Selasa, 02 September 2014

[Cerpen] Mentari Sudah Pulang


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit. Kutumpahkan pandangan ke lautan awan di luar sana, yang mulai memerah petang ketika mentari beringsut perlahan kembali ke lingkup terbenamnya. Membiaskan kemilau jingga yang menyebar melalui ceruk lingkaran langit. Indah. Di sudut lain kehidupan, orang-orang dalam busway membawa pulang kelelahan setelah seharian bekerja. Tergambar dari kernyit dahi dan butir peluh yang masih menempel di kerah baju mereka.

Sejenak bola mataku terpaku pada seorang ibu yang berdiri tepat di depanku. Usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Ia membawa sebuah kardus yang sepertinya berat. Ada corat-coret bergambar bunga matahari di kardus tersebut. Kulihat ibu itu kerap memegangi kepalanya yang berbalut jilbab. Aku langsung tahu kalau dia pusing setelah sekian lama berdiri. Sempat terlintas di benakku untuk memberikan tempat dudukku padanya, tapi aku mengurungkan niatku itu. Rumah kos masih jauh, dan aku lebih butuh duduk daripada ibu itu, aku rasa.

Langit senja mulai temaram. Mentari semakin merunduk seolah tunduk pada kekuasaan malam. Dia yang tadi terus mengintip, akhirnya sempurna bersembunyi di peraduannya. Aku turun di sebuah terminal busway, sementara ibu tadi sudah turun di tiga terminal sebelumnya segera setelah adzan maghrib berkumandang. Mungkin dia akan melaksanakan tugasnya sebagai orang muslim, sholat.

Sholat…, hatiku bergetar. Walau di KTP tertera aku beragama Katolik, tapi dulu aku beragama Islam. Jika kau bertanya mengapa aku murtad dari Islam, itu karena aku kehilangan ingatan sewaktu usiaku 13 tahun. Suster yang merawatku di rumah sakit berkata kalau aku kecelakaan, entahlah, aku tidak ingat apapun. Yang kutahu, dulu aku beragama Islam dari jilbab biru muda yang kukenakan waktu itu.

Berbulan-bulan aku tinggal di rumah sakit, seorang wanita dengan tudung kepala dan kalung salib mendatangiku. Dia mengajakku untuk tinggal di panti asuhan bersama anak-anak yang nasibnya sama denganku. Akhirnya, akupun memutuskan tinggal di panti asuhan yang bernaung di bawah gereja tersebut. Para pengasuh berpakaian biarawati dan anak-anak di panti asuhan sangat baik. Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun aku tinggal disana, aku memilih memeluk agama mereka. Aku meyakini tuhan mereka adalah tuhanku juga. Aku sembahyang di gereja setiap hari Minggu. Dan aku merayakan natal sebagaimana teman-temanku yang lain.

“Vina, kau tidak perlu lagi mempedulikan keluargamu. Mereka juga kan tidak mempedulikanmu. Jika mereka mempedulikanmu, seharusnya mereka datang menjengukmu ke rumah sakit! Hanya kami yang peduli denganmu, kau pasti tahu itu!” Riska, temanku di panti berkata padaku beberapa tahun yang lalu. Walau pahit, aku membenarkan ucapannya.

Malam semakin merangkak naik dan aku masih dalam perjalanan pulang. Udara dingin menyeruak ke segenap pori pori ditambah lapar yang mendera, pelupuk mataku pun mulai menggelayut manja, seakan memaksa diri agar cepat tiba di rumah kos. Ketika sampai nanti, aku perlu mandi untuk menghilangkan butir keringat selepas kerja sambilan yang kulakukan demi membiayai kuliah teknik sipilku ini. Setelah itu, makan malam dengan membeli abon dan nasi bungkus dari warung Bi Sumarni. Sehabis makan, baru aku bisa rebahkan tubuh di atas kasur. Menanti gelap menyelimuti lelap.

Sebenarnya aku merasa sebagian teman kampusku sangat beruntung. Ketika mereka pulang berbekal keletihan, air hangat sudah menyambut di rumah. Belum lagi di benak mereka sudah terbayang makan malam sederhana tapi nikmat hasil racikan tangan seorang ibu yang penuh cinta. Ah, nikmatnya…

Buliran bening jatuh membasahi pipi ketika aku mendongakkan kepala. Langit begitu pekat, tiada rembulan dan gemintang. Entahlah bagaimana wajah ibuku, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya.

 “Tuhan, bukankah engkau maha pengasih? Pertemukanlah aku dengan ibuku…,” ucapku lirih. Kucium tanganku setelah menyentuh dahi, bahu kiri, dan kanan. Aku ingin melihat wajah ibuku. Ingin memeluknya begitu erat dan berkata akulah anaknya.

Setelah kuseka buliran bening itu, aku terperangah mendapati seorang anak laki-laki hendak menyebrang, sementara terdapat sebuah mobil kijang yang melaju kencang di jalan gelap tersebut. Eh? Eh? Anak itu berlari begitu saja, tanpa tengok kanan-kiri. Dia akan tertabrak! Aku langsung berteriak memanggilnya tapi seolah dia tidak mendengarku. Langsung saja aku berlari mengejarnya sembari berteriak menyuruhnya minggir, tapi dia tetap tidak menggubris. Anak itu tidak tertabrak. Sementara akulah yang tertabrak, terdorong, dan jatuh terduduk. Ban mobil itu berdecit nyaring. Platnya berada sekitar 5 cm di depan wajahku. Adegan yang sangat cepat.

Deg! Aku tidak bergeming laksana patung. Mataku nanar, nafasku kian tak teratur, dan jantungku memompa lebih kencang. Tiba-tiba bayangan aneh berkelebat di benakku, saling rangkai merangkai menjadi kesatuan yang utuh. Mirip pita film yang terkoyak, atau mirip anak-anak puzzle berterbangan, atau mirip anak rantai yang terputus. Semua itu menyatu menjadi sebuah rekaman masa lalu yang kembali terulang…

-oo0oo-

Sebelas tahun yang lalu…

Sebenarnya ini bukan keinginanku. Tapi Putri, Amalia, dan Mira terus membujukku hingga akhirnya  aku luluh juga oleh rayuan tersebut. Aku pun terpaksa berbohong pada Ayah dan ibu. Aku bilang bahwa aku mau belajar bersama di rumah Putri, dan mereka percaya.

Semula Putri berkata kalau ia hanya ingin pergi ke bioskop untuk nonton film Star Wars. Tadinya rencanaku, aku ingin segera pulang setelah selesai menonton film itu. Tapi, sore itu mall meriah sekali. Membuatku lupa waktu. Selain menonton, aku dan temanku juga makan ayam goreng dan belanja manik-manik lucu khas perempuan. Ya, namanya juga ABG alias Anak Baru Gede.

Usai bersenang-senang, baru kusadari kalau hari sudah malam. Langit sudah hitam dan pijar lampu kota mewarnai tepi jalan. Aku ingin pulang. Begitu pula Putri, Amalia, dan Mira. Dasar ibu kota, ketika pada malam hari pun jalanannya masih saja ramai. Akhirnya, dengan dibantu oleh seorang bapak-bapak, kita pun menyebrangi jalan raya itu untuk selanjutnya naik taksi ke Lenteng.

“Ingat ya, jangan beri tahu orang tua kalian!” kata Putri, temanku yang telah berjasa mentraktir kita hari ini ketika tiba di trotoar.

“Tidak akan…,” kata Amalia.

“Iya. Bisa-bisa aku dihukum sama Abi,” timpal Mira.

“Kalian tunggu disini sebentar ya, aku teringat sesuatu,” ujarku.

“Ada apa, Ri?” tanya Amalia.

“Tasku tertinggal di tempat ayam goreng.”

“Ya sudah, cepat ambil sana! Jangan lama-lama, ya!” kata Putri.

Aku tahu. Aku tidak boleh lama-lama. Makanya aku melangkah dengan setengah berlari menyebrangi jalan raya itu tanpa kusadari sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Kepalaku membentur kaca depan mobil dan kurasakan sakit yang luar biasa menyergap seluruh tubuh. Kulihat darah segar mengalir, kudengar sumpah serapah orang-orang, sebelum akhirnya teriakan itu mengalun makin pelan, pandanganku buram, dan semuanya menjadi gelap.

-oo0oo-
           
Aku sudah ingat semuanya, peristiwa yang hilang sebelas tahun lalu. Orang-orang mengerumuniku, memandangku dengan tatapan yang membuatku tak betah lama-lama duduk disini. Aku pun segera bangkit dan berlari dari tempat ini segera. Tapi, anak laki-laki tadi… dimana? Ah! Aku tidak peduli karena kutahu dia baik-baik saja.

Rasa rindu membuncah di dada. Aku ingin pulang ke rumah lamaku. Tapi apa keluargaku masih tinggal disana?

Detik demi detik berselang, membentuk rangkaian menit dan jam. Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang ibu, Ayah, dan adikku Hasan. Tapi, ini pun sudah terlalu malam untuk mencari dimana keluargaku tinggal sekarang. Jadi  aku putuskan untuk mencarinya besok.

Fajar menyingsing di sudut cakrawala. Mentari menyapa ramah dan sinarnya mengintai dari balik awan-awan yang bergemelayut manja. Sepasang kakiku melangkah, menyusuri rute jalan menuju komplek Mabad II, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sebuah rumah sederhana bercat hijau berada di antara rumah yang lain. Itu adalah rumah dimana keluargaku tinggal sebelas tahun lalu, dan aku akan segera mengetahui apakah mereka masih tinggal disini atau tidak. Langkahku pun semakin mendekat dan mendekat. Kupercepat langkahku seirama dengan ritme jantung yang berdegup kencang. Akhirnya, aku pun tiba di depan pintu rumah ini. Hendak mengetuknya.

Tunggu. Keluargaku beragama Islam, jadi aku harus mengucapkan salam sebagaimana kebiasaan mereka. “Assalamu’alaikum!” sahutku seraya mengetuk pintu dengan nada beruntun, menggambarkan perasaanku yang kini meluap-luap.

“Walaikumsalam...” Seorang pria membuka pintu. Aku terperangah kaget. Aku mengenalinya walau waktu telah menampakkan cukup perbedaan. Dia Ayah!

“Ayah, ini Mentari!” ujarku setengah berteriak.

“Mentari? Mentari? Itukah kamu?” tanya Ayah menengok ke segala arah.

“Iya! Mentari disini!” Aku tidak mengerti kenapa Ayah seakan tidak melihatku.

“Kenapa kamu tidak pulang, nak? Ayah sangat merindukan kamu. Begitu pula ibumu dan Hasan! Itulah kenapa kami tidak pindah rumah, karena kami menunggumu! Sekarang ibumu di rumah sakit. Dia menderita tumor otak. Dokter bilang hidupnya sebentar lagi dan permintaan terakhirnya adalah ingin melihatmu pulang! Tapi, kamu dimana?”

“Mentari sudah pulang dan berdiri di depan Ayah..!”

“Dimana? Kenapa Ayah tidak melihatmu?”

“Ada apa, yah?” seorang anak muda berusia enam belas tahun muncul dari pelosok rumah. Aku tertegun, dia Hasan adikku. Terakhir kulihat dia masih kecil, masih sering merengek minta dibelikan es tung-tung. Kini, dia bahkan lebih tinggi dariku dan wajahnya sangat tampan, mirip Ayahnya.

“Hasan, Ayah mendengar suara kakakmu!”

“Apa?” pekik Hasan

“Sepertinya ada kakakmu disini!”

“Sudahlah, Ayah. Sekarang lebih baik kita menjenguk ibu di rumah sakit. Sakit kepala ibu kambuh lagi setelah kemarin keletihan berdiri di busway. Ibu pasti ingin kita berada di dekatnya,” kata Hasan.

“Iya, Ayah tahu! Tapi suara itu benar-benar nyata!” kata Ayah tidak kalah sengit.

“Ayah hanya berimajinasi. Tidak ada siapa-siapa disini!” ujar Hasan lalu mengangkat sebuah kardus aqua. “Andai saja kemarin aku membantu ibu membawa buku-buku jualan ini, ibu tidak akan selelah tadi malam hingga jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.”

Aku kaget bukan main. Apa mungkin ibu yang kemarin kubiarkan berdiri di busway adalah seorang wanita yang telah melahirkanku? Seorang wanita yang seharusnya aku panggil dia ibu? Kulihat kardus aqua itu, ada gambar bunga mataharinya... Aku langsung jatuh tersungkur. Air mataku tumpah seketika. Dadaku rasanya sesak. Sesak sekali!

“Koran…, Koran…!” Seorang anak muda mengayuh pedal-pedal sepeda ontel sembari melempar sebuah koran hangat ke teras rumah. Aku membaca beberapa baris berita di halaman pertama koran tersebut: Seorang gadis yang diduga bernama Vina (24) tewas semalam. Menurut saksi, awalnya gadis ini berteriak sendiri di tengah jalan hingga akhirnya sebuah mobil kijang menabraknya hingga tewas bersimbah darah…

Kuningan, 11 Mei 2010


Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...