Thursday, December 16, 2021
Berusaha Menjadi Egois
Thursday, November 18, 2021
Jangan Memusingkan Harga Diri!
Beberapa
hari yang lalu, saya melihat postingan ini lewat di Instagram Explore. Tulisannya
“Don’t feel sad if someone rejects you, people usually reject expensive things
and go for the cheap one,” yang berarti “Jangan sedih jika seseorang menolakmu.
Orang biasanya menolak hal-hal yang mahal dan memilih yang murah.”
Baiklah,
tulisan ini mungkin uneg-uneg karena saya tidak bisa mencerna quote tersebut. Karena
tidak tercerna dengan baik, jadi saya merasa benar-benar ingin “mengeluarkannya.”
Saya
sungguh tidak mengerti kenapa seseorang harus merendahkan orang lain agar bisa
meninggikan dirinya? Mereka yang mengiyakan post ini mungkin memiliki
insekuritas yang sangat besar dan berusaha menutupnya dengan meninggikan diri
mereka sendiri. Karena merasa bahwa diri mereka tidak “tinggi” mereka pun terpaksa
merendahkan orang lain.
Kita
sering punya standar ganda. Kita begitu yakin bahwa ucapan orang lain tidak menentukan
siapa kita. Tetapi kita merasa ucapan kita menentukan siapa orang lain?
Padahal,
ucapanmu tidak mendefinisikan orang lain. Ucapanmu mendefinisikan dirimu
sendiri. Psikolog dari NYU, Guy Winch, berkata bahwa kualitas yang kita lihat
pada orang lain menyampaikan banyak hal mengenai bagaimana kamu melihat dirimu
sendiri!
Mengenai
standar ganda. Kita sering meyakini standar tertentu jika itu menguntungkan
kita, dan menaruh standar yang berbeda pada orang lain. Dalam Psikologi Kognitif
dan Psikologi Perkembangan, orang yang hanya bisa berpikir dari sudut
pandangnya sendiri disebut tidak memiliki theory of mind. Mereka juga sering
memiliki false belief (kepercayaan palsu). Selama masa perkembangan, ini
terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun.
Jika
seseorang menolakmu atau mencampakkanmu, wajar jika kamu merasa sedih. Mereka
tidak memperjuangkanmu dan membuatmu menanyakan harga dirimu sendiri. Kamu
boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Jika perlu, tidak usah lagi lah memikirkan sesuatu yang namanya harga diri!
Saya
teringat salah satu nasihat dari Guy Winch.
“Harga diri kita tidak tetap atau stabil. Kita bisa merasa baik tentang diri kita sendiri suatu pagi, dan buruk tentang diri kita sendiri keesokan harinya. Tanpa alasan yang jelas sama sekali.
Harga diri kita bertentangan. Kita bisa merasa benar-benar tidak berharga dan tidak berguna. Namun kita masih percaya bahwa kita adalah berlian di tengah lumpur. Permata yang menunggu untuk ditemukan.
Harga diri kita tergantung pada bagaimana kita menyikapi sesuatu. Ketika seseorang memberi tahu bahwa kita melakukan pekerjaan dengan baik, kita ikut mengartikannya begitu. Atau sebaliknya.
Mengingat begitu sering harga diri berubah-ubah dan kontradiktif, mungkin kita seharusnya tidak terlalu memperhatikan harga diri.
Mungkin hari-hari dengan harga diri rendah sebenarnya hanyalah hari-hari dengan suasana hati atau energi yang rendah. Mungkin kita merasa buruk namun tetap mengakui bahwa kita layak.”
Sebagai
seorang Muslim, saya sendiri merasa bahwa kisah Abu Bakar melamar Fatimah sangat
inspiratif. Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi. Beliau memiliki julukan Ash
Shiddiq (orang yang terpercaya), tutur katanya lembut, kaya raya di dunia dan akhirat
hingga Malaikat Jibril ditugaskan untuk menjaga surganya Abu Bakar yang begitu
luas.
Tetapi
saat Beliau melamar Fatimah, Allah menetapkan hati Nabi Muhammad untuk menolak
tawaran tersebut. Sampai akhirnya Ali datang dan Allah membalikkan hati Nabi
Muhammad untuk akhirnya menjodohkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib.
Ali
juga seorang sahabat yang mulia. Hanya dua sahabat Nabi yang tidak pernah
menyembah Berhala sebelum Islam datang, Abu Bakar dan Ali. Keduanya memiliki
kemuliaan dan keutamaan masing-masing. Keduanya juga salah satu dari Khilafah yang
memimpin Muslim setelah Nabi wafat. Tetapi Allah menetapkan segala sesuatu sesuai
kadarnya masing-masing.
Bukan
karena seseorang lebih tinggi atau lebih rendah, lebih kaya atau lebih miskin, yang
akhirnya menentukan apakah kita diterima atau ditolak seseorang. Sebuah hubungan
yang kandas, terlepas apapun kisah yang melatarbelakanginya, sebenarnya ada
satu hal yang bisa dijejak sebagai penyebab: terdapat ketidakcocokan.
Sebagaimana
kamu bisa menjadi satu paket utuh tapi terkirim ke alamat yang salah. You can
be a whole package but delivered to a wrong address. Bukan karena kamu tidak
berharga atau orang lain lebih berharga dan lain sebagainya, tapi simply,
terdapat ketidakcocokan.
Berandai-Andai, Hal Yang Paling Tidak Aku Mengerti
Sejujurnya,
aku tidak mengerti, kenapa seseorang yang masih hidup berandai-andai? Seakan jika
dia bisa mengembalikan masa lalu dan membuat keputusan yang berbeda, dia yakin bahwa
kehidupan akan lebih baik. Bahkan jika itu sesuatu yang sebenar-benarnya
menunjukkan sebuah kerugian atau kehilangan.
Sebagai
contoh, jika saja dia melewatkan sebuah investasi besar pada startup yang
nantinya akan menjadikan dia triliuner, misal Facebook. Kemudian dia begitu
menyesal dan berandai-andai jika saja dia berinvestasi di sana. Padahal, dalam
skenario yang berbeda, misal dia menjadi investor Facebook dan akhirnya dia diundang
menjadi pembicara ke sana ke mari, misal Jepang. Bisa saja saat dia naik
pesawat ke Jepang tersebut, pesawat itu jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya.
Atau
jika seorang pria memilih satu di antara dua perempuan untuk dia nikahi, kemudian
di masa depan dia sering bertengkar dengan istrinya, dia pun menyesal dan
berpikir, “Andai aku memilih perempuan yang lain.” Padahal dia juga tidak tahu,
bisa jadi, ketika dia menikahi perempuan yang lain, perempuan tersebut terkena
penyakit kronis untuk jangka panjang yang membuatnya hidup larut dalam
depresi dan penderitaan.
Suatu
hari, aku ditanya pada seminar yang diadakan Indonesia Mengglobal, “Kak Maryam,
kenapa tahu bahwa saat itu adalah masa yang tepat untuk melanjutkan S2?” Jujur,
aku melanjutkan S2 tanpa pengalaman bekerja dan aku mengambil jurusan psikologi
yang pendekatannya integrative, alias fokusnya tidak terlalu sempit. Tidak
seperti sebagian besar orang yang tujuan studinya lebih spesifik.
Kemudian
aku menjawab, “Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk menggali lebih banyak
ilmu. Aku juga tidak tahu apakah itu waktu yang tepat atau tidak, tapi tidak
ada mesin waktu dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengetahui mana
keputusan yang tepat dan salah. Aku hanya merasa gak puas dengan ilmuku selama
S1. Pun, ketika aku sudah lulus, aku sadar bahwa lowongan pekerjaan yang bisa
aku daftar itu jadi lebih sempit. Akan tetapi, aku percaya bahwa aku bisa menciptakan jalan dan peluang-peluang itu sendiri. Aku mengambil keputusan dengan cepat, menuruti
apa kata hatiku.”
Inilah
kenapa aku sangat menyukai Garyvee. Dia mengikuti kata hatinya dan mengambil
keputusan dengan cepat. Dia tidak menyesali apapun.
Tadi
pagi aku jogging sambil mendengarkan podcast TED. Dalam podcast tersebut
disebutkan salah satu rahasia orang resilien adalah dia melakukan selective
attention. Dia memfokuskan pikirannya kepada hal-hal positif dibandingkan
hal-hal negative. Sang pembicara sendiri merupakan pakar resiliensi dan dia
trauma survivor. Dia kehilangan anak perempuannya yang berusia 10 tahun dalam
sebuah kecelakaan maut. Awalnya dia berandai-andai jika saja terdapat berbagai
skenario berbeda yang mencegah anaknya agar tidak meninggal. Namun akhirnya dia
mulai berpikir, “Dalam psikologi ini disebut benefit finding. Cari hal-hal yang
membuat bersyukur. Setidaknya anakku meninggal dalam sebuah kecelakaan yang cepat, bukan kesakitan dan sekarat bertahun-tahun karena penyakit kronis. Terlebih lagi, aku masih punya dua anak
laki-laki yang aku cintai. Jangan kehilangan apa yang kita miliki untuk apa
yang sudah hilang.”
Berandai-andai
hanya akan membahayakan kita. Itu membahayakan kesehatan mental kita, membuat
kita miskin bersyukur, dan akhirnya membuat kita terhambat dalam meraih tujuan
yang ingin kita raih atau tugas yang harus dilaksanakan.
Aku sendiri tidak suka berandai-andai, dan jika aku mendapatkan otakku melakukan hal tersebut, aku langsung sadar bahwa itu mengarahkan pada jalan yang sesat. Alhamdulillah, hingga saat ini nalarku lebih kuat untuk menghalaunya karena aku tahu itu hal bodoh yang membahayakan.
Sejujurnya,
saat aku membaca bahwa ini adalah tema dari 30-DWC, aku langsung bingung menyusun
ide karena tidak ada satu pun hal di dunia ini yang aku andai-andaikan terjadi
berbeda. Menurutku, satu-satunya
tempat untuk berandai-andai adalah ketika kita sudah mati. Jika kita tidak
cukup bertakwa kepada-Nya, tidak punya banyak bekal dan tidak sempat bertobat
dari dosa-dosa.
#30DWCJilid3
#Day24
#Andai
Sunday, August 8, 2021
Berikut Sosok Cinta Pertama Saya...
Tema menulis hari ini untuk Pejuang 30-Day Writing Challenge adalah “Cinta Pertama.” Tema yang cukup menuntut kreativitas dan membuat heboh squad saya, squad 4. Sebagian besar anggota squad telah memiliki berkeluarga dan membahas isu “cinta pertama” mungkin agak berisiko kalau dibaca suami, haha. Ya, itu hanyalah candaan. Toh, kita bisa menulis cerita fiksi, atau tulisan ilmiah tentang cinta, atau cinta yang sifatnya platonic (seperti cinta pada ayah dan ibu), tanpa terang-terangan memberikan pengumuman siapa cinta pertama kita pada lawan jenis.
Meskipun begitu, dalam tulisan ini, saya akan mengumumkan siapa sebenarnya cinta pertama saya, literally menyebut nama orangnya. Baca sampai akhir haha.
Berbicara tentang cinta pertama itu sendiri, sebenarnya saya sendiri sempat kebingungan. Kalau yang dimaksud adalah ketertarikan dengan lawan jenis, tidak ada orang yang pasti yang muncul dalam benak saya pertama kalinya. Saking bingungnya, saya sempat berpikir, mungkin “cinta pertama” saya ada dua orang? Atau mungkin ada tiga orang? Mungkin ada empat? Tapi gimana bisa disebut "pertama" jika lebih dari satu? Hmm, saya harus menentukan jawabannya nih. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mulai mencari definisi dari cinta pertama:
Saya pun mulai membuat beberapa list kapan cinta pertama itu muncul:
- Apakah cinta monyet saat masih SD?
- Apakah saat pertama kali jantung berdegup kencang saat melihat seseorang?
- Apakah ketika pertama kalinya gayung bersambut?
- Apakah ketika kita telah dewasa dan pertama kalinya membangun hubungan dengan komitmen dan kesetiaan?
- Atau mungkin kesukaan kita pada aktor atau penyanyi Korea? Ups hehe.
Seperti misalnya, saya pernah melakukan sebuah deklarasi di kelas saat 1 atau 2 MTs (setara SMP) bahwa cinta pertama saya adalah seorang musisi asal Jepang bernama Kitagawa Yujin, wkwk. Jadi apakah Yujin cinta pertama saya? Tentu tidak, karena itu seperti deklarasi konyol yang saya utarakan sebelum saya dewasa dan mungkin hanya bentuk kekaguman sebagai fan untuk pertama kalinya.
(Note: di Instastory, saya bilang deklarasinya saat saya masih SD. Itu ingatan di benak saya, tapi false memory karena lagu Wonderful World Yuzu dirilis tahun 2008)
![]() |
| Kitagawa Yujin |
Selain itu, katanya, cinta pertama itu sulit dilupakan. Tapi pada akhirnya, saya tidak lagi memikirkan beberapa orang tertentu yang pernah saya sukai. Saya juga percaya, sebagian besar orang, jika diminta untuk memilih setia dengan pasangannya yang sekarang atau dengan cinta pertamanya, tentu akan lebih memilih setia dengan pasangannya yang sekarang.
Layaknya tumbuhan, rasa cinta juga perlu dipupuk, disiram dan dirawat. Jika sudah lama ditinggalkan, pada akhirnya kering dan layu dan akhirnya terlupakan. Tidak ada yang spesial dengan siapa pertama kali kita jatuh cinta, akan tetapi dengan siapa cinta itu bertahan lama, tumbuh dengan subur dan berbuah manis kebahagiaan.
Sampai saat ini, saya belum bisa memastikan siapa lawan jenis “cinta pertama” saya (yang kehidupan real ya, bukan ngefans artis wkwk). Lagipula, itu tidak penting, bukan? Selain definisinya sangat kabur dan subjektif, saya berpikir, mungkin “cinta pertama” itu tidak ada? Yang ada adalah beberapa kali jatuh cinta pertama kalinya pada orang yang berbeda dengan cara yang berbeda.
Anyway, daripada memikirkan seseorang yang telah berlalu, lebih baik fokus dengan membangun hubungan yang sekarang dengan komitmen dan kesetiaan. Ya, walaupun saat ini saya single dan belum berencana untuk menikah hihi.
Well, sebenarnya saya punya definisi sendiri apa itu cinta pertama (selain cinta platonik pada keluarga tentunya). Cinta pertama saya adalah… diri saya sendiri, Maryam Qonita, hahaha.
Ini dari pengalaman pribadi juga sih. Saya beberapa kali pernah menyukai lawan jenis, meskipun pernah agak bucin-bucin gitu, pada akhirnya saya selalu mengutamakan diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya tidak bahagia, saya mundur. Saya patah hati , saya move on. Saya belum ingin menikah, saya memilih melanjutkan S2 dan berkarir. Tidak peduli jalan hidup orang lain, yang penting saya bahagia dengan jalan hidup saya sendiri, saya bersyukur dan tidak menyesali apapun.
Saturday, August 7, 2021
Han Solo, Princess Leia, dan Romansa Antar Galaksi
Han Solo dan Princess Leia adalah
pasangan yang saling bertolak belakang. Princess Leia, seperti namanya, adalah
seorang putri kerajaan yang terhormat. Sementara itu, Han Solo adalah seorang
penyelundup, kriminal, dan seorang yang egois. Mereka sama-sama berkepribadian
keras dan seringkali bertengkar satu sama lain. Akan tetapi, ketika kalian
menaruh mereka berdua dalam petualangan antar galaksi dan bertarung dengan
pesawat kerajaaan, mereka pada akhirnya saling jatuh cinta dan saling
mengonfirmasi perasaan satu sama lain.
Dari kisah cinta merekalah saya mulai agak terobsesi dengan perjalanan antar bintang bahkan antar galaksi. Kisah cinta yang tercipta dari tempat yang begitu luas di luar angkasa sana. Sebuah tempat dengan triliunan objek-objek indah yang dapat dinikmati mata, membuat takut sekaligus takjub dengan semesta ciptaan Tuhan. Semenjak itu, saya sering menghabiskan waktu menonton video-video di YouTube tentang planet-planet dan galaksi. Saya juga membaca sebuah buku berbahasa Inggris, Michio Kaku, berjudul “The Future of Humanity,” dimana manusia mulai menjajakan dirinya di Mars atau melakukan perjalanan antar planet dengan pesawat berkecepatan cahaya.
Saya secara khusus tertarik dengan system tata surya kita sendiri, dimana ada matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang mengorbit matahari lainnya seperti Jupiter dan Saturnus. Masih banyak misteri yang belum terungkap bahkan di salah satu planet terdekat bumi, Jupiter. Saya mulai sering bertanya-tanya, apa yang terjadi jika manusia memasuki Jupiter hingga tiba di intinya? ( Mungkin memakai baju super canggih hingga ia tidak akan terbakar oleh suhu Jupiter yang sangat panas) Seperti apa inti Jupiter? Apakah intinya adalah metal yang padat ataukah cairan kental super panas? Bahkan NASA saja belum mengetahuinya! Bukankah itu hebat? Bahkan planet terdekat bumi masih menyimpan begitu banyak misteri bagi organisasi terhebat yang meneliti luar angkas.
Jupiter adalah planet favorit saya, karena planet ini bisa dilihat dengan mata telanjang, sangat besar, dan memiliki pola-pola yang sangat cantik. Cukup lihat bintang paling terang di langit, yang berada di rasi bintang Aquarius, itulah planet Jupiter. Bahkan seperti pola garis-garisnya yang indah secara kasar dapat dilihat dengan kamera iphone. Saya juga hampir dapat menyaksikan bagaimana planet ini berputar pada porosnya begitu cepat, layaknya apion yang berputar pada titik keseimbangannya. Perputaran jupiter dikatakan sangat cepat karena besar planet ini adalah 1300 kali bumi, namun hanya butuh 9 jam untuk berotasi.
Ini adalah planet Jupiter yang
saya foto dengan kamera iPhone saya sendiri:
Selain system tata surya, saya juga mulai membayangkan bagaimana jika manusia akhirnya mampu menciptakan sebuah kendaraan yang melebihi kecepatan cahaya dan melakukan perjalanan ke planet di system tata surya yang lain, seperti Proxima Centauri hingga planet-planet mirip bumi di Teegarden Star. Dengan teknologi saat ini, manusia mungkin membutuhkan waktu 19,000 tahun untuk mencapai Proxima Centauri. Sebuah jarak yang sangat jauh padahal itu adalah system tata surya terdekat dengan system tata surya kita sendiri. Dengan kecepatan cahaya, mungkin butuh empat tahun untuk menjangkau Proxima Centauri. Padahal ada ratusan miliar system tata surya di galaksi bima sakti, dan ada ratusan miliar galaksi di observable universe.
Belakangan, saya sering membayangkan jika saja diri saya adalah seorang astronot NASA dan melakukan perjalanan ke luar angkasa. Pasti bumi terlihat begitu cantik dari luar sana. Saya juga sering membayangkan jika saya hidup cukup lama hingga menyaksikan manusia membangun koloni di Mars atau hingga kehadiran alien terkonfirmasi. Pernah dengar dialog dalam drama Mr. Sunshine, ketika si tokoh utama perempuan berkata, "romansa saya ada di ujung senapan Jerman"? Kalau saya, mungkin, dialognya menjadi seperti ini "romansa saya berada di antara galaksi-galaksi." Ya, karena keindahan mereka mampu menyatukan dua orang dari latar belakang yang berbeda, Princess Leia dan Han Solo. Saya sendiri mendapati diri saya begitu larut setiap kali kepala saya mendongak ke langit. Ratusan bintang berkelap-kelip, layaknya mata Illahi. Membuat saya takjub, kagum, takut, dan juga tidak henti-hentinya berdzikir.
#30DWC
#30DWCJilid31
#Day22
Tuesday, July 20, 2021
Dua Bulan Setelah Lulus Dari NYU
Sekarang adalah tanggal 20 Juli 2021,
dua bulan setelah kelulusanku dari NYU (19 Mei 2021). Aku banyak merenungkan
tentang biaya adaptasi yang besar selama studiku di Negeri Paman Sam. Yang
berakibat pada IPK yang kurang dari 3.5 pada dua semester pertama. Meski
akhirnya aku berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude, tetap saja, aku
terpikir bahwa biaya adaptasiku cukup besar untuk bisa sepenuhnya mengikuti
pelajaran di kelas.
Memasuki semester 3 dan 4, aku secara
serius memperdalam kemampuan bahasa Inggrisku. Mencari berbagai sumber yang
memungkinkan bagiku untuk belajar, mulai dari aplikasi belajar di ponsel,
membaca materi kelas jauh-jauh hari, kursus bahasa Inggris, berinteraksi dengan
teman-teman internasional sepanjang hari, memaksakan diriku untuk lebih percaya
diri dalam bertanya & berdiskusi di kelas, dan lain sebagainya. Pada
akhirnya, aku berhasil memperoleh nilai A di semua pelajaran pada dua semester
terakhir. Bagi orang lain mungkin nilai A tidak seberapa, tapi ini menjadikanku
berterimakasih kepada diriku yang mau memaksakan diri untuk maju dan lebih baik
dari sebelumnya.
Tepat sebelum aku berangkat studi S2,
sekolah di Amerika menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan di benakku. Jika pun
sempat terbayangkan, mungkin itu sesuatu yang besar, gelap dan menyeramkan. Saat
pertama kali memasuki kelas, aku merasa kemampuanku jauh dibawah rata-rata para
mahasiswa yang lain. Aku merasa tidak mampu dan akan gagal. Setelah beberapa
lama melaluinya, aku merasa sekolah di Amerika adalah sesuatu yang sederhana dan
within my ability. Selama aku berdisiplin dan memiliki tekad yang kuat untuk
belajar, aku akan selalu mampu bertahan. Ya, seringkali ketakutan hanya
dilahirkan oleh pikiran-pikiran yang rumit.
Dua bulan telah berlalu dan aku sudah
berada di Indonesia sejak tanggal 5 Mei 2021. Kali ini, aku perlu kembali
memaksakan diri untuk maju dan lebih baik. Banyak hal yang harus dilakukan,
bukan ditunda-tunda. Banyak orang yang minta tolong, sudah seharusnya ditolong.
Dan aku tahu apa yang perlu aku lakukan untuk mencapai mimpi-mimpiku, disiplin dan lakukan saja. Namun aku masih
stagnan dan menunggu kesempurnaan.
Aku tidak tahu kesempurnaan apa yang
masih kutunggu. Sampai kapan aku harus menyalahkan keadaan yang membuat
segalanya tidak dapat kulakukan dengan sempurna?? Mulai dari suasana rumah yang
berantakan, banyak tamu, waktu yang sempit, isi pikiranku yang rumit (seperti
pita kaset yang kusut), lalu teralihkan oleh ponakan yang lucu, dan buku-buku
yang ingin kubaca sebelum menulis sebuah novel yang seharusnya sudah kutulis 10
tahun lalu.
Belum lagi pikiran bahwa aku belum
stabil secara finansial. Aku seperti merasa dikejar oleh sesuatu yang tidak
terlihat. Seharusnya di usiaku segini, aku sudah begini dan begitu. Jadi
aku tidak tahu apa yang harus kumulai terlebih dahulu. Apakah aku harus fokus mencari
pekerjaan terlebih dahulu? Apakah aku harus menulis novel? Apakah aku harus
menulis artikel di koran sebagai pekerjaan sampinganku?
Apakah aku harus memosting konten di Instagram?
Aku memiliki banyak keinginan yang
begitu jauh di pandangan. Aku ingin memulai bisnis property, aku ingin membuat courses
online dengan harga terjangkau, aku ingin menjadi penulis dan menerbitkan novel, aku ingin memiliki
pengalaman bekerja, aku ingin melanjutkan kuliah S3, dan aku ingin kaya raya. Padahal
aku sadar, perjalananan 1000 mil dimulai dari satu langkah. Tapi seringkali,
aku banyak ragu dan mempertanyakan setiap satu langkahku. Membuatku seringkali hampir
tidak melangkah sama sekali.
Aku bisa posting satu konten sederhana, aku bisa menulis 1-2 paragraf novel, dan lain sebagainya. Dan aku beruntung, karena Ummi berkata bahwa, tidak apa-apa aku tidak punya pekerjaan dulu. Yang penting, otakku selalu dipakai.
Jika aku pikirkan, semua keadaan telah mendukungku untuk terus
melangkah. Aku selalu punya pilihan, tidak ada yang memarahiku jika aku tidur panjang setelah hanya menulis satu paragraph hancur dan amburadul. Lalu kenapa pikiranku rumit?
Mungkin aku terlalu memikirkan apa
kata orang? Apa kata orang jika aku belum juga mendapat pekerjaan yang stabil?
Apa kata orang jika aku gagal? Apa kata orang jika tulisanku jelek? Apa kata
orang jika aku hanya menulis sedikit hari ini? Padahal kata Deddy Corbuzier,
itu adalah kalimat yang paling akan membuat gagal, WHAT OTHER PEOPLE WILL SAY. Padahal
aku cukup yakini apa yang aku yakini, yang akan membuatku bahagia, dan aku
melakukannya untuk diriku sendiri. Terserah apa kata orang.
#30DWC
#30DWCJilid31
#Day4
Monday, July 9, 2018
Biodata Maryam Qonita Lengkap
2018 OpenCon 2018 di Toronto, Kanada. Sebagai panitia penyelenggara dan Pembicara. Diselenggarakan oleh The Right to Research Coalition dan SPARC.
2018 International Conference on Family Planning 2018, Kigali Rwanda. Sebagai moderator. Diadakan oleh Bill & Melinda Gates Foundation, John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan juga Ministry of Health Republic of Rwanda.
2012 – 2013 Guru Tahfidz dan Sekretaris di Pondok Pesantren Al-Hikmah
2016 – 2017 Manager of Community EdConex (www.edconex.org)
2014 – sekarang Sekretaris LSM Satu Hati Kuningan Jawa Barat
2018 – sekarang Juri dan Penyelenggara Open Conference 2018 Toronto, Kanada.
2018 - sekarang Bagian Konseling Unit Pembinaan Putri Pondok Pesantren Husnul Khotimah.
2017 Relawan Liaison Officer FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia) di Convention Centre Kota Kasablanka.
Sunday, June 24, 2018
[Curhat] Afrika, I am coming...
Saking senangnya mau teriak saat itu, tapi keponakanku lagi tidur, jadi aku teriak gak bersuara. Tahun 2015 lalu aku menerima email yang sama untuk hadir di ICFP 2015 di Bali, lalu aku melompat-lompat di sofa selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali normal. 3 tahun lalu memang masih kanak-kanak.
![]() |
| Email yang sama, hanya beda tahun. |
Tahun 2018 aku jauh lebih senang. Kenapa? Karena pendaftaran ICFP lewat seleksi video ini booming dimana-mana, diposting di berbagai situs opportunity, dan pendaftarnya mencapai 550 orang.. Selain itu Kigali itu di luar negeri, biaya pesawatnya mencapai 22 juta rupiah PP. Kalau jadi panitianya, pasti mikir untuk nerima banyak orang Indonesia.
Ribet banget gak sih? Untuk penelitian aku menghabiskan waktu 3 hari (dari pagi hingga tengah malam). Untuk bikin video aku menghabiskan waktu 1 hari 1 malam (dari pagi hingga pagi lagi). Ribet sih ribet, tapi ya ini investasi masa depan.
YA, AKU MENGEJAR DUNIA.
Aku tahu ini murni pertolongan ALLAH sih. Soalnya selama 10 hari tidak ada email masuk (musim lebaran, jadi gak ada aktivitas). Jam 9 pagi aku ambil wudhu dan sholat dhuha. Saat sujud aku berdoa memohon kesuksesan pada Allah “Jika memang kesuksesan itu baik berada tanganku dan bisa bermanfaat pada sesama, berikanlah aku kesuksesan dunia dan akhirat.”. Sampai malam aku gak cek email. Padahal biasanya setiap hari aku selalu cek email lebih dari 10 kali. Pas aku cek email dan dapat invitation letter for ICFP 2018, aku sadar, aku kan doa jam 9 pagi, ternyata emailnya terkirim jam 10! Allah langsung menjawabnya seketika, tapi akunya pesimis.
Ya benar, aku punya motivasi tinggi ingin sukses. Tidak apa mengejar dunia, kata Hanan Attaki, tapi ujungnya harus akhirat. Tujuanku mengejar dunia adalah karena aku ingin bisa lebih banyak menginspirasi dan bermanfaat kepada orang-orang di sekelilingku. Aku juga ingin menciptakan dunia sebagai tempat tinggal yang lebih baik. Dan kesempatan mengubah dunia itu akan mayoritas berada di tangan orang-orang yang kaya, memiliki kekuasaan, pengaruh dan posisi. Meski aku bukan orang kaya sekarang, bukan pula orang yang sudah punya posisi, tapi aku yakin, tidak perlu minder dengan anak-anak yang terlahir kaya dari orang tua mereka, its not about how much resources you have, its about how resourceful you are.




















