Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

[Cerpen Motivasi] Bocah Dalam Hujan



Cerpen Islami, Cerpen Motivasi Aku terbangun saat sinar matahari jatuh di pelupuk mataku. Silau. Cece membuka jendela kamar dan kulihat jam dinding menunjukkan jam delapan pagi. Huwaaa!!! Aku terlambat sekolah. Kenapa jam weker tidak berdering, ya? Padahal aku sudah nge-set biar berdering jam enam. Bodo, ah! Aku langsung bergegas menuju kamar mandi tapi bukan buat mandi, melainkan buat cuci muka dan gosok gigi doang.

“Ce, kenapa gak bangunin Rafli, sih? Cece tau kan, kalau Rafli sampai gak sekolah, mama gak bakal ngasih uang jajan seminggu?!” lontarku protes keluar dari kamar mandi. 

“Cece udah bangunin Mas Rafli tadi pas subuh, tapi Mas Rafli tidur lagi,” kata si cece sambil ngeberesin ranjangku yang berantakan.

Kok bangunin pas subuh, sih? Ya iyalah Rafli tidur lagi!” balasku. Aku membuka pintu lemari dan melirik ke arah cece. Wanita 50 tahun itu manggut-manggut mengerti isyaratku dan berjalan keluar dari kamar.

“Emang Mas Rafli gak sholat subuh?”

“Banyak nanya nih, ah! Tenang aja, ce. Allah kan maha pengampun!”

 “Mas Rafli ada bener juga, ya? Tapi salah Mas Rafli sendiri sih, pacaran dengan Neng Hepinya kelamaan! Oia, kata Mang Udin mobil lagi di bengkel, nyonya tadi nelpon Mas Rafli naik taksi aja,” kata si cece masih bertahan di ambang pintu kamar. Ia terkekeh saat melihatku mau mengganti baju.“ “Ih, Mas Rafli seksi deh!” ucap cece genit. Aku melotot dan langsung menutup pintu kamar. 

            GRRRHH!!!! Sumpah serapah nyembur dari mulutku gak karuan. Mobil lagi di bengkel?! Aku bener-bener terlambat sekolah kalau gini. Gak tau mau nyalahin siapa, aku mulai menyalahkan jam weker yang gak berdering jam 6 tadi. Jam weker durjana!

Sudah 5 menit, tapi mobil sedan berwarna biru dengan tulisan taksi di atasnya gak satupun nongol. Kulirik jam tangan, sekarang jam delapan lewat lima belas. Aku sih pengennya bolos sekolah aja terus kabur main game online, tapi mengingat kemarin mama marah-marah gara-gara aku ketahuan main PS di rumah Anton. Akhirnya, aku ketahuan ngumpet di kolong kasur dan Anton ketahuan pura-pura sakit biar gak sekolah. Mana aku tahu kalau mama mau jenguk Anton sebagai anak dari sahabatnya mama.

            Sebuah angkot menepi. Pria tua dekil itu membunyikan klakson, isyarat biar aku masuk. Kumohon, aku belum pernah naik angkot sebelumnya. Anak tunggal seorang pejabat tinggi negara naik mobil angkot??

            “Mas, mau ke SMA Merah Putih, kan?” tanya si sopir.

“Emang napa?”

            “Saya mau lewat situ juga soalnya. Murah ko’, cuma 2000 aja.”

            Taksi kapan lewat, ya?” Aku bergumam sambil membuang muka. 

            “Mas, daripada naik taksi 20.000,  gak dateng-dateng lagi!”

            Angkot itu terus bertahan. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mendengus dan masuk ke dalam angkot. Mobil itupun meluncur dengan sangat lambat, mungkin agar bisa melihat jika ada penumpang lain yang mau naik. Sebuah aroma masuk melewati lubang hidungku, itu pasti campuran bau ayam, bau amis ikan, bau keringat, dan berbagai macam bau lainnya. Membuatku mau muntah. Aku mulai ngedumel gak jelas.

            “Anak muda jaman sekarang aneh-aneh aja ya, A? Apa itu gaya terbaru?” tanya seorang ibu terkikik menunjuk ke kakiku. Apa ada sesuatu yang aneh? Aku pun melihat kakiku dengan muka heran. DEG! Sepatuku beda sebelah. Satunya sepatu sekolah dan satunya sepatunya Mang Udin. GRRRHHH!!!!! 

Aku berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Gerbang sudah dikunci tapi biar begitu aku tahu celah lain di sekolah ini. Aku pun berhasil masuk ke pekarangan tanpa ketahuan satpam. Setelah itu langsung berlari masuk kelas mendahului seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap. Guruku di pelajaran berikutnya. Akhirnya akupun berhasil mendahuluinya, semua mata mengarah ke arahku tapi aku cuek dan duduk di bangku paling belakang samping si Anton.

            “Kemane aje lu, Rap?” tanya Anton.

            “Tadi malam gue pacaran sama si hepi kelamaan jadi gue bangun telat, puas lu?”

            “Hepi? Hape maksud lu?”

            “Apa lagi?! Banyak nanya lu, ah!”

            “Jailah, gitu aja marah. Kalo bukan gara-gara nyokap lu kemaren, kayaknya hari ini lu dah bolos, gue bener kan?”

            “Lu diem aja dah! Ini semua kan gara-gara lu juga! Coba kemaren lu gak ngajak gue maen PS, gue bisa main G-O di warnet sekarang dan juga gak perlu ngalamin hari sial kayak gini!”

            “Jah... itu kan pilihan lu sendiri, Rap,” ujar Anton. , “Betewe, lu koq beda hari ini, Rap. Biasanya lu kan wangi sembriwing gitu, koq aromanya jadi lain. Lu gak mandi, ya?”

            “Gue bilang lu diem aja!!” bentakku memenuhi seisi kelas. Saat yang bersamaan, pria setengah botak masuk. Dia melotot ke arahku dan mendehem keras. Rasanya jantung mau copot saat itu juga. Pak Dono emang orang paling serem sepanjang sejarah manusia. Jika saja dia duduk dengan Indiana Jones, Indiana Jones pasti bakal terlihat seperti banci.

            Aku dan Anton mengakhiri pembicaraan. Serempak semua kelas pun membisu setelah mengucapkan sambutan berupa salam. Pak Dono lalu mulai mengajar dan menjelaskan istilah-istilah biologi yang bikin kepala makin mumet. Sfingter pilorus, asam amino, pepton, velum palastini, bla bla bla.

            Pikiranku mulai mengawang. Meninggalkan ruangan kelas yang hanya menjejali otak dengan teori menjemukan. Kurebahkan kepalaku ke atas meja sejenak untuk menghilangkan penat dan kesuntukan. 

&&&

            Aku baru pulang sekolah dan sekarang sedang berdiri di halte pinggir jalan, menunggu bus antar kota. Orang-orang berlalu lalang, puntung rokok terurai burai, pengamen bernyanyi cempreng, pengemis masang wajah melas di emper-emper, pedagang asongan menjajakan dagangannya, semuanya bercampur baur jadi lautan manusia kumal dengan sengak bau keringat. Aku bener-bener mau muntah. 

            Langit berubah gelap, tak lama gerimis menyibak celah-celah hitam awan. Hujan datang dengan deras dan membasahi bumi. Desau angin terdengar kencang sekali bersama dengan kilat yang menyala-nyala. Seorang bocah 5 tahun muncul dengan bertelanjang kaki, bajunya dekil, tubuhnya kurus, dia membawa sebuah payung di tangannya dan menawarkannya kepadaku.

            “Cuma gope,” katanya. Aku masih gak ngerti sampai dia menawarkan payung yang dibawanya itu, “Murah, akan kupinjamkan jika kakak memberiku gope.”

            “Nggak, aku gak perlu,” ujarku melambaikan tangan.

            “Terimakasih, kakak!” ujar bocah itu. Dengan kakinya yang kurus ia kembali menjajakan payungnya pada orang lain dengan semangat. Seakan bocah itu gak mengeluh dengan kerasnya kehidupan yang terkadang angkuh. Aku tersenyum melihat kegigihan mereka sambil menahan malu pada diri sendiri dan mulai memperhatikan bocah itu sembari menunggu bus.

            Ojek payung, aku menyebutnya. Tak urung bocah ojek payung itu menggigil kedinginan membuntuti orang yang meminjam payungnya. Sesekali bocah itu menghapus air yang membasahi wajahnya. Tapi ia tetap tersenyum apalagi saat menerima gope logam dari para peminjam payung. 

            “Terimakasih, tuan!” katanya pada seorang pria yang meminjam payung buat berteduh di halte ini. 

            “Apa kamu nggak sekolah?” tanya pria itu.

            “Nggak, aku gak punya uang buat sekolah, aku juga harus ngurus emak yang lagi sakit,” jawab bocah itu polos. Aku makin menunduk malu, berapa banyak waktu mereka habiskan buat bekerja demi ibunya tanpa mengeluh, sementara nikmat yang kudapatkan bukannya membuatku tambah bersyukur, malah ngabisin waktu dengan mengeluh dan mengeluh.

            Bus yang kutunggu tiba, aku langsung berlari hendak menerobos derasnya hujan. Tapi aku terdiam gak sempat masuk, kehujanan, pandanganku buyar. Dengan setengah sadar, kudengar suara entah dari mana.

            “Ayo bangun! Bangun!” Mataku mengerjap-ngerjap. Wajah seseorang terlihat dengan samar-samar dan makin lama makin jelas. Orang itu memandangku dengan matanya yang melotot sampai sebesar bola pingpong. Seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap memegang segelas sisa air mineral.

            Huwaaa!!!!
&&&


  • Ojek payung
  • cerpen islami
  • cerpen motivasi
  • cerpen 

Friday, April 8, 2016

[Sambung Cerpen] Memori



Disusun dalam pemenuhan tugas BBC 8 April 2016

Hari ini kukeluarkan semua isi memori dari kepalaku. Memilah-milah dan menimbang-nimbang mana yang perlu kusimpan. Sungguh banyak memori yang kusimpan selama hidup puluhan tahun. Bahkan sesuatu yang tak ingin kuingat lagi masih tersimpan. Memori yang baik, kubersihkan dan kususun kembali dengan rapih di kepala. Memori yang jelek dan usang, langsung masuk keranjang sampah.

Tragis, lebih banyak yang terbuang dibanding yang kembali tersimpan. Beberapa justru memalukan: mengajak bolos sekelas waktu SD, pingsan sewaktu upacara, mengulang matakuliah gara-gara sering bolos, lupa syair sewaktu lomba menyanyi, tertangkap Ayah menonton film porno, dan lain sebagainya yang segera kulempar ke keranjang sampah. Pantas saja selama ini aku sering lupa ulang tahun Ayah, Ibu, Kakak dan Adik. Pantas saja aku susah menceritakan kembali apa yang telah kubaca. Kupikir karena aku cuek dan cuek itu membanggakan. Padahal, otakku yang letoy!

Kalau saja aku punya mesin waktu, aku akan kembali ke masa lalu dan memarahi diriku yang lama. “Bangun dan lakukan sesuatu dalam hidupmu, anak pemalas! Hidup itu payah, kau pikir kau dapat berguna di masyarakat dengan perilakumu seperti ini?” Andai saja mesin waktu memang sungguh ada, tentunya aku akan kembali ke masa lalu dan membuat sebuah perubahan berarti pada diri lamaku hingga tidak menjalani hidup payah seperti ini.

Aku membayangkan lagi, andaikan otakku seperti pita film yang terangkai dalam sebuah kaset tua. Aku akan menggunting beberapa bagian dari pita film tersebut, membuang yang tidak berguna, dan menyatukan bagian film yang lain. Jika memang otakku seperti pita film yang bisa kusunting sesuka hatiku, aku tentu bersedia untuk menonton dan memutar ulang kembali masa lalu menyenangkan tanpa melihat masa laluku yang memalukan.

Atau bagaimana jika memoriku seperti kumpulan potongan puzzle. Ada bagian menyenangkan, ada bagian tidak menyenangkan. Ada bagian terang dan ada bagian gelap. Aku tentu saja akan membuang bagian puzzle gelap dan menyusun sisanya. Meski gambarnya tidak sempurna.


Wednesday, April 6, 2016

[Sambung Cerpen] Banjir

Tulisan ini dibuat untuk pemenuhan tugas harian Bikin Buku Club, melanjutkan cerpen. Tanggal 6 April 2016.


Entah bagaimana caranya menolak hujan. Katanya, hujan adalah rezeki. Bukannya mau menolak berkah dari langit tapi hujan di rumahku sungguh memilukan. Kami tidak mengerti di mana rezekinya. Yang kami tahu adalah atap rumah yang menangis, tak kuasa menghalau air. Hujan seperti menertawakan rumah kami yang ringkih dan ompong bolong sana-sini.

Di dapur, di kamar dan di mana saja, hujan menyusur semua celah tanpa ampun. Ember, loyang bahkan cangkir sekepal balita kami sebar di mana-mana. Bayangkan riuhnya kami memanen air. Bayangkan paniknya kami menyelamatkan baju, buku dan kasur kumal. Bayangkan kami gigil lembap semalam suntuk. Masih sibuk dengan tingkah hujan di atap, ia kemudian menyamar jadi sungai kecil di lantai. Menggiring sendal-sendal kami ke pojok, menghanyutkan tilam dari ruang tengah ke pintu dapur.

Jika langit masih terus memeras airnya, sungai kecil berubah bandang. Ranjang, kursi dan lemari seperti menyesal tak bisa berenang. Tenggelam. Rumahku seperti akuarium dan kami seperti monyet yang melarikan diri ke atap menunggu berjam-jam sebagai manusia loteng sambil menunggu perahu karet dari kelurahan.

            Masih jam 9 pagi. Suasana masihlah gaduh dan penuh hiruk-pikuk, anak-anak berlarian hilir mudik, diiringi sahut-sahutan klakson kendaraan bermotor yang berparade menuju tempat yang lebih tinggi, ramai nian…! Dari loteng rumah aku melihat beberapa wartawan tampak sibuk meliput kondisi kampung yang sudah bertahun-tahun terkenal rawan banjir ini. Di depan kamera para wartawan tersebut, belasan anak-anak melompat-lompat sambil seringai lebar menghiasi wajah mereka. Hore, masuk tivi!

            Aku dan bapak masih duduk di loteng rumah. Tengah menunggu perahu karet dari kelurahan untuk mengungsikan beberapa barang yang berharga ke tempat yang tinggi. Tapi sepertinya ini masih akan memakan waktu lebih lama, karena setiap warga ingin mengungsikan barang-barang mereka. Sementara beberapa titik tempat pengungsian sudah penuh dan ramai oleh ibu-ibu dan anak-anak.

            “Bos!!” teriak Bang Mamat di depan pintu rumah kami menyahut bapak. Bapak tersentak dan melihat Bang Mamat yang sedang menaiki perahu karet yang diatasnya ada sebuah buntelan sarung.  Ternyata perahu karet datang lebih cepat dari yang kuduga.

            “Ada barang yang mau dibawa gak, bos? Jangan dibawa semua, yang penting-penting aje!” teriak Bang Mamat yang kepalanya mendongak melihat kami di atas loteng.

            “Ada, lu tunggu bentar!” Bapak turun dari loteng untuk masuk ke rumah. Dalam beberapa menit, bapak membuka pintu rumah dan banjir telah membasahi celananya. Kami tak memiliki tivi maupun barang elektronik berharga lainnya, jadi yang diungsikan oleh bapak hanyalah beberapa buku sekolahku dan beberapa kaset-kaset tua film Rhoma Irama tahun 80-an.

            “Di pengungsian ada bini gue, nanti titip aja ke dia ye,” ujar bapak.

            “Siaap..,” timpal Bang Mamat seraya membuka buntelan sarung di atas perahu karetnya. Bang Mamat pun mengeluarkan dua buah kaos dari buntelan sarung tersebut dan memberikannya pada bapak. “Ini kalau bukan karena nomor urut dua, lu bakal nungguin perahu karet sampe malem bos. Lumayanlah, di kelurahan juga ada beras merek Foke dan sembako merek Foke…”

Bapak pun manggut-manggut melihat kaos tersebut, dan seorang pria berkumis tebal tampak tersenyum lebar semanis mungkin.
               
               



Tuesday, September 2, 2014

[Cerpen Keluarga Islami] Mentari Sudah Pulang


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit. Kutumpahkan pandangan ke lautan awan di luar sana, yang mulai memerah petang ketika mentari beringsut perlahan kembali ke lingkup terbenamnya. Membiaskan kemilau jingga yang menyebar melalui ceruk lingkaran langit. Indah. Di sudut lain kehidupan, orang-orang dalam busway membawa pulang kelelahan setelah seharian bekerja. Tergambar dari kernyit dahi dan butir peluh yang masih menempel di kerah baju mereka.

Sejenak bola mataku terpaku pada seorang ibu yang berdiri tepat di depanku. Usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Ia membawa sebuah kardus yang sepertinya berat. Ada corat-coret bergambar bunga matahari di kardus tersebut. Kulihat ibu itu kerap memegangi kepalanya yang berbalut jilbab. Aku langsung tahu kalau dia pusing setelah sekian lama berdiri. Sempat terlintas di benakku untuk memberikan tempat dudukku padanya, tapi aku mengurungkan niatku itu. Rumah kos masih jauh, dan aku lebih butuh duduk daripada ibu itu, aku rasa.

Langit senja mulai temaram. Mentari semakin merunduk seolah tunduk pada kekuasaan malam. Dia yang tadi terus mengintip, akhirnya sempurna bersembunyi di peraduannya. Aku turun di sebuah terminal busway, sementara ibu tadi sudah turun di tiga terminal sebelumnya segera setelah adzan maghrib berkumandang. Mungkin dia akan melaksanakan tugasnya sebagai orang muslim, sholat.

Sholat…, hatiku bergetar. Walau di KTP tertera aku beragama Katolik, tapi dulu aku beragama Islam. Jika kau bertanya mengapa aku murtad dari Islam, itu karena aku kehilangan ingatan sewaktu usiaku 13 tahun. Suster yang merawatku di rumah sakit berkata kalau aku kecelakaan, entahlah, aku tidak ingat apapun. Yang kutahu, dulu aku beragama Islam dari jilbab biru muda yang kukenakan waktu itu.

Berbulan-bulan aku tinggal di rumah sakit, seorang wanita dengan tudung kepala dan kalung salib mendatangiku. Dia mengajakku untuk tinggal di panti asuhan bersama anak-anak yang nasibnya sama denganku. Akhirnya, akupun memutuskan tinggal di panti asuhan yang bernaung di bawah gereja tersebut. Para pengasuh berpakaian biarawati dan anak-anak di panti asuhan sangat baik. Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun aku tinggal disana, aku memilih memeluk agama mereka. Aku meyakini tuhan mereka adalah tuhanku juga. Aku sembahyang di gereja setiap hari Minggu. Dan aku merayakan natal sebagaimana teman-temanku yang lain.

“Vina, kau tidak perlu lagi mempedulikan keluargamu. Mereka juga kan tidak mempedulikanmu. Jika mereka mempedulikanmu, seharusnya mereka datang menjengukmu ke rumah sakit! Hanya kami yang peduli denganmu, kau pasti tahu itu!” Riska, temanku di panti berkata padaku beberapa tahun yang lalu. Walau pahit, aku membenarkan ucapannya.

Malam semakin merangkak naik dan aku masih dalam perjalanan pulang. Udara dingin menyeruak ke segenap pori pori ditambah lapar yang mendera, pelupuk mataku pun mulai menggelayut manja, seakan memaksa diri agar cepat tiba di rumah kos. Ketika sampai nanti, aku perlu mandi untuk menghilangkan butir keringat selepas kerja sambilan yang kulakukan demi membiayai kuliah teknik sipilku ini. Setelah itu, makan malam dengan membeli abon dan nasi bungkus dari warung Bi Sumarni. Sehabis makan, baru aku bisa rebahkan tubuh di atas kasur. Menanti gelap menyelimuti lelap.

Sebenarnya aku merasa sebagian teman kampusku sangat beruntung. Ketika mereka pulang berbekal keletihan, air hangat sudah menyambut di rumah. Belum lagi di benak mereka sudah terbayang makan malam sederhana tapi nikmat hasil racikan tangan seorang ibu yang penuh cinta. Ah, nikmatnya…

Buliran bening jatuh membasahi pipi ketika aku mendongakkan kepala. Langit begitu pekat, tiada rembulan dan gemintang. Entahlah bagaimana wajah ibuku, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya.

 “Tuhan, bukankah engkau maha pengasih? Pertemukanlah aku dengan ibuku…,” ucapku lirih. Kucium tanganku setelah menyentuh dahi, bahu kiri, dan kanan. Aku ingin melihat wajah ibuku. Ingin memeluknya begitu erat dan berkata akulah anaknya.

Setelah kuseka buliran bening itu, aku terperangah mendapati seorang anak laki-laki hendak menyebrang, sementara terdapat sebuah mobil kijang yang melaju kencang di jalan gelap tersebut. Eh? Eh? Anak itu berlari begitu saja, tanpa tengok kanan-kiri. Dia akan tertabrak! Aku langsung berteriak memanggilnya tapi seolah dia tidak mendengarku. Langsung saja aku berlari mengejarnya sembari berteriak menyuruhnya minggir, tapi dia tetap tidak menggubris. Anak itu tidak tertabrak. Sementara akulah yang tertabrak, terdorong, dan jatuh terduduk. Ban mobil itu berdecit nyaring. Platnya berada sekitar 5 cm di depan wajahku. Adegan yang sangat cepat.

Deg! Aku tidak bergeming laksana patung. Mataku nanar, nafasku kian tak teratur, dan jantungku memompa lebih kencang. Tiba-tiba bayangan aneh berkelebat di benakku, saling rangkai merangkai menjadi kesatuan yang utuh. Mirip pita film yang terkoyak, atau mirip anak-anak puzzle berterbangan, atau mirip anak rantai yang terputus. Semua itu menyatu menjadi sebuah rekaman masa lalu yang kembali terulang…

-oo0oo-

Sebelas tahun yang lalu…

Sebenarnya ini bukan keinginanku. Tapi Putri, Amalia, dan Mira terus membujukku hingga akhirnya  aku luluh juga oleh rayuan tersebut. Aku pun terpaksa berbohong pada Ayah dan ibu. Aku bilang bahwa aku mau belajar bersama di rumah Putri, dan mereka percaya.

Semula Putri berkata kalau ia hanya ingin pergi ke bioskop untuk nonton film Star Wars. Tadinya rencanaku, aku ingin segera pulang setelah selesai menonton film itu. Tapi, sore itu mall meriah sekali. Membuatku lupa waktu. Selain menonton, aku dan temanku juga makan ayam goreng dan belanja manik-manik lucu khas perempuan. Ya, namanya juga ABG alias Anak Baru Gede.

Usai bersenang-senang, baru kusadari kalau hari sudah malam. Langit sudah hitam dan pijar lampu kota mewarnai tepi jalan. Aku ingin pulang. Begitu pula Putri, Amalia, dan Mira. Dasar ibu kota, ketika pada malam hari pun jalanannya masih saja ramai. Akhirnya, dengan dibantu oleh seorang bapak-bapak, kita pun menyebrangi jalan raya itu untuk selanjutnya naik taksi ke Lenteng.

“Ingat ya, jangan beri tahu orang tua kalian!” kata Putri, temanku yang telah berjasa mentraktir kita hari ini ketika tiba di trotoar.

“Tidak akan…,” kata Amalia.

“Iya. Bisa-bisa aku dihukum sama Abi,” timpal Mira.

“Kalian tunggu disini sebentar ya, aku teringat sesuatu,” ujarku.

“Ada apa, Ri?” tanya Amalia.

“Tasku tertinggal di tempat ayam goreng.”

“Ya sudah, cepat ambil sana! Jangan lama-lama, ya!” kata Putri.

Aku tahu. Aku tidak boleh lama-lama. Makanya aku melangkah dengan setengah berlari menyebrangi jalan raya itu tanpa kusadari sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Kepalaku membentur kaca depan mobil dan kurasakan sakit yang luar biasa menyergap seluruh tubuh. Kulihat darah segar mengalir, kudengar sumpah serapah orang-orang, sebelum akhirnya teriakan itu mengalun makin pelan, pandanganku buram, dan semuanya menjadi gelap.

-oo0oo-
           
Aku sudah ingat semuanya, peristiwa yang hilang sebelas tahun lalu. Orang-orang mengerumuniku, memandangku dengan tatapan yang membuatku tak betah lama-lama duduk disini. Aku pun segera bangkit dan berlari dari tempat ini segera. Tapi, anak laki-laki tadi… dimana? Ah! Aku tidak peduli karena kutahu dia baik-baik saja.

Rasa rindu membuncah di dada. Aku ingin pulang ke rumah lamaku. Tapi apa keluargaku masih tinggal disana?

Detik demi detik berselang, membentuk rangkaian menit dan jam. Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang ibu, Ayah, dan adikku Hasan. Tapi, ini pun sudah terlalu malam untuk mencari dimana keluargaku tinggal sekarang. Jadi  aku putuskan untuk mencarinya besok.

Fajar menyingsing di sudut cakrawala. Mentari menyapa ramah dan sinarnya mengintai dari balik awan-awan yang bergemelayut manja. Sepasang kakiku melangkah, menyusuri rute jalan menuju komplek Mabad II, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sebuah rumah sederhana bercat hijau berada di antara rumah yang lain. Itu adalah rumah dimana keluargaku tinggal sebelas tahun lalu, dan aku akan segera mengetahui apakah mereka masih tinggal disini atau tidak. Langkahku pun semakin mendekat dan mendekat. Kupercepat langkahku seirama dengan ritme jantung yang berdegup kencang. Akhirnya, aku pun tiba di depan pintu rumah ini. Hendak mengetuknya.

Tunggu. Keluargaku beragama Islam, jadi aku harus mengucapkan salam sebagaimana kebiasaan mereka. “Assalamu’alaikum!” sahutku seraya mengetuk pintu dengan nada beruntun, menggambarkan perasaanku yang kini meluap-luap.

“Walaikumsalam...” Seorang pria membuka pintu. Aku terperangah kaget. Aku mengenalinya walau waktu telah menampakkan cukup perbedaan. Dia Ayah!

“Ayah, ini Mentari!” ujarku setengah berteriak.

“Mentari? Mentari? Itukah kamu?” tanya Ayah menengok ke segala arah.

“Iya! Mentari disini!” Aku tidak mengerti kenapa Ayah seakan tidak melihatku.

“Kenapa kamu tidak pulang, nak? Ayah sangat merindukan kamu. Begitu pula ibumu dan Hasan! Itulah kenapa kami tidak pindah rumah, karena kami menunggumu! Sekarang ibumu di rumah sakit. Dia menderita tumor otak. Dokter bilang hidupnya sebentar lagi dan permintaan terakhirnya adalah ingin melihatmu pulang! Tapi, kamu dimana?”

“Mentari sudah pulang dan berdiri di depan Ayah..!”

“Dimana? Kenapa Ayah tidak melihatmu?”

“Ada apa, yah?” seorang anak muda berusia enam belas tahun muncul dari pelosok rumah. Aku tertegun, dia Hasan adikku. Terakhir kulihat dia masih kecil, masih sering merengek minta dibelikan es tung-tung. Kini, dia bahkan lebih tinggi dariku dan wajahnya sangat tampan, mirip Ayahnya.

“Hasan, Ayah mendengar suara kakakmu!”

“Apa?” pekik Hasan

“Sepertinya ada kakakmu disini!”

“Sudahlah, Ayah. Sekarang lebih baik kita menjenguk ibu di rumah sakit. Sakit kepala ibu kambuh lagi setelah kemarin keletihan berdiri di busway. Ibu pasti ingin kita berada di dekatnya,” kata Hasan.

“Iya, Ayah tahu! Tapi suara itu benar-benar nyata!” kata Ayah tidak kalah sengit.

“Ayah hanya berimajinasi. Tidak ada siapa-siapa disini!” ujar Hasan lalu mengangkat sebuah kardus aqua. “Andai saja kemarin aku membantu ibu membawa buku-buku jualan ini, ibu tidak akan selelah tadi malam hingga jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.”

Aku kaget bukan main. Apa mungkin ibu yang kemarin kubiarkan berdiri di busway adalah seorang wanita yang telah melahirkanku? Seorang wanita yang seharusnya aku panggil dia ibu? Kulihat kardus aqua itu, ada gambar bunga mataharinya... Aku langsung jatuh tersungkur. Air mataku tumpah seketika. Dadaku rasanya sesak. Sesak sekali!

“Koran…, Koran…!” Seorang anak muda mengayuh pedal-pedal sepeda ontel sembari melempar sebuah koran hangat ke teras rumah. Aku membaca beberapa baris berita di halaman pertama koran tersebut: Seorang gadis yang diduga bernama Vina (24) tewas semalam. Menurut saksi, awalnya gadis ini berteriak sendiri di tengah jalan hingga akhirnya sebuah mobil kijang menabraknya hingga tewas bersimbah darah…

Kuningan, 11 Mei 2010


Baca Cerpen Lainnya:

Monday, September 1, 2014

[Cerpen Psikologi] Retak




Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan gerimis turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung. Mungkin itu satu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami. Dan barangkali dongeng tentang diriku bermula dari seorang pria bertopeng di dalam kepala.


Masih membekas jelas dalam ingatan, malam-malam raya yang haram dan tidak pernah kumubazirkan. Ibu dan ayah mungkin mencemaskanku semalaman ini. Namun peduli setan. Hawa panas kian menari-nari dalam tubuh, menyeretku lebih jauh dalam hasrat pemuasan nafsu dengan wanita-wanita diskotik setengah telanjang.



Malam-malam itu telah lama berlalu. Saat keringat dingin membanjiri seluruh tubuh dan mendadak otakku nge-blank. Aku jatuh tersungkur ke lantai diskotik yang dingin. Mengejang. Ingin rasanya membenturkan kepalaku dan memecahkannya dalam satu ledakan. Kesakitan mendera, serasa gatal di setiap inci tubuh, ususku seperti diris-iris dan persendian terasa ngilu. Kudengar kembali teriakan-teriakan itu. Sumpah serapah itu… orang-orang menggoncang tubuhku yang mematung, menerawang kosong dengan air liur menetes-netes…


Semenjak aku dilarikan ke rumah sakit dan panti rehabilitasi, semakin sering kudengar omelan si pria bertopeng itu. Aku ingin sekali berteriak mengusirnya, namun dia malah tertawa. Tertawa terbahak-bahak dengan perutnya terkocok-kocok. Dasar! Ia mungkin tidak akan puas menyakitiku hingga aku memecahkan kepalaku sendiri. Namun sepertinya aku hanya seorang pengecut dan tidak pernah berani melakukan itu.


Malam kian merangkak naik. Orang-orang tidak melepaskan sorotan mata mereka. Aku membalas mereka dengan satu seringai, namun mereka sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin pulang. Pulang ke rumah, bertemu ibu dan ayah juga saudara-saudaraku.


Malam kian purna. Langkahku kupercepat seiring detak jantung yang berdegup kencang. Mencoba kukumpulkan kenangan-kenangan yang berceceran dimana-mana. Di sudut-sudut kota Jakarta yang ditanami gedung-gedung angkuh, di luapan air sungai yang kelam, di taman-teman penuh embun bergelantungan, di lampu jalan yang remang-remang, ya… dimana-mana. Semuanya bagaikan puzzle-puzzle berserakan atau pita film yang terkoyak menjadi rekaman dongeng masa lalu yang kembali terulang. Ya, terulang mundur.



“Ravio…” Aku menoleh dan kulihat sesosok wanita paruh baya membawa sekantung belanjaan. Rambutnya mulai memutih dan garis-garis keriput terlihat jelas di wajahnya ketika dia berjalan mendekat Wajah itu tiba-tiba menyesaki ruang kepala. Aku tidak bergeming laksana selaksa bisu.

 “Ibu…”

“Ayo pulang!” sahutnya dengan senyuman.

Waktu seakan berhenti berputar. Bayangannya seakan samar, namun mungkinkah dia ibuku? Kembali kucoba mengenalinya setelah sekian lama. Meskipun begitu, kakiku terus mengikuti bayangannya, terus sepanjang malam kian bergulir. Ia membawaku ke sebuah rumah.  Rumah dengan semak-semak belukar yang menjalar dan rerumputuan liar memanjang. Rumah ini berdebu. Saat melangkah masuk, entah kenapa ruangan ini menebarkan aroma duka dan luka penyesalan. Sementara wanita itu pergi menghilang ke dalaman rumah.

Mataku masih nyalang, menelanjangi setiap sudut rumah yang begitu kelam  dengan debu dan sarang laba-laba. Seakan tiada yang mengurusnya. Sayup-sayup telingaku menyimak suara di tengah ruangan, aku mencoba mendekati sumber suara dan kulihat bocah SD bertubuh ringkih. Tampak terkembang layar kepayahan pada wajahnya setelah bermain playstation seharian. Ia tidur telentang di atas karpet dengan liur berleleran.

Di pojok ruangan, kulihat seorang pria tua sedang membenarkan beberapa peralatan elektronik rumah ini yang mulai rusak. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari matanya di balik kacamata bundar itu. Aku tak ingin mengganggunya karena kupikir ia sedang serius membetulkan radio tua tersebut. Namun keterpakuanku padanya hanya membuatnya geram.

Sayup-sayup dari lantai dua kudengar suara music menggema yang sedari tadi tidak berhenti. Oh, itu pasti dia. Dia tidak pernah keluar kamar semenjak diputuskan oleh pacarnya dan berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu rock di kamar. Aku tidak mungkin mengganggunya.

         
“Ini telor balado kesukaan kamu, Vio…” Wanita itu memanggilku di ruang makan. Dengan sigap aku langsung menyambar makanan tersebut. Namun entah kenapa, masakannya tidak lagi seenak dulu. Tapi tidak apa-apa, perutku memang sejak tadi sedang lapar.

“Enak gak?” tanyanya.

“Enak bu. Tapi masih enakan yang dulu,” ujarku yang begitu teringat telor baladonya yang kumakan sewaktu SMA. Dulu telor balado ibu sambalnya yang mantap, bumbunya yang gurih dan kental. Tidak akan kulupakan meski telah bertahun-tahun tidak mencicipinya.

“Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah pulang…” Wanita itu yang mungkin ibuku, dia membelai wajahku lembut seakan-akan aku ini anak laki-laki yang masih kecil… tunggu, berapa ya usiaku saat ini?

“Berapa usiaku?”

“23 tahun, sudah seharusnya kamu memiliki pekerjaan…”

Aku terdiam hening. Aku tidak tahu pekerjaan apapun kecuali orang-orang di rumah sakit berbaju putih itu. Mereka menyebut diri mereka dokter.  “Aku ingin menjadi seperti mereka, dokter.”

Ibu mengangguk. Ia pun menjabarkan apa yang harus kulalui untuk menjadi dokter. Namun, karena biaya kuliah kedokteran yang mahal maka akupun harus sedikit bersabar. Ayah akan berjuang untuk mengumpulkan uang demi aku kuliah. Tentu saja aku akan membantunya.

Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu seterusnya hingga minggu dan minggu kian berganti. Hingga bulan demi bulan.


Setiap harinya kulihat Akmal selalu asyik bermain playstation, kalau sudah capek maka dia akan tertidur lelap terlentang sambil mendengkur dan liur berleleran. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan lain. Ibu tidak pernah memarahinya, begitu pula ayah. Tidak seperti dulu, rumahku benar-benar damai sekarang. Kak Risa mulai keluar dari kamarnya. Kabarnya dia sudah memiliki pacar baru yang benar-benar amat dicintainya. Namun akhirnya, Kak Risa jadi sering pulang dini hari.

Ayah selalu keluar rumah pukul enam pagi karena ia harus bekerja hingga dzuhur. Ia adalah seorang insinyur mesin dan ahli fisika yang sangat andal. Sementara aku sendiri membantu ayah bekerja dengan menjadi kondektur busway. Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi toh waktu kerjaku hanya dari pukul satu siang hingga pukul tujuh malam. Setiap aku pulang, selalu ada ibu memasak di dapur.

 “Ayo makan…”

Aku memakannya. Dalam satu suap, kurasakan masakan ibu tetap sama dan tidak pernah seenak dulu.

“Enak gak?”


“Enak bu, tapi tetap tidak seenak yang dulu.”


Kulihat raut wajah sedih di muka ibu. Dia lalu mengambil buku catatannya dan menuliskan sesuatu di buku catatan itu. Aku penasaran dan berusaha mengintip tulisannya tapi ibu langsung menarik buku tersebut.


“Saat usiamu 21 tahun nanti, barulah kamu boleh membaca tulisan ini.


Aku terdiam. Bingung, berapa usiaku saat ini?


“22 tahun, kau seharusnya sudah lulus kuliah.” Ibu menjawab seperti membaca pertanyaan dalam kepalaku.

 Hanya mengiyakan kata ibu. Aku terlupa akan usiaku saat ini. Aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu yang sering kali tidak bisa kumengerti maknanya dan kehadirannya. Ingatan yang retak, mungkin itu yang kualami.

“Aku ingin berkuliah seperti ayah kuliah. Bagiku ayah adalah orang yang hebat.”

 “Kalau gitu kamu harus belajar yang rajin. Saingan-sainganmu yang masuk teknik mesin itu orangnya pintar-pintar…”

Benar kata ibu, orang yang masuk teknik mesin pasti sama seperti ayah. Mereka pintar-pintar dan tentunya aku harus rajin belajar.


Hari demi hari bergulir. Matahari terbit di Timur, terbenam di barat… terbit di timur terbenam di barat…. Bayang-bayang memanjang dan memendek. Memanjang lagi dan memendek lagi. Begitu terus. Pagi itu dingin, kuluangkan mengerjakan soal fisika. Siang yang datar, kuhabiskan dengan mengerjakan soal kimia. Senja yang panjang, aku membaca buku Biologi, hingga malam yang purna tiba. Tanpa kusadari minggu demi minggu berganti hingga bulan demi bulan.


Suara ketukan pintu terdengar disusul wajah ibu di balik pintu.


“Vio… ibu bawakan telor balado kesukaanmu…”


“Masuk saja bu!”


Ibu pun berdiri di samping meja belajarku. “Anak ibu memang rajin,” ujarnya sambil menaruh nampan berisi telor balado di atas meja belajar. “Kamu kan sudah 21 tahun, emang belum punya pacar?” Tanya ibu.


“Pacar?”


“Besok-besok ikut Risa saja, siapa tahu kakakmu bisa mengenalkanmu dengan temannya. Ibu sudah tidak sabar bertemu dengan pacarmu.” Ibu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Keesokan paginya aku menaiki mobil sedan berwarna merah Kak Risa. Ia tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, mobil ini pasti dari pacarnya. Kudengar pacar Kak Risa kaya raya. Aku hanya mengikutinya ketika ia membawaku ke dalam sebuah tempat karaoke ternama di ibu kota. Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah sofa merah besar bersandar di dinding. Di depan sofa itu ada meja penuh bir di atasnya. Ruangan ini remang-remang dan aku hanya terduduk di sofa sementara Kak Risa terdiam menunggu pacarnya.



“Sebentar lagi pacarku datang, kau harus menyambutnya dengan baik ya… Nanti aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman cewekku juga.”


Tidak lama kemudian, seorang pria jangkung bertubuh ceking memasuki ruangan karaoke. Dari gaya pakaiannya sepertinya ia pasti anak orang kaya.


“Wisnu, ini adikku namanya Ravio…” ujar Kak Risa menunjukku. Aku langsung bangkit dari kursi sambil menjulurkan tanganku untuk kenalan. Pria itu melihatku dengan sorotan mata yang sangat aneh. Ia tertawa melihatku.


“Kamu bercanda ya?” tanyanya pada Kak Risa.


“Bercanda? Aku hanya ingin mengenalkan kamu pada adikku…”


“Adikmu yang mana?”


Kak Risa menarik tanganku. Kali ini pria itu jelas-jelas melihatku.


“Dia ini adikku…!”


“Ada apa sih ini?” Tanya pria itu tidak mengerti.


“Namaku Ravio, aku adik Kak Risa. Bang, katanya abang punya banyak kenalaan cewek?” tanyaku berani membuka suara.


Pria itu mendesah kesal. “Hentikan permainan ini!”



“Kau tidak suka aku membawa adikku?”


“Apa kau gilaa?!” bentak pria itu membuatku naik pitam. Aku langsung meraih kerah bajunya dan melihatnya matanya tajam-tajam. Itu membuatku merasa berkuasa.


“Kau bilang kakakku apa?!” bentakku memelototinya. Membuat mataku dan matanya hanya berjarak beberapa centi.


“Ris, kau kenapa? Apa kau bukan lagi gay?” Tanya pria itu membuatku bingung. Apa dia baru saja memanggilku Risa? Atau menyebutku gay? Aku tertegun… sekelebat ingatan muncul dalam benakku begitu saja. Kenyataan-kenyataan perih yang membuatku ingin melarikan diri dari dunia. Ingatan tentang ruangan itu, topeng, darah, dan mayat-mayat. Pria itu pergi. Begitu pula Kak Risa yang entah sejak kapan sudah tidak ada dalam ruangan. Hanya aku sendiri.


Deg! Pria bertopeng itu kembali muncul dalam kepalaku membuatku tersungkur di dinginnya lanta. Ia menyakitiku dengan menusuk-nusuk kepalaku dengan sebuah belati. Ia ingin membunuhku. Rasanya ingin sekali kupecahkan kepala ini dalam satu ledakan daripada mendengarkan sumpah serapahnya.  Dalam satu embusan napas, membutuhkan waktu bagi untuk menyedot tenaga lebih besar dan jantung memompa lebih kencang.


“AAAARRGGGGHHHHHHHH…………….!!! KAU DIAAAAM!!! DIAAAAMM….”


Sumpah serapah kulontarkan. Pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan. Kebentur-benturkan kepalaku dengan sekuat tenaga ke ujung meja hingga darah mengucur ke lantai. Namun pria bertopeng itu tetap tidak ingin pergi. Tawanya kian membahana mengacak-ngacak isi kepalaku.



Aku merangkak keluar dari karaoke. Kubiarkan pria bertopeng itu muncul kembali dalam kepala. Dengan jalan gontai dan darah yang terus mengucur, kuikuti samar-samar jalan pulang di tengah malam yang kian larut. Orang-orang di sekelilingku terdiam. Bermacam-macam raut wajah mereka pasang. Darah berseliweran, menjadi jejak tersendiri.


Sementara, waktu kulampui dengan terus berjalan, tapi nampaknya aku tengah hilang arah. Yang kudengar hanyalah bisikan angin dan liukan hawa dingin kian mencekam. Kuperhatikan lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram.


Kuteruskan perjalanan, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung angkuh yang mencekam.  Kuperhatikan embun bergelantungan di taman yang remang… kuperhatikan luapan air sugai yang kelam. Kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Lagi-lagi, gerimis turun, mengguyur tiap sendi perkotaan. Aku pejamkan mata… terbuai aroma darah menelusuk raga. Sebelum akhirnya, semuanya gelap…...............


“…..bagaimana?”


“Trauma mendalam di masa lalu. Sepertinya ada ingatan yang tidak ingin dia terima mengakibatkan gangguan disosiasi.”


“Lalu?”


“Kami harus memanggil seorang psikiater.”


Mataku mengerjap-ngerjap dan silau sinar ruangan ini jatuh ke pelupuk mata. Kulihat tubuhku terbaring tak berdaya di sebuah kamar di rumah sakit. Beberapa orang berkemeja rapih tampak mengelilingiku ditambah dengan seorang wanita keturunan Chinese dengan baju jas hitam dikuncir ke belakang. Kini semua sorot mata a melihatku dengan terkejut. Tapi tak satupun dari mereka yang aku kenal.


“Pak Anwar… bapak baik-baik saja?” Tanya pria tersebut. Tampaknya dia lebih tua dariku, kenapa memanggilku pak? Dan Anwar… itu kan nama ayahku.


“Saya menemukan bapak pingsan dekat toko milik saya. Ini, buku yang selalu bapak bawa kemana-mana. Saya tidak berani membukanya pak…”



Aku melihat buku bersampul hitam itu. Itu buku catatan ibu… Ibu pernah bilang agar aku tidak membacanya kecuali di saat yang tepat. Buku ini terlihat begitu dekil apalagi guyuran hujan yang mungkin membuat beberapa halaman tintanya jadi sedikit meluber dan pinggiran-pinggiran bukunya yang sobek. Buku ini kupangku dan kubuka halaman pertamanya. Ternyata ini buku diary bertanggal. Kubaca buku diary ini dengan saksama… Anehnya diary ini bertanggal mundur. Semakin belakang justru tulisan yang lebih dahulu ditulis.



Ini adalah kumpulan diary ibu, ayah, Akmal dan Kak Risa. Cukup lama aku membaca diary mereka satu persatu. Tidak ada yang tulisan dari diriku sendiri.


Kubuka halaman demi halaman…. Lagi, lagi dan lagi. Ternyata beberapa halaman diloncat.


Sampai akhirnya aku melihat bercak darah di bagian tengah buku. Bau busuk terpancar menelusuk hidung…. Membuat perutku berputar. Namun rasa penasaran membuatku ingin membaca halaman selanjutnya… Tulisannya berantakan… buru-buru dan sepertinya tulisan ini sudah sangat lama ditulis oleh penulisnya. Tidak ada tanggal di tulisan ini…. Tapi kutahu dari gaya bahasanya… tulisan ini seperti bersuara. Memunculkan sekelebat bayangan hingga kulemparkan buku tersebut…


“AAArrrgggahh….”


“Kenapa pak? Kenapa teriak?”


Pria bertopeng… pria yang menulis halaman-halaman terakhir buku itu. Pria bertopeng yang selama ini bersarang dalam kepalaku dengan sumpah serapah dan pisau belatinya, kini ikut hadir dalam kamar rumah sakit.

Baca Cerpen Lainnya:


Related Posts Plugin by ScratchTheWeb