Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Sunday, November 14, 2021

Komponen Personal Statement

 

1. Fokus

Kamu mungkin tergoda untuk menulis berbagai hal tentang dirimu. Akan tetapi, personal statement bukanlah otobiografi maupun pengulangan resume versi paragraph. Pilih satu key point yang menjadi kekuatanmu, pilih satu situasi yang menggambarkan kekuatan tersebut, dan gunakan anekdot yang relevan.

2. Naratif

Personal statement yang baik memiliki tujuan yang jelas dan mudah menarik perhatian pembaca. Kalian dapat menggunakan coming-of-age story untuk ini. Akan tetapi, pelamar perlu berhati-hati dalam mengubah personal statement mereka menjadi proyek menulis kreatif yang berisiko. Narasi pribadi yang disampaikan perlu kembali pada tujuan penulisan personal statement itu sendiri.

3. Pemahaman yang luas

Personal statement yang kuat dapat memahami gambaran besar dari profesi yang ingin digeluti, makna sesungguhnya, dan dampak yang akan diberikan kepada masyarakat.

4. Kerentanan dan ketulusan

Dalam mendefinisikan pengalaman, tidak selamanya harus berupa prestasi dan pencapaian. In fact, seorang Harvard MBA Admission officer mengatakan bahwa beberapa esai terkuat seringkali fokus pada kegagalan. Refleksi terhadap apa yang menjadi kekuranganmu dan gali lebih dalam apa pelajaran yang diperoleh.

5. Kesadaran diri

Pelamar perlu memikirkan esai mereka dari sudut pandang panitia penerimaan. Apa yang kamu inginkan dan tidak inginkan baca jika berada di posisi mereka? Panitia penerimaan membaca ribuan esai. Dengan menyadari bagaimana setiap kata dan cerita dipersepsikan oleh seseorang yang memiliki pengalaman berbeda, dapat menjadi sesuatu yang berharga bagi pelajar.

6. Individualisasi

Salah satu kunci dari menulis personal statement adalah dari namanya itu sendiri. Personal. Esai itu harus unik mengenai sang penulis.

7. Polish

Pelamar perlu meluangkan waktu untuk memastikan bahwa personal statement yang mereka tulis bebas dari kesalahan grammar atau typo. Personal statement adalah cerminan dari kualitas pekerjaan atau karya mereka nantinya sebagai mahasiswa.


#30DWCJilid33

#Day20

Thursday, November 11, 2021

Refleksi Diri Sebelum Kuliah ke Luar Negeri

 



Hari ini saya membuka fitur QnA di Instagram. Kemudian saya menyadari bahwa banyak teman-teman yang ingin study abroad namun merasa belum memiliki kualitas diri yang cukup untuk menyusun aplikasi yang kuat, seperti merasa minim pengalaman organisasi, minim pengalaman lomba, atau minim pengalaman penelitian.

Oke, you need to face the truth. Sebelum memulai proses mencari beasiswa atau mendaftar kampus tujuan, kamu mungkin perlu refleksi diri. Salah satu caranya dengan brainstorming menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

Brainstorming artinya, kamu jangan menghapus ide apapun yang kamu anggap remeh. Siapkan kertas, tulis jawabanmu sebanyak dan seleluasa mungkin. Setelah selesai, gunakan ini sebagai tool untuk mengenal kualitas diri lebih baik.

1. Apa tujuanmu studi ke luar negeri? Apa yang ingin kamu raih?
2. Bidang apa yang kamu minat untuk pelajari?
3. Di mana kamu ingin tinggal setelah lulus? Apakah kamu ingin bekerja di negara tempat studi atau kembali ke Indonesia?
4. Apa kualitas terkuat yang ada dalam dirimu?
5. Tanyakan kepada keluarga atau teman, lima kata yang menggambarkan dirimu.
6. Pernahkah kamu mengambil sebuah keputusan besar atau sederhana yang akhirnya membuat bertumbuh sebagai individu? Apa itu?
7. Apa yang membuatmu unik dan berbeda dari pelajar lain?
8. Bagaimana prospek masa depan dari program studi yang kamu tuju?
9. Apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus dari program yang kamu tuju?
10. Apakah kamu telah menciptakan sebuah inisiatif? Apa yang memotivasimu?
11. Apakah kamu telah memiliki sebuah arah hidup? Apa itu? Jika tidak, apa kamu sedang menjelajahi banyak hal baru? Apa saja?
12. Dimana kamu membayangkan dirimu berada satu, lima atau dua puluh tahun mendatang? Bagaimana kamu membayangkan akan berkontribusi pada masyarakat saat itu?
13. Apakah kamu memiliki kepedulian pada sesuatu yang bersifat intelektual? Dengan cara apa?
14. Kualitas apa yang ada pada kegiatan yang kamu ikuti? Apakah kamu memiliki komitmen yang tulus untuk berkontribusi di kegiatan itu atau kamu memiliki peran sebagai pemimpin?
15. Seberapa terbuka kamu dengan orang dan gagasan baru?
16. Bagaimana kamu akan mengatasi tekanan dalam dunia perkuliahan?


#30DWCJilid33

#Day17

Tuesday, November 9, 2021

Bagaimana Meminta Surat Rekomendasi yang Kuat

 



Jika kamu ingin mendaftar sekolah pascasarjana di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya, surat rekomendasi adalah salah satu bagian aplikasi yang krusial. Sebagai pendaftar, isi surat rekomendasi bukanlah sesuatu yang dapat kamu kendalikan, tetapi ada hal yang dapat kamu lakukan agar prosesnya berjalan sukses.

Pahami persyaratan aplikasi.

Pastikan persyaratan aplikasi sebelum reaching out, seperti jumlah surat rekomendasi dan siapa pemberi rekomendasi yang diminta (apakah akademisi atau profesional). Ulas juga situs program atau bicara dengan admission officers untuk mendapatkan pemahaman mengenai keterampilan akademik yang paling dihargai. Kamu bisa membagikan wawasan ini kepada seseorang yang akan memberimu rekomendasi.

Tentukan Calon Pemberi Rekomendasi

Pemberi rekomendasi adalah seseorang yang mengenalmu dengan baik secara profesional dan akademis. Bukan hanya menulis bahwa kamu adalah seorang pekerja keras, tetapi menunjukkan bagaimana kamu bekerja keras.

Seorang Stanford admission officer berkata, surat rekomendasi dari Presiden atau Ratu Inggris sekalipun takkan begitu bernilai jika tidak mampu mendemonstrasikan kualitas dirimu secara spesifik.

Minta surat rekomendasi dari jauh-jauh hari

Idealnya, buatlah permintaan resmi kepada calon pemberi rekomendasi sedini mungkin. Setidaknya satu hingga dua bulan sebelum deadline.  Kamu juga bisa memberi tahu mereka mengenai batas penerimaan surat rekomendasi.

Jika calon pemberi rekomendasi kamu sedang sibuk (seperti saat periode ujian), akan bijaksana untuk memberikan mereka waktu lebih lama.

Beri mereka keleluasaan untuk menolak.

Receiving lukewarm letters of recommendation can actually bring more harm than good. Surat rekomendasi yang ditulis tanpa antusiasme lebih membawa kerugian daripada manfaat.

Sebagai permulaan, kamu bisa bertanya, "Apakah Bapak/Ibu tidak berkeberatan untuk menulis surat rekomendasi yang kuat dan spesifik untuk saya?"

Jika mereka menolak, anggaplah sebagai hadiah bahwa kalian berkesempatan meminta rekomendasi dari orang lain yang mampu menulis dukungan yang lebih berdampak.

Sebisa mungkin adakan in-person meeting.

Mengatur pertemuan secara langsung adalah cara terbaik untuk membantu mereka menyusun rekomendasi yang menyeluruh.

Jika melakukan pertemuan offline tidak mungkin, mengirimkan email sebenarnya cukup, tetapi ini sering memberikan ruang interpretasi dan seringakali email kamu tenggelam. Jadi pastikan bahwa kamu menulis judul email yang stand out dan informatif. Sebagai contoh "Permohonan Rekomendasi untuk [Nama Kamu]”

Berikan mereka informasi tentang dirimu.

Dosen atau profesor memiliki banyak sekali mahasiswa yang mereka ajar, dan tidak mustahil bahwa mereka tidak ingat siapa dirimu. Maka dari itu, jelaskan kepada mereka bagaimana kamu, misalnya, berkontribusi dalam memberikan wawasan di kelas atau kamu pernah berkontribusi dalam kegiatan jurusan. Jelaskan juga kenapa kamu secara spesifik memilih mereka sebagai pemberi rekomendasi. Selain itu, kamu juga dapat memberikan mereka salinan aplikasi. Seperti CV, personal statement, dan transkrip nilai.

Follow up dan ucapkan terima kasih.

Jika sudah mendekati deadline dan kamu belum mendapatkan kabar mengenai surat rekomendasi, tidak masalah memberikan satu gentle reminder sebelum tanggal jatuh tempo. Kemudian, entah kamu dinyatakan lolos atau tidak, ucapkan terimakasih kepada pemberi rekomendasi dan berikan update mengenai hasilnya. Mereka telah meluangkan waktu yang sibuk untuk mendukung kualifikasi dirimu dan ini sikap ini merupakan gesture profesional yang akan membantumu lagi di kemudian hari.


#30DWCJilid33

#Day15

#Squad6

Saturday, October 30, 2021

10 Cara Membiayai Kuliah di Amerika Serikat

Banyak dari pelajar Indonesia berpikir bahwa jumlah beasiswa yang tersedia sangatlah sedikit. Tidak seperti yang mereka duga, jumlah beasiswa sangatlah banyak. Saking banyaknya, seperti mangga pada musim panen. Tentunya tidak semua mangga terlihat dari luar pohon, ada mangga yang perlu dicari secara mandiri dengan memanjat ke pohon. Begitu pula beasiswa, jumlah beasiswa sangat banyak, namun hanya mereka yang mencarinya yang dapat memperolehnya. Selain beasiswa, ada pula berbagai cara lain untuk membiayai kuliah di Amerika Serikat. Berikut 10 Cara Membiayai Kuliah di Amerika Serikat.

University-based scholarship

Sebagian besar universitas akan menawarkan semacam bantuan finansial untuk mahasiswa internasional, maka pastikan bahwa saat kamu memilih universitas, mereka menawarkan entah partial atau full financial aid. Riset website universitas untuk mempelajari tentang pilihan-pilihan beasiswa yang mereka tawarkan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan melakukan googling “[Nama universitas] scholarships for international students.”

Need-based Scholarship

Beasiswa ini didasarkan kepada kebutuhan finansial dari mahasiswa. Beberapa universitas menawarkannya untuk membantu menutupi sebagian kekurangan SPP dari mahasiswa yang telah diterima jika mereka mampu menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan finansial dan tidak mampu menutupinya dengan cara lain. Beasiswa ini juga berpotensi untuk menutup seluruh biaya SPP kamu. Yale University menawarkan need-based scholarship bagi mahasiswa internasional tingkat sarjana.

Merit-based scholarship.

Beasiswa ini ditunjukkan untuk mahasiswa yang telah menunjukkan pencapaian akademik yang mengesankan. Sebagai contoh, mahasiswa tersebut telah berpartisipasi dalam kompetisi, mengambil ekstrakurikuler dan unggul dalam kegiatan komunitas atau wirausaha. Pencapaian ini dapat dalam bentuk apapun selama kamu stand out. New York University merupakan salah satu universitas yang menawarkan Merit-based scholarships.

Government-funded Scholarships

Pemerintah Amerika Serikat menawarkan berbagai program beasiswa untuk mahasiswa internasional. Begitu pula pemerintah di Indonesia. Salah satu contoh dari beasiswa yang dibiayai dari lembaga pemerintah adalah Fulbright dan LPDP.

Privately-funded Scholarships

Terkadang, private business maupun donor akan memberikan beasiswa untuk mahasiswa internasional. Biasanya juga ditujukan kepada negara-negara berkembang dan kelompok minoritas, atau untuk bidang studi yang spesifik. Kamu perlu melakukan riset mengenai organisasi yang membiayai mahasiswa internasional yang disesuaikan dnegan budaya, agama atau latar etnis kamu.

International Organizations.

Banyak dari organisasi internasional yang besar menawarkan beasiswa untuk mahasiswa internasional, seperti beberapa cabang dari PBB, bank dunia, atau juga organisai lainnya seperti Gates Foundation dan Ford Foundation. Tetapi umumnya, setiap kali organiasi ini membuka lowongan beasiswa, seleksinya akan sangat kompetitif. Sebagian besar pula ditujukan untuk mahasiswa pascasarjana dan bukan sarjana.

Student Loans.

Saya tidak menyarankan siapapun untuk mengambil student loan, tetapi merasa perlu mencantumkannya disini sebagai salah satu opsi yang mungkin diambil. Mahasiswa internasional juga berhak untuk mengajukan private international student loans. Sebagian besar mahasiswa internasional yang mendaftar program ini akan memerluka seorang US cosigner untuk dapat apply. Co-signer adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk membayar seluruh biaya Pendidikan jika kamu tidak memenuhi kewajibanmu.

Teaching assistantships

Mahasiswa pascasarjana yang sudah diterima bisa menerima pembayaran jika bekerja di dalam universitas dan menggunakannya untuk menutupi sebagai SPP atau biaya hidup. Posisi pekerjaan yang dilakukan bisa dengan mengadakan kelas kecil, menyampaikan kuliah, mengoreksi tugas, menilai makalah, konseling siswa atau mengawasi kelompok laboratorium. Jika kamu tertarik untuk menjadi teaching assistant, hubungi bagian akademik dari universitas yang kamu tuju.

Research Assistantships.

Mahasiswa pascasarjana yang sudah diterima dalam sebuah program juga umumnya bisa mendapatkan kesempatan research assistantship. Ini biasanya membutuhkan kamu untuk dapat membantu sebuah aktivitas penelitian dari anggota fakultas. Jika kamu tertarik, hubungi department dan mungkin profesor tertentu akan menghubungimu untuk dapat bekerja sama dengannya dalam mengadakan satu tipe penelitian.

Administrative Assistantships

Tidak seperti assistantships yang sebelumnya, ini tidak langsung berhubungan dengan bidang studi kamu. Pekerjaan ini biasanya dilakukan di kantor administrasi, sebagai contoh bagian pendaftaran, student affairs, residence life, atau perpustakaan. Assistantships ini juga bisa menjadi sumber pendapatan yang baik untuk biaya hidup atau menutupi sebagian kecil dari biaya SPP kamu.


#30DWCJilid33

#Day5

Friday, March 13, 2020

Beradaptasi Kuliah S2 di New York University


Sebenarnya, ada sebagian dari diriku masih gak percaya kalau aku lagi kuliah pascasarjana S2. Rasanya kayak baru kemarin aku lulus pesantren (setingkat SMA) dan rasanya baru kemarin aku bulak-balik naik KRL jaman kuliah S1. Sementara dalam ingatanku, orang-orang yang bergelar S2 adalah guru-guruku dan dosen-dosenku. Orang-orang pintar, bijak, berwibawa, dan berpendidikan tinggi. Dan aku ngerasa beruntung banget punya privilege yang sama dengan mereka, untuk menempuh pendidikan tinggi juga.

Kenapa sebagian diriku ini masih gak percaya? Soalnya dalam ingatan masa kecilku itu, kuliah pascasarjana itu artinya aku sudah jauh lebih dewasa, lebih cerdas, lebih anggun, dan lebih bijak. Sangat produktif dan tidak lagi sibuk memikirkan hal-hal percuma. Entah aku berkutat di laboratorium, jago ngomong Inggris kesana kemari, selalu berpakaian super modis dengan sepatu bot hak tinggi, atau hadir di berbagai konferensi internasional sebagai pembicara keren.

Nyatanya? Beda jauh.

Saat bicara di PBB ketawa-ketawa padahal gugup :D
Ya, aku masih suka nonton drama Korea, suka nyari video lucu di Youtube, menghabiskan waktu di media sosial, rebahan di kasur sambil merenungkan nasib hidup, kesulitan menemukan laboratorium, masih kagok ngomong bahasa Inggris (hanya modal berani aja terkadang), juga menjadi pembicara konferensi pun masih terbata-bata dan gugup. Tampil anggun? Bahkan setelah mikir sepuluh kali untuk beli baju baru tetap tidak aku beli demi hemat. Padahal, I can afford the clothes namun tetap saja, selalu banyak prioritas lain yang lebih penting. Penampilanku pun sama dengan sepuluh tahun lalu, Maryam yang terkadang pakai jilbab miring di tempat umum.

Well ada satu sih yang beda. Sekarang mandi setiap hari dan cuma pakai baju yang udah dicuci :D

But generally, this is me, still the same Maryam.

Maryam Qonita yang sama namun menghadapi tantangan yang berbeda. Di sini aku mau breakdown beberapa tipe adaptasi yang aku lalui selama masa-masa aku kuliah S2 di New York University. Aku berharap mungkin pengalamanku ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua.

Adaptasi Pertama: Bahasa.


Tantangan utamanya adalah kendala bahasa sih. Soalnya ini pertama kalinya bagiku untuk kuliah di luar negeri.

Misalnya saat di semester pertama, aku seringkali kesulitan untuk menangkap maksud dosenku jika beliau bicara hal-hal yang spesifik dengan tempo yang cepat. Begitu pula ketika temanku dengan logat yang berbeda-beda, ada bahkan yang suaranya pelan, pronounciation-nya tidak jelas, dan cara bicaranya cepat. Ya, aku sering lost kalau beberapa orang udah ngomong. Terus cuma angguk-angguk atau ketawa pura-pura ngerti.

Atau misalnya saat aku ingin menyampaikan pendapatku. But I keep translating in my head. Jadi sebelum aku ingin menyampaikan pendapatku, aku susun dulu kata-katanya, kutranslasi ke bahasa Inggris, lalu aku tanyakan. Dan ketika akhirnya dosenku mulai melakukan tanya jawab dan diskusi denganku (mengelaborasi maksudku atau bertanya kenapa aku berpikir seperti itu). Jadi, aku translasi maksud beliau ke bahasa Indonesia, aku jawab dulu dalam pikiranku ke bahasa Indonesia, aku susun kata-katanya dalam bahasa Inggris dan baru aku sampaikan. That’s a big deal you know. Karena gak ada yang mau terjebak dalam situasi canggung dan ditonton seluruh kelas kayak gitu.

Pernah sih sekali dua kali ngerasa canggung karena terjebak dalam situasi seperti itu. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya lebih banyak suasana tidak canggungnya. Dan lebih banyak kondisi dimana aku berhasil menyampaikan pemikiranku dengan baik atau teman-temanku pernah memujiku atas pemahaman materi yang mendalam (setelah dua hari begadang baca sembilan penelitian). Jadi aku positive thinking aja. Bahwa dibalik keberanian ada kecerdasan dan keajaiban yang bersembunyi di dalamnya.

Aku juga ingat nasihat dosenku, kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan ragu untuk tanyakan. Jika ingin berbagi opini, diskusikan. Karena nasihat itu, pada akhirnya aku memposisikan diriku sebagai orang bermodalkan keberanian dan keinginan untuk lebih baik aja dalam memahami materi. Karena hanya orang-orang berani dan bertekad untuk meningkatkan skill mereka, pada akhirnya yang akan menjadi tampil lebih baik.

Kalau kalian melihat orang-orang yang tumbuh besar di Indonesia tapi jago ngomong bahasa Inggris di konferensi-konferensi internasional, percayalah, mereka gak nunggu diam saja atau cuma mengeluh sampai akhirnya fasih berbahasa Inggris. Mereka memang praktik bahasa Inggris setiap hari.

Adaptasi Kedua: Teknis, Resources dan Bahan Bacaan.


Pada awal aku masuk kuliah, aku mungkin menganggap remeh silabus dan beberapa bahan bacaan artikel jurnal yang dibagikan oleh dosenku. Aku cuma baca sekilas-sekilas dan melewatkan beberapa bagian.

Ternyata, karena aku tidak membaca silabus Psikologi Kognitif dengan baik, aku melewatkan tugas yang harus diberikan setiap pekan. Aku juga sering lost ketika kelas melakukan diskusi artikel jurnal, karena diskusi kelas juga berdasarkan tugas yang tersebut.

Salah satu seniorku, Luke, dari Vietnam menasihatiku, kalau mau bertahan di NYU sebenarnya mudah. Tinggal baca silabus, ikuti semua instruksi di website NYU Classes, dan baca readings dengan baik (artikel jurnal yang akan menjadi bahan diskusi kelas). Jika kamu mengikuti instruksi tersebut, bisa dengan cepat beradaptasi dan bertahan.

By the way. saat mendapat nasihat itu dari senior, aku aja belum tahu cara mengakses website NYU classes. Padahal readings dan silabus ada di sana semua. Pokoknya parah banget, udah kayak baby step. Kalau anak NYU dengar bahwa aku sempat tidak tahu bagaimana mengakses website pusat pembelajaran itu, mereka juga mungkin kaget. Karena setiap aktivitas di kelas bergantung ke sana. Atau kita tidak bisa mengikuti kelas sama sekali.

Akhirnya, aku ikuti nasihat seniorku tersebut. Karena meminta nasihat senior juga merupakan salah satu cara beradaptasi kan? Alhamdulillah ada kemajuan pada beberapa pekan selanjutnya. Dan pertama kalinya aku berhasil mengakses website tersebut, rasanya langsung seperti jalan terbuka lebar dan di ujungnya adalah cahaya terang benderang.

Jadi kalau kalian kuliah di negara yang berbeda sistemnya dengan system Pendidikan di Indonesia, pastikan diri kalian selalu up-to-date dengan informasi-informasi dasar atau permasalah teknis yang diperlukan sebagai mahasiswa. Juga jangan malu meminta nasihat dari senior atau teman kalian.

Adaptasi Ketiga: Penelitian dan Tesis.


Nah ini adalah bentuk tantangan terbaru yang aku hadapi saat memasuki semester kedua. Lalu aku sesalkan, karena seharusnya aku menyiapkannya semenjak aku semester satu. Karena banyak sekali persyaratan kampus agar seorang mahasiswanya boleh mengikuti tesis. Sementara pendafataran tesis dimulai dari semester dua. Bagaimana jika di semester satu tidak siap?

Kalau di NYU, persyaratan untuk pengajuan tesis adalah: Keaktifan di laboratorium, IPK tidak kurang dari 3.5 dan juga nilai mata kuliah statistika minimal B+. Sementara saat semester satu, aku belum mengambil mata kuliah statistika, aku tidak aktif di laboratorium, dan nilai IPK-ku tidak sampai 3.5. Intinya semuanya tidak terpenuhi dan aku kejar-kejaran agar itu terpenuhi pada semester dua ketika pendaftaran tesis sudah dimulai. Aku mencari laboratorium dan belajar sungguh-sungguh agar seluruh mata kuliahku mendapat nilai A atau A- biar aku bisa mendapat minimal IPK 3.5. Jadi rasanya setiap hari seperti berada di ujung jurang.

Belum lagi, aku perlu menempuh training khusus agar mendapat sertifikat yang membolehkanku untuk mengambil data dari human subject. Selain itu, terdapat proses birokrarsi dan administrasi yang cukup panjang sebelum akhirnya aku bisa boleh mengambil tesis.

Untuk saat ini, I’m still doing my best untuk bisa mengambil tesis. Meskipun penentunya di akhir sih, apakah aku terkualifikasi atau tidak. Jika pada akhirnya tidak terkualifikasi sebenarnya tidak masalah. Karena mahasiswa tetap bisa lulus dengan mengambil comprehensive exam. Dan memang aku tidak urgen untuk mengambil tesis karena aku belum berencana untuk mengambil S3 dalam waktu dekat.

Nasihatku buat kalian yang mau memanfaatkan kuliah di luar negeri sebagai sarana untuk meningkatkan skill akademik, aku sarankan siapkan dengan baik semua rencana kalian hingga lulus  dari semester pertama. Pilih mata kuliah yang benar-benar kalian minati dan dapatkan nilai terbaik untuk itu. Cari kegiatan akademik lain, seperti keaktifan di laboratorium jauh-jauh hari, gali semua informasi yang diperlukan untuk kualifikasi tesi, dan jalin kedekatan dengan dosen pembimbing maupun senior.

Mungkin itu sekian dariku, jika ada yang ingin ditanyakan, silakan hubungi Instagram @maryam.qonita.

#30DWC #30DWCJilid22 #Squad1 #Day27

Tuesday, November 12, 2019

[Ebook] Serba-Serbi Beasiswa LPDP


Selamat pagi waktu New York teman-teman semua, mohon maaf belum sempat update blog lagi huhu. Padahal ada yang sempat bilang kalau dia bahkan bikin thumbnail khusus di desktop ponselnya untuk langsung menuju link blog ini. Insyaa Allah ke depannya mudah-mudahan bisa aktif menulis lagi. Aamiin.

Oke, sebagai artikel untuk hari ini, aku mau memberikan link ebook yang mungkin akan sangat berguna, rangkuman dan juga berbagai tambahan dari seluruh kelas beasiswa yang aku adakan di whatsapp grup.

Berikut adalah link ebook serba-serbi beasiswa LPDP: bit.ly/serbaserbiLPDP

Ebook tersebut kujadikan lisensinya domain milik publik. Teman-teman boleh menyimpan dan membagikan kepada siapa saja ebook tersebut. Semoga bermanfaat.

Sunday, June 2, 2019

Pengalaman dan Tips SBK LPDP

Pengalaman SBK LPDP | Tips SBK LPDP | Seleksis Berbasis Komputer LPDP 2018 | Tes Potensi Akademik | Soft Competency | Esai On The Spot LPDP

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya mengikuti seleksi berbasis komputer (SBK) LPDP pada tahun 2018 kemarin. Juga sekaligus berbagi tips dan trik yang saya harap dapat membantu teman-teman dalam melewati fase seleksi SBK alias seleksi berbasis komputer. Karena banyak sekali teman-teman yang bertanya pada saya mengenai pengalaman saya ini.

Sebelumnya, pengertian tes SBK itu sendiri adalah Seleksi Berbasis Komputer untuk mengukur kemampuan akademik peserta LPDP menggunakan standar CAT (Computer Assisted Test) CPNS dan diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) bekerja sama dengan LPDP. Tes ini tergolong baru dan baru diterapkan di LPDP 2018 kemarin.  Setelah kita dinyatakan lulus seleksi administrasi, selanjutnya kita akan diminta untuk memilih lokasi tes SBK. Setelah kita memilih, kita tidak boleh mengganti tempat lagi karena alasan apapun. Lalu saya mendapatkan lokasi di Jakarta dan memilih tempat tes SBK di Kanreg V Ciracas.

Sesuai dengan waktunya, akan diberikan surat edaran melalui email dan SMS mengenai dresscode baju dan juga barang-barang yang harus dibawa, seperti KTP dan kartu registrasi peserta. Tahun 2018 kemarin, kami diwajibkan untuk menggunakan kemeja warna putih dan rok atau celana hitam. Sementara untuk yang berjilbab, menggunakan jilbab warna hitam penitian. Sepatu bebas selama tidak pakai sendal. Kita juga diminta untuk hadir 60 menit sebelum tes dilaksanakan untuk registrasi.

SEBULAN SEBELUM SBK


Untuk tes SBK, saya mempersiapkan kurang lebih dalam waktu satu bulan. Karena sebelum saya dinyatakan lulus administrasi, saya merasa tidak percaya diri akan lolos administrasi. Juga, saya disibukkan dengan persiapan untuk menghadiri konferensi ke Kanada dan Rwanda. Dan sehari sebelum SBK dilaksanakan, saya mengadakan sebuah acara  sebagai ketua pelaksana. Jadi super padat dan hampir sangat sulit belajar TPA saat itu. Padahal jauh-jauh hari saya sudah beli buku TPA-nya, namun sebelum pengumuman kelulusan administrasi, saya tidak buka sama sekali karena saya takut tidak lulus. Namun, alhamdulillah, saya dinyatakan lulus seleksi administrasi LPDP dan hari itu juga saya baru berani membuka buku TPA yang sudah saya beli.

Dalam Tes Potensi akademik, terdapat tiga tipe soal. Soal verbal, soal numerik, dan soal penalaran. Kebetulan 70% waktu saya, saya gunakan untuk belajar tipe soal numerik karena saya merasa tidak percaya diri dengan tipe soal ini. Saya orang dengan latar belakang sosial, dan saya pikir, nilai saya akan sangat kecil jika saya tidak mempelajarinya. Sisanya saya gunakan untuk belajar verbal. Dan sangat sedikit sekali saya sisihkan untuk belajar penalaran, atau mungkin, bisa dibilang saya tidak belajar tipe soal penalaran sama sekali. Kemudian saya menyadari, tidak belajar penalaran sama sekali adalah sebuah kesalahan besar.

HARI-H SEBELUM TES DILAKSANAKAN




Kebetulan saya mendapatkan jadwal tes paling pagi, jadi saya berangkat subuh-subuh dari rumah saya di Lenteng Agung ke Ciracas menggunakan mobil Grab. Waktu itu saya langsung habis Rp 100.000,-. Tapi tidak apa-apa, saya tidak mau kepala saya terpenuhi dengan banyak asap kendaraan bermotor saat tes berlangsung, risiko terlambat jika naik angkutan umum, atau saya masuk angin jika naik grab motor. Hari itu saya harus memberikan yang terbaik.

Ketika tiba di tempat tes, saya melihat sudah ada dua orang laki-laki sedang duduk di gerbang yang masih di tutup. Jadi saya datang sangat pagi saat itu, sekitar jam enam atau setengah tujuh pagi. Lalu beberapa satpam membuka gerbang dan menyuruh kita duduk di ruang tunggu yang disediakan. Lalu saya di sana mengobrol dengan para peserta lain yang hadir. Di antara peserta, saya mengobrol dengan salah satu peserta yang lulus S1 Fisika dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat. Dan sudah mendapat offer dari kampus tujuannya untuk S2. Saya mengobrol dengan peserta yang lain, banyak dari mereka sepertinya memang pintar-pintar dan background mereka cukup kuat. Lalu saya merasa agak minder sendiri sejujurnya.

Setelah mendekati jam sesuai jadwal, barulah saya dan para peserta lainnya dipanggil satu demi satu sesuai abjad. Lalu kita menuju meja registrasi, mengisi daftar hadir, dan panitia menuliskan password di kartu ujian untuk login tes. Di sini, yang dibawa masuk hanyalah kartu ujian, KTP asli, dan juga kunci loker. Semua barang bawaan saya disimpan di dalam loker (Buku, HP, jaket, jam tangan, pulpen, pensil, kertas, makanan, minuman,dsb) dan HP wajib dimatikan. Setelah selesai registrasi, peserta dipersilahkan masuk ruang tunggu selanjutnya. Sebelum memasuki ruang tunggu tersebut, kita diperiksa dengan metal detector dan lalu diberikan minum air putih gelas jika merasa haus.

Jika waktunya telah tiba, kita diminta untuk berdiri dan berbaris. Berdiri dan berbarisnya berdasarkan tempat duduk yang tadi kita sedang duduk di ruang tunggu itu. Kita memilih sendiri tempat duduknya kan, jadi bisa dibilang masuknya pun sebenarnya random. Ada gosip bahwa tes TPA yang duduk di belakang katanya soalnya sedikit lebih sulit, jadi untung saja, tempat saya berdiri memungkinkan saya untuk masuk duluan juga. Dan memilih tempat duduk lebih awal.

SAAT SELEKSI DILAKSANAKAN


Pada SBK LPDP ada tiga macam tes yang diuji: 
  1. Tes Potensi Akademik (TPA),  
  2. Soft Competency, 
  3. On The Spot Writing Essay. 
Dari ketiga tes ini, pengambilan keputusan lulus atau tidaknya peserta LPDP dalam seleksi SBK hanyalah berdasarkan Tes Potensi Akademik. Dalam arti kata, meski nilai test Soft Competency kita bagus, kalau nilai tes TPA kita di bawah passing grade, kita tetap tidak lulus. Jadi teman-teman perlu maksimalkan untuk tes TPA. Sementara untuk tes Soft Competency dan On the Spot Writing Essay, meski dinilai, keduanya hanya menjadi rujukan atau referensi tambahan bagi juri LPDP.

TES POTENSI AKADEMIK

Seperti saya telah jelaskan sebelumnya, dalam ujian TPA ini terbagi dari berbagai tipe soal dengan waktu pengerjaan keseluruhan adalah 90 menit. 
  1. Verbal 30 Soal (Sinonim, antonim, analogi, serta soal cerita),
  2. Numerik 15 soal (Deret aritmatika, bangun ruang, diskon, persamaan garis dan lain-lain)
  3. Penalaran 15 Soal (Analitis dan Logis)
Total ada 60 soal, dan satu soal nilainya adalah 5 poin. Jika benar semua berarti 300 poin. Tahun 2018, passing grade untuk reguler dalam negeri adalah 180 poin (minimal benar 36 soal dari 60 soal), passing grade untuk reguler tujuan luar negeri adalah 195 poin (minimal benar 39 soal dari 60 soal), dan passing grade untuk program afirmasi tujuan dalam dan luar negeri adalah 160 poin (minimal benar 32 soal dari 60 soal). Passing grade ini tidak dirilis oleh LPDP tahun 2018 kemarin, tapi diperoleh setelah para pelamar LPDP mengumpulkan nilai semua yang masuk dan membagi peserta dengan nilai yang lulus berapa dan tidak lulus berapa. Katanya, untuk berada di posisi aman, minimal nilainya harus 200 poin.

Saya duduk di bangku paling depan. Lalu kami diminta untuk mengisi nomor registrasi peserta dan password baru bisa login. Saya telah berkata ini sebelumnya, saya sangat tidak percaya diri dengan kemampuan saya mengerjakan soal numerik, orang bilang soalnya sangatlah sulit, setidaknya satu tingkat lebih sulit dari soal-soal TPA CPNS. Pengerjaaannya juga tidak hanya dikerjakaan satu langkah, mungkin baru selesai dalam 2 hingga 3 langkah. Jadi saya agak gugup saat itu, namun ingin maksimal karena telah belajar khusus untuk numerik. 

Segera setelah login, saya langsung memilih soal nomor 16 (numerik), karena peserta dibolehkan memilih soal secara acak dan membenarkan kembali jawabannya di lain waktu yang tersisa. Saya kaget, gils, benar soalnya beneran sulit. Sepertinya dari semua soal  yang telah saya pelajari, soal ini masih satu langkah lebih sulit. 50 menit lebih waktu berlalu, tinggal 40 menit lagi, saya tengok sedikit kanan dan kiri, kotak-kotak mereka sudah banyak yang hijau. Artinya mereka sudah mengerjakan mayoritas soal. Sementara saya belum selesai dengan soal numerik. Verbal dan penalaran belum saya lirik! Saya langsung keringat dingin saat itu, gugup dan nervous. Sampai akhirnya saya ingat nasihat teman yang lulus LPDP Dalam Negeri, segugup apapun situasimu, jangan cemas. Tenang, rileks dan ambil napas. Kalau perlu minum, minum. Kalau perlu ke WC, ke WC.

Jadi saya langsung berpindah ke soal verbal dan soal penalaran. Menyelesaikan masing-masing dari 45 soal dalam waktu kurang dari satu menit atau bahkan lebih cepat dari itu. Waktu saya tersisa 12 menit lagi, hff. Dalam hati, ternyata saya cepat juga mengerjakan soal verbal dan penalaran setelah melewati krisis. Lalu saya memeriksa ulang semua jawaban keseluruhan mulai dari verbal, numerik, dan penalaran. Saya juga mengerjakan beberapa yang masih kosong. Dan menulis nomor (di kertas corat-coret) soal yang benar-benar sulit atau rumusnya mentok alias lupa sama sekali.

Waktu menunjukkan 5 menit lagi. Dan banyak dari peserta sudah selesai dan memilih mengerjakan tes selanjutnya yaitu soft competency. Waktu itu saya takut kalau sebelum saya submit, gedung ini akan mati lampu atau tiba-tiba komputer saya mengalami kendala teknis. Jadi saya juga ikut tergoda untuk segera men-submit punya saya juga. Lalu saya pencet lah itu kotak tulisan “SELESAIKAN TES INI”. Dan setelah itu muncul kotak dialog bertuliskan “Apakah Anda Yakin Untuk Menyelesaikan Tes ini dan Berlanjut ke Tes Berikutnya?” semacam itu. Dengan perut lemas, lutut lemas, jantung deg-degan, akhirnya saya klik “BATALKAN” saja dulu deh. Hati saya bilang, belum yakin. Saya tidak akan pernah tahu sebelumnya, bahwa bersitan hati sekilas ini akan mengubah hidup saya secara drastis dan fundamental.

Akhirnya saya memeriksa ulang kembali beberapa soal yang saya tandai sangat sulit atau rumusnya mentok, alias lupa sama sekali. Lalu ketemu satu soal barisan dan deret yang akhirnya saya tiba-tiba teringat rumusnya yg sempat ilang di kepala. Tiba-tiba rumusnya muncul gitu aja gak tahu kenapa. Benar-benar seperti ilham. Akhirnya saya ganti jawaban yang saya tahu insyaa Allah pasti benar. Tinggal 2 menit lagi, barulah saya selesaikan ujian.

Lalu setelah itu langsung muncul hasil skor TPA saya: 195. Entah harus senang atau sedih, karena posisi aman adalah 200. Haduh, satu soal lagi dan saya bisa bernapas lega! Jadi saya masih ada di zona bahaya saat itu. Meski saya di atas passing grade reguler dalam negeri 180, tapi passing grade luar negeri tentunya akan sedikit lebih tinggi (Saat ujian, belum diketahui berapa passing grade LN).

SOFT COMPETENCY.

Soft competency adalah soal tes kepribadian mirip tes kepribadian CPNS. Waktu pengerjaan adalah 30 menit dan jumlah soal adalah 60 soal pilihan ganda yang terdiri dari pilihan A-E. Dilihat dari durasi dan jumlah soal, teman-teman bisa mengerjakan satu soal maksimal 30 detik saja. Meski sangat bisa dikerjakan kurang dari itu. Tes Soft Competency tidak menjadi tolak ukur kelulusan, dan setiap pilihan jawaban ada nilainya dari 1-5. Jadi tidak ada jawaban benar dan salah.

Teman-teman mungkin bisa menjawab sesuai dengan kepribadian teman-teman sendiri. Namun, saat saya mengerjakan tes itu, dalam pikiran saya, saya berkomitmen untuk memperbaiki diri saja. Jadi setelah saya mengerjakan semua soal dalam waktu 20 menit. 10 menit saya kerjakan ulang beberapa soal, dengan landasan pemikiran bahwa saya sebagai pengambil kebijakan di pemerintah. Kebetulan saya emang bercita-cita duduk di posisi pemerintahan, jadi mungkin saya akan berpikir seperti itu kalau sudah menjadi pejabat publik.

Setelah selesai tes soft competency, nilai saya langsng keluar 270 dari maksimal 300. Wah, jauh lebih tinggi daripada soal TPA.

ON THE SPOT WRITING ESSAY

Setelah men-submit tes soft-competency, langsung dilanjutkan dengan Essay OTS. Waktu pengerjaan adalah 30 menit dengan jumlah kata sebaiknya 250 kata. Dan harus dalam bahasa Inggris untuk tujuan luar negeri, kecuali negara-negara Arab dan Timur Tengah boleh bahasa Indonesia karena komputer BKN belum disupport dengan keyboard bahasa Arab. Untuk tes berlangsung selama 30 menit dan mewajibkan menulis 250 kata, menurut saya pribadi, agak sulit ya, karena IELTS saja 250 kata dalam 40 menit saya masih sering keteteran.

Topiknya beragam, kebetulan waktu itu saya mendapatkan topik mengenai Tuberculosis. Saya dengar yang lain mendapatkan topik: nikah muda, dana desa, BPJS, Student loan, tenaga asing, pembuatan SIM dsb. Agak sedih sih, karena kalau bahasannya nikah muda, nulis 1000 kata pun saya akan sangat mengalir dengan banyak sekali argumen. Tapi topik TBC ini saya sangat awam. Semua argumen saya hanya berlandaskan poster mengenai TBC yang saya lihat di Poli Paru saat tes dahak dan rontgen TBC di rumah sakit (demi memenuhi persyaratan administrasi LPDP).

Lalu saya kerjain saja seadanya, menulis seadanya dan pengetahuan seadanya. Lalu saya submit esainya dan alhamdulillah menyelesaikan seluruh rangkaian tes SBK hari itu.

HARI H PASCA TES 



Setelah saya menyelesaikan seleksi tersebut, saya keluar ruangan dengan bernapas lega. Bukan lega karena yakin lulus, melainkan karena telah menyelesaikan seleksi itu. Nilai TPA dan soft competency seluruh peserta langsung dipajang di mading dan di layar projector segera setelah kita keluar ruangan. Untuk TPA, saya berada di rangking 30 dari 81 peserta  dengan nilai 195, dan untuk Soft Competency berada di rangking ke-7 dari 81 dengan nilai 270.  

Yang unik adalah: Ternyata nilai saya di penalaran dan logika sangatlah kecil, well, saya tidak belajar juga dan menganggap remeh soal ini. Sebuah kesalahan besar. Karena jika saya belajar konsepnya saja, saya bisa memahami yang dimaksud dalam soal. Nilai verbal saya standar, sebagaimana saya belajarnya juga standar dan biasa-biasa saja. Tapi nilai saya numerik adalah 70, alias saya benar 14 soal dari 15 soal. 

Kurang lebih hanya ada 5 orang dari 81 peserta yang nilai numeriknya sama atau lebih tinggi dari saya. Padahal bisa dibilang, mungkin sekitar setengah peserta di sana adalah anak latar belakang Sains dan IPTEK. Saya juga lihat teman saya yang S1 Fisika di Amerika, dia memperoleh nilai numerik yang sama dengan saya. Meski secara keseluruhan, nilai TPA-nya sangat tinggi, di atas 260. Saya merasa, sepertinya saya ternyata agak berlebihan belajar dan mengerjakan soal numerik ini, untuk bisa mendapat nilai setinggi itu, dan notabene sebagai orang  dengan latar belakang sosial. 

Sempat mengobrol dengan beberapa peserta yang lain, sebelum akhirnya mereka masuk ruang ujian untuk batch selanjutnya. Mereka juga agak kaget dengan nilai numerik saya. Meski sayang sekali, nilai penalaran saya kecil dan bikin saya berada di zona bahaya. Hal yang paling saya sesali sepanjang setelah SBK LPDP.

Hari itu saya langsung merasa lapar karena belum sarapan. Dan uang juga habis. Jadi saya menunggu orang tua untuk transfer dulu, dua jam di BKN segera setelahnya saya harus mengambil visa Kanada ke VFS Global. Sembari menunggu, saya merasakan angin sepoi-sepoi, menikmati kesendirian, ketenangan, dan kepasrahan....

SEMINGGU SETELAH SBK


25 Oktober 2018, akhirnya para peserta mendapatkan pengumuman SBK secara serentak. Dan alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Saya langsung loncat kegirangan bukan main di rumah saat itu. Setelah berbagi dengan grup LPDP LN di telegram, ternyata passing grade untuk SBK LPDP reguler tujuan luar negeri adalah 195. Lutut saya langsung lemas dan saya gak jadi girang lagi, jika satu soal saja salah, sudahlah wassalam. Saya jadi teringat, ketika saya sudah meng-klik “SELESAIKAN TES INI” padahal masih ada 5 menit lagi, dan saya memilih “BATALKAN” dan memeriksa kembali semua soalnya sampai nemu satu soal numerik yang rumusnya tiba-tiba terilham di kepala. Andaikan jika saya pilih tombol "YA". Sudahlah wassalam. Tidak lulus LPDP 2018.

Alhamdulillah juga, lulus seleksi substansi dan tepat beberapa waktu lalu, dinyatakan lulus kampus tujuan New York University dengan semua keterbatasan dan kekurangan yang ada. Terimakasih ya Allah. 

Dari pengalaman yang saya jabarkan tersebut, berikut TIPS-TIPS MENGHADAPI SELEKSI SBK yang saya rangkum,

TIPS- TIPS MENGHADAPI SELEKSI SBK LPDP

  1. Latihan soal CAT sebanyak-banyaknya dari buku-buku TPA BAPPENAS atau TPA CPNS yang banyak bertebaran di toko-toko buku. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh.
  2. Meski belum dipastikan lulus seleksi administrasi, sebaiknya teman-teman mulai belajar saja. Karena saya pribadi merasa, waktu yang ada untuk belajar setelah pengumuman seleksi administrasi ke seleksi SBK sangatlah singkat, jadi hasilnya pun tidak maksimal.
  3. Bergabung dengan grup grup online lalu belajar bersama di grup tersebut. Saya merekomendasikan grup LPDP LN di telegram yang dapat diakses dengan mengunjungi tautan berikut https://t.me/LPDPLN
  4. Ketemuan dengan teman-teman di grup online untuk belajar bersama, khususnya untuk soal TPA dan diskusi bareng.
  5. Untuk ketiga jenis tes SBK (Verbal, numerik, dan penalaran), jangan meremehkan satu pun jenis soal. Seperti saya meremehkan penalaran dan akibatnya sangatlah fatal. Nilai saya sangat kecil di penalaran sampai saya tidak mempercayainya. Menyadari saya tidak tahu konsep sama sekali.
  6. List berbagai kemungkinan topik Essay OTS dan persiapkan masing-masing esainya untuk satu topik dalam sebuah draft khusus. 
  7. Perbanyak membaca koran, menonton televisi, membaca berita hangat di Twitter, demi memperkuat dan memperkaya argumen yang dimiliki.
  8. Sebelum masuk ruangan ujian pastikan telah memenuhi hajat ke toilet, untuk buang air kecil maupun buang air besar.
  9. Penuhi sarapan terlebih dahulu meskipun sedikit. Karena ada salah satu teman saya yang maag nya kambuh saat melangsungkan SBK dan dia dipulangkan karena muntah-muntah. Sayang sekali, karena nilai numerik saya begitu tinggi, juga karena belajar dari dia.
  10. Tenanglah dan jangan cemas. Setiap kali cemas atau gugup melanda, tarik napas terlebih dahulu, berpikirlah dengan kepala yang dingin, jika butuh minum, maka minumlah, jika butuh ke WC, maka minta izin untuk ke WC. Sesulit apapun soal yang muncul, yakinkan dalam hati, bahwa dirimu akan baik-baik saja.
  11. Periksa kembali semua jawaban bahkan hingga detik-detik terakhir. Jangan tergoda untuk segera men-submit tes hanya karena yang lain telah menyelesaikannya.
  12. Banyak berdoa dan meminta doa dari orang tua. Karena ikhtiar hanyalah salah satu resep dari kesuksesan.



Saturday, April 6, 2019

Wawancara LPDP dengan Nilai Nyaris Sempurna, Bagaimana Caranya?


Banyak yang bertanya kenapa wawancara LPDP saya bisa mendapatkan nilai hampir sempurna, yaitu 792 dari 800. Disini ingin berbagi sedikit pengalaman dan asumsi saya bisa mendapatkan nilai setinggi itu (Dari pengalaman yang lain, katanya ini sangat tinggi sih hehe, sampai kalau gak ikut LGD kemungkinan saya bisa tetap lulus substansi). I know it is so lame to share this... Apalagi saya tidak tahu tolak ukurnya dan skema penilaiannya seperti. Tapi mudah-mudahan asumsi saya ini bermanfaat. Btw, insyaa Allah saya akan melanjutkan S2 di General Psychology New York University tahun 2019 ini dan sudah mendapatkan Letter of Acceptance.

Perlu diketahui juga, saya bukan seorang ahli dalam wawancara dan ini adalah satu-satunya wawancara resmi yang pernah saya lalui dalam hidup saya. Jadi ini murni asumsi pribadi saya mengenai apa yang saya rasa membuat sebuah wawancara bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Mudah-mudahan membantu bagi yang tertarik mengikuti wawancara LPDP ke depannya.


Mungkin teman-teman sudah sering dengar tips-tips wawancara pada umumnya, seperti memperhatikan body language, bersikap sopan dan bersahabat, menggunakan pakaian yang rapih, simulasi wawancara dsb. Kali ini saya akan coba sharing tips yang mungkin masih jarang dibagikan atau dituliskan dalam tips-tips wawancara pada umumnya. Dan berikut adalah tips-tips wawancara dari saya:

1. Jangan Menjawab Terlalu Normatif.

Teman-teman bisa bayangkan gak, pewawancara yang kalian hadapi itu mungkin sudah menghadapi puluhan peserta atau mungkin ratusan. Jawaban-jawaban normatif pasti diulang-diulang dalam setiap sesi wawancara dan itu membosankan. Jawaban normatif itu artinya jawaban dikembalikan kepada etika/aturan/norma/nilai yang sudah diketahui secara bersama. Seperti misalnya jika ditanya "Kenapa ingin melanjutkan sekolah S2 ke Inggris?" Lalu kamu menjawab "Saya ingin meningkatkan skill, menambah pengetahuan dan pengalaman, meningkatkan kebermanfaatan dsb.". Itu adalah jawaban normatif. Lebih baik menjawab dengan detil dan spesifik, misalnya mengenai riset yang ingin ditempuh dan kenapa universitas atau supervisor di universitas tersebut menjadi perfect match buat minat riset kamu. Dan ya kenapa itu secara spesifik dapat berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.

2. Data! Data! Data!

Disini aku mau share sesuatu yang juga mungkin banyak diabaikan oleh peserta LPDP saat wawancara, yaitu kurangnya data. Data itu sangat penting sebagai amunisi untuk kalian wawancara. Memiliki data juga termasuk mencerminkan kecerdasan dan kesiapan kamu sebagai calon penerima beasiswa LPDP. Misalnya apakah kamu tahu berita terbaru mengenai kontroversi Perda Syariah (pertanyaan seputar nasionalisme), atau pertanyaan mengenai kondisi bilateral hubungan Indonesia dengan negara tujuan (Indonesia dengan Swedia misalnya). Jangan sampai ketika ditanya, kita tidak tahu apa berbagai pertanyaan nasionalisme lainnya (organisasi separatisme, perda syariah, khilafah, komunisme, RUU ormas dsb) atau tidak tahu hubungan Indonesia dengan negara tujuan misalnya, pertanyaan seputar akademik seperti biaya studi, organisasi mahasiswa di kampus (islamic centre/komunitas Indonesia), penelitian profesor yang kamu tuju, urgensi jurusanmu di Indonesia dsb. Atau pertanyaan-pertanyaan umum mengenai LPDP, visi misi LPDP, empat nilai LPDP, dsb. Amunisi-amunisi seperti ini harus disiapkan jauh-jauh hari, segera setelah menyelesaikan tahap seleksi sebelumnya (Seleksi Berbasis Komputer).

3. Jawablah Sediplomatis dan Seobjektif Mungkin.

Bias pewawancara itu sangat mungkin terjadi, khususnya di iklim politik saat artikel ini ditulis dan saat si penulis melakukan wawancara. Jadi berusahalah untuk menjawab sediplomatis dan seobjektif mungkin! Karena kamu tidak tahu si pewawancara berpihak pada partai mana atau bahkan Paslon Presiden yang mana atau memiliki pandangan seperti apa pada satu ideologi. Lanjut mengenai Perda Syariah, ya. Kalau saya ditanya apakah setuju atau tidak dengan Perda Syariah, saya akan menjawab seperti ini:

"Dalam UU kita tidak pernah ada istilah Perda Syariah, Pak. Yang ada adalah Perda Provinsi, Perda Kabupaten Kota, Perda daerah istimewa dan Qanun untuk Aceh. Jadi istilah perda syariah itu tidak ada di UU. Dan dalam setiap penyusunan UU, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, dan Peraturan Daerah dilandaskan pada dua hal: Pancasila dan Konstitusi UUD 1945. Dimana sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pasal 29 ayat 1, Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara untuk Perda dilihat juga landasan sosiologis, sehingga sebuah perda itu disusun disesuaikan dengan kondisi sosial yang berlaku di masyarakat lokal. Selain itu, 'memajukan kesejahteraan umum' dalam pembukaan UUD 1945 ini juga dibedah lagi per-daerahnya, seringkali untuk memajukan kesejahteraan itu memiliki nilai dan norma yang sama dengan nilai-nilai agama, seperti membatasi alkohol untuk mencegah kejahatan."

Disini, kita jangan terjebak dengan pertanyaan setuju atau tidak setuju dengan perda syariah. Melainkan memperlihatkan pengetahuan kita mengenai hal tersebut dan memposisikan diri kita secara objektif. Ingat, jangan terlalu terjebak pada pragmatisme juga.

4. Jangan Baper.

Baiklah, seringkali pewawancara mungkin bertanya hal-hal yang menurutmu tidak patut atau memojokkanmu dari pengalamanmu atau argumentasi yang kamu miliki. Terkadang pewawancara bertanya mengenai hal-hal berbau SARA, memasuki ranah perdebatan, berkata dengan nada mengejek, bahkan mempertanyakan paslon presiden pilihanmu. Aku sih merasa dalam satu sesi wawancara tersebut, satu pewawancara memang ditugaskan untuk nyinyir terus. Pertanyaan seperti ini biasanya yang dinilah bukanlah isi dari jawabanmu, melainkan sikap kamu ketika mendapati pertanyaan itu. Apakah kamu baperan, marah, tersinggung, menangis, dsb. Karena kamu akan belajar di luar negeri dan negara akan berinvestasi ke dirimu, mereka mungkin perlu tahu apakah mental kamu cukup kuat atau tidak. Karena misalnya, konflik SARA di Amerika bisa lebih diskriminatif daripada di Indonesia. Kalau kamu langsung marah ditanya mengenai SARA saat wawancara LPDP, saat di luar negeri bisa jadi kamu lebih tidak siap jika dituduh sebagai teroris karena mengenakan jilbab.

Kalau bisa, ubah setiap pertanyaan sebagai ajang bagimu untuk semakin menunjukkan kualifikasi dan kualitas diri. Misalnya, kemarin saya mendapatkan sindiran seperti ini "Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.". Saat itu saya terdiam, sekali lagi, jangan terjebak dengan pragmatisme dengan menolak mentah-mentah tanpa pengetahuan. Justru perlihatkan pengetahuanmu terkait hal itu. Jadi saya berkata "Saya tidak perlu menjelaskan diri saya sebagai feminis, pak.". Dalam hati saya, karena Kartini adalah feminis tanpa lahir dari teori feminisme. Feminisme itu juga nilai yang seringkali kita implementasikan tanpa kita sadari.

Ini jawaban saya: “Karena feminis itu sendiri berbeda-beda pandangan tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika didudukkan secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi mungkin definisi feminisme yang sekarang implementasinya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam. Saya hanya menolak sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak mendefinisikan segala sesuatu yang bertentangan itu sebagai feminisme secara keseluruhan."

Lalu si pewawancara yang tadi menyindir saya mengangguk-angguk.

5. Mampu Memasuki 'Titik Bahaya' Dengan Tahu Apa yang Kau Bicarakan!

Seringkali, seorang peserta berusaha menghindari rentetan pertanyaan dengan menjawab pendek-pendek atau seperlunya saja. Karena jika mereka menjawabnya panjang-panjang, si pewawancara malah tertarik pada satu aspek yang sebenarnya tidak benar-benar peserta itu kuasai. Jadi akhirnya, mereka berusaha menghindari jawaban yang panjang dan detil untuk menghindari 'titik bahaya'. Paham kan maksudnya? Di saat bersamaan, ini akan membosankan bagi si pewawancara karena tidak ada lagi diskusi dan mereka tidak bisa menggalimu lebih jauh. Hal ini dapat diatasi kalau kamu paham dan tahu apa yang kamu bicarakan secara keseluruhan.

Misalnya, ketika saya ditanya apakah saya yakin saya akan sukses dan siap dengan dunia penelitian dan publikasi. Saya tidak menjawab, "Ya bu, saya yakin" begitu saja. Tapi saya menjelaskan lebih jauh, "Ya bu, saya yakin. Meskipun saya masih lulusan S1, namun saya sudah cukup familiar dengan dunia penelitian dan publikasi, seperti H-Index, APC, Open Access Journals, dan sistem bibliometrik di Indonesia." Dan setelah itu ditanya lebih jauh mengenai jurnal terakreditasi dan ISSN, tapi karena saya tahu apa yang saya bicarakan sebelumnya, jadi saya tidak takut memasuki diskusi yang lebih dalam lagi.

Saya bergabung dalam grup LPDP LN di telegram, dan sebagian besar peserta banyak mengeluhkan diri mereka yang menjawab terlalu panjang lalu si pewawancara malah terartik pada aspek yang tidak dikuasai si peserta. Selanjutnya, hal itu malah berusaha digali terus oleh si pewawancara sampai akhir dan peserta terjebak jadi pada 'titik bahaya'. Akhirnya peserta yang lain berkata, "Kalau gitu tips LPDP jawab pendek-pendek aja...". Sekali lagi karena tulisan ini asumsi saya saja, menurut saya lebih baik jika menjawab panjang, detil, dan komprehensif tapi mengetahui apa yang dibicarakan. Karena kalau saya sendiri jadi pewawancara, saya pasti bosan banget kalau tidak bisa menggali peserta lebih jauh untuk tahu kualifikasi mereka yang sebenarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kuasai' titik bahaya' mu apa saja, buat list semua pertanyaan yang mungkin muncul namun kamu tidak siap untuk jawab, dan persiapakan jawaban untuk hal-hal tersebut. Dua hari sebelum wawancara, titik bahaya saya adalah faktor akademik, "Kenapa harus melanjutkan sekolah ke LN dan bukan DN, kenapa harus NYU, kalau Psikologi kan lebih relevan belajar di Indonesia, apa urgensinya belajar di NYU untuk diterapkan di Indonesia dsb." Jadi hal itu saya pelajari habis-habisan, saya melakukan riset, menggali lebih jauh, sampai saya menemukan jawaban yang saya cari.

6. Kalimat Mujarab Untuk Dikatakan

Saya merasa kalimat ini mujarab sekali dan penting untuk dikatakan. "Baiklah, Pak Bu... Sebelumnya saya memahami bahwa penerima beasiswa ini akan menggunakan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat demi melanjutkan studi lebih tinggi. Bagaimanpun saya akan berusaha untuk dapat mengembalikan nilai tambah dari beasiswa yang diberikan LPDP untuk saya kembalikan kepada masyarakat Indonesia.”

Kalimat ini menyiratkan bahwa kalian tidak hanya ada di posisi pelamar beasiswa, namun kalian juga memahami berada di posisi si pewawancara. Bayangkan, si pewawancara akan memberikan kalian uang banyak, miliaran rupiah, dan tentunya ssebaiknya kalian bisa mengerti ada di posisi mereka. Cobalah katakan "Saya mengerti/memahami bahwa ini akan menggunakan pajak rakyat" jadi kalian sadar, itu bukan uang kalian. Setelah itu, yakinkan bahwa kalian adalah kandidat yang tepat dan investasi yang baik bagi negara, "Saya akan berusaha mengembalikan nilai tambah dari beasiswa ini kepada Indonesia.". Seperti, kalian berkata, Invest in me and I will give you the best of me.

7. Aktivitas Sosial (Non-akademik) Itu Penting

Sehari sebelum saya wawancara LPDP, seorang awardee LPDP DN yang juga kakak kelas saya berkata. "Tahu gak Mar, kalau pewawancara nanya banyak banget tentang aktivitas sosial kamu, itu artinya kamu bakalan lulus. Percaya deh." Dan memang benar sih, pewawancara kebetulan bertanya banyak sekali tentang aktivitas sosial yang kulakukan untuk bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana. Jadi teman-teman bisa memperkaya aktivitas dari sekarang atau mencoba menuliskan kontribusi sosial yang dilakukan dalam esai dan CV.

Transkrip wawancara ada di link berikut ya: 

Sementara berikut adalah esai yang saya tuliskan 

Bagaimana jika tidak memiliki banyak kontribusi sosial dan organisasi (non-akademik)? Kalau begitu amunisinya ada pada aspek akademik, seperti penelitian, publikasi, prestasi dsb. Maka aspek itu yang perlu ditonjolkan dan dipersiapkan! Tapi jika memiliki lebih banyak amunisi (akademik dan non-akademik) itu akan jauh lebih baik lagi.

8. Mendoakan Kebaikan Pada Pewawancara

Ini mungkin untuk teman-teman Muslim ya. Biasanya kita berdoa untuk diri kita sendiri, agar kita pribadi lulus dan lain sebagainya. Kalau saya justru lebih banyak mendoakan si pewawancaranya, hehe. Saya berdoa agar jika ada kebaikan yang ada di dalam diri saya, kebaikan itu dapat dikirimkan kepada pewawancara saya. Sehingga mereka nantinya akan mengembalikan kebaikan itu berupa hasil wawancara yang baik juga. Ustadz Adi Hidayat sendiri juga pernah berkata, sebelum wawancara beasiswa, beliau mendokan si pewawancara dan mengirimkan Al-fatihah untuk mereka di sepertiga malam terakhir. Saya pernah kasih tips ini pada seorang peserta, dan dia berterimakasih karena akhirnya wawancara dia berlalu dengan baik.

Sekian tips dari saya bagaimana bisa mendapatkan nilai wawancara LPDP nyaris sempurna. Hehe. Tentunya banyak sekali tips-tips lain yang lebih mendasar, seperti berpakaian rapih, menjawab dengan tutur kata yang sopan, bahasa tubuh yang baik, tapi tulisan itu sudah pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya di blog yang bisa dikunjungi di: Tips Wawancar LPDP http://maryam-qonita.blogspot.com/2019/01/tips-wawancara-lpdp-2018.html

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb