Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Wednesday, October 27, 2021

Hikmah Mengejar Kereta

 


Awal oktober lalu, aku berada di Jakarta dan hendak pulang ke Kuningan. Pagi hari, ummi mengabarkan kalau sepupu juga akan ke Kuningan naik kereta. Biar bisa dijemput bareng di stasiun, aku perlu ikut nemenin mereka. Kebetulan, keberangkatan kereta tinggal 3.5 jam lagi. Namun, sebelum berangkat, aku googling terlebih dahulu berbagai rute untuk ke Stasiun Pasar Senen. Selain googling, aku juga cuci muka, gosok gigi, rapi-rapi, dan charge ponsel.

Setelah melakukan ini itu, aku pun menyadari bahwa keberangkatan kereta sudah tinggal 2 jam 50 menit. Kurang dari tiga jam. Padahal, di otak, aku selalu punya patokan bahwa: dalam waktu tiga jam sebelum kereta berangkat, aku harus sudah keluar dari rumah. Harus pas minimal tiga jam atau lebih dari itu. Ya, seringkali lebih lama dari itu. Kebetulan, tempat tinggalku adalah di Lenteng Agung. Dari Lenteng Agung ke Stasiun Pasar Senen membutuhkan perjalanan berdurasi satu setengah jam.

Jika aku berangkat saat itu, aku masih punya waktu di Stasiun Pasar Senen 1 jam 20 menit. Waktu yang cukup untuk memesan tiket, mencetak tiket, dan melakukan rapid antigen. Juga sangat cukup untuk jajan, dan lain sebagainya. Sangat cukup!

Tapi bukannya berangkat, aku justru menelepon orang tua bahwa aku tidak jadi naik kereta karena perjalanan ke sana tidak lagi sesuai dengan ekspektasi. Dalam hatiku, aku benar-benar tidak mau melangkah. Aku tidak suka merasa terburu-buru atau jika saja aku harus menemui hal-hal diluar ekspektasi selama perjalanan tersebut. Segala perjalanan di depan harus sesuai dengan ekspektasi awal, sesuai dengan yang sudah kujadwalkan. Jika tidak seperti itu, aku bisa tertekan. Aku pun merasa lebih baik tidak melangkah sama sekali daripada tidak sempurna. Lalu aku hanya berebah di atas kasur sambil merasa kesal, overthinking dan tidak membuat kemajuan apapun.

Ummi pun berkata, “sekarang terserah kamu aja.”

Selama dua puluh menit berikutnya, aku kembali overthinking di atas kasur. Kalau aku berangkat sekarang ke stasiun kereta api, dari Cirebon aku bisa dijemput supir karena bukan hanya aku saja yang dijemput, melainkan dua sepupuku. Kalau sepupuku tiba duluan di Cirebon dan aku tiba belakangan, maka mereka akan meninggalkanku sendirian. Lalu aku pun terpaksa naik kendaraan umum atau mengeluarkan uang lagi untuk GrabCar. Kalau aku naik Bus, aku bisa tiba langsung ke rumah, tapi aku bahkan tidak tahu dimana menaiki bus dari Jakarta ke Kuningan. Selain itu, belum tentu aku mendapat Bus yang membuatku nyaman.

Akhirnya aku memutuskan bahwa satu-satunya pilihanku yang terbaik adalah naik kereta dan perlu berangkat sekarang. Aku membuat keputusan cepat untuk mengonfirmasi pilihan ini.

Kemudan aku kembali melakukan riset di Google tentang berapa lama perjalanan yang dibutuhkan ke Stasiun, jika naik commuter line, jika transit dua kali, jika transit satu kali, jika KRL memutar, dan jika berhenti di satu stasiun terdekat lalu naik ojek.

Ya, bahkan risetku justru membuat perjalanan ini sendiri semakin lama tanpa aku menyadarinya.

Ini sudah pukul sembilan, tinggal dua setengah jam sebelum keberangkatan kereta api Airlangga yang pukul 11.30. Akhirnya aku pun memutuskan berangkat terlepas ini sudah kurang 30 menit dari patokan sempurnaku. Aku tidak suka ketidaksempurnaan, membuatku merasa mengejar sesuatu yang tidak pasti. Tetapi, aku tidak punya pilihan lain. Jadi tidak apa-apa, aku akan melakukan yang terbaik, dan sisanya aku pasrah.

Benar saja, saat perjalanan, petugas KRL Manggarai justru mengarahkanku menggunakan rute yang lebih lama. Mungkin karena dia berpikir bahwa aku memprioritaskan kenyamanan. Perjalanan menjadi 20 menit lebih lambat dari perkiraan. Aku naik kereta arah Jatinegara, bukannya Bekasi. Namun itu justru jalur memutar dan lama. Tertulis di Google, bahwa aku baru akan tiba di Stasiun Pasar senen pukul 10.50, bukannya 10.30 seperti yang kuriset di rumah. Inilah kenapa aku tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa aku ekspektasi!

Tetapi, aku mencoba berpikir jernih dan belajar lagi sepanjang perjalanannya (baca: googling rute terbaik dan melihat berbagai rute yang memungkinkan meski tidak ada di google). Akhirnya aku memutuskan untuk turun di Stasiun Kemayoran, stasiun yang tidak kuperkirakan sebelumnya, dan menggunakan ojek untuk langsung ke Stasiun Pasar Senen dengan biaya 15,000 rupiah. Alhamdulillah, aku membuat keputusan yang tepat. Aku tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 10.30 seperti yang aku harapkan.

Keberangkatan kereta Airlangga satu jam lagi, harganya pun murah, hanya 45000. Meskipun begitu, aku meminta ke si mbak loketnya dengan clue bahwa aku ingin naik kereta Bangunkarta. Itu karena keberangkatan Bangunkarta adalah 11.45. Jadi aku punya waktu lebih 15 menit untuk wara-wiri. Seperti yang sudah kujelaskan dalam tulisan ini, aku adalah orang yang ingin punya waktu lebih untuk berbagai hal. Namun si mbaknya bilang, “Airlangga masih cukup nih waktunya, mbak.” Karena mbaknya lebih tahu dan lebih akrab dengan stasiun, jadi aku iyain aja. Padahal dalam hati, aku juga bingung. Kereta apa seharga 45000? Apakah kereta jelek? Kereta lama? Aku juga baru dengar nama kereta Bangunkarta. Tapi iya iya aja deh.

Aku pun membeli tiket kereta, mencetaknya dan mengantri untuk antigen. Dalam menunggu hasil antigen itu, aku mendapat pesan dari sepupuku bahwa mereka berdua bahkan belum tiba di stasiun. Aku terdiam. Aku yang overthinking dan takut terlambat, justru malah tiba terlebih dahulu.  Ternyata semua overthinking itu hanyalah hasil dari pikiran-pikiran yang rumit.

Hasil antigen keluar dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Aku masih punya banyak waktu untuk pergi dulu ke Indomaret dan belanja makanan sebelum memasuki batas penumpang stasiun. Masih ada dua puluh lima menit sebelum kereta benar-benar berangkat. Benar kata si mbak penjaga loket, bahwa naik kereta Airlangga masih cukup. Aku malah meminta kereta lebih mahal, yaitu Bangunkarta. Untuk apa coba?

Ketika aku berprasangka buruk bahwa Airlangga adalah kereta lama, jelek, bau, sumpek dan murah. Lagi-lagi tidak seperti dugaanku, justru banyak kamera menyorot kereta ini. Aku sempat berpikir bahwa ini adalah kereta eksekutif dari luarnya. Saking bagusnya! Dan bukan kereta lama, justru ini adalah kereta baru. Bukan hanya baru, ini adalah perjalanan pertama Airlangga! Banyak hiasan di stasiun, panggung, meja meja berisikan makanan, dalam acara peluncuran pertama kereta Airlangga. Naik kereta pun, aku langsung dihadapi dengan kereta ekonomi paling rapih yang pernah kunaiki, WC nya masih bersih (ya iyalah belum dipakai), dan tempat duduknya leluasa (karena ada penerapan physical distancing). Tahu apalagi yang spesial? Para penumpang bahkan mendapatkan kaos cantik gratis dengan gambar mural dan logo KAI kecil. Selain itu, aku juga mendapatkan gantungan, masker, dan tisu gratis!

Setelah membuat beberapa instastory karena kekagumanku dengan kereta ini, aku pun menghubungi sepupuku. Ternyata mereka baru saja sampai di stasiun. Mereka bahkan belum melakukan rapid antigen. Kereta pun berjalan sebelum mereka menaikinya. Kedua sepupuku tertinggal kereta. Aku kaget. Ini kereta yang aku naiki hanya demi bisa menemani dua sepupuku, malah hanya dinaiki olehku saja. Aku yang takut terlambat karena berpikir bahwa mereka akan berangkat duluan, ternyata aku malah tiba terlebih dahulu.

 

HIKMAH:

Seringkali, aku membuat sebuah rencana dengan sempurna dan matang. Jika saja pada akhirnya itu tidak berjalan sebagaimana yang telah direncanakan, aku sering merasa gagal dan untuk beberapa waktu memilih tidak melangkah sama sekali. Padahal, jika melirik lagi kesuksesan yang aku raih di masa lalu, seperti mendapatkan beasiswa LPDP dan lulus NYU, itu juga tidak diraih dalam kesempurnaan. Aku hanya mengirimkan aplikasi pendaftaran yang cukup baik dalam waktu yang amat terbatas.

Seringkali, kita juga perlu mengubah rute perjalanan selama perjalanan itu sendiri. Ada kalanya situasi memang tidak sesuai harapan, tapi tetap berusaha ambil kendali. Lagipula, yang paling penting adalah sampai pada tujuan.

Selain itu, seringkali kita merasa tertinggal dengan orang lain. Padahal bisa jadi, orang lain juga memiliki kesulitan mereka masing-masing dan tanpa kita sadari, dalam mencapai satu tujuan, kita melangkah terlebih dahulu sebelum mereka. 

#30DWCJilid33

#Day2

Sunday, April 22, 2018

Kotak Kosong Pernikahan


Orang-orang menikah dengan percaya pada mitos bahwa pernikahan adalah sebuah kotak cantik berisi hal-hal indah yg mereka tunggu-tunggu: kasih sayang, keintiman, pertemanan. Padahal sebenarnya pernikahan dimulai dengan sebuah kotak kosong. Kau harus meletakkan sesuatu dalam kotak kosong itu sebelum ada yang dapat kau peroleh.

Tidak ada cinta dalam pernikahan. Cinta itu ada dalam diri manusia. Lalu manusia meletakkan cinta dalam pernikahan. Tidak ada romantika dalam pernikahan. Romantika ada dalam diri manusia. Lalu manusia lah yang memasukkan romantika itu dalam pernikahan.

Setiap pasangan perlu belajar seni dalam membentuk kebiasaan saling memberi, mencintai, melayani, memuji, dan menjaga agar kotak pernikahan itu tetap penuh. Jika kita mengambil lebih daripada apa yang dimasukkan di dalam kotak itu, kotak itu akan kosong.

Tulisan ini buat ucapan selamat untuk sepupuku yang menikah pada tanggal 21 April 2018. Selamat mengisi kotak kosong itu, Evi Liana Putri sayangnya aku....

Friday, March 16, 2018

24 Pelajaran Hidup di Usia 24 Tahun

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi mengenai 24 Pelajaran Hidup yang saya dapatkan di usia saya yang hampir 1/4 abad. Dan seringkali pelajaran hidup itu hadir dari setiap momen-momen sederhana yang datang dalam kehidupan secara tidak disangka-sangka. Berikut 24 pelajaran hidup di usia 24 tahun:
.
  1. Kau mungkin membuat to-do list di pagi hari. Namun di malam harinya, kau tidak bisa membiarkan emosimu selalu mendikte apa yang kau lakukan (dan tidak lakukan) di hari tersebut.
  2. Perubahan selalu mungkin terjadi, dalam setiap momen kehidupan. Meski momen tersebut adalah kesempatan-kesempatan kecil yang tidak disangka-sangka.
  3. Mencintai dan mengasihi diri sendiri adalah kunci kebahagiaan.
  4. Tidak perlu memusingkan perjalanan panjang yang ingin kau tempuh, lakukanlah sebuah langkah kecil.
  5. Pola pikirmu juga penting. It's all about mindset. Berpikirlah bahwa segala hal yang baik itu mudah dilakukan. (Misalnya: Mindset tentang sholat tahajud, mindset tentang berbisnis, mindset tentang diri sendiri harus sehat).
  6. Berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain, serius deh!
  7. Memiliki akhlak dan perilaku yang baik adalah penentu kualitas hidup.
  8. Kau membuat tertarik apa yang kau percaya dan kau harus percaya pada diri sendiri.
  9. Tentukan batas pada diri sendiri dan jagalah batas tersebut. (Kasus saya adalah ketika saya menargetkan GRE 300 misalnya, saya tak perlu belajar sampai begadang setiap malam, melainkan 2 jam perhari secara konsisten sesuai dengan kemampuan saya.).
  10. Kau tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain rasakan terhadap dirimu dan bagaimana reaksi mereka.
  11. Bagikan kisah dirimu pada orang lain yang kau percaya, meskipun kisah tersebut menyeramkan untuk disampaikan.
  12. Kau takkan bisa mengubah orang lain dan orang lain tak bisa mengubahmu.
  13. Perhatikan dan berhati-hatilah dari siapa kau menerima nasihat.
  14. Belajarlah untuk mencintai dan memeluk penolakan orang lain, karena penolakan dan pengabaian itu come to you maka terimalah apa adanya.
  15. Ikhlas dengan setiap kejadian dan pahamilah bahwa berada di belakang orang lain itu tidak apa-apa.
  16. Memberikan dirimu sendiri waktu untuk tumbuh dan berkembang adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan.
  17. Terkadang ada saatnya kau jatuh dan itu wajar.
  18. Intuisimu mengetahui apa yang kau akan lakukan selanjutnya dan bagaimana cara melakukannya.
  19. Implementasikan dan aplikasikan apa yang telah kau pelajari.
  20. Berbahagialah melihat kebahagiaan orang lain.
  21. Tidak apa-apa jika sesuatu telah dilakukan sebelumnya oleh orang lain, karena hal itu belum dilakukan olehmu.
  22. Pola pikir untuk menghasilkan uang yang banyak itu penting.
  23. Ingatlah untuk menikmati hidupmu dan bersyukurlah.
  24. Cintailah orang-orang yang mencintaimu karena mereka adalah anugerah yang telah Allah berikan.
  25.  
    You Might Also Like:

    Pencarian
    kisah pelajaran hidup
    pelajaran hidup yang berharga
    motivasi pelajaran hidup
    pelajaran hidup islami
    artikel pelajaran hidup
    pelajaran hidup dari binatang
    pelajaran hidup tentang cinta
    kata-kata pelajaran hidup

Friday, October 6, 2017

Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup


Sebuah kesempatan kecil bisa mengubah hidupmu secara drastis. Sebagaimana perempuan paling berpengaruh dalam hidupku pernah menasihati, “Ambillah kesempatan baik sekecil apapun itu, antusiaslah dalam melakukannya, fokus jangan tergesa-gesa, lalu hormati dan belajarlah dari yang lebih berpengalaman!”

Saya langganan peringkat nyaris-terakhir saat masa-masa SMA dulu, saya gagal masuk universitas impian & menunda kuliah selama satu tahun. Teman-teman saya pamer almamater ketika saya mengasingkan diri dari dunia. Kejadian yang saya alami mungkin dialami oleh ratusan ribu calon mahasiswa lain di Indonesia sekarang. Tapi jangan sampai setiap kegagalan yang kita alami membuat diri kita berhenti mencoba!

Satu pintu tertutup dan cahaya asa itu  meremang. Tetap yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu menemukan banyak pintu-pintu lain yang masih terbuka! Pintu-pintu itu adalah kesempatan-kesempatan lain; untuk berkarya, berkontribusi, berprestasi dan berbagi. Meski terkadang pintu itu terlihat sederhana, kau tak pernah tahu apa yang ada di baliknya menantimu!

Pintu saya adalah ketika saya mendampingi 100 anak-anak putus sekolah dalam program PPA-PKH 2015 dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Sebagian kisah mereka saya tulis dalam aplikasi esai untuk International Conference on Family Planning 2016 di Nusa Dua Bali. Deadline aplikasi adalah jam 12 malam ketika saya submit jam 11 malam. Qodarullah, saya diterima, mendapat tiket pesawat gratis, fasilitas hotel bintang 5, bicara di forum internasional dan menjalin relasi dengan para pembuat kebijakan dunia.

Lalu pengalaman itu mengantarkan saya menjadi mahasiswa berprestasi, nominasi 120 under 40,  delegasi Indonesia ke forum pemuda di kantor pusat PBB New York City, menjuarai perlombaan, memperoleh penghargaan lainnya, dan sekarang memfasilitasi forum internasional IYFI 2017 di Singapura. Bermula dari mendengarkan sebuah kisah anak yang menjadi buruh cuci.

Setiap orang memiliki pintunya masing-masing. Jangan pernah menganggap remeh setiap kesempatan baik sekecil apapun itu. Juga jangan menunda kebaikan. Karena kau tak pernah tahu, #HadiahBertubiTubi apa yang menantinya di balik pintu kesempatan yg tampak sederhana itu.

You Might Also Like:



Sunday, November 27, 2016

Makna Memaafkan yang Sesungguhnya


Apa itu memaafkan?

Ketika kita mendengar kata ‘memaafkan’ pasti ada satu skema dalam pikiran kita tentang definisi memaafkan menurut kita masing-masing. Saat mengisi seminar kemarin, dua orang siswa ditanya tentang definisi memaafkan dan diantara mereka berkata bahwa memaafkan adalah “melupakan yang jelek-jeleknya” sementara yang satunya berpendapat bahwa memaafkan adalah “tidak lagi menyimpan rasa dendam.”

Panitia, asdos, dan dosen pembimbing.
Tulisan ini terinpirasi saat aku menjadi seorang pembicara dalam seminar “Forgiveness” yang diadakan di aula SMAN 77 Jakarta yang dihadiri oleh kelas 3 IPA C. Menjadi satu tantangan tersendiri bagiku ketika mengetahui bahwa penggolongan kelas A, B, C adalah berdasarkan sistem nilai. A adalah murid dengan nilai rata-rata tertinggi sementara C adalah murid dengan nilai rata-rata terendah. Mengetahui hal tersebut, aku membuka seminar dengan kalimat: “Nilai tidak menentukan kesuksesan dan prestasi seseorang.” Dan disambut sorak sorai anak-anak satu aula.

Pemberian materi pun dimulai, dan aku menayangkan slide presentasi yang kubuat dalam waktu semalam. Alhamdulillah teman-teman sekelompok bilang design-nya bagus. Hehehe.

Memaafkan Bukan Melupakan


Sering kali kita mendengar nasihat teman-teman kita kalau abis disakiti orang “Udah lupain aja sih… lupain rasa sakitnya, lupain aja orangnya, lupain aja kesalahannya…”. Pertanyaannya, apakah bisa? Well.. mungkin bisa kalau kita mendadak amnesia atau otak kita seperti computer yang file-nya bisa di-delete dan computer diinstall ulang.

Memaafkan bukanlah melupakan. Karena pada dasarnya, memori tidak bisa dibatalkan. Jika saja kita mengetahui suatu informasi, tentu informasi itu masuk ke dalam pikiran kita dan kita proses. Apalagi suatu kejadian atau suatu peristiwa yang membekas begitu dalam, tidak mungkin dilupakan.

Kalau memaafkan adalah melupakan, itu artinya memaafkan adalah satu hal yang mustahil.

Memaafkan Bukan Pembenaran


Memaafkan juga bukan pembenaran. Tentunya berbeda antara pembenaran dan kebenaran. Sementara kita tahu dengan jelas, bahwa kebenarannya adalah si fulan telah menyakiti kita dan membuat kita terluka. Maka bisakah kita cukup berani mengatakan pada si fulan: “Hey…, kamu egois, kamu telah menyakitiku dan membuatku kecewa, aku tidak mau kamu mengulanginya lagi.”

Pernah aku menghabiskan waktu untuk berdiskusi masalah ini dengan beberapa teman sesama perempuan, dimana mereka berkeyakinan bahwa “wanita hebat adalah mereka yang tetap tersenyum, ketika hati mereka menangis.

Pertanyaannya, sampai kapan perasaan akan terus dipendam? Kenapa kita tidak cukup beraniuntuk percaya diri dan lebih asertif? Asertif memang memicu perbedaan dan perdebatan, tapi itu membuka diskusi dan pemahaman. Seorang dosenku yang juga psikolog keluarga berkata bahwa kunci dalam awetnya hubungan hanya dua fondasi dasar: Komitmen dan komunikasi. Tanpa salah satunya, secinta apapun dua orang tersebut tentu tidak akan awet.

Memaafkan Bukan Berkata “Aku Maafkan Kamu”


Loh? Maksudnya?

Iya, memaafkan bukanlah sekadar berkata “Aku maafkan kamu” dan setelah itu selesai. Memaafkan bukanlah satu event atau satu kejadian, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Karena terkadang, ketika kita memaafkan seseorang, kita hanya mengatakannya secara lisan namun hati kita tidak berkomitmen untuk benar-benar memaafkan orang itu.

Memaafkan Butuh Mendefinisikan Rasa Sakit


Memaafkan itu butuh menyalahkan terlebih dahulu, kita bisa mendefinisikan rasa sakitnya di buku diari dan memberi nama dengan jelas setiap ancaman yang datang atau pengkhianatan yang telah terjadi. Kita beri nama setiap rasa sakit secara spesifik, penyebab, dan dampak yang kita alami. Luapkan perasaan kita sejujur-jujurnya, bisa di buku diari maupun dengan curhat kepada sahabat terdekat kita yang bisa kita percaya.

Mengapa kita perlu mendefinisikan rasa sakit ini? Karena kita harus tahu jelas berapa harga dari maaf yang akan kita berikan. Bagi penerima maaf, maaf itu tentunya gratis. Namun bagi pemberi maaf, ada harga yang harus kita bayar demi kebahagiaan kita sendiri. Jadi kita harus tahu jelas takarannya.

Memaafkan itu Menerima


Memaafkan itu menerima, menerima bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di luar kendali kita. Menerima bahwa setiap orang memiliki kekurangan begitu pula kita juga punya kekurangan. Menerima bahwa memang hal itu terjadi telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Menerima bahwa itu semua adalah proses menuju kedewasaan. Menerima dan sanggup menghadapi rasa sakit itu dengan ikhlas, dan menyadari pada akhirnya kita akan baik-baik saja.

Memaafkan Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Bayangkan situasi ini, jika kita terus merawat luka dan menyimpan dendam pada seseorang yang telah menyakiti kita. Namun orang yang telah menyakiti kita tersebut malah hidup senang dan bergembira. See? It’s all about yourself.

Memaafkan tidak bergantung pada orang lain. Dalam artian, apakah orang tersebut meminta maaf atau tidak, kita tetap harus memaafkannya. Dan orang yang bersalah pada kita tidak harus selalu tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.

Memaafkan pada dasarnya dilakukan untuk diri sendiri, to get well soon and move on.

Memaafkan itu Tanpa Syarat


Kata kunci dari forgive adalah ‘give’ yang artinya ‘memberi’. Maka dalam hal memaafkan, ada yang memberi dan menerima. Yang memberi maaf adalah pemberi maaf. Dan yang menerima maaf adalah penerima maaf.

Jika aku ingin memberikan kado kepada ummiku, tentu aku akan memberi kado tersebut dilandasi cinta. Itulah kata kunci dan akar dari memaafkan, yaitu cinta. Ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang, tentunya dilandasi oleh rasa cinta. Cinta itu tulus dan cinta itu tanpa syarat.

Memaafkan Adalah Proses dalam Lingkaran Pemaafan


Banyak dari peserta seminar tidak mengerti ketika aku menyajikan slideshow di atas. Hehehe.. padahal ini adalah inti dari seminarku sepanjang 20 menit di aula SMAN 77. Sebelumnya, aku pikir memaafkan adalah sebuah event atau satu kejadian seperti berkata secara lisan “aku memaafkan kamu” namun sebenarnya tidaklah seperti itu.

Memaafkan adalah sebuah proses, proses yang aktif dan bukan proses pasif. Yang mana proses ini terbentuk karena cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita, maka kita seharusnya bisa memaafkan orang lain dengan cinta tanpa syarat pula.

Misalnya, di jalan tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang. Maka aku membutuhkan sedikit cinta tanpa syarat darinya untuk bisa mendapatkan maaf tanpa syarat itu. Sehingga karena cinta dan maaf yang sudah diberikan kepadaku dari orang-orang disekelilingku, maka aku juga seharusnya bisa memberikan maaf kepada orang yang bersalah kepadaku.

Seperti kisah dalam buku 3 pohon yang menari karangan Miroslav. Ada 3 pohon, satu pohon bertugas untuk memberi, satu pohon bertugas untuk menerima, dan satu pohonnya lagi bertugas untuk menjaga perputaran tersebut tanpa henti. Dan dalam lingkaran tersebut, tidak ada yang statusnya lebih tinggi maupun lebih rendah. Seperti inilah lingkaran pemaafan yang kumaksud. Dan lingkaran pemaafan ini ada di masyarakat, jika lingkaran pemaafan ini putus, maka masyarakat akan hancur.

Memaafkan Adalah Sebuah Komitmen


Ketika kita sudah memilih untuk memaafkan seseorang, aku tidak menafikkan bahwa terkadang perasaan pahit dan sakit itu kembali muncul lagi dan lagi dan lagi. Namun bisakah kita stay committed pada pilihan yang telah kita ambil?

Kita memang terluka, namun kita takkan menjadi korban. Tidak peduli seberapa besar perasaan sakit hati ataupun pahit yang kembali muncul, itu takkan mendefinisikan kita, melainkan kita jadikan kesempatan untuk memaafkan lagi… memaafkan lagi… dan memaafkan lagi.

Lalu pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah,:

Mengapa kita harus memaafkan?


  • Untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena jika kita terus menyimpan dendam, itu artinya kita terikat dengan masa lalu dan menghambat diri kita dari progresivitas.
  • Karena kita lebih besar daripada emosi-emosi itu. You’re bigger than those emotions.
  • Karena kita juga melakukan banyak kesalahan.
  • Karena kita hanya memiliki satu hati. Kita tidak bisa membaginya menjadi dua, untuk membenci atau mencintai. Kita harus menjadikan hati kita utuh untuk salah satu saja (membenci atau mencintai).
  • Dan karena Tuhan Maha Pengampun. Dan Dia menyuruh hamba-Nya untuk saling memaafkan.


Memaafkan Diri Sendiri


Pernahkah kita melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya kita sesali?

Atau kegagalan yang terjadi dalam hidup kita akibat dari kelalaian yang kita sadari?

Atau kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita karena dia telah kita sakiti?

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan seringkali kita menyalahkan diri sendiri akan hal-hal tersebut. Dan itu hal wajar, karena memaafkan selalu dimulai dari menyalahkan. Maka jangan menghindari hal tersebut, mengakui kesalahan diri sendiri berarti kita mengambil kendali untuk juga memaafkan diri sendiri. Meski itu sangat sulit dan lebih sulit dilakukan daripada memaafkan orang lain.

Jika tadi aku bicara lingkaran pemaafan yang ada di masyarakat, sekarang lingkaran pemaafan tersebut ada di dalam diri sendiri. Karena kasusnya adalah pemberi dan penerima maaf adalah diri sendiri. Sehingga itu tidak lepas, melainkan berputar antara perasaan harapan dan penyeselan. Seperti misalnya saat aku berusaha bangkit kembali dari kegagalan, dulu langganan rangking 29 dari 30, hingga kini pun penyesalannya masih ada. 


Banyak orang yang bilang untuk melupakan, ada juga yang bilang untuk melepaskan.

Namun aku memilih sebuah pepatah ibrani yang berkata “nasa” yaitu menerima dan membawanya dengan cinta.

Hidup seperti ini memang melelahkan, karena lingkaran kembali berputar, maka tak heran jika perasaan pahit dan menyesal itu datang kembali, lagi dan lagi. Namun itu takkan mendefinisikan kita tentu saja, melainkan sebagai kesempatan bagi kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi. 

Salah satu kasus yang kualami kutulis disini: 
http://maryam-qonita.blogspot.co.id/2016/11/forgiving-unforgivable.html 

Ada satu kisah menarik dengan memilih hidup seperti ini. Yaitu kisah Santa Claus yang mencuri pohon natal, namun dia kembalikan. Dan setiap dia kembalikan, maka hatinya akan tumbuh 3x lebih besar. Begitu pula ketika kita mengizinkan diri kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi, maka kita akan berjalan ke depannya dengan hati yang sangat besar tersebut.




To forgive is always a gift we give ourselves.



Pemateri, pembimbing, dan terapis.

Pencarian:

  • Kata mutiara memaafkan
  • Memaafkan orang yang menyakiti kita
  • Cara memaafkan orang lain dengan tulus
  • Cara memaafkan orang yang telah menyakiti kita
  • Definisi memaafkan
  • Memaafkan dalam islam
  • Memaafkan adalah
  • Tips memaafkan orang lain
  • Menyikapi orang yang menyakiti kita


Sunday, November 20, 2016

Forgiving The Unforgivable

Menjadi pembicara dalam seminar “Forgiveness” 24 November mendatang menjadi tantangan tersendiri buatku. Bukan hanya karena 18 orang anggota kelompok yg setiap hari danus demi pendanaan seminar, bukan cuma karena mereka. Namun juga karena diriku sendiri. Awalnya aku sungguh percaya diri bisa menjadi pembicara hari itu. Namun beberapa hari kemarin, aku mengajukan undur diri. Hey, banyak hal di dunia ini, peristiwa, orang-orang, bahkan diriku sendiri yang belum kumaafkan.
 


Hari itu seluruh isi kepalaku berantakan semuanya. Tugas-tugas kuliah menumpuk, tugas-tugas organisasi… tugasku sebagai anak ummi dan abi, belum lagi ditambah masalah perasaan. Well, jadi baper... Terbangun dari tidur panjangku setelah 3 malam begadang, sore itu aku tidak masuk kuliah dan aku langsung meng-VN sahabat lewat whatsapp. Menangis sejadi-jadinya kayak Awkarin yang baru diputusin Gaga. Aku bilang, “Aku benci diriku sendiri.” Mengatakannya berkali-kali.

Apa yang salah? Kenapa jam biologis tubuhku mendadak berubah? Temanku bilang katanya karena aku tidak siap hapus akun instagram, namun malah kuhapus. Sejauh inikah dampak sosial media padaku? Tapi aku masih bisa main path, facebook, twitter dsb. Dan sebagian diriku memang berkata aku ingin menghapusnya.

Aku pun mencoba menganalisis situasiku. Bahkan aku tidak mengerti mengapa saat terbangun dari tidur panjangku itu, kalimat yang kuucapkan adalah “Aku benci diriku sendiri.”. Aku bahkan tidak terpikir kalimat lain saking otakku tidak bisa berpikir saat itu.

Aku belajar bahwa dalam psikologi, memaafkan itu bukan pembenaran, memaafkan bukan mendengarkan penjelasan, memaafkan juga bukan hanya sekadar berkata “aku maafkan kamu.”. Melainkan dimulai dari menyalahkan dan mendefinisikan rasa sakit. Itulah yang kulakukan sekarang. Aku menuliskan apa saja yang membuatku terluka. Dan yang paling membuatku terluka sepanjang tahun 2016 ini adalah diriku sendiri. Aku seringkali marah pada diriku sendiri atas setiap keputusan yang kuambil, yang mana otak dan hati sering kali bertentangan. Dan tulisanku tentang hati yang hancur bertanya pada otak kutulis disini.

Aku berusaha dan beteriak minta tolong, lagi dan lagi dan lagi. Untuk ditemukan jalan tengahnya, karena dari pengalamanku keduanya (hati dan otak) seringkali berpisah jauh. Bahkan berpindah kutub dalam hitungan detik. Dan berpindah kutub lagi di detik setelahnya. Habislah ratusan halaman buku diari karena aku mencoba menganalisis situasiku.

Seseorang menertawakan perasaanku, berkata bahwa itu kocak dan aneh. Seakan-akan orang yang mengatakan hal itu tidak mengerti bahwa aku juga manusia. Aku mencoba mengubur kenyataan yang sampai saat ini masih terus menyakitiku dan membayangi pikiranku. Aku pun semakin marah dan membenci diriku sendiri selama berbulan-bulan. Tentu aku juga marah padanya, tapi memaafkan orang lain sedikit lebih mudah bagiku.

Karena memang ucapannya benar dan aku juga telah banyak berbuat salah dan menyakiti hati orang lain, sementara aku telah menerima banyak unconditional love dari orang-orang yang paling kusayang, maka aku juga harus bisa memaafkan orang lain. Jika di jalan tak sengaja aku menginjak kaki seseorang, aku akan membutuhkan sedikit unconditional love dari orang itu untuk menerima unconditional forgive. Dalam masyarakat, lingkaran pemaafan ini harus terus berlangsung. Dalam lingkaran pemaafan ini, tidak ada yang statusnya lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya sama. Jika lingkaran ini tidak ada, maka society akan collapse.


Tapi sungguh, memaafkan diri sendiri adalah hal tersulit yang kulalui sejak memasuki tahun 2016 ini. Memaafkan diri sendiri berarti yang menjadi pemberi maaf dan penerima maaf adalah diri sendiri. Maka perasaan itu tidak lepas, melainkan berputar dalam diri antara perasaan harapan, penyesalan, dan kekecewaan. Lingkaran pemaafan itu ada dalam diri sendiri. Maka tak ada lagi yang bisa kulakukan, kecuali menerimanya dan mengikhlaskannya.

Berteman dengan penulis buku terkenal Pak Cahyadi Takariawan di instagram, beliau menasihatiku bahwa dalam tafsiran Al-Quran, hati itu ada 4 tingkatan. Shadr, berarti hati bagian luar, qalb berarti hati bagian dalam, fuad berarti hati bagian lebih dalam, dan lubb berari sanubari atau hati nurani. Dimana dalam lubb ini tidak ada lagi pertentangan antara otak dan hati, maka segala sesuatunya perlu disandarkan kepada lubb. Tempatnya Mahahalus.

Karena perasaan itu terus berputar, aku tak menafikkan bahwa rasa pahit itu singgah kembali. Lagi dan lagi. Namun aku takkan membiarkannya untuk mendefinisikan diriku. Karena maaf adalah sebuah proses. Dan karena maaf adalah sebuah komitmen. Maka aku menjadikannya kesempatan untuk kembali memaafkan diriku lagi, memaafkan lagi, memaafkan lagi.

Memang, memilih hidup seperti ini melelahkan dan membutuhkan kerja keras. Memilih untuk menerima dan mengikhlaskan apa yang terjadi. Tapi ada hal baik juga yang terjadi dengan memilih hidup seperti ini, salah satu cerita yang menjadi favoritku adalah ketika Grinch mencuri pohon natal lalu dia kembalikan. Setiap dia mengembalikannya, hatinya tumbuh tiga kali lebih besar. Jadi aku berkata pada diri sendiri, aku takkan menyesali apapun jika memang sudah disandarkan pada yang Mahahalus.

Well, bismillah untuk seminarnya 24 November 2016.

Teman-teman kelompok, kasih amanah padaku sebagai pemateri.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb