Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, November 20, 2021

The Plateau of Latent Potential

 


Sejak kemarin, saya membaca sebuah buku yang sebenarnya menjadi daftar buku yang baru akan saya baca tahun 2022. Akan tetapi, karena satu dan lain hal (yang akan saya jelaskan di bagian akhir artikel ini), saya akhirnya memutuskan untuk membaca ‘Atomic Habits’ karya James Clear sekarang.

Sebenarnya, saya sudah membaca sebagian awal buku ini dalam versi Bahasa Indonesia di Gramedia Digital beberapa bulan lalu. Tetapi, saya merasa kesulitan memahami buku terjemahan. Justru saya lebih mudah memahami sebuah buku jika ditulis dalam Bahasa Inggris (jika itu bahasa aslinya) daripada bahasa Indonesia. Anyway, pada tulisan kali ini, saya ingin membahas tentang salah satu bagian buku ‘Atomic Habits’ yang diulas pada bab awal: The Plateau of Latent Potential.

Sering kali, kita meyakinkan diri bahwa sebuah kesuksesan besar membutuhkan sebuah aksi besar. Apakah itu kehilangan berat badan, membangun sebuah bisnis, menulis sebuah buku, memenangkan sebuah perlombaan atau meraih sebuah tujuan apapun. Kita menaruh tekanan pada diri sendiri untuk membuat sebuah peningkatan yang mengguncangkan dunia, yang mana akan dibicarakan oleh banyak orang.

Sementara itu, peningkatan kecil, 1% setiap harinya tidak terlalu menonjol, atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Tapi itu bisa memberikan lebih banyak peningkatkan yang lebih bermakna untuk jangka panjang.

Kebisaan atau habits adalah compound interest dari pengembangan diri. Sama seperti ketika uang yang meningkat melalui compound interest dalam investasi, begitu pula kebiasaan akan berlipat jika kita terus melakukannya.

Jika kita pergi ke gym dalam tiga hari berturut-turut, tentu kita belum mendapatkan  bentuk tubuh yang kita inginkan. Jika kita belajar bahasa China selama satu jam dalam semalam, kita tentunya belum mendapatkan hasil yang ingin kita lihat. Kita sering mencoba melakukan berbagai macam perubahan, tapi hasil tidak langsung terlihat, sehingga akhirnya, kita kembali ke kebiasaan lama.

Dalam buku ini, James Clear membuat sebuah ilustrasi untuk kita membayangkan mengambil satu es batu dan menaruhnya di atas meja. Ruangan begitu dingin sampai kita bisa lihat napas kita sendiri. Kemudian secara bertahap, ruangan pun dihangatkan. 26 fahrenheit, 27 fahrenheit, 28 fahrenheit… es batu tersebut masih ada di atas meja dan tidak mencair. Suhu terus menghangat, 29 fahrenheit, 30 fahrenheit, 31 fahrenheit… dan masih belum ada yang terjadi.

Sampai akhirnya tiba di 32 fahrenheit (0 derajat celcius), es mulai mencair. Perubahan setiap satu derajat tampaknya tidak memberikan dampak apapun. Es juga baru mencair di suhu 32. Akan tetapi, sebenarnya perubahan telah berlangsung dari sebelum-sebelum itu.

Momen terobosan seringkali adalah hasil dari banyak tindakan-tindakan sebelumnya, yang membangun potensi yang dibutuhkan untuk unleash sebuah perubahan besar. Pola ini muncul di mana-mana, sebagaimana kanker menghabiskan 80% waktu hidupnya tidak terdeteksi, kemudian mengambil alih tubuh seseorang hanya dalam hitungan bulan. Begitu pula pohon bambu yang nyaris tidak terlihat pada lima tahun pertamanya, karena ia membangun sebuah sistem akar yang luas di bawah tanah sebelum akhirnya ia meroket, tumbuh tinggi menjulang hingga tiga meter dalam beberapa pekan.

Inilah alasan kenapa sangat sulit untuk membangun kebiasaan yang berlangsung lama. Orang sering kali membuat beberapa perubahan, gagal melihat hasil yang nyata, dan kemudian memutuskan untuk berhenti. Kita berpikir, “aku sudah berlari pagi setiap hari dalam sebulan, tapi kenapa tidak ada perubahan apapun pada tubuhku?” Saat pikiran ini mengambil alih, sangat mudah bagi kita untuk menghentikan kebiasaan baik.

Maka dari itu, untuk membuat sebuah perubahan yang berarti, sebuah kebiasaan baik perlu bertahan cukup lama sampai menghancurkan atau melewati dataran (plateau) ini, yang mana James Clear menyebutnya sebagai The Plateau of Latent Potential (dataran tinggi potensi laten).

Jika kita menemukan diri berjuang keras untuk membangun sebuah kebiasaan baik dan menghancurkan kebiasaan buruk, itu bukan karena kita tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan diri, tapi karena kita belum melewati the Plateau of Latent Potential. Usaha kita tidak sia-sia, mereka hanya tersimpan. Sebagaimana es mencair pada suhu 32 derajat Fahrenheit.


Saat kamu berhasil melewati The Plateau of Latent Potential, orang akan menyebutmu sukses dalam semalam. Dunia luar hanya melihat peristiwa-peristiwa dramatis daripada peristiwa yang mengawali itu semua. Tapi kita tahu, itu adalah hasil kerja keras kita selama ini, yang tampaknya tidak membuat kemajuan sama sekali, yang membuat sebuah lompatan itu mungkin.

Konsep ini begitu memotivasi saya, yang saat ini menghabiskan waktu 12 jam sehari di depan laptop untuk menyusun materi online course. Saya sudah melakukannya semenjak 1 November 2021, ini adalah bulan paling produktif saya seumur hidup di mana saya merasa membuat trajectory nyata. Akan tetapi, kemarin dan kemarin lusa (19 dan 18 November) saya sempat merasa, “I am nowhere near where I thought I would be.” Saya masih sangat jauh dari target yang saya harapkan. Saya merasa bahwa kemajuan-kemajuan saya tidak begitu terlihat dan berarti.

Ketika pikiran itu hadir, saya langsung sadar bahwa itu memudahkan masuknya kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti lebih lama bermain di Instagram dan membaca berita-berita tidak penting. Saya pun mencoba mengalihkan rasa jenuh dan "sia-sia" membuat materi online course dengan berolahraga. Yang saya tahu, olahraga dapat memicu hormone tertentu di dalam otak yang membuat kita merasa “I can conquer the world!” atau “Aku dapat menaklukkan dunia!” Ternyata benar, mood saya memang membaik dan saya lebih produktif pada malam harinya. 

Tetapi, saya sadar, bisa saja, saya menjadi tidak rutin lagi  berolahraga. Akhirnya saya pun membaca buku “Atomic Habits” yang akan membantu saya membangun kebiasaan baik (olahraga). Awalnya, niat saya membaca buku ini adalah untuk mempertahankan kebiasaan rutin berolahraga yang saya mulai kemarin, tetapi justru isi buku ini juga sangat membantu dan memberikan jawaban akar permasalahan saya sesungguhnya. Ketika saya mulai merasa putus asa dengan berpikir bahwa tidak ada kemajuan nyata yang telah saya raih dengan membuat materi online course.

Beberapa hari yang lalu adalah hari-hari dengan mood yang buruk yang baik saya. Tapi saya tahu, hari-hari yang buruk adalah hari-hari yang lebih penting. Kita semua bisa produktif saat hari baik datang, tidak ada yang spesial. Akan tetapi, jika kita juga produktif di saat hari buruk datang, kita akhirnya membangun kebiasaan. Ketika kebiasaan telah terbangun, yang kita butuhkan hanyalah waktu.

Waktu yang pada akhirnya akan menampilkan sebuah perubahan besar.


#30DWCJilid33

#Day26

 

 

Thursday, November 18, 2021

Jangan Memusingkan Harga Diri!

 


Beberapa hari yang lalu, saya melihat postingan ini lewat di Instagram Explore. Tulisannya “Don’t feel sad if someone rejects you, people usually reject expensive things and go for the cheap one,” yang berarti “Jangan sedih jika seseorang menolakmu. Orang biasanya menolak hal-hal yang mahal dan memilih yang murah.”

Baiklah, tulisan ini mungkin uneg-uneg karena saya tidak bisa mencerna quote tersebut. Karena tidak tercerna dengan baik, jadi saya merasa benar-benar ingin “mengeluarkannya.”

Saya sungguh tidak mengerti kenapa seseorang harus merendahkan orang lain agar bisa meninggikan dirinya? Mereka yang mengiyakan post ini mungkin memiliki insekuritas yang sangat besar dan berusaha menutupnya dengan meninggikan diri mereka sendiri. Karena merasa bahwa diri mereka tidak “tinggi” mereka pun terpaksa merendahkan orang lain.

Kita sering punya standar ganda. Kita begitu yakin bahwa ucapan orang lain tidak menentukan siapa kita. Tetapi kita merasa ucapan kita menentukan siapa orang lain?

Padahal, ucapanmu tidak mendefinisikan orang lain. Ucapanmu mendefinisikan dirimu sendiri. Psikolog dari NYU, Guy Winch, berkata bahwa kualitas yang kita lihat pada orang lain menyampaikan banyak hal mengenai bagaimana kamu melihat dirimu sendiri!

Mengenai standar ganda. Kita sering meyakini standar tertentu jika itu menguntungkan kita, dan menaruh standar yang berbeda pada orang lain. Dalam Psikologi Kognitif dan Psikologi Perkembangan, orang yang hanya bisa berpikir dari sudut pandangnya sendiri disebut tidak memiliki theory of mind. Mereka juga sering memiliki false belief (kepercayaan palsu). Selama masa perkembangan, ini terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun.

Jika seseorang menolakmu atau mencampakkanmu, wajar jika kamu merasa sedih. Mereka tidak memperjuangkanmu dan membuatmu menanyakan harga dirimu sendiri. Kamu boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Jika perlu, tidak usah lagi lah memikirkan sesuatu yang namanya harga diri!

Saya teringat salah satu nasihat dari Guy Winch.

“Harga diri kita tidak tetap atau stabil. Kita bisa merasa baik tentang diri kita sendiri suatu pagi, dan buruk tentang diri kita sendiri keesokan harinya. Tanpa alasan yang jelas sama sekali.

Harga diri kita bertentangan. Kita bisa merasa benar-benar tidak berharga dan tidak berguna. Namun kita masih percaya bahwa kita adalah berlian di tengah lumpur. Permata yang menunggu untuk ditemukan.

Harga diri kita tergantung pada bagaimana kita menyikapi sesuatu. Ketika seseorang memberi tahu bahwa kita melakukan pekerjaan dengan baik, kita ikut mengartikannya begitu. Atau sebaliknya.

Mengingat begitu sering harga diri berubah-ubah dan kontradiktif, mungkin kita seharusnya tidak terlalu memperhatikan harga diri.

Mungkin hari-hari dengan harga diri rendah sebenarnya hanyalah hari-hari dengan suasana hati atau energi yang rendah. Mungkin kita merasa buruk namun tetap mengakui bahwa kita layak.”

Sebagai seorang Muslim, saya sendiri merasa bahwa kisah Abu Bakar melamar Fatimah sangat inspiratif. Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi. Beliau memiliki julukan Ash Shiddiq (orang yang terpercaya), tutur katanya lembut, kaya raya di dunia dan akhirat hingga Malaikat Jibril ditugaskan untuk menjaga surganya Abu Bakar yang begitu luas.

Tetapi saat Beliau melamar Fatimah, Allah menetapkan hati Nabi Muhammad untuk menolak tawaran tersebut. Sampai akhirnya Ali datang dan Allah membalikkan hati Nabi Muhammad untuk akhirnya menjodohkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Ali juga seorang sahabat yang mulia. Hanya dua sahabat Nabi yang tidak pernah menyembah Berhala sebelum Islam datang, Abu Bakar dan Ali. Keduanya memiliki kemuliaan dan keutamaan masing-masing. Keduanya juga salah satu dari Khilafah yang memimpin Muslim setelah Nabi wafat. Tetapi Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kadarnya masing-masing.

Bukan karena seseorang lebih tinggi atau lebih rendah, lebih kaya atau lebih miskin, yang akhirnya menentukan apakah kita diterima atau ditolak seseorang. Sebuah hubungan yang kandas, terlepas apapun kisah yang melatarbelakanginya, sebenarnya ada satu hal yang bisa dijejak sebagai penyebab: terdapat ketidakcocokan.

Sebagaimana kamu bisa menjadi satu paket utuh tapi terkirim ke alamat yang salah. You can be a whole package but delivered to a wrong address. Bukan karena kamu tidak berharga atau orang lain lebih berharga dan lain sebagainya, tapi simply, terdapat ketidakcocokan. 

Friday, November 12, 2021

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam Zaman Keemasan

 


Penyakit mental disebabkan oleh setan atau roh jahat sebenarnya berasal dari orang Eropa pada periode Abad pertengahan yang memandang penyakit mental terkait dengan setan. Ini adalah kerangka kerja yang paling umum digunakan untuk memahami kesehatan mental yang buruk pada saat itu (Porter, 1999). Dan memang pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim.

Namun perlu dicatat, bahwa secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistic, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan. Para scholar Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (Avicenna, pendiri Kedokteran Modern) justru menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis.

Dokter dan filsuf di masa lalu, seperti Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi and Abu Zayd Al-Balkhi, mengakui penyakit mental sebagai wacana medis dan menganjurkan pendekatan yang seimbang untuk meraih kesejahteraan.

Ini kemudian menyebabkan pendirian bangsal psikiatri pertama di Baghdad, Irak pada tahun 705 M oleh Al-Razi. Ini juga rumah sakit jiwa pertama di dunia. Menurut Al-Razi, gangguan mental dapat diobati dengan psikoterapi dan perawatan obat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak ada penyakit yang diciptakan oleh Allah, kecuali ia juga menciptakan obatnya.” [Shahih Bukhari]

Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika seseorang mengalami masalah kesahatan mental, ia dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.  Islam memberi Muslim kode perilaku, etika, dan nilai-nilai sosial, yang membantu kita dalam menoleransi dan mengembangkan strategi koping untuk menghadapi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam harmoni dengan orang lain “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Quran 28: 77)

Al-Ghazali juga menulis mengenai pentingnya kesehatan psikospiritual dan relasinya dalam hubungan kita dengan ALLAH SWT. Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menulis, “Ketika Tuhan menginginkan yang terbaik bagi seorang hamba, Dia memberikan kesadaran akan kekurangannya sendiri.” (halaman 256). Ini menekankan pentingnya kesadaran diri kita untuk tidak malu menghubungi profesional jika mengalami masalah kesehatan mental. Pada akhirnya, kesehatan mental itu juga agar kita dapat beribadah secara sebaik-baiknya kepada Allah SWT.


#30DWCJilid33

#Day18

Wednesday, March 18, 2020

Seven-Dollar Pants [UTS Psikologi Branding]

Berikut adalah tugas Midterm Exam untuk mata kuliah Psychology of Branding. Tugas dari mata kuliah ini adalah menjawab pertanyaan, jika kalian adalah sebuah produk, maka kalian adalah brand apa? Dan bagaimana brand kalian bernilai di pasaran?

Saat dosenku melakukan briefing kepada para mahasiswanya di kelas. Ada yang menjawab Starbucks karena menyenangi kopi dan kesantaian. Sementara itu, ada juga yang menjawab Apple karena menyukai teknologi dan layanan yang ditawarkannya. Sementara ini jawabanku, jika aku sebuah produk, maka aku adalah celana seharga tujuh dolar.

Alhamdulillah Midterm Exam aku ini mendapatkan nilai A dan dosenku berkata bahwa ini adalah excellent paper. Btw, kalau kalian merasa paper ini biasa saja, mungkin perlu diketahui bahwa dosenku itu memang baik banget kalau kasih nilai :D Firasatku malah, semua orang di kelas mendapatkan nilai A. Hehehe. Karena banyak yang minta ingin tahu bagaimana midterm paper ini, jadi aku posting saja sekalian di blog:

Midterm Psychology of Branding - Maryam Qonita

Seven-dollar pants

One day, I was sitting in the subway after returning from campus. I was together with one of my friends. After waiting for a while, my friend didn't get a seat. I then stood up to approach her. And I gave my seat to a woman in front of me. I said to the woman, "please, have a sit." But the woman did not sit. Not long after, an Asian man finally sat down. We briefly faced each other because of the awkward situation for a moment.

I approached my friend. I had never noticed this issue before until my friend said that the man who took the seat wore branded and expensive clothes—starting from Prada shoes, to Louis Vuitton brand scarves for 1300 USD.  My friend was confused, why do people with clothes like that ride public transportation, not riding a luxury car instead.

Hearing my friend was admiring branded goods, I was amazed to listen to her. I also remembered the journal article "Symbols for Sale" by Sydney J. Levy. Many people understand things like that, and they value symbols more. But there are still people like me who don't understand and don't care. On the other hand, I feel grateful because I don't need to feel urged by the social pressure that exists. I tend to buy an item more likely because of its practical values. In fact, my entire collection of pants now are seven-dollar pants I purchased at Costco. Those pants are warm during winter and durable. For me, that’s enough.


I am a person who values ​​differences of thought. I appreciate the views of others who believe that branded products are more valuable than non-branded products—if you really think they are. But some people think that I take cover below a robe "do not understand or do not want to understand." Yup, I shared the story above on social media. Then I got a reprimand from several people. For example, they said I don't consider the salary of workers who might not get enough income because the company sells the pants only for seven dollars.

I am studying the Psychology of Branding. So, I explained to the people on my social media that the value of a branded item or art value was obtained purely from the user's subjectivity. If indeed the person considers a branded item to be more valuable, then it is. If one considers the value of a symbol of branded products does not exist (except for its practical values), then so it is. And I often find myself the second type of person, and these people can’t force their value to emerge in my intrinsic self.

As for the argument that said I don’t consider the salary of factory workers, I told them that it is almost impossible for consumers to always consider these things every time we buy a product. Moreover, today's world makes people tired of making decisions. They want to get a good quality product quickly and instantly.

Like Professor Paul, I'm not a person who understands the art of painting. One day I visited a museum on a group tour. I wandered around for fifteen minutes for curiosity. Next, I sat in one corner of the museum for two or three hours to study in preparation for my final exam. Although there is a feeling of guilt because other people must think I am a person who cannot appreciate art. But the fact is, objectively, my action cannot be judged either it was right or wrong. My action at the museum was decided by me, whether I enjoyed the artworks or not.

I asked five of my best friends for this essay. Two of them are my best friends for more than two decades, and we have met since we were babies. They have one opinion in common about me. I am a person who likes to explore new insights. From the idea that I gained, I am not worried about expressing my opinion even though it was different from common people.

I also tend not to care about other people's opinions about myself: how I think differently, how I look (I don't use makeup to class, and I don't use branded clothes). And I don't care how people end up disagreeing with me. Even though in the end, that kind of self-brand projected an arrogant part of me.
To a certain extent, I understand that my arrogant side will not work in the Market place. So, in some situations, I pulled myself back and improved my brand as a person. I also receive input from others, listen more, and keep my mind open.

On the other hand, as a person who prioritizes practical values. I think I bring more positive advantages to the world rather than disadvantages. Because I am a person who contributed to the achievement of the 2030 Sustainable Development Goals launched by the United Nations, specifically how open education and research will contribute to the development of all aspects of the world, such as health-care and climate action. I will explain more about this.

The TEDx video "The Rise of the Collaborative Consumption" was fascinating to me. In terms of economy, the world has become more open, and symbols will only become a commodity. People don't care anymore when riding an Uber. Either they ride a Toyota or a BMW. What they care about is the practical values ​​of the car, whether it will take them from point A to point B or not.

I am the president of an organization called Open Access Indonesia. I spoke to people in educational conferences that open science, open access, and open research are the future of science. So not only in terms of economy, all over the world have become more open.

In terms of research and education, researchers who brag of the big names of journals and indexation of Scopus for rank and prestige, eventually they will be left far behind. They paid for publication in these journals, and people don’t read their published articles. Because even if students want to access the scientific article, they need to pay expensively for it. There is no use except for their prestige itself. Therefore, I advise researchers and academics to publish their works in open access journals, although not prestigious, people can access the articles for free.

Especially with the current health crisis, people, health care providers, and the government no longer care where a scientific article is published. What they care about is the practical values ​​of the knowledge conveyed in the article, whether that knowledge is useful for preventing diseases and overcoming other health problems and whether the article can be accessed easily as a basis for policymaking. People don’t care anymore whether the article was published in the prominent journal Elsevier or merely a campus repository. 

I know it doesn’t describe directly about my brand, but I think your brand can be determined from what you have been thinking and strive for.

At this stage, I hope, if only long ago, science was not an expensive and prestigious item. Then a journal article about Coronavirus by Cheng et al. 2007 would not be ignored. And now the world would not face a major crisis like today.

Yes, I am someone who doesn’t care about prestigious symbols. I even inspired by Professor Paul when he advised his students on making brands only as commodities in the future. The seven-dollar pants might be my brand, as a symbol for me to put forward practical values ​​rather than prestige in various fields of life (lifestyle, economy, education, etc.). And I believe my brand, in general, will bring more benefits to the world rather than the negative downside.

Wednesday, March 11, 2020

Symbols for Sale and The Rise of Collaborative Consumption


Pada suatu hari, aku baru saja pulang dari kampus dan aku hendak menyerahkan tempat dudukku di subway pada seorang perempuan. Waktu itu, aku ingin menghampiri temanku yang berdiri tidak jauh. Namun perempuan itu tidak kunjung duduk, lalu yang duduk malah seorang laki-laki asia di sampingnya. Pria itu terlihat tidak enakan, tapi karena dia tetap duduk jadi aku cuekin. Lalu aku membicarakan pria tersebut kepada temanku.

Aku tidak memahami masalah ini sampai temanku tersebut mengatakan bahwa pakaian laki-laki tersebut branded semua. Mulai dari sepatu prada hingga syal louis vitton. Aku periksa harga syalnya di Internet, sekitar 1300 USD. Entah berapa harga semua barang yang melekat di tubuhnya, mungkin bisa ratusan juta? Temanku heran kenapa ada orang seperti itu naik subway, bukannya naik mobil mewah pribadi.

 Mungkin banyak orang yang paham beginian, tapi ada orang kayak aku yang gak ngerti. Dan bersyukur sih, jadi aku gak ngerasa gengsi dan tertekan dengan tekanan sosial yang tinggi. Aku jujur terkejut dengan bagaimana temanku tersebut memberitahuku merek-merek terkenal itu. Kalau aku sendiri ya, aku mencari calan tujuh dolar, hangat dan awet ya sudah cukup. Begitu pula dosenku yang merupakan pakar branding simbol, bahkan meski dia profesornya, semua barang yang dia beli selalu berdasarkan practical values-nya. Bukan simbolnya.

Aku menulis ini di Instastory. Lalu seorang teman berkata bahwa barang branded itu memang lebih bernilai daripada barang bukan branded. Sementara aku berlindung di balik jubah “tidak mengerti.”
Aku mengapresiasi pemikiran dia, karena jika dia beranggapan barang bermerek memang lebih bernilai, maka itu sedemikian adanya. Nilai suatu barang bermerek atau art value itu diperoleh MURNI dari subjektifitas pengguna atau penikmatnya. Meskipun bukan berarti nilai itu ada secara nyata. Satu hal yang pasti menurut profesorku, itu adalah illusi. Karena nilai itu adalah mutlak subjektif. Kalau seseorang menganggapnya ada, ya ada. Kalau gak ada nilainya, ya gak ada nilainya juga.

Jika kalian yang membaca ini adalah orang yang memberi penghargaan lebih sama barang bermerek, ya tidak masalah. Tapi jangan sampai menekan orang lain secara sosial mana yang lebih bernilai dan mana yang tidak.


Dosenku bercerita, suatu hari dipaksa untuk memasuki museum untuk bisa lebih mengapresiasi sebuah seni lukisan. Tapi beliau kesana kemari, gak mengerti. Karena yang beliau pelajari adalah teknisnya, bagaimana menciptakan ilusi dan menjadikan suatu barang (khususnya barang yang diproduksi perusahaan) bernilai lebih di mata orang lain. Tapi bukan berarti seseorang yang S3 di Branding, lalu otomatis menjadikan dia menaruh nilai yang tinggi juga pada simbol-simbol dan art. Karena itu sifatnya intrinsic. Dalam hati manusia. Bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar lalu akhirnya ada.

Aku sendiri pernah memasuki museum, keliling sebentar selama 15 menit untuk menghilangkan rasa penasaran. Terus selanjutnya duduk di museum tersebut selama 2-3 jam untuk belajar persiapan UAS.
Faktanya, gak ada peraturan tertulis perbuatanku ini salah atau benar. Tapi jujur, ya ada perasaan bersalah dalam diriku karena orang lain pasti menganggap aku gak bisa menghargai seni. Tapi secara objektfi, tindakanku itu gak bisa dinilai benar atau salah. Tindakanku di museum dinilai dari diriku sendiri. Apakah aku menikmati karyanya atau tidak.

Ada dua buah lukisan, lukisan pertama adalah lukisan asli yang dibuat oleh pelukis legendari A yang sudah meninggal. Harganya jutaan dolar. Satu lagi, lukisan palsu yang dibuat oleh pemalsu lukisan B yang gambarnya persis sama (kualitas cat dan kertas pun sama) dengan lukisan yang asli. Lalu saat semua orang tahui tu palus, lukisan tersebut menjadi sama sekali tidak ada harganya. Nilai jualnya pun turun drastis. Ini mungkin bukti bahwa manusia merupakan makhluk esensialisme, dimana manusia peduli dengan asal muasal suatu benda dan kisah sejarah dibaliknya.

Sedikit mereka tahu misalnya, bahwa lukisan asli yang pertama tersebut berkisah tentang seorang pemalsu lukisan yang melukis sebuah lukisan yang juga gambarnya sama indahnya. Yaitu diam-diam si pemalsu lukisan B.

Siapa yang bisa menilai secara objektfi mana lukisan yang lebih berharga dan bernilai? Lukisan asli atau lukisan palsu? Bagaimana kalian membuktikan bahwa pendapat kalian itu benar? Tidak bisa kan? Ya, itu murni bagaimana kita menginterpretasikannya saja.

Sebagai aktivis sains terbuka, aku pernah berkata bahwa sains terbuka adalah masa depan ilmu pengetahuan. Dunia semakin terbuka sekarang dan para peneliti yang dulu membanggakan simbol-simbol nama jurnal Elsevier maupun indekasasi Scopus, pada akhirnya mereka akan jauh tertinggal. Sekarang yang paling penting adalah manfaat dari isi artikel jurnal tersebut, untuk mencegah banjir atau mengatasi masalah kesehatan. Bukan apakah artikel tersebut dipublikasi di Elsevier atau sekadar repositori kampus.

Begitu pula dalam hal konsumsi dan ekonomi. Dunia menuju yang disebut sebagai collaborative consumption. Siapa yang naik gojek mikirin merek sepeda motor abangnya Honda atau Yamaha? Buat kalian, pada akhirnya yang paling penting adalah membawa kalian dari titik A ke titik B.

Stew Leonard's
Costco

Kalau di Amerika Serikat, terdapat sebuah brand yang bernama Stew Leonards. Sebuah supermarket yang berjualan daging dan bahan-bahan makanan dengan desain supermarket yang disenangi oleh anak-anak. Jalannya pun berkelok-kelok dan penuh taman permainan. Bahkan terdapat sebuah moto besar di dinding supermarket tersebut bahwa: Customers always right.

Landasan dari penciptaan desain supermarket seperti ini adalah agar anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya kemari bisa memiliki kenangan indah terhadap Stew Leonards. Jadi mereka akan kemari lagi dengan membawa anak-anak mereka.

Namun kenyataannya pada hari ini, Stew Leonard sudah tidak begitu banyak pengunjung kembali. Padahal orang-orang senang pergi kesana. Pertanyaannya kenapa? Jawabannya adalah konsumsi waktu yang menjadi permasalahan. Orang-orang mulai lelah membuat keputusan tentang brand dan simbol-simbol. Orang tua juga harus merencanakan pergi ke Stew Leonards setidaknya sejak sepekan sebelumnya, sehingga mereka tahu bahwa mereka akan menghabiskan waktu minimal enam jam untuk bermain dengan anak-anak mereka disana. Pada akhirnya, orang-orang lebih senang mengambil keputusan berdasarkan practical values, mana yang harganya paling murah dan menawarkan kecepatan waktu.

Kalau di Amerika, terdapat sebuah supermarket besar lain bernama Costco, yang akan selalu menawarkan produk berkualitas tinggi dengan harga murah dan tempatnya ada dimana-mana yang mudah dijangkau. Beberapa kali aku kesana, tempat itu tidak pernah sepi pengunjung. Karena Costco menawarkan harga murah, pengambilan keputusan cepat dan mudah. Meskipun supermarketnya tidak memiliki desain yang luar biasa cantik.

Kembali lagi, bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada practical values yang ditawarkan oleh sebuah barang dan jasa. Kemudian, pada dunia masa depan, brand hanya akan menjadi komoditas. Itu artinya murni dinilai berdasarkan practical values-nya. Simbol-simbolnya? Tidak berarti apa-apa.

Sunday, November 27, 2016

Makna Memaafkan yang Sesungguhnya


Apa itu memaafkan?

Ketika kita mendengar kata ‘memaafkan’ pasti ada satu skema dalam pikiran kita tentang definisi memaafkan menurut kita masing-masing. Saat mengisi seminar kemarin, dua orang siswa ditanya tentang definisi memaafkan dan diantara mereka berkata bahwa memaafkan adalah “melupakan yang jelek-jeleknya” sementara yang satunya berpendapat bahwa memaafkan adalah “tidak lagi menyimpan rasa dendam.”

Panitia, asdos, dan dosen pembimbing.
Tulisan ini terinpirasi saat aku menjadi seorang pembicara dalam seminar “Forgiveness” yang diadakan di aula SMAN 77 Jakarta yang dihadiri oleh kelas 3 IPA C. Menjadi satu tantangan tersendiri bagiku ketika mengetahui bahwa penggolongan kelas A, B, C adalah berdasarkan sistem nilai. A adalah murid dengan nilai rata-rata tertinggi sementara C adalah murid dengan nilai rata-rata terendah. Mengetahui hal tersebut, aku membuka seminar dengan kalimat: “Nilai tidak menentukan kesuksesan dan prestasi seseorang.” Dan disambut sorak sorai anak-anak satu aula.

Pemberian materi pun dimulai, dan aku menayangkan slide presentasi yang kubuat dalam waktu semalam. Alhamdulillah teman-teman sekelompok bilang design-nya bagus. Hehehe.

Memaafkan Bukan Melupakan


Sering kali kita mendengar nasihat teman-teman kita kalau abis disakiti orang “Udah lupain aja sih… lupain rasa sakitnya, lupain aja orangnya, lupain aja kesalahannya…”. Pertanyaannya, apakah bisa? Well.. mungkin bisa kalau kita mendadak amnesia atau otak kita seperti computer yang file-nya bisa di-delete dan computer diinstall ulang.

Memaafkan bukanlah melupakan. Karena pada dasarnya, memori tidak bisa dibatalkan. Jika saja kita mengetahui suatu informasi, tentu informasi itu masuk ke dalam pikiran kita dan kita proses. Apalagi suatu kejadian atau suatu peristiwa yang membekas begitu dalam, tidak mungkin dilupakan.

Kalau memaafkan adalah melupakan, itu artinya memaafkan adalah satu hal yang mustahil.

Memaafkan Bukan Pembenaran


Memaafkan juga bukan pembenaran. Tentunya berbeda antara pembenaran dan kebenaran. Sementara kita tahu dengan jelas, bahwa kebenarannya adalah si fulan telah menyakiti kita dan membuat kita terluka. Maka bisakah kita cukup berani mengatakan pada si fulan: “Hey…, kamu egois, kamu telah menyakitiku dan membuatku kecewa, aku tidak mau kamu mengulanginya lagi.”

Pernah aku menghabiskan waktu untuk berdiskusi masalah ini dengan beberapa teman sesama perempuan, dimana mereka berkeyakinan bahwa “wanita hebat adalah mereka yang tetap tersenyum, ketika hati mereka menangis.

Pertanyaannya, sampai kapan perasaan akan terus dipendam? Kenapa kita tidak cukup beraniuntuk percaya diri dan lebih asertif? Asertif memang memicu perbedaan dan perdebatan, tapi itu membuka diskusi dan pemahaman. Seorang dosenku yang juga psikolog keluarga berkata bahwa kunci dalam awetnya hubungan hanya dua fondasi dasar: Komitmen dan komunikasi. Tanpa salah satunya, secinta apapun dua orang tersebut tentu tidak akan awet.

Memaafkan Bukan Berkata “Aku Maafkan Kamu”


Loh? Maksudnya?

Iya, memaafkan bukanlah sekadar berkata “Aku maafkan kamu” dan setelah itu selesai. Memaafkan bukanlah satu event atau satu kejadian, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Karena terkadang, ketika kita memaafkan seseorang, kita hanya mengatakannya secara lisan namun hati kita tidak berkomitmen untuk benar-benar memaafkan orang itu.

Memaafkan Butuh Mendefinisikan Rasa Sakit


Memaafkan itu butuh menyalahkan terlebih dahulu, kita bisa mendefinisikan rasa sakitnya di buku diari dan memberi nama dengan jelas setiap ancaman yang datang atau pengkhianatan yang telah terjadi. Kita beri nama setiap rasa sakit secara spesifik, penyebab, dan dampak yang kita alami. Luapkan perasaan kita sejujur-jujurnya, bisa di buku diari maupun dengan curhat kepada sahabat terdekat kita yang bisa kita percaya.

Mengapa kita perlu mendefinisikan rasa sakit ini? Karena kita harus tahu jelas berapa harga dari maaf yang akan kita berikan. Bagi penerima maaf, maaf itu tentunya gratis. Namun bagi pemberi maaf, ada harga yang harus kita bayar demi kebahagiaan kita sendiri. Jadi kita harus tahu jelas takarannya.

Memaafkan itu Menerima


Memaafkan itu menerima, menerima bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di luar kendali kita. Menerima bahwa setiap orang memiliki kekurangan begitu pula kita juga punya kekurangan. Menerima bahwa memang hal itu terjadi telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Menerima bahwa itu semua adalah proses menuju kedewasaan. Menerima dan sanggup menghadapi rasa sakit itu dengan ikhlas, dan menyadari pada akhirnya kita akan baik-baik saja.

Memaafkan Tidak Bergantung Pada Orang Lain


Bayangkan situasi ini, jika kita terus merawat luka dan menyimpan dendam pada seseorang yang telah menyakiti kita. Namun orang yang telah menyakiti kita tersebut malah hidup senang dan bergembira. See? It’s all about yourself.

Memaafkan tidak bergantung pada orang lain. Dalam artian, apakah orang tersebut meminta maaf atau tidak, kita tetap harus memaafkannya. Dan orang yang bersalah pada kita tidak harus selalu tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.

Memaafkan pada dasarnya dilakukan untuk diri sendiri, to get well soon and move on.

Memaafkan itu Tanpa Syarat


Kata kunci dari forgive adalah ‘give’ yang artinya ‘memberi’. Maka dalam hal memaafkan, ada yang memberi dan menerima. Yang memberi maaf adalah pemberi maaf. Dan yang menerima maaf adalah penerima maaf.

Jika aku ingin memberikan kado kepada ummiku, tentu aku akan memberi kado tersebut dilandasi cinta. Itulah kata kunci dan akar dari memaafkan, yaitu cinta. Ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang, tentunya dilandasi oleh rasa cinta. Cinta itu tulus dan cinta itu tanpa syarat.

Memaafkan Adalah Proses dalam Lingkaran Pemaafan


Banyak dari peserta seminar tidak mengerti ketika aku menyajikan slideshow di atas. Hehehe.. padahal ini adalah inti dari seminarku sepanjang 20 menit di aula SMAN 77. Sebelumnya, aku pikir memaafkan adalah sebuah event atau satu kejadian seperti berkata secara lisan “aku memaafkan kamu” namun sebenarnya tidaklah seperti itu.

Memaafkan adalah sebuah proses, proses yang aktif dan bukan proses pasif. Yang mana proses ini terbentuk karena cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita, maka kita seharusnya bisa memaafkan orang lain dengan cinta tanpa syarat pula.

Misalnya, di jalan tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang. Maka aku membutuhkan sedikit cinta tanpa syarat darinya untuk bisa mendapatkan maaf tanpa syarat itu. Sehingga karena cinta dan maaf yang sudah diberikan kepadaku dari orang-orang disekelilingku, maka aku juga seharusnya bisa memberikan maaf kepada orang yang bersalah kepadaku.

Seperti kisah dalam buku 3 pohon yang menari karangan Miroslav. Ada 3 pohon, satu pohon bertugas untuk memberi, satu pohon bertugas untuk menerima, dan satu pohonnya lagi bertugas untuk menjaga perputaran tersebut tanpa henti. Dan dalam lingkaran tersebut, tidak ada yang statusnya lebih tinggi maupun lebih rendah. Seperti inilah lingkaran pemaafan yang kumaksud. Dan lingkaran pemaafan ini ada di masyarakat, jika lingkaran pemaafan ini putus, maka masyarakat akan hancur.

Memaafkan Adalah Sebuah Komitmen


Ketika kita sudah memilih untuk memaafkan seseorang, aku tidak menafikkan bahwa terkadang perasaan pahit dan sakit itu kembali muncul lagi dan lagi dan lagi. Namun bisakah kita stay committed pada pilihan yang telah kita ambil?

Kita memang terluka, namun kita takkan menjadi korban. Tidak peduli seberapa besar perasaan sakit hati ataupun pahit yang kembali muncul, itu takkan mendefinisikan kita, melainkan kita jadikan kesempatan untuk memaafkan lagi… memaafkan lagi… dan memaafkan lagi.

Lalu pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah,:

Mengapa kita harus memaafkan?


  • Untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Karena jika kita terus menyimpan dendam, itu artinya kita terikat dengan masa lalu dan menghambat diri kita dari progresivitas.
  • Karena kita lebih besar daripada emosi-emosi itu. You’re bigger than those emotions.
  • Karena kita juga melakukan banyak kesalahan.
  • Karena kita hanya memiliki satu hati. Kita tidak bisa membaginya menjadi dua, untuk membenci atau mencintai. Kita harus menjadikan hati kita utuh untuk salah satu saja (membenci atau mencintai).
  • Dan karena Tuhan Maha Pengampun. Dan Dia menyuruh hamba-Nya untuk saling memaafkan.


Memaafkan Diri Sendiri


Pernahkah kita melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya kita sesali?

Atau kegagalan yang terjadi dalam hidup kita akibat dari kelalaian yang kita sadari?

Atau kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita karena dia telah kita sakiti?

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan seringkali kita menyalahkan diri sendiri akan hal-hal tersebut. Dan itu hal wajar, karena memaafkan selalu dimulai dari menyalahkan. Maka jangan menghindari hal tersebut, mengakui kesalahan diri sendiri berarti kita mengambil kendali untuk juga memaafkan diri sendiri. Meski itu sangat sulit dan lebih sulit dilakukan daripada memaafkan orang lain.

Jika tadi aku bicara lingkaran pemaafan yang ada di masyarakat, sekarang lingkaran pemaafan tersebut ada di dalam diri sendiri. Karena kasusnya adalah pemberi dan penerima maaf adalah diri sendiri. Sehingga itu tidak lepas, melainkan berputar antara perasaan harapan dan penyeselan. Seperti misalnya saat aku berusaha bangkit kembali dari kegagalan, dulu langganan rangking 29 dari 30, hingga kini pun penyesalannya masih ada. 


Banyak orang yang bilang untuk melupakan, ada juga yang bilang untuk melepaskan.

Namun aku memilih sebuah pepatah ibrani yang berkata “nasa” yaitu menerima dan membawanya dengan cinta.

Hidup seperti ini memang melelahkan, karena lingkaran kembali berputar, maka tak heran jika perasaan pahit dan menyesal itu datang kembali, lagi dan lagi. Namun itu takkan mendefinisikan kita tentu saja, melainkan sebagai kesempatan bagi kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi. 

Salah satu kasus yang kualami kutulis disini: 
http://maryam-qonita.blogspot.co.id/2016/11/forgiving-unforgivable.html 

Ada satu kisah menarik dengan memilih hidup seperti ini. Yaitu kisah Santa Claus yang mencuri pohon natal, namun dia kembalikan. Dan setiap dia kembalikan, maka hatinya akan tumbuh 3x lebih besar. Begitu pula ketika kita mengizinkan diri kita untuk memaafkan diri kita lagi dan lagi dan lagi, maka kita akan berjalan ke depannya dengan hati yang sangat besar tersebut.




To forgive is always a gift we give ourselves.



Pemateri, pembimbing, dan terapis.

Pencarian:

  • Kata mutiara memaafkan
  • Memaafkan orang yang menyakiti kita
  • Cara memaafkan orang lain dengan tulus
  • Cara memaafkan orang yang telah menyakiti kita
  • Definisi memaafkan
  • Memaafkan dalam islam
  • Memaafkan adalah
  • Tips memaafkan orang lain
  • Menyikapi orang yang menyakiti kita


Monday, November 7, 2016

Pengalaman Visa Amerika Ditolak Hingga Diterima


Visa amerika ditolak, visa amerika serikat, cara mendapatkan visa amerika, pertanyaan saat wawancara visa amerika, visa amerika 2017, visa amerika ditolak 2017, visa amerika turis b1/b2, biaya visa amerika, visa amerika diterima, tips dan trik mendapatkan visa amerika, mengapa visa amerika ditolak.

Tepat tanggal 27 agustus 2016 adalah penerbangan pertamaku keluar negeri. Sebelumnya aku belum pernah keluar negeri, meski ke negara-negara ASEAN pun belum. Namun bermodalkan nekat dan penasaran, aku mendaftar sebuah program summit bernama Merit 360 yang acara puncaknya di kantor pusat PBB New York Amerika Serikat. Dimana temen-temen sendiri tahu, New York termasuk salah satu kota termahal di dunia, dan berada di negara dengan kurs di atas 10.000. Negara adidaya yang terkenal sangat liberal. (Baca artikel berkaitan: 14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional)

Mendengar sharing dari teman-teman Indonesiaku yang lainnya, katanya mengajukan visa amerika itu sangatlah mudah. Hanya beberapa menit dan langsung accepted. Sehingga aku pun lebih menyepelekan dalam hal mengurus visa ini. Dalam persiapan pengurusan visa pun, aku hanya searching-searching di google “Cara Mendapatkan Visa Amerika.”. Dan rata-rata, isi postingannya bilang kalau mendapatkan visa ke Amerika itu mudah. Namun aku gak sadar bahwa para blogger-blogger itu sudah sering keluar negeri beberapa kali.


bersama dengan delegasi dari Indonesia


Aku pun mulai pengurusan pembuatan visa pertama 1 bulan sebelum keberangkatan, bayar ke bank CIMB Niaga $160 atau sekitar Rp 2.160.000,- pada hari Kamis dan Jumatnya aku sudah bisa menentukan jadwal wawancaraku kebagian hari Selasa Siang (batch 2). Pas datang di kedutaan, banyak orang-orang keturunan Chinese mengantri di depan gerbang kedutaan. Mereka memakai pakaian, tas, dan sepatu branded. Antrian semakin siang semakin panjang, beberapa pengaju visa yang lain datang, turun dari mobil mewah mereka (Mercedez, Toyota Alphard, dll). Dan mereka pun rela mengantri panas-panas di luar gerbang.

Entah apa mereka yang terlalu mewah, atau dandananku yang terlalu ‘muslimah. Tadinya aku pikir aku sudah cukup rapih, tidak sampai melihat dandanan para pelamar visa yang lain.

Saat masuk dan kami melewati serangkaian pemeriksaan barang bawaan. Barang-barang elektronik dititipkan dan makanan harus dibuang sebelum masuk ke kedutaan. Di dalam kedutaan pun, para pelamar visa diminta duduk di sebuah ruangan yang tidak ber-AC karena langsung berada di alam di samping tempat parkir mobil. Aku bertanya-tanya, apakah di kedutaan lain juga pelayanannya seperti ini?

Sampai akhirnya giliranku masuk dan aku diminta melakukan sidik jari. Setelah itu nomorku dipanggil. Dan aku menghadap seorang wanita bule berambut pirang dan kurus. Dia menanyakan beberapa hal, seperti mau apa aku kesana, apakah aku sudah pernah pergi keluar negeri sebelumnya, dengan siapa aku kesana, dan apakah aku sudah punya pekerjaan. Dia menanyakan dengan singkat-singkat tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, sampai akhirnyat tidak sampai 2 menit wawancara, “I am sorry your visa has been rejected.”




Duar!! Rasanya seperti bumi runtuh seketika saat itu juga. Padahal aku mengikuti semua saran-saran dari internet tentang cara mendapatkan visa amerika, aku juga melakukan wawancara dengan percaya diri. Tapi…. kenapa? Si bule pun memberikan aku kertas merah, lalu aku bertanya “Why..?” Dia bilang kalau misalnya situasiku saat ini belum bisa ke Amerika sekarang. Mungkin beberapa tahun lagi katanya. What what what??? Seriously…

Emosiku masih belum stabil saat itu dan duduk beberapa lama di kedutaan untuk memikirkan apa yang barusan terjadi dan ada masalah apa dengan aplikasi visaku itu. Karena wawancara visa yang tidak sampai dua menit tersebut, aku langsung memikirkan apakah ini karena penampilanku yang terlalu ‘muslimah’ atau bagaimana?

Sepulang dari kedutaan dan sampai di rumah, emosiku sudah mulai sedikit lebih stabil. Yang menakutkan bagiku adalah catatan namaku di kedutaan pengalaman visa pernah ditolak. Maka, sekali ditolak untuk kesananya bakal lebih mudah ditolak lagi karena belum ada perubahan hidup yang berarti padaku. Ummiku kan punya channel ke para pejabat tinggi negara, begitu pula kakakku yang temannya bekerja di kedutaan Amerika Serikat. Namun sayangnya pejabat tinggi negara hingga staf kedutaan Amerika pun tidak sanggup membantuku jika namaku sudah punya “catatan hitam” di bagian visa. Justru aku malah balik dimarahi.

Aku pun membaca kertas merah yang kudapatkan dari si bule, dan dituliskan bahwa aku dikenai pasal 214(B) yang berkata bahwa “Failured Establish Ties to Origin Country.” Itu artinya “Aku Gagal Menunjukkan Ikatan Kuat dengan Indonesia.”

Karena si bule gak ngejelasin ini maksudnya apa dan aku gak mengerti juga. Jadi aku searching-searching sendiri ini maksud tulisannya apa. Kalau sebelumnya aku searching “Cara Mendapatkan Visa Amerika.” Sekarang searchingan ku diubah menjadi “Visa Amerika Ditolak.” Dan ternyata, cerita mengenai visa Amerika ditolak lebih banyak. Mungkin karena kegagalan lebih memberikan pelajaran daripada keberhasilan guys, dan lebih berkesan di hati.

95% cerita yang kubaca, mereka juga dikenai pasal 214(B). Meski sudah membawa Invitation letter dari pihak penyelenggara di Amerikanya atau surat undangan dari saudara di Amerika, tetaplah ditolak. Sebagian besar, mereka bilang alasan visa mereka ditolak adalah karena belum pernah keluar negeri sebelumnya. Jadi pihak kedutaan Amerika akan menduga bahwa kita orang ‘miskin’ yang mau langsung ke negara Amerika dan akan menjadi ‘gelandangan’ baru. Padahal para pelamar yg gagal ini sudah menyajikan serangkaian bukti bahwa hidup mereka disana akan terjamin.

Usut punya usut, karena bacain cerita curhat mereka, dari analisisku…. sebagian besar cerita yang ditolak justru karena mereka menyerahkan ‘invitation letter’ itu. Sebagaimana aku juga memperlihatkan ‘Invitation Letter’ tersebut ke pihak kedutaan. Dan di invitation letter itu disebutkan, bagaimana aku akan mendapatkan akomodasi, penginapan dengan air hangat, transportasi, dan makanan 3x sehari. Dan tidak mungkin aku juga menjadi gelandangan dengan full service seperti itu.


bersama tim SDG3 di PBB


Jadi… kesimpulannya adalah, justru pihak kedutaan khawatir kita akan terlalu betah di Amerika dan tidak mau kembali ke Indonesia. Malah menjadi imigran gelap disana. Well, sebagaimana kita tahu bahwa di Amerika sendiri sudah terlalu banyak imigran. Sementara aku belum pernah keluar negeri, yang membuktikan aku sebelumnya akan kembali lagi ke Indonesia meski pernah merasakan tinggal di luar negeri. Sehingga alasan jika belum pernah keluar negeri langsung ke Amerika akan susah mendapatkan visa itu tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Hanya saja itu bukan alasan langsung. 

Setelah tahu seperti ini, sebelumnya Alhamdulillah aku sebelumnya pernah mengajukan dua proposal dan surat pada Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla. Proposal tersebut adalah tentang partisipasiku ke PBB dan aku meminta bantuan dari istana. Dan alhamdulillahnya, memang saat itu juga aku mendapatkan surat dari Kepala Sekretaris Negara dan Kepala Sekretaris Wakil Presiden tentang sampainya suratku ke istana, bahkan hingga ke tangan Pak Jusuf Kalla. (Eits,,, baca sampai akhir ya, jangan minder karena ini. Hehehe).

Dua surat tersebut yang menjadi modal senjata untukku, dan selanjutnya aku mengajukan permohonan dana ke kemenpora. Selain dari kemenpora, dari kemenristek dikti juga aku mendapatkan sebagian reimburse dari perjalananku. Dan mungkin aku yang merasa atau bagaimana, karena surat dari SekNeg itu yang bikin aku dapat perlakuan spesial di Kemenpora. Bahkan salah seorang ibu karyawati di bidang kepemudaan bertanya padaku, “Kamu kenal siapa di SekNeg?”. (Baca artikel berkaitan: Tips Mendapatkan Sponsor Acara Keluar Negeri.)

Selain dari kemenpora, aku juga minta surat dukungan dari Bupati Kabupaten Kuningan dan surat dukungan dari Kampus. Aku juga meminta pihak World Merit untuk mengirim email langsung ke kedutaan AS bahwa aku akan kembali ke Indonesia pada waktu tertentu yang telah disepakati. Selain itu juga, terdapat artikel tentangku di sebuah Koran Nasional satu halaman penuh. Dimana bukan hanya pemerintah, seluruh rakyat Indonesia setidaknya bakal jadi saksi bahwa aku akan kembali ke Indonesia (lebay banget emang).


Jadi berikut list untukku mengajukan banding untuk permohonan visa ulang:
1.      Surat resmi/jaminan dari sekretaris negara.
2.      Surat resmi/jaminan kepala sekretaris wakil presiden.
3.      Surat resmi/jaminan dari Kemenpora.
4.      Surat resmi/jaminan dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
5.      Surat resmi/jaminan dari kampus.
6.      Email dari penyelenggara konferensi (World Merit) ke kedutaan.
7.      Artikel tentang partisipasi di Koran nasional.

Akhirnya aku pun membayar kedua kalinya $160 ke bank CIMB Niaga dan mengajukan permohonan visa ulang yang jauh lebih lengkap. Dan yang membiayai perjalanan waktu itu kutulis adalah kemenpora.

Dua minggu sebelum keberangkatan, akhirnya aku melakukan wawancara visa kembali. Hari selasa juga, namun kebagian pagi hari. Well, dalam hati mungkin juga berharap bulenya masih seger dan masih fresh sehingga moodnya bagus.

Dan tidak lupa, dandananku diubah dan dipoles dikit. Gak terlalu muslimah dengan jilbab panjang banget, tapi dipendekin jilbabnya dan memakai celana. Pakaian warna cerah, tas branded dan perhiasan mahal, juga sedikit make up. Beda banget sama sebelumnya yang pakai jilbab panjang warna hitam dan rok hitam. Aku deg-degan banget saat itu karena aku udah punya catatan hitam di kedutaan Amerika Serikat. Kalau ditolak lagi kayaknya mau tenggelem aja ke perut bumi.

Akhirnya tiba giliranku, dan si bule pun langsung bertanya, “What’s the different from yesterday, Maryam?”. Pertanyaan ini mengingatkanku bahwa si bule pasti research dulu tentangku, dan menguji kejujuranku. Beginilah kira-kira percakapannya:
Aku     : “Good morning.”
Bule     : “What’s the difference from yesterday, Maryam?”
Aku     : “The ministry will cover my flight cost, and I have to go back to Indonesia to give the report of the conference.”
Bule     : “Who’s going to pay for the flight cost?”
Aku     : “The ministry of youth and sport. I have the official letter from the ministry.”
Bule     : “Hm, it’s okay. Why they want to pay your flight cost?”
Aku     : “Because this is a job from the government. I am working for the regent of Kuningan west Java and also I am a vice president of a local NGO.”
Bule     : “Did you travel overseas before?”
Aku     : “I didn’t, but I have attended a lot of international conferences in Indonesia and this is the series of the event.”
Bule     : (angguk-angguk dan ketik-ketik)
Aku     : “World Merit has sent an email to you, that I’ll go back to Indonesia.”
Bule     : (angguk-angguk) “Congratulations, your visa has been accepted.”

Dan begitulah percakapan 3 menit yang mungkin akhirnya menjadi life-changing experience buatku. Visaku diterima saat itu juga dalam waktu singkat. Jika dilihat lagi, terdapat pertanyaan-pertanyaan jebakan yang ditanyakan sama si bule seperti “Did you travel overseas before?” seperti itu. Padahal dia sendiri tahu bahwa dalam catatan pasporku, aku belum pernah keluar negeri sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk menguji kejujuran kita saja.
Kantor Pusat PBB, New York

Singkatnya, aku seneng banget akhirnya visaku diterima. Bahkan seorang agen perjalanan internasional dimana aku beli tiket pesawat ke Amerika aja bilang tidak mungkin aku akan mendapatkan visa Amerika dengan kondisiku seperti ini. Kecuali aku punya rekening gendut di atas 50 juta rupiah. 

Bagaimana perjalananku di Amerika kutulis dalam 2 artikel berikut:
Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB
Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Negeri Paman Sam 

Singkat saja, beberapa tips dariku untuk mengajukan visa amerika:
1.      Ikuti prosedur di website http://www.ustraveldocs.com/ dan baca baik-baik aturan yang tercantum disana. Persiapkan juga semua dokumen yang diminta dan memenuhi persyaratan seperti tertulis di website.
2.      Penampilan yang menunjukkan bahwa kita orang ‘berada’. Jangan juga membawa ransel. Dan usahakan menggunakan pakaian berwarna cerah.
3.      Jika invitation letter tidak diminta, jangan ditunjukkan. Lebih baik menunjukkan surat-surat yang menunjukkan bahwa kita punya ikatan kuat dengan Indonesia.

TAMBAHAN SUPER PENTING:
4.      Jawablah wawancara dengan jujur dan percaya diri. Ketika diwawancara, mungkin kita akan ditanya pendek-pendek, tapi jawablah dengan detil dan panjang lebar. Jangan berhenti menjelaskan sebelum disuruh berhenti sama si bule. Ini penting, karena bule menghadapi ratusan pelamar tiap harinya, jika kita tidak stand out, pengajuan visa kita akan mudah sekali dibatalkan.

5. Mintalah surat Letter of Guarantee (surat jaminan) bahwa kita harus wajib bin kudu kembali ke Indonesia. Karena embassy Amerika di seluruh dunia (hasil research saya pada puluhan negara yang hadir di Merit 360) mereka biasanya yang sempat tertolak atau tak ada pengalaman ke LN, mudah mendapat visa jika mendapat letter of guarantee tersebut. LoG bisa didapatkan dari institusi/perusahaan kita berafiliasi. Bahwa ikatan kita ke Indonesia lebih kuat daripada ke Amerika serikat. Memberi bukti kuat bahwa kita bukan calon imigran gelap baru.

6. Semua surat-surat yang menjamin kita kembali ke Indonesia (surat jaminan, surat garansi dari bos, surat dukungan, surat sponsor, slip gaji, keterangan mahasiswa dsb) langsung ditaro di depan kaca si bule. Depan wajah si bulenya. Setumpuk besar. Meski si bule tak bertanya untuk melihat semua surat itu, tidak apa-apa. Yang pasti semua dokumen itu diperlihatkan di depan kaca si bule. Kayak nasihat Frank William Abagnale ketika seorang murid di sekolahnya izin ke dokter dan membawa surat ibunya, Frank menyiratkan bahwa orang cenderung takkan melihat isi suratnya. Hanya melihat bahwa kita bawa surat.

7. Kalau bisa ambil yang pagi karena bule-bulenya masih fresh, moodnya masih bagus, dan belum banyak menangani pelamar. Kalau mau lebih aman lagi, apply yang di Surabaya karena jumlah pelamarnya lebih sedikit daripada yang di Indonesia. Jadi bulenya lebih ramah dan moodnya lebih bagus daripada yang di Jakarta (kewalahan pelamar).

8. Kalau pernah ditolak dengan kertas merah, saat pengisian aplikasi yang kedua, isi di kolom yang membedakan kita dengan lamaran sebelumnya bahwa lamaran kita kali ini didukung, disponsori, atau ada jaminan kuat dengan institusi di Indonesia. Bahwa kita harus kembali ke Indonesia setelah waktu yang ditentukan.

9. Kalau ditanya mengenai kita berangkat sama siapa, bilang bahwa kita berangkat bareng teman-teman lainnya ke USA. Jangan bilang kita sendiri. Meningkatkan kecurigaan bahwa kita calon imigran gelap baru.

10. Bikin list daftar kemungkinan pertanyaan, lalu kita bikin jawabannya yang panjang-panjang. Minimal 2 paragraf tiap pertanyaanlah. Lalu kita latihan di depan kaca terus menerus sampai kita lancar sebelum interview sesungguhnya. Tak mau kehilangan 2 juta lagi, kan? Dan kesempatan jalan-jalan ke USA?

11. Banyak-banyak berdoa. Sungguh, setengahnya adalah faktor keberuntungan.




Tambahan juga: 


   Bebeberapa bulan belakangan saya banyak mendapat whatsapp, email dan telepon mengenai visa Amerika. Beberapa dari mereka banyak yang minder karena saya mendapat surat sekretaris negara dan sekretaris Pak Jusuf Kalla. Oh believe me, para bule bahkan tidak menanyakannya dan aku tidak menjelaskannya saat wawancara keduaku (lihat teks wawancara di atas). Aku juga memperlihatkan semua dokumen di depan kaca, tapi si bule bahkan tidak menanyakan kertas surat wakil presiden itu.


Believe me, dari manapun suratnya yang penting adalah menunjukkan bahwa kita harus kembali ke Indonesia, semua yang menunjukkan kita punya ikatan kuat dengan Indonesia. Bisa minta surat kampus, perusahaan, kantor, dinas setempat, slip gaji, apapun itu. Tekankan itu saat pengisian kolom bebas di aplikasi kedua dan saat wawancara.


Kemarin di antara yang juga sempat curhat denganku adalah Mbak Lukvi yang ada rapat di SanFransisco dan juga Mbak Eka yang ada penayangan film Indie di New York dimana Mbak Eka sebagai tokoh utamanya. Persamaan dari keduanya adalah mereka apply visa USA lagi segera setelah ditolak. Mbak Lukvi 2 minggu kemudian harus berangkat, Mbak Eka malah seminggu lagi harus berangkat. Alhamdulillah, keduanya visanya diterima untuk wawancara kedua meski pengajuan ulang dalam rentang singkat.


Terus saranku di tengah urgensitas ini: a. ke konsulat visa di Surabaya (katanya bulenya lebih ramah) meski saya sih tetap di Jakarta dan berhasil juga, b. persiapan wawancara dengan list kemungkinan pertanyaan dan jawabannya, c. semua dokumen yang mengikat dengan Indonesia, d. tidak menjawab singkat dan melakukan wawancara panjang lebar dan hanya berhenti kalau disuruh, e. dokumen diperlihatkan di depan kaca si bule meski gak ditanya, dan f. banyak berdoa. 


Tidak ada rentang waktu untuk pengajuan aplikasi visa kedua, kalian bisa ajukan kapanpun tapi perlu direnungkan kenapa alasan visa pertama ditolak dan apakah keberangkatan ke USA sangat urgen dalam urusan bisnis misalnya.






Buat yang mau konsultasi bisa hubungi email saya ------@gmail.com atau jika mendesak bisa hubungi whatsapp ------- (wa aja ya, free koq tanya-tanya minta pendapat pribadi dan pengalaman orang-orang yang curhat ke saya. Hehe. Untuk yang lebih profesional, bisa mengontak agen visa saja.) dan bisa langsung ceritakan saja kronologi mengapa visanya ditolak. Siapa tahu saya bisa bantu :D

Edited: Karena sehari saya bisa mendapat 4-7 whatsapp dan telpon mengenai visa yang ditolak. Satu penanya rata-rata 1-2 jam telpon. Saya sementara tidak menerima lagi curhat visa ya. Mohon yang punya catatan nomor saya untuk tidak mengontak saya. Jika ingin travelling, silakan tunggu saja sampai donald trump lengser :D

You might also like:

[Cerbung Fiksi Ilmiah] Indonesia Terakhir Part 1
Download TOEFL Soal dan Pembahasan PDF
14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional
Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Negeri Paman Sam 
Hanya Minum Air Putih Selama 30 Hari, Inilah yang Terjadi...
Pidatoku di Negerinya Atap Dunia
Diskusi Saya Bersama Jurnalis Amerika Serikat
Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB




Related Posts Plugin by ScratchTheWeb