Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, December 16, 2021

Berusaha Menjadi Egois


Hari ini, aku menonton video Garyvee di mana dia mengatakan, "Kamu ingin menjadi selfless (tidak mementingkan diri sendiri), menjadi orang baik dan memberi kembali ke pada orang lain? Jadilah egois terlebih dahulu untuk sampai ke tempat di mana kamu harus berada."

Setelah lulus dari NYU, akusempat mengirimkan CV dan transkrip nilai ke berbagai perguruan tinggi swasta. Ummi juga bantu mencarikan pekerjaan mengajar melalui teman-temannya yang dosen. Kemudian aku pun mendapatkan tawaran mengajar di dua perguran tinggi. Akan tetapi, karena tidak yakin, pada bulan Oktober 2021, aku bilang ke ummi, "Jika Ummi izinkan, deta sebenarnya ingin berbisnis terlebih dahulu sebelum mendaftar sebagai seorang dosen." Pada saat itu, aku juga sudah menolak dua tawaran interview pekerjaan yang terkirim ke email tanpa ummi ketahui.

Tidak disangka, Ummi yang saat itu sedang berebah di atas kasur membolehkan. Ummi mengakui bahwa jika aku memperoleh pekerjaan, itu belum tentu menyelesaikan masalah finansial. Belum lagi, jika aku memiliki pekerjaan, aku akan memfokuskan seluruh perhatianku di sana, ketika perhatian tersebut bisa aku gunakan untuk membangun bisnis dengan harapan bahwa itu akan sukses dan potensi income yang tidak terbatas.

Padahal awalnya, Ummi selalu menanyakan terus secara bertubi-tubi dan terus mendorongku untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil. Tetapi akhirnya Ummi pun berubah pikiran dan memutuskan untuk mengembalikan keputusan kepadaku.

Terkadang, Ummi memang menanyakan kapan aku punya pemasukan yang cukup besar sampai bisa membelikan Ummi rumah baru di Jakarta atau menyelesaikan cicilan mobil. Tapi aku memilih cukup egois untuk tidak mewujudkan keinginan tersebut secara terburu-buru. Aku justru menggunakannya untuk menyuruh Ummi agar selalu sehat, panjang umur, jadi jika aku sukses di atas usia 35 tahun, Ummi masih bisa menikmatinya. Aku juga meminta doanya agar rezekiku dilimpahkan. Karena aku yakin, doa seorang ibu dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Aku pikir, begitu pula alasan kenapa aku bisa S2 ke New York University. Awalnya, kedua orang tuaku melarangku S2 selain di dalam negeri, dengan alasan takut bahwa anaknya terbawa pergaulan bebas dan lain sebagainya. Apalagi di AS, BIG NO. Kakakku terus menertawakanku karena pilihan ini. Katanya dari semua negara, paling tidak boleh aku memilih Amerika. Kakakku juga akan terus meyakinkan ortu agar aku tidak diizinkan kuliah ke Amerika. Akhirnya aku pun mengiyakan mereka awalnya. Tapi bernegosiasi adalah sebuah proses dan aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan kata "Iya." 

Kemudian, beberapa bulan kemudian, aku mencoba bernegosiasi kembali. Aku berkata kalau kuliah S2 ke Jerman sebenarnya mereka tidak perlu mengkhawatirkan pergaulan bebas karena sudah banyak kalangan Muslim Indonesia di sana. Setelah orang tua pikir-pikir, mereka pun mengiyakan. Aku boleh kuliah S2 di luar negeri asal di Jerman. 

Akan tetapi, mungkin karena aku sendiri memang tidak benar-benar berniat kuliah di negara lain selain Amerika Serikat, aku tidak memenuhi persyaratan administrasi. Saat itu, aku mendaftar kuliah Kesehatan Masyarakat di Charite Berlin. Staf administrasi pendaftaran meminta dokumen lengkap, aku tidak mengirimnya dan berkata aku tidak jadi mendaftar.

Setelah sekian lama, akhirnya, LPDP 2018 di buka. Pada tahun 2018, LPDP dibuka dengan rentang waktu yang cukup lama dan sempat hilang kabar selama hampir setahun. Para calon awardee bahkan sempat berpikir bahwa LPDP akan dihentikan karena Bu Sri Mulyani bukan menteri keungan. Namun aku bersyukur akhirnya LPDP dibuka, jadi aku bisa meyakinkan orang tuaku untuk bisa kuliah ke AS.

Akhirnya, orang tuaku pun membolehkan aku kuliah ke AS selama aku terikat dengan komunitas Muslim di sana dan dekat dengan keluarga Imam Shamsi Ali. Aku pun menyanggupi dan akhirnya aku pertama kalinya secara serius mendaftar kuliah S2 ke Amerika Serikat. Negara yang awalnya tampak begitu mustahil aku daftari. Bukan karena keterbatasan waktu belajar IELTS atau GRE saja, tapi juga restu orang tua. 

Karena menunjukkan keseriusanku, orang tua pun mengizinkanku untuk tidak bekerja terlebih dahulu. Bahkan aku dilarang bekerja dan aku wajib lulus S2 ke Amerika. Aku juga tidak ingin sense of entitlement membuatku menerima segala hal secara cuma-cuma. Jadi aku berusaha memberikan apapun yang terbaik semempuku kepada orang tua.

Begitu pula saat ini, aku rasa aku cukup egois dengan meminta kepada ortu agar mengizinkanku menikah setelah usia 33 tahun. Aku ingat, awalnya abi kaget saat aku bilang akan memikirkan menikah di usia 29, tapi sekarang, mereka mungkin tidak akan lagi terkejut jika suatu hari aku berkata memilih menikah di atas 35 atau mungkin tidak sama sekali. Meskipun angka-angka itu bukan patokan, aku hanya tidak ingin memenjarakan diri ketika aku belum sampai ke tempat di mana aku harus berada.

Lulus dari NYU, pemasukanku masih belum stabil. Orang tua kerap memintaku untuk mendapatkan pemasukan yang cukup. Tetapi aku memilih egois, kembali dengan terus bernegosiasi, bahwa aku ingin memulai bisnis. Aku menjelaskan dan aku bersyukur Ummi Abi tampaknya mengerti bahwa mendapatkan pekerjaan tidak serta merta memenuhi kebutuhan finansial. Jujur saja, aku juga tidak ingin melakukan hal yang tidak aku inginkan hanya untuk beberapa juta rupiah.

Saat ini, aku menerima banyak tawaran menjadi pemateri, membuat kursus online, memimpin startup studio games dengan 16 orang karywan, dan berpartisipasi dalam politik. Tampaknya setiap hari aku memiliki kesibukan, tapi aku tidak mendatangkan jumlah uang yang berarti. Jumlah penghasilan dari menjadi pemateri pun bervariasi dan aku tidak selamanya mendapatkan fee.

Orang sering overjudging themselves ketika menentukan mana pekerjaan yang bervalue tinggi dan hanya kesibukan belaka. Tapi aku memilih untuk tidak terlalu memusingkan itu, meski tampaknya tidak mendatangkan uang untuk saat ini. 

Begitu pula saat Garyvee mendapatkan jabatan di pabrik wine ayahnya, dia malah sibuk membuat konten untuk YouTube. Itu tahun 2009 dan YouTube tidak populer. Orang melihat dia malah sibuk dengan hal yang tidak penting, tidak mendapatkan uang, dan tidak memiliki dampak dalam waktu dekat. Tetapi, itu pada akhirnya menjadi salah satu keputusan terbaik yang dibuat oleh Garyvee, menjadikan perusahaan wine itu juga semakin dikenal, dan kekayaan Garyvee pun meroket.

Karena kita memang tidak tahu mana pekerjaan yang pada akhirnya akan bervalue tinggi di masa depan atau tidak. Maka jangan terlalu menilai tinggi waktu untuk tidak melakukan pekerjaan yang tampaknya tidak menghasilkan uang pada saat ini. Selama kamu melakukan hal yang kamu inginkan, kamu sudah menang.

Kembali lagi, setiap kita tentunya ingin bisa memberikan lebih pada orang lain. Tapi itu berarti kita juga harus egois untuk bisa sampai pada posisi tersebut. 
















Friday, October 6, 2017

Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup


Sebuah kesempatan kecil bisa mengubah hidupmu secara drastis. Sebagaimana perempuan paling berpengaruh dalam hidupku pernah menasihati, “Ambillah kesempatan baik sekecil apapun itu, antusiaslah dalam melakukannya, fokus jangan tergesa-gesa, lalu hormati dan belajarlah dari yang lebih berpengalaman!”

Saya langganan peringkat nyaris-terakhir saat masa-masa SMA dulu, saya gagal masuk universitas impian & menunda kuliah selama satu tahun. Teman-teman saya pamer almamater ketika saya mengasingkan diri dari dunia. Kejadian yang saya alami mungkin dialami oleh ratusan ribu calon mahasiswa lain di Indonesia sekarang. Tapi jangan sampai setiap kegagalan yang kita alami membuat diri kita berhenti mencoba!

Satu pintu tertutup dan cahaya asa itu  meremang. Tetap yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu menemukan banyak pintu-pintu lain yang masih terbuka! Pintu-pintu itu adalah kesempatan-kesempatan lain; untuk berkarya, berkontribusi, berprestasi dan berbagi. Meski terkadang pintu itu terlihat sederhana, kau tak pernah tahu apa yang ada di baliknya menantimu!

Pintu saya adalah ketika saya mendampingi 100 anak-anak putus sekolah dalam program PPA-PKH 2015 dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Sebagian kisah mereka saya tulis dalam aplikasi esai untuk International Conference on Family Planning 2016 di Nusa Dua Bali. Deadline aplikasi adalah jam 12 malam ketika saya submit jam 11 malam. Qodarullah, saya diterima, mendapat tiket pesawat gratis, fasilitas hotel bintang 5, bicara di forum internasional dan menjalin relasi dengan para pembuat kebijakan dunia.

Lalu pengalaman itu mengantarkan saya menjadi mahasiswa berprestasi, nominasi 120 under 40,  delegasi Indonesia ke forum pemuda di kantor pusat PBB New York City, menjuarai perlombaan, memperoleh penghargaan lainnya, dan sekarang memfasilitasi forum internasional IYFI 2017 di Singapura. Bermula dari mendengarkan sebuah kisah anak yang menjadi buruh cuci.

Setiap orang memiliki pintunya masing-masing. Jangan pernah menganggap remeh setiap kesempatan baik sekecil apapun itu. Juga jangan menunda kebaikan. Karena kau tak pernah tahu, #HadiahBertubiTubi apa yang menantinya di balik pintu kesempatan yg tampak sederhana itu.

You Might Also Like:



Tuesday, June 13, 2017

Hikmah Peringkat Terakhir



Dari setiap kejadian yg tidak kita sukai atau semenyakitkan apapun itu, percayalah pada suatu hari nanti kita akan menyadari hikmah dibalik peristiwa itu dan terkejut bahwa memang skenario Allah-lah yg terbaik. Salah satu cerita yg sering saya sampaikan adalah saat pergantian semester masa-masa MA di HK. Alhamdulillah ratusan anak SMA sudah mendengarnya, dan mudah-mudahan sedikit terinspirasi.

Ada orang mengatakan bahwa otak saya ini pastilah sangat cerdas, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai konferensi internasional, menjuarai berbagai perlombaan, dan menjadi mahasiswi berprestasi. Atau orang tua saya sangat kaya hingga bisa membiayai saya terbang ke Amerika dan menghadiri sebuah forum pemuda di Kantor Pusat PBB. Tidak, sama sekali tidak! 

Wallahi, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih cerdas, pintar, berkontribusi pada masyarakat daripada diri saya. Mereka orang yang memiliki kebulatan tekad, komitmen, kerja keras dan sangat dapat diandalkan oleh teman-teman & organisasi dimana mereka bernaung. Meski begitu, saya bersyukur memiliki ‘cerita’ dari pengalaman saya sendiri yang bisa saya share. Berharap mungkin orang lain ingin mendengarnya dan memotivasi mereka yang juga merasakan hal sama.

Dulu saat MA, tempat duduk favorit saya adalah kursi yang paling pojok belakang. Suatu hari, wali kelas membuat tabel rangking di kertas HVS. Lalu sehelai kertas tersebut dioper dari depan ke belakang.... saya melihat nama saya ada disana.... menduduki peringkat 29 dari 30 siswa. Sementara seisi kelas telah melihat kertas tsb karena saya paling terakhir lihat.

Juga ketika daftar akumulasi nilai (mata pelajaran umum) satu angkatan ikhwan-akhwat dikumpulkan menjadi satu tabel besar, dipajang di mading kantor Tata Usaha. Nama saya disana, berada di bagian paling bawah-bawah.

Saya memang sudah sering ditegur guru di kantor, terancam tidak naik kelas, nilai sering nol, mengerjakan tugas satu semester dalam semalam, dsb. Sementara hobi & aktivitas saya semasa MA adalah nulis berpuluh-puluh novel-novelan ala drama korea, yang sebagian ceritanya saya tulis disini. Hingga tiba hari itu... hari dimana nilai saya menjadi tontonan seisi kelas. Tangan saya gemeteran, napas tertahan, dan mau menangis di kelas saat itu juga.

Ketika menceritakan pengalaman ini di berbagai sesi talkshow, entah kenapa banyak siswa-siswi SMA relatable dengan apa yang saya alami. "Koq gue banget ya?". Pernah juga saya mengisi acara anak SMA di satu kelas yg di-judge "Paling Bodoh" siswa-siswanya. Satu kelas itu berisik minta ampun dan saya katakan dengan lantang, "Masa depan kalian tidak ditentukan oleh nilai-nilai kalian di rapot!" dan mereka terlihat tercengang mendengar itu. Yg menentukan masa depan adalah bagaimana sikap kita untuk tidak menyerah & terus belajar. Juga tentunya doa orang tua.

Apalagi ketika memasuki dunia kuliah. Kita akan belajar bahwa selalu ada langit di atas langit. Kita akan menemukan banyak orang yg lebih cerdas, pemikirannya lebih kritis, lebih rakus terhadap buku-buku, dan lebih berkontribusi pada sesama. Mereka cenderung talk less do more.  Ketidakmaluan menjadi penting untuk mengakui bahwa kita ini masih bodoh sambil terus belajar, belajar, dan belajar.

Inilah yg disebut psikolog sebagai GRIT yang akarnya adalah growth mindset (pola pikir yang terus berkembang). Inilah yang akan membedakan si pintar dan si pembelajar. Teruslah merasa bodoh, karena tujuan belajar bukan untuk menjadikan yg amatir jadi ahli lalu berhenti, BUKAN!! Melainkan demi pembelajaran itu sendiri.


“Never stop learning, because life never stop teaching.”

Sunday, November 27, 2016

Makna Memaafkan yang Sesungguhnya


Apa itu memaafkan?

Ketika kita mendengar kata ‘memaafkan’ pasti ada satu skema dalam pikiran kita tentang definisi memaafkan menurut kita masing-masing. Saat mengisi seminar kemarin, dua orang siswa ditanya tentang definisi memaafkan dan diantara mereka berkata bahwa memaafkan adalah “melupakan yang jelek-jeleknya” sementara yang satunya berpendapat bahwa memaafkan adalah “tidak lagi menyimpan rasa dendam.”

Panitia, asdos, dan dosen pembimbing.
Tulisan ini terinpirasi saat aku menjadi seorang pembicara dalam seminar “Forgiveness” yang diadakan di aula SMAN 77 Jakarta yang dihadiri oleh kelas 3 IPA C. Menjadi satu tantangan tersendiri bagiku ketika mengetahui bahwa penggolongan kelas A, B, C adalah berdasarkan sistem nilai. A adalah murid dengan nilai rata-rata tertinggi sementara C adalah murid dengan nilai rata-rata terendah. Mengetahui hal tersebut, aku membuka seminar dengan kalimat: “Nilai tidak menentukan kesuksesan dan prestasi seseorang.” Dan disambut sorak sorai anak-anak satu aula.

Pemberian materi pun dimulai, dan aku menayangkan slide presentasi yang kubuat dalam waktu semalam. Alhamdulillah teman-teman sekelompok bilang design-nya bagus. Hehehe.

Memaafkan Bukan Melupakan


Sering kali kita mendengar nasihat teman-teman kita kalau abis disakiti orang “Udah lupain aja sih… lupain rasa sakitnya, lupain aja orangnya, lupain aja kesalahannya…”. Pertanyaannya, apakah bisa? Well.. mungkin bisa kalau kita mendadak amnesia atau otak kita seperti computer yang file-nya bisa di-delete dan computer diinstall ulang.

Memaafkan bukanlah melupakan. Karena pada dasarnya, memori tidak bisa dibatalkan. Jika saja kita mengetahui suatu informasi, tentu informasi itu masuk ke dalam pikiran kita dan kita proses. Apalagi suatu kejadian atau suatu peristiwa yang membekas begitu dalam, tidak mungkin dilupakan.

Kalau memaafkan adalah melupakan, itu artinya memaafkan adalah satu hal yang mustahil.

Memaafkan Bukan Pembenaran


Memaafkan juga bukan pembenaran. Tentunya berbeda antara pembenaran dan kebenaran. Sementara kita tahu dengan jelas, bahwa kebenarannya adalah si fulan telah menyakiti kita dan membuat kita terluka. Maka bisakah kita cukup berani mengatakan pada si fulan: “Hey…, kamu egois, kamu telah menyakitiku dan membuatku kecewa, aku tidak mau kamu mengulanginya lagi.”

Pernah aku menghabiskan waktu untuk berdiskusi masalah ini dengan beberapa teman sesama perempuan, dimana mereka berkeyakinan bahwa “wanita hebat adalah mereka yang tetap tersenyum, ketika hati mereka menangis.

Pertanyaannya, sampai kapan perasaan akan terus dipendam? Kenapa kita tidak cukup beraniuntuk percaya diri dan lebih asertif? Asertif memang memicu perbedaan dan perdebatan, tapi itu membuka diskusi dan pemahaman. Seorang dosenku yang juga psikolog keluarga berkata bahwa kunci dalam awetnya hubungan hanya dua fondasi dasar: Komitmen dan komunikasi. Tanpa salah satunya, secinta apapun dua orang tersebut tentu tidak akan awet.

Memaafkan Bukan Berkata “Aku Maafkan Kamu”


Loh? Maksudnya?

Iya, memaafkan bukanlah sekadar berkata “Aku maafkan kamu” dan setelah itu selesai. Memaafkan bukanlah satu event atau satu kejadian, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Karena terkadang, ketika kita memaafkan seseorang, kita hanya mengatakannya secara lisan namun hati kita tidak berkomitmen untuk benar-benar memaafkan orang itu.

Memaafkan Butuh Mendefinisikan Rasa Sakit


Memaafkan itu butuh menyalahkan terlebih dahulu, kita bisa mendefinisikan rasa sakitnya di buku diari dan memberi nama dengan jelas setiap ancaman yang datang atau pengkhianatan yang telah terjadi. Kita beri nama setiap rasa sakit secara spesifik, penyebab, dan dampak yang kita alami. Luapkan perasaan kita sejujur-jujurnya, bisa di buku diari maupun dengan curhat kepada sahabat terdekat kita yang bisa kita percaya.

Mengapa kita perlu mendefinisikan rasa sakit ini? Karena kita harus tahu jelas berapa harga dari maaf yang akan kita berikan. Bagi penerima maaf, maaf itu tentunya gratis. Namun bagi pemberi maaf, ada harga yang harus kita bayar demi kebahagiaan kita sendiri. Jadi kita harus tahu jelas takarannya.

Memaafkan itu Menerima


Memaafkan itu menerima, menerima bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di luar kendali kita. Menerima bahwa setiap orang memiliki kekurangan begitu pula kita juga punya kekurangan. Menerima bahwa memang hal itu terjadi telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Menerima bahwa itu semua adalah proses menuju kedewasaan. Menerima dan sanggup menghadapi rasa sakit itu dengan ikhlas, dan menyadari pada akhirnya kita akan baik-baik saja.

Memaafkan Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Bayangkan situasi ini, jika kita terus merawat luka dan menyimpan dendam pada seseorang yang telah menyakiti kita. Namun orang yang telah menyakiti kita tersebut malah hidup senang dan bergembira. See? It’s all about yourself.

Memaafkan tidak bergantung pada orang lain. Dalam artian, apakah orang tersebut meminta maaf atau tidak, kita tetap harus memaafkannya. Dan orang yang bersalah pada kita tidak harus selalu tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.

Memaafkan pada dasarnya dilakukan untuk diri sendiri, to get well soon and move on.

Memaafkan itu Tanpa Syarat


Kata kunci dari forgive adalah ‘give’ yang artinya ‘memberi’. Maka dalam hal memaafkan, ada yang memberi dan menerima. Yang memberi maaf adalah pemberi maaf. Dan yang menerima maaf adalah penerima maaf.

Jika aku ingin memberikan kado kepada ummiku, tentu aku akan memberi kado tersebut dilandasi cinta. Itulah kata kunci dan akar dari memaafkan, yaitu cinta. Ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang, tentunya dilandasi oleh rasa cinta. Cinta itu tulus dan cinta itu tanpa syarat.

Memaafkan Adalah Proses dalam Lingkaran Pemaafan


Banyak dari peserta seminar tidak mengerti ketika aku menyajikan slideshow di atas. Hehehe.. padahal ini adalah inti dari seminarku sepanjang 20 menit di aula SMAN 77. Sebelumnya, aku pikir memaafkan adalah sebuah event atau satu kejadian seperti berkata secara lisan “aku memaafkan kamu” namun sebenarnya tidaklah seperti itu.

Memaafkan adalah sebuah proses, proses yang aktif dan bukan proses pasif. Yang mana proses ini terbentuk karena cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita, maka kita seharusnya bisa memaafkan orang lain dengan cinta tanpa syarat pula.

Misalnya, di jalan tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang. Maka aku membutuhkan sedikit cinta tanpa syarat darinya untuk bisa mendapatkan maaf tanpa syarat itu. Sehingga karena cinta dan maaf yang sudah diberikan kepadaku dari orang-orang disekelilingku, maka aku juga seharusnya bisa memberikan maaf kepada orang yang bersalah kepadaku.

Seperti kisah dalam buku 3 pohon yang menari karangan Miroslav. Ada 3 pohon, satu pohon bertugas untuk memberi, satu pohon bertugas untuk menerima, dan satu pohonnya lagi bertugas untuk menjaga perputaran tersebut tanpa henti. Dan dalam lingkaran tersebut, tidak ada yang statusnya lebih tinggi maupun lebih rendah. Seperti inilah lingkaran pemaafan yang kumaksud. Dan lingkaran pemaafan ini ada di masyarakat, jika lingkaran pemaafan ini putus, maka masyarakat akan hancur.

Memaafkan Adalah Sebuah Komitmen


Ketika kita sudah memilih untuk memaafkan seseorang, aku tidak menafikkan bahwa terkadang perasaan pahit dan sakit itu kembali muncul lagi dan lagi dan lagi. Namun bisakah kita stay committed pada pilihan yang telah kita ambil?

Kita memang terluka, namun kita takkan menjadi korban. Tidak peduli seberapa besar perasaan sakit hati ataupun pahit yang kembali muncul, itu takkan mendefinisikan kita, melainkan kita jadikan kesempatan untuk memaafkan lagi… memaafkan lagi… dan memaafkan lagi.

Lalu pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah,:

Mengapa kita harus memaafkan?


  • Untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena jika kita terus menyimpan dendam, itu artinya kita terikat dengan masa lalu dan menghambat diri kita dari progresivitas.
  • Karena kita lebih besar daripada emosi-emosi itu. You’re bigger than those emotions.
  • Karena kita juga melakukan banyak kesalahan.
  • Karena kita hanya memiliki satu hati. Kita tidak bisa membaginya menjadi dua, untuk membenci atau mencintai. Kita harus menjadikan hati kita utuh untuk salah satu saja (membenci atau mencintai).
  • Dan karena Tuhan Maha Pengampun. Dan Dia menyuruh hamba-Nya untuk saling memaafkan.


Memaafkan Diri Sendiri


Pernahkah kita melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya kita sesali?

Atau kegagalan yang terjadi dalam hidup kita akibat dari kelalaian yang kita sadari?

Atau kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita karena dia telah kita sakiti?

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan seringkali kita menyalahkan diri sendiri akan hal-hal tersebut. Dan itu hal wajar, karena memaafkan selalu dimulai dari menyalahkan. Maka jangan menghindari hal tersebut, mengakui kesalahan diri sendiri berarti kita mengambil kendali untuk juga memaafkan diri sendiri. Meski itu sangat sulit dan lebih sulit dilakukan daripada memaafkan orang lain.

Jika tadi aku bicara lingkaran pemaafan yang ada di masyarakat, sekarang lingkaran pemaafan tersebut ada di dalam diri sendiri. Karena kasusnya adalah pemberi dan penerima maaf adalah diri sendiri. Sehingga itu tidak lepas, melainkan berputar antara perasaan harapan dan penyeselan. Seperti misalnya saat aku berusaha bangkit kembali dari kegagalan, dulu langganan rangking 29 dari 30, hingga kini pun penyesalannya masih ada. 


Banyak orang yang bilang untuk melupakan, ada juga yang bilang untuk melepaskan.

Namun aku memilih sebuah pepatah ibrani yang berkata “nasa” yaitu menerima dan membawanya dengan cinta.

Hidup seperti ini memang melelahkan, karena lingkaran kembali berputar, maka tak heran jika perasaan pahit dan menyesal itu datang kembali, lagi dan lagi. Namun itu takkan mendefinisikan kita tentu saja, melainkan sebagai kesempatan bagi kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi. 

Salah satu kasus yang kualami kutulis disini: 
http://maryam-qonita.blogspot.co.id/2016/11/forgiving-unforgivable.html 

Ada satu kisah menarik dengan memilih hidup seperti ini. Yaitu kisah Santa Claus yang mencuri pohon natal, namun dia kembalikan. Dan setiap dia kembalikan, maka hatinya akan tumbuh 3x lebih besar. Begitu pula ketika kita mengizinkan diri kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi, maka kita akan berjalan ke depannya dengan hati yang sangat besar tersebut.




To forgive is always a gift we give ourselves.



Pemateri, pembimbing, dan terapis.

Pencarian:

  • Kata mutiara memaafkan
  • Memaafkan orang yang menyakiti kita
  • Cara memaafkan orang lain dengan tulus
  • Cara memaafkan orang yang telah menyakiti kita
  • Definisi memaafkan
  • Memaafkan dalam islam
  • Memaafkan adalah
  • Tips memaafkan orang lain
  • Menyikapi orang yang menyakiti kita


Sunday, August 31, 2014

Cerita Praktek Masyarakat Desa Karangbaru




Pagi mengintai di balik kapas-kapas putih yang melayang. Hari itu aku dan kelompok PPM (Praktek Pengenalan Masyarakat) 15 sudah tiba di Desa Karangbaru. Sebuah desa terpencil di sudut kota, di tengah persawahan yang amat luas.

Sebenarnya sakti banget nih desa, mentang-mentang namanya Karangbaru, kami ditempatkan di sebuah rumah yang baru (belum dicat), dengan peralatan alat masuk yang juga baru. Kalau naik ke lantai dua, dengan leluasa temanku banyak yang membuka jilbab saking jarangnya penduduk di desa ini. Aku cuma elus-elus dada. Sayangnya, disini tidak ada sinyal. Kami pun sangat kesulitan menggunakan alat komunikasi.


Selama satu bulan, 14 orang santri putri Pondok Pesantren Husnul Khotimah ditempatkan di desa ini untuk mengabdi pada masyarakat. Kami menyebutnya PPM atau yang biasa dikenal PKL. Kami pun berlatih pidato bahasa Sunda, membentuk remaja masjid, mengadakan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), pesantren kilat selama empat hari, mengadakan bantuan sosial, dan mengadakan perlombaan antar pemuda atau anak-anak.

Karena di sini tidak ada sekolah dan tidak ada angkot, maka para pemuda banyak yang putus sekolah dan memilih bekerja di ibu kota. Jumlah pemuda di desa ini bisa dihitung jari. Kebanyakan penduduk adalah orang tua dan anak-anak. Karena jarang ada pemuda, tingkat kriminal dan kekerasan cukup tinggi. Pencurian, penculikan, bahkan pemerkosaan.

Dengan ilmu seadanya yang kami dapati dari pesantren selama lima tahun, kami pun menggiring anak-anak di desa itu untuk berani bermimpi. Meski sekolah sangat jauh, sebagian tetap berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Saat TPA pun kami sering menanyakan mimpi-mimpi mereka, Ada Daus yang ingin jadi da’i dan ada Iis yang belum tahu mimpinya. Diantara mereka ada Aldi dan Aisah (bukan nama sebenarnya). Dua kakak beradik ini sama-sama kelas 5 SD, hanya saja Aldi sedikit lebih tua beberapa bulan.



Keduanya sama-sama ingin menjadi guru, namun mereka mengatakannya sambil menundukkan kepala. Mereka menarik perhatianku dan sahabatku, Sani. Pasalnya, Aldi dan Aisah memiliki sifat yang sama-sama pendiam meski mereka anak yang rajin.

“Aldi sama Aisah tinggal bareng neneknya,” kata Daus ketika TPA telah dibubarkan.

“Emang ibu bapaknya dimana?” tanyaku.

“Bapak sudah meninggal dan Ibunya menikah lagi. Tapi, bapak tirinya kerja di Jakarta sementara ibunya gak tau kemana.”

Aku mangut-mangut mengerti. “Udah berapa lama?”

“Dari kelas 1 SD kayaknya, ya?” tanya Daus ke anak TPA yang lainnya.

“Neneknya sering nyuruh Aldi berhenti sekolah terus kerja, soalnya neneknya sering sakit-sakitan, teh.” kata salah satu anak TPA  tapi aku lupa namanya. Aku terdiam berpikir, anak kelas 5 SD emang mau kerja apa? Aku bahkan tak sanggup membayangkan selama ini Aldi dan Aisah tidak tinggal bersama bersama orang tua mereka selama 5 tahun. Ibunya menghilang entah kemana dan ayah tirinya bekerja di Jakarta tidak pernah pulang. Sementara mereka tinggal dengan nenek mereka yang sakit-sakitan?

"Ibunya masih hidup kan?" tanya Sani.

"Iya teh, tapi gak pernah muncul," jawab Daus.

Meskipun tidak paham benar, tapi aku tahu bahwa ada batas yang tidak mampu aku dan Sani lampaui. Kami sibuk mengurus anak-anak TPA yang lainnya. Kemampuan kami hanyalah mencoba menanamkan mimpi-mimpi yang tinggi untuk anak-anak di desa ini saat seluruh pemudanya banyak yang putus sekolah.

Meski sebagian dalam hatiku berkata “tidak mungkin”, tapi sebagian dari diriku yang lain menyuruhku untuk tetap mencoba menanam kebaikan sekecil apapun itu. Meski terkadang memaksa mereka untuk punya mimpi.

Masih teringat jelas di benakku saat memaksa anak-anak satu kelas di pesantren kilat (yang hampir seluruhnya tidak punya cita-cita) agar memiliki cita-cita saat itu juga. "Masa sih gak punya cita-cita atau mimpi? Apa aja kek... kamu mau jadi apa, ayo bilang!"

Akhirnya satu anak bilang ingin jadi dokter, semuanya pun ikutan pengen jadi dokter. "Dokter aja teh..." atau "Dokter juga teh..." atau mungkin "Iya teh, sama," dengan suara yang sangat pelan. Hfft... ya sudahlah tidak apa-apa.

Bersama anak-anak Pesantren Kilat yang semuanya ingin jadi Dokter

Berbeda dengan pesantren kilat yang hanya empat hari, TPA diadakan setiap sore hari. Saat itu, Aisah yang selalu menjadi perhatianku. Ketika anak-anak yang lain berebut mencari perhatian, dia hanya diam di tempatnya. Wajahnya manis sekali. Bahkan, untuk ukuran anak kelas 5 SD Aisah terbilang tinggi. Setiap pulang TPA, Aldi dan Aisah selalu pulang bersama dengan berboncengan sepeda. So sweetnya kakak adek :)

Hari demi hari bergulir. Setelah sebulan mengabdi, tibalah hari terakhir kami di desa ini. Yang kami lakukan memang hal-hal kecil, akan tetapi kami yakin peninggalan kami seperti DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dan Karang Taruna sedikit banyak adalah bentuk kontribusi nyata.

Hari demi hari terus bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat…. Terbit di timur, terbenam di barat… Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu seterusnya hingga minggu dan minggu kian berganti. Hingga bulan demi bulan. Kami adalah siswa kelas 3 aliyah, disibukkan dengan ujian Quran 5 juz, try out UN dan persiapan masuk universitas.

Hingga akhirnya, kami sekelompok kembali ke desa Karangbaru setelah menempuh ujian SNMPTN 2012. Bisa dikatakan setelah setahun kemudian kami baru mengunjungi desa ini kembali. Kami juga mengunjungi kepala desa, sekolah, mushala, TPA, dan rumah-rumah penduduk.

Alhamdulillah, DKM dan Karang Taruna masih aktif. Hanya saja TPA sudah tidak lagi berjalan padahal kami sudah meminta pemuda DKM mengganti mengajar. Anak-anak TPA kembali kami temui dan banyak dari mereka yang menghabiskan waktu sore harinya bermain-main.

“Loh koq pada gak TPA lagi?” tanyaku pada Akmal.

“Soalnya yang lain gak berangkat juga, teh…” ujarnya.

“Tapi masih pada sekolah kan?!” tanyaku menginterogasi.

“Iya lah teh.., cuma Aldi sama Aisah aja yang gak sekolah lagi.”

“Loh.. kenapa?” tanyaku

Anak-anak itu tidak menjawab. Mereka hanya menggelengkan kepala. Meski aku tidak yakin mereka benar-benar tidak tahu ketika salah seorang menaruh telunjuk di bibir.

Aku masih tidak memiliki firasat apa-apa sampai kami sekelompok kembali menaiki angkot carteran bersama untuk pulang. Mobil angkot pun meluncur di jalanan kecil di tengah sawah. Sambil berdesakan di dalam mobil, teman-temanku yang lain mengobrol. Awalnya aku hanya menyimak obrolan mereka saja.

“Ingat itu gak? ...Aisah?”

 “Itu yang tinggi cantik, yang adiknya Aldi kan?”

“…diperkosa ya?”

Aku tertegun mendengarnya. Sontak aku langsung bertanya, “Sama siapa?!”

“Kamu gak tau? Sama bapak tirinya sendiri, katanya bapaknya datang dari Jakarta.”

“Kalian tahu darimana sih?!!” tanyaku masih gak percaya.

“Udah diomongin semua tetangga kali, Mar… dari tadi kamu kemana aja?”

Sumpah serapah keluar dari mulut teman-temanku menghujat pria yang akhirnya kabur sebelum diamuk masa itu. Aku terdiam melihat ke pemandangan di belakang mobil. Tinggal sawah sejauh mata memandang. Aku tak tahu kapan lagi aku bisa mengunjungi desa ini, Desa dimana kutemui kehidupan mereka, Aldi dan Aisah. Apakah mereka melanjutkan sekolah lagi atau tidak? Dimana mereka sekarang? Bagaimana mereka bertahan hidup? Atau bagaimana mimpi keduanya ingin menjadi seorang guru? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benakku bersamaan namun tak ada satupun yang terjawab hingga saat ini. 




Penerimaan yang Tulus

Hujan di Jakarta. 
(Gambar dipinjam dari: Detiknews.com)

Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan hujan turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung.., mungkin itu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami.

Malam kian merangkak naik, sementara hujan tak kian surut. Tak selangkah pun aku keluar  dari toko untuk rapat di kampus. Sementara, masih banyak amanah lain terpikul di punggungku. Tentu saja ya, setiap orang memiliki impian dalam hidupnya, impian yang ingin diwujudkan. Sekarang aku sudah tidak peduli, aku bahkan takut menghadapi kenyataan bahwa hidup hanya berisi masalah yang tak kunjung selesai.

Malam itu, aku baru saja kehilangan salah satu persyaratan administrasi AIESEC UNJ pertukaran pelajar ke Taiwan. Setelah berhasil melewati 3 tahap seleksi ketat dan lolos, aku tetap tidak berangkat ke Taiwan. Belum lagi, ada banyak rapat harus kuhadiri, penelitian minat baca yang kulakukan sebelum mewawancarai rektor dan orang-orang sibuk lainnya, aku juga harus belajar untuk UAS yang menumpuk dan lagi menyelesaikan membaca buku setebal 500 halaman untuk didiskusikan besok pagi.

Aku harus ini… Aku harus itu…

Mungkin… bagiku sekolah hanya kendaraan menuju mimpi. Dengan berlandaskan teori Gayatri Chakravorty Spivak yaitu kaum penjajah dan kelas terjajah, ternyata kualitas hidupku tidak bermutu. Aku adalah kaum terjajah itu dan aku baru menyadarinya. Apalagi, mimpiku hanya sebatas melanjutkan kuliah di luar negeri dan menulis sebuah buku. Aku tidak pernah bermimpi besar untuk menghilangkan kebodohan negeri ini.

Mimpiku… apakah begitu penting?

Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Teringat belum shalat isya, aku pun berlari di bawah hujan menuju musholla terdekat. Musholla At-Taubah, yang biasanya dipakai oleh anak-anak Rumah Belajar TEKO untuk belajar atau mengaji. Sudah pukul delapan malam seharusnya TPA sudah selesai. Namun, sayup-sayup kembali kudengar suara bocah-bocah itu. Aku pun berjalan mendekati sumber suara.

Foto Mushalla At-Taubah di siang hari
(Gambar dipinjam dari Facebook Rumbel Teko)

“Assalamu’alaikum…” sapaku di depan pintu. Ternyata masih ada Maman, Iyan dan Nur sedang membaca buku cerita anak-anak di pojok ruangan. Bocah-bocah bertubuh ringkih itu langsung terkesiap. Kulihat terkembang layar kepayahan di wajah-wajah mungil setelah bermain-main dan belajar seharian. Membuatku tersenyum kecil melihat mereka.

“Kak Maryam ngapain kesini?” tanya Nur. Mengingat hari ini memang bukan hari jadwal biasanya aku mengajar.

“Kak Maryam belum sholat isya, mau sholat dulu.”

“Kak Maryam belum sholat isya?” tanya Maman tidak percaya. “Kita mah udah dari tadi ya…,” ujarnya pada yang lain. Aku hanya diam dan menaruh tasku di dekat mereka.

“Kak Maryam naro tas disini dulu, ya,” ucapku lalu beranjak keluar untuk mengambil air wudhu. Saat melangkah masuk, entah perasaan seperti apa yang kurasakan saat itu. Aku menggelar sajadah dan shalat isya, berharap Dia menguatkan punggungku. Sementara Maman, Iyan dan Nur masih asyik membaca buku anak-anak di pojok ruangan.

Selesai shalat, aku kembali melihat mereka. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari mata wajah-wajah lelah itu. Aku tak ingin mengganggu, karena kupikir mereka sedang serius membaca buku cerita anak-anak. Aku pun mengambil handphone dari tas untuk menelepon ummi. Namun sebelum aku menelepon ummi, anak-anak itu mengelilingiku memegang handphone.

“Kak Maryam bikin rekaman yuk..…” ajak mereka.

Sebenarnya aku sering mendengar teguran dari kakak pembimbing yang lain tidak boleh menunjukkan handphone di depan anak-anak Rumbel TEKO. Nanti mereka bisa rebutan bahkan membanting handphone tersebut. Selain itu, mereka akan membanding-bandingkan kakak mana yang baik hati dan tidak baik hati untuk meminjamkan handphone.

“Ayo kak…!!!” ajak Nur dengan suara nyaring. Rupanya, ia lebih galak dariku.

Aku ragu, mengingat baru kemarin anak rumbel TEKO melompat di atas tasku yang berisi laptop lalu melemparnya dari pojok ke pojok ruangan.

“Tapi kakak yang pegang hapenya, ya!” ujarku. Awalnya, aku membuat video mereka lompat-lompatan, dan berlari kesana kemari di depan kamera handphone. Mereka pun, melompat, berteriak ke arah kamera sambil berlari mengelilingi ruangan.

Sampai akhirnya, Iyan tidak sengaja mendorong Nur hingga menangis. Iyan enggan meminta maaf, Nur terus menyalahkan. Aku terdiam serba salah juga bingung dengan apa yang harus kulakukan. Jadi kubiarkan Nur terus menangis saja sambil membujuk Iyan untuk belajar meminta maaf.

Mereka pun baikan lagi tidak lama kemudian. Iyan menjulurkan tangannya dan Nur langsung berhenti menangis begitu saja? Seakan-akan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Luar biasa, aku melihat kembali dunia anak-anak yang polos itu.. Tentang berani meminta maaf, tentang penghargaan pada orang lain, dan tentang penerimaan yang tulus.

“Sekarang foto-foto aja deh, satu-satu,” kataku untuk mencegah mereka lompat-lompatan dan saling mendorong lagi. “Hm… Nur dulu deh,” ujarku untuk menghibur hatinya.

“Bertiga aja, kak…” sambut Iyan.

“Iya, sambil megang piala… ayo Nur!” ajak Maman mengambil piala dari bupet. Piala-piala itu adalah hasil perlombaan adzan dan hafalan surat pendek yang dimenangi anak-anak Rumbel TEKO.

“Gak…, Satu-satu dulu. Nur dulu nanti ganti-gantian….” Sahutku.

“Barengan aja, Kak Maryam mah..!!” Nur galak memarahiku dengan suara yang tinggi. Aku terhenyak begitu mendapat omelannya lagi. Itu artinya, dia benar-benar sudah tidak bersedih.

“Tapi jangan berantem ya...!” kataku. Mereka pun langsung berjejer bertiga sambil memegang piala dengan wajah bangga. “Satu… dua… tiga!”


Dari kiri ke kanan: Maman, Iyan, dan Nur
(Doc. Pribadi)

Setelah itu aku bertanya mimpi mereka saat besar nanti. Aku benar-benar penasaran. Maman berkata ingin menjadi ustadz mengajar ngaji seperti bapaknya dan Nur ingin menjadi dokter. Sementara Iyan masih bingung mau jadi apa. Hm, mereka mungkin belum bisa membedakan mimpi dan cita-cita, tapi tidak apa-apa… aku belajar banyak hari itu, tentang ketulusan, keberanian, menghargai orang lain, mendengarkan, mendoakan, juga penerimaan yang tulus.

Ya, penerimaan yang tulus untuk memaafkan segala kejadian yang menimpa diri kita. Termasuk kejadian yang menimpaku pagi tadi.

Mereka memang anak-anak dari slum area di tengah hiruk pikuk ibu kota yang ditanami gedung-gedung angkuh. Tapi mereka adalah malaikat-malaikat kecil yang hebat dan tangguh. Ya, mimpi-mimpi mereka mungkin sama sederhananya denganku, melanjutkan sekolah tingkat lebih tinggi dan menggapai cita-cita. Sangat sederhana dibandingkan mimpi anak-anak Jakarta lain yang ingin mengelilingi dunia atau menjadi pahlawan super. Bahkan bisa dikatakan mimpi kami syarat keegoisan demi membuktikan bahwa kami adalah bagian yang tersembunyi dari kehidupan.

Bagiku menempuh pendidikan hingga ke luar negeri adalah sesuatu yang luar biasa. Sewaktu kecil, bisa dikatakan hal itu mustahil. Namun, sekarang aku bisa melihatnya tinggal selangkah di hadapanku. Meski pada akhirnya belum dapat kugapai. Setidaknya, mimpi memberikan harapan untuk mewujudkan apa yang selama ini kuanggap mustahil. Aku tidak butuh teori untuk mengerti dan menjelaskannya.

Aku melihat gerimis mulai surut di luar.

“Kak Maryam pulang dulu, ya.”

“Iya kak,” kata mereka setelah lelah bermain.

 “Assalamu’alaikum…” ujarku. Mereka bahkan tak sempat menjawab salamku karena sibuk dengan buku cerita mereka kembali. Aku mengambil tasku dan memakai sepatuku. Sejujurnya aku juga sudah sangat lelah menangis seharian karena rasa takut dan penyesalan. Bahkan tak ada apapun yang masuk perutku hari ini.

Malam kian purna. Waktu kulampui dengan terus berjalan ke kosan. Meski begitu, tak kupercepat langkah dibawah gerimis. Saat itu, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung kota yang mencekam, tetesan air bergelantungan di taman yang remang, kuperhatikan luapan air sungai yang kelam, kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Hanya wajah anak-anak itu yang menyesaki ruang kepalaku saat ini…

Saat ini, aku bahkan tak sanggup lagi untuk menangis. Bayanganku terus mengikuti tubuhku sepanjang malam bergulir. Yang kurasakan hanya liukan hawa dingin kian mencekam. Lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram. Sementara gerimis masih turun.... sebelum semuanya gelap.


Tulisan ini disertakan dalam lomba blog, yuk berbagi mimpimu juga lewat ^_^ :  http://http//www.kontesmimpiproperti.com/event-blog-kontes/

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb