyenangkan dan romansa yang kuat.

Tuesday, April 9, 2019

April 2019 Wishes List



  1. Mendaftar ke minimal 5 konferensi fully funded keluar negeri.
  2. Melengkapi semua checklist administrasi ke New York University dan LPDP.
  3. Menulis Indonesia Terakhir yang telah direvisi hingga BAB Delapan.
  4. Memposting 5 tulisan blog yang bermanfaat.
  5. Publikasi Open Science Fair 2019.
  6. Mengirimkan proposal sponsorship OSF ke 100 lembaga.
  7. Menyusun draft komik pendidikan seksual untuk anak-anak SMP dan SMA.


Saturday, April 6, 2019

Wawancara LPDP dengan Nilai Nyaris Sempurna, Bagaimana Caranya?


Banyak yang bertanya kenapa wawancara LPDP saya bisa mendapatkan nilai hampir sempurna, yaitu 792 dari 800. Disini ingin berbagi sedikit pengalaman dan asumsi saya bisa mendapatkan nilai setinggi itu (Dari pengalaman yang lain, katanya ini sangat tinggi sih hehe, sampai kalau gak ikut LGD kemungkinan saya bisa tetap lulus substansi). I know it is so lame to share this... Apalagi saya tidak tahu tolak ukurnya dan skema penilaiannya seperti. Tapi mudah-mudahan asumsi saya ini bermanfaat. Btw, insyaa Allah saya akan melanjutkan S2 di General Psychology New York University tahun 2019 ini dan sudah mendapatkan Letter of Acceptance.

Perlu diketahui juga, saya bukan seorang ahli dalam wawancara dan ini adalah satu-satunya wawancara resmi yang pernah saya lalui dalam hidup saya. Jadi ini murni asumsi pribadi saya mengenai apa yang saya rasa membuat sebuah wawancara bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Mudah-mudahan membantu bagi yang tertarik mengikuti wawancara LPDP ke depannya.


Mungkin teman-teman sudah sering dengar tips-tips wawancara pada umumnya, seperti memperhatikan body language, bersikap sopan dan bersahabat, menggunakan pakaian yang rapih, simulasi wawancara dsb. Kali ini saya akan coba sharing tips yang mungkin masih jarang dibagikan atau dituliskan dalam tips-tips wawancara pada umumnya. Dan berikut adalah tips-tips wawancara dari saya:

1. Jangan Menjawab Terlalu Normatif.

Teman-teman bisa bayangkan gak, pewawancara yang kalian hadapi itu mungkin sudah menghadapi puluhan peserta atau mungkin ratusan. Jawaban-jawaban normatif pasti diulang-diulang dalam setiap sesi wawancara dan itu membosankan. Jawaban normatif itu artinya jawaban dikembalikan kepada etika/aturan/norma/nilai yang sudah diketahui secara bersama. Seperti misalnya jika ditanya "Kenapa ingin melanjutkan sekolah S2 ke Inggris?" Lalu kamu menjawab "Saya ingin meningkatkan skill, menambah pengetahuan dan pengalaman, meningkatkan kebermanfaatan dsb.". Itu adalah jawaban normatif. Lebih baik menjawab dengan detil dan spesifik, misalnya mengenai riset yang ingin ditempuh dan kenapa universitas atau supervisor di universitas tersebut menjadi perfect match buat minat riset kamu. Dan ya kenapa itu secara spesifik dapat berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.

2. Data! Data! Data!

Disini aku mau share sesuatu yang juga mungkin banyak diabaikan oleh peserta LPDP saat wawancara, yaitu kurangnya data. Data itu sangat penting sebagai amunisi untuk kalian wawancara. Memiliki data juga termasuk mencerminkan kecerdasan dan kesiapan kamu sebagai calon penerima beasiswa LPDP. Misalnya apakah kamu tahu berita terbaru mengenai kontroversi Perda Syariah (pertanyaan seputar nasionalisme), atau pertanyaan mengenai kondisi bilateral hubungan Indonesia dengan negara tujuan (Indonesia dengan Swedia misalnya). Jangan sampai ketika ditanya, kita tidak tahu apa berbagai pertanyaan nasionalisme lainnya (organisasi separatisme, perda syariah, khilafah, komunisme, RUU ormas dsb) atau tidak tahu hubungan Indonesia dengan negara tujuan misalnya, pertanyaan seputar akademik seperti biaya studi, organisasi mahasiswa di kampus (islamic centre/komunitas Indonesia), penelitian profesor yang kamu tuju, urgensi jurusanmu di Indonesia dsb. Atau pertanyaan-pertanyaan umum mengenai LPDP, visi misi LPDP, empat nilai LPDP, dsb. Amunisi-amunisi seperti ini harus disiapkan jauh-jauh hari, segera setelah menyelesaikan tahap seleksi sebelumnya (Seleksi Berbasis Komputer).

3. Jawablah Sediplomatis dan Seobjektif Mungkin.

Bias pewawancara itu sangat mungkin terjadi, khususnya di iklim politik saat artikel ini ditulis dan saat si penulis melakukan wawancara. Jadi berusahalah untuk menjawab sediplomatis dan seobjektif mungkin! Karena kamu tidak tahu si pewawancara berpihak pada partai mana atau bahkan Paslon Presiden yang mana atau memiliki pandangan seperti apa pada satu ideologi. Lanjut mengenai Perda Syariah, ya. Kalau saya ditanya apakah setuju atau tidak dengan Perda Syariah, saya akan menjawab seperti ini:

"Dalam UU kita tidak pernah ada istilah Perda Syariah, Pak. Yang ada adalah Perda Provinsi, Perda Kabupaten Kota, Perda daerah istimewa dan Qanun untuk Aceh. Jadi istilah perda syariah itu tidak ada di UU. Dan dalam setiap penyusunan UU, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, dan Peraturan Daerah dilandaskan pada dua hal: Pancasila dan Konstitusi UUD 1945. Dimana sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pasal 29 ayat 1, Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara untuk Perda dilihat juga landasan sosiologis, sehingga sebuah perda itu disusun disesuaikan dengan kondisi sosial yang berlaku di masyarakat lokal. Selain itu, 'memajukan kesejahteraan umum' dalam pembukaan UUD 1945 ini juga dibedah lagi per-daerahnya, seringkali untuk memajukan kesejahteraan itu memiliki nilai dan norma yang sama dengan nilai-nilai agama, seperti membatasi alkohol untuk mencegah kejahatan."

Disini, kita jangan terjebak dengan pertanyaan setuju atau tidak setuju dengan perda syariah. Melainkan memperlihatkan pengetahuan kita mengenai hal tersebut dan memposisikan diri kita secara objektif. Ingat, jangan terlalu terjebak pada pragmatisme juga.

4. Jangan Baper.

Baiklah, seringkali pewawancara mungkin bertanya hal-hal yang menurutmu tidak patut atau memojokkanmu dari pengalamanmu atau argumentasi yang kamu miliki. Terkadang pewawancara bertanya mengenai hal-hal berbau SARA, memasuki ranah perdebatan, berkata dengan nada mengejek, bahkan mempertanyakan paslon presiden pilihanmu. Aku sih merasa dalam satu sesi wawancara tersebut, satu pewawancara memang ditugaskan untuk nyinyir terus. Pertanyaan seperti ini biasanya yang dinilah bukanlah isi dari jawabanmu, melainkan sikap kamu ketika mendapati pertanyaan itu. Apakah kamu baperan, marah, tersinggung, menangis, dsb. Karena kamu akan belajar di luar negeri dan negara akan berinvestasi ke dirimu, mereka mungkin perlu tahu apakah mental kamu cukup kuat atau tidak. Karena misalnya, konflik SARA di Amerika bisa lebih diskriminatif daripada di Indonesia. Kalau kamu langsung marah ditanya mengenai SARA saat wawancara LPDP, saat di luar negeri bisa jadi kamu lebih tidak siap jika dituduh sebagai teroris karena mengenakan jilbab.

Kalau bisa, ubah setiap pertanyaan sebagai ajang bagimu untuk semakin menunjukkan kualifikasi dan kualitas diri. Misalnya, kemarin saya mendapatkan sindiran seperti ini "Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.". Saat itu saya terdiam, sekali lagi, jangan terjebak dengan pragmatisme dengan menolak mentah-mentah tanpa pengetahuan. Justru perlihatkan pengetahuanmu terkait hal itu. Jadi saya berkata "Saya tidak perlu menjelaskan diri saya sebagai feminis, pak.". Dalam hati saya, karena Kartini adalah feminis tanpa lahir dari teori feminisme. Feminisme itu juga nilai yang seringkali kita implementasikan tanpa kita sadari.

Ini jawaban saya: “Karena feminis itu sendiri berbeda-beda pandangan tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika didudukkan secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi mungkin definisi feminisme yang sekarang implementasinya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam. Saya hanya menolak sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak mendefinisikan segala sesuatu yang bertentangan itu sebagai feminisme secara keseluruhan."

Lalu si pewawancara yang tadi menyindir saya mengangguk-angguk.

5. Mampu Memasuki 'Titik Bahaya' Dengan Tahu Apa yang Kau Bicarakan!

Seringkali, seorang peserta berusaha menghindari rentetan pertanyaan dengan menjawab pendek-pendek atau seperlunya saja. Karena jika mereka menjawabnya panjang-panjang, si pewawancara malah tertarik pada satu aspek yang sebenarnya tidak benar-benar peserta itu kuasai. Jadi akhirnya, mereka berusaha menghindari jawaban yang panjang dan detil untuk menghindari 'titik bahaya'. Paham kan maksudnya? Di saat bersamaan, ini akan membosankan bagi si pewawancara karena tidak ada lagi diskusi dan mereka tidak bisa menggalimu lebih jauh. Hal ini dapat diatasi kalau kamu paham dan tahu apa yang kamu bicarakan secara keseluruhan.

Misalnya, ketika saya ditanya apakah saya yakin saya akan sukses dan siap dengan dunia penelitian dan publikasi. Saya tidak menjawab, "Ya bu, saya yakin" begitu saja. Tapi saya menjelaskan lebih jauh, "Ya bu, saya yakin. Meskipun saya masih lulusan S1, namun saya sudah cukup familiar dengan dunia penelitian dan publikasi, seperti H-Index, APC, Open Access Journals, dan sistem bibliometrik di Indonesia." Dan setelah itu ditanya lebih jauh mengenai jurnal terakreditasi dan ISSN, tapi karena saya tahu apa yang saya bicarakan sebelumnya, jadi saya tidak takut memasuki diskusi yang lebih dalam lagi.

Saya bergabung dalam grup LPDP LN di telegram, dan sebagian besar peserta banyak mengeluhkan diri mereka yang menjawab terlalu panjang lalu si pewawancara malah terartik pada aspek yang tidak dikuasai si peserta. Selanjutnya, hal itu malah berusaha digali terus oleh si pewawancara sampai akhir dan peserta terjebak jadi pada 'titik bahaya'. Akhirnya peserta yang lain berkata, "Kalau gitu tips LPDP jawab pendek-pendek aja...". Sekali lagi karena tulisan ini asumsi saya saja, menurut saya lebih baik jika menjawab panjang, detil, dan komprehensif tapi mengetahui apa yang dibicarakan. Karena kalau saya sendiri jadi pewawancara, saya pasti bosan banget kalau tidak bisa menggali peserta lebih jauh untuk tahu kualifikasi mereka yang sebenarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kuasai' titik bahaya' mu apa saja, buat list semua pertanyaan yang mungkin muncul namun kamu tidak siap untuk jawab, dan persiapakan jawaban untuk hal-hal tersebut. Dua hari sebelum wawancara, titik bahaya saya adalah faktor akademik, "Kenapa harus melanjutkan sekolah ke LN dan bukan DN, kenapa harus NYU, kalau Psikologi kan lebih relevan belajar di Indonesia, apa urgensinya belajar di NYU untuk diterapkan di Indonesia dsb." Jadi hal itu saya pelajari habis-habisan, saya melakukan riset, menggali lebih jauh, sampai saya menemukan jawaban yang saya cari.

6. Kalimat Mujarab Untuk Dikatakan

Saya merasa kalimat ini mujarab sekali dan penting untuk dikatakan. "Baiklah, Pak Bu... Sebelumnya saya memahami bahwa penerima beasiswa ini akan menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat demi melanjutkan studi lebih tinggi. Bagaimanpun saya akan berusaha untuk dapat mengembalikan nilai tambah dari beasiswa yang diberikan LPDP untuk saya kembalikan kepada masyarakat Indonesia.”

Kalimat ini menyiratkan bahwa kalian tidak hanya ada di posisi pelamar beasiswa, namun kalian juga memahami berada di posisi si pewawancara. Bayangkan, si pewawancara akan memberikan kalian uang banyak, miliaran rupiah, dan tentunya ssebaiknya kalian bisa mengerti ada di posisi mereka. Cobalah katakan "Saya mengerti/memahami bahwa ini akan menggunakan pajak rakyat" jadi kalian sadar, itu bukan uang kalian. Setelah itu, yakinkan bahwa kalian adalah kandidat yang tepat dan investasi yang baik bagi negara, "Saya akan berusaha mengembalikan nilai tambah dari beasiswa ini kepada Indonesia.". Seperti, kalian berkata, Invest in me and I will give you the best of me.

7. Aktivitas Sosial (Non-akademik) Itu Penting

Sehari sebelum saya wawancara LPDP, seorang awardee LPDP DN yang juga kakak kelas saya berkata. "Tahu gak Mar, kalau pewawancara nanya banyak banget tentang aktivitas sosial kamu, itu artinya kamu bakalan lulus. Percaya deh." Dan memang benar sih, pewawancara kebetulan bertanya banyak sekali tentang aktivitas sosial yang kulakukan untuk bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana. Jadi teman-teman bisa memperkaya aktivitas dari sekarang atau mencoba menuliskan kontribusi sosial yang dilakukan dalam esai dan CV.

Transkrip wawancara ada di link berikut ya: 

Sementara berikut adalah esai yang saya tuliskan 

Bagaimana jika tidak memiliki banyak kontribusi sosial dan organisasi (non-akademik)? Kalau begitu amunisinya ada pada aspek akademik, seperti penelitian, publikasi, prestasi dsb. Maka aspek itu yang perlu ditonjolkan dan dipersiapkan! Tapi jika memiliki lebih banyak amunisi (akademik dan non-akademik) itu akan jauh lebih baik lagi.

8. Mendoakan Kebaikan Pada Pewawancara

Ini mungkin untuk teman-teman Muslim ya. Biasanya kita berdoa untuk diri kita sendiri, agar kita pribadi lulus dan lain sebagainya. Kalau saya justru lebih banyak mendoakan si pewawancaranya, hehe. Saya berdoa agar jika ada kebaikan yang ada di dalam diri saya, kebaikan itu dapat dikirimkan kepada pewawancara saya. Sehingga mereka nantinya akan mengembalikan kebaikan itu berupa hasil wawancara yang baik juga. Ustadz Adi Hidayat sendiri juga pernah berkata, sebelum wawancara beasiswa, beliau mendokan si pewawancara dan mengirimkan Al-fatihah untuk mereka di sepertiga malam terakhir. Saya pernah kasih tips ini pada seorang peserta, dan dia berterimakasih karena akhirnya wawancara dia berlalu dengan baik.

Sekian tips dari saya bagaimana bisa mendapatkan nilai wawancara LPDP nyaris sempurna. Hehe. Tentunya banyak sekali tips-tips lain yang lebih mendasar, seperti berpakaian rapih, menjawab dengan tutur kata yang sopan, bahasa tubuh yang baik, tapi tulisan itu sudah pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya di blog yang bisa dikunjungi di: Tips Wawancar LPDP http://maryam-qonita.blogspot.com/2019/01/tips-wawancara-lpdp-2018.html

Tuesday, March 26, 2019

Esai Yang Membawaku ke New York University

Tepat 5 hari yang lalu, 21 Maret 2019 saya membuka sebuah email yang memberi tahu bahwa terdapat important update mengenai aplikasi saya mendaftar S2 di New York University jurusan General Psychology. Karena di email tidak dituliskan bahwa itu application decision, saya pikir, mungkin ada beberapa dokumen yang perlu diupload sebagai referensi bagi panitia penerimaan untuk mempertimbangkan kembali aplikasi saya. Saya mengetahui bahwa aplikasi saya mungkin tidak begitu meyakinkan, khususnya nilai GRE verbal saya yang rendah. Sehingga, ketika saya mengunjungi link yang direferensikan di email tersebut dan login di website New York University, saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi apapun bahkan tidak tahu bahwa itu acceptance decision! Saya begitu santai membukanya dan beberapa saat otak saya memproses tulisan yang saya lihat...


Saya seketika langsung tutup wajah dan berteriak kegirangan. Ini adalah kampus yang saya tuju sesuai dengan aplikasi LPDP dan memiliki jurusan Psikologi di antara terbaik di dunia. Dan ya tentu saja, New York! Sebuah kota yang begitu saya impikan dengan banyaknya kesempatan, mulai dari kesempatan magang di kantor PBB hingga menjalin relasi internasional yang lebih luas. Karena banyak yang bertanya mengenai esai saya (personal statement), atau ingin bertanya tapi ragu, saya menuliskan di postingan ini mengenai esai yang saya tulis.

Perlu diketahui, bahwa saya seorang deadliner. Kebetulan saya menuliskan esai itu di dua hari terakhir sembari begadang sebelum pendaftaran universitas. Hal ini dikarenakan sebelumnya, saya fokus belajar GRE, menyusun CV, bulak-balik kampus meminta rekomendasi, dsb. PLEASE JANGAN DITIRU! Karena sampai sekarang, saya menyadari bahwa ini bagian dari kesalahan saya saat mendaftar universitas. I could have done better kalau saya menulis esai ini 2-3 minggu sebelum deadline aplikasi.

Mengenai Proofreading dan Grammar Check.

Untuk grammar check, saya menggunakan Grammarly. Bukan grammarly premium, melainkan versi yang gratis. Tentu saja banyak advance error-nya yang tidak disebutkan mana bagian yang salah dari tulisan saya. Tapi dituliskan bentuk kesalahannya apa, misalnya "Passive Voice Misuse" atau "Inappropriate Colloqualism" dsb. Jadi setiap bentuk kesalahan itu saya Googling untuk saya pelajari dan mencari kesalahan di esai saya untuk dibetulkan hingga saya menuliskan esai tanpa kesalahan grammar. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Grammarly. (Note: as you can see on my bookmark bar, saya suka manhwa dan live action jepang, maklum manusia juga :D)


Tapi kalau saya saranin, kalian perlu memiliki lebih banyak waktu untuk esai ini. Termasuk minta proof reading, bukan oleh diri kalian sendiri, namun juga oleh orang lain yang lebih profesional. Jika kalian tidak mengenal orang profesional yang bisa kalian mintai tolong selalu dengan senang hati, kalian bisa menggunakan website ini https://analyze.academichelp.net/ dengan biaya hanya 4.5 dolar per halaman. Jika saya memiliki lebih banyak waktu dan memiliki kartu kredit, saya akan menggunakan jasa ini sebagai proofreader. Jika kalian sudah tahu lebih dahulu sebelum mendaftar, I know you can do better than me!

You can ignore my bookmark bars, graduate student juga manusia ya.

Kemarin mendapat email personal dari kaprodi jurusan saya, Profesor . Andrianne Gans, kebetulan memang sudah sejak beberapa bulan sebelum saya wawancara LPDP, saya sudah menjalin hubungan dengan beliau menanyakan tentang jurusan ini. Apakah struktur courses-nya cocok dengan yang saya minati dsb. Dan ini menurutnya alasan saya diterima NYU (well, meskipun tidak ada alasan karena nilai standardized test GRE :-( ).




Oke, langsung ke intinya ya, mengenai esai yang saya tulis dalam aplikasi ke universitas ini. Bukan berarti esai harus struktur/format/skemanya seperti ini ya, karena universitas memiliki pertanyaan esai yang berbeda. Perlu teliti dan baca baik-baik pertanyaan tersebut dan buat bullet poin, apakah masing-masing yang ditanyakan sudah terjawab dalam esai atau tidak. Kalau saya diminta menuliskan dua tipe esai. Yang pertama adalah Academic Purpose, mengenai penelitian dan bidang profesionalisme saya sesuai dengan structure courses yang ditawarkan. Yang kedua adalah Personal History Statement, mengenai kehidupan pribadi saya, keunikan dan juga apa yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini.

Berikut Pertanyaan Academic Purpose

Please describe briefly and concisely your past and present academic, research and/or professional accomplishments as they relate to your intended field of study, your educational objectives while at NYU, and your career goals following the master's program. State your specific area of specialization in the general master's program in psychology and include your reasons for choosing this field of study. What specific goals and objectives do you have for applying to NYU?

Esai Saya: Academic Purpose.

My interest in pursuing graduate study within the field of psychology has influenced by a variety of factors inclusive of both academic and non-academic experiences. I am particularly interested in study Master of Arts in General Psychology, New York University because it is related to my educational background, bachelor's degree in psychology. A master program will give me more in-depth learning and advanced training so that I will have the expertise I need inside and outside in the academic world and society.

Before I enroll in a university, I have had one hiatus year. During that time, I had an opportunity to volunteer myself as a teacher in Al-Hikmah Islamic Boarding school, a small boarding school located in the middle of a  rice field and far from the hustle of the city. I became interested in psychology when I notice the importance of coping with stress in my students having an obligation to memorize the Quran. As I listened to my students who experienced peer-problems, fears, and anxiety, I discovered myself eager to learn more about psychology and human behavior. Since then, I decided to take the undergraduate study in psychology major and was further propelled since accepted as a student at the State University of Jakarta in 2013.

I became part of the Student Executive Board and also had an opportunity to volunteer myself as a mentor for 100 school-dropouts in the PPA-PKH program (Return of Child Labor – Family Hope Program). From these non-academic activities, I learned to build a sense of social concern and increase my contribution to others. My interest in social psychology started in 2015, a seminar on gender-based violence was held by BKBPP (Agency of Family Planning and Women Empowerment) in the state high court of Kuningan, West Java. I gained an understanding of the significance of gender equality and sexual education through engaging debates and discussions among governmental representatives, independent experts, and stakeholders.

Social psychology immediately seized my interest that allowed me to work in the area. As my undergraduate work progressed, I involved myself in the activities arranged by Satu Hati NGO and PPA-PKH (Integrated Service Centre for Women Empowerment and Child Protection). We visited one house to another house of gender-based violence victims and perpetrators. Our assignments were to provide support morally, psychologically and explain what can we can help during the court.  The specific duties I would love to pursue in the future are drafting public policies, continuing my work as a social activist, and working as a politician who would bring women issues particularly gender-based violence onto tables. 

To support my dream as a future politician, I participated in programs held by the Ministry of Women Empowerment and Child Protection. I promote people the new legislation regarding women and child protection. Together with me was Mr. Surahman Hidayat, a member of House Representatives from VIIIth Commission in the scopes of religion, social, and women empowerment. I explained about psychological interventions can be done on the victims through emotion-focused coping; namely solving emotional problems by forgiving yourself and the perpetrators.

One of the academic factors inspired me to take a graduate study in psychology is my research interest centers around women empowerment and gender-based violence. The potential topic I plan to propose is “Gender Stereotypes in Social Psychology Contexts: Its Impact on Gender-based violence.”. The theme selection is vital as this will provide a strong foundation upon which to build the rest of my work as a social advocate. As my graduate study would progress, I hope I can discuss further with Professor Madeline Heilman of NYU about the topic. For a while, I am planning to divide key-household tasks within social psychology contexts and how gender-stereotypes specifically have an impact on discrimination and gender-based violence. Graduate study in Psychology NYU itself ranked among top 11 universities by the QS World Ranking.

To sum up, graduate study in Psychology, New York University will give me many great insights I can develop and apply in society after finishing my master degree.  For all these reasons, I am keen to be admitted in your university this fall 2019 term. Your consideration in this matter is highly appreciated. 

Sincerely,
Maryam Qonita.

Pertanyaan Untuk Personal History Statement

The purpose of this optional essay is to get to know you as an individual and as a potential graduate student and to understand how your background will add to the diversity of our school. Please describe how your personal background has motivated you to pursue a graduate degree. You may discuss educational, familial, cultural, socioeconomic, or personal experiences or challenges; gender identity; community services, outreach services, first-generation college status or other matters relevant to your decision to pursue graduate education. Please note that the Personal History Statement is not meant to be a general autobiography.

Esai Saya: Personal History Statement

I am impressed by the anomaly I have become: an Indonesian and obedient Muslim woman who has been actively promoting gender equality. Even though I believe what causes gender-inequality is purely non-religion. It originates from the culture, social, and economic factors. However, many conservative Muslim friends still assume that the Quran signifies superiority of men over women in all aspects. Occasionally, when I talk about the patriarchal system in Indonesia and how it causes gender-based violence, I accused as bringing western and “feminist-liberal” propaganda.

Fortunately, with my family, I am never restricted to express my opinions. Moreover, my mother encourages me to challenge traditions and accepted beliefs. For 25 years, my family has been living inside the area of Husnul Khotimah Islamic Boarding School, a modern boarding school located at the foot of the Ciremai Mountain, far from the hustle and bustle. My father was a co-founder and a former director of the boarding school which has more than 8000 of alumni. The popularity of my family among students and alumni make people expected that I would not talk feminism openly as an opposite of common cultural beliefs. For example, many parents urge their daughters to get married earlier to prevent Zina, an Islamic term for a sexual relationship between unmarried male and female.

My initial interest in gender issues started subsequent to my admittance to the State University of Jakarta, majoring in Psychology. It was further propelled after I engaged in social activities handling gender-based violence cases in my community and advocating people about the coping strategies can be done for the victims. After having done several internship programs, social activities, competitions, and conferences dealing with gender equality, I found my way and decided to give an impact in the area. Hence, I want to be a politician who will be bringing the issues on the tables, end the stigma, and rock the system. As I listened to the victims of gender-based violence, I realized that I am unequipped to deal with such a situation without further formal training in Psychology.

Going to graduate school is necessary for me as it is a framework to utilize my full potentials. I proved myself as a successful undergraduate student with numerous national and international achievements as stated in my CV. In addition to academics, I possess various skills, such as design and reading poets, so that I can bring my future classmates more diversity. I am also a practicing Muslim, proudly wearing hijab, and I respect each other beliefs. Nevertheless, when I had an opportunity to visit New York City in 2016, I realized that I carry a uniqueness that is regularly being discriminated against outside of my country.  

However, I also possess leadership skills. I founded and led  Open Access Indonesia, an organization with a mission advocating open access to scientific journals. I hope my skills and knowledge in open access can help the students' group to finish tasks more efficiently.

Thankfully, I granted a full scholarship from LPDP (Indonesia Endowment Fund for Education) Scholarship to pursue my master degree in 2019. There are different regulations implemented for 2018 awardees: 1) We only have one year to obtain a Letter of Acceptance, 2) We can only apply to one university, and 3) We are not allowed to change the major either change the university destination. It means that if I accepted, I would be a strong potential graduate student. The sponsorship letter has uploaded on the additional information page.

Nevertheless, New York University is my first and only choice because it offers psychology courses with an integrated approach. This method often leads to a novel hypothesis and promotes the synthesis of research findings across disciplines. I have visited NYU, and the university itself has very diverse students that allow me to learn a lot from each one of them. To go to school anywhere else, it seems that I would be missing out that kind quality of education.

------

Sekian adalah esai yang saya tuliskan sehingga diterima di salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat, New York University. Saya memahami bahwa beberapa bagian tulisan saya memang terdengar profokatif bagi beberapa kalangan tertentu, khususnya mengenai Muslimah, Kesetaraan Gender dan Feminisme. Untuk berdiskusi lebih lanjut bisa baca pandangan saya disini: Muslimah Memeluk Feminisme, Emansipasi dan Kesetaraan Gender. Karena Kartini pun adalah seorang Feminis tapi tidak lahir dari teori-teori feminisme kontemporer.

Saya ingin menuliskan lebih jauh lagi sih mengenai apa yang saya pelajari dalam pendaftaran S2 di Amerika dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan esai menurut para admission officer yang saya ketahui baru-baru ini. Saya menyadari bahwa esai saya pun memiliki banyak flaws dan cacat dimana-mana setelah mengumpulkan informasi-informasi tersebut. Hmm.. meskipun I realize that I could have done better on my essay, but the most important thing is that it works!





Friday, January 18, 2019

January 2019 Wishes List


Graduate Record Examination (GRE):

  • Menghafalkan 1000 GRE Words Memrise
  • 30 Paragraf Latihan GRE
  • 13 Chapter dari 501 Sentence Completion
  • Setiap hari 2 bab Kuantitatif 5lb Book of GRE Problems
  • 2 Latihan GRE Komprehensif Seperti Tes Sesungguhnya


Open Access Indonesia:

  • Mengadakan Seminar Online yang keempat
  • Mengirimkan sertifikat kepada seluruh anggota dan ambassador OA
  • Mengupload mengenai digital advokasi di Instagram


IYAFP Indonesia:

  • Memperpanjang pendaftaran
  • Mengontak teman-teman yang mendaftar


120 Under 40:

  • Membuat draft proposal buku komik untuk daerah minim akses teknologi


Indonesia Terakhir:

  • Menulis satu hari satu halaman


Konferensi, Fellowship dan Scholarship:

  • 20 Januari Young Global Changers Program 2019 Berlin
  • 21 Januari YSEALI Engage Workshop 2019 Bandung
  • 25 Januari ROTA Youth Conference 2019
  • 27 Januari StuNed Program Short Course Scholarship
  • 31 Januari Future Global Leader Fellowship 
  • 31 Januari CERN OpenLab Summer Program
  • 31 Januari Mendaftar Internship Uni Eropa di Jakarta
  • 31 Januari UTSIP Japan Summer Internship 2019 Kashiwa


Friday, January 4, 2019

Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP


Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP – Di antara tahap akhir substansi LPDP juga adalah Leaderless group discussion atau LGD. Porsi penilaian dari tahap ini sendiri adalah 20% sementara 80% dari wawancara. Bukan berarti tahap ini tidak penting, karena beberapa poin saja bisa mementukan apakah kita akan lulus LPDP atau tidak.

Dari namanya, leaderless, itu artinya dalam diskusi ini tidak ada yang menjadi moderator, tidak ada pula yang menjadi pemimpin diskusi. Setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk membagi pendapat mereka masing-masing. Ketika saya mengikuti LGD pada bulan Desember 2018, kelompok saya terdiri atas 7 orang dengan waktu LGD keseluruhan adalah 25 menit. Itu artinya setiap orang memiliki kesempatan berbicara kurang lebih 3 menit. Pengawas LGD ini terdiri dari 2-3 orang yang merupakan psikolog dan akan memantau kita selama jalannya diskusi. Pengawas LGD ini masang muka jutek jutek loh, tapi ingat untuk tidak gugup ya.

Mengenai tips dan trik LGD sendiri, berikut yang teman-teman bisa persiapkan:

Membaca dan Memahami Isu-Isu Nasional.

Membaca isu-isu nasional menjadi sangat penting dalam LGD ini karena kita akan mendapatkan satu topik secara acak untuk didiskusikan. Alangkah baiknya jika kita sudah familiar dengan berbagai isu nasional sehingga kita mampu mengutarakan pendapat dan argumen dengan baik. Teman-teman bisa memulainya dengan aktif bermain Twitter dan memfollow akun-akun berita, seperti Detik, Tempo, Republika, Kompas, dsb. Isu ini bisa mengenai apa saja, seperti misalnya dana desa, pernikahan anak, penanganan narkoba, ataupun penanganan TBC.

Posisikan Diri Secara Tepat.

Saat melakukan LGD, kita akan diminta untuk melakukan role-play sehingga kita tetap mengutarakan pendapat dengan jelas dan terarah. Setelah membaca artikel LGD, kita akan diminta untuk memposisikan diri entah sebagai masyarakat, LSM, pemerintah, dsb. Memposisikan diri secara tepat bisa menjadi krusial sesuai dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Saya sendiri dengan latar belakang Psikologi, ketika LGD mendapatkan isu mengenai “Apakah pengguna narkoba perlu dipolisikan atau tidak” dan ketika itu saya menempatkan diri tegas sebagai psikolog, itu artinya saya perlu melihat pengguna narkoba selayaknya manusia. Dan saya harus tetap teguh pada pendapat saya.

Tuliskan Poin-Poin Selama LGD.

Setelah kita membaca sebuah artikel mengenai sebuah isu yang akan didiskusikan, kita akan diberikan waktu satu menit untuk menuliskan poin-poin yang ingin diutarakan. Gunakan waktu ini sebaik mungkin dan tuliskan dalamm bentuk poin atau mind mapping. Gunakan catatan di kertas tersebut sebagai arah disksui yang akan kamu utarakan. Ingat, jangan sekali-kali menggambar-gambar, mencorat-coret, menulis curhatan galau, atau melipat-lipat kertas corat-coret kamu. Meski itu hanya corat-coret. Karena kertas ini akan dikumpulkan untuk mengukur apakah kamu fokus pada diskusi atau pikiranmu ngalor ngidul kesana kemari.

Sampaikan Pendapat dengan Baik.

Setelah kita diberikan waktu untuk menuliskan poin-poin yang akan diutarakan, selanjutnya adalah kita perlu mengutarakan pendapat kita mengenai isu tersebut. LGD bukan ajang pintar-pintaran atau kuat-kuatan argumen, melainkan yang diukur di LGD adalah bagaimana kita menyampaikan ide dan pendapat kita dengan manner yang baik. Kita juga perlu memberikan recognition kepada peserta sebelumnya yang relevan, sebelum mengemukakan pendapat sendiri. Seperti misalnya, “Saya memahami poin yang disampaikan oleh Mas Agus sebelumnya, namun menurut saya ada beberapa catatan penting yang juga perlu diperhatikan...”

Jangan menggunakan intonasi nada yang terlalu tinggi, jika memungkinkan untuk tetap tersenyum, maka tersenyumlah. Jangan menunjuk-nunjuk peserta yang lain, jangan baperan, mencak-mencak, dan tetap perhatikan durasi berbicara agar tidak merampas hak milik berbicara orang lain.

Bicara Seperlunya, Fokus pada Intinya, Jangan bertele-tele, dan Jangan Bicara Melebihi 2-3 menit.

Ingat, sekali lagi LGD bukan ajang gagah-gagahan, debat atau adu kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan durasi berbicara peserta lebih disorot dibandingkan konten argumen yang diutarakan oleh peserta itu sendiri. Karena jika terlalu mendominasi, kita akan dinilai arogan dan dominan oleh pengawas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mereka yang berbicara terlalu banyak, justru mendapatkan nilai kecil dari juri LGD.

LISTEN! Dengarkan dan Simak Pendapat Peserta Lain.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dengarkan pendapat peserta yang lain dan tetap fokus selama diskusi. Toh ini hanya beberapa menit saja, jadi fokus! Kita ini diawasi oleh 2-3 orang pengawas, dan mereka mengamati melihat apakah kita menolehkan padangan kesana kemari, membenamkan wajah, memainkan pulpen, atau menggambar di atas kertas corat-coret. Belum lagi kita tidak tahu apakah tiba-tiba ada pertanyaan yang akan dilemparkan ke kita oleh peserta lain, Sehingga memang sebaiknya kita sepenuhnya mengikuti arah jalan diskusi.

Sebisa Mungkin Tawarkan Solusi.

Tidak ada pendapat salah benar dalam diskusi ini. Yang ada hanyalah setuju dan tidak setuju. Kalau tidak setuju, kita bisa mengawali diskusi dengan beberapa pendapat dari teman diskusi lain yang relevan dan disusul oleh poin yang ingin kita utarakan. Sebisa mungkin tawarkan solusi dalam pendapat kita. Bukan hanya menjabarkan masalah saja tanpa solusi.

Sekian tips dan trik Leaderless Group Discussion LPDP. Semoga bermanfaat.

Artikel Berkaitan Mengenai Beasiswa LPDP:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...