Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Thursday, November 18, 2021

Jangan Memusingkan Harga Diri!

 


Beberapa hari yang lalu, saya melihat postingan ini lewat di Instagram Explore. Tulisannya “Don’t feel sad if someone rejects you, people usually reject expensive things and go for the cheap one,” yang berarti “Jangan sedih jika seseorang menolakmu. Orang biasanya menolak hal-hal yang mahal dan memilih yang murah.”

Baiklah, tulisan ini mungkin uneg-uneg karena saya tidak bisa mencerna quote tersebut. Karena tidak tercerna dengan baik, jadi saya merasa benar-benar ingin “mengeluarkannya.”

Saya sungguh tidak mengerti kenapa seseorang harus merendahkan orang lain agar bisa meninggikan dirinya? Mereka yang mengiyakan post ini mungkin memiliki insekuritas yang sangat besar dan berusaha menutupnya dengan meninggikan diri mereka sendiri. Karena merasa bahwa diri mereka tidak “tinggi” mereka pun terpaksa merendahkan orang lain.

Kita sering punya standar ganda. Kita begitu yakin bahwa ucapan orang lain tidak menentukan siapa kita. Tetapi kita merasa ucapan kita menentukan siapa orang lain?

Padahal, ucapanmu tidak mendefinisikan orang lain. Ucapanmu mendefinisikan dirimu sendiri. Psikolog dari NYU, Guy Winch, berkata bahwa kualitas yang kita lihat pada orang lain menyampaikan banyak hal mengenai bagaimana kamu melihat dirimu sendiri!

Mengenai standar ganda. Kita sering meyakini standar tertentu jika itu menguntungkan kita, dan menaruh standar yang berbeda pada orang lain. Dalam Psikologi Kognitif dan Psikologi Perkembangan, orang yang hanya bisa berpikir dari sudut pandangnya sendiri disebut tidak memiliki theory of mind. Mereka juga sering memiliki false belief (kepercayaan palsu). Selama masa perkembangan, ini terjadi pada anak-anak di bawah usia enam tahun.

Jika seseorang menolakmu atau mencampakkanmu, wajar jika kamu merasa sedih. Mereka tidak memperjuangkanmu dan membuatmu menanyakan harga dirimu sendiri. Kamu boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Jika perlu, tidak usah lagi lah memikirkan sesuatu yang namanya harga diri!

Saya teringat salah satu nasihat dari Guy Winch.

“Harga diri kita tidak tetap atau stabil. Kita bisa merasa baik tentang diri kita sendiri suatu pagi, dan buruk tentang diri kita sendiri keesokan harinya. Tanpa alasan yang jelas sama sekali.

Harga diri kita bertentangan. Kita bisa merasa benar-benar tidak berharga dan tidak berguna. Namun kita masih percaya bahwa kita adalah berlian di tengah lumpur. Permata yang menunggu untuk ditemukan.

Harga diri kita tergantung pada bagaimana kita menyikapi sesuatu. Ketika seseorang memberi tahu bahwa kita melakukan pekerjaan dengan baik, kita ikut mengartikannya begitu. Atau sebaliknya.

Mengingat begitu sering harga diri berubah-ubah dan kontradiktif, mungkin kita seharusnya tidak terlalu memperhatikan harga diri.

Mungkin hari-hari dengan harga diri rendah sebenarnya hanyalah hari-hari dengan suasana hati atau energi yang rendah. Mungkin kita merasa buruk namun tetap mengakui bahwa kita layak.”

Sebagai seorang Muslim, saya sendiri merasa bahwa kisah Abu Bakar melamar Fatimah sangat inspiratif. Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi. Beliau memiliki julukan Ash Shiddiq (orang yang terpercaya), tutur katanya lembut, kaya raya di dunia dan akhirat hingga Malaikat Jibril ditugaskan untuk menjaga surganya Abu Bakar yang begitu luas.

Tetapi saat Beliau melamar Fatimah, Allah menetapkan hati Nabi Muhammad untuk menolak tawaran tersebut. Sampai akhirnya Ali datang dan Allah membalikkan hati Nabi Muhammad untuk akhirnya menjodohkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Ali juga seorang sahabat yang mulia. Hanya dua sahabat Nabi yang tidak pernah menyembah Berhala sebelum Islam datang, Abu Bakar dan Ali. Keduanya memiliki kemuliaan dan keutamaan masing-masing. Keduanya juga salah satu dari Khilafah yang memimpin Muslim setelah Nabi wafat. Tetapi Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kadarnya masing-masing.

Bukan karena seseorang lebih tinggi atau lebih rendah, lebih kaya atau lebih miskin, yang akhirnya menentukan apakah kita diterima atau ditolak seseorang. Sebuah hubungan yang kandas, terlepas apapun kisah yang melatarbelakanginya, sebenarnya ada satu hal yang bisa dijejak sebagai penyebab: terdapat ketidakcocokan.

Sebagaimana kamu bisa menjadi satu paket utuh tapi terkirim ke alamat yang salah. You can be a whole package but delivered to a wrong address. Bukan karena kamu tidak berharga atau orang lain lebih berharga dan lain sebagainya, tapi simply, terdapat ketidakcocokan. 

Wednesday, March 18, 2020

Seven-Dollar Pants [UTS Psikologi Branding]

Berikut adalah tugas Midterm Exam untuk mata kuliah Psychology of Branding. Tugas dari mata kuliah ini adalah menjawab pertanyaan, jika kalian adalah sebuah produk, maka kalian adalah brand apa? Dan bagaimana brand kalian bernilai di pasaran?

Saat dosenku melakukan briefing kepada para mahasiswanya di kelas. Ada yang menjawab Starbucks karena menyenangi kopi dan kesantaian. Sementara itu, ada juga yang menjawab Apple karena menyukai teknologi dan layanan yang ditawarkannya. Sementara ini jawabanku, jika aku sebuah produk, maka aku adalah celana seharga tujuh dolar.

Alhamdulillah Midterm Exam aku ini mendapatkan nilai A dan dosenku berkata bahwa ini adalah excellent paper. Btw, kalau kalian merasa paper ini biasa saja, mungkin perlu diketahui bahwa dosenku itu memang baik banget kalau kasih nilai :D Firasatku malah, semua orang di kelas mendapatkan nilai A. Hehehe. Karena banyak yang minta ingin tahu bagaimana midterm paper ini, jadi aku posting saja sekalian di blog:

Midterm Psychology of Branding - Maryam Qonita

Seven-dollar pants

One day, I was sitting in the subway after returning from campus. I was together with one of my friends. After waiting for a while, my friend didn't get a seat. I then stood up to approach her. And I gave my seat to a woman in front of me. I said to the woman, "please, have a sit." But the woman did not sit. Not long after, an Asian man finally sat down. We briefly faced each other because of the awkward situation for a moment.

I approached my friend. I had never noticed this issue before until my friend said that the man who took the seat wore branded and expensive clothes—starting from Prada shoes, to Louis Vuitton brand scarves for 1300 USD.  My friend was confused, why do people with clothes like that ride public transportation, not riding a luxury car instead.

Hearing my friend was admiring branded goods, I was amazed to listen to her. I also remembered the journal article "Symbols for Sale" by Sydney J. Levy. Many people understand things like that, and they value symbols more. But there are still people like me who don't understand and don't care. On the other hand, I feel grateful because I don't need to feel urged by the social pressure that exists. I tend to buy an item more likely because of its practical values. In fact, my entire collection of pants now are seven-dollar pants I purchased at Costco. Those pants are warm during winter and durable. For me, that’s enough.


I am a person who values ​​differences of thought. I appreciate the views of others who believe that branded products are more valuable than non-branded products—if you really think they are. But some people think that I take cover below a robe "do not understand or do not want to understand." Yup, I shared the story above on social media. Then I got a reprimand from several people. For example, they said I don't consider the salary of workers who might not get enough income because the company sells the pants only for seven dollars.

I am studying the Psychology of Branding. So, I explained to the people on my social media that the value of a branded item or art value was obtained purely from the user's subjectivity. If indeed the person considers a branded item to be more valuable, then it is. If one considers the value of a symbol of branded products does not exist (except for its practical values), then so it is. And I often find myself the second type of person, and these people can’t force their value to emerge in my intrinsic self.

As for the argument that said I don’t consider the salary of factory workers, I told them that it is almost impossible for consumers to always consider these things every time we buy a product. Moreover, today's world makes people tired of making decisions. They want to get a good quality product quickly and instantly.

Like Professor Paul, I'm not a person who understands the art of painting. One day I visited a museum on a group tour. I wandered around for fifteen minutes for curiosity. Next, I sat in one corner of the museum for two or three hours to study in preparation for my final exam. Although there is a feeling of guilt because other people must think I am a person who cannot appreciate art. But the fact is, objectively, my action cannot be judged either it was right or wrong. My action at the museum was decided by me, whether I enjoyed the artworks or not.

I asked five of my best friends for this essay. Two of them are my best friends for more than two decades, and we have met since we were babies. They have one opinion in common about me. I am a person who likes to explore new insights. From the idea that I gained, I am not worried about expressing my opinion even though it was different from common people.

I also tend not to care about other people's opinions about myself: how I think differently, how I look (I don't use makeup to class, and I don't use branded clothes). And I don't care how people end up disagreeing with me. Even though in the end, that kind of self-brand projected an arrogant part of me.
To a certain extent, I understand that my arrogant side will not work in the Market place. So, in some situations, I pulled myself back and improved my brand as a person. I also receive input from others, listen more, and keep my mind open.

On the other hand, as a person who prioritizes practical values. I think I bring more positive advantages to the world rather than disadvantages. Because I am a person who contributed to the achievement of the 2030 Sustainable Development Goals launched by the United Nations, specifically how open education and research will contribute to the development of all aspects of the world, such as health-care and climate action. I will explain more about this.

The TEDx video "The Rise of the Collaborative Consumption" was fascinating to me. In terms of economy, the world has become more open, and symbols will only become a commodity. People don't care anymore when riding an Uber. Either they ride a Toyota or a BMW. What they care about is the practical values ​​of the car, whether it will take them from point A to point B or not.

I am the president of an organization called Open Access Indonesia. I spoke to people in educational conferences that open science, open access, and open research are the future of science. So not only in terms of economy, all over the world have become more open.

In terms of research and education, researchers who brag of the big names of journals and indexation of Scopus for rank and prestige, eventually they will be left far behind. They paid for publication in these journals, and people don’t read their published articles. Because even if students want to access the scientific article, they need to pay expensively for it. There is no use except for their prestige itself. Therefore, I advise researchers and academics to publish their works in open access journals, although not prestigious, people can access the articles for free.

Especially with the current health crisis, people, health care providers, and the government no longer care where a scientific article is published. What they care about is the practical values ​​of the knowledge conveyed in the article, whether that knowledge is useful for preventing diseases and overcoming other health problems and whether the article can be accessed easily as a basis for policymaking. People don’t care anymore whether the article was published in the prominent journal Elsevier or merely a campus repository. 

I know it doesn’t describe directly about my brand, but I think your brand can be determined from what you have been thinking and strive for.

At this stage, I hope, if only long ago, science was not an expensive and prestigious item. Then a journal article about Coronavirus by Cheng et al. 2007 would not be ignored. And now the world would not face a major crisis like today.

Yes, I am someone who doesn’t care about prestigious symbols. I even inspired by Professor Paul when he advised his students on making brands only as commodities in the future. The seven-dollar pants might be my brand, as a symbol for me to put forward practical values ​​rather than prestige in various fields of life (lifestyle, economy, education, etc.). And I believe my brand, in general, will bring more benefits to the world rather than the negative downside.

Tuesday, March 26, 2019

Esai Yang Membawaku ke New York University

Tepat 5 hari yang lalu, 21 Maret 2019 saya membuka sebuah email yang memberi tahu bahwa terdapat important update mengenai aplikasi saya mendaftar S2 di New York University jurusan General Psychology. Karena di email tidak dituliskan bahwa itu application decision, saya pikir, mungkin ada beberapa dokumen yang perlu diupload sebagai referensi bagi panitia penerimaan untuk mempertimbangkan kembali aplikasi saya. Saya mengetahui bahwa aplikasi saya mungkin tidak begitu meyakinkan, khususnya nilai GRE verbal saya yang rendah. Sehingga, ketika saya mengunjungi link yang direferensikan di email tersebut dan login di website New York University, saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi apapun bahkan tidak tahu bahwa itu acceptance decision! Saya begitu santai membukanya dan beberapa saat otak saya memproses tulisan yang saya lihat...


Saya seketika langsung tutup wajah dan berteriak kegirangan. Ini adalah kampus yang saya tuju sesuai dengan aplikasi LPDP dan memiliki jurusan Psikologi di antara terbaik di dunia. Dan ya tentu saja, New York! Sebuah kota yang begitu saya impikan dengan banyaknya kesempatan, mulai dari kesempatan magang di kantor PBB hingga menjalin relasi internasional yang lebih luas. Karena banyak yang bertanya mengenai esai saya (personal statement), atau ingin bertanya tapi ragu, saya menuliskan di postingan ini mengenai esai yang saya tulis.

Perlu diketahui, bahwa saya seorang deadliner. Kebetulan saya menuliskan esai itu di dua hari terakhir sembari begadang sebelum pendaftaran universitas. Hal ini dikarenakan sebelumnya, saya fokus belajar GRE, menyusun CV, bulak-balik kampus meminta rekomendasi, dsb. PLEASE JANGAN DITIRU! Karena sampai sekarang, saya menyadari bahwa ini bagian dari kesalahan saya saat mendaftar universitas. I could have done better kalau saya menulis esai ini 2-3 minggu sebelum deadline aplikasi.

Mengenai Proofreading dan Grammar Check.

Untuk grammar check, saya menggunakan Grammarly. Bukan grammarly premium, melainkan versi yang gratis. Tentu saja banyak advance error-nya yang tidak disebutkan mana bagian yang salah dari tulisan saya. Tapi dituliskan bentuk kesalahannya apa, misalnya "Passive Voice Misuse" atau "Inappropriate Colloqualism" dsb. Jadi setiap bentuk kesalahan itu saya Googling untuk saya pelajari dan mencari kesalahan di esai saya untuk dibetulkan hingga saya menuliskan esai tanpa kesalahan grammar. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Grammarly. (Note: as you can see on my bookmark bar, saya suka manhwa dan live action jepang, maklum manusia juga :D)


Tapi kalau saya saranin, kalian perlu memiliki lebih banyak waktu untuk esai ini. Termasuk minta proof reading, bukan oleh diri kalian sendiri, namun juga oleh orang lain yang lebih profesional. Jika kalian tidak mengenal orang profesional yang bisa kalian mintai tolong selalu dengan senang hati, kalian bisa menggunakan website ini https://analyze.academichelp.net/ dengan biaya hanya 4.5 dolar per halaman. Jika saya memiliki lebih banyak waktu dan memiliki kartu kredit, saya akan menggunakan jasa ini sebagai proofreader. Jika kalian sudah tahu lebih dahulu sebelum mendaftar, I know you can do better than me!

You can ignore my bookmark bars, graduate student juga manusia ya.

Kemarin mendapat email personal dari kaprodi jurusan saya, Profesor . Andrianne Gans, kebetulan memang sudah sejak beberapa bulan sebelum saya wawancara LPDP, saya sudah menjalin hubungan dengan beliau menanyakan tentang jurusan ini. Apakah struktur courses-nya cocok dengan yang saya minati dsb. Dan ini menurutnya alasan saya diterima NYU (well, meskipun tidak ada alasan karena nilai standardized test GRE :-( ).




Oke, langsung ke intinya ya, mengenai esai yang saya tulis dalam aplikasi ke universitas ini. Bukan berarti esai harus struktur/format/skemanya seperti ini ya, karena universitas memiliki pertanyaan esai yang berbeda. Perlu teliti dan baca baik-baik pertanyaan tersebut dan buat bullet poin, apakah masing-masing yang ditanyakan sudah terjawab dalam esai atau tidak. Kalau saya diminta menuliskan dua tipe esai. Yang pertama adalah Academic Purpose, mengenai penelitian dan bidang profesionalisme saya sesuai dengan structure courses yang ditawarkan. Yang kedua adalah Personal History Statement, mengenai kehidupan pribadi saya, keunikan dan juga apa yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini.

Berikut Pertanyaan Academic Purpose

Please describe briefly and concisely your past and present academic, research and/or professional accomplishments as they relate to your intended field of study, your educational objectives while at NYU, and your career goals following the master's program. State your specific area of specialization in the general master's program in psychology and include your reasons for choosing this field of study. What specific goals and objectives do you have for applying to NYU?

Esai Saya: Academic Purpose.

My interest in pursuing graduate study within the field of psychology has influenced by a variety of factors inclusive of both academic and non-academic experiences. I am particularly interested in study Master of Arts in General Psychology, New York University because it is related to my educational background, bachelor's degree in psychology. A master program will give me more in-depth learning and advanced training so that I will have the expertise I need inside and outside in the academic world and society.

Before I enroll in a university, I have had one hiatus year. During that time, I had an opportunity to volunteer myself as a teacher in Al-Hikmah Islamic Boarding school, a small boarding school located in the middle of a  rice field and far from the hustle of the city. I became interested in psychology when I notice the importance of coping with stress in my students having an obligation to memorize the Quran. As I listened to my students who experienced peer-problems, fears, and anxiety, I discovered myself eager to learn more about psychology and human behavior. Since then, I decided to take the undergraduate study in psychology major and was further propelled since accepted as a student at the State University of Jakarta in 2013.

I became part of the Student Executive Board and also had an opportunity to volunteer myself as a mentor for 100 school-dropouts in the PPA-PKH program (Return of Child Labor – Family Hope Program). From these non-academic activities, I learned to build a sense of social concern and increase my contribution to others. My interest in social psychology started in 2015, a seminar on gender-based violence was held by BKBPP (Agency of Family Planning and Women Empowerment) in the state high court of Kuningan, West Java. I gained an understanding of the significance of gender equality and sexual education through engaging debates and discussions among governmental representatives, independent experts, and stakeholders.

Social psychology immediately seized my interest that allowed me to work in the area. As my undergraduate work progressed, I involved myself in the activities arranged by Satu Hati NGO and PPA-PKH (Integrated Service Centre for Women Empowerment and Child Protection). We visited one house to another house of gender-based violence victims and perpetrators. Our assignments were to provide support morally, psychologically and explain what can we can help during the court.  The specific duties I would love to pursue in the future are drafting public policies, continuing my work as a social activist, and working as a politician who would bring women issues particularly gender-based violence onto tables. 

To support my dream as a future politician, I participated in programs held by the Ministry of Women Empowerment and Child Protection. I promote people the new legislation regarding women and child protection. Together with me was Mr. Surahman Hidayat, a member of House Representatives from VIIIth Commission in the scopes of religion, social, and women empowerment. I explained about psychological interventions can be done on the victims through emotion-focused coping; namely solving emotional problems by forgiving yourself and the perpetrators.

One of the academic factors inspired me to take a graduate study in psychology is my research interest centers around women empowerment and gender-based violence. The potential topic I plan to propose is “Gender Stereotypes in Social Psychology Contexts: Its Impact on Gender-based violence.”. The theme selection is vital as this will provide a strong foundation upon which to build the rest of my work as a social advocate. As my graduate study would progress, I hope I can discuss further with Professor Madeline Heilman of NYU about the topic. For a while, I am planning to divide key-household tasks within social psychology contexts and how gender-stereotypes specifically have an impact on discrimination and gender-based violence. Graduate study in Psychology NYU itself ranked among top 11 universities by the QS World Ranking.

To sum up, graduate study in Psychology, New York University will give me many great insights I can develop and apply in society after finishing my master degree.  For all these reasons, I am keen to be admitted in your university this fall 2019 term. Your consideration in this matter is highly appreciated. 

Sincerely,
Maryam Qonita.

Pertanyaan Untuk Personal History Statement

The purpose of this optional essay is to get to know you as an individual and as a potential graduate student and to understand how your background will add to the diversity of our school. Please describe how your personal background has motivated you to pursue a graduate degree. You may discuss educational, familial, cultural, socioeconomic, or personal experiences or challenges; gender identity; community services, outreach services, first-generation college status or other matters relevant to your decision to pursue graduate education. Please note that the Personal History Statement is not meant to be a general autobiography.

Esai Saya: Personal History Statement

I am impressed by the anomaly I have become: an Indonesian and obedient Muslim woman who has been actively promoting gender equality. Even though I believe what causes gender-inequality is purely non-religion. It originates from the culture, social, and economic factors. However, many conservative Muslim friends still assume that the Quran signifies superiority of men over women in all aspects. Occasionally, when I talk about the patriarchal system in Indonesia and how it causes gender-based violence, I accused as bringing western and “feminist-liberal” propaganda.

Fortunately, with my family, I am never restricted to express my opinions. Moreover, my mother encourages me to challenge traditions and accepted beliefs. For 25 years, my family has been living inside the area of Husnul Khotimah Islamic Boarding School, a modern boarding school located at the foot of the Ciremai Mountain, far from the hustle and bustle. My father was a co-founder and a former director of the boarding school which has more than 8000 of alumni. The popularity of my family among students and alumni make people expected that I would not talk feminism openly as an opposite of common cultural beliefs. For example, many parents urge their daughters to get married earlier to prevent Zina, an Islamic term for a sexual relationship between unmarried male and female.

My initial interest in gender issues started subsequent to my admittance to the State University of Jakarta, majoring in Psychology. It was further propelled after I engaged in social activities handling gender-based violence cases in my community and advocating people about the coping strategies can be done for the victims. After having done several internship programs, social activities, competitions, and conferences dealing with gender equality, I found my way and decided to give an impact in the area. Hence, I want to be a politician who will be bringing the issues on the tables, end the stigma, and rock the system. As I listened to the victims of gender-based violence, I realized that I am unequipped to deal with such a situation without further formal training in Psychology.

Going to graduate school is necessary for me as it is a framework to utilize my full potentials. I proved myself as a successful undergraduate student with numerous national and international achievements as stated in my CV. In addition to academics, I possess various skills, such as design and reading poets, so that I can bring my future classmates more diversity. I am also a practicing Muslim, proudly wearing hijab, and I respect each other beliefs. Nevertheless, when I had an opportunity to visit New York City in 2016, I realized that I carry a uniqueness that is regularly being discriminated against outside of my country.  

However, I also possess leadership skills. I founded and led  Open Access Indonesia, an organization with a mission advocating open access to scientific journals. I hope my skills and knowledge in open access can help the students' group to finish tasks more efficiently.

Thankfully, I granted a full scholarship from LPDP (Indonesia Endowment Fund for Education) Scholarship to pursue my master degree in 2019. There are different regulations implemented for 2018 awardees: 1) We only have one year to obtain a Letter of Acceptance, 2) We can only apply to one university, and 3) We are not allowed to change the major either change the university destination. It means that if I accepted, I would be a strong potential graduate student. The sponsorship letter has uploaded on the additional information page.

Nevertheless, New York University is my first and only choice because it offers psychology courses with an integrated approach. This method often leads to a novel hypothesis and promotes the synthesis of research findings across disciplines. I have visited NYU, and the university itself has very diverse students that allow me to learn a lot from each one of them. To go to school anywhere else, it seems that I would be missing out that kind quality of education.

------

Sekian adalah esai yang saya tuliskan sehingga diterima di salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat, New York University. Saya memahami bahwa beberapa bagian tulisan saya memang terdengar profokatif bagi beberapa kalangan tertentu, khususnya mengenai Muslimah, Kesetaraan Gender dan Feminisme. Untuk berdiskusi lebih lanjut bisa baca pandangan saya disini: Muslimah Memeluk Feminisme, Emansipasi dan Kesetaraan Gender. Karena Kartini pun adalah seorang Feminis tapi tidak lahir dari teori-teori feminisme kontemporer.

Saya ingin menuliskan lebih jauh lagi sih mengenai apa yang saya pelajari dalam pendaftaran S2 di Amerika dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan esai menurut para admission officer yang saya ketahui baru-baru ini. Saya menyadari bahwa esai saya pun memiliki banyak flaws dan cacat dimana-mana setelah mengumpulkan informasi-informasi tersebut. Hmm.. meskipun I realize that I could have done better on my essay, but the most important thing is that it works!





Tuesday, December 25, 2018

Contoh Esai LPDP 2018 Kontribusi Bagi Indonesia

Ini adalah esai yang saya tulis saat mendaftar LPDP. Yang dikerjakn H-1 deadline pendaftaran administrasi LPDP sambil nongkrong di gudang kantor IDP dan nungguin hasil IETLS yang gak nyampe-nyampe karena macet. Huhu. 3 Hari lagi pengumuman LPDP dan sebelum terintervensi oleh perasaan terlalu sedih ataupun terlalu gembira, sementara banyak yang nanya terkait esai, berikut saya posting contoh esai LPDP 2018 "Kontribusiku Bagi Indonesia" yang saya buat. Lulus atau tidaknya yang mana pengumumannya tinggal 3 hari lagi, setidaknya esai ini membantu saya hingga tahap seleksi wawancara. Mudah-mudahan membantu.

Edit: Alhamdulillah mendapatkan pengumuman lulus seleksi LPDP. Terimakasih dukungan teman-teman semua.


Berikut adalah soal esai yang diberikan oleh LPDP BPI Reguler Luar Negeri 2018.

ESSAY: Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya(1.000 kata)

Essay meliputi:
  1. Deskripsikan diri Saudara.
  2. Deskripsikan kontribusi yang telah, sedang dan akan Saudara lakukan untuk masyarakat/lembaga/instantsi/profesi dan komunitas
  3. Deskripsikan mimpi Saudara tentang Indonesia masa depan.
  4. Deskripsikan peran apa yang akan Saudara lakukan.
  5. Deskripsikan cara Saudara mewujudkan mimpi tersebut.

Berikut adalah esai yang saya tulis:

Saya menyelesaikan studi Sarjana di Universitas Negeri Jakarta dengan spesialisasi jurusan Psikologi. Semasa kuliah, saya aktif di berbagai organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BEMFIP) maupun kegiatan sukarelawan; seperti mengajar anak-anak putus sekolah di program PPA-PKH atau menjadi aktivis sosial di LSM Satu Hati: Pemerhati Anak dan Perempuan. Melalui organisasi ini, saya belajar membangun rasa kepedulian sosial dan meningkatkan kebermanfaatan diri kepada sesama.

Saya adalah seseorang yang selalu berusaha meningkatkan kapasitas akademik melalui diskusi dan perdebatan ilmiah di berbagai forum nasional maupun internasional. Sebagian besar konferensi yang saya ikuti menitikberatkan pada dua hal: pemberdayaan perempuan dan akses terbuka pendidikan.

Minat saya di bidang pemberdayaan perempuan berawal ketika saya menghadiri seminar “Penanganan Terhadap ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum)” yang diselenggarakan oleh BKBPP (Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan) dan Pengadilan Negeri Kuningan tahun 2014. Dari seminar tersebut, saya memperoleh pemahaman akan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang pendidikan seks dan bahaya pornografi.

Selanjutnya, saya turut aktif melibatkan diri saya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh LSM Satu Hati, Dinas Sosial, dan juga P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu  Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Kuningan. Kami mengunjungi rumah korban dan rumah pelaku kekerasan seksual. Tugas kami adalah memberikan bimbingan terhadap keluarga korban/pelaku secara moril, psikologis, dan menjelaskan apa yang dapat dilakukan di pengadilan.

Salah satu kasus yang kami tangani adalah kasus mengenai seorang remaja yang berusia 15 tahun dihamili saudara angkatnya sendiri. Pelaku dituntut oleh orang tua angkatnya untuk mendekam di penjara seumur hidup. Mengingat kejadian seks di luar nikah itu dilandaskan rasa suka-sama-suka dan pelaku berusia di bawah 18 tahun, dijatuhkan baginya hukuman hanya satu tahun penjara. Selepas dari penjara anak, kami memberikan pelaku intervensi sosial-psikologis dan juga memasukkan dia ke pesantren hafal quran. Saat ini, anak laki-laki itu telah menghafal beberapa juz Al-Quran dan berkomitmen bahwa dia akan bertanggung jawab pada bayinya. Saat ini, saya masih aktif menjadi bagian dari LSM Satu Hati dan mengadvokasi masyarakat mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Dalam pendidikan, saya merupakan sukarelawan di PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak – Program Keluarga Harapan) yang diselenggarakan oleh Dinas sosial. Setiap tahunnya, seratus anak putus sekolah di Kabupaten Kuningan dikumpulkan untuk diberi bimbingan, motivasi, dan bantuan finansial agar mereka dapat melanjutkan sekolah mereka minimal hingga jenjang SMA/SMK.

Dalam beberapa program yang diadakan oleh Kementerian PPA, saya ikut mensosialiskan perudang-undangan mengenai perlindungan anak dan perempuan. Bersama saya adalah salah satu anggota DPR-RI Bapak Surahman Hidayat yang merupakan bagian dari Komisi VIII DPR-RI dengan ruang lingkup agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan.

Saat penyuluhan, saya menjelaskan mengenai intervensi Psikologis pada korban KDRT melalui emotion-focused coping; yakni penyelesaian masalah emosi dengan cara memaafkan diri sendiri dan pelaku. Penjelasan ini merupakan hasil penelitian skripsi yang saya susun pada tahun 2017 setelah mengumpulkan kuesioner dari 60 wanita korban KDRT di Indonesia. Saat ini saya sedang mengajukan petisi kepada Mahkamah Konstitusi dan DPR-RI untuk merevisi UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah KDRT di Indonesia.

Saya juga dalam persiapan presentasi dana hibah mengenai kesehatan reproduksi perempuan untuk saya ajukan di International Conference on Family Planning 2018 di Kigali, Rwanda. Konferensi ini akan dihadiri kurang lebih 3000 pembuat kebijakan di dunia internasional di bidang Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan. Harapannya, saya dapat memperoleh dana hibah USD 20.000 dari Bill & Melinda Gates foundation untuk dapat mengadakan National Youth Festival on Family Planning di Jakarta pada pertengahan tahun 2019.

Saya percaya, langkah pertama dalam advokasi adalah membangun komunitas, lalu menjadikannya berkesinambungan. Dalam bidang pendidikan, Tahun 2017, saya mendirikan Open Access Indonesia. Yaitu sebuah komunitas yang mengadvokasi gerakan akses terbuka terhadap konten ilmiah dan mengkaji berbagai kemajuan open education dan open access di dunia akademik. Organisasi ini dideklarasikan di Kathmandu, Nepal dalam Asian Regional Meeting: Open in Action Bridging Information Divide pada 2 Desember 2017 di depan 150 peneliti Asia. 

Salah satu misi organisasi ini adalah memberdayakan anak muda Indonesia dalam mengusung pendidikan terbuka agar dapat diakses siapa saja tanpa kendala finansial maupun teknis. Harapannya mahasiswa Indonesia dapat mengakses jurnal-jurnal ilmiah berkualitas secara gratis di Internet. Juga adik-adik dari keluarga kurang mampu dapat mengakses pendidikan gratis melalui Open Education dan Open Textbook.

22 Desember 2018, Open Access Indonesia akan mengadakan Open Science Fair. Open Science Fair adalah festival sains gratis yang memperlihatkan inovasi-inovasi terbaru karya pelajar Indonesia. Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di Aula Mahftuhah Yusuf UNJ dan menghadirkan lebih dari 1500 pelajar dan mahasiswa. Saya harap ke depannya pendidikan berkualitas dapat gratis untuk semua orang dan akses terhadap penelitian semakin terbuka.

Mimpi saya mengenai Indonesia di masa depan dapat disederhanakan dengan terwujudnya amanat UUD 1945, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum” yang termaktub dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945. Karena semenjak kematian RA. Kartini lebih dari 100 tahun lalu, diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum perempuan masih sering terjadi. Perempuan seringkali dipandang sebelah mata dalam posisi strategis, seperti politisi maupun direktur perusahaan. Justru, kekerasan terhadap perempuan semakin marak, 33% perempuan Indonesia mengalami kekerasan fisik, seksual, atau psikis (UNFPA Indonesia, 2017).

Sementara, dalam hal pendidikan, saya harap pendidikan berkualitas di Indonesia dapat dinikmati dan diakses oleh siapa saja. Bukan hanya dinikmati oleh anak-anak dari orang kaya, namun juga oleh mereka yang tinggal di daerah kumuh, 3T, disabilitas, ataupun lahir di kalangan keluarga tidak mampu.

Bila saya berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini, saya ingin meningkatkan peran sebagai seorang aktivis sosial. Saya yakin, pendidikan lanjutan di Psikologi Sosial merupakan bingkai kerja untuk memanfaatkan potensi yang saya miliki dan mengasah kemampuan yang saya butuhkan di dunia akademik dan masyarakat. Selain itu, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang politisi perempuan yang tergabung di Komisi VIII DPR-RI bidang Pemberdayaan Perempuan. Sehingga saya dapat memperluas kontribusi saya lebih jauh dan secara fundamental memperbaiki sistem yang menyebabkan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cara saya mewujudkan mimpi saya adalah dengan terus berkontribusi aktif di masyarakat, menulis buku, dan membangun networking dengan teman-teman dari berbagai kalangan, mulai dari media hingga akar rumput. Termasuk di antaranya, dengan meningkatkan kapasitas akademik dan skill saya melalui program beasiswa LPDP 2018.

--Sekian--


Wednesday, August 27, 2014

Pemuda, Kepemimpian, dan Belenggu Politik di Indonesia


Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka adalah batu pijakan kebangkitan nasional. Mereka pula adalah motor pergerakan dalam setiap langkah kemerdekaan. Peran pemuda tentu saja ditulis dengan tinta emas sejarah dan tidak dapat dihapus.

Kita bisa lihat di sejarah bangsa, mulai dari Budi Utomo, Kongres Pemuda, perjuangan melawan PKI, sampai dengan proklamasi kemerdekaan semuanya dipelopori oleh para pemuda. Contohnya, pemudalah yang memaksa Bung Karno untuk segara untuk mendeklarasikan kemerdekaan secepatnya. Makanya, proklamasi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Akan tetapi, pertanyaannya adalah, mengapa reformasi dikerjakan oleh para pemuda? Kenapa tidak golongan tua atau golongan anak-anak? Tentu saja karena pemuda memiliki nilai-nilai positif jika dikaitkan dengan kepemimpinan.

Pertama, pemuda memiliki semangat yang tinggi. Semangat yang tinggi yang dapat membuat orang bekerja dalam produktivitas yang tinggi. Seperti ucapan Dr. Yusuf Qardawi, ibarat matahari, usia muda itu seperti saat jam 12 siang ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas.

Kedua, pemuda memiliki keinginan yang tinggi untuk mengekspresikan ide-ide segar mereka. Mereka akan berjuang hingga ide-ide mereka dapat disetujui. Kita bisa melihat saat para pemuda berjuang menurunkan kepemimpinan Soeharto yang dictator.

Ketiga, pemuda memiliki banyak ide segar dan ide kritis. Sebuah kekuatan ide sangat dibutuhkan untuk membangun kepemimpinan. Pemuda juga memiliki kreatifitas yang tinggi dimana akan memberikan sentuhan yang berbeda dalam setiap aspek. Lihat saja pada reformasi 98 dimana terkandung di dalamnya sebuah ide besar tentang Indonesia baru.

Keempat, pemuda memiliki fisik yang kuat. Tentu saja seorang pemimpin yang baik harus memiliki stamina dan tubuh yang sehat. Seorang pemimpin tidak selamanya berada di belakang panggung tetapi juga mereka perlu mengambil aksi nyata untuk menjalankan kepemimpinannya.

Sayangnya, nasionalisme pemuda di masa lalu tidak lagi ditemukan hari ini. Jika kita bandingkan, pemuda yang memiliki semangat yang rendah lebih banyak daripada pemuda yang memiliki prestasi di bidang pendidikan dan olahraga. Potensi terbesar yang dimiliki oleh pemuda masih belum tergali bahkan digunakan untuk hal yang buruk. Contohnya adalah tawuran.

Faktanya, kita tahu bahwa pemuda adalah cerminan masa depan. Baik buruknya sebuah negaranya ditentukan oleh pemuda hari ini.

Masalahnya, untuk menciptakan generasi muda yang memiliki motivasi tinggi dan sanggup mengubah dunia menuju perbaikan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sistem politik dan sosial masih berlandaskan senioritas. Ditambah lagi, kesadaran pemuda Indonesia saat ini masih sangat kurang untuk menjadi seorang pemimpin.

Solusi untuk masalah ini adalah golongan tua harus memberikan kesempatan untuk para pemuda yang memiliki kemampuan dan kapabilitas. Pemuda pun perlu sepenuhnya menyadari bahwa mereka memiliki potensi besar yang sangat sayang jika diabaikan. Seperti pidato Bung Karno, “Berikan saya sepuluh pemuda, akan kugoncang dunia.”

Kemiskinan, Lingkaran Setan, dan Buku-Buku di Meja Pak Presiden

Esai untuk tugas MPA FIP UNJ 2013
oleh: Maryam Qonita


Summary

Apa itu kemiskinan? Dua atau tiga tahun yang lalu saya pasti akan mendeskripsikan kemiskinan seperti yang tertulis dalam buku-buku sekolah, kamus besar bahasa Indonesia, ataupun bagaimana kita mendefinisikannya selama ini. Setelah tahun demi tahun berlalu, saya belajar bahwa definisi kemiskinan memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar masalah ekonomi.Yakni kemiskinan usaha dan sinergi untuk lepas dari sebuah lingkaran setan.

Tujuan saya dalam esai ini adalah menyampaikan sebuah cerita, petualangan dan mimpi yang jika saya sampaikansaya akan lakukan yang terbaiksaya harap Anda akan terkejut, antusias bahkan tergerak untuk segera peduli. Atau minimalnya, tertarik menjadi para pejuang-pejuang pendidikan dalam bidang Anda masing-masing.

Welcome to The Circle of Devil

Hanya setahun yang lalu, saat saya mengikuti sebuah kegiatan rutin tahunan dari Dinas Pendidikan bernama pelatihan pembimbing PPA-PKH (Pengurangan Pekerja Anak – Program Kelurga Harapan) di kota asal saya, Kuningan, Jawa Barat. Dalam kegiatan itu, nantinya, akan dicari 100 anak pekerja yang usianya dibawah 15 tahun namun sudah menjadi pemecah batu, kenek angkot, pembuat batu-bata, dan sebagainya untuk kembali ke dunia pendidikan. Kegiatan ini dijalani setiap tahun di setiap kabupaten kota.

Hal terburuk yang saya dapatkan dalam acara itu adalah saya mendapatkan pengalaman baru. Hal terbaik yang saya dapatkan adalah saya mendapat ide baru untuk ikut berkontribusi.

Namun kenyataannya, setelah setahun anak-anak ini dibimbing dalam shelter juga pemberian materi paket A atau paket B, mereka pun kembali ke habitatnyaMenjadi pekerja lagi. Faktanya, usaha apapun yang dilakukan pemerintah dan dinas pendidikan, pekerja anak bukannya berkurang tapi meningkat 15% tiap tahunnya (Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan 2012).

Hal yang sama terjadi di tempat saya mengabdi selama sebulan, sebuah desa terpencil bernama Karangbaru. Desa ini begitu indah dengan sawah yang mengelilinginya sepanjang mata memandang. Namun ironisnya, saya hampir tidak melihat pemuda di desa ini. Kebanyakan adalah orang tua dan anak-anak kecil berusia sekolah dasar. Sementara, SMP dan SMA tidak ada di desa ini. Jika mereka ingin mengenyam bangku SMP dan SMA mereka harus berjalan sangat jauh. Pada akhirnya, mayoritas pemuda pergi merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dengan below-standard-income yang mau menerima mereka yang notabene uncompetitive. Mereka tumbuh dalam poor-condition, dan mereka akan pada akhirnya akan mendidik anak-anak mereka untuk melakukan hal yang sama.

Dari pendekatan psikologi, tentu anak-anak ini ingin sekali melanjutkan sekolah. Ada Daus yang ingin menjadi ustadz, ada Iis yang ingin jadi dokter, ada Raka yang ingin jadi guru. Seperti Anda, mereka pun memiliki mimpi. 

Melalui dinas pendidikan, akhirnya anak-anak PPA-PKH bisa sekolah gratis dengan buku-buku gratis. Setelah mereka kembali ke sekolah juga setelah menempuh ujian paket A dan paket B, namun karena tidak punya biaya transportasi ke sekolah mereka pun memilih putus sekolah. Anda tahu, biaya transportasi pun kian meningkat seiring dengan meningkatnya harga BBM. Namun, jika harga BBM tidak dinaikkan maka akan menjadi masalah baru untuk pemerintah berupa defisit Negara dan hutang ke luar negeri.

Sebuah lingkaran setan menelan mimpi-mimpi anak bangsa--dan akhirnya menjadi masalah baru di banyak aspek yang lain. Kemiskinan, kurang gizi, pengangguran, kemacetan lalu-lintas, slum-area, kriminalitas, dan miskinnya sumber daya manusia. Akhirnya, selamat datang di lingkaran setan dimana pemerintah mencoba menyelesaikan satu tugas, namun banyak korban lain berjatuhan karena kekurangan kepedulian dari faktor sebelumnya.

Waiting for Superman: What We Know but N0 ACTION!

Saya setuju frasa waiting for superman menunjukkan sikap pasif dimana banyak dari kita tahu masalah pelik nasional namun tak ada aksi. Mungkinkah ada “pria super” muncul yang lalu tiba-tiba menolong bangsa dari keterpurukan dalam sekejap? It’s impossible karena sunatullah: Sebuah negara hanya akan berubah jika penduduknya berubah. Sebuah sinergi kita butuhkan bersama yang akan saya bahas di bagian solution.

Konteksnya besarnya, Ir. Ciputra merupakan seorang pengamat berkata jika jumlah penduduk Indonesia berjumlah sekitar 240 juta jiwa, maka dibutuhkan minimal 2% wirausahawan dari jumlah penduduk. Faktanya, Negara kita hanya memiliki 0,24% jumlah wirausahawan. Yaitu sekitar 400 ribu orang, maka dibutuhkan sekitar 4 juta orang lagi untuk menjadi wirausahawan. Menilik kasus ini, akankah kita sanggup menjadi wirausaha untuk ikut berkontribusi? Atau sekadar “waiting for superman”…?

It’s impossible for me not to compare with any other countries. Jumlah 0,24% itu jauh lebih rendah dari Negara lain. Sebut saja Negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat yakni Amerika yang mencapai 11%, Singapura 7%, dan Malaysia 5%. Bersamaan dengan implementasi teori ekonomi makro di kebanyakan peraturan ekonomi banyak negara di dunia, China dan beberapa negara ASEAN tidak akan mengalami kesenjangan ekonomi karena dikondisikan semua pelaku ekonomi kompetitif, yang berarti memiliki level baik dalam bidang pendidikan.
Sumber data:

What our country needs adalah kualitas pendidikan yang bagus untuk menjadi pejuang-pejuang pendidikan professional, namun sayangnya, hanya 5% pelajar yang akhirnya berhasil lulus dari universitas (Harian Analisa, 2006). Ditambah lagi banyaknya bangunan sekolah hancur karena gempa bumi dan bencana alam lainnya. Hal ini berimbas pada mental para pekerja. Maka dari itu, bukan hanya minimnya jumlah wirausahawan yang menyebabkan Indonesia menjadi underdeveloped country, tapi juga uncompetitive workers hingga lebih buruk lagi: unemployment yang didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah. Tabel di atas sebagai referensi. 

Kualitas pendidikan yang bagus bukan berarti kurikulum yang padat, standar ujian nasional yang tinggi, atau jam sekolah yang mem-bludak. Kualitas pendidikan yang bagus adalah sistem pendidikan yang mengutamakan kecerdasan dan potensi yang dimiliki.

Jika tadi saya bicara tentang konteks besarnya, sekarang saya bicara tentang konteks kecilnya saja. Sebut saja nilai-nilai hedonisme yang kini dianut oleh sinetron-sinetron Indonesia, tak berlebihan jika saya menyebutnya “brain washing”. Masalahnya bukanlah jeleknya mutu perfilman yang sering dibicarakan dimana-mana, tapi sudahkah kita usaha untuk memperbaikinya? Talk less do more!

Solution: An Awakening Alarm to RESPECT

Sebuah konsep sederhana namun bisa menjadi solusi yang cukup efektif. Saya menyebutnya RESPECT. Religious, Synergi, Prestative, Care,  Character.

Religious (Islamic Boarding School is the Solution)

Kurikulum pelajaran di Indonesia saya rasa perlu diperbaiki. Di sekolah umum, pelajaran agama hanya diberikan satu kali seminggu. Padahal seharusnya, ada perbaikan sehingga pendidikan agama sebagai landasan dari seluruh proses pendidikan yang ada. Tanpa hal itu, sekolah itu tidak akan mencetak peserta didik dengan kepribadian dan akhlak yang mulia sehari-hari. Bullying, tawuran, pemerkosaan, mencontek, mencuri, jual beli ijazah pun menjadi hal yang lumrah.

Sebuah solusi pun terpecahkan untuk biaya transportasi anak-anak PPA-PKH yakni dengan menyekolahkan mereka ke pesantren bersistem asrama. Selain tidak ada biaya transportasi, mereka juga bisa mengenyam pendidikan agama lebih mendalam. Dalam ilmu ekonomi, bukan hanya peningkatan normal yang didapatkan tapi juga peningkatan eksponensial

Synergy (1+1=3)

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, saya akan membahas tentang kekuatan sinergi dimana 1+1=3. Sebuah negara tidak akan berubah kecuali penduduk itu sendiri berubah, menuju perbaikan secara bersama-sama. Slogan ini pula yang dipakai oleh Korea Selatan 50 tahun yang lalu sehingga kini bisa menjadi negara maju dengan system pendidikan terbaik kedua di dunia setelah Finlandia.

Perlu ada kerja sama yang baik dengan pemerintah, lembaga swasta, juga seluruh penduduk Indonesia untuk membawa negara ke arah kemajuan.

Prestative (A Tolikara Approach)

Setiap individu pasti memiliki keahliannya masing-masing bahkan untuk hal-hal kecil. Namun, bagaimana kita memaksimalkan keahlian tersebut untuk menjadi prestasi? Dan bagaimana kita memanfaat keahlian tersebut menjadi kebaikan untuk banyak orang? Dalam sebuah hadits dikatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

Seorang Pembina PPA-PKH bercerita saat pelatihan bahwa beberapa tahun yang lalu ada seorang anak SMP yang putus sekolah, namun setelah melalui ujian paket B dan melanjutkan ke SMA, anak itu berhasil menjadi juara umum di sekolahnya bahkan menjadi juara 2 Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika. Akhirnya program PPA-PKH pun mendapat kucuran dana lebih banyak dari pemerintah yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan mencari benih-benih juara baru.

Sekarang kita terbang ke Jayapura, dari pedalaman Tolikara dimana pemerintah daerah dipusingkan dengan miskinnya dana pembangunan dan administrasi, seorang ‘gila’ bernama John Tabo malah melatih edan-edanan 15 anak Papua selama 10 bulan sehingga mereka bisa menyelesaikan problem matematika tersulit tingkat SMA bahkan universitas.

Hasilnya apa? Pelajar-pelajar ini pun berhasil mengharumkan Indonesia di tingkat dunia dan meraih medali emas. Indonesia dikenal lewat Tolikara meskipun selama ini Indonesia tidak kenal Tolikara. Akhirnya Tolikara pun mendapat bantuan lebih dari Indonesia dan dunia. Segala pembangunan infrastruktur berjalan lebih cepat dari daerah lain.

carE (Finlandia Success Story)

Kesuksesan tidak terjadi sekejap mata, perlu ada toleransi, kesabaran dan kepedulian yang tinggi. Tanpa kepedulian, maka seperti lingkaran setan yang dibahas sebelumnya, akan banyak korban berjatuhan di faktor lain.

Menilik kesuksesan Finlandia menjadi negara dengan pendidikan terbaik di Indonesia berawal dari kepedulian sang guru. Meskipun kondisi Indonesia dan Finlandia berbeda, namun ada beberapa hal yang dapat kita bandingkan. Once more, it’s impossible for me not to compare with any other country.

Finlandia memang unik! Sistem pendidikan mereka menekankan proses, bukan hasil. Tidak ada ujian untuk murid yang menjadi penentu kelulusan. Ujian dibuat untuk guru dan klasifikasi guru di Finlandia jauh lebih sulit daripada masuk Fakultas Hukum ataupun Kedokteran. Kalaupun ada murid yang tidak naik kelas, maka sang guru akan membantu hingga semua anak naik kelas. Tak ada system ranking di sana, yang tahu hanya gurunya saja. Kata seorang guru di Finlandia, "Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!"

Sedangkan di Indonesia malah ada sejumlah guru dan kepala sekolah yang dengan bangga tidak menaikkelaskan anak didiknya. Gagal mendidik kok bangga.

Character  (The Cornerstone)

Apa tujuan dari dari pendidikan? Apakah hanya untuk penguasaan materi pelajaran saja tanpa nilai spiritual? Tentu saja tidak. Yang juga penting dalam sistem pendidikan adalah pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa, sehingga mencetak pribadi yang berakhlak mulia. Mengutip dari pengertian pendidikan dalam Undang-Undang nomor 20/2003, “…sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara”

Juga diungkapkan Muhammad Nuh. “Pendidikan karakter sangat penting untuk bangsa. Sekarang kita lihat banyak penegak hukum yang justru dihukum, pelayan publik yang justru minta dilayani. Semuanya itu berujung pada karakter," ungkapnya, Minggu (2/5/2010) di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta.

 

Some Final Thoughts


At last but not least, jika diungkapkan dalam kalimat sederhana, Indonesia membutuhkan peran-peran para agents of change yang bisa membawa bangsa menuju cita-cita besar pada sebuah perubahan yang sejak lama diimpikan. Maka dari itu, saya termotivasi menulis esai ini. Saya berharap ada generasi muda yang sepenuhnya menyadari bahwa di tangannyalah perubahan itu terwujud. Satu kalimat favorit saya: Maka daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. let’s make it happen!

Sumber                :

  • Drucker, Peter F. 1996. The Leader of The Future. San Fransisco: Jossey-Bass. 
  • Jovenes, Todo. From a Near-Sighted Princess to a Change in Focus 
  • Mirzalina, Riska. 2010. Creative Business: The Art of Seeking Opportunity in Crisis 
  • Samosir, Partogi. Butuh Orang “gila” Untuk Membangun Indonesia 
  • The Colours of Our Education http://maryam-qonita.blogspot.com
  • http://www.leadershipnow.com/anthonysmith.htm
  •  World Competitiveness Year Book
  • Etc.

Friday, April 15, 2011

Kebudayaan yang Terkikis


Kita harus bersyukur karena Indonesia merupakan negara yang dianugerahi berbagai kekayaan alam dan segala macam hasil karya manusianya. Kebudayaan tradisional kita beraneka ragam, membentang dari Sabang sampai Merauke. Dari Timor sampai ke Talaud. Hal inilah yang menyebabkan kebudayaan kita dikagumi oleh masyarakat dunia.
Jauh sebelum kebudayaan barat masuk ke bumi, kebudayaan kita jauh lebih berperadaban. Hidup bermasyarakat dengan norma-norma kesusilaan sejak dahulu sudah ada. Ironisnya, seiring dengan globalisasi, kebudayaan yang sangat mahal itu sedikit demi sedikit mulai luntur.
Penting Tapi Terlupakan
Aku adalah anak muda. Dan tidak sedikit dari anak muda termasuk diriku beranggapan bahwa kebudayaan hanyalah sesuatu yang tradisional dan kuno. Barulah ketika negara lain mencuri kebudayaan-kebudayaan yang negeri ini miliki, timbul sebuah kesadaran untuk tetap melestarikan kebudayaan yang nilainya sangat mahal. Tanyalah pada diri kita sendiri, pencurian kebudayaan semisal batik dan angklung, bukankah itu salah negeri yang hampir melupakannya?
Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Edi Sedyawati, mantan dirjen kebudayaan, perlu ada perlindungan budaya yang lebih jelas. Diperlukan sebuah undang-undang yang khusus untuk perlindungan karya budaya tradisional. Upaya ini tentu saja percuma tanpa ada kesadaran masyarakat akan pentingnya melesatarikan budaya tradisional.
Menurut Drs. Tashadi, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta bahwa dalam budaya tradisional terkandung nilai-nilai luhur pembentuk jati diri bangsa. Ketika nilai-nilai ini hilang dan tidak lagi dimengerti oleh generasi muda maka mereka hanya akan memiliki nilai-nilai global, dan hilanglah jati diri bangsa Indonesia ini. Masalahnya upaya-upaya pemeliharaan dan pelestarian budaya tradisional sampai saat ini tidak begitu mudah dilakukan di tengah serbuan budaya modern dari luar.
Efek Globalisasi
Sekarang, kebudayaan bangsa kita terlalu mendapat suntikan dari kebudayaan barat. Walau globalisasi memiliki beberapa dampak positif, pada kenyataannya hal ini lebih banyak dampak buruknya. Seperti menurunnya rasa nasionalisme pada generasi muda dan menyeret bangsa kita dari moral yang bermartabat kepada moral rendah. Kita pun kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Sebut saja kontes Puteri Indonesia, yang nantinya akan diwakilkan dalam ajang Miss Universe. Kebudayaan dan kecerdasan suatu bangsa tidak bisa dipresentasikan begitu saja oleh seorang wanita yang bahkan tidak malu untuk telanjang di depan dunia. Tentu saja dengan bertelanjang bukanlah sebuah simbol kebudayaan, melainkan bukankah itu bukti sebuah kebodohan yang sangat jelas?
Selain itu, kita tahu globalisasi mengusung liberalisme. Ini tentunya akan membawa kita pada pemahaman kebebasan tanpa batas, seperti free sex dan kebebasan menafsirkan Tuhan yang dilakukan oleh segelintir orang-orang liberalis.
Belum lagi dari aspek ekonomi yang jelas merugikan. Masyarakat kita cenderung untuk mencintai produk-produk luar negeri daripada produk dalam negeri. Sebut saja KFC dan McDonald yang mulai membanjiri mall-mall di Indonesia. Dan masih banyak dampak buruk lain yang terlalu banyak jika diuraikan satu demi satu.
Kebudayaan Kita di Negara Lain
Ironis memang menyadari kenyataan bahwa kebudayaan kita malah lebih populer di bangsa lain. Saya sering menonton Voice of America untuk Indonesia, dan miris menyadari ternyata pencak silat sangat populer di negeri adidaya itu bahkan ada olimpiadenya. Sementara di Indonesia lebih populer bela diri karate. Juga seorang wanita yang pernah tinggal di Bali, sepulangnya ke Amerika dia membuka sebuah toko batik saking mengagumi indahnya kebudayaan yang bangsa kita miliki. Sementara kebanyakan anak muda di sini ketika ditanya untuk apa memakai batik, mereka menjawab karena sedang trend dan bukan karena kecintaan terhadap kebudayaan tradisional.
Tahu Pattrick Portella dan Chandra Puspita? Sewaktu saya bertanya pada teman-temanku di sekolah, mayoritas dari mereka tidak tahu siapa yang saya maksud. Well, mereka adalah kelompok gamelan yang sangat terkenal di Perancis. Mereka pula sudah keliling Eropa dan mempertunjukkan kebudayaan tradisional kita di depan dunia. Mirisnya, banyak dari kita yang tidak peduli dengan hal itu. Bagi sebagian dari kita beranggapan, tetaplah gamelan adalah suatu hal yang kuno dan tidak modern.
Kita mungkin terlalu berkiblat pada kebudayaan barat. Tapi, tahukah kita bahwa The Beatles bahkan mengungkapkan kekaguman mereka pada The Tielman Brothers di majalah Rolling Stone Indonesia?
Antisipasi Derasnya Arus Globalisasi
Bagaimanapun, globalisasi adalah suatu hal yang sulit untuk dihindari. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita menolak globalisasi, tapi bagaimana kita menyikapinya. Sebagai generasi muda tentu saja kita harus menyikapinya secara bijaksana. Kita pun dituntut cerdas menyaring unsur kebudayaan asing yang masuk tanpa harus kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Dari berbagai sumber

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb