Showing posts with label Resensi Film Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Resensi Film Psikologi. Show all posts

Sunday, November 20, 2016

Sinopsis Film Boyhood: Film Yang Dibuat 12 Tahun

Sinopsi Film Boyhood - Dalam postingan ini saya ingin menuliskan sinopsis film Boyhood berserta analisis psikologi yang terkandung di dalamnya. Khususnya mengenai kaitannya dalam konseling keluarga. Film Boyhood adalah film bertema keluarga yang rentang waktu syutingnya merupakan rentang waktu syuting film terlama, yaitu 12 tahun. Film ini mulai syuting tahun 2002 dan dirilis 2014 kemarin. Mengisahkan bagaimana kehidupan perkembangan seorang anak bernama Mason dariia berusia 6 tahun hingga ia berusia 18 tahun.Selama 12 tahun tersebut, sosok Mason diperankan oleh aktor yangs sama yaitu Ellar Coltrane.

Kehidupan Mason selama 12 tahun tersebut diliput oleh sang sutradara, berikut dengan keluarganya, masalah dalam keluarga, pindah sekolah, pindah rumah, percintaan, cinta pertamanya, waktu-waktu paling indah, momen menakutkan dan berbagai aktivitas lainnya yang benar-benar dijalani Mason selama masa anak-anak hingga remajanya.


Tahun 2002, Mason hidup bersama kakak perempuannya yang bernama Samantha.Juga bersama ayah kandung dan ibunya.Namun, sayangnya kedua orang tua kandungnya tersebut seringkali bertengkar karena masalah ekonomi.Secara sembunyi-sembunyi, Mason sering menyaksikan pertengkaran tersebut.

Olivia (Ibunya Mason dan Samantha) berpisah dengan Tommy (Ayah Mason dan Samantha).Iapun memutuskan untuk pindah ke Houston agar dia bisa belajar di Universitas Houston, menyelesaikan gelarnya, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk bisa menghidupi Mason dan Samantha. Tommydatang mengunjungi kedua anaknya namun akhirnya dia dan Olivia malah bertengkar. Mason dan Samantha melihat pertengkaran kedua orang tuanya itu lewat jendela. Dan mengeluhkan ayah mereka yang tidak bisa tinggal bersama mereka lagi.


Suatu hari, Olivia membawa Mason ke universitas dan mengenalkan Mason pada Bill yang merupakan profesornya. Mason melihat bahwa keduanya saling menggoda satu sama lain.

Tahun 2005, Olivia dan Bill menikah dan mereka menggabungkan kedua keluarga mereka.Termasuk dua anak Bill dari pernikahan sebelumnya.Keluarga itu hidup dengan saling berbagi, bermain video games , main golf, dan lain sebgainya. Awalnya kehidupan pernikahan Olivia dan Bill baik-baik saja, namun lama-kelamaan, Bill menerapkan parenting yang sangat ketat dan menegakkan banyak aturan di rumah.Dia juga menjadi seorang yang kecanduan alcohol. Hingga akhirnya Bill mulai menyiksa Olivia dan membahayakan keempat anak-anaknya. 



Olivia lalu pindah ke rumah temannya dan bercerai dengan Bill. Olivia, Samantha, dan Mason memulai hidup baru, teman-teman baru, sekolah baru, lingkungan baru. Olivia yang sekarang single parents berprofesi sebagai seorang dosen psikologi dan mengajar tentang bagaimana memberikan kasih sayang ibu pada anak-anaknya. Meskipun pada kenyataannya, apa yang dia sampaikan pada mahasiswanya sangat berbeda dengan yang dia lakukan kepada Samantha dan Mason. Dimana Olivia sering sekali memarahi kedua anak-anaknya itu.

Waktu selalu menuju satu fase hidup yang baru. Mason yang awalnya aktif dan lincah berubah menjadi satu sosok yang tak banyak bicara. Begitu pula dengan Samantha.Ia lambat laun tumbuh menjadi gadis dewasa dan mengenal dunia seks bebas dan percintaan.

Memasuki usia 15 tahun, Mason mulai mengonsumsi alkohol dan mariyuana.Tommy saat itu sudah menikah lagi dan sudah memiliki bayi dari istri barunya.Olivia juga saat itu sudah memiliki partner hidup baru bernama Jim. Saat ulang tahun Mason ke 15 tersebut, Tommy mengajak Mason dan Samantha mengunjungi rumah orang tua dari istri barunya. Di sana, Mason diberikan hadiah berupa injil, kemeja, dan shot gun(senapan laras panjang). Mason bercerita kepada nenek dan kakek tirinya itu bahwa dia ingin menjadi seorang fotografer.

Suatu hari saat sedang bersama guru fotografinya, gurunya itu berkata bahwa Mason memiliki potensi yang besar, namun sayangnya Mason tidak punya ambisi dan tidak punya kerja keras.

Mason mengunjungi sebuah pesta dan bertemu dengan Sheena yang akhirnya menjadi pacarnya. Mason bercerita pada Sheena tentang orang-orang yang berusaha mengontrol hidupnya padahal mereka tidak mengerti Mason sama sekali. Mason juga berkata bahwa dia bukan orang yang terbuka untuk bercerita pada semua orang, sehingga Sheena senang mendengar bahwa Mason terbuka padanya.Setelah itu, Mason tiba di rumah tengah malam, Jim yang sedang mabuk menegur Mason karena pulang telat.Jim yang terlalu mengekang Mason akhirnya memicu Olivia dan Jim berpisah.

            Di usia yang ke-17 Mason mendapat medali perak atas prestasinya dalam lomba fotografi.Hadiahnya adalah scholarship untuk melanjutkan kuliahnya di bidang fotografi.Sehingga itu meringankan beban ibunya.Namun di momen yang bahagia itu juga, Mason dan Sheena putus karena Sheena dikabarkan dekat dengan seorang atlet bahkan tidur dengan atlet tersebut.

Mason bersama keluarga besarnya merayakan kelulusan Mason dari SMA yang juga akan segera memasuki dunia kampus. Olivia dan Tommy saling tertawa melihat kedua anak kandung mereka yang masing-masing sudah lulus SMA.Beberapa bulan kemudian, Mason antusias sekali hendak meninggalkan rumahnya untuk memasuki dunia kampus, Namun ibunya malah menangis dan berkata bahwa itu adalah hari terburuk dalam hidupnya.Dia bercerai demi mendapatkan pekerjaan yang layak agar bisa menguliahkan Mason dan Samantha.Namun dia sedih melihat Mason sangat antusias meninggalkan rumah. Menurut Olivia, sekarang saatnya menunggu dia masuk ke kuburan.


            Mason di kampusnya bertemu dengan teman-teman baru. Mereka hendak pergi mendaki untuk mengambil beberapa foto.Dan saat itu Mason bertemu dengan Nicole. Saat mendaki, Mason dan Nicole menghabiskan waktu bercerita satu sama lain dan menikmati momen senja tersebut.Nicole percaya bahwa bukan kita yang menangkap momen sebagaimana yang banyak orang katakan, melainkan momenlah yang menangkap kita.Dan akhirnya Mason setuju hal itu.Keduanya saling menatap dan tersenyum.

Analisis
            Film ini bercerita tentang remarried, yang diajalani oleh Olivia, Bill dan juga Tommy. Meski akhirnya Olivia memilih menjanda karena ingin fokus pada pekerjaannya sebagai dosen untuk membiayai kedua anaknya kuliah.


            Olivia berpisah dengan Tommy karena saat itu Olivia ingin melanjutkan sekolahnya.Sehingga dia bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.Juga agar dia bisa mempunyai waktu untuk Mason dan Samantha, daripada terlalu sibuk bekerja namun penghasilannya kurang.Ia lalu menjalin hubungan asmara dengan profesornya, Bill.

            Awalnya, pernikahan Olivia dengan Bill baik-baik saja sampai Olivia sibuk melanjutkan master degree-nya.Bill merasa bahwa Olivia tidak mengawasi anak-anak.Ia pun menjadi seorang abusive dan pecandu alkohol. Mereka sering bertengkar dan Bill pun menjadi ayah yang berbahaya untuk keempat anaknya.

            Setelah bercerai dengan Bill, Olivia cukup lama hidup sendiri sebagai single parentsampai akhirnya dia hidup bersama dengan Jim.Sayangnya, Jim tampak berusaha mengontrol hidup Mason agar sesuai dengan keinginan Jim. Mason diharapkan menjadi seorang yang memiliki pekerjaan layak, gaji yang tetap, dan punya banyak uang. Hal ini memicu Olivia dan Jim akhirnya pisah. Olivia pun hidup sendiri sebagai seorang single parents lagi.

            Film ini memperlihatkan sekali dampak psikologis apa yang diberikan Olivia terhadap perkembangan Mason dan Samantha. Kedua anaknya ituseakan tidak punya motivasi hidup dan tidak suka bekerja keras meski mereka memiliki passion di bidang masing-masing.Mason pernah berkata kepada Sheena mengapa dia tidak punya motivasi adalah karena menurut Mason, pendidikan yang tinggi, pekerjaan yang bagus, itu semua sia-sia.Buktinya adalah ibunya sendiri, dimana ibunya sampai sekarang pun masih seperti orang bingung yang hidupnya berantakan meski sudah mendapatkan semua yang dia inginkan (pekerjaan yang layak & pendidikan yang tinggi).

            Film ini adalah film yang sangat bagus untuk mempelajari psikologi perkembangan dan konseling keluarga.Perkembangan Mason diperlihatkan sejak dia masih kecil berusia 6 tahun, waktu itu dia sering melihat kedua orang tuanya bertengkar.Dan seiring bertambahnya usia, Mason tidak punya semangat hidup dan beraura suram. Dia juga mengonsumsi alkohol dan marijuana.Film ini dibuat dalam rentang waktu 12 tahun, yaitu dari tahun 2002 hingga 2014. Dan diperankan oleh aktor-aktor yang sama dalam rentang waktu tersebut.

            Penyebab perceraian adalah karena meningkatnya harapan hidup manusia (Coontz, 2002).Teori ini dicerminkan dalam film ini, yaitutingginya harapan Olivia untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.Dia pun berpisah dengan Tommy, berpisah dengan Bill, dan berpisah dengan Jim demi mengejar master degree-nya dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.
            Seseorang yang meniatkan untuk bercerai, akan lebih cepat menikah lagi dibandingkan seseorang yang sebelumnya tak punya niat bercerai (Sweeney, 2002). Dan hal ini diceritakan dalam film Boyhood, bagaimana Olivia lebih cepat menikah lagi daripada Tommy. Olivia menikah dengan Bill terlebih dahulu sebelum Tommy dengan istri barunya.Sebagaimana Olivia lah yang menginisiasi perceraian dengan Tommy padahal Tommy tidak punya niat untuk menceraikan Olivia.

            Hubungan keluarga menjadi lebih rumit ketika salah satu dari pasangan membawa anak dari pernikahan sebelumnya.(Wineberg, 1990). Dimana teori ini juga digambarkan dalam film Boyhood, dimana pernikahan antara Olivia dan Bill jauh lebih rumit dan lebih bermasalah karena masing-masing dari mereka membawa anak dari pernikahan sebelumnya. Sementara Tommy dan istri barunya tampak jauh lebih bahagia sebagai keluarga kecil sederhana karena Tommy tidak membawa Mason dan Samantha untuk sepenuhnya memasuki kehidupan baru Tommy.Hanya di momen-momen spesial tertentu saja atau saat akhir pekan.

            Salah satu hasil penelitian juga mengatakan, pasangan akan mengulang kesalahan yang sama dalam remarried karena mereka mengharapkan situasi yang sama yang tidak didapat di pernikahan sebelumnya (Kalmuss dan Seltzer). Dilihat dari kasus Olivia, dia sibuk dengan master degree-nya sehingga dianggap oleh Bill telah melalaikan anak-anak dan tugasnya sebagai ibu. Hal ini menunjukkan, Olivia mengulang kesalahan yang sama ketika ia bersama Tommy. Dia berpisah dengan Tommy saat itu karena dia ingin fokus melanjutkan kuliahnya.

Film dengan rentang waktu syuting terlama sedunia ini digarap oleh Richard Linklate. Dalam film ini kitaakan melihat bagaimana sebenarnya kehidupan itu berjalan tanpa ada skenario yang dibuat-buat. Dalam film ini juga diperlihatkan bagaimana kenyataan hidup yang harus dihadapi, mau tidak mau dan suka tidak suka.Sementara endingnya pun merupakan open ending yang masih akan terus berlanjut kisahnya.



Pencarian
  • sinopsis film boyhood
  • boyhood review indonesia
  • film boyhood
  • review film boyhood
  • boyhood cast
  • boyhood 2015
  • analisis film boyhood
  • boyhood tfboys
  • boyhood pemeran

Saturday, February 14, 2015

Misaeng: The True Portrait of Incomplete Life


All about delicacy, strength, integrity, helplessness, and intelligence. Misaeng (Incomplete Life) probably will be the most relatable drama, ever. I think it has the simpliest plot K-Drama: Ordinary salary men and their daily life in office.

I was watching with tears welling in my eyes, or with the hugest grin on my face. Even when the smallest good thing happens, I find myself fist-pumping for the characters. And I can already sense that Misaeng is one of my K-Drama favorite of all-time. After Bridal Mask, of course.

And it is probably not everyone’s cup of tea. The muted tone and full of hero’s narration. Even though, the hero was an emotionless and expressionless zombie and he’s underdog of underdog, we just want him to succeed. He’s like an onion, makes us cannot stop crying.

The Hero is the shortest guy, slight, not masculine looking, but it’s which make him living. He isn’t given “expressive” facial expression, but the barest flicker on his face makes him come alive instead of being wooden like he would be in the hands of a less capable actor. His expressionless is the most living and breathing. It fits with the gloomy story.

And it’s relatable with my future as a HRD person, I want that kind of personality, who is dedicated to working hard, because that’s who I want to be as my associates.

Really, I watched it multiple times and haven’t get enough yet. It has a movie feel to it. Slow, but not boring at all. Don’t know what this drama has done to me, but I found my taste going higher as it goes.



Wednesday, August 27, 2014

Donnie Darko: A Puzzle Movie


Ada sebuah film yang tidak dapat disimpulkan dengan mudah. Dengan nuansa yang tidak nyaman, cerita yang tidak biasa, atau dapat dikatakan aneh. Bisa dikatakan film itu memiliki ide yang sangat orisinal dan belum pernah ditonton di film lainnya. Salah satunya adalah film Donnie Darko, sebuah cult film dengan ending yang sangat mengejutkan (twist ending). Beberapa penonton harus menonton lebih dari 2 kali untuk mengerti ending dari film ini. Ya, karena film ini lebih mirip sebuah puzzle yang amat rumit dan membuat penonton berpikir lebih keras untuk memahami maksudnya.

Donnie Darko adalah seorang remaja yang sejak kecil memiliki masalah dalam melakukan komunikasi social. Donnie digambarkan memiliki pemikiran di luar batas normal sehingga sering kali dalam setiap lontaran katanya menimbulkan perselisihan dengan orang lain. Hingga akhirnya ia memiliki masalah dalam menjalin hubungan, dengan keluarganya, teman-temannya, termasuk guru-gurunya.

Masalah Donnie bertambah saat bertemu Frank, seekor kelinci raksasa yang sering kali muncul dalam penglihatannya. Frank memberitahukan bahwa dunia akan kiamat pada 28 hari, 6 jam, 42 menit, dan 12 detik lagi. Namun hanya Donnie saja yang dapat melihat Frank dan mengikuti setiap intruksi Frank. Hal ini membuat Donnie sering berjalan dalam tidur. Sehingga suatu hari, Donnie ditemukan tidur di tengah lapangan golf dengan tulisan di tangannya: 28 hari, 6 jam, 42 menit, 12 detik.

Setibanya di rumah, Donnie melihat seluruh keluarganya berkumpul di depan rumah. Para polisi melakukan evakuasi karena ternyata, sebuah bagian mesin pesawat terjatuh tepat di kamar Donnie. Kamar Donnie hancur, namun Donnie terselamatkan karena semalam dia berjalan tidur ke lapangan golf. Namun, semenjak kejadian itu perilaku Donnie menjadi semakin aneh. Ia menjadi semakin sering berjalan dalam tidur dan melakukan hal-hal buruk yang tidak masuk akal sesuai dengan permintaan teman ilusinya yaitu Frank.

Donnie menjadi memiliki kekuatan di luar batas kemampuan manusia pada umumnya. Di bawah instruksi dari Frank, Donnie menghancurkan pipa air besar di sekolahnya dan membuat sekolahnya kebanjiran. Dia juga menancapkan kapak pada patung tembaga di sekolahnya yang amat keras. Donnie juga membakar rumah seorang trainer terkenal. Dan ia juga bisa melihat gelombang air keluar dari tubuh orang lain, dan menebak perilaku apa yang akan dilakukan orang lain tersebut. Terkadang ia bicara sendiri, menusuk-nusukkan pisau ke wajahnya di cermin, mencuri pistol milik ayahnya, dsb.


Melihat perilaku anaknya, orang tua Donnie membawanya ke seorang psikiater. Psikiater mengatakan bahwa Donnie mengidap Skizofrenia Paranoid, sebuah penyakit psikologis dimana dia ketakutan ditinggalkan oleh temannya Frank hingga melakukan apapun yang Frank minta. Donnie sendiri tidak memiliki teman lagi di sekolahnya kecuali Gretchen, gadis yang akhirnya mau menjadi pacarnya.

Sisi normal dari Donnie tidak ingin mengatakan bahwa dirinya gila (Seperti yang dikatakan oleh Psikiater). Ia ingin menyimpulkan bahwa yang dialaminya bukanlah ilusi belaka. Akhirnya ia berbincang-bincang dengan guru fisikanya untuk menafsirkan kejadian yang dialaminya secara ilmiah. Guru itu pun memberikan Donnie sebuah buku berjudul “The Philosophy of Time Travel” yang ditulis oleh Roberta Sparrow. Seorang wanita tua yang pernah hampir ditabraknya dan wanita itu dianggap gila karena selalu menanti sepucuk surat di depan rumahnya. Namun, tidak pernah ada sepucuk surat pun dalam kotak surat itu.

Saat Donnie membaca buku tersebut, ia mendapati bahwa isi buku tersebut sangat persis dengan yang dirinya alami. Pelan-pelan Donnie pun menerima apa yang dia alami bukanlah ilusi juga bukan kebetulan saja. Tidak seperti yang dkatakan oleh psikiater. Pada gurunya, Donnie bicara tentang konsep time travel hingga gurunya tak lagi ingin bicara pada Donnie. Begitu pula Donnie bicara pada pacarnya Gretchen, namun pacarnya tidak mengerti apa yang Donnie katakana.

Pertanyaannya, apakah Donnie benar-benar gila? Lalu apakah yang terjad dengan 28 hari kemudian benar-benar kiamat? Memang, film ini butuh perjuangan dan tidak mudah untuk dilewati apalagi mengingat durasinya yang lebih dari dua jam. Namun pada awalnya, saya mengira bahwa film ini adalah film thriller psychologist, namun konsep sebenarnya dari film Donnie Darko adalah Parallel Universe. Dimana ada dua dunia yang muncul dalam penglihatan Donnie, dan Donnie disuruh untuk kembali menormalkannya.

Ketika dunia parallel tercipta, sebuah objek aneh muncul. Kembali ke masa lalu, sebuah mesin pesawat yang tiba-tiba jatuh di depan rumah Donnie adalah sebuah glitch dimana ketika dunia parallel muncul, tercipta tiga copy. (satu di dunia nyata, satu di dunia parallel, satu di depan penglihatan Donnie). Kopian ketiga muncul menyebabkan dunia tidak stabil dan dapat menyebabkan dunia kiamat. Cara untuk menormalisasi dunia adalah dengan membuang mesin melalui portal ke dunia nyata sehingga hanya dunia parallel yang hancur.

Meskipun tidak mudah untuk mendapatkan arti yang sesungguhnya dari film ini, mengingat durasinya yang dua jam, namun tidak ada penyesalan saat menonton film bernuansa aneh ini. Di era film yang semakin gencar dengan film-film horror dan romantis murahan, kelebihan Donnie Darko justru menawarkan nuansa baru dengan ending cerita yang tidak terlupakan. Meskipun setiap penonton memiliki interpretasi masing-masing dalam menyimpulkan film ini, namun untungnya Richard Kelly terbuka menjelaskan sosok Donny Darko tersebut dan tidak sok misterius seperti David Lynch.

Kekurangannya, mungkin bagi beberapa penonton film ini dianggap hanyalah film membosankan yang berjalan dengan lambat. Terkadang akan bertanya, “Film apa ini?” atau “Ini beneran? Koq aneh banget…” sehingga tidak jarang sebelum menonton pertengahan film, mereka akan mengganti menonton film lain yang lebih jelas maksudnya dan lebih menegangkan dibandingkan menonton film yang membutuhkan pikiran dalam mencerna setiap adegan seperti potongan puzzle berserakan.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb