Showing posts with label curhat saya. Show all posts
Showing posts with label curhat saya. Show all posts

Thursday, December 16, 2021

Berusaha Menjadi Egois


Hari ini, aku menonton video Garyvee di mana dia mengatakan, "Kamu ingin menjadi selfless (tidak mementingkan diri sendiri), menjadi orang baik dan memberi kembali ke pada orang lain? Jadilah egois terlebih dahulu untuk sampai ke tempat di mana kamu harus berada."

Setelah lulus dari NYU, akusempat mengirimkan CV dan transkrip nilai ke berbagai perguruan tinggi swasta. Ummi juga bantu mencarikan pekerjaan mengajar melalui teman-temannya yang dosen. Kemudian aku pun mendapatkan tawaran mengajar di dua perguran tinggi. Akan tetapi, karena tidak yakin, pada bulan Oktober 2021, aku bilang ke ummi, "Jika Ummi izinkan, deta sebenarnya ingin berbisnis terlebih dahulu sebelum mendaftar sebagai seorang dosen." Pada saat itu, aku juga sudah menolak dua tawaran interview pekerjaan yang terkirim ke email tanpa ummi ketahui.

Tidak disangka, Ummi yang saat itu sedang berebah di atas kasur membolehkan. Ummi mengakui bahwa jika aku memperoleh pekerjaan, itu belum tentu menyelesaikan masalah finansial. Belum lagi, jika aku memiliki pekerjaan, aku akan memfokuskan seluruh perhatianku di sana, ketika perhatian tersebut bisa aku gunakan untuk membangun bisnis dengan harapan bahwa itu akan sukses dan potensi income yang tidak terbatas.

Padahal awalnya, Ummi selalu menanyakan terus secara bertubi-tubi dan terus mendorongku untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil. Tetapi akhirnya Ummi pun berubah pikiran dan memutuskan untuk mengembalikan keputusan kepadaku.

Terkadang, Ummi memang menanyakan kapan aku punya pemasukan yang cukup besar sampai bisa membelikan Ummi rumah baru di Jakarta atau menyelesaikan cicilan mobil. Tapi aku memilih cukup egois untuk tidak mewujudkan keinginan tersebut secara terburu-buru. Aku justru menggunakannya untuk menyuruh Ummi agar selalu sehat, panjang umur, jadi jika aku sukses di atas usia 35 tahun, Ummi masih bisa menikmatinya. Aku juga meminta doanya agar rezekiku dilimpahkan. Karena aku yakin, doa seorang ibu dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Aku pikir, begitu pula alasan kenapa aku bisa S2 ke New York University. Awalnya, kedua orang tuaku melarangku S2 selain di dalam negeri, dengan alasan takut bahwa anaknya terbawa pergaulan bebas dan lain sebagainya. Apalagi di AS, BIG NO. Kakakku terus menertawakanku karena pilihan ini. Katanya dari semua negara, paling tidak boleh aku memilih Amerika. Kakakku juga akan terus meyakinkan ortu agar aku tidak diizinkan kuliah ke Amerika. Akhirnya aku pun mengiyakan mereka awalnya. Tapi bernegosiasi adalah sebuah proses dan aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan kata "Iya." 

Kemudian, beberapa bulan kemudian, aku mencoba bernegosiasi kembali. Aku berkata kalau kuliah S2 ke Jerman sebenarnya mereka tidak perlu mengkhawatirkan pergaulan bebas karena sudah banyak kalangan Muslim Indonesia di sana. Setelah orang tua pikir-pikir, mereka pun mengiyakan. Aku boleh kuliah S2 di luar negeri asal di Jerman. 

Akan tetapi, mungkin karena aku sendiri memang tidak benar-benar berniat kuliah di negara lain selain Amerika Serikat, aku tidak memenuhi persyaratan administrasi. Saat itu, aku mendaftar kuliah Kesehatan Masyarakat di Charite Berlin. Staf administrasi pendaftaran meminta dokumen lengkap, aku tidak mengirimnya dan berkata aku tidak jadi mendaftar.

Setelah sekian lama, akhirnya, LPDP 2018 di buka. Pada tahun 2018, LPDP dibuka dengan rentang waktu yang cukup lama dan sempat hilang kabar selama hampir setahun. Para calon awardee bahkan sempat berpikir bahwa LPDP akan dihentikan karena Bu Sri Mulyani bukan menteri keungan. Namun aku bersyukur akhirnya LPDP dibuka, jadi aku bisa meyakinkan orang tuaku untuk bisa kuliah ke AS.

Akhirnya, orang tuaku pun membolehkan aku kuliah ke AS selama aku terikat dengan komunitas Muslim di sana dan dekat dengan keluarga Imam Shamsi Ali. Aku pun menyanggupi dan akhirnya aku pertama kalinya secara serius mendaftar kuliah S2 ke Amerika Serikat. Negara yang awalnya tampak begitu mustahil aku daftari. Bukan karena keterbatasan waktu belajar IELTS atau GRE saja, tapi juga restu orang tua. 

Karena menunjukkan keseriusanku, orang tua pun mengizinkanku untuk tidak bekerja terlebih dahulu. Bahkan aku dilarang bekerja dan aku wajib lulus S2 ke Amerika. Aku juga tidak ingin sense of entitlement membuatku menerima segala hal secara cuma-cuma. Jadi aku berusaha memberikan apapun yang terbaik semempuku kepada orang tua.

Begitu pula saat ini, aku rasa aku cukup egois dengan meminta kepada ortu agar mengizinkanku menikah setelah usia 33 tahun. Aku ingat, awalnya abi kaget saat aku bilang akan memikirkan menikah di usia 29, tapi sekarang, mereka mungkin tidak akan lagi terkejut jika suatu hari aku berkata memilih menikah di atas 35 atau mungkin tidak sama sekali. Meskipun angka-angka itu bukan patokan, aku hanya tidak ingin memenjarakan diri ketika aku belum sampai ke tempat di mana aku harus berada.

Lulus dari NYU, pemasukanku masih belum stabil. Orang tua kerap memintaku untuk mendapatkan pemasukan yang cukup. Tetapi aku memilih egois, kembali dengan terus bernegosiasi, bahwa aku ingin memulai bisnis. Aku menjelaskan dan aku bersyukur Ummi Abi tampaknya mengerti bahwa mendapatkan pekerjaan tidak serta merta memenuhi kebutuhan finansial. Jujur saja, aku juga tidak ingin melakukan hal yang tidak aku inginkan hanya untuk beberapa juta rupiah.

Saat ini, aku menerima banyak tawaran menjadi pemateri, membuat kursus online, memimpin startup studio games dengan 16 orang karywan, dan berpartisipasi dalam politik. Tampaknya setiap hari aku memiliki kesibukan, tapi aku tidak mendatangkan jumlah uang yang berarti. Jumlah penghasilan dari menjadi pemateri pun bervariasi dan aku tidak selamanya mendapatkan fee.

Orang sering overjudging themselves ketika menentukan mana pekerjaan yang bervalue tinggi dan hanya kesibukan belaka. Tapi aku memilih untuk tidak terlalu memusingkan itu, meski tampaknya tidak mendatangkan uang untuk saat ini. 

Begitu pula saat Garyvee mendapatkan jabatan di pabrik wine ayahnya, dia malah sibuk membuat konten untuk YouTube. Itu tahun 2009 dan YouTube tidak populer. Orang melihat dia malah sibuk dengan hal yang tidak penting, tidak mendapatkan uang, dan tidak memiliki dampak dalam waktu dekat. Tetapi, itu pada akhirnya menjadi salah satu keputusan terbaik yang dibuat oleh Garyvee, menjadikan perusahaan wine itu juga semakin dikenal, dan kekayaan Garyvee pun meroket.

Karena kita memang tidak tahu mana pekerjaan yang pada akhirnya akan bervalue tinggi di masa depan atau tidak. Maka jangan terlalu menilai tinggi waktu untuk tidak melakukan pekerjaan yang tampaknya tidak menghasilkan uang pada saat ini. Selama kamu melakukan hal yang kamu inginkan, kamu sudah menang.

Kembali lagi, setiap kita tentunya ingin bisa memberikan lebih pada orang lain. Tapi itu berarti kita juga harus egois untuk bisa sampai pada posisi tersebut. 
















Thursday, November 18, 2021

Jangan Memusingkan Harga Diri!

 


Beberapa hari yang lalu, saya melihat postingan ini lewat di Instagram Explore. Tulisannya “Don’t feel sad if someone rejects you, people usually reject expensive things and go for the cheap one,” yang berarti “Jangan sedih jika seseorang menolakmu. Orang biasanya menolak hal-hal yang mahal dan memilih yang murah.”

Baiklah, tulisan ini mungkin uneg-uneg karena saya tidak bisa mencerna quote tersebut. Karena tidak tercerna dengan baik, jadi saya merasa benar-benar ingin “mengeluarkannya.”

Saya sungguh tidak mengerti kenapa seseorang harus merendahkan orang lain agar bisa meninggikan dirinya? Mereka yang mengiyakan post ini mungkin memiliki insekuritas yang sangat besar dan berusaha menutupnya dengan meninggikan diri mereka sendiri. Karena merasa bahwa diri mereka tidak “tinggi” mereka pun terpaksa merendahkan orang lain.

Kita sering punya standar ganda. Kita begitu yakin bahwa ucapan orang lain tidak menentukan siapa kita. Tetapi kita merasa ucapan kita menentukan siapa orang lain?

Padahal, ucapanmu tidak mendefinisikan orang lain. Ucapanmu mendefinisikan dirimu sendiri. Psikolog dari NYU, Guy Winch, berkata bahwa kualitas yang kita lihat pada orang lain menyampaikan banyak hal mengenai bagaimana kamu melihat dirimu sendiri!

Mengenai standar ganda. Kita sering meyakini standar tertentu jika itu menguntungkan kita, dan menaruh standar yang berbeda pada orang lain. Dalam Psikologi Kognitif dan Psikologi Perkembangan, orang yang hanya bisa berpikir dari sudut pandangnya sendiri disebut tidak memiliki theory of mind. Mereka juga sering memiliki false belief (kepercayaan palsu). Selama masa perkembangan, ini terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun.

Jika seseorang menolakmu atau mencampakkanmu, wajar jika kamu merasa sedih. Mereka tidak memperjuangkanmu dan membuatmu menanyakan harga dirimu sendiri. Kamu boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Jika perlu, tidak usah lagi lah memikirkan sesuatu yang namanya harga diri!

Saya teringat salah satu nasihat dari Guy Winch.

“Harga diri kita tidak tetap atau stabil. Kita bisa merasa baik tentang diri kita sendiri suatu pagi, dan buruk tentang diri kita sendiri keesokan harinya. Tanpa alasan yang jelas sama sekali.

Harga diri kita bertentangan. Kita bisa merasa benar-benar tidak berharga dan tidak berguna. Namun kita masih percaya bahwa kita adalah berlian di tengah lumpur. Permata yang menunggu untuk ditemukan.

Harga diri kita tergantung pada bagaimana kita menyikapi sesuatu. Ketika seseorang memberi tahu bahwa kita melakukan pekerjaan dengan baik, kita ikut mengartikannya begitu. Atau sebaliknya.

Mengingat begitu sering harga diri berubah-ubah dan kontradiktif, mungkin kita seharusnya tidak terlalu memperhatikan harga diri.

Mungkin hari-hari dengan harga diri rendah sebenarnya hanyalah hari-hari dengan suasana hati atau energi yang rendah. Mungkin kita merasa buruk namun tetap mengakui bahwa kita layak.”

Sebagai seorang Muslim, saya sendiri merasa bahwa kisah Abu Bakar melamar Fatimah sangat inspiratif. Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi. Beliau memiliki julukan Ash Shiddiq (orang yang terpercaya), tutur katanya lembut, kaya raya di dunia dan akhirat hingga Malaikat Jibril ditugaskan untuk menjaga surganya Abu Bakar yang begitu luas.

Tetapi saat Beliau melamar Fatimah, Allah menetapkan hati Nabi Muhammad untuk menolak tawaran tersebut. Sampai akhirnya Ali datang dan Allah membalikkan hati Nabi Muhammad untuk akhirnya menjodohkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Ali juga seorang sahabat yang mulia. Hanya dua sahabat Nabi yang tidak pernah menyembah Berhala sebelum Islam datang, Abu Bakar dan Ali. Keduanya memiliki kemuliaan dan keutamaan masing-masing. Keduanya juga salah satu dari Khilafah yang memimpin Muslim setelah Nabi wafat. Tetapi Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kadarnya masing-masing.

Bukan karena seseorang lebih tinggi atau lebih rendah, lebih kaya atau lebih miskin, yang akhirnya menentukan apakah kita diterima atau ditolak seseorang. Sebuah hubungan yang kandas, terlepas apapun kisah yang melatarbelakanginya, sebenarnya ada satu hal yang bisa dijejak sebagai penyebab: terdapat ketidakcocokan.

Sebagaimana kamu bisa menjadi satu paket utuh tapi terkirim ke alamat yang salah. You can be a whole package but delivered to a wrong address. Bukan karena kamu tidak berharga atau orang lain lebih berharga dan lain sebagainya, tapi simply, terdapat ketidakcocokan. 

Berandai-Andai, Hal Yang Paling Tidak Aku Mengerti


Sejujurnya, aku tidak mengerti, kenapa seseorang yang masih hidup berandai-andai? Seakan jika dia bisa mengembalikan masa lalu dan membuat keputusan yang berbeda, dia yakin bahwa kehidupan akan lebih baik. Bahkan jika itu sesuatu yang sebenar-benarnya menunjukkan sebuah kerugian atau kehilangan. 

Sebagai contoh, jika saja dia melewatkan sebuah investasi besar pada startup yang nantinya akan menjadikan dia triliuner, misal Facebook. Kemudian dia begitu menyesal dan berandai-andai jika saja dia berinvestasi di sana. Padahal, dalam skenario yang berbeda, misal dia menjadi investor Facebook dan akhirnya dia diundang menjadi pembicara ke sana ke mari, misal Jepang. Bisa saja saat dia naik pesawat ke Jepang tersebut, pesawat itu jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya.

Atau jika seorang pria memilih satu di antara dua perempuan untuk dia nikahi, kemudian di masa depan dia sering bertengkar dengan istrinya, dia pun menyesal dan berpikir, “Andai aku memilih perempuan yang lain.” Padahal dia juga tidak tahu, bisa jadi, ketika dia menikahi perempuan yang lain, perempuan tersebut terkena penyakit kronis untuk jangka panjang yang membuatnya hidup larut dalam depresi dan penderitaan.

Suatu hari, aku ditanya pada seminar yang diadakan Indonesia Mengglobal, “Kak Maryam, kenapa tahu bahwa saat itu adalah masa yang tepat untuk melanjutkan S2?” Jujur, aku melanjutkan S2 tanpa pengalaman bekerja dan aku mengambil jurusan psikologi yang pendekatannya integrative, alias fokusnya tidak terlalu sempit. Tidak seperti sebagian besar orang yang tujuan studinya lebih spesifik.

Kemudian aku menjawab, “Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk menggali lebih banyak ilmu. Aku juga tidak tahu apakah itu waktu yang tepat atau tidak, tapi tidak ada mesin waktu dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengetahui mana keputusan yang tepat dan salah. Aku hanya merasa gak puas dengan ilmuku selama S1. Pun, ketika aku sudah lulus, aku sadar bahwa lowongan pekerjaan yang bisa aku daftar itu jadi lebih sempit. Akan tetapi, aku percaya bahwa aku bisa menciptakan jalan dan peluang-peluang itu sendiri. Aku mengambil keputusan dengan cepat, menuruti apa kata hatiku.”

Inilah kenapa aku sangat menyukai Garyvee. Dia mengikuti kata hatinya dan mengambil keputusan dengan cepat. Dia tidak menyesali apapun.

Tadi pagi aku jogging sambil mendengarkan podcast TED. Dalam podcast tersebut disebutkan salah satu rahasia orang resilien adalah dia melakukan selective attention. Dia memfokuskan pikirannya kepada hal-hal positif dibandingkan hal-hal negative. Sang pembicara sendiri merupakan pakar resiliensi dan dia trauma survivor. Dia kehilangan anak perempuannya yang berusia 10 tahun dalam sebuah kecelakaan maut. Awalnya dia berandai-andai jika saja terdapat berbagai skenario berbeda yang mencegah anaknya agar tidak meninggal. Namun akhirnya dia mulai berpikir, “Dalam psikologi ini disebut benefit finding. Cari hal-hal yang membuat bersyukur. Setidaknya anakku meninggal dalam sebuah kecelakaan yang cepat, bukan kesakitan dan sekarat bertahun-tahun karena penyakit kronis. Terlebih lagi, aku masih punya dua anak laki-laki yang aku cintai. Jangan kehilangan apa yang kita miliki untuk apa yang sudah hilang.”

Berandai-andai hanya akan membahayakan kita. Itu membahayakan kesehatan mental kita, membuat kita miskin bersyukur, dan akhirnya membuat kita terhambat dalam meraih tujuan yang ingin kita raih atau tugas yang harus dilaksanakan.

Aku sendiri tidak suka berandai-andai, dan jika aku mendapatkan otakku melakukan hal tersebut, aku langsung sadar bahwa itu mengarahkan pada jalan yang sesat. Alhamdulillah, hingga saat ini nalarku lebih kuat untuk menghalaunya karena aku tahu itu hal bodoh yang membahayakan.

Sejujurnya, saat aku membaca bahwa ini adalah tema dari 30-DWC, aku langsung bingung menyusun ide karena tidak ada satu pun hal di dunia ini yang aku andai-andaikan terjadi berbeda. Menurutku, satu-satunya tempat untuk berandai-andai adalah ketika kita sudah mati. Jika kita tidak cukup bertakwa kepada-Nya, tidak punya banyak bekal dan tidak sempat bertobat dari dosa-dosa.

#30DWCJilid3

#Day24

#Andai


Sunday, August 8, 2021

Berikut Sosok Cinta Pertama Saya...

 

Tema menulis hari ini untuk Pejuang 30-Day Writing Challenge adalah “Cinta Pertama.” Tema yang cukup menuntut kreativitas dan membuat heboh squad saya, squad 4. Sebagian besar anggota squad telah memiliki berkeluarga dan membahas isu “cinta pertama” mungkin agak berisiko kalau dibaca suami, haha. Ya, itu hanyalah candaan. Toh, kita bisa menulis cerita fiksi, atau tulisan ilmiah tentang cinta, atau cinta yang sifatnya platonic (seperti cinta pada ayah dan ibu), tanpa terang-terangan memberikan pengumuman siapa cinta pertama kita pada lawan jenis.

Meskipun begitu, dalam tulisan ini, saya akan mengumumkan siapa sebenarnya cinta pertama saya, literally menyebut nama orangnya. Baca sampai akhir haha.

Berbicara tentang cinta pertama itu sendiri, sebenarnya saya sendiri sempat kebingungan. Kalau yang dimaksud adalah ketertarikan dengan lawan jenis, tidak ada orang yang pasti yang muncul dalam benak saya pertama kalinya. Saking bingungnya, saya sempat berpikir, mungkin “cinta pertama” saya ada dua orang? Atau mungkin ada tiga orang? Mungkin ada empat? Tapi gimana bisa disebut "pertama" jika lebih dari satu? Hmm, saya harus menentukan jawabannya nih. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mulai mencari definisi dari cinta pertama:

Saya pun mulai membuat beberapa list kapan cinta pertama itu muncul:

  1. Apakah cinta monyet saat masih SD?
  2. Apakah saat pertama kali jantung berdegup kencang saat melihat seseorang?
  3. Apakah ketika pertama kalinya gayung bersambut?
  4. Apakah ketika kita telah dewasa dan pertama kalinya membangun hubungan dengan komitmen dan kesetiaan?
  5. Atau mungkin kesukaan kita pada aktor atau penyanyi Korea? Ups hehe.

Seperti misalnya, saya pernah melakukan sebuah deklarasi di kelas saat 1 atau 2 MTs (setara SMP) bahwa cinta pertama saya adalah seorang musisi asal Jepang bernama Kitagawa Yujin, wkwk. Jadi apakah Yujin cinta pertama saya? Tentu tidak, karena itu seperti deklarasi konyol yang saya utarakan sebelum saya dewasa dan mungkin hanya bentuk kekaguman sebagai fan untuk pertama kalinya.

(Note: di Instastory, saya bilang deklarasinya saat saya masih SD. Itu ingatan di benak saya, tapi false memory karena lagu Wonderful World Yuzu dirilis tahun 2008)

Kitagawa Yujin

Selain itu, katanya, cinta pertama itu sulit dilupakan. Tapi pada akhirnya, saya tidak lagi memikirkan beberapa orang tertentu yang pernah saya sukai. Saya juga percaya, sebagian besar orang, jika diminta untuk memilih setia dengan pasangannya yang sekarang atau dengan cinta pertamanya, tentu akan lebih memilih setia dengan pasangannya yang sekarang.

Layaknya tumbuhan, rasa cinta juga perlu dipupuk, disiram dan dirawat. Jika sudah lama ditinggalkan, pada akhirnya kering dan layu dan akhirnya terlupakan. Tidak ada yang spesial dengan siapa pertama kali kita jatuh cinta, akan tetapi dengan siapa cinta itu bertahan lama, tumbuh dengan subur dan berbuah manis kebahagiaan.

Sampai saat ini, saya belum bisa memastikan siapa lawan jenis “cinta pertama” saya (yang kehidupan real ya, bukan ngefans artis wkwk). Lagipula, itu tidak penting, bukan? Selain definisinya sangat kabur dan subjektif, saya berpikir, mungkin “cinta pertama” itu tidak ada? Yang ada adalah beberapa kali jatuh cinta pertama kalinya pada orang yang berbeda dengan cara yang berbeda.

Anyway, daripada memikirkan seseorang yang telah berlalu, lebih baik fokus dengan membangun hubungan yang sekarang dengan komitmen dan kesetiaan. Ya, walaupun saat ini saya single dan belum berencana untuk menikah hihi.

Well, sebenarnya saya punya definisi sendiri apa itu cinta pertama (selain cinta platonik pada keluarga tentunya). Cinta pertama saya adalah… diri saya sendiri, Maryam Qonita, hahaha. 

Ini dari pengalaman pribadi juga sih. Saya beberapa kali pernah menyukai lawan jenis, meskipun pernah agak bucin-bucin gitu, pada akhirnya saya selalu mengutamakan diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya tidak bahagia, saya mundur. Saya patah hati , saya move on. Saya belum ingin menikah, saya memilih melanjutkan S2 dan berkarir. Tidak peduli jalan hidup orang lain, yang penting saya bahagia dengan jalan hidup saya sendiri, saya bersyukur dan tidak menyesali apapun.


#30DWC
#30DWCJilid31
#Day23






Saturday, August 7, 2021

Han Solo, Princess Leia, dan Romansa Antar Galaksi



Saat ini, saya sedang menulis novel bertema fiksi ilmiah. Ketika saya mencari inspirasi dalam menuliskan ceritanya, saya menyempatkan waktu untuk menonton film fiksi ilmiah paling legendaris sepanjang masa: Star Wars. Saya sebenarnya sudah pernah menonton film ini saat saya masih SD, namun saya lupa ceritanya. Seingat saya, saya sangat menyukai tokoh Luke Skywalker. Well, nama “Walker” di belakangnya adalah inspirasi saya dalam memberi nama tokoh Danny Walker dalam novel fiksi ilmiah saya tersebut, haha. Ketika saya menonton ulang film Star Wars IV-VI, saya yang sekarang justru jatuh cinta dengan karakter Han Solo dan saya penggemar kisah cintanya dengan Princess Leia.

Han Solo dan Princess Leia adalah pasangan yang saling bertolak belakang. Princess Leia, seperti namanya, adalah seorang putri kerajaan yang terhormat. Sementara itu, Han Solo adalah seorang penyelundup, kriminal, dan seorang yang egois. Mereka sama-sama berkepribadian keras dan seringkali bertengkar satu sama lain. Akan tetapi, ketika kalian menaruh mereka berdua dalam petualangan antar galaksi dan bertarung dengan pesawat kerajaaan, mereka pada akhirnya saling jatuh cinta dan saling mengonfirmasi perasaan satu sama lain.


Dari kisah cinta merekalah saya mulai agak terobsesi dengan perjalanan antar bintang bahkan antar galaksi. Kisah cinta yang tercipta dari tempat yang begitu luas di luar angkasa sana. Sebuah tempat dengan triliunan objek-objek indah yang dapat dinikmati mata, membuat takut sekaligus takjub dengan semesta ciptaan Tuhan. Semenjak itu, saya sering menghabiskan waktu menonton video-video di YouTube tentang planet-planet dan galaksi. Saya juga membaca sebuah buku berbahasa Inggris, Michio Kaku, berjudul “The Future of Humanity,” dimana manusia mulai menjajakan dirinya di Mars atau melakukan perjalanan antar planet dengan pesawat berkecepatan cahaya.

Saya secara khusus tertarik dengan system tata surya kita sendiri, dimana ada matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang mengorbit matahari lainnya seperti Jupiter dan Saturnus. Masih banyak misteri yang belum terungkap bahkan di salah satu planet terdekat bumi, Jupiter. Saya mulai sering bertanya-tanya, apa yang terjadi jika manusia memasuki Jupiter hingga tiba di intinya? ( Mungkin memakai baju super canggih hingga ia tidak akan terbakar oleh suhu Jupiter yang sangat panas) Seperti apa inti Jupiter? Apakah intinya adalah metal yang padat ataukah cairan kental super panas? Bahkan NASA saja belum mengetahuinya! Bukankah itu hebat? Bahkan planet terdekat bumi masih menyimpan begitu banyak misteri bagi organisasi terhebat yang meneliti luar angkas.

Jupiter adalah planet favorit saya, karena planet ini bisa dilihat dengan mata telanjang, sangat besar, dan memiliki pola-pola yang sangat cantik. Cukup lihat bintang paling terang di langit, yang berada di rasi bintang Aquarius, itulah planet Jupiter. Bahkan seperti pola garis-garisnya yang indah secara kasar dapat dilihat dengan kamera iphone. Saya juga hampir dapat menyaksikan bagaimana planet ini berputar pada porosnya begitu cepat, layaknya apion yang berputar pada titik keseimbangannya. Perputaran jupiter dikatakan sangat cepat karena besar planet ini adalah 1300 kali bumi, namun hanya butuh 9 jam untuk berotasi. 

Ini adalah planet Jupiter yang saya foto dengan kamera iPhone saya sendiri:

Selain system tata surya, saya juga mulai membayangkan bagaimana jika manusia akhirnya mampu menciptakan sebuah kendaraan yang melebihi kecepatan cahaya dan melakukan perjalanan ke planet di system tata surya yang lain, seperti Proxima Centauri hingga planet-planet mirip bumi di Teegarden Star. Dengan teknologi saat ini, manusia mungkin membutuhkan waktu 19,000 tahun untuk mencapai Proxima Centauri. Sebuah jarak yang sangat jauh padahal itu adalah system tata surya terdekat dengan system tata surya kita sendiri. Dengan kecepatan cahaya, mungkin butuh empat tahun untuk menjangkau Proxima Centauri. Padahal ada ratusan miliar system tata surya di galaksi bima sakti, dan ada ratusan miliar galaksi di observable universe. 

Belakangan, saya sering membayangkan jika saja diri saya adalah seorang astronot NASA dan melakukan perjalanan ke luar angkasa. Pasti bumi terlihat begitu cantik dari luar sana. Saya juga sering membayangkan jika saya hidup cukup lama hingga menyaksikan manusia membangun koloni di Mars atau hingga kehadiran alien terkonfirmasi. Pernah dengar dialog dalam drama Mr. Sunshine, ketika si tokoh utama perempuan berkata, "romansa saya ada di ujung senapan Jerman"? Kalau saya, mungkin, dialognya menjadi seperti ini "romansa saya berada di antara galaksi-galaksi." Ya, karena keindahan mereka mampu menyatukan dua orang dari latar belakang yang berbeda, Princess Leia dan Han Solo. Saya sendiri mendapati diri saya begitu larut setiap kali kepala saya mendongak ke langit. Ratusan bintang berkelap-kelip, layaknya mata Illahi. Membuat saya takjub, kagum, takut, dan juga tidak henti-hentinya berdzikir.

#30DWC

#30DWCJilid31

#Day22

 

 

 

 

Tuesday, July 20, 2021

Dua Bulan Setelah Lulus Dari NYU

 


Sekarang adalah tanggal 20 Juli 2021, dua bulan setelah kelulusanku dari NYU (19 Mei 2021). Aku banyak merenungkan tentang biaya adaptasi yang besar selama studiku di Negeri Paman Sam. Yang berakibat pada IPK yang kurang dari 3.5 pada dua semester pertama. Meski akhirnya aku berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude, tetap saja, aku terpikir bahwa biaya adaptasiku cukup besar untuk bisa sepenuhnya mengikuti pelajaran di kelas.

Memasuki semester 3 dan 4, aku secara serius memperdalam kemampuan bahasa Inggrisku. Mencari berbagai sumber yang memungkinkan bagiku untuk belajar, mulai dari aplikasi belajar di ponsel, membaca materi kelas jauh-jauh hari, kursus bahasa Inggris, berinteraksi dengan teman-teman internasional sepanjang hari, memaksakan diriku untuk lebih percaya diri dalam bertanya & berdiskusi di kelas, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, aku berhasil memperoleh nilai A di semua pelajaran pada dua semester terakhir. Bagi orang lain mungkin nilai A tidak seberapa, tapi ini menjadikanku berterimakasih kepada diriku yang mau memaksakan diri untuk maju dan lebih baik dari sebelumnya.

Tepat sebelum aku berangkat studi S2, sekolah di Amerika menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan di benakku. Jika pun sempat terbayangkan, mungkin itu sesuatu yang besar, gelap dan menyeramkan. Saat pertama kali memasuki kelas, aku merasa kemampuanku jauh dibawah rata-rata para mahasiswa yang lain. Aku merasa tidak mampu dan akan gagal. Setelah beberapa lama melaluinya, aku merasa sekolah di Amerika adalah sesuatu yang sederhana dan within my ability. Selama aku berdisiplin dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar, aku akan selalu mampu bertahan. Ya, seringkali ketakutan hanya dilahirkan oleh pikiran-pikiran yang rumit.

Dua bulan telah berlalu dan aku sudah berada di Indonesia sejak tanggal 5 Mei 2021. Kali ini, aku perlu kembali memaksakan diri untuk maju dan lebih baik. Banyak hal yang harus dilakukan, bukan ditunda-tunda. Banyak orang yang minta tolong, sudah seharusnya ditolong. Dan aku tahu apa yang perlu aku lakukan untuk mencapai mimpi-mimpiku,  disiplin dan lakukan saja. Namun aku masih stagnan dan menunggu kesempurnaan.

Aku tidak tahu kesempurnaan apa yang masih kutunggu. Sampai kapan aku harus menyalahkan keadaan yang membuat segalanya tidak dapat kulakukan dengan sempurna?? Mulai dari suasana rumah yang berantakan, banyak tamu, waktu yang sempit, isi pikiranku yang rumit (seperti pita kaset yang kusut), lalu teralihkan oleh ponakan yang lucu, dan buku-buku yang ingin kubaca sebelum menulis sebuah novel yang seharusnya sudah kutulis 10 tahun lalu.

Belum lagi pikiran bahwa aku belum stabil secara finansial. Aku seperti merasa dikejar oleh sesuatu yang tidak terlihat. Seharusnya di usiaku segini, aku sudah begini dan begitu. Jadi aku tidak tahu apa yang harus kumulai terlebih dahulu. Apakah aku harus fokus mencari pekerjaan terlebih dahulu? Apakah aku harus menulis novel? Apakah aku harus menulis artikel di koran sebagai pekerjaan sampinganku? Apakah aku harus memosting konten di Instagram?

Aku memiliki banyak keinginan yang begitu jauh di pandangan. Aku ingin memulai bisnis property, aku ingin membuat courses online dengan harga terjangkau, aku ingin menjadi penulis dan menerbitkan novel, aku ingin memiliki pengalaman bekerja, aku ingin melanjutkan kuliah S3, dan aku ingin kaya raya. Padahal aku sadar, perjalananan 1000 mil dimulai dari satu langkah. Tapi seringkali, aku banyak ragu dan mempertanyakan setiap satu langkahku. Membuatku seringkali hampir tidak melangkah sama sekali.

Aku bisa posting satu konten sederhana, aku bisa menulis 1-2 paragraf novel, dan lain sebagainya. Dan aku beruntung, karena Ummi berkata bahwa, tidak apa-apa aku tidak punya pekerjaan dulu. Yang penting, otakku selalu dipakai. 

Jika aku pikirkan, semua keadaan telah mendukungku untuk terus melangkah. Aku selalu punya pilihan, tidak ada yang memarahiku jika aku tidur panjang setelah hanya menulis satu paragraph hancur dan amburadul. Lalu kenapa pikiranku rumit?

Mungkin aku terlalu memikirkan apa kata orang? Apa kata orang jika aku belum juga mendapat pekerjaan yang stabil? Apa kata orang jika aku gagal? Apa kata orang jika tulisanku jelek? Apa kata orang jika aku hanya menulis sedikit hari ini? Padahal kata Deddy Corbuzier, itu adalah kalimat yang paling akan membuat gagal, WHAT OTHER PEOPLE WILL SAY. Padahal aku cukup yakini apa yang aku yakini, yang akan membuatku bahagia, dan aku melakukannya untuk diriku sendiri. Terserah apa kata orang.

 #30DWC

#30DWCJilid31

#Day4

 

Monday, July 9, 2018

Biodata Maryam Qonita Lengkap

Biodata ini akan selalu diupdate Insyaa Allah. Terakhir di-update 7 Desember 2018



Nama               : Maryam Qonita, S. Psi.
TTL                 : Jakarta, 17 November 1993
Alamat            : Komplek Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Desa Maniskidul RT 05/01,   Kecamatan Jalaksana Kuningan Jawa Barat 45554.
Blog                : http://maryam-qonita.blogspot.com
Hobi                : Menulis, berdiskusi, jalan-jalan.
Cita-cita          : Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 2030.
Bahasa             : Indonesia (C2), Inggris (B2)
Skill                 : Menulis, public speaking.

Pendidikan     :

2001- 2006    SDN Maniskidul 2, Kuningan Jawa Barat
2006 – 2009   MTs Husnul Khotimah,Kuningan Jawa Barat
2009 – 2012   MA Husnul Khotimah, Kuningan Jawa Barat
2013 – 2017   S1 Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
2019             Soon will be master program in USA Inshaa Allah.

Organisasi      :

2013 – 2014                Ketua Angkatan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ
2013 – 2015                Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ
2016 – 2017                Vice President EdConex (Education & Connect)
2014 – sekarang          Sekretaris LSM Satu Hati, Kuningan Jawa Barat
2018 – sekarang          Founder and President of Open Access Indonesia
2018 – sekarang          OpenCon Organizing Committee Team
2018 – sekarang          Project leader International Youth Forum on Family Planning (IYAFP) Indonesia

Prestasi dan Penghargaan:
2011                       Juara I EDSA English Essay Competition Regional III Cirebon
2013                       Putri Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ
2013                       Putri Terbaik Masa Pengenalan Akademik Jurusan Psikologi UNJ
2014                       Juara I Lomba Cerpen FLP se-Jabodetabek
2015                       The Best Ambassador OpenCon oleh The Right to Research  Coalition USA
2016                       Juara I Mahasiswa berprestasi Psikologi UNJ
2016                       Nominator 120 under 40 pemimpin dunia oleh Bill & Melinda Gates Foundation dan Johns Hopkins Bloomberg School.
2016                       UNJ Rector Award dalam hari kemerdekaan nasional.
2016                       Juara II English Speech Competition se-Jabodetabek. Piala walikota depok.
2017                       Awardee Women’s International Club Scholarship
2017                       Muda Award dalam Bidang Sosial Kabupaten Kuningan
2017                       Lulusan Berprestasi Fakultas Pendidikan Psikologi UNJ 2017

Pengalaman Konferensi/Pembicara Internasional:

2016                       International Conference on Family Planning 2016, Nusa Dua  Sebagai moderator, diadakan oleh BKKBN, Bill & Melinda Gates Foundation, dan Johns Hopkins Bloomberg School.
2016                       Merit 360 United Nations Forum, New York. Sebagai delegasi Indonesia, diadakan oleh World Merit & United Nations for SDGs.
2016                       Open Conference 2016 Jakarta. Sebagai point person, diadakan oleh The Right to Research USA & SPARC International.
2017                       International Youth Forum on Innovation. Sebagai project leader forum (ketua penyelenggara) diadakan oleh EdConex di Suntec, Singapura.
2017                       Asian Regional Meeting, Kathmandu Nepal. Sebagai pembicara rapat 150 peneliti Asia dengan tema “Open Access: Reaching Information Divide” diadakan oleh Open Access, Nepal dan The Right to Research USA.
2018                       OpenCon 2018 di Toronto, Kanada. Sebagai panitia penyelenggara dan Pembicara. Diselenggarakan oleh The Right to Research Coalition dan SPARC.
2018                       International Conference on Family Planning 2018, Kigali Rwanda. Sebagai moderator. Diadakan oleh Bill & Melinda Gates Foundation, John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan juga Ministry of Health Republic of Rwanda.

Pengalaman Bekerja : 

2012 – 2013                Guru Tahfidz dan Sekretaris di Pondok Pesantren Al-Hikmah
2016 – 2017                Manager of Community EdConex (www.edconex.org)
2014 – sekarang          Sekretaris LSM Satu Hati Kuningan Jawa Barat
2018 – sekarang          Juri dan Penyelenggara Open Conference 2018 Toronto, Kanada.
2018 - sekarang          Bagian Konseling Unit Pembinaan Putri Pondok Pesantren  Husnul   Khotimah.


Pengalaman Volunteering:

2013 – 2014             Relawan Pengajar di Rumbel TEKO (Rumah Belajar Teras Koalisi) di daerah kumuh Sunan Giri, DKI Jakarta.
2013 – 2014             Relawan pengajar PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak – Program Keluarga Harapan) Kuningan Jawa Barat.
2017                       Relawan Liaison Officer FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia) di Convention Centre Kota Kasablanka.


Pengalaman Pembicara/Pemateri:
9 Oktober 2016           : Hijab Eduventure “Hijab Education” yang diselenggarakan oleh SIRO Creative Organize Planner di Kuningan Jawa Barat.
3 November 2016       : Festival Pendidikan “Shaping our future education” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ di Aula Maftuhah Yusuf UNJ.
2 Maret 2017               : “Presentasi dalam Bahasa Inggris” yang diadakan oleh Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta di Aula Psikologi UNJ, Halimun Jakarta.
2 April 2017                : Rise Up Pemuda Jakarta “Bakat, Karir dan Profesi” oleh Komunitas Muda Peduli Jakarta (Komp@k) di Duren Kalibata.
15 April 2017              : Talkshow Muslimah “Muslimah, Prestasi, dan Kontribusi” yang diselenggarakan oleh LDK Al-Fatih Lipia di Masjid Al-Ikhlas Jatipadang.
11 Juni 2017                : Rumah Keluarga Indonesia “Ramadhan Keren” diadakan oleh RKI (Rumah Keluarga Indonesia) di Yayasan Binaul Ummah, Bekasi.
27 Oktober 2017         : Acara General Motivasi “Remaja Asyik, Masa Depan Asyik” diadakan oleh Unit Pembinaan Putri Pondok Pesantren Husnul Khotimah di GOR Husnul Khotimah, Kuningan Jawa Barat.
11 Februari 2018         : Gerakan Menutup Aurat 2018 bertema “Kutunggu Syar’imu” diadakan oleh Forum Komunikasi Muslimah Kuningan (FOKUSKU) di Masjid Agung Syi’arul Islam, Kuningan Jawa Barat.
22 April 2018              : “Emansipasi Wanita dan Kartini Modern Abad 21” yang diselenggarakan oleh Forum Dakwah Fakultas Hukum se-Indonesia.

Sunday, June 24, 2018

[Curhat] Afrika, I am coming...


21 Juni 2018 pukul 20.00 malam itu, handphoneku yang layarnya sudah rusak, memaksa jariku membuka aplikasi gmail secara tidak sengaja. Sangat cepat layar hapenya tergeser-geser sendiri dan langsung membuka dokumen “invitation letter” yang terlampir dalam salah satu email. Sepersekian detik kubaca judul invitation letternya, “Invitation Letter for ICFP 2018” aku langsung melompat dari kasur terlalu senang! Alhamdulillah ya Allah...

Saking senangnya mau teriak saat itu, tapi keponakanku lagi tidur, jadi aku teriak gak bersuara. Tahun 2015 lalu aku menerima email yang sama untuk hadir di ICFP 2015 di Bali, lalu aku melompat-lompat di sofa selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali normal. 3 tahun lalu memang masih kanak-kanak.

Email yang sama, hanya beda tahun.


Tapi sebenarnya tahun 2018 ini aku jauuh lebih senang lagi, karena tahun 2015 itu, pas aplikasi aku mencentang tulisan “sanggup membiayai pesawat”. Pas diterima, di emailnya tertulis aku harus biayai pesawatku sendiri. Tapi aku diminta ke kantor BKKBN dan pas mengobrol dengan staff-staff disana, barulah pesawatku digratiskan dan dibiayai BKKBN, hotel, juga uang jajan. Bisa dibilang diterimanya aku di ICFP 2016 adalah faktor kelicikan dan keberuntungan. Pendaftar seluruh dunia sedikit (hanya 180) dan pendaftar di Indonesia juga sangat sedikit. Aku rasa yang daftar di Indonesia hanya 4 dan diterima pun hanya 4, saking jueleknya videoku.



Tahun 2018 aku jauh lebih senang. Kenapa? Karena pendaftaran ICFP lewat seleksi video ini booming dimana-mana, diposting di berbagai situs opportunity, dan pendaftarnya mencapai 550 orang.. Selain itu Kigali itu di luar negeri, biaya pesawatnya mencapai 22 juta rupiah PP. Kalau jadi panitianya, pasti mikir untuk nerima banyak orang Indonesia.

Aku antara yakin gak yakin, antara pesimis dan optimis, videoku bakal diterima dengan ketatnya seleksi tahun ini. Tapi aku tahu, I did my best. Kualitas videoku jauh lebih baik dari tahun 2015, pronounciationku jauh lebih baik, data lebih up to date, dan analisisku lebih unik. Selain itu juga untuk memperkaya aplikasiku, aku telah meminta data ke 200 orang lebih mengenai persepsi mereka. Ada dua penelitian, satunya pernikahan dini dan satunya keluarga berencana. Data-data itu memperkuat argumen dan analisis di aplikasi esaiku.

Ribet banget gak sih? Untuk penelitian aku menghabiskan waktu 3 hari (dari pagi hingga tengah malam). Untuk bikin video aku menghabiskan waktu 1 hari 1 malam (dari pagi hingga pagi lagi). Ribet sih ribet, tapi ya ini investasi masa depan.



Bukan hanya biaya Kigali Rwanda yang mungkin satu orangnya mendapatkan fasilitas senilai 48 jutaan (Hasil perhitunganku untuk ICFP 2018: 22 juta pesawat + 10 juta hotel bintang 5 selama 10 hari + 10 juta uang jajan(stipend) + 6 juta biaya pendaftaran event dsb). Tapi juga networking dan recognition yang bisa didapatkan jika berpartisipasi di event itu, it will change your life, forever.

YA, AKU MENGEJAR DUNIA.

Aku tahu ini murni pertolongan ALLAH sih. Soalnya selama 10 hari tidak ada email masuk (musim lebaran, jadi gak ada aktivitas). Jam 9 pagi aku ambil wudhu dan sholat dhuha. Saat sujud aku berdoa memohon kesuksesan pada Allah “Jika memang kesuksesan itu baik berada tanganku dan bisa bermanfaat pada sesama, berikanlah aku kesuksesan dunia dan akhirat.”. Sampai malam aku gak cek email. Padahal biasanya setiap hari aku selalu cek email lebih dari 10 kali. Pas aku cek email dan dapat invitation letter for ICFP 2018, aku sadar, aku kan doa jam 9 pagi, ternyata emailnya terkirim jam 10! Allah langsung menjawabnya seketika, tapi akunya pesimis.

Ya benar, aku punya motivasi tinggi ingin sukses. Tidak apa mengejar dunia, kata Hanan Attaki, tapi ujungnya harus akhirat. Tujuanku mengejar dunia adalah karena aku ingin bisa lebih banyak menginspirasi dan bermanfaat kepada orang-orang di sekelilingku. Aku juga ingin menciptakan dunia sebagai tempat tinggal yang lebih baik. Dan kesempatan mengubah dunia itu akan mayoritas berada di tangan orang-orang yang kaya, memiliki kekuasaan, pengaruh dan posisi. Meski aku bukan orang kaya sekarang, bukan pula orang yang sudah punya posisi, tapi aku yakin, tidak perlu minder dengan anak-anak yang terlahir kaya dari orang tua mereka, its not about how much resources you have, its about how resourceful you are.




Related Posts Plugin by ScratchTheWeb