Kamis, 31 Mei 2018

Cara Diterima OpenCon di Kanada (FAQ)


OpenCon 2018 akan diadakan musim gugur di Toronto Kanada bekerjasama dengan York University, Ryerson University, and the University of Toronto. Dan aplikasi akan dibuka pada tanggal 12 Juni 2018 seperti dalam pengumuman https://www.opencon2017.org/opencon_2018_announced.

Tahun ini saya adalah juri dan panitia penyelenggara OpenCon 2018 di Toronto, Kanada. Insyaa Allah, saya dan tim kecil OpenCon (15 orang) akan menilai ribuan aplikasi yang masuk dari seluruh dunia untuk bisa menentukan siapa saja partisipan tahun ini yang akan hadir di OpenCon 2018 dengan scholarship (travel, accommodation and registration fee covered).

Sebelum itu, berikut beberapa pernyataan yang paling sering dilontarkan tentang diterima OpenCon dengan scholarship.

Saya apply beberapa kali semenjak beberapa tahun yang lalu, tapi selalu ditolak. Saya penasaran, jangan-jangann memang tidak ada yang diterima!

Saya apply tahun 2015 dan 2016 dan saya ditolak. Tahun 2017 saya berhasil diterima untuk OpenCon 2017 di Berlin, Jerman dengan scholarship. Tapi karena satu dan lain hal, saya tidak berangkat untuk menghadiri eventnya secara offline. Sebagai ganti tidak hadir yang Berlin, saya datang ke rapat komunitas di Nepal: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia. Meski bukan itu poinnya, poinnya adalah saya diterima shortlisted sebagai peserta OpenCon 2017 di Berlin setelah dua kali gagal tahun 2015 dan 2016. Bahkan tahun ini saya adalah panitia!

Lalu bagaimana agar bisa diterima? Kalian harus lebih banyak research mengenai kriteria peserta yang diinginkan melalui websitenya. Pertama, mungkin kita perlu memahami dulu apa itu gerakan Open Access, Open Data, dan Open Education. Dan memahami sekadar konsepnya saja sebenarnya sangat mudah jika kita melakukan sedikit research, googling, dan banyak membaca. Ini tulisan di website:
Attendance at the meeting is by application only, and the majority of past participants have received full or partial travel scholarships. Each year, most participants are first-time attendees and are selected from a pool of thousands of qualified candidates through a community-run review process based on the likelihood that their participation will translate into impact.
Kedua yang paling penting, kita tidak bisa menghadiri event ini karena kita ingin hadir secara individu lalu membuat impact di event tersebut. BUKAN. Ini adalah tentang membuat impact secara remotely (jarak jauh) di komunitas kita sendiri. Jika masih awam dengan gerakan “openess”, langkah pertama, kita bisa menyelenggarakan OpenCon Satellite Event di kota kita sendiri. Caranya mudah, tinggal apply https://www.opencon2017.org/satellite, tunggu di-ACC, adakan event-nya, lalu berikan report-nya ke panitia!

Foto saya ketiga paling atas, di Berlin Jerman sebagai host satellite event. Tapi tidak hadir.
Ketiga. Secara aktif mempromosikan gerakan Open Access, Open Data dan Open Education. Jika sudah paham tentang Open Access, Open Data, dan Open Education. Temen-temen akan tahu ternyata sudah banyak banget loh komunitas di Indonesia mempromosikan gerakan ini sejak lama! Misalnya DOAJ indonesia, DOAR Indonesia, Open Access Indonesia, maupun Open Science Indonesia dsb.
.
Kita perlu aktif untuk mempromosikan gerakan Open melalui media sosial atau komunitas. Tapi ingat, niat perlu dibenahi kembali. Jangan bergabung organisasi-organisasi di atas karena ingin diterima OpenCon dan jalan-jalan gratis keluar negeri seakan itu semua hanya batu loncatan, melainkan karena memang tulus #EaTulus ingin membuat impact secara remotely, bergabung dengan komunitas Open, dan mempromosikan Open di daerah masing-masing maupun lewat media sosial.

.
Keempat, teman-teman bisa gabung dengan OpenCon Community Call dan Librarian Community Call (daftar di halaman bawah https://www.opencon2017.org) yang diadakan minimal 1-2 kali dalam sebulan sepanjang tahun. Teman-teman bisa langsung gabung dengan komunitas dimanapun dan terbuka untuk siapa saja!! Di sana ada para juri, organizer committee, pembicara, dan juga komunitas opencon se-internasional. Kalau temen-temen aktif diskusi, pastinya dilirik juri dan organizer committe gak sih? Do a little bit research and be active!

Tahun 2015 dan 2016, aplikasi saya ditolak OpenCon. Tapi saya tetap mengadakan OpenCon Satellite Event di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016 tersebut. Sampai juri mengenal saya, “oh anak ini bukan karena ingin gabung dengan main eventnya, tapi karena memang ingin gabung dalam komunitas dan membuat impact.”. Sayangnya, rata-rata applicants hanya ingin hadir di main event-nya, bukan membuat impact di komunitas.

Juri sudah mengetahui siapa yang akan dipilih nih!

Setiap tahun, mayoritas peserta adalah first-time attendees atau baru pertama kali hadir OpenCon. Bahkan bukan hanya peserta yang diregenerasi, juri dan panitiapun di regenerasi! Jadi kami tidak tahu siapa yang akan dipilih.

Jika ada kenalan yang hadir di OpenCon beberapa kali, itu karena dia hadir bukan sebagai peserta lagi yang daftar lewat aplikasi secara online, melainkan sebagai panitia, juri, atau pembicara dalam diskusi panel. Misalnya jadi pembicara; dia mereport hasil output dari tahun lalu dan bagaimana perkembangan gerakan open access sepanjang tahun di negaranya setelah idenya di-pitch di tahun sebelumnya.


OpenCon ini platform yang unik dan berbeda dari event-event lainnya. OpenCon memberdayakan komunitas dan peserta secara nyata, bahkan peserta tahun lalu yang benar-benar ingin berkontribusi akan diregenarasi bukan lagi menjadi peserta, melainkan menjadi panitia. Dan setiap tahun panitia dan peserta berganti.

Well, ini yang saya lakukan, mencari regenarasi setidaknya untuk peserta dari Indonesia. Hehehe.

Saya ilmuwan dan saya ditolak beberapa kali meski isi kualifikasi saya keren. Saya rasa mungkin event ini terlalu keren dan diperuntukkan untuk orang-orang keren saja.

Beberapa applicants sudah menempuh pendidikan S2 bahkan S3nya dan hasil penelitian mereka sudah dipublish di jurnal-jurnal internasional. Tapi seringkali mereka merasa heran ketika kualifikasi diri mereka ternyata tidak cukup membuat mereka sukses dalam mengisi aplikasi OpenCon.

Saya rasa setiap orang itu adalah orang keren, tidak peduli status pendidikan mereka selama tertarik dalam open access dan open data. Mayorita yang diterima OpenCon bukanlah mereka yang hanya ingin menghadiri OpenConnya saja, melainkan motivasinya karena ingin menjadi bagian dari komunitas dan mempromosikan Open Access, Open Data dan Open Education secara berkesinambungan ke depannya.

Mengacu pada pertanyaan pertama lagi ya, tulus. Ea tulus.. Bukan kita ingin sukses dari OpenCon, melainkan kita mensukseskan gerakan open access, open education dan open data. Dan mengacu pada jawaban kedua: Bukan tentang siapa yang paling pintar atau paling memahami apa itu Open Access, tapi siapa yang paling ingin berkontribusi.


Teman-teman bisa kunjungi https://www.youtube.com/user/R2RCvideo bagaimana orang-orang ini mempromosikan open access, open data, dan open education. Selain itu juga teman-teman bisa bergabung dengan komunitas yang sudah ada di negara masing-masing, misalnya Open Access Indonesia dsb. Cukup dengan kunjungi website www.opencon2017.org kalian bisa tahu siapa yang sudah menjadi bagian dari OpenCon. 


Karena kemungkinan pembaca orang Indonesia, ya saya sih kasih tahu aja, kalau itu saya... hehehe. Teman-teman bisa kirim email ke qonitamaryam@gmail.com untuk menanyakan teknisnya lebih lanjut cara bergabung dalam komunitas Open Access Indonesia. Meski gak harus daftar Open Access Indonesia untuk diterima OpenCon, tapi itu satu jalan untuk teman-teman gabung komunitas. Wish you the best luck for this year's application.




Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...