Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Tuesday, June 13, 2017

Hikmah Peringkat Terakhir



Dari setiap kejadian yg tidak kita sukai atau semenyakitkan apapun itu, percayalah pada suatu hari nanti kita akan menyadari hikmah dibalik peristiwa itu dan terkejut bahwa memang skenario Allah-lah yg terbaik. Salah satu cerita yg sering saya sampaikan adalah saat pergantian semester masa-masa MA di HK. Alhamdulillah ratusan anak SMA sudah mendengarnya, dan mudah-mudahan sedikit terinspirasi.

Ada orang mengatakan bahwa otak saya ini pastilah sangat cerdas, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai konferensi internasional, menjuarai berbagai perlombaan, dan menjadi mahasiswi berprestasi. Atau orang tua saya sangat kaya hingga bisa membiayai saya terbang ke Amerika dan menghadiri sebuah forum pemuda di Kantor Pusat PBB. Tidak, sama sekali tidak! 

Wallahi, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih cerdas, pintar, berkontribusi pada masyarakat daripada diri saya. Mereka orang yang memiliki kebulatan tekad, komitmen, kerja keras dan sangat dapat diandalkan oleh teman-teman & organisasi dimana mereka bernaung. Meski begitu, saya bersyukur memiliki ‘cerita’ dari pengalaman saya sendiri yang bisa saya share. Berharap mungkin orang lain ingin mendengarnya dan memotivasi mereka yang juga merasakan hal sama.

Dulu saat MA, tempat duduk favorit saya adalah kursi yang paling pojok belakang. Suatu hari, wali kelas membuat tabel rangking di kertas HVS. Lalu sehelai kertas tersebut dioper dari depan ke belakang.... saya melihat nama saya ada disana.... menduduki peringkat 29 dari 30 siswa. Sementara seisi kelas telah melihat kertas tsb karena saya paling terakhir lihat.

Juga ketika daftar akumulasi nilai (mata pelajaran umum) satu angkatan ikhwan-akhwat dikumpulkan menjadi satu tabel besar, dipajang di mading kantor Tata Usaha. Nama saya disana, berada di bagian paling bawah-bawah.

Saya memang sudah sering ditegur guru di kantor, terancam tidak naik kelas, nilai sering nol, mengerjakan tugas satu semester dalam semalam, dsb. Sementara hobi & aktivitas saya semasa MA adalah nulis berpuluh-puluh novel-novelan ala drama korea, yang sebagian ceritanya saya tulis disini. Hingga tiba hari itu... hari dimana nilai saya menjadi tontonan seisi kelas. Tangan saya gemeteran, napas tertahan, dan mau menangis di kelas saat itu juga.

Ketika menceritakan pengalaman ini di berbagai sesi talkshow, entah kenapa banyak siswa-siswi SMA relatable dengan apa yang saya alami. "Koq gue banget ya?". Pernah juga saya mengisi acara anak SMA di satu kelas yg di-judge "Paling Bodoh" siswa-siswanya. Satu kelas itu berisik minta ampun dan saya katakan dengan lantang, "Masa depan kalian tidak ditentukan oleh nilai-nilai kalian di rapot!" dan mereka terlihat tercengang mendengar itu. Yg menentukan masa depan adalah bagaimana sikap kita untuk tidak menyerah & terus belajar. Juga tentunya doa orang tua.

Apalagi ketika memasuki dunia kuliah. Kita akan belajar bahwa selalu ada langit di atas langit. Kita akan menemukan banyak orang yg lebih cerdas, pemikirannya lebih kritis, lebih rakus terhadap buku-buku, dan lebih berkontribusi pada sesama. Mereka cenderung talk less do more.  Ketidakmaluan menjadi penting untuk mengakui bahwa kita ini masih bodoh sambil terus belajar, belajar, dan belajar.

Inilah yg disebut psikolog sebagai GRIT yang akarnya adalah growth mindset (pola pikir yang terus berkembang). Inilah yang akan membedakan si pintar dan si pembelajar. Teruslah merasa bodoh, karena tujuan belajar bukan untuk menjadikan yg amatir jadi ahli lalu berhenti, BUKAN!! Melainkan demi pembelajaran itu sendiri.


“Never stop learning, because life never stop teaching.”

Wednesday, February 10, 2016

[KISAH INSPIRATIF] Mengukur Tinggi Bangunan dengan Barometer


Beberapa waktu yang lalu, saya menerima telepon dari seorang rekan. Dia seorang guru, dan dia ingin memberikan nilai nol pada muridnya terkait jawaban si murid pada soal fisika, sementara murid tersebut malah meminta nilai sempurna.

Si guru dan si murid setuju untuk memilih seorang pendamai yang netral. Dan saya terpilih untuk membacakan soal ujian tersebut: “TUNJUKKAN BAGAIMANA MUNGKIN MENENTUKAN KETINGGIAN SEBUAH BANGUNAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU BAROMETER”

Jawaban si murid adalah: “Bawa barometer ke atas bangunan, ikatkan tali ke barometer, lemparkan tali sampai menyentuh jalanan, dan naikkan ke atas tali tersebut, ukur panjang tali. Panjang tali adalah tinggi bangunan.”

Si murid punya alasan kuat untuk  meminta nilai sempurna karena dia menjawab dengan benar! Akan tetapi, jika nilai sempurna diberikan kepadanya, nilai itu akan mengkonfirmasi kompetensinya di bidang fisika, sementara jawabannya tidaklah menunjukkan kompetensinya tersebut.

Saya pun menyarankan agar si murid di berikan kesempatan lagi. Saya memberikan waktu 6 menit pada si murid untuk menjawab dengan cara yang berbeda, namun menunjukkan pengetahuannya dalam bidang fisika.

5 menit berlalu, dan dia belum menuliskan apapun. Saya tanya apakah dia menyerah, dan dia menjawab bahwa dia sudah punya banyak jawaban untuk soal ini. Dia hanya memikirkan mana jawaban yang terbaik.

Di menit selanjutnya, si murid menghempaskan jawabannya yang tertulis: “Bawa barometer ke atas bangunan, dan jatuhkan sampai tanah. Hitung waktu jatuhnya menggunakan stopwatch. Dan gunakan rumus x=0.5*a*t^^2 untuk menghitung tinggi bangunan.”

Pada tahap ini, saya bertanya rekan saya apakah dia akan menyerah. Dia menyerah, dan memberikan si murid nilai sempurna.

Saat meninggalkan kantor rekan saya, saya memanggil murid itu kembali dan menanyakan jawaban-jawaban lainnya terkait soal tersebut.

“Baiklah,” jawab si murid. “Ada banyak cara untuk menentukan tinggi bangunan menggunakan barometer. Misalnya, kau bisa membawa barometer di tengah hari. Tentukan tinggi barometer, tentukan juga tinggi bayangan barometer, dan tinggi bayangan bangunan. Menggunakan proporsi tersebut, kau bisa menentukan tinggi bangunan.”

“Baguslah,” jawabku, “dan lainnya?”

“Ya,” ucap si murid. “Ini adalah metode dasar yang akan kau suka. Kau bawa barometernya menaiki tangga. Selama kau menaiki tangga, tandai jarak barometer sepanjang dinding. Hitung berapa banyak tanda, dan ini akan memberi tahumu tinggi bangunan menggunakan unit barometer.”

“Metode yang sangat langsung.”

“Tentu. Jika kau ingin metode yang lebih mutakhir, kau bisa mengulum barometer dengan tali. Ayunkan seperti bandulan, dan tentukan nilai g (gravitasi) di tanah dan nilai g di atap bangunan. Dari perbedaan nilai gravitasi, berdasarkan prinsip fisika, tinggi bangunan bisa dihitung.”

“Dengan metode mirip juga, kau bisa membawa barometer ke atap bangunan, ikatkan tali ke barometer, jatuhkan ke tanah, dan tarik seperti bandulan. Kau bisa menghitung tinggi bangunan dari periode presesi.”

“Pada akhirnya,” dia menyimpulan, “ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahn ini. Dan mungkin yang terbaik,” si murid berkata, “dengan membawa barometer ke lantai dasar, mengetuk kamar pengawas bangunan. Dan saat si pengawas membuka pintu, katakana padanya: ‘Bapak pengawas, ini adalah barometer yang masih bagus. Jika kau beri tahu padaku tinggi bangunan, aku akan memberikanmu barometer ini.”

Pada tahap ini, saya bertanya pada si murid apakah dia sungguh tidak tahu jawaban konvensional untuk pertanyaan ini. Dia menjawab bahwa dia tahu, namun dia selalu kesal dan jemu dengan gurunya yang mencoba mengajari dia bagaimana cara berpikir.


Saturday, February 6, 2016

Mengapa Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?


Sebuah kisah yang pernah saya dengar.

Terdapat seorang pria yang biasa membeli 2 pizza seharga 400.000 rupiah setiap Minggu untuk keluarganya.

Keluarga ini memiliki seorang pembantu wanita berusia paruh baya yang bekerja pada mereka. Menjelang awal tahun, Sang istri meminta suaminya untuk memberikan sang pembantu 200.000 rupiah sebagai bonus akhir tahun, namun sang suami berkata bahwa uang itu terlalu banyak dan mereka pada akhirnya hanya memberikan bonus akhir tahun pada si pembantu sebesar 100.000 rupiah.

Si pembantu libur 3 hari selama awal tahun 2016, dan kembali di hari keempat dan dia tampak bahagia. Sang suami bertanya, “bagaimana libur awal tahunmu?”. Jawaban si pembantu ternyata membuat sang suami terdiam.

Si pembantu menjawab,

“Sangat menyenangkan pak, berkat uang yang Anda berikan pada saya. Saya menggunakan 30.000 rupiah untuk jalan-jalan dan mondar-mandir di kampung anak saya, 20.000 untuk membelikan mereka kue-kue, saya membelikan cucu saya sebuah kaos dan celana pendek dengan 40.000, dan mendonasikan 10.000 pada pengemis cacat dekat masjid kampung saya.”

Oleh karena itu,

Uang bisa membelikan kebahagiaan jika kau membagikannya dengan orang lain yang menghargai nilainya dan sungguh-sungguh membutuhkannya.

Thursday, September 4, 2014

Kisah Pemuda Beribu Bapakkan Babi

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang bisa berbicara langsungdengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan berbicara pada Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di surga nanti yang akan bertetangga denganku?". Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang di beritahu. Setelah beberapa hari dalam perjalanan, akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di sana, beliau berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Anehnya, tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam kamar. Tak lama kemudian, dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu di dirawatnya dengan hati-hati. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa maksudnya ini?, kata Nabi Musa dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu di lap sampai kering serta dipeluk cium  dengan penuh kasih sayang kemudian diantar kembali kedalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. 

Selesai pekerjaannya, pria itu baru melayani Nabi Musa.

"Wahai saudara! Apa agama kamu?" tanya Nabi Musa.

"Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam.

"Lalu, mengapa kamu memelihara babi?" tanya Nabi Musa.

"Wahai tuan," kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapa kandungku. Mereka telah melakukan dosa yang besar, maka Allah telah menukarkan wajah mereka menjadi babi yang buruk rupanya. Dosa mereka dengan Allah itu masalah lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajiban ku sebagai anak.

Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibu bapaku seperti yang tuan lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugas ku.", sambungnya. "Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka di ampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum mengabulkan doaku.", tambah pemuda itu lagi.

Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. “Wahai Musa, inilah orang yang akan pergi dengan kamu di Surga nanti, karena baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya.

orang nya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naik kan derajatnya sebagai anak soleh di sisi Kami." Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerena dia telah berada di tempat anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibu bapaknya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga."Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibu bapak yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke surga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibu bapak nya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi.

Mudah-mudahan ibu bapak kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak. Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibu bapak kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa. Walau banyak sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibu bapak kita diampuni Allah S.W.T. Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibu bapak nya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibu bapak di alam kubur.

Arti sayang seorang anak kepada ibu dan bapak nya bukan melalui uang, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibu bapak nya ialah dengan doanya supaya kedua ibu bapak nya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.  Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL

Thursday, August 28, 2014

Ketika Buku Seharga Emas

Ada satu masa ketika harga buku itu dinilai dengan emas. Wah, pasti mahal donk. Mana bisa rakyat menjangkaunya? Bisa tuh karena harga buku tersebut dibayarkan oleh negara dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau harga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak lagi menerima bayaran dari penerbit ataupun royalti. Hal ini terjadi di masa Khalifah Al-Makmun yang memberikan emas kepada Hunain bin Ishak seberat kitab-kitab yang ia salin ke bahasa Arab dengan ukuran yang sama beratnya.

Semua orang boleh dan berhak bahkan wajib menyebarkan buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan. Bukan hanya menyebarkan saja, tapi setiap orang berhak untuk menggandakan dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut.

Tidak ada orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini sangat biasa di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi. Meskipun hak cipta didengungkan di alam Kapitalisme, nasib pengarang tetap saja merana tanpa ada perlindungan sama sekali. Hanya segelintir pengarang yang karyanya best seller saja yang hidup layak. Itu pun juga tidak terlepas dari potongan pajak ini-itu.


Berbeda dengan sistem Islam yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya tersebut di pasaran. Tapi pemimpin dalam hal ini Khalifah telah memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penterjemah dan ilmuwan demi agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi bisa lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu.

Nasib penulis, penterjemah dan ilmuwan di zaman ini lebih menghargai kemolekan tubuh daripada ilmu pengetahuan. Profesi artis, selebritis, foto model dan sebangsanya jauh lebih dihargai mahal daripada mereka yang memeras keringat demi kemajuan bangsa.

Bandingkan dengan nasib penulis, penterjemah dan ilmuwan di zaman ini ketika sistem yang ada jauh lebih menghargai kemolekan tubuh daripada ilmu pengetahuan. Profesi artis, selebritis, foto model dan sebangsanya jauh lebih dihargai mahal daripada mereka yang memeras keringat demi kemajuan bangsa. Sudahlah dihargai murah, hasil keringat dari penulis dan penterjemah banyak yang masuk ke kantong penerbit dalam hal ini sebagai pemilik modal. Parahnya, pemerintah masih dengan teganya memotong hasil yang cuma sekitar 8 % dari harga jual itu dengan pajak. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan nasib penulis dan penterjemah di zaman ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi praktis hampir di seluruh dunia hal ini berlaku.

Melihat hal demikian, hanya orang bebal saja yang bangga dengan kondisi memprihatinkan ini. Hanya orang yang rela hidup terhina saja yang mau dijajah. Orang beriman, tentu saja menolak hidup dalam kungkungan kapitalisme yang selalu mendewakan materi dan kenikmatan jasadi. Tak ada pilihan lain bagi orang beriman kecuali berjuang untuk perubahan. Dakwah tanpa kekerasan untuk merubah kondisi dari terhina menjadi mulia.

Yuk, kita kembalikan lagi kemuliaan manusia ketika isi kepala lebih dihargai daripada goyang ngebor. Kita dudukkan lagi posisi para ilmuwan ke tempatnya yang mulia dengan mendapat penghargaan semestinya, bukan malah yang pamer aurat dihormati di mana-mana. Kita rindu satu masa ketika buku adalah sesuatu yang dirindu karena ada ilmu pengetahuan di sana, dan bukan malah sinetron puluhan episode yang menjadi tuntunan. So, mari berjuang demi perubahan ini. Semangat! ^_^

Sabtu, 08 May 2010


Wednesday, August 27, 2014

Putra Khalifah Menjadi Kuli


Dikisahkan dalam kitab At-Tawwabin karya Ibnu Qudamah tentang seorang putra khalifah yang meninggalkan kehidupan mewah di istana dan menjadi seorang kuli panggul.

Suatu hari ‘Abdullah bin Faraj Al-Abid memerlukan buruh harian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Maka ia pun pergi ke pasar. Sesampainya di sana, ia menemukan sekumpulan buruh harian. Ternyata di barisan paling belakangnya ada seorang pemuda berjubah dan berpakaian dari bulu yang wajahnya pucat pasi. Ia tengah membawa keranjang besar.

“Kamu mau bekerja?” tanya ‘Abdullah bin Faraj kepadanya.

“Ya,” jawabnya.

“Berapa bayarannya?”

“Satu seperenam dirham.”

“Baiklah!”

“Tapi, ada syaratnya.”

“Apa syaratnya?” tanya ‘Abdullah bin Faraj.

“Jika waktu Zhuhur tiba dan muadzin telah mengumandangkan adzan, aku akan berhenti bekerja; kemudian bersuci dan menunaikan shalat secara berjamaah di masjid. Lalu kembali bekerja lagi. Demikian pula pada waktu shalat Ashar,” pintanya.
“Baiklah!”

‘Abdullah bin Faraj menyuruhnya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Pemuda itu pun mengikat tubuhnya lalu mulai bekerja dan sama sekali tidak mengajak ‘Abdullah bicara hingga muadzin mengumandangkan adzan Zhuhur.

“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.


“Silakan!” jawab ‘Abdullah.


Ia pergi dan menunaikan shalat. Setelah pulang, ia kembali bekerja dengan baik hingga waktu Ashar, ketika muadzin mengumandangkan adzan.

“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.

“Silakan!” jawab ‘Abdullah.

Ia pergi dan menunaikan shalat Ashar. Setelah pulang, ia kembali bekerja hingga sore. ‘Abdullah kemudian memberinya upah. Setelah itu, pemuda tersebut pulang.

Beberapa waktu berselang, ‘Abdullah bin Faraj membutuhkan lagi seorang buruh.

“Carilah buruh muda kemarin. Sungguh ia telah member teladan kepada kita ketika bekerja,” pinta istrinya.

‘Abdullah pergi ke pasar, namun tidak melihatnya. Ia menanyakan kepada orang-orang di pasar.

“Anda menanyakan pemuda yang pucat dan lemah yang tidak kami lihat selain hari Sabtu dan yang tidak duduk kecuali sendirian di bagian belakang?” jawab orang di pasar.

Maka ‘Abdullah pun pulang. Barulah pada hari Sabtu ia pergi ke pasar. Benar, ia pun menemukannya.

“Kamu mau bekerja?”

“Anda telah mengetahui upah dan syaratnya.”

“Ya, aku menyetujuinya.”

Ia bangkit dan bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Ketika tiba saatnya memberi upah, ‘Abdullah menambahinya. Ternyata pemuda itu menolak menerima tambahannya. Namun, ‘Abdullah memaksanya untuk menerima. Kali ini pemuda itu merasa risih sehingga ia pergi meninggalkan ‘Abdullah. ‘Abdullah merasa tidak enak. Ia pun membuntuti dan membujuknya sampai akhirnya ia mau menerima, tetapi hanya upahnya saja.

Beberapa waktu kemudian, ‘Abdullah kembali hendak memerlukannya. Ia pergi ke pasar pada hari Sabtu namun ia tidak menemukannya.

“Ia sakit,” jawab seseorang.

“Ia hanya datang ke pasar setiap hari Sabtu untuk bekerja dengan upah satu seperenam dirham. Setiap hari ia menghabiskan seperenam dirham untuk makan. Dan kini ia telah jatuh sakit.

‘Abdullah menanyakan rumahnya untuk membesuk.

Dijumpainya seorang wanita tua.

“Apakah di sini tinggal seorang pemuda yang biasa bekerja sebagai buruh harian?” tanya ‘Abdullah kepada wanita tua yang ternyata pemilik rumah.

“Ia sakit sejak beberapa hari yang lalu.”

‘Abdullah masuk dan mendapatinya sakit dengan berbantalkan batu bata. Setelah mengucap salam kepadanya, ‘Abdullah bertanya, “Apakah kamu mempunyai suatu keperluan?”

“Ya, jika Anda mau memenuhinya,” jawabnya.

“Ya, aku mau memenuhinya.”

“Setelah aku mati nanti, juallah tali ini dan cucilah jubah dan kain dari bulu ini. Kemudian kafanilah aku dengannya. Setelah itu, bukalah saku ini karena di dalamnya ada sebuah cincin. Lalu pada saat Harun Ar-Rasyid lewat, berdirilah di tempat yang terlihat olehnya, bicaralah, dan perlihatkan cincin itu kepadanya. Jangan lakukan ini kecuali setelah aku dikuburkan.”

“Baiklah!” jawab ‘Abdullah.

Setelah ia meninggal, ‘Abdullah bermaksud melakukan apa yang dimintanya. Suatu hari, dengan duduk di sisi jalan, ia menanti lewatnya Harun Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid melintas di hadapannya.

“Wahai Amirul Mukminin, ada titipan untukmu padaku!” seru ‘Abdullah seraya memperlihatkan cincin itu. Namun, Harun Ar-Rasyid menyuruh anak buahnya menangkap ‘Abdullah untuk dibawa ke istana.

Sesampainya di sana, Harun Ar-Rasyid memanggil ‘Abdullah dan menyuruh keluar semua orang yang ada di tempat itu.

“Siapa Anda?” tanya Harun Ar-Rasyid.
“’Abdullah bin Faraj.”
“Dari mana kamu mendapatkan cincin itu?”

‘Abdullah bin Faraj kemudian menuturkan kisah pemuda yang pernah ditemuinya. Tiba-tiba Harun Ar-Rasyid menangis hingga ‘Abdullah merasa iba. Setelah kembali tenang, ‘Abdullah memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Amirul Mukminin, ada hubungan apa antara dia dengan Anda?”

“Ia anakku.”

“Bagaimana ia bisa seperti itu?”

“Ia lahir sebelum aku diangkat menjadi khalifah. Lalu tumbuh sebagai anak yang baik, yang belajar Al-Quran serta ilmu-ilmu lainnya. Namun, ketika aku telah diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan tidak mau menikmati sedikit pun dari kenikmatan yang aku peroleh. Aku kemudian memberikan cincin ini –cincin yaqut yang harganya sangat mahal– kepada ibunya sambil mengatakan, ‘Berikan ini kepadanya (karena ia sangat patuh kepada ibunya), dan suruhlah ia selalu membawanya. Siapa tahu sewaktu-waktu ia membutuhkannya’. Lalu ibunya meninggal dan saya sama sekali tidak mengetahui kabar beritanya hingga Anda datang memberitahukannya kepadaku ini,” jelas Harun Ar-Rasyid.


“Jika malam telah tiba, tunjukkanlah aku kuburannya.”


Dan kala malam telah gelap, keduanya pergi tanpa pengawalan hingga tiba di kuburan putranya. Harun Ar-Rasyid duduk di dekatnya dan menangis. Ketika fajar menyingsing, mereka bangkit untuk pulang.

“Temanilah aku menziarahi kuburnya beberapa malam lagi,” pinta Harun Ar-Rasyid. Pada malam berikutnya, ‘Abdullah bin Faraj menemaninya. []

Friday, October 26, 2012

Wanita Pembenci Rasulullah SAW



Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanita malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itupun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan.

“Senang sekali kamu mau membantu dan menemani saya, saya sangat menghargainya,” kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang sekali berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya.

Suatu saat wanita itu berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad!”

Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa Tuhan itu satu. Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya.”

Wanita itu melanjutkan lagi dengan kesal, “Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad!”

Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terimakasih. “Terimakasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya beri kamu satu nasihat, jauhi Muhammad! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya! Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”

Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannnya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu anak muda?” tanya wanita tersebut. Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan wanita itu terkejut setengah mati.

“Maaf, apa yang kamu bilang? Kata-katamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad...?”

“Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu. Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah SAW. Tak berapa lama, meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

Demikianlah Rasulullah hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat. Betapa agungnya pribadi beliau.

Wednesday, September 12, 2012

Kisah Nyata Keajaiban Ayat Kursi


kisah nyata dari US sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal asia yang mengenakan jilbab.
Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalalaman.....suasana jalan setapak agak sepi....dia melewati short cut yang agak gelap dan sendirian.....

Di ujung jalan pintas itu dia melihat ada sosok pria kaukasian, pasti orang amerika pikirnya....tapi perasaan wanita ini a...
gak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya....
Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah....kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca ayat kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt.....

Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa...sekilas ia melirik ke arah pria itu.....orang itu asik dengan rokoknya...dan seolah tidak memperdulikannya....(Alhamdulillah....serunya dalam hati...)

Keesokan harinya..ia lihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam...dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dilorong gelap itu...karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan shorcut itu.....

Hati muslimah inipun tergerak karena wanita tadi melintas jalan shorcut itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana...dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca,dari beberapa orang yang dicurigai polisi....

Muslimah inipun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tsb,karena ia Menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.
Melalui kamera rahasia akhirnya muslimah inipun bisa menunjuk salah seorang yg diduga sbg pelaku,ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok...

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yg diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannya... tergerak oleh rasa ingin tau, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi...

muslimah ;
apa kau melihat saya,saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu? mengapa anda hanya menggangunya tapi tidak menggangguku ? mengapa anda tidak berbuat apa apa padahal waktu itu aku sendirian ?

penjahat :
tentu saja saya melihat mu malam tadi, anda berada disana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu,saya tidak berani mengganggu anda,aku melihat ada dua orang besar dibelakang anda pada waktu itu...satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda...

Thursday, July 22, 2010

Kisah Nyata Tentang Perjuangan Seorang Istri Part 4


Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?
Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya. Sangat terlihat Ayah.
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah.
Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah.

Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku
Aku sangat marah....
Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya.
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku
Engkau Maha Adil.
Berilah keadilan ini padaku Ya Allah

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja - manja lagi padamu.
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku
Aku harus sadar diri
Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?
Ayah aku masih tak rela
Tapi aku harus ikhlas menerimanya

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir
Sebelum ajal ini menjemputku
Ayah...aku kangen ayah

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bunda
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda... Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah...
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu. ...
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui..
Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..
Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang.
Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?
Tunggulah Ayah disana Bunda......
Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini....... Aku mohon.....
Ayah Sayang Bunda....




Kembali

Kisah Nyata Tentang Perjuangan Seorang Istri Part 1

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb