Judul
tulisan ini mungkin cukup jarang dan aneh, karena ketika saya searching
di Google “Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional”, tidak ada sama
sekali artikel yang menuliskan postingan itu. Sebagian besar artikel
yang berkaitan adalah “Cara Menjadi Pembicara Handal” atau “Cara Menjadi
Pembicara Seminar yang Baik.”
Well, karena ini baru, saya ingin berbagi
pengalaman saya dan saya merasa teman-teman juga bisa menjadi pembicara
di forum-forum internasional. Bukan dengan konferensi self-funded,
bahkan fully funded sehingga penyelenggara membiayai pesawat, hotel dan
makanmu demi beberapa menit kau berpidato di depan ratusan bule. Mau gak
mau? Meski tulisan ini sepenuhnya hasil pengamatan pengalaman pribadi
dan teman-teman saya, mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.

Januari
2016 adalah pertama kalinya saya menjadi seseorang yang berbicara di
depan audiens bule; berbicara dengan bahasa Inggris dalam sebuah acara
internasional ICFP 2016 di Bali Nusa Dua Convention Centre (80% dari
3000 audiens adalah bule, diantaranya adalah para stakeholders bahkan
Pak Presiden Jokowi & Pak Habibie). Saat itu saya mahasiswa tingkat 2
Psikologi UNJ. Dan konferensi itu jauh lebih bergengsi daripada yang
saya pikirkan sebelumnya. Konferensi tersebut fully funded: saya
mendapatkan tiket pesawat PP Garuda Indonesia, kamar VIP hotel bintang 5
termahal di Bali selama 6 malam yg jendelanya langsung menghadap pantai
Nusa Dua, dan juga uang saku sebesar 2,5 juta rupiah.
Setelahnya,
saya menjadi lebih mudah mendapat beberapa channel untuk menjadi
pembicara internasional. Mulai dari unjuk ide di Forum Pemuda PBB New
York USA; memberikan sambutan di sebuah Forum inovasi se-Asia Pasific
(IYFI) di Suntec Singapura; bahkan ketika saya tidak apply apapun namun
di email mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Rapat 150 Peneliti
Asia dan seluruh pesertanya adalah S3 (Ph.D atau Dr, saya pembicaranya
malah S1).
November 2018 insyaa Allah saya menjadi presenter ICFP
2018 di Kigali, Rwanda. Desember 2018 juga saya menjadi pemateri
sekaligus juri penerima peserta OpenCon 2018 di Toronto, Kanada.
Semuanya dengan travel scholarship/fully funded (tiket pesawat, hotel,
makan dibiayai) kecuali Forum PBB di New York itu dengan sponsor.
Alhamdulillahnya, itu pun dibantu pemerintah hingga 40 juta rupiah.
Kalau teman-teman bilang saya pasti pintar dengan IQ tinggi? Saya jawab tidak.
Saat
SMA saya selalu berada di peringkat-peringkat terakhir di kelas, nilai
saya sering nol, dan seringkali terancam tidak naik kelas. Saya juga
sempat menunda satu tahun sebelum bisa berkuliah karena saya tak lulus
SNMPTN 2012. Kuliah tingkat satu, saya mahasiswa luntang-lantung dengan
mengikuti lima organisasi sekaligus. Lalu seringkali saya gugur di medan
perjalanan, hehe. (Baca tulisan saya sebelumnya: Hikmah Peringkat Terakhir)
Meski begitu, saya merasa jalan masa depan
sebenarnya terpampang lebar di depan mata saya. Mungkin tidak mudah dan
mungkin masih panjang. Tapi saya tahu ke arah mana saya akan berjalan
agar menginspirasi lebih banyak orang lain. Well, dengan cara saya
sendiri.
Lalu ini beberapa tips ala Maryam Qonita, untuk
kamu-kamu bisa sering jadi pembicara di forum-forum bergengsi tingkat
internasional di Luar Negeri.
.
Percayalah, Setiap Kesempatan Kecil Mengubah Hidupmu. Maka Lakukanlah Dengan Sungguh-Sungguh dan Sepenuh Hati.
Kesempatan
kecil yang mengubah hidup saya adalah ketika saya menjadi volunteer
dalam program PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak-Program Keluarga
Harapan) bersama BKKBN, P2TP2A dan juga Dinas Sosial tahun 2015. Waktu
itu saya membimbing 100 anak-anak putus sekolah untuk kembali meniti
impian mereka. Sebagai gantinya, saya banyak mendapat curhat dari
anak-anak yang putus sekolah tersebut, mulai dari jadi tukang batu,
buruh cuci atau harus menikah dengan pria yang 10 tahun lebih tua. (Baca tulisan saya sebelumnya: Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup)
Tulisan
kisah-kisah mereka itu yang saya kirimkan dalam aplikasi ICFP 2016. Dan
pada akhirnya, pengalaman itu mengubah hidup saya secara drastis. Bukan
saya yang mengubah hidup 100 anak itu, tapi mereka yang mengubah hidup
saya. Kita tak pernah tahu, mungkin saja dunia ingin mengetahui kisah
mereka, kan?
| Maggie disamping kiri saya |
Salah satu teman saya saat ICFP 2016, Maggie,
bahkan dinominasikan menjadi Sekjen PBB Utusan Pemuda (UN Secretary
General envoy on Youth) karena pidatonya tentang sahabatnya yang
dinikahi di usia dini. Kebetulan pidatonya jago bikin orang nangis dan
emosional. Teman saya itu, yang sebelumnya belum pernah ke LN, sekarang
kerjaannya keliling dunia melulu menemani petinggi PBB, Melinda Gates,
dan para pemimpin dunia lainnya mulai dari blusukan di
pedalaman-pedalaman Afrika hingga memimpin rapat pemimpin dunia di
Washington DC.
Coba, lihatlah sekeliling. Tidak harus jauh-jauh
mencakup seluruh Indonesia. Lihatlah masalah kelaparan, pendidikan,
kesehatan, ketimpangan sosial, ekonomi, dsb yang ada di masyarakat
sekelilingmu. Analisislah permasalahan tersebut dengan pisau analis yang
tajam. Jadilah bagian dari solusi dan perubahan menuju yang lebih baik.
Lakukanlah dengan sepenuh hati. Remember: Think globally, act locally.

Percayalah,
para applicants yang diterima dalam konferensi fully funded tidak
membeberkan data-data jumlah besar atau sejarah umum yang para juri
sudah tahu. Atau mungkin mereka menuliskannya sedikit tapi sebenarnya
para juri menunggu kontribusi nyata di masyarakat yang langsung terasa
manfaatnya. Jika kau apply untuk menjadi speaker, berikanlah juri ‘BOOM’
sesautu yang juga akan menarik hadirin untuk menyimak pidatomu. Dan
sesuatu yang menarik hati, ditulis dari hati.
.
Bergabung dalam Sebuah Gerakan/Komunitas/Organisasi Internasional Yang Memiliki Visi Universal.
Untuk
bisa bergabung dalam berbagai organisasi internasional yang memiliki
visi universal, kalian bisa banyak searching di Google, banyak membaca
dan juga bertanya-tanya pada mereka yang memiliki afiliasi pada satu
organisasi hingga membuatnya diundang kesana kemari untuk bicara di
depan forum internasional.

Kalau saya, saya bergabung dalam
OpenCon (www.opencon2017.org) yang merupakan komunitas penggerak yang
mempromosikan pentingnya keterbukaan informasi, mengenai pendidikan,
penelitian atau data pemerintah. Aplikasi saya ditolak pertama kalinya,
tapi saya berkata bahwa saya ingin ikut berkontribusi dalam gerakan ini
dan ikut mempromosikannya di Indonesia. Selama 2 tahun saya hanya
menjadi ambassador di Indonesia. Karena tim internal OpenCon akhirnya
mengetahui kinerja saya sebagai ambassador, akhirnya saya diangkat
menjadi tim internal bahkan juri penerima aplikasi pendaftar di seluruh
dunia. Setelahnya saya diundang bicara di Nepal dan Kanada. (Baca tulisan sebelumnya: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia)
Di
antarnya juga salah satu teman saya dari India Kanika Joshi SDSN Youth,
dimana dia biasa diundang menjadi pemateri di berbagai event mengenai 17
Sustainable Development Goals. Karena dia bergabung dalam organisasi
pemuda PBB yang resmi menangani 17 SDGs yaitu SDSN Youth. Situs SDSN
youth sendiri membuka Open Recruitment setiap tahunnya untuk satu
ambassador tiap negara.
Selain SDSN Youth, yang dekat dengan saya
ada juga Women Deliver dan IYAFP. Dimana teman-teman saya yang
tergabung dalam salah satu atau keduanya biasa keliling dunia untuk
memimpin rapat para pemimpin dunia di WHO atau di John Hopkins
University. Sebagian yang lain menjadi pembicara dalam konferensi high
level meeting dengan 4000 peserta. Seperti ICFP atau Women Deliver
Conference. Mereka komunitas anak muda yang biasa bicara di depan
presiden, pejabat PBB, dan petinggi-petinggi dunia untuk bicara masalah
kesehatan dan kesetaraan gender. Di Korea sempat ada gerakan twitter
dengan hashtag #MeToo sampai trending topik. Kebetulan, penggagasnya
adalah salah satu teman saya dari Women Deliver.
Untuk mencari
organisasi yang pas dengan kalian? Bisa kunjungi situs
www.opportunitydesk.org atau www.youthop.com atau www.oyaop.com. Setelah
itu klik bagian Fellowship. Itu hanyalah sebagian database, sebagian
besar fellowship informasinya berpencar. Jadi memang harus sering-sering
googling berfaedah. Kalau kalian tidak tahu harus mulai dari mana,
mulailah dari passion kalian.

Mengembangkan Kemampuan Menulis Esai/Paper/Artikel
Sebagai
orang yang mewakilkan Indonesia bicara masalah kesehatan dan
kesejahteraan di Forum PBB New York City, demi Allah, saya telah bertemu
ribuan orang yang jauh lebih berkontribusi di bidang kesehatan daripada
saya. Para aktivis sosial, pegawai dinas, anggota LSM, perawat dan
dokter di ranah akar rumput. Perbedaannya saya menuliskan pengalaman
saya dalam sebuah esai berbahasa Inggris sebagai aplikasi pendaftaran
sebuah konferensi internasional di luar negeri. Karena mungkin saja,
dunia ingin mengetahuinya.
Jadi kembangkanlah kemampuan menulis
esai, paper atau artikel dalam bahasa Inggris. Banyak membaca
tulisan-tulisan berbahasa Inggris di Internet juga bisa membantu. Kalian
juga bisa mengecek grammar error dengan grammarly. Untuk konferensi
akademik, berarti perlu menulis sebuah artikel penelitian yang datanya
diambil dan diolah secara ilmiah. Analisislah permasalah dengan pisau
analisis yang tajam. Lalu berikanlah solusi yang sustainable,
implementable, dan unik.
.
Mencari Role-Model juga Mentor

Salah
satu role-model saya untuk menjadi pemateri dalam berbagai forum
internasional adalah Professor Richard Javad Heydarian asal Filipina.
Dimana hampir setiap pekan dia selalu keluar negeri untuk diminta
menjadi pembicara konferensi-konferensi besar atau mengisi kuliah di
Harvard, Oxford, Stanford, Yale, Cambridge dan lain sebagainya.
Seringkali juga menjadi narasumber di BBC, CNN dan The Newyork Times.
Beliau telah menulis banyak sekali buku mengenai politik luar negeri
Asia dan juga Timur Tengah. BTW, mendengar istilah Professor,
kebayangnya pria tua berambut putih kan? Tapi... Prof Richard ini adalah
seorang pria berusia 32 tahun! Dan ya gantengnya kayak di
drama-drama... wkwk.

Kalau kalian lihat instagram beliau
www.instagram.com/richeydarian hampir tiap postingan selalu di berbeda
negara. Hari ini Prof Richard di Indonesia, besok lusanya sudah mengisi
seminar di Amerika. Dan dia jarang latepost setahu saya, karena beberapa
fotonya saya yang ambil. Hihihi. Kayaknya beliau tinggal di pesawat
terbang deh.

Untuk mentor, saya dekat dengan Joseph McArthur
asisten direktur The Right to Research Coalition dan Nick Shockey
directur SPARC (Scholarly Publication Association and Resources
Coalition). Saya dekat dengan keduanya semenjak 2015 dan kebetulan kami
rapat tiap pekan melalui UberConference untuk mengadakan sebuah
konferensi di Toronto, Kanada. Dan dalam banyak hal seperti beasiswa
atau S2, saya seringkali meminta rekomendasi dari Nick atau Joe.
Kalau
temen-temen bertanya kepada saya bagaimana caranya mendapat mentor?
Tidak ada cara khusus. Tapi, jika teman-teman sudah bergabung dalam
sebuah event atau komunitas, maka jadilah bersemangat! Biasanya dalam
konferensi besar seperti ICFP, ada sesi mentorship dan kita bisa
dipasangkan dengan orang yang jauh lebih berpengalaman. Satu mentor satu
mentee. Dan keep in touch. Jadilah seseorang yang mereka dapat
melihatmu bahwa kau akan sukses di masa depan.
.
Networking dan Membangun Kepercayaan
Networking itu perlu banget. Jika kalian menghadiri sebuah event dan kalian masuk dalam sebuah grup whatsapp, jangan keluar dari grup whatsapp tersebut. Karena seringkali kesempatan-kesempatan berharga disebar secara terbatas antar kelompok. ICFP 2013, ICFP 2016 dan juga Women Deliver Conference kusadari kalau ternyata anak-anak muda yang menjadi moderator atau young speakernya yaaa... mereka lagi mereka lagi!
Itu juga ketika saya bergabung dalam OpenCon. Ternyata setelah bertemu langsung dengan komunitas OpenCon di Asia, mereka memberikan foto-foto OpenCon 2015, OpenCon 2016, dan OpenCon 2017 yang diadakan di Belgia, Jerman dan Washington DC ternyata pesertanya itu lagi itu lagi. Salah satu kawan baik saya dari India bernama Vrushali berkata: “Most participants I meet here (Nepal), I already met before in Washington DC and Germany.”.
Eits, jangan minder dulu guys. Karena selalu ada slot untuk orang baru dan ide baru. Tapi jangan heran, jika kalian telah memasuki sebuah konferensi yang merujuk pada satu bidang khusus, dan ternyata 50% peserta atau pemateri sudah saling mengenal satu sama lain meski berbeda negara.
Mengembangan Sebuah Ide/Inovasi/Produk Baru untuk menangani 17 SDGs
Ideas
bring you places. Buatlah sebuah inovasi, produk, atau bisnis yang bisa
menyelesaikan satu dari tujuh belas permasalahan SDGs. Karena banyak
sekali kesempatan-kesempatan yang menyaratkan sebuah ide inovasi baru
setiap kali kita mengisi formulir pendaftaran. Misalnya, sebuah startup
yang fokusnya pada SDG3 yang merekam riwayat medis seseorang sehingga
setiap kali orang tersebut berkunjung ke dokter, tinggal melihat rekam
jejak penyakit atau riwayat kunjungan medisnya dsb.
Misalnya
juga program UNESCO dan UNFAO yang mengadakan sebuah kompetisi berjudul
World Food Programme bagi para pendiri startup yang dapat menyelesaikan
permasalahan kelaparan di dunia. Ide-ide inovasi tersebut sangat
berharga bagi kita dan bisa jadi tiket kita untuk keliling dunia. Karena
satu ide yang berharga, percayalah seluruh dunia ingin mengetahuinya.
.
Googling Berfaedah
Apa
yang biasanya kalian lakukan jika internet? Kemungkinan sebagian besar
waktu yang kita gunakan di internet biasanya untuk media sosial seperti
facebook, twitter atau instagram bukan? Tidak masalah menurut saya sih
untuk bermain sosmed. Yang jadi masalah ketika seseorang sudah menjadi
produk dari sosial media.
Daripada menghabiskan waktu untuk
sosial media, lebih baik cari di google misalnya “Apply to speak” lalu
mengatur postingan dalam rentang waktu terbaru. Biasanya muncul beberapa
kesempatan untuk bicara di depan umum di luar negeri yang sangat
bergengsi. Termasuk di antaranya adalah kesempatan di TEDx. Atau juga
googling “Fellowship 2018” atau “Travel Grant” dsb.
Ratusan orang
banyak yang menghubungi saya lewat whatsapp ataupun message Facebook.
Banyak dari mereka menghubungi saya meminta alamat atau email kemenpora,
dikti, atau perusahaan-perusahaan untuk dikirimi proposal. Banyak juga
yang menanyakan ke saya cara membuat paspor atau visa. Well, please,
Inilah kenapa Indonesia miskin membaca. Sebagian besar dari
orang-orangnya malas mencari informasi itu sendiri dan lebih suka cara
mudah dengan bertanya pada yang lebih berpengalaman.
Sebelumnya
saya Googling-in buat mereka karena saya pernah ada di posisi “tidak
tahu harus mulai dari mana” sama seperti mereka, lama kelamaan saya
menyadari tak bisa membiarkan orang-orang ini untuk terus-terusan
bermental odol. At least saya menuliskan postingan ini untuk berbagi
pengalaman sekaligus cara menjadi pembicara di forum internasional.
Di antara situs-situs yang bermanfaat juga: Opportunitydesk.org, youthop.com, oyaop.com, aseanop.com dan juga conferencealerts.com.
.
Mengasah Kemampuan Berbicara Dalam Bahasa Inggris

Ini
juga penting sih. Namanya juga berbicara di depan bule, tentunya bicara
dalam bahasa Inggris. Seringkali, mengirimkan video speaking juga
diperlukan dalam seleksi menjadi pembicara. Mengirimkan video berbicara
dalam bahasa Inggris juga salah satu syarat saya ikut ICFP 2016 dan juga
Merit 360 Forum PBB di New York City.
Apakah bahasa Inggris
saya sudah mahir? Well, tidak begitu sih. Bahasa Inggris saya justru
dilatih ketika berinteraksi dengan teman-teman bule dalam
konferensi-konferensi tersebut. Tapi minimal kuasailah basic english
dimana kau bisa mengungkapkan semua ide yang kau maksud meski dengan
kosakata sederhana. Banyak-banyaklah mix antara subjek, predikat dan
keterangan.
Begini, saya berani bertaruh bahwa pembaca tulisan
ini telah menguasai minimal 10 subjek bahasa Inggris, 10 predikat, dan
10 keterangan. Jika di-mix, 10x10x10 = 1000. Itu artinya Anda sudah
dapat menguasai 1000 kalimat bahasa Inggris! Tinggal bagaimana seseorang
sering-sering menggunakan bahasa Inggris hingga tidak lagi terasa kaku
di lidahnya. Bukan bagaimana menguasai jutaan kosakata namun tidak
pernah menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
.
Menjadi Populer
Well,
karena saya bukan selebgram dan juga bukan artis atau youtuber, tapi
cara ini mungkin efektif biar kalian bisa dapat kesempatan diundang di
forum-forum Internasional. Misalnya Gita Savitri yang diundang bicara di
Turki dalam sebuah talkshow “Youtube Gangs” bersama para youtuber dari
berbagai negara lainnya. Bisa juga menjadi seorang artis seperti Tasya
Kamila mewakilkan pemuda Indonesia dalam ECOSOC Forum di PBB, New York.
.
Menjadi Founder atau CEO dari Sebuah Organisasi Profit/NonProfit
Bukan
hanya bergabung dalam sebuah komunitas internasional dengan visi
universal, bisa juga kalian menjadi founder dari organisasi
lokal/nasional/atau bahkan internasional. Karena seringkali, jika kalian
ingin menjadi breakout speaker dan bicara dalam suatu kasus, kalian
harus menjadi the most stand out dalam bidang itu. Misalnya, dalam
OpenCon, meski aku bagian dari tim OpenCon, jika harus pitch ide ini di
TED/TEDx, tentunya orang itu yang menjadi pembicara adalah mentorku Nick
Shockey.
Seringkali juga dalam berbagai aplikasi konferensi
non-akademik seperti Youth Assembly, dalam aplikasi esainya diminta
mengenai kontribusi dalam organisasi profit/nonprofit yang berkaitan
dengan 17 SDGs which will be great if you are the founder. Juga dalam
berbagai high level forum internasional, syarat minimum aplikasinya
adalah founder atau CEO yang bergerak dalam bidang tertentu yang sesuai
dengan penyelenggara (misal bisnis, pendidikan, kesehatan, dsb).
.
Menulis Buku Best Seller
Tulislah
sebuah buku best seller yang mungkin buku itu memberikan manfaat hingga
dunia ingin membacanya. Bisa buku fiksi maupun non fiksi. Kategori
fiksi biasanya memiliki nilai moral-moral kemanusiaan atau menyoroti
masalah pendidikan. Contohnya Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Negeri 5
Menara Ahmad Fuadi. Untuk kategori non-fiksi misalnya buku “The Rise
of Duterte” atau “How Capitalisme Failed Arab World” karangan Prof
Richard Heydarian. Hehe. Dimana bedah bukunya seringkali menjadi kuliah
khusus di berbagai universitas terkemuka dunia seperti Harvard atau
Stanford.
.
Apply Konferensi Self-funded Lalu Mengajukan Sponsor
 |
| Merit 360 adalah program self-funded |
Konferensi
fully funded memang seleksinya sangatlah ketat. Ibarat dari 5000
pendaftar, bisa jadi yang diterima hanya 10-30 orang. Selain itu ada
pula aplikasi konferensi self-funded. Konferensi buaaanyak banget, udah
kayak kacang goreng, dengan biaya yang menguras kantong. Maka dari itu:
pilihlah konferensi yang memang benar-benar bergengsi dan layak
diperjuangkan. I’m serious. Kalian takkan mau melihat orang tua mengeluh
karena ditagih utang sana-sini kan untuk sekedar selembar sertifikat
konferensi yang sebenarnya tidak membawa perubahan apapun dalam hidup
kalian?
Dalam bahasa blak-blakannya, penyelenggara konferensi dan
program internasional biasanya memanfaatkan psikologis pelajar yang
belum pernah keluar negeri untuk dijadikan bisnis. Mungkin normal jika
biaya program tidak terlalu mahal, tapi pernah ada yang curhat ke saya
untuk mengikuti program 2 minggu ke UK dengan biaya program saja 30 juta
rupiah. Belum tiket pesawat dan visa. So please be careful guys.
Merit 360 adalah program self-funded dengan biaya program hingga 10 juta rupiah. Tapi worth it karena termasuk 2 minggu biaya akomodasi dan makan. (Baca tulisan saya sebelumnya: Pengalaman Unjuk Ide di PBB) Kalau saya sendiri misalnya nih bertahan hidup di NYC, sehari bisa habis 1 juta rupiah. Alhamdulillahnya pemerintah memberikan sponsorship total 40 juta rupiah ( Baca: Tips Mendapatkan Sponsor keluar Negeri)
Salah
satu program self-funded yang tidak melakukan komersialisasi pendidikan
menurut saya adalah Youth Assembly. Bayangin aja, tempatnya di PBB New
York di General Assembly Hallnya, mendapat kesempatan bicara di depan di
kursi nomor satu dunia, dan biaya programnya hanya 150 dolar!
.
Mengadakan Konferensi Sendiri dan Menjadikan Diri Sendiri Pembicara
 |
| Saya bicara saat IYFI |
Mengadakan
konferensi internasional sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit. Itulah
yang saya lakukan bersama teman-teman di EdConex. Saya project leader
IYFI 2017 di Singapura dan waktu itu saya memberikan talk di depan para
peserta se-Asia Pasific. Yang alhamdulillah IYFI 2017 sukses
diselenggarakan di Suntec, Singapore.
Jika kalian pernah membuat
sebuah event di Indonesia, kalian juga bisa bikin event di luar negeri
dengan peserta luar negeri. Bedanya: kontak sewa gedung di LN dan juga
promosi iklan internasional. Just that. Tinggal kontak hotel, penyedia
sewa ruangan convention centre, atau pihak universitas untuk sewa
ruangan. Selanjutnya kontak potential speaker yang kemungkinan saking
mahal dan suksesnya speaker tersebut, dia tak mau dibayar. Kalau dia
dibayar, justru akan menghinanya (Bahkan 10 juta rupiahpun baginya
kecil). Seperti co-founder Facebook misalnya? Atau CEO Perusahaan? Untuk
menarik peserta, bisa melakukan iklan di Oyaop.com, opportunitydesk.org
atau YouthOp.com.
Doa Orang Tua
Doa orang tua adalah hal
terpenting yang menemani kalian selama dalam perjalanan menuju mimpi
kalian. Berhala itu ada dua, yaitu berhala hardware dan berhala
software. Dimana seringkali kita tidak sadar bahwa kesuksesan dan
keberhasilan kita disandarkan pada 2 hal itu.
Berhala hardware
misalnya adalah uang. Kalau kita tidak punya uang, itu artinya kita
tidak bisa sukses, tidak bisa masuk sekolah bergengsi, ikut program
bergengsi dan sebagainya. Sementara berhala software itu adalah ikhtiar
kita sendiri. Dimana seringkali kita merasa bahwa jika kita sudah
berikhtiar habis-habisan, harusnya kita sudah berhasil. WRONG. Ikhtiar
hanyalah salah satu bumbu untuk syarat mencapai pertolongan Tuhan. Bukan
penyebab dari sukses itu sendiri.
Dan apa yang lebih kuat daripada doa orang tua untuk memperoleh pertolongan Tuhan?
You might also like:
Pencarian:
-
cara menjadi pembicara dalam seminar
- cara menjadi pembicara sukses
- syarat menjadi pembicara yang baik
- menjadi pembicara yang efektif
- cara menjadi pembicara yg menarik
- kiat menjadi pembicara hebat
- forum internasional
- Tips mendapatkan sponsor acara keluar negeri
- cara menjadi pembicara yang baik di depan umum