Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Saturday, November 20, 2021

The Plateau of Latent Potential

 


Sejak kemarin, saya membaca sebuah buku yang sebenarnya menjadi daftar buku yang baru akan saya baca tahun 2022. Akan tetapi, karena satu dan lain hal (yang akan saya jelaskan di bagian akhir artikel ini), saya akhirnya memutuskan untuk membaca ‘Atomic Habits’ karya James Clear sekarang.

Sebenarnya, saya sudah membaca sebagian awal buku ini dalam versi Bahasa Indonesia di Gramedia Digital beberapa bulan lalu. Tetapi, saya merasa kesulitan memahami buku terjemahan. Justru saya lebih mudah memahami sebuah buku jika ditulis dalam Bahasa Inggris (jika itu bahasa aslinya) daripada bahasa Indonesia. Anyway, pada tulisan kali ini, saya ingin membahas tentang salah satu bagian buku ‘Atomic Habits’ yang diulas pada bab awal: The Plateau of Latent Potential.

Sering kali, kita meyakinkan diri bahwa sebuah kesuksesan besar membutuhkan sebuah aksi besar. Apakah itu kehilangan berat badan, membangun sebuah bisnis, menulis sebuah buku, memenangkan sebuah perlombaan atau meraih sebuah tujuan apapun. Kita menaruh tekanan pada diri sendiri untuk membuat sebuah peningkatan yang mengguncangkan dunia, yang mana akan dibicarakan oleh banyak orang.

Sementara itu, peningkatan kecil, 1% setiap harinya tidak terlalu menonjol, atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Tapi itu bisa memberikan lebih banyak peningkatkan yang lebih bermakna untuk jangka panjang.

Kebisaan atau habits adalah compound interest dari pengembangan diri. Sama seperti ketika uang yang meningkat melalui compound interest dalam investasi, begitu pula kebiasaan akan berlipat jika kita terus melakukannya.

Jika kita pergi ke gym dalam tiga hari berturut-turut, tentu kita belum mendapatkan  bentuk tubuh yang kita inginkan. Jika kita belajar bahasa China selama satu jam dalam semalam, kita tentunya belum mendapatkan hasil yang ingin kita lihat. Kita sering mencoba melakukan berbagai macam perubahan, tapi hasil tidak langsung terlihat, sehingga akhirnya, kita kembali ke kebiasaan lama.

Dalam buku ini, James Clear membuat sebuah ilustrasi untuk kita membayangkan mengambil satu es batu dan menaruhnya di atas meja. Ruangan begitu dingin sampai kita bisa lihat napas kita sendiri. Kemudian secara bertahap, ruangan pun dihangatkan. 26 fahrenheit, 27 fahrenheit, 28 fahrenheit… es batu tersebut masih ada di atas meja dan tidak mencair. Suhu terus menghangat, 29 fahrenheit, 30 fahrenheit, 31 fahrenheit… dan masih belum ada yang terjadi.

Sampai akhirnya tiba di 32 fahrenheit (0 derajat celcius), es mulai mencair. Perubahan setiap satu derajat tampaknya tidak memberikan dampak apapun. Es juga baru mencair di suhu 32. Akan tetapi, sebenarnya perubahan telah berlangsung dari sebelum-sebelum itu.

Momen terobosan seringkali adalah hasil dari banyak tindakan-tindakan sebelumnya, yang membangun potensi yang dibutuhkan untuk unleash sebuah perubahan besar. Pola ini muncul di mana-mana, sebagaimana kanker menghabiskan 80% waktu hidupnya tidak terdeteksi, kemudian mengambil alih tubuh seseorang hanya dalam hitungan bulan. Begitu pula pohon bambu yang nyaris tidak terlihat pada lima tahun pertamanya, karena ia membangun sebuah sistem akar yang luas di bawah tanah sebelum akhirnya ia meroket, tumbuh tinggi menjulang hingga tiga meter dalam beberapa pekan.

Inilah alasan kenapa sangat sulit untuk membangun kebiasaan yang berlangsung lama. Orang sering kali membuat beberapa perubahan, gagal melihat hasil yang nyata, dan kemudian memutuskan untuk berhenti. Kita berpikir, “aku sudah berlari pagi setiap hari dalam sebulan, tapi kenapa tidak ada perubahan apapun pada tubuhku?” Saat pikiran ini mengambil alih, sangat mudah bagi kita untuk menghentikan kebiasaan baik.

Maka dari itu, untuk membuat sebuah perubahan yang berarti, sebuah kebiasaan baik perlu bertahan cukup lama sampai menghancurkan atau melewati dataran (plateau) ini, yang mana James Clear menyebutnya sebagai The Plateau of Latent Potential (dataran tinggi potensi laten).

Jika kita menemukan diri berjuang keras untuk membangun sebuah kebiasaan baik dan menghancurkan kebiasaan buruk, itu bukan karena kita tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan diri, tapi karena kita belum melewati the Plateau of Latent Potential. Usaha kita tidak sia-sia, mereka hanya tersimpan. Sebagaimana es mencair pada suhu 32 derajat Fahrenheit.


Saat kamu berhasil melewati The Plateau of Latent Potential, orang akan menyebutmu sukses dalam semalam. Dunia luar hanya melihat peristiwa-peristiwa dramatis daripada peristiwa yang mengawali itu semua. Tapi kita tahu, itu adalah hasil kerja keras kita selama ini, yang tampaknya tidak membuat kemajuan sama sekali, yang membuat sebuah lompatan itu mungkin.

Konsep ini begitu memotivasi saya, yang saat ini menghabiskan waktu 12 jam sehari di depan laptop untuk menyusun materi online course. Saya sudah melakukannya semenjak 1 November 2021, ini adalah bulan paling produktif saya seumur hidup di mana saya merasa membuat trajectory nyata. Akan tetapi, kemarin dan kemarin lusa (19 dan 18 November) saya sempat merasa, “I am nowhere near where I thought I would be.” Saya masih sangat jauh dari target yang saya harapkan. Saya merasa bahwa kemajuan-kemajuan saya tidak begitu terlihat dan berarti.

Ketika pikiran itu hadir, saya langsung sadar bahwa itu memudahkan masuknya kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti lebih lama bermain di Instagram dan membaca berita-berita tidak penting. Saya pun mencoba mengalihkan rasa jenuh dan "sia-sia" membuat materi online course dengan berolahraga. Yang saya tahu, olahraga dapat memicu hormone tertentu di dalam otak yang membuat kita merasa “I can conquer the world!” atau “Aku dapat menaklukkan dunia!” Ternyata benar, mood saya memang membaik dan saya lebih produktif pada malam harinya. 

Tetapi, saya sadar, bisa saja, saya menjadi tidak rutin lagi  berolahraga. Akhirnya saya pun membaca buku “Atomic Habits” yang akan membantu saya membangun kebiasaan baik (olahraga). Awalnya, niat saya membaca buku ini adalah untuk mempertahankan kebiasaan rutin berolahraga yang saya mulai kemarin, tetapi justru isi buku ini juga sangat membantu dan memberikan jawaban akar permasalahan saya sesungguhnya. Ketika saya mulai merasa putus asa dengan berpikir bahwa tidak ada kemajuan nyata yang telah saya raih dengan membuat materi online course.

Beberapa hari yang lalu adalah hari-hari dengan mood yang buruk yang baik saya. Tapi saya tahu, hari-hari yang buruk adalah hari-hari yang lebih penting. Kita semua bisa produktif saat hari baik datang, tidak ada yang spesial. Akan tetapi, jika kita juga produktif di saat hari buruk datang, kita akhirnya membangun kebiasaan. Ketika kebiasaan telah terbangun, yang kita butuhkan hanyalah waktu.

Waktu yang pada akhirnya akan menampilkan sebuah perubahan besar.


#30DWCJilid33

#Day26

 

 

Monday, April 4, 2016

[Resensi] Mimpi-Mimpi Einstein, Novel Penggugah Intelektualitas


Judul: Mimpi-mimpi Einstein
Penulis: Alan Lightman
Penerbit: KPG
Dimensi: 154 hlm, 14 x 20 cm, cetakan keempat, januari 2001.
ISBN: 979 9203 31 9

Buku ini berisi 30 mimpi-mimpi fiktif yang singkat, dimana keseluruhan dari mimpi-mimpi tersebut adalah tentang waktu. Dan diceritakan bahwa setiap mimpi tersebut, dimimpikan oleh Albert Einsten di kota Bern. Setiap mimpi mewakili sebuah dunia. Dalam sebuah dunia, manusia hanya hidup untuk sehari, di dunia yang lain, manusia hidup selamanya, di dunia yang lain waktu berhenti seperti beku, di diunia yang lain waktu berjalan berputar, ada pula dunia dimana waktu orang-orang mengalami suatu hal tidak hanya sekali, tetapi ratusan, ribuan, bahkan dalam jumlah yang tak terhingga. 

Dalam setiap mimpi, Lightman menuliskan dunia yang berbeda di mana waktu dalam setiap dunia mematuhi peraturan yang berbeda pula. Setiap waktu memiliki dampak langsung pada psikologi dan perilaku manusia.  Mimpi yag dialami oleh Einstein tersebut tidaklah seperti mimpi kebanyakan orang, melainkan menjadi sebuah petualngan kreativitas dimana setiap orang yang membaca novel ini akan terlarut dalam keindahan yang dituliskan dalam narasinya dan imajinasinya.

Salah satu contoh penggalan kisah dari novel ini adalah sebagai berikut:

“Seorang lelaki berdiri di samping makam temannya, menabur bongkahan tanah di atas peti, merasakan dinginnya bulan april yang menampar wajahnya. Tetapi, ia tidak menangis. Ia menerawang ke hari-hari ketika paru-paru temannya masih kuat, saat temannya bangkit dari tempat tifur dan tertawa, saat keduanya minum bir keras bersama, pergi berlayar, ngobrol. Ia tidak menangis. Ia menanti dengan penuh kerinduan hari istimewa yang Ia ingat di masa depan ketika mereka makan roti lapis yang tersaji di meja yang rendah..”

Narasi tersebut menggambarkan sebuah cerita yang dituliskan mundur. Dapat pembaca rasakan terdapat perasaan sedih , kecewa, dan penyesalan dari penggalan narasi tersbeut.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1993 oleh Warner Books. Meskipun buku ini adalah buku pertama Alan Lightman dalam kategori fiksi, karena sebelumnya dia hanya menuliskan buku-buku nonfiksi dalam bidang fisika, astrofisika, dan astronomi. Buku ini terbilang sangat sukses dan bahkan menjadi international best seller, juga menuai pujian dari para kritikus karena Alan mampu menyajikan kejenakaan intelekstual Einstein dalam sebuah karya fiksi yang penuh imajinasi dan kreativitas.

Pada tingkat yang lain, "Mimpi-Mimpi Einstein" merupakan eksplorasi provokatif tentang ilusi waktu. Menggambarkan sketsa aspek relativitas yang seluruh maknanya dapat dapat membuat heran pembaca ilmiah, sementara para pembaca non-ilmiah dapat menangkap makna melalui kata-kata dan melalui plot cerita yang cepat, berubah-ubah, dan penuturan sederhana mengenai suatu pemikiran yang rumit. Novel ini secara berani menggugah intelektualitas kita, para pembaca. Sehingga penulis sangat merekomendasikan novel ini untuk pembaca dari kalangan akademisi maupun mahasiswa, dimana daya imajinasi akan sangat diperlukan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.


Thursday, August 28, 2014

[Resensi] Eksistensi Indonesia

Judul             : The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan
Penulis          : R.E. Elson
Penerjemah   : Zia Anshor
Penerbit        : Serambi 
Cetakan        : I, Januari 2009
Tebal            : xxxiii + 543 hlm. (termasuk indeks)

Sebelum abad kedua puluh, Indonesia dapat dikatakan belum ada. Di kepulauan yang membentang antara benua Asia dan Australia ini dulu terdapat negara-negara besar dan kecil yang disatukan dalam kekuasaan penjajahan Belanda. Negara-negara itu memiliki sikap kedaerahan yang melekat di masing-masing daerah juga dengan bendera yang berbeda-beda. Para pelancong dan pejabat non-Belanda hanya menyebutnya antara lain “Lautan Timur”, “Kepulauan Timur”, “Kepulauan Hindia” atau “Hindia Timur Belanda” dll.

Kesatuan pulau tersebut sama-sama dijajah selama 3,4 abad oleh kolonial Belanda. Penjajahan tersebut perlahan menguatkan perasaan sama-sama dijajah dan ditindas. Gagasan politis “Indonesia” yakni ada sebuah negara yang mencakup satu kepulauan di bawah terbentuk dengan sendirinya selama 340 tahun penjajahan Belanda tersebut. Soeriokoesomo dalam “Javaansch Nationalism” mengatakan “Ujung-Ujungnya, Belandalah yang menciptakan Hindia (Indonesia) dan Pribumi. Orang Jawa ada dengan sendirinya,”

Istilah “Indonesia” yang diusung Logan menjadi daya tarik tersendiri. Bagi kaum pribumi memiliki identitas baru secara nasional adalah perangkat meraih kemerdekaan. Padahal gagasan “Indonesia” awalnya tidak terlalu diterima secara antusias. Akhir abad 20, gagasan ini masih setengah-setengah diterima, masih lemah, kacau dan samar. Maka dari itu banyak upaya-upaya Belanda untukk memperkuat sentimen kedaerahan dan tidak menyukai istilah “Indonesia” tersebut.

Dalam buku Elson, The Idea of Indonesia dengan uraian yang kronologisnya yang sangat detail, Elson memulai bagian awal dengan banyak memfokuskan pada tiga serangkai: Suwardi Suryaningrat, Dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangunkusumo. Douwess Dekker mendirikan Partai Hindia untuk menyusun konsep masyarakat kepulauan Hindia secara politis, bukan hanya secara geografis. Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna politis (dalam bentuk 'Hindia' yang harus merdeka) oleh Abdul Rivai, Kartini, Abdul Moeis, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, Ratulangie dan lain-lain antara 1903-1913.

Selain itu, berbagai organisasi-organisasi didirikan sebagai awal kebangkitan rasa nasionalisme bangsa seperti Budi Utomo dan Sarikat Islam. Dalam “pengorganisasian masyarakat Indonesia” itu akhirnya timbullah persinggungan dengan pengalaman kesejarahan beragam suku (seperti Papua Barat yang hingga kini masih merupakan persoalan pelik), agama, dan juga ras yang berbeda.

Gagasan Indonesia mnggema menginjak awal 1920. Berbagai kongres disatukan untuk mengupayakan persatuan. Entah persatuan secara merdeka atau otonomi – mengingat masih banyak PR untuk mewujudkan negara yang merdeka –Seperti Tjokroaminoto mengadakan Kongres Nasional Hindia untuk menyatukan organisasi-organisasai regional dan local itu untuk mencapai kebebasan nasional.

Dalam kaitan mengembangkan gagasan ini, tertuang banyak pemikiran para intelektul dengan latar belakang social dan politik Barat. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupkan produk pemikiran modern yang bersumber dari filsafat dan pemikiran Barat. Termasuk orang-orang yang kelak akan menjadi tokoh seperti Mohammad Hatta, Soetomo, dll. Sebagaimana diuraikan Elson dengan mengutip pernyataan Ali Sastroamijoyo, “existed as a good political idea whose time had (just about) come, and through which they found a new and modern sense of identity…”

Upaya-upaya yang ditekankan lebih kepada pemahaman lebih canggih tentang “Indonesia” dan bagaiaman jalan mencapainya. Sehingga jelaslah “ruang politik” bernama Indonesia yang tadinya masih berupa gagasan lalu menjadi realitas politik.

Meskipun pun peran asing dalam memberikan identitas kebangsaan Indonesia cukup signifikan. Pribumi juga memberikan kontribusi dalam mengupayakan persatuan nasional. Setidaknya ini lahir dari dua golongan pribumi yang memiliki visi dan perasaan yang sama sebagai orang Indonesia di tempat yang berbeda:

1)      solidaritas di kalangan mahasiswa yg ada di Belanda
2)      solidaritas di kalangan mereka yg berangkat ke Mekah untuk naik haji

Dua golongan pribumi ini memberikan warna dalam proses membentuk kesamaan identitas bangsa. Seperti contoh: orang Jawa yang sedang melaksanakan ibdah Haji di Mekkah bertemu dengan orang Aceh, dan mereka saling berkomunikasi dan bertukar informasi mengenai asal daerahnya. Proses inilah yang lama kelamaan menimbulkan kesamaan identitas sebagai orang Indonesia.

Meskipun begitu, menariknya komentar Tan Malaka bahwa para pemikir ini menempel pada kata kemerdekaan yang tidak jelas artinya dan tidak pernah menyentuh analisis sosial ekonomi masyarakat. Dalam makna yang luas, kemerdekaan adalah akhir dari kekuasaan asing dan kedaulatan rakyat. Kemerdekaan juga dipandang sebagai perjuangan anti-feodal. Namun realitasnya, hal ini masih belum dicapai. Kegagalan demokrasi ditandai banyaknya ketegangan-ketegangan dan kekecewaan terhadap orde lama dan orde baru.

Berbagai pertimbangan-pertimbangan dalam menjalankan ruang politik seperti otonomi atau merdeka, kooperasi atau non-kooperasi menimbulkan pertentangan tersendiri d kalangan para pemikir. Hingga akhirnya , tindakan-tindakan represif yang telak menghentikan kubu-kubu yang bertentangan dengan kepentingan nasionalisme.

Selain pemakaian bahasa yang memiliki banyak cerita, budaya, sifat kedaerahan, nasionalisme juga menuntut cukup banyak perngorbanan yang belum pasti dan bisa jadi merugikan. Aliran pemikiran politik yang bertentangan harus dapat diakomodasi demi persatuan. Sebagai contoh, perseteruan antara kelompok muslim dan komunis mengenai Sarikat Islam, kasus Ambon, Persatuan Minahasa yang tidak mau bergabung dengan PPPKI,dll. Perpecahana ideologis terjadi karena setiap organisasi bekerja dengan paradigma yang juga berbeda-beda secara mendasar.

Meski Belanda menolak menerima atau mengakui istilah Indonesia dalam arti apapun.   Dalam sekejap mata, penjajahan Belanda berakhir di hadapi militerisme Jepang. Sejarah Indonesia pun dimulai dengan lembaran baru.

Jepang memiliki dampak tersendiri bagi Bangsa. Jepang memberikan kesempatan bagi kaum nasionalis untuk terlibat di pemerintahan dalam cara-cara yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Dengan jejaring komunikasi, kaum nasionalis mengembangkan pemahaman popular dan gagasan Indonesia hingga daerah-daerah.

Amir Syarifudin mengatakan bahwa gagasan yang disponsori jepang memberikan begitu banyak manfaat. Jepang banyak mendrikan milisi-milisi pribumi yang disponsori olehnya seperti Peta, Heiho, Giyugun, dll. Tindakan ini membuka jalan untuk cita-cita jelas dalam politik pribumi. Dalam menyiapkan kemerdekaan, Jepang pun mengumumkan bredirinya BPUPKI yang merupakan awal dari berdirinya dasar negara atau Pancasila.

Berdirinya “negara Indonesia Merdeka” seperti dinyatakan dalam teks proklamasi, merupakan keinginan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam mencapai kebebasan. Jalan ini telah ditempuh begitu jauh. Namun PR bangsa tidak hanya sampai situ, mempertahankan negara dan merumuskan bangsa juga masih menjadi tantangan ke depannya. Muncullah kelompok-kelompok yang memiliki visi mereka sendiri mengenai Indonesia seperti apa yang ingin dibentuk.

Kemerdekaan ternyata menjadi awal dari sebuah babak baru di mana gagasan tentang Indonesia akan diuji dalam bentuk-bentuk yang tak pernah dibayangkan oleh para pendirinya dulu. Pencarian format kenegaraan, pembangunan struktur politik, dan penguatan pilar-pilar kebangsaan ternyata mengalami banyak tantangan, kelokan dan kegagalan: pemberontakan datang silih berganti, daerah bergolak, hingga pertumpahan darah tak terelakkan.

Warisan militer Jepang seperti bertahan dengan kekerasan dibentuk untuk menegakkan kepemimpinan pusat. Abdul Haris Nasution diangkat menjadi komandan divisi Siliwangi Mei 1946, Sudirman seorang veteran Peta dipilih jadi Panglima tahun 1945. Kekuasaan militer muncul didasarkan pada klaim otoritas dan kehendak rakyat banyak

 Serangkaian tantangan internal pun dilengkapi dengan dorongan federalism dari Belanda. Seperti telah dilihat, pemerintahan federal telah menjadi pemecahan politis yang paling disukai di Belanda. Meskipun begitu upaya-upaya Belanda untuk mematikan republic Indonesia gagal. Seperti aksi polisional untuk memecah belah persatuan Indonesia.

Meski pada akhirnya republik Indonesia secara sepihak membongkar susunan negara federal yang beberapa minggu menaunginya, tindakan itu dilakukan tanpa ada konsultasi dengan daerah-darerha. Upaya ini memancing banyak tanggapan hingga pemberontakan. Pemberontakan Andi Azis adalah tanda nyata dari keraguan terhadap niat sentralisasi bangsa. Ideologi Pancasila pun tak mampu menjalankan peran pemersatu yang dijanjikan.

Demokrasi liberal barat yang makin dirasa tidak cocok dengan jiwa Indonesia. Meskipun sistem ini juga memiliki positif yakni menarik dukungan bagi Indonesia di arena internasional.

Dalam praktiknya memang, masih banyak kegagalan cita-cita proklamasi dan kesatuan bangsa. Seperti maraknya pembangkangan daerah, agenda-agenda politik tentara, kelemahan ekonomi dalam manajemen dan infrastruktur, juga jalan buntu dalam pemilihan umum. Dengan demikian, kata Sudjatmoko, “Ketika tidak ada kemajuan tercapai setelah kemerdekaan, orang mulai kembali ke sikap dan pola pikir tradisional yang muncul ketika cita-cita revolusi memudar.” 

Klimaks paling fatal adalah pemberontakan PRRI yang merupakan tantangan daerah paling seriuss yang pernah dialami Republik Indonesia. PRRI permesta menuntut negosiasi ulang atas pembagian kekuasaan dalam negara Indonesia lewat penggantian pemerintah pusat. Meski demikian, PRRI dapat menarik sejumlah politikus terkemuka seperti Natsir dan Burhanudin Harahap.

Bagi Soekarno, kejayaan yang dijanjikan akan tercapai jika dia yang menentukan dan memimpin. Baginya, cukup dirinya yang menafsirkan aspirasi dan keinginan rakyat yang seringkali tidak rakyat sadari. Maka dari itu Soekarno akhirnya menggusur musuhnya seperti demokrasi liberal, Pengkhianat PRRI permesta dan sistem multipartai. Dalam perkembangannya, sejenis otoritarianisme mulai mapan di bentang politik. Sikap acuh demokrasi terpimpin inilah menandakan akhir politikus Islam dalam mendapat tempat penting di politik Indonesia. Demokrasi terpimpin dimaksudkan sebagai obat untuk ketidakmampuan demokrasi parlementer.

Ekonomi di demokrasi terpimpin memiliki banyak kemerosotan dan inflasi terus miningkat seiring dengan ekonomi yang hanya dijadikan alat politis. Dalam perencanaan ekonomi delapan tahun buatan BPN pun tidak terlalu banyak memuat cara untuk mencapai tujuan-tujuan ambisius Soekarno. Meski Soekarno begitu ambisius untuk memantik mimpinya, namun demokrasi terpimpin tidak pernah memiliki konsep yang jelas. Melainkan hanya gembar-gembor ideologi tidak berisi.

            Digulingkannya Soekarno dan kemunculan mendadak Soeharto juga mengejutkan. Apalagi posisi Soeharto relatif tidak dikenal tahun 1965 itu. Meski begitu Soeharto langsung melakukan pukulan maut kepada legitimasi Soekarno sebagai perwujudan kehendak rakyat Indonesia. Orde baru lahir pada saat krisis dan kekerasan. Soeharto menyadari bahwa tugas utamanya adalah membunuh PKI dan memberantas mereka. Pembantaian mengerikan terjadi dimana-mana. Rezim yang dibangun juga bersifat otoriter serperti Demokrasi terpimpin.

            Dalam pikiran Soeharto, Indonesia adalah proyek mulia yang sulit untuk ditangani, terancam ketidakpastian, nafsu rakyat tidak disiplin, dan tidak tahu apa-apa. Keperluan untuk menghilangkan masalah-masalah itu adalah dengan memberantas sumbernya. Baginya, politik bukanlah perang gagasan, tapi mengelola proses untuk mencapai tujuan yang sudah disepakati.

            Perlawanan terhadap sistem politik Soeharto terpencar-pencar, terbungkam dan lemah. Bentuk-bentuk aksi politik terbatas ruang gerak. Para pensiunan Jenderal seperti Dharsono menuduh orde baru mengkhianati janjinya dahulu dan berubah menjadi rezim represif, keras, dan anti-demokratik. . Orde baru juga memberikan kedudukan istimewa kepada angkatan bersenjata yang telah membantu soeharto naik ke tampuk kekuasaan.

            Segera sesudah kemunculan orde baru, banyak tokoh sipil seperti aktivis mahasiswa Soe Hok Gie dan tokoh intelektual Ismail Suny dan Yap Thiam Hien berbicara dengan antusias terkait pentingnya demokrasi. Meskipun begitu, ada pula gerakan-gerakan kontradiksi yang ingin mempertahankan orde baru. Corak keresahan yang lebih gamblang muncul pada Juli 1996 dalam upaya mendukung Megawati mempertahankan kantor PDI dan menimbulkan kerusuhan meluas di Jakarta. Contoh lain adalah 1300 insiden protes terjadi di Jawa tengah dalam 7 bulan pertama 1998.

            Melemahnya orde baru diawali dengan krisis mata uang Asia. Integralisme yang sudah compang-camping ini akhirnya berujung pada runtuhnya rezim orde baru pada Mei 1998 serta kekacauan politik dan social di Jakarta

            Indonesia yang muncul dari keruntuhan orde baru mengalami krisis parah di berbagai sektor. Maka muncul istilah “reformasi” untuk mereformasi kembali “Indonesia” dalam berbagai bidang. Sesudah itu, presiden-presiden berganti dengan sangat cepat. Bahkan B.J Habibie hanya bertahan 18 bulan setelah menjadi sasaran para demonstrasi yang memuncak pada siding istimewa MPR November 1998. Pergantian presiden pun terjadi dalam waktu kurun waktu sangat singkat. Tidak seperti Gus Dur dan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia lebih lama.

            Pergolakan identitas kedaerahan yang terus melekat di bangsa Indonesia pun bangkit kembali setelah lama ditindas orde baru. Seperti di Aceh munculnya gerakan Aceh merdeka (GAM), di Papua muncul sentiment anti pusat akibat adanya marginalisasi, Timor-Timur yang terus bergejolak, dll. Bangsa Indonesia mengalami tren demokrasi baru yang juga lebih kuat.

Dalam perkembangan demokrasi, serangkaian pemilu juga berhasil dilaksankan. Meskipun tantangan tetap ada. Seperti pendirian partai politik yang umumnya hanya mengutamakan kepentingan sendiri. Sementara, banyak dari partai politik mengalami kelemahan ideologi. Demokrasi pun telah dibajak oleh mereka yang berkuasa untuk menjaga keberlangsungan dominasi elite dan bukan saluran perwujudan kehendak rakyat. Maka, kemerdekaan Indonesia hanya akan menjadi makna yang kosong apabila rakyat saat itu terpisah dalam proses nation-building itu sendiri yang menjadi cita-cita reformasi.

Dalam buku The Idea of Indonesia ini, Elson berhasil membangun argumentasi-argumentasi penting melalui sejumlah data yang begitu kaya. Sayangnya, kata-kata di buku ini lebih sering tampil seperti angka-angka statistik atau tabel yang mendukung argumentasi daripada sebuah upaya mengajak para pembaca untuk memahami suasana zaman dari periode berbeda. Selain itu karya Elson terlalu berfokus pada gagasan tentang Indonesia yang berpusat di Jawa. Elson masih sangat sedikit menjabarkan bagaimana pemikiran tentang Indonesia itu lahir dari kalangan terdidik di luar Jawa seperti di Sumatera, dll.           

Meskipun begitu, ada hal yang menarik. Elson memahami bahwa Indonesia adalah sebuah keajaiban dengan tetap menjadi sebuah negara dan bangsa yang utuh. Segala macam dinamika yang terjadi dalam proses sejarah nyatanya membuat Indonesia lebih dewasa menyikapi dinamika pergerakan negara ke arah yang jauh lebih modern dalam berbagai pemikiran. [Maryam]

[Resensi] Perjalanan Perempuan Indonesia


Penulis: Cora Vreede de Stuers
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: April 2008, Cetakan I
Halaman: 227 halaman


Dari judul buku ini, kita dapat mengetahui bahwa buku ini berusaha menguak awal mula dari gerakan perempuan di Indonesia, terutama di abad ke-20. Gerakan itu sendiri bermakna sebagai alat yang digunakan untuk meraih emansipasi. Cora dengan jelas memaparkan masalah-masalah penting untuk dipahami bersama demi memfokuskan perempuan Indonesia meraih hal tersebut.

Jika bicara tentang gerakan perempuan, maka tidak lepas dari posisi perempuan saat itu yang ditentukan oleh sistem adat dan hukum islam. Adat merupakan satu entitas yang tidak dapat dipisahkan dari peraturan yang tidak tertulis dan berlaku turun temurun dalam suatu masyarakat. Sementara, hukum islam sendiri merupakan refleksi dari apa yang diajarkan dalam agama Islam yang dimana penduduk pribumi mayoritas beragama Islam.

Pernikahan dalam hukum adat merupakan sebuah alat untuk mempertahankan eksistensi kelompok, sementara itu, hukum Islam dapat lebih diterima karena dalam syariat pernikahan merupakan perjanjian antara dua individu. Seperti itu pula dalam pandangan barat, hukum Islam cenderung lebih diterima di masyarakat dibandingkan hukum adat yang cenderung kaku.

Di bab kedua, Cora mulai memaparkan pentingnya peran perempuan di berbagai sektor. Terutama saat terjadi revolusi Industri yang menuntut perempuan turut aktif di bidang perindustrian. Sampai akhirnya, gerakan feminis mulai muncul yang diawali dari program women studies di PBB. Para feminis berusaha untuk memajukan perempuan dalam bidang perkawinan dan pendidikan dimana banyak sekali perempuan buta huruf saat itu. Salah satu contoh adalah Kartini yang terus-terusan mengirim surat kepada Abendanon hingga akhirnya ia meninggal tahun 1904 karena melahirkan.

Pada bab ketiga, Cora memaparkan berbagai kemajuan diantaranya adalah pendidikan modern bagi kaum perempuan. Namun perempuan ternyata tidaklah berjuang sendirian, pria pun ikut mendukung emansipasi di Indonesia. Seperti Kartini yang didukung oleh ayahnya, Dewi Sartika oleh suaminya, dsb. Berbagai sekolah khusus perempuan didirikan, seperti sekolah kautamaan Istri.  Selain pendidikan khusus untuk perempuan, berdiri pula organisasi yang mencoba membebaskan manusia dari metode lama adat yakni Muhamadiyah yang didirkan oleh Ahmad Dahlan.

Pada bab selanjutkaya, banyak kemudian para penulis laki-laki yang mempublikasikan karyanya pada tahun 1920-1940. Muncul karya-karya sastra yang memberontak sistem adat karena dinilai mendiskrimansi perempuan. Contohnya adalah siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, dsb. Buku ini menceritakan secara garis besr alur setiap novel-novel tersebut.

Pada bab-bab selanjutnya, Cora membagi gerakan perempuan dalam tiga periode, yaitu periode kolonial, periode republik, dan periode kontemporer. Saat periode kolonial inilah muncul berbagai macam organisasi perempuan dan kongres-kongres perempuan yang setiap delegasinya membicarakan isu pendidikan dan perkawinan. Hasil penting kongres itu adalah berdirinya PPI. Namun, PPI tidak berurusan dengan politik sampai akhirnya organisasi ini berkembang menjadi PPII yang berurusan dengan politik. Diantaranya adalah mempermasalahkan undang-undang perkawinan.

Segera setelah kemerdekaan, organisasi-organisasi perempuan yang ada bersatu hingga akhirnya bergabung menjadi KOWANI. Kongres ini membicarakan tentang stabilitas politik Indonesia yang waktu itu masih dilawan Belanda. Kongres juga membentuk badan-badan khusus yang menangani bidang politik, sosial, ekonoi, dan budaya. Kowani dibubarkan tahun 1950 dan dibentuk organisasi baru bernama KWI yang garis besar kebijakannya mengikuti prinsip pancasila.

Periode kontemporer kementerian agama dibentuk untuk bertanggung jawab atas dasar pendaftaran perkawinan dan perceraian. Banyak perbaikan atas awal keberadaan biro ini, seperti masalah petugas resmi juga masalah UU No. 22 yang saat itu dianggap tidak memuaskan hati perempuan. Meskipun mengalami perbaikan Undang-undag, sampai sekarang pun poligami masih menuai pro kontra di masyarkat.

Kelebihan buku ini adalah deskripsi atas fakta yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat dijelaskan dengan sangat detail. Selain itu, Cora juga merunut kejadian pergerakan perempuan ini dari tahun 1900 hingga 1960 sehingga saat membacanya tidak ada tumpang tindih. Kekurangan buku ini adalah terlalu memihak gerakan feminisme, sehingga seakan-akan Cora memandang bawa wanita berjilbab adalah tanda kemunduran dan merendahkan martabat bangsa. Selain itu, Cora tampak tidak begitu memahami hukum islam atau syariat atas dasar pengambilan istilah yang tidak pas maknanya.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb