Showing posts with label Pengalaman Internasional. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Internasional. Show all posts

Thursday, May 31, 2018

Cara Diterima OpenCon di Kanada (FAQ)


OpenCon 2018 akan diadakan musim gugur di Toronto Kanada bekerjasama dengan York University, Ryerson University, and the University of Toronto. Dan aplikasi akan dibuka pada tanggal 12 Juni 2018 seperti dalam pengumuman https://www.opencon2017.org/opencon_2018_announced.

Tahun ini saya adalah juri dan panitia penyelenggara OpenCon 2018 di Toronto, Kanada. Insyaa Allah, saya dan tim kecil OpenCon (15 orang) akan menilai ribuan aplikasi yang masuk dari seluruh dunia untuk bisa menentukan siapa saja partisipan tahun ini yang akan hadir di OpenCon 2018 dengan scholarship (travel, accommodation and registration fee covered).

Sebelum itu, berikut beberapa pernyataan yang paling sering dilontarkan tentang diterima OpenCon dengan scholarship.

Saya apply beberapa kali semenjak beberapa tahun yang lalu, tapi selalu ditolak. Saya penasaran, jangan-jangann memang tidak ada yang diterima!

Saya apply tahun 2015 dan 2016 dan saya ditolak. Tahun 2017 saya berhasil diterima untuk OpenCon 2017 di Berlin, Jerman dengan scholarship. Tapi karena satu dan lain hal, saya tidak berangkat untuk menghadiri eventnya secara offline. Sebagai ganti tidak hadir yang Berlin, saya datang ke rapat komunitas di Nepal: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia. Meski bukan itu poinnya, poinnya adalah saya diterima shortlisted sebagai peserta OpenCon 2017 di Berlin setelah dua kali gagal tahun 2015 dan 2016. Bahkan tahun ini saya adalah panitia!

Lalu bagaimana agar bisa diterima? Kalian harus lebih banyak research mengenai kriteria peserta yang diinginkan melalui websitenya. Pertama, mungkin kita perlu memahami dulu apa itu gerakan Open Access, Open Data, dan Open Education. Dan memahami sekadar konsepnya saja sebenarnya sangat mudah jika kita melakukan sedikit research, googling, dan banyak membaca. Ini tulisan di website:
Attendance at the meeting is by application only, and the majority of past participants have received full or partial travel scholarships. Each year, most participants are first-time attendees and are selected from a pool of thousands of qualified candidates through a community-run review process based on the likelihood that their participation will translate into impact.
Kedua yang paling penting, kita tidak bisa menghadiri event ini karena kita ingin hadir secara individu lalu membuat impact di event tersebut. BUKAN. Ini adalah tentang membuat impact secara remotely (jarak jauh) di komunitas kita sendiri. Jika masih awam dengan gerakan “openess”, langkah pertama, kita bisa menyelenggarakan OpenCon Satellite Event di kota kita sendiri. Caranya mudah, tinggal apply https://www.opencon2017.org/satellite, tunggu di-ACC, adakan event-nya, lalu berikan report-nya ke panitia!

Foto saya ketiga paling atas, di Berlin Jerman sebagai host satellite event. Tapi tidak hadir.
Ketiga. Secara aktif mempromosikan gerakan Open Access, Open Data dan Open Education. Jika sudah paham tentang Open Access, Open Data, dan Open Education. Temen-temen akan tahu ternyata sudah banyak banget loh komunitas di Indonesia mempromosikan gerakan ini sejak lama! Misalnya DOAJ indonesia, DOAR Indonesia, Open Access Indonesia, maupun Open Science Indonesia dsb.
.
Kita perlu aktif untuk mempromosikan gerakan Open melalui media sosial atau komunitas. Tapi ingat, niat perlu dibenahi kembali. Jangan bergabung organisasi-organisasi di atas karena ingin diterima OpenCon dan jalan-jalan gratis keluar negeri seakan itu semua hanya batu loncatan, melainkan karena memang tulus #EaTulus ingin membuat impact secara remotely, bergabung dengan komunitas Open, dan mempromosikan Open di daerah masing-masing maupun lewat media sosial.

.
Keempat, teman-teman bisa gabung dengan OpenCon Community Call dan Librarian Community Call (daftar di halaman bawah https://www.opencon2017.org) yang diadakan minimal 1-2 kali dalam sebulan sepanjang tahun. Teman-teman bisa langsung gabung dengan komunitas dimanapun dan terbuka untuk siapa saja!! Di sana ada para juri, organizer committee, pembicara, dan juga komunitas opencon se-internasional. Kalau temen-temen aktif diskusi, pastinya dilirik juri dan organizer committe gak sih? Do a little bit research and be active!

Tahun 2015 dan 2016, aplikasi saya ditolak OpenCon. Tapi saya tetap mengadakan OpenCon Satellite Event di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016 tersebut. Sampai juri mengenal saya, “oh anak ini bukan karena ingin gabung dengan main eventnya, tapi karena memang ingin gabung dalam komunitas dan membuat impact.”. Sayangnya, rata-rata applicants hanya ingin hadir di main event-nya, bukan membuat impact di komunitas.

Juri sudah mengetahui siapa yang akan dipilih nih!

Setiap tahun, mayoritas peserta adalah first-time attendees atau baru pertama kali hadir OpenCon. Bahkan bukan hanya peserta yang diregenerasi, juri dan panitiapun di regenerasi! Jadi kami tidak tahu siapa yang akan dipilih.

Jika ada kenalan yang hadir di OpenCon beberapa kali, itu karena dia hadir bukan sebagai peserta lagi yang daftar lewat aplikasi secara online, melainkan sebagai panitia, juri, atau pembicara dalam diskusi panel. Misalnya jadi pembicara; dia mereport hasil output dari tahun lalu dan bagaimana perkembangan gerakan open access sepanjang tahun di negaranya setelah idenya di-pitch di tahun sebelumnya.


OpenCon ini platform yang unik dan berbeda dari event-event lainnya. OpenCon memberdayakan komunitas dan peserta secara nyata, bahkan peserta tahun lalu yang benar-benar ingin berkontribusi akan diregenarasi bukan lagi menjadi peserta, melainkan menjadi panitia. Dan setiap tahun panitia dan peserta berganti.

Well, ini yang saya lakukan, mencari regenarasi setidaknya untuk peserta dari Indonesia. Hehehe.

Saya ilmuwan dan saya ditolak beberapa kali meski isi kualifikasi saya keren. Saya rasa mungkin event ini terlalu keren dan diperuntukkan untuk orang-orang keren saja.

Beberapa applicants sudah menempuh pendidikan S2 bahkan S3nya dan hasil penelitian mereka sudah dipublish di jurnal-jurnal internasional. Tapi seringkali mereka merasa heran ketika kualifikasi diri mereka ternyata tidak cukup membuat mereka sukses dalam mengisi aplikasi OpenCon.

Saya rasa setiap orang itu adalah orang keren, tidak peduli status pendidikan mereka selama tertarik dalam open access dan open data. Mayorita yang diterima OpenCon bukanlah mereka yang hanya ingin menghadiri OpenConnya saja, melainkan motivasinya karena ingin menjadi bagian dari komunitas dan mempromosikan Open Access, Open Data dan Open Education secara berkesinambungan ke depannya.

Mengacu pada pertanyaan pertama lagi ya, tulus. Ea tulus.. Bukan kita ingin sukses dari OpenCon, melainkan kita mensukseskan gerakan open access, open education dan open data. Dan mengacu pada jawaban kedua: Bukan tentang siapa yang paling pintar atau paling memahami apa itu Open Access, tapi siapa yang paling ingin berkontribusi.


Teman-teman bisa kunjungi https://www.youtube.com/user/R2RCvideo bagaimana orang-orang ini mempromosikan open access, open data, dan open education. Selain itu juga teman-teman bisa bergabung dengan komunitas yang sudah ada di negara masing-masing, misalnya Open Access Indonesia dsb. Cukup dengan kunjungi website www.opencon2017.org kalian bisa tahu siapa yang sudah menjadi bagian dari OpenCon. 


Karena kemungkinan pembaca orang Indonesia, ya saya sih kasih tahu aja, kalau itu saya... hehehe. Teman-teman bisa kirim email ke qonitamaryam@gmail.com untuk menanyakan teknisnya lebih lanjut cara bergabung dalam komunitas Open Access Indonesia. Meski gak harus daftar Open Access Indonesia untuk diterima OpenCon, tapi itu satu jalan untuk teman-teman gabung komunitas. Wish you the best luck for this year's application.




Monday, April 23, 2018

Kilas Balik ICFP 2016, Mengapa Bisa Diterima?


Tulisan ini ditulis dalam rangka memotivasi teman-teman yang ingin mendaftar ICFP 2018 di Kigali, Rwanda. Deadline pendaftaran Youth Video Contest adalah 21 Mei 2018. http://fpconference.org/2018/youth/

ICFP 2016 atau International Conference on Family Planning adalah konferensi paling besar dan bergengsi dalam bidang keluarga berencana. Dari tahun ke tahun, 3000 hingga 4000 peserta hadir dalam konferensi ini dan 80% peserta adalah bule. Termasuk di antara pembicara adalah para pembuat kebijakan dunia dan para pejabat tinggi negara. Nama yang terkenal misalnya Pak Jokowi, Pak Habibie maupun Melinda Gates. ICFP ini sendiri dari tahun ke tahun diadakan oleh John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Bill & Melinda Gates Foundation.


Waktu itu saya terpilih mewakili Indonesia sebagai moderator. Konferensi ini adalah konferensi pertama dan fully funded yang saya ikuti sebelum akhirnya banyak mengubah hidup saya secara drastis. Saya mendapat fasilitas tiket PP pesawat garuda, kamar VIP hotel bintang 5 termahal di Bali selama 6 malam, uang saku 2.5 juta rupiah, dan biaya pendaftaran konferensi 400USD atau 6 juta rupiah. Btw itu juga pertama kalinya saya naik pesawat. Hihi.



Jadi sebelum itu, saya melihat pembukaan pendaftaran seleksi videonya di opportunitydesk.org. Tapi saya bingung mengisi aplikasinya karena saya merasa tidak aktif dalam berbagai bidang mengenai keluarga berencana. Biasanya kan kita denger KB itu apa sih? Dua anak cukup, kan?

Lalu ketika saya pulang, saya sempat curhat ke ummi kalau saya ingin mendaftar konferensi di Bali tapi harus ada syarat punya pengalaman di bidang keluarga berencana. Karena saya pengen banget daftar, saya pelajari lebih lanjut. Ternyata, KB bukan hanya tentang dua anak cukup; bisa juga masalah pernikahan dini, kesehatan remaja, pendidikan seks, dunia kebidanan, pemberdayaan perempuan dsb. Begitu pula subtema-subtema dari ICFP 2016 ternyata sangat banyak, bukan cuma bicara mengenai metode-metode alat kontrasepsi. Bicara alat kontrasepsi, dulu saya awam banget beginian. Sekarang mulai sering diundang untuk jadi pemateri bahasan-bahasan yang agak dewasa.

Diantara subtema itu ada pernikahan dini. Terus saya teringat kontribusi saya di PPA-PKH tahun 2015 sebagai salah satu volunteer pengajar. Terdapat ratusan siswa putus sekolah SD maupun SMP dan sebagian besar adalah perempuan di PPA PKH 2015. Rata-rata penyebab anak perempuan putus sekolah adalah karena orang tua mereka berkeyakinan kalau perempuan gak perlu berpendidikan tinggi selama udah bisa mengurus anak dan memasak. Terus saya jadikan pengalaman itu dalam esai seleksi ICFP 2016. Saya kontra pernikahan dini. (Baca juga: Perempuan, Berkaryalah. Jangan Ikut-Ikutan Menikah Muda).


Sementara untuk seleksi video saya bicara soal pengembalian keluarga berencana di Indonesia yang dekade terakhir ini stagnan di angka 2.6. Artinya rata-rata keluarga di Indonesia punya anak 2.6. Padahal targetnya adalah 2 per keluarga. Meski video itu sedikit kontroversial dan mengundang banyak perdebatan. Beberapa teman saya di grup-grup whatsapp bahkan bilang kalau saya anteknya Yahudi. Mereka beranggapan bahwa hukum KB asalnya adalah haram. Padahal banyak hadits-hadits lain yang juga menyirakatkan KB itu boleh dilaksanakan. Bahkan diwajibkan untuk beberapa kondisi. Beberapa ulama mahsyur seperti Sayyid Sabiq saja membolehkan KB demi kesehatan istri. (Baca Juga: Pembatasan Kelahiran dan Keluarga Berencana).

Teman-teman bisa lihat video-video pemenang kompetisi Youth Video Contest lainnya disini: Youth Delegate Video Submission from Previous Years . Ada sekitar 30 pemuda seluruh dunia yang akhirnya dibiayai pesawat dan kamar hotelnya oleh penyelenggara. Rata-rata videonya tidak terlalu bagus dalam kualitas editing danpengambilan gambar. Mungkin juri lebih mementingkan konten dari video tersebut daripada visual editingnya.

Beberapa bulan kemudian, sebuah email masuk ke inbox Yahoo saya. Penyelenggara berkata bahwa saya lulus ICFP 2016. Terus saya girangnya bukan main, sambil loncat-loncat di atas sofa. Hehe.


Saya lalu bertemu dengan Kak Nanda dan Steven. Dua orang Indonesia lainnya yang terpilih dalam Youth Video Contest. Kak Nanda baru selesai menempuh pendidikan dokter UNPAD dan Steven jurusan Hubungan Masyarakat di BINUS University, dia aktif dalam organisasi bernama Generasi Berencana. Organisasi pemuda di bawah BKKBN bicara kesehatan remaja. Saya merasa, dibandingkan mereka, saya adalah yang paling minim pengalamannya dalam bidang keluarga berencana. Tapi daripada minder, saya jadikan itu sebagai sarana belajar.


Saat tiba di acara ICFP 2016, saya bertemu dengan teman-teman bule saya yang lain. Sebagian besar dari mereka menempuh pendidikan kedokteran, kesehatan masyarakat, atau kebidanan. Mereka sudah menghadiri berbagai macam konferensi di berbagai penjuru dunia berbicara mengenai kesehatan. Ketika mereka mengirim foto-foto (di grup wa) saat ICFP 2013 dan juga International AIDS conference, saya baru sadar kalau memang pesertanya biasanya itu lagi-itu lagi. Jadi kalau teman-teman hadir dalam sebuah konferensi tahunan atau ICFP 2018 tahun ini, jangan heran kalau misalnya lebih dari 50% peserta sudah saling mengenal sebelumnya. Saat konferensi Women Deliver di Denmark, para peserta pun melakukan reuni lagi. Tapi sayangnya saya tidak sempat mendaftar konferensi itu karena ketinggalan informasi.


Lalu apakah sulit untuk diterima di konferensi fully funded jika lebih dari 50% peserta itu lagi itu lagi? Saya jawab ya... susah-susah gampang. Tapi selama kalian dapat mendemonstrasikan dengan baik kontribusi kalian yang satu visi misi dengan konferensi itu, insyaa Allah kalian juga bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Dan selalu ada regenerasi untuk peserta yang sudah melewati usia 25 tahun. 

Waktu saya wawancara salah satu senior saya di kampus, info ICFP sebenarnya sampai di kampus-kampus besar seperti UI. Tapi sebagian besar mahasiswa kurang peduli dengan isu KB seperti ini atau tidak terlalu serius ketika diminta berkomitmen untuk menghadiri konferensi. Ada pertanyaan, "Apakah Anda berkomitmen untuk menghadiri ICFP 2016 dari tanggal sekian ke sekian?" terus jawabnya "kalau dosen ngizinin." wkwk.

Hari pertama ICFP 2016, saya dan Steven tertinggal youth meeting selama satu hari karena kesalahan pembelian jadwal pesawat oleh Mbak-mbak dari BKKBN. Tapi selanjut-selanjutnya alhamdulillah saya ikut aktif dalam berbagai diskusi dan juga workshop. Dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas.


Saya terpilih memoderatori sesi bidan, dan saat itu salah satu tokoh idola saya, Pape Gaye (President Intrahealth International) datang menyaksikan sesi bidan itu. Terus saya salting banget. Wkwk. Meski saya sih ngerasa, I could have done better. Dulu speaking saya modal nekat banget dan jelek. Sekarang setelah abis-abisan belajar bahasa Inggris dan juga udah mulai sering rapat sama bule dan hadir di konferensi internasional, saya ngerasa maluuu banget sama bahasa Inggris saya yang jadul. Rasanya mau tenggelem aja di perut bumi kalau inget-inget lagi. Tapi saya masih tulis tulisan ini buat temen-temen... baik kan saya kan? Hehehe.


Teman-teman nih buat yang ingin ikut konferensi apalagi yang maju ke depan untuk ngomong, menurut saya persiapan bahasa Inggris wajib banget. Dulu saya gak persiapan, dan baru nyiapin 1 jam sebelum sesi yang saya bawakan. Hasilnya ancurrr banget bahasa Inggris saya kala itu, bisa dimengerti sih tapi malu ngingetnyaaa. Harusnya kita siapkan dari minggu-minggu sebelumnya, sambil ngaca di depan cermin bawa teks bahasa Inggris kemungkinan isi moderasi atau plenary speaking kita mau kayak apa.


Selain itu dalam sesi exhibition, saya bertemu dengan seorang jurnalis AS dan berdiskusi soal Pancasila dan pre-marital seks saat demonstrasi pemakaian alat kontrasepsi. Terus, mereka terheran-heran karena saya tidak pernah melalukan pre-marital seks. Bahkan saya bilang “I don’t even touch men, how can I do pre-marital sex with them?” Lol. Buat temen-temen yang mau lihat contoh diskusi dalam ICFP 2016, bisa dilihat disini: Diskusi Saya Bersama Jurnalis AS tentang Pancasila.

Hari berlalu dan penutupan ICFP 2016 dilaksanakan. Teman saya Trevor Arnett bersama Otuck William menyanyikan lagu bertema family planning sambil nge-rap. Keduanya teman baik saya. Mereka sering menciptakan lagu tema 17 SDGs bersama Tasya Kamilla di Kantor Pusat PBB. Beberapa bulan kemudian, mereka bahkan mengobrolkan saya dengan Tasya saat di New York City.


Sampai saat ini saya menjaga pertemanan baik dengan bule-bule itu meski berbeda akidah dan pandangan (Mereka pro LGBT, saya tidak. Mereka pro pre-marital sex, saya tidak). Saya berdiskusi dengan mereka, tapi tidak membuat permusuhan atau membuat mereka merasa buruk. Kembali lagi, dengan pancasila sila pertama: ketuhanan yang maha Esa. Nilai-nilai dan norma bangsa ini berdasarkan nilai-nilai agama. Jika ada nilai-nilai yang sama antara nilai Islam dan nilai Barat, maka perlu disatukan dalam sebuah jembatan atas nama kemanusiaan.


Tahun 2018 ini saya mengajukan lagi untuk bisa diterima ICFP 2018. Saya juga mengirimkan beberapa abstrak penelitian saya. Saya sih merasa pengetahuan saya sekarang tentang KB jauh lebih baik daripada 2 tahun lalu. Namun apakah saya diterima atau tidak, itu murni kuasa Allah.

Monday, March 5, 2018

14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional


Judul tulisan ini mungkin cukup jarang dan aneh, karena ketika saya searching di Google “Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional”, tidak ada sama sekali artikel yang menuliskan postingan itu. Sebagian besar artikel yang berkaitan adalah “Cara Menjadi Pembicara Handal” atau “Cara Menjadi Pembicara Seminar yang Baik.” 

Well, karena ini baru, saya ingin berbagi pengalaman saya dan saya merasa teman-teman juga bisa menjadi pembicara di forum-forum internasional. Bukan dengan konferensi self-funded, bahkan fully funded sehingga penyelenggara membiayai pesawat, hotel dan makanmu demi beberapa menit kau berpidato di depan ratusan bule. Mau gak mau? Meski tulisan ini sepenuhnya hasil pengamatan pengalaman pribadi dan teman-teman saya, mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.



Januari 2016 adalah pertama kalinya saya menjadi seseorang yang berbicara di depan audiens bule; berbicara dengan bahasa Inggris dalam sebuah acara internasional ICFP 2016 di Bali Nusa Dua Convention Centre (80% dari 3000 audiens adalah bule, diantaranya adalah para stakeholders bahkan Pak Presiden Jokowi & Pak Habibie). Saat itu saya mahasiswa tingkat 2 Psikologi UNJ. Dan konferensi itu jauh lebih bergengsi daripada yang saya pikirkan sebelumnya. Konferensi tersebut fully funded: saya mendapatkan tiket pesawat PP Garuda Indonesia, kamar VIP hotel bintang 5 termahal di Bali selama 6 malam yg jendelanya langsung menghadap pantai Nusa Dua, dan juga uang saku sebesar 2,5 juta rupiah.

Setelahnya, saya menjadi lebih mudah mendapat beberapa channel untuk menjadi pembicara internasional. Mulai dari unjuk ide di Forum Pemuda PBB New York USA; memberikan sambutan di sebuah Forum inovasi se-Asia Pasific (IYFI) di Suntec Singapura; bahkan ketika saya tidak apply apapun namun di email mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Rapat 150 Peneliti Asia dan seluruh pesertanya adalah S3 (Ph.D atau Dr, saya pembicaranya malah S1).




November 2018 insyaa Allah saya menjadi presenter ICFP 2018 di Kigali, Rwanda. Desember 2018 juga saya menjadi pemateri sekaligus juri penerima peserta OpenCon 2018 di Toronto, Kanada.  Semuanya dengan travel scholarship/fully funded (tiket pesawat, hotel, makan dibiayai) kecuali Forum PBB di New York itu dengan sponsor. Alhamdulillahnya, itu pun dibantu pemerintah hingga 40 juta rupiah.

Kalau teman-teman bilang saya pasti pintar dengan IQ tinggi? Saya jawab tidak.

Saat SMA saya selalu berada di peringkat-peringkat terakhir di kelas, nilai saya sering nol, dan seringkali terancam tidak naik kelas. Saya juga sempat menunda satu tahun sebelum bisa berkuliah karena saya tak lulus SNMPTN 2012. Kuliah tingkat satu, saya mahasiswa luntang-lantung dengan mengikuti lima organisasi sekaligus. Lalu seringkali saya gugur di medan perjalanan, hehe. (Baca tulisan saya sebelumnya: Hikmah Peringkat Terakhir)

Meski begitu, saya merasa jalan masa depan sebenarnya terpampang lebar di depan mata saya. Mungkin tidak mudah dan mungkin masih panjang. Tapi saya tahu ke arah mana saya akan berjalan agar menginspirasi lebih banyak orang lain. Well, dengan cara saya sendiri.

Lalu ini beberapa tips ala Maryam Qonita, untuk kamu-kamu bisa sering jadi pembicara di forum-forum bergengsi tingkat internasional di Luar Negeri.
.
Percayalah, Setiap Kesempatan Kecil Mengubah Hidupmu. Maka Lakukanlah Dengan Sungguh-Sungguh dan Sepenuh Hati.

Kesempatan kecil yang mengubah hidup saya adalah ketika saya menjadi volunteer dalam program PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak-Program Keluarga Harapan) bersama BKKBN, P2TP2A dan juga Dinas Sosial tahun 2015. Waktu itu saya membimbing 100 anak-anak putus sekolah untuk kembali meniti impian mereka. Sebagai gantinya, saya banyak mendapat curhat dari anak-anak yang putus sekolah tersebut, mulai dari jadi tukang batu, buruh cuci atau harus menikah dengan pria yang 10 tahun lebih tua. (Baca tulisan saya sebelumnya: Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup)

Tulisan kisah-kisah mereka itu yang saya kirimkan dalam aplikasi ICFP 2016. Dan pada akhirnya, pengalaman itu mengubah hidup saya secara drastis. Bukan saya yang mengubah hidup 100 anak itu, tapi mereka yang mengubah hidup saya. Kita tak pernah tahu, mungkin saja dunia ingin mengetahui kisah mereka, kan? 



Maggie disamping kiri saya

Salah satu teman saya saat ICFP 2016, Maggie, bahkan dinominasikan menjadi Sekjen PBB Utusan Pemuda (UN Secretary General envoy on Youth) karena pidatonya tentang sahabatnya yang dinikahi di usia dini. Kebetulan pidatonya jago bikin orang nangis dan emosional. Teman saya itu, yang sebelumnya belum pernah ke LN, sekarang kerjaannya keliling dunia melulu menemani petinggi PBB, Melinda Gates, dan para pemimpin dunia lainnya mulai dari blusukan di pedalaman-pedalaman Afrika hingga memimpin rapat pemimpin dunia di Washington DC.

Coba, lihatlah sekeliling. Tidak harus jauh-jauh mencakup seluruh Indonesia. Lihatlah masalah kelaparan, pendidikan, kesehatan, ketimpangan sosial, ekonomi, dsb yang ada di masyarakat sekelilingmu. Analisislah permasalahan tersebut dengan pisau analis yang tajam. Jadilah bagian dari solusi dan perubahan menuju yang lebih baik. Lakukanlah dengan sepenuh hati. Remember: Think globally, act locally.


Percayalah, para applicants yang diterima dalam konferensi fully funded tidak membeberkan data-data jumlah besar atau sejarah umum yang para juri sudah tahu. Atau mungkin mereka menuliskannya sedikit tapi sebenarnya para juri menunggu kontribusi nyata di masyarakat yang langsung terasa manfaatnya. Jika kau apply untuk menjadi speaker, berikanlah juri ‘BOOM’ sesautu yang juga akan menarik hadirin untuk menyimak pidatomu. Dan sesuatu yang menarik hati, ditulis dari hati.
.
Bergabung dalam Sebuah Gerakan/Komunitas/Organisasi Internasional Yang Memiliki Visi Universal.


Untuk bisa bergabung dalam berbagai organisasi internasional yang memiliki visi universal, kalian bisa banyak searching di Google, banyak membaca dan juga bertanya-tanya pada mereka yang memiliki afiliasi pada satu organisasi hingga membuatnya diundang kesana kemari untuk bicara di depan forum internasional.

 

Kalau saya, saya bergabung dalam OpenCon (www.opencon2017.org) yang merupakan komunitas penggerak yang mempromosikan pentingnya keterbukaan informasi, mengenai pendidikan, penelitian atau data pemerintah. Aplikasi saya ditolak pertama kalinya, tapi saya berkata bahwa saya ingin ikut berkontribusi dalam gerakan ini dan ikut mempromosikannya di Indonesia. Selama 2 tahun saya hanya menjadi ambassador di Indonesia. Karena tim internal OpenCon akhirnya mengetahui kinerja saya sebagai ambassador, akhirnya saya diangkat menjadi tim internal bahkan juri penerima aplikasi pendaftar di seluruh dunia. Setelahnya saya diundang bicara di Nepal dan Kanada. (Baca tulisan sebelumnya: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia)

Di antarnya juga salah satu teman saya dari India Kanika Joshi SDSN Youth, dimana dia biasa diundang menjadi pemateri di berbagai event mengenai 17 Sustainable Development Goals. Karena dia bergabung dalam organisasi pemuda PBB yang resmi menangani 17 SDGs yaitu SDSN Youth. Situs SDSN youth sendiri membuka Open Recruitment setiap tahunnya untuk satu ambassador tiap negara.

Selain SDSN Youth, yang dekat dengan saya ada juga Women Deliver dan IYAFP. Dimana teman-teman saya yang tergabung dalam salah satu atau keduanya biasa keliling dunia untuk memimpin rapat para pemimpin dunia di WHO atau di John Hopkins University. Sebagian yang lain menjadi pembicara dalam konferensi high level meeting dengan 4000 peserta. Seperti ICFP atau Women Deliver Conference. Mereka komunitas anak muda yang biasa bicara di depan presiden, pejabat PBB, dan petinggi-petinggi dunia untuk bicara masalah kesehatan dan kesetaraan gender. Di Korea sempat ada gerakan twitter dengan hashtag #MeToo sampai trending topik. Kebetulan, penggagasnya adalah salah satu teman saya dari Women Deliver.

Untuk mencari organisasi yang pas dengan kalian? Bisa kunjungi situs www.opportunitydesk.org atau www.youthop.com atau www.oyaop.com. Setelah itu klik bagian Fellowship. Itu hanyalah sebagian database, sebagian besar fellowship informasinya berpencar. Jadi memang harus sering-sering googling berfaedah. Kalau kalian tidak tahu harus mulai dari mana, mulailah dari passion kalian.




Mengembangkan Kemampuan Menulis Esai/Paper/Artikel


Sebagai orang yang mewakilkan Indonesia bicara masalah kesehatan dan kesejahteraan di Forum PBB New York City, demi Allah, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih berkontribusi di bidang kesehatan daripada saya. Para aktivis sosial, pegawai dinas, anggota LSM, perawat dan dokter di ranah akar rumput. Perbedaannya saya menuliskan pengalaman saya dalam sebuah esai berbahasa Inggris sebagai aplikasi pendaftaran sebuah konferensi internasional di luar negeri. Karena mungkin saja, dunia ingin mengetahuinya.

Jadi kembangkanlah kemampuan menulis esai, paper atau artikel dalam bahasa Inggris. Banyak membaca tulisan-tulisan berbahasa Inggris di Internet juga bisa membantu. Kalian juga bisa mengecek grammar error dengan grammarly. Untuk konferensi akademik, berarti perlu menulis sebuah artikel penelitian yang datanya diambil dan diolah secara ilmiah. Analisislah permasalah dengan pisau analisis yang tajam. Lalu berikanlah solusi yang sustainable, implementable, dan unik.

.
Mencari Role-Model juga Mentor




Salah satu role-model saya untuk menjadi pemateri dalam berbagai forum internasional adalah Professor Richard Javad Heydarian asal Filipina. Dimana hampir setiap pekan dia selalu keluar negeri untuk diminta menjadi pembicara konferensi-konferensi besar atau mengisi kuliah di Harvard, Oxford, Stanford, Yale, Cambridge dan lain sebagainya. Seringkali juga menjadi narasumber di BBC, CNN dan The Newyork Times. Beliau telah menulis banyak sekali buku mengenai politik luar negeri Asia dan juga Timur Tengah. BTW, mendengar istilah Professor, kebayangnya pria tua berambut putih kan? Tapi... Prof Richard ini adalah seorang pria berusia 32 tahun! Dan ya gantengnya kayak di drama-drama... wkwk. 



Kalau kalian lihat instagram beliau www.instagram.com/richeydarian hampir tiap postingan selalu di berbeda negara. Hari ini Prof Richard di Indonesia, besok lusanya sudah mengisi seminar di Amerika. Dan dia jarang latepost setahu saya, karena beberapa fotonya saya yang ambil. Hihihi. Kayaknya beliau tinggal di pesawat terbang deh.


Untuk mentor, saya dekat dengan Joseph McArthur asisten direktur The Right to Research Coalition dan Nick Shockey directur SPARC (Scholarly Publication Association and Resources Coalition). Saya dekat dengan keduanya semenjak 2015 dan kebetulan kami rapat tiap pekan melalui UberConference untuk mengadakan sebuah konferensi di Toronto, Kanada. Dan dalam banyak hal seperti beasiswa atau S2, saya seringkali meminta rekomendasi dari Nick atau Joe.

Kalau temen-temen bertanya kepada saya bagaimana caranya mendapat mentor? Tidak ada cara khusus. Tapi, jika teman-teman sudah bergabung dalam sebuah event atau komunitas, maka jadilah bersemangat! Biasanya dalam konferensi besar seperti ICFP, ada sesi mentorship dan kita bisa dipasangkan dengan orang yang jauh lebih berpengalaman. Satu mentor satu mentee. Dan keep in touch. Jadilah seseorang yang mereka dapat melihatmu bahwa kau akan sukses di masa depan.

.
Networking dan Membangun Kepercayaan

Networking itu perlu banget. Jika kalian menghadiri sebuah event dan kalian masuk dalam sebuah grup whatsapp, jangan keluar dari grup whatsapp tersebut. Karena seringkali kesempatan-kesempatan berharga disebar secara terbatas antar kelompok. ICFP 2013, ICFP 2016 dan juga Women Deliver Conference kusadari kalau ternyata anak-anak muda yang menjadi moderator atau young speakernya yaaa... mereka lagi mereka lagi!

Itu juga ketika saya bergabung dalam OpenCon. Ternyata setelah bertemu langsung dengan komunitas OpenCon di Asia, mereka memberikan foto-foto OpenCon 2015, OpenCon 2016, dan OpenCon 2017 yang diadakan di Belgia, Jerman dan Washington DC ternyata pesertanya itu lagi itu lagi. Salah satu kawan baik saya dari India bernama Vrushali berkata: “Most participants I meet here (Nepal), I already met before in Washington DC and Germany.”.

Eits, jangan minder dulu guys. Karena selalu ada slot untuk orang baru dan ide baru. Tapi jangan heran, jika kalian telah memasuki sebuah konferensi yang merujuk pada satu bidang khusus, dan ternyata 50% peserta atau pemateri sudah saling mengenal satu sama lain meski berbeda negara.


Mengembangan Sebuah Ide/Inovasi/Produk Baru untuk menangani 17 SDGs


Ideas bring you places. Buatlah sebuah inovasi, produk, atau bisnis yang bisa menyelesaikan satu dari tujuh belas permasalahan SDGs. Karena banyak sekali kesempatan-kesempatan yang menyaratkan sebuah ide inovasi baru setiap kali kita mengisi formulir pendaftaran. Misalnya, sebuah startup yang fokusnya pada SDG3 yang merekam riwayat medis seseorang sehingga setiap kali orang tersebut berkunjung ke dokter, tinggal melihat rekam jejak penyakit atau riwayat kunjungan medisnya dsb.

Misalnya juga program UNESCO dan UNFAO yang mengadakan sebuah kompetisi berjudul World Food Programme bagi para pendiri startup yang dapat menyelesaikan permasalahan kelaparan di dunia. Ide-ide inovasi tersebut sangat berharga bagi kita dan bisa jadi tiket kita untuk keliling dunia. Karena satu ide yang berharga, percayalah seluruh dunia ingin mengetahuinya.
.
Googling Berfaedah


Apa yang biasanya kalian lakukan jika internet? Kemungkinan sebagian besar waktu yang kita gunakan di internet biasanya untuk media sosial seperti facebook, twitter atau instagram bukan? Tidak masalah menurut saya sih untuk bermain sosmed. Yang jadi masalah ketika seseorang sudah menjadi produk dari sosial media.

Daripada menghabiskan waktu untuk sosial media, lebih baik cari di google misalnya “Apply to speak” lalu mengatur postingan dalam rentang waktu terbaru. Biasanya muncul beberapa kesempatan untuk bicara di depan umum di luar negeri yang sangat bergengsi. Termasuk di antaranya adalah kesempatan di TEDx. Atau juga googling “Fellowship 2018” atau “Travel Grant” dsb.

Ratusan orang banyak yang  menghubungi saya lewat whatsapp ataupun message Facebook. Banyak dari mereka menghubungi saya meminta alamat atau email kemenpora, dikti, atau perusahaan-perusahaan untuk dikirimi proposal. Banyak juga yang menanyakan ke saya cara membuat paspor atau visa. Well, please, Inilah kenapa Indonesia miskin membaca. Sebagian besar dari orang-orangnya malas mencari informasi itu sendiri dan lebih suka cara mudah dengan bertanya pada yang lebih berpengalaman.

Sebelumnya saya Googling-in buat mereka karena saya pernah ada di posisi “tidak tahu harus mulai dari mana” sama seperti mereka, lama kelamaan saya menyadari tak bisa membiarkan orang-orang ini untuk terus-terusan bermental odol. At least saya menuliskan postingan ini untuk berbagi pengalaman sekaligus cara menjadi pembicara di forum internasional.

Di antara situs-situs yang bermanfaat juga: Opportunitydesk.org, youthop.com, oyaop.com, aseanop.com dan juga conferencealerts.com.
.
Mengasah Kemampuan Berbicara Dalam Bahasa Inggris




Ini juga penting sih. Namanya juga berbicara di depan bule, tentunya bicara dalam bahasa Inggris. Seringkali, mengirimkan video speaking juga diperlukan dalam seleksi menjadi pembicara. Mengirimkan video berbicara dalam bahasa Inggris juga salah satu syarat saya ikut ICFP 2016 dan juga Merit 360 Forum PBB di New York City.

Apakah bahasa Inggris saya sudah mahir? Well, tidak begitu sih. Bahasa Inggris saya justru dilatih ketika berinteraksi dengan teman-teman bule dalam konferensi-konferensi tersebut. Tapi minimal kuasailah basic english dimana kau bisa mengungkapkan semua ide yang kau maksud meski dengan kosakata sederhana. Banyak-banyaklah mix antara subjek, predikat dan keterangan.

Begini, saya berani bertaruh bahwa pembaca tulisan ini telah menguasai minimal 10 subjek bahasa Inggris, 10 predikat, dan 10 keterangan. Jika di-mix, 10x10x10 = 1000. Itu artinya Anda sudah dapat menguasai 1000 kalimat bahasa Inggris! Tinggal bagaimana seseorang sering-sering menggunakan bahasa Inggris hingga tidak lagi terasa kaku di lidahnya. Bukan bagaimana menguasai jutaan kosakata namun tidak pernah menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

.
Menjadi Populer


Well, karena saya bukan selebgram dan juga bukan artis atau youtuber, tapi cara ini mungkin efektif biar kalian bisa dapat kesempatan diundang di forum-forum Internasional. Misalnya Gita Savitri yang diundang bicara di Turki dalam sebuah talkshow “Youtube Gangs” bersama para youtuber dari berbagai negara lainnya. Bisa juga menjadi seorang artis seperti Tasya Kamila mewakilkan pemuda Indonesia dalam ECOSOC Forum di PBB, New York.

.
Menjadi Founder atau CEO dari Sebuah Organisasi Profit/NonProfit


Bukan hanya bergabung dalam sebuah komunitas internasional dengan visi universal, bisa juga kalian menjadi founder dari organisasi lokal/nasional/atau bahkan internasional. Karena seringkali, jika kalian ingin menjadi breakout speaker dan bicara dalam suatu kasus, kalian harus menjadi the most stand out dalam bidang itu. Misalnya, dalam OpenCon, meski aku bagian dari tim OpenCon, jika harus pitch ide ini di TED/TEDx, tentunya orang itu yang menjadi pembicara adalah mentorku Nick Shockey.

Seringkali juga dalam berbagai aplikasi konferensi non-akademik seperti Youth Assembly, dalam aplikasi esainya diminta mengenai kontribusi dalam organisasi profit/nonprofit yang berkaitan dengan 17 SDGs which will be great if you are the founder. Juga dalam berbagai high level forum internasional, syarat minimum aplikasinya adalah founder atau CEO yang bergerak dalam bidang tertentu yang sesuai dengan penyelenggara (misal bisnis, pendidikan, kesehatan, dsb).
.
Menulis Buku Best Seller

 



Tulislah sebuah buku best seller yang mungkin buku itu memberikan manfaat hingga dunia ingin membacanya. Bisa buku fiksi maupun non fiksi. Kategori fiksi biasanya memiliki nilai moral-moral kemanusiaan atau menyoroti masalah pendidikan. Contohnya Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi.  Untuk kategori non-fiksi misalnya buku “The Rise of Duterte” atau “How Capitalisme Failed Arab World” karangan Prof Richard Heydarian. Hehe. Dimana bedah bukunya seringkali menjadi kuliah khusus di berbagai universitas terkemuka dunia seperti Harvard atau Stanford.

.
Apply Konferensi Self-funded Lalu Mengajukan Sponsor


Merit 360 adalah program self-funded

Konferensi fully funded memang seleksinya sangatlah ketat. Ibarat dari 5000 pendaftar, bisa jadi yang diterima hanya 10-30 orang. Selain itu ada pula aplikasi konferensi self-funded. Konferensi buaaanyak banget, udah kayak kacang goreng, dengan biaya yang menguras kantong. Maka dari itu: pilihlah konferensi yang memang benar-benar bergengsi dan layak diperjuangkan. I’m serious. Kalian takkan mau melihat orang tua mengeluh karena ditagih utang sana-sini kan untuk sekedar selembar sertifikat konferensi yang sebenarnya tidak membawa perubahan apapun dalam hidup kalian?

Dalam bahasa blak-blakannya, penyelenggara konferensi dan program internasional biasanya memanfaatkan psikologis pelajar yang belum pernah keluar negeri untuk dijadikan bisnis. Mungkin normal jika biaya program tidak terlalu mahal, tapi pernah ada yang curhat ke saya untuk mengikuti program 2 minggu ke UK dengan biaya program saja 30 juta rupiah. Belum tiket pesawat dan visa. So please be careful guys.


Merit 360 adalah program self-funded dengan biaya program hingga 10 juta rupiah. Tapi worth it karena termasuk 2 minggu biaya akomodasi dan makan. (Baca tulisan saya sebelumnya: Pengalaman Unjuk Ide di PBB) Kalau saya sendiri misalnya nih bertahan hidup di NYC, sehari bisa habis 1 juta rupiah. Alhamdulillahnya pemerintah memberikan sponsorship total 40 juta rupiah ( Baca: Tips Mendapatkan Sponsor keluar Negeri)


Salah satu program self-funded yang tidak melakukan komersialisasi pendidikan menurut saya adalah Youth Assembly. Bayangin aja, tempatnya di PBB New York di General Assembly Hallnya, mendapat kesempatan bicara di depan di kursi nomor satu dunia, dan biaya programnya hanya 150 dolar!

.
Mengadakan Konferensi Sendiri dan Menjadikan Diri Sendiri Pembicara


Saya bicara saat IYFI
Mengadakan konferensi internasional sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit. Itulah yang saya lakukan bersama teman-teman di EdConex. Saya project leader IYFI 2017 di Singapura dan waktu itu saya memberikan talk di depan para peserta se-Asia Pasific. Yang alhamdulillah IYFI 2017 sukses diselenggarakan di Suntec, Singapore.

Jika kalian pernah membuat sebuah event di Indonesia, kalian juga bisa bikin event di luar negeri dengan peserta luar negeri. Bedanya: kontak sewa gedung di LN dan juga promosi iklan internasional. Just that. Tinggal kontak hotel, penyedia sewa ruangan convention centre, atau pihak universitas untuk sewa ruangan. Selanjutnya kontak potential speaker yang kemungkinan saking mahal dan suksesnya speaker tersebut, dia tak mau dibayar. Kalau dia dibayar, justru akan menghinanya (Bahkan 10 juta rupiahpun baginya kecil). Seperti co-founder Facebook misalnya? Atau CEO Perusahaan? Untuk menarik peserta, bisa melakukan iklan di Oyaop.com, opportunitydesk.org atau YouthOp.com. 

Doa Orang Tua




Doa orang tua adalah hal terpenting yang menemani kalian selama dalam perjalanan menuju mimpi kalian. Berhala itu ada dua, yaitu berhala hardware dan berhala software. Dimana seringkali kita tidak sadar bahwa kesuksesan dan keberhasilan kita disandarkan pada 2 hal itu.

Berhala hardware misalnya adalah uang. Kalau kita tidak punya uang, itu artinya kita tidak bisa sukses, tidak bisa masuk sekolah bergengsi, ikut program bergengsi dan sebagainya. Sementara berhala software itu adalah ikhtiar kita sendiri. Dimana seringkali kita merasa bahwa jika kita sudah berikhtiar habis-habisan, harusnya kita sudah berhasil. WRONG. Ikhtiar hanyalah salah satu bumbu untuk syarat mencapai pertolongan Tuhan. Bukan penyebab dari sukses itu sendiri.

Dan apa yang lebih kuat daripada doa orang tua untuk memperoleh pertolongan Tuhan?

You might also like:


Pencarian:
  • cara menjadi pembicara dalam seminar 
  • cara menjadi pembicara sukses 
  • syarat menjadi pembicara yang baik  
  • menjadi pembicara yang efektif 
  • cara menjadi pembicara yg menarik 
  • kiat menjadi pembicara hebat  
  • forum internasional
  • Tips mendapatkan sponsor acara keluar negeri
  • cara menjadi pembicara yang baik di depan umum  

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb