Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Saturday, November 13, 2021

Islam, Kesehatan Mental, dan Kesedihan Para Nabi

 


Islam memandang kesehatan mental sebagai sesuatu yang amat penting. Sebagaimana Nabi Muhammad sendiri berkata bahwa beliau diutus untuk pengembangan pribadi dan karakter. “Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”  (HR Baihaqi dari Abu Hurairah RA)

Dalam Islam, kesehatan mental, mirip dengan kesehatan fisik, merupakan aspek yang sangat penting dalam kesejahteraan seseorang, karena merupakan bagian integral dari menjalani kehidupan yang sehat dan seimbang.  Kesehatan psiko-spiritual berhubungan langsung dengan kemampuan seorang Muslim untuk mengaktuliasikan tujuan spiritual primordial mereka. Semua manusia diciptakan untuk menapaki jalan yang menjamin keselamatan mereka di akhirat dan mampu memperoleh keridhaan Allah SWT.

Kesehatan dengan demikian, dianggap sebagai kemampuan individu untuk tetap berada di jalan ibadah. Sehingga, apapun yang dianggap merusak fungsi manusia patut diperhatikan.

Sayangnya, bahkan dengan berat dan seriusnya masalah ini, masalah penyakit mental itu sendiri adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan baik di masyarakat kita yang lebih luas maupun di dalam komunitas Muslim. Setiap kali masalah ini diangkat, kesalahpahaman pasti akan mengikuti.  Orang awam sering kali melihat gangguan mental berdasarkan model yang berasal dari Pra Islam. Misalnya persepsi bahwa penyakit mental disebabkan oleh azab Allah, evil eye (penyakit ain), sihir, iri hati, atau roh gaib.

Ketika masalah ini dilihat dalam paradigma agama, seperti kerasukan jin, berarti individu tersebut kurang iman atau tidak rajin ibadah. Kemudian, perawatannya dianggap dengan membaca Al-Quran setiap hari, zikir, atau ruqyah.

Jika mengalami gangguan kesehatan mental, banyak orang awam Muslim meminta tolong pada ustadz atau imam mereka. Meskipun membaca quran, doa dan nasihat dapat menangkan hati, tetapi jika masalah yang dialami adalah klinis, intervensi itu mungkin tidak cukup. Selain itu, tentu saja akan ada gap antara seorang mental health profesional dan seorang ustadz dalam membantu pasien mengatasi masalah psikologis mereka yang bersifat klinis.

Wacana gangguan mental disebabkan oleh setan berasal dari orang Eropa abad Pertengahan. Pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim. Secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistik, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan.

Para cendekiawan Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (pendiri Kedokteran Modern) menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis. Begitu pula para filsuf, dokter, dan cendekiawan Muslim yang lain seperti Ar-Razi, Al-Bakhi, dan Ishaq Ibn Imran.

Bagaimanapun, Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika kita mengalami masalah kesahatan mental, kita dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.

Kita sering berpikir bahwa emosi kita tidak valid atau menekan perasaan kita sendiri. Jika kita merasakan hal yang "tidak seharusnya," kita merasa diri kurang iman. Padahal jika kita merujuk dalam AL-Quran dan As Sunah, duka yang dihadapi oleh para Nabi Allah adalah contoh bagaimana kita dapat secara simultan memiliki kepercayaan pada-Nya dan masih merasakan kesedihan manusia yang sesungguhnya. 

Sebagai contoh, Nabi Muhammad, yang memiliki hubungan paling dekat dengan Allah, merasakan kesedihan yang mendalam setelah kepergian ibunya, istrinya Khadijah, putra-putranya yang meninggal saat masih bayi, dan pamannya Abu Thalib. Nabi Yaqub berduka selama beberapa dekade setelah kematian putranya, Yusuf. 

Membaca tentang pentingnya kesejahteraan psikologis dari perspektif Islam sangat mengharukan bagi saya, karena Islam menekankan pentingnya berhubungan dengan emosi kita. Kita telah menciptakan budaya penindasan kepada diri sendiri padahal sebenarnya, kita didorong untuk mengeksplorasi dan memperdalam hubungan ini dengan diri sendiri.

Apa yang saya temukan paling menarik melalui semua ini adalah pentingnya kesadaran diri dalam Islam. Jika niat kita adalah untuk membantu diri sendiri melalui terapi, perawatan diri, dukungan profesional - ini adalah tindakan ibadah, karena kitasecara inheren memperkuat kemanusiaan dan keimanan. 

Insya Allah kita dapat mengubah nilai-nilai budaya kita untuk memasukkan esensi sejati Islam: perdamaian eksternal dan internal.

 





#30DWCJilid33

#Day19

Friday, November 12, 2021

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam Zaman Keemasan

 


Penyakit mental disebabkan oleh setan atau roh jahat sebenarnya berasal dari orang Eropa pada periode Abad pertengahan yang memandang penyakit mental terkait dengan setan. Ini adalah kerangka kerja yang paling umum digunakan untuk memahami kesehatan mental yang buruk pada saat itu (Porter, 1999). Dan memang pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim.

Namun perlu dicatat, bahwa secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistic, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan. Para scholar Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (Avicenna, pendiri Kedokteran Modern) justru menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis.

Dokter dan filsuf di masa lalu, seperti Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi and Abu Zayd Al-Balkhi, mengakui penyakit mental sebagai wacana medis dan menganjurkan pendekatan yang seimbang untuk meraih kesejahteraan.

Ini kemudian menyebabkan pendirian bangsal psikiatri pertama di Baghdad, Irak pada tahun 705 M oleh Al-Razi. Ini juga rumah sakit jiwa pertama di dunia. Menurut Al-Razi, gangguan mental dapat diobati dengan psikoterapi dan perawatan obat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak ada penyakit yang diciptakan oleh Allah, kecuali ia juga menciptakan obatnya.” [Shahih Bukhari]

Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika seseorang mengalami masalah kesahatan mental, ia dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.  Islam memberi Muslim kode perilaku, etika, dan nilai-nilai sosial, yang membantu kita dalam menoleransi dan mengembangkan strategi koping untuk menghadapi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam harmoni dengan orang lain “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Quran 28: 77)

Al-Ghazali juga menulis mengenai pentingnya kesehatan psikospiritual dan relasinya dalam hubungan kita dengan ALLAH SWT. Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menulis, “Ketika Tuhan menginginkan yang terbaik bagi seorang hamba, Dia memberikan kesadaran akan kekurangannya sendiri.” (halaman 256). Ini menekankan pentingnya kesadaran diri kita untuk tidak malu menghubungi profesional jika mengalami masalah kesehatan mental. Pada akhirnya, kesehatan mental itu juga agar kita dapat beribadah secara sebaik-baiknya kepada Allah SWT.


#30DWCJilid33

#Day18

Monday, August 9, 2021

Psikopat dan Drama-Drama Korea


Saat belajar di New York University, aku mengambil beberapa kelas yang mengajariku Antisocial Personality Disorder atau disingkat ASPD. ASPD adalah gangguan kepribadian dengan beberapa gejala, diantaranya: mengabaikan benar dan salah, berbohong secara konsisten, memanipulasi dan mengeksplotasi orang lain, tidak berperasaan dan lain sebagainya. Gangguan kepribadian ini paling sering didiagnosis pada individu yang memiliki trait psychopathy, seperti pathological lying, respon emosi yang dangkal, dan lain sebagainya. 

ASPD kriteria menurut DSM

Trait Psychopathy

Banyak orang mengira bahwa keduanya (ASPD dan psikopat) adalah hal yang sama, padahal berbeda. Antisocial personality disorder adalah istilah dalam psikologi, sementara psychopathy adalah istilah dalam dunia forensik. Keduanya sering dikaitkan ketika sebagian besar psikopat didiagnosis memiliki gangguan pribadi antisosial (ASPD). Meskipun begitu, hanya satu persen dari seseorang yang didiagnosis dengan ASPD merupakan psikopat. Ditambah lagi, hanya satu persen dari psikopat yang menjadi serial killer. Sebagian besar dari mereka melakukan pelanggaran hukum berupa pencurian dan penipuan.

Oke, bicara dari sini, aku ingin berbicara beberapa drama Korea yang menarik perhatianku. Di antaranya adalah “Psycho but it’s okay”, “Mouse” dan juga “Flower of Evil.” 

Dalam drama “Psycho, But It’s Okay,” seperti dalam judulnya, Go Moon-Young direferensikan sebagai psikopat. Anehnya, dalam deskripsi ceritanya di Asianwiki, Go Moon-Young hanya didiagnosis dengan ASPD. Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, psikopat dan ASPD adalah dua hal yang berbeda. Ini adalah alasan pertama kenapa aku tidak jadi menonton drama ini (padahal sudah nunggu lama, tapi langsung ilfeel). Ya, meskipun banyak orang berkata bahwa drama ini mengajarkan banyak hal seputar Kesehatan mental (dan diagnosis ASPD pada Moon-Young itu tidak tepat), tapi sayangnya aku sudah telanjur tidak tertarik. Lagipula, nonton drama memang gak bisa dipaksakan, kan? Bagiku, judul awal drama ini misleading dan menimbulkan stigma pada orang-orang dengan gangguan kepribadian.

Temanku yang menonton drama ini berkata bahwa Go Moon-Young memiliki gangguan kepribadian karena dia mengalami childhood abuse. Ini juga membuatku sempat bingung. Aku mungkin tidak memiliki cukup banyak ilmu, jadi aku melakukan lebih banyak riset. Yang aku tahu sebelumnya, ASPD dan psychopathy itu lebih disebabkan karena faktor genetik, seperti misalnya bentuk amigdala yang lebih kecil. Amigdala berfungsi mengolah emosi di otak dan sebuah riset menunjukkan bahwa psikopat (yang didiagnosis dengan ASPD) cenderung memiliki amigdala lebih kecil dari orang-orang pada umumnya. Setelah aku membaca lebih banyak jurnal, ternyata sampai saat ini penyebab ASPD belum dapat diketahui secara pasti. Memang bukan karena faktor genetic saja, tapi juga tidak bisa disebutkan bahwa faktor eksternal berkontribusi secara signifikan.

Memang, ada sebuah artikel jurnal yang menyebutkan bahwa faktor eksternal bisa menyebabkan seseorang mengidap ASPD. Akan tetapi, sebagian besar artikel ilmiah begitu pula DSM-V mengemukakan bahwa penyebab pastinya tidak diketahui. Aku ikut dengan yang mayoritas. Jika drama ini suggest bahwa Moon-Young mengidap gangguan kepribadian semata-mata karena childhood abuse, agaknya itu mendahului sains. Terlepas dari itu, aku juga tidak begitu suka kepribadian Moon-Young yang sangat toxic dalam hubungannya dengan Gang-Tae.

Berbeda dengan “Psycho, But It’s Okay,” dalam drama “Mouse” dikisahkan bahwa seorang psikopat dapat dideteksi sejak masih berada dalam janin ibu. Itu artinya, drama ini menyiratkan bahwa penyebab seseorang menjadi seorang psikopat adalah 100% genetik. Aku hanya menonton episode satu drama ini, sama seperti “Psycho, But It’s Okay,” dan aku langsung tidak begitu menyukainya. Apalagi setelah adegan ketika para pembuat kebijakan memutuskan untuk menerapkan peraturan aborsi pada wanita hamil yang janinnya terdeteksi DNA psikopat. Mungkin pada akhirnya kebijakan tersebut direvisi dan lain sebagainya, aku gak nonton, tapi penelitian yang dipresentasikan oleh salah satu tokoh dalam drama ini agaknya terlalu dibuat-buat. “Psycho, But It’s Okay” mungkin lebih baik melihat dari sisi Kesehatan mental secara umum.

Aku mendapati diriku tidak begitu suka dengan drama-drama Korea yang menyorot isu-isu Psikologi dari sisi klinis. Biasanya mereka menyampaikan misinformation, memperbesar stigma, atau terjadi pelanggaran kode etik. Apalagi drama lawas “Kill Me Heal Me” atau “It’s Okay It’s Love.” Misalnya “Kill Me Heal Me” yang mengisahkan hubungan romansa antara dokter dengan pasiennya. For me, it’s a big NO. Sebuah pelanggaran kode etik dan tidak profesional.


Drama korea yang aku suka dan menyorot kehidupan seorang Psikopat mungkin “Flower of Evil.” Daripada mengungkap sisi klinis Baek Hee-Sung, drama ini lebih berfokus kepada sisi plot dan ketegangannya. Selain itu, ada hal kecil yang sangat mengesankan buatku. Dalam Psychology of Violence, aku belajar bahwa active serial offender sangat sering menonton berita. Sementara, dalam drama FOE, Baek Hee-Sung digambarkan sebagai psikopat yang bertobat dan ia tidak menonton berita! Ini mungkin hal-hal kecil, tapi justru karena hal-hal kecil inilah membuatku terkesima. 


Pada dasarnya, aku suka drama dan film bertema psychological-thriller. Akan tetapi, ketika drama tersebut terlalu menyorot sisi klinis, aku jadi tidak bisa menikmatinya. Ya, mungkin karena aku lulusan Psikologi dan drama-drama ini membuatku berpikir lebih keras. Mungkin aku sendiri perlu belajar lebih banyak, tapi aku menonton drama hanya untuk enjoy dan istirahat. Bukan untuk belajar Psikologi lagi.

#30DWC

#30DWCJilid31

#Day23


Friday, March 16, 2018

24 Pelajaran Hidup di Usia 24 Tahun

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi mengenai 24 Pelajaran Hidup yang saya dapatkan di usia saya yang hampir 1/4 abad. Dan seringkali pelajaran hidup itu hadir dari setiap momen-momen sederhana yang datang dalam kehidupan secara tidak disangka-sangka. Berikut 24 pelajaran hidup di usia 24 tahun:
.
  1. Kau mungkin membuat to-do list di pagi hari. Namun di malam harinya, kau tidak bisa membiarkan emosimu selalu mendikte apa yang kau lakukan (dan tidak lakukan) di hari tersebut.
  2. Perubahan selalu mungkin terjadi, dalam setiap momen kehidupan. Meski momen tersebut adalah kesempatan-kesempatan kecil yang tidak disangka-sangka.
  3. Mencintai dan mengasihi diri sendiri adalah kunci kebahagiaan.
  4. Tidak perlu memusingkan perjalanan panjang yang ingin kau tempuh, lakukanlah sebuah langkah kecil.
  5. Pola pikirmu juga penting. It's all about mindset. Berpikirlah bahwa segala hal yang baik itu mudah dilakukan. (Misalnya: Mindset tentang sholat tahajud, mindset tentang berbisnis, mindset tentang diri sendiri harus sehat).
  6. Berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain, serius deh!
  7. Memiliki akhlak dan perilaku yang baik adalah penentu kualitas hidup.
  8. Kau membuat tertarik apa yang kau percaya dan kau harus percaya pada diri sendiri.
  9. Tentukan batas pada diri sendiri dan jagalah batas tersebut. (Kasus saya adalah ketika saya menargetkan GRE 300 misalnya, saya tak perlu belajar sampai begadang setiap malam, melainkan 2 jam perhari secara konsisten sesuai dengan kemampuan saya.).
  10. Kau tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain rasakan terhadap dirimu dan bagaimana reaksi mereka.
  11. Bagikan kisah dirimu pada orang lain yang kau percaya, meskipun kisah tersebut menyeramkan untuk disampaikan.
  12. Kau takkan bisa mengubah orang lain dan orang lain tak bisa mengubahmu.
  13. Perhatikan dan berhati-hatilah dari siapa kau menerima nasihat.
  14. Belajarlah untuk mencintai dan memeluk penolakan orang lain, karena penolakan dan pengabaian itu come to you maka terimalah apa adanya.
  15. Ikhlas dengan setiap kejadian dan pahamilah bahwa berada di belakang orang lain itu tidak apa-apa.
  16. Memberikan dirimu sendiri waktu untuk tumbuh dan berkembang adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan.
  17. Terkadang ada saatnya kau jatuh dan itu wajar.
  18. Intuisimu mengetahui apa yang kau akan lakukan selanjutnya dan bagaimana cara melakukannya.
  19. Implementasikan dan aplikasikan apa yang telah kau pelajari.
  20. Berbahagialah melihat kebahagiaan orang lain.
  21. Tidak apa-apa jika sesuatu telah dilakukan sebelumnya oleh orang lain, karena hal itu belum dilakukan olehmu.
  22. Pola pikir untuk menghasilkan uang yang banyak itu penting.
  23. Ingatlah untuk menikmati hidupmu dan bersyukurlah.
  24. Cintailah orang-orang yang mencintaimu karena mereka adalah anugerah yang telah Allah berikan.
  25.  
    You Might Also Like:

    Pencarian
    kisah pelajaran hidup
    pelajaran hidup yang berharga
    motivasi pelajaran hidup
    pelajaran hidup islami
    artikel pelajaran hidup
    pelajaran hidup dari binatang
    pelajaran hidup tentang cinta
    kata-kata pelajaran hidup

Tuesday, June 13, 2017

Hikmah Peringkat Terakhir



Dari setiap kejadian yg tidak kita sukai atau semenyakitkan apapun itu, percayalah pada suatu hari nanti kita akan menyadari hikmah dibalik peristiwa itu dan terkejut bahwa memang skenario Allah-lah yg terbaik. Salah satu cerita yg sering saya sampaikan adalah saat pergantian semester masa-masa MA di HK. Alhamdulillah ratusan anak SMA sudah mendengarnya, dan mudah-mudahan sedikit terinspirasi.

Ada orang mengatakan bahwa otak saya ini pastilah sangat cerdas, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai konferensi internasional, menjuarai berbagai perlombaan, dan menjadi mahasiswi berprestasi. Atau orang tua saya sangat kaya hingga bisa membiayai saya terbang ke Amerika dan menghadiri sebuah forum pemuda di Kantor Pusat PBB. Tidak, sama sekali tidak! 

Wallahi, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih cerdas, pintar, berkontribusi pada masyarakat daripada diri saya. Mereka orang yang memiliki kebulatan tekad, komitmen, kerja keras dan sangat dapat diandalkan oleh teman-teman & organisasi dimana mereka bernaung. Meski begitu, saya bersyukur memiliki ‘cerita’ dari pengalaman saya sendiri yang bisa saya share. Berharap mungkin orang lain ingin mendengarnya dan memotivasi mereka yang juga merasakan hal sama.

Dulu saat MA, tempat duduk favorit saya adalah kursi yang paling pojok belakang. Suatu hari, wali kelas membuat tabel rangking di kertas HVS. Lalu sehelai kertas tersebut dioper dari depan ke belakang.... saya melihat nama saya ada disana.... menduduki peringkat 29 dari 30 siswa. Sementara seisi kelas telah melihat kertas tsb karena saya paling terakhir lihat.

Juga ketika daftar akumulasi nilai (mata pelajaran umum) satu angkatan ikhwan-akhwat dikumpulkan menjadi satu tabel besar, dipajang di mading kantor Tata Usaha. Nama saya disana, berada di bagian paling bawah-bawah.

Saya memang sudah sering ditegur guru di kantor, terancam tidak naik kelas, nilai sering nol, mengerjakan tugas satu semester dalam semalam, dsb. Sementara hobi & aktivitas saya semasa MA adalah nulis berpuluh-puluh novel-novelan ala drama korea, yang sebagian ceritanya saya tulis disini. Hingga tiba hari itu... hari dimana nilai saya menjadi tontonan seisi kelas. Tangan saya gemeteran, napas tertahan, dan mau menangis di kelas saat itu juga.

Ketika menceritakan pengalaman ini di berbagai sesi talkshow, entah kenapa banyak siswa-siswi SMA relatable dengan apa yang saya alami. "Koq gue banget ya?". Pernah juga saya mengisi acara anak SMA di satu kelas yg di-judge "Paling Bodoh" siswa-siswanya. Satu kelas itu berisik minta ampun dan saya katakan dengan lantang, "Masa depan kalian tidak ditentukan oleh nilai-nilai kalian di rapot!" dan mereka terlihat tercengang mendengar itu. Yg menentukan masa depan adalah bagaimana sikap kita untuk tidak menyerah & terus belajar. Juga tentunya doa orang tua.

Apalagi ketika memasuki dunia kuliah. Kita akan belajar bahwa selalu ada langit di atas langit. Kita akan menemukan banyak orang yg lebih cerdas, pemikirannya lebih kritis, lebih rakus terhadap buku-buku, dan lebih berkontribusi pada sesama. Mereka cenderung talk less do more.  Ketidakmaluan menjadi penting untuk mengakui bahwa kita ini masih bodoh sambil terus belajar, belajar, dan belajar.

Inilah yg disebut psikolog sebagai GRIT yang akarnya adalah growth mindset (pola pikir yang terus berkembang). Inilah yang akan membedakan si pintar dan si pembelajar. Teruslah merasa bodoh, karena tujuan belajar bukan untuk menjadikan yg amatir jadi ahli lalu berhenti, BUKAN!! Melainkan demi pembelajaran itu sendiri.


“Never stop learning, because life never stop teaching.”

Thursday, June 1, 2017

[Eksperimen] Hanya Minum Air Putih Selama 30 Hari



Jadi, selama 30 hari atau mungkin lebih, saya tidak meminum apapun kecuali air putih. Alasan awalnya sederhana: menghemat pengeluaran di akhir bulan April. Hingga akhirnya saya menemukan beberapa artikel di Internet seperti misalnya di situs lifehack ini: This What Happens When You Drink Only Water for 30 Days. Lalu saya pun tertarik untuk melakukan eksperimen sederhana ini pada diri saya sendiri. Dan inilah yang terjadi:

Performansi Meningkat dengan Menyelesaikan 3 Bab Skripsi 8 Hari

Sebagaimana yang dimuat di artikel tersebut, saya pun benar-benar merasakan bahwa otak saya bereaksi lebih cepat sebagaimana hasil penelitian Frontiers in Human Neuroscience Journal. 80% otak adalah air, dan otak butuh lebih banyak oksigen dan air sebagai asupan. Maka jika asupan itu diperbanyak, kinerja otak pun meningkat. Kinerja otak yang meningkat akan membantu kita berpikir tekun, tajam, cepat dan lebih cerdas.

Satu contoh hasil, progress skripsi saya kecolongan start oleh teman-teman satu bimbingan. Seharusnya skripsi dimulai 1 Maret 2017, saya menulis ulang mulai dari nol lagi (mulai dari judul dan bab I) barulah tanggal 3 Mei 2017. Hal ini akibat saya yang berkutat dengan idealisme saya sendiri, bahwa skripsi saya harus tema kualitatif yang unik. Beberapa kali saya gunta-ganti judul skripsi selama dua bulan (Maret & April), karena meskipun saya anggap tema itu cukup mudah, menurut dosen pembimbing saya, tema-tema yang saya ajukan akan sulit diukur variabelnya atau aspek psikologisnya.

Lalu entah mendapat ilham dari mana, saya memutuskan untuk mengorbankan idealisme saya yang ketinggian tersebut. Mencoba tetap berlari meski start saya terlambat dan meski saya merasa putus asa untuk wisuda tahun ini. Alhamdulillah qodarullah selama 8 hari berturut-turut, saya 24 jam di depan laptop (kecuali makan, minum, tidur, sholat, ke toilet, dkk) bab 1 hingga bab 3 selesai + 2 hari revisi (di akhir mei baru setelah menerima feedback dospem setelah beliau kembali dari luar kota).

Tema saya (tentang forgiveness pada wanita) akhirnya di-ACC. Bahkan dospem bilang bahwa tulisan saya sudah cukup padat dan komprehensif, beliau juga menyukai alur pemikiran di skripsi saya karena saya menemukan benang merah inti permasalahan dan meng-highlight bagian tersebut. Beliau juga sempat mengatakan bahwa sebaiknya tulisan saya menjadi bahan diskusi bersama dosen yang lain, diterbitkan sebagai artikel, dan juga dipresentasikan dalam konferensi. Inti masalahnya sederhana, "Mengapa perempuan mudah sekali sakit hati, namun sesakit hati apapun dia tetap sanggup memaafkan?" (meski sejujurnya tidak bisa melupakan :D #ea).

Meski saya tidak tahu apakah dapat mengejar kereta wisuda tahun ini atau tidak. Tapi saya insyaa Allah akan mengusahakan yang terbaik tanpa menelantarkan amanah yang lain. Minta doa semuanya!

Berhenti Kecanduan Kopi

Bentuklah Kebiasaan Baik, Nanti Kebiasaan Baik itu Yang Akan Membentukmu.

This is probably the hardest one to leave since I was kinda all-nighter and studyholic. Saya kecanduan kopi dari usia 15 thn. Semakin parah memasuki dunia kampus ketika setiap malam harus begadang mengerjakan tugas menumpuk. Seringkali saya minum kopi hingga 5 gelas sehari, termasuk beberapa kali kopi hitam. Di tengah berlangsung mata kuliah pun, saya akan meminta izin ke dosen keluar sebentar (untuk minum kopi ke warung) karena jika tidak ada asupan kopi sedikit pun pada hari itu, saya merasa saya tidak mampu berpikir apa-apa kecuali memikirkan kepala saya yang pusing.

Tidak jarang maag kronis kambuh dan merepotkan semua orang kalau saya sudah tidak bisa jalan berhari-hari dan menangis kesakitan di atas kasur. Sampai dokter memvonis bahwa lambung saya sudah luka, dan ummi pun marah-marah setiap maag saya kambuh: "KAMU KALAU MAU MINUM KOPI, MINUM BAYGON DULU SANA!".

Lalu, saya masih kecanduan kopi dan setidaknya jatahnya berkurang dengan sedikit memelas pada ummi pakai berbagai alasan. Mulai kepala pusing, banyak tugas, tekanan darah rendah dsb. Pokoknya saya benar-benar tak bisa lepas dari kopi maksimal 3 hari. Satu hari gak minum aja sebenarnya udah pusing. And you know what? This is my first time in my life (as an adult) saya sudah tidak minum kopi selama 35 hari. Sebagaimana penelitian psikologi bilang, untuk membentuk kebiasaan itu, kita hanya butuh waktu 21 hari pembentukannya.

Bukan hanya kopi, entah mengapa saya pun kehilangan selera terhadap segala jenis minuman manis lainnya seperti teh dan susu. Mudah-mudahan saya telah mengalihkan kecanduan saya kepada yang lebih bermanfaat pada tubuh, kecanduan air putih!

Mengurangi Tekanan Darah Tinggi Sehingga Tidak Gampang Marah

Well, sebenarnya saya juga tidak tahu apakah saya bisa  menuliskan ini atau tidak. Insyaa Allah niatnya hanya sharing. Sejauh ini bulan Mei merupakan bulan dengan amanah terbanyak di tahun 2017. Saya merasa seperti campuran antara emak-emak rumahan + mahasiswa tingkat akhir + aktivis sosial + aktivis organisasi. Amanah menumpuk sementara waktu saya lebih sedikit daripada amanah-amanah tersebut.

Sepuncak-puncaknya emosi saya, adalah ketika saya duduk bersandar di satu sudut commuter line malam hari, menangis, menghela napas berat ketika sebenarnya dalam hati saya ingin teriak sejadi-jadinya... brain drained, physically tired, mentally exhausted. Lalu setelah itu saya ke toko kelontong dan membeli sebotol air mineral yang dingin dan istighfar banyak-banyak. Alhamdulillah, setelah itu pikiran saya bisa lebih tenang dan rileks.

Mengurangi minum kopi dan memperbanyak air putih membantu jantung kita lebih sehat, mengurangi risiko penyakit jantung akibat dari mengentalnya darah. Sehingga hal ini juga akan mengurangi tekanan darah di dalam tubuh.

Kehilangan Berat Badan, Detoksifikasi, dan Meningkatkan Kesehatan

Ketika kita hanya meminum air putih selama 30 hari, tubuh kita akan mengurangi zat garam yang mengikat lemak, melakukan detoksifikasi dengan mengeluarkan racun-racun dari organ-organ penting, dan membuat organ tubuh lebih bersih juga mengurangi perut buncit. Beberapa kali penelitian ilmiah telah mendemonstrasikan korelasi antara mengonsumsi minuman manis dan gangguan obesitas. (Huffington Post).

Saya juga merasa tidak mudah lapar. Saya memang sering masak di rumah dan itu untuk 2 orang adik saya yang pindah ke Jakarta buat kursus dan kuliah. Saya tidak tahu apakah saya benar-benar kehilangan berat badan atau tidak karena saya tidak begitu suka menimbang berat badan, tapi alhamdulillah orang-orang di sekeliling saya berkata seperti itu. Ummi saya yang baru tiba di Jakarta kemarin bertanya, "Det kamu kurang gizi atau apa? Koq tiba-tiba kurus begini?"

Ohya, mengonsumsi banyak air putih sebagai katalisator juga akan menetralisir pH dalam tubuh dan memperkuat imunitas tubuh. Khususnya untuk mempermudah kinerja hati dan ginjal dengan menghilangkan zat beracun, limbah dan garam.

Dan terakhir, meminum air putih menghemat pengeluaran!

Saya menghabiskan lebih sedikit uang ketika berbelanja ke Indomaret atau Alfamart. Harga air putih yang jauh lebih murah daripada minuman manis akan menghemat uangmu setiap kali ingin menghilangkan dahaga di hari yang terik, wait and see!

@maryam.qonita 
1 Juni 2017.


Sunday, November 27, 2016

Makna Memaafkan yang Sesungguhnya


Apa itu memaafkan?

Ketika kita mendengar kata ‘memaafkan’ pasti ada satu skema dalam pikiran kita tentang definisi memaafkan menurut kita masing-masing. Saat mengisi seminar kemarin, dua orang siswa ditanya tentang definisi memaafkan dan diantara mereka berkata bahwa memaafkan adalah “melupakan yang jelek-jeleknya” sementara yang satunya berpendapat bahwa memaafkan adalah “tidak lagi menyimpan rasa dendam.”

Panitia, asdos, dan dosen pembimbing.
Tulisan ini terinpirasi saat aku menjadi seorang pembicara dalam seminar “Forgiveness” yang diadakan di aula SMAN 77 Jakarta yang dihadiri oleh kelas 3 IPA C. Menjadi satu tantangan tersendiri bagiku ketika mengetahui bahwa penggolongan kelas A, B, C adalah berdasarkan sistem nilai. A adalah murid dengan nilai rata-rata tertinggi sementara C adalah murid dengan nilai rata-rata terendah. Mengetahui hal tersebut, aku membuka seminar dengan kalimat: “Nilai tidak menentukan kesuksesan dan prestasi seseorang.” Dan disambut sorak sorai anak-anak satu aula.

Pemberian materi pun dimulai, dan aku menayangkan slide presentasi yang kubuat dalam waktu semalam. Alhamdulillah teman-teman sekelompok bilang design-nya bagus. Hehehe.

Memaafkan Bukan Melupakan


Sering kali kita mendengar nasihat teman-teman kita kalau abis disakiti orang “Udah lupain aja sih… lupain rasa sakitnya, lupain aja orangnya, lupain aja kesalahannya…”. Pertanyaannya, apakah bisa? Well.. mungkin bisa kalau kita mendadak amnesia atau otak kita seperti computer yang file-nya bisa di-delete dan computer diinstall ulang.

Memaafkan bukanlah melupakan. Karena pada dasarnya, memori tidak bisa dibatalkan. Jika saja kita mengetahui suatu informasi, tentu informasi itu masuk ke dalam pikiran kita dan kita proses. Apalagi suatu kejadian atau suatu peristiwa yang membekas begitu dalam, tidak mungkin dilupakan.

Kalau memaafkan adalah melupakan, itu artinya memaafkan adalah satu hal yang mustahil.

Memaafkan Bukan Pembenaran


Memaafkan juga bukan pembenaran. Tentunya berbeda antara pembenaran dan kebenaran. Sementara kita tahu dengan jelas, bahwa kebenarannya adalah si fulan telah menyakiti kita dan membuat kita terluka. Maka bisakah kita cukup berani mengatakan pada si fulan: “Hey…, kamu egois, kamu telah menyakitiku dan membuatku kecewa, aku tidak mau kamu mengulanginya lagi.”

Pernah aku menghabiskan waktu untuk berdiskusi masalah ini dengan beberapa teman sesama perempuan, dimana mereka berkeyakinan bahwa “wanita hebat adalah mereka yang tetap tersenyum, ketika hati mereka menangis.

Pertanyaannya, sampai kapan perasaan akan terus dipendam? Kenapa kita tidak cukup beraniuntuk percaya diri dan lebih asertif? Asertif memang memicu perbedaan dan perdebatan, tapi itu membuka diskusi dan pemahaman. Seorang dosenku yang juga psikolog keluarga berkata bahwa kunci dalam awetnya hubungan hanya dua fondasi dasar: Komitmen dan komunikasi. Tanpa salah satunya, secinta apapun dua orang tersebut tentu tidak akan awet.

Memaafkan Bukan Berkata “Aku Maafkan Kamu”


Loh? Maksudnya?

Iya, memaafkan bukanlah sekadar berkata “Aku maafkan kamu” dan setelah itu selesai. Memaafkan bukanlah satu event atau satu kejadian, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Karena terkadang, ketika kita memaafkan seseorang, kita hanya mengatakannya secara lisan namun hati kita tidak berkomitmen untuk benar-benar memaafkan orang itu.

Memaafkan Butuh Mendefinisikan Rasa Sakit


Memaafkan itu butuh menyalahkan terlebih dahulu, kita bisa mendefinisikan rasa sakitnya di buku diari dan memberi nama dengan jelas setiap ancaman yang datang atau pengkhianatan yang telah terjadi. Kita beri nama setiap rasa sakit secara spesifik, penyebab, dan dampak yang kita alami. Luapkan perasaan kita sejujur-jujurnya, bisa di buku diari maupun dengan curhat kepada sahabat terdekat kita yang bisa kita percaya.

Mengapa kita perlu mendefinisikan rasa sakit ini? Karena kita harus tahu jelas berapa harga dari maaf yang akan kita berikan. Bagi penerima maaf, maaf itu tentunya gratis. Namun bagi pemberi maaf, ada harga yang harus kita bayar demi kebahagiaan kita sendiri. Jadi kita harus tahu jelas takarannya.

Memaafkan itu Menerima


Memaafkan itu menerima, menerima bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di luar kendali kita. Menerima bahwa setiap orang memiliki kekurangan begitu pula kita juga punya kekurangan. Menerima bahwa memang hal itu terjadi telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Menerima bahwa itu semua adalah proses menuju kedewasaan. Menerima dan sanggup menghadapi rasa sakit itu dengan ikhlas, dan menyadari pada akhirnya kita akan baik-baik saja.

Memaafkan Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Bayangkan situasi ini, jika kita terus merawat luka dan menyimpan dendam pada seseorang yang telah menyakiti kita. Namun orang yang telah menyakiti kita tersebut malah hidup senang dan bergembira. See? It’s all about yourself.

Memaafkan tidak bergantung pada orang lain. Dalam artian, apakah orang tersebut meminta maaf atau tidak, kita tetap harus memaafkannya. Dan orang yang bersalah pada kita tidak harus selalu tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.

Memaafkan pada dasarnya dilakukan untuk diri sendiri, to get well soon and move on.

Memaafkan itu Tanpa Syarat


Kata kunci dari forgive adalah ‘give’ yang artinya ‘memberi’. Maka dalam hal memaafkan, ada yang memberi dan menerima. Yang memberi maaf adalah pemberi maaf. Dan yang menerima maaf adalah penerima maaf.

Jika aku ingin memberikan kado kepada ummiku, tentu aku akan memberi kado tersebut dilandasi cinta. Itulah kata kunci dan akar dari memaafkan, yaitu cinta. Ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang, tentunya dilandasi oleh rasa cinta. Cinta itu tulus dan cinta itu tanpa syarat.

Memaafkan Adalah Proses dalam Lingkaran Pemaafan


Banyak dari peserta seminar tidak mengerti ketika aku menyajikan slideshow di atas. Hehehe.. padahal ini adalah inti dari seminarku sepanjang 20 menit di aula SMAN 77. Sebelumnya, aku pikir memaafkan adalah sebuah event atau satu kejadian seperti berkata secara lisan “aku memaafkan kamu” namun sebenarnya tidaklah seperti itu.

Memaafkan adalah sebuah proses, proses yang aktif dan bukan proses pasif. Yang mana proses ini terbentuk karena cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita, maka kita seharusnya bisa memaafkan orang lain dengan cinta tanpa syarat pula.

Misalnya, di jalan tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang. Maka aku membutuhkan sedikit cinta tanpa syarat darinya untuk bisa mendapatkan maaf tanpa syarat itu. Sehingga karena cinta dan maaf yang sudah diberikan kepadaku dari orang-orang disekelilingku, maka aku juga seharusnya bisa memberikan maaf kepada orang yang bersalah kepadaku.

Seperti kisah dalam buku 3 pohon yang menari karangan Miroslav. Ada 3 pohon, satu pohon bertugas untuk memberi, satu pohon bertugas untuk menerima, dan satu pohonnya lagi bertugas untuk menjaga perputaran tersebut tanpa henti. Dan dalam lingkaran tersebut, tidak ada yang statusnya lebih tinggi maupun lebih rendah. Seperti inilah lingkaran pemaafan yang kumaksud. Dan lingkaran pemaafan ini ada di masyarakat, jika lingkaran pemaafan ini putus, maka masyarakat akan hancur.

Memaafkan Adalah Sebuah Komitmen


Ketika kita sudah memilih untuk memaafkan seseorang, aku tidak menafikkan bahwa terkadang perasaan pahit dan sakit itu kembali muncul lagi dan lagi dan lagi. Namun bisakah kita stay committed pada pilihan yang telah kita ambil?

Kita memang terluka, namun kita takkan menjadi korban. Tidak peduli seberapa besar perasaan sakit hati ataupun pahit yang kembali muncul, itu takkan mendefinisikan kita, melainkan kita jadikan kesempatan untuk memaafkan lagi… memaafkan lagi… dan memaafkan lagi.

Lalu pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah,:

Mengapa kita harus memaafkan?


  • Untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena jika kita terus menyimpan dendam, itu artinya kita terikat dengan masa lalu dan menghambat diri kita dari progresivitas.
  • Karena kita lebih besar daripada emosi-emosi itu. You’re bigger than those emotions.
  • Karena kita juga melakukan banyak kesalahan.
  • Karena kita hanya memiliki satu hati. Kita tidak bisa membaginya menjadi dua, untuk membenci atau mencintai. Kita harus menjadikan hati kita utuh untuk salah satu saja (membenci atau mencintai).
  • Dan karena Tuhan Maha Pengampun. Dan Dia menyuruh hamba-Nya untuk saling memaafkan.


Memaafkan Diri Sendiri


Pernahkah kita melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya kita sesali?

Atau kegagalan yang terjadi dalam hidup kita akibat dari kelalaian yang kita sadari?

Atau kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita karena dia telah kita sakiti?

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan seringkali kita menyalahkan diri sendiri akan hal-hal tersebut. Dan itu hal wajar, karena memaafkan selalu dimulai dari menyalahkan. Maka jangan menghindari hal tersebut, mengakui kesalahan diri sendiri berarti kita mengambil kendali untuk juga memaafkan diri sendiri. Meski itu sangat sulit dan lebih sulit dilakukan daripada memaafkan orang lain.

Jika tadi aku bicara lingkaran pemaafan yang ada di masyarakat, sekarang lingkaran pemaafan tersebut ada di dalam diri sendiri. Karena kasusnya adalah pemberi dan penerima maaf adalah diri sendiri. Sehingga itu tidak lepas, melainkan berputar antara perasaan harapan dan penyeselan. Seperti misalnya saat aku berusaha bangkit kembali dari kegagalan, dulu langganan rangking 29 dari 30, hingga kini pun penyesalannya masih ada. 


Banyak orang yang bilang untuk melupakan, ada juga yang bilang untuk melepaskan.

Namun aku memilih sebuah pepatah ibrani yang berkata “nasa” yaitu menerima dan membawanya dengan cinta.

Hidup seperti ini memang melelahkan, karena lingkaran kembali berputar, maka tak heran jika perasaan pahit dan menyesal itu datang kembali, lagi dan lagi. Namun itu takkan mendefinisikan kita tentu saja, melainkan sebagai kesempatan bagi kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi. 

Salah satu kasus yang kualami kutulis disini: 
http://maryam-qonita.blogspot.co.id/2016/11/forgiving-unforgivable.html 

Ada satu kisah menarik dengan memilih hidup seperti ini. Yaitu kisah Santa Claus yang mencuri pohon natal, namun dia kembalikan. Dan setiap dia kembalikan, maka hatinya akan tumbuh 3x lebih besar. Begitu pula ketika kita mengizinkan diri kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi, maka kita akan berjalan ke depannya dengan hati yang sangat besar tersebut.




To forgive is always a gift we give ourselves.



Pemateri, pembimbing, dan terapis.

Pencarian:

  • Kata mutiara memaafkan
  • Memaafkan orang yang menyakiti kita
  • Cara memaafkan orang lain dengan tulus
  • Cara memaafkan orang yang telah menyakiti kita
  • Definisi memaafkan
  • Memaafkan dalam islam
  • Memaafkan adalah
  • Tips memaafkan orang lain
  • Menyikapi orang yang menyakiti kita


Related Posts Plugin by ScratchTheWeb