Jumat, 04 Januari 2019

Tips Hadapi Seleksi Wawancara LPDP 2018


Tips Wawancara LPDP - Tahap paling akhir dari seleki LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah seleksi wawancara dan tahap ini memiliki bobot penilaian paling besar dalam tahap seleksi substansi (80%).  Selain itu, semua informasi yang kita berikan dalam tahap ini akan diverifikasi kebenarannya oleh juri LPDP, sehingga menjadi penting untuk bisa melewatinya dengan baik.

Bentuk seleksi wawancara ini sendiri, seorang pelamar akan dihadapkan pada 3 juri. Tahun 2018 sendiri, satu juri merupakan seorang akademisi, seorang juri merupakan psikolog dan seorang lagi adalah utusan Badan Intelijen Negara. Meski informasi mengenai apakah seorang juri itu adalah BIN atau aparat lainnya, masih simpang siur karena baru tahun 2018 ini LPDP menyelidiki nasionalisme setiap pendaftarnya. Hal ini dilakukan agar tidak kecolongan seperti kasus Veronika Koman (penerima beasiswa LPDP yang merupakan pejuang Organisasi Papua Merdeka). Juga agar pelamar tidak mudah terbawa arus aneh-aneh saat berada di luar negeri.

Teman-teman jangan bayangkan wawancara dilakukan dalam ruangan sepi dan sempit ya. Wawancara LPDP dilaksanakan dalam sebuah GOR dan kita bisa melihat kelompok wawancara yang lain. Kelompok wawancara itu sendiri digolongkan berdasarkan bidang keilmuwan. Saat saya mengikuti seleksi wawancara di Jakarta, terdapat 21 kelompok wawancara. Dan kelompok 14 adalah wawancara untuk bidang keilmuan Psikologi.


Terkadang, terdapat pula beberapa pertanyaan yang bersifat menguji ketahanan psikologis seorang peserta, ada pertanyaan yang memancing emosi, ada pula pertanyaan yang berusaha membuat peserta untuk memecah fokus. Maka dari itu, dibutuhkan konsentrasi dan persiapan yang baik dalam sesi ini. Berikut adalah tips dan trik agar lulus seleksi wawancara LPDP:

Bersikaplah Sopan dan Bersahabat.

Di antara bersikap sopan santun adalah jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk. Jika memungkinkan bagi kalian untuk salam, maka salamlah dan berjabat tangan. Namun jika menurut kalian lawan jenis itu bukan mahram, tidak apa-apa untuk tidak berjabat tangan selama tangan kalian menunjukkan "salam". Jangan bersikap terlalu berlebihan, pemalu atau terlalu akrab seperti memanggil dengan panggilan non-formal. Tataplah wajah dan mata pewawancara selayaknya orang tua yang kita hormati. Bersikaplah sewajarnya dan tetap profesional.

Kuasai Esai, CV, dan rencana studi yang Digunakan Untuk Mendaftar.

Kuasai betul esai, CV, dan rencana studi yang kamu gunakan saat mendaftar seleksi administrasi. Karena mereka akan bertanya mengenai apa yang kamu tuliskan lebih jauh lagi. Pewawancara pun memegang laptop mereka masing-masing dan yang ada di layar laptop tersebut adalah formulir pendaftaran kita. Bukan berarti wawancara hanya mengulang apa yang kamu tuliskan di CV ya, melainkan mengeksplorasi lebih jauh apa yang belum dituliskan di CV, esai maupun rencana studi.

Lakukan Simulasi Wawancara Dengan Teman atau Sesama Pendaftar LPDP.

Bagi saya simulasi wawancara ini penting sekali sebelum saya bisa menjalankan wawancara sesungguhnya. Karena saya bisa menyiapkan beberapa pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan, melatih diri menggunakan intonasi dan kata-kata yang lebih tepat, juga sebagai sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Berpenampilan rapih, baik, sopan, dan formal (atau semi-formal).

Hindari menggunakan pakaian berbahan kaos, terlalu transparan, terbuka, ataupun jeans. Gunakan pakaian rapih, tertutup, dan juga enak dipandang. Jika kamu biasa menggunakan make up, gunakanlah seperlunya. Jangan terlalu menor atau berlebihan. Jika kamu tidak biasa menggunakan make up dan ingin menggunakan make up, maka gunakanlah make up selama itu nyaman dan tetap mendefinisikan diri kamu sebagaimana biasanya. Untuk hari itu, be the best of yourself yet still as you are.

Menyiapkan Amunisi Terbaik Untuk Wawancara.

Jika kamu masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan amunisi, persiapkanlah sebaik dan sebanyak mungkin. Menurut saya pribadi, amunisi yang kamu perlu persiapkan sebelum memasuki ruang wawancara adalah:

  1. Buatlah sebuah draft thesis penelitian yang kamu usulkan dan kuasai draft penelitian tersebut. Sebagian besar pendaftar ditanya masalah rencana studi, alangkah baiknya ketika kamu ditanya masalah ini, kamu bisa langsung memberikan proposal atau draft penelitian kamu kepada sang pewawancara.
  2. Jika sudah punya LoA, bawalah LoA tersebut. Jika belum punya, maka lakulakanlah korespondensi dengan profesor, ketua program studi atau staff fakultas. Print out semua email korespondensi tersebut dan bawa ke ruang wawancara.
  3. Melatih diri dengan berbagai kemungkinan pertanyaan yyang ada dan membuat draft jawaban dari setiap pertanyaan. Draft jawaban pertanyaan ini jangan dihafal ya! Hanya sebagai skema untuk latihan saja, agar ketika wawancara nanti kalian tetap alami dan tidak dibuat-buat. Saya sendiri memiliki list 100 pertanyaan LPDP dan membuat isi dari setiap pertanyaannya hingga terdiri dari 42 halamaan.

Menjawab Pertanyaan Dengan Tepat, dengan Pengalaman dan Data. Tidak hanya jawaban normatif.

Ketika kalian menghadapi pewawancara, kalian akan melihat raut wajah mereka sering kali tampak berusaha untuk menangkap inti dari ucapan kalian. Bisa saja kita sesekali menjawab pertanyaan dengan normatif, tapi jika saya jadi mereka, saya sih akan merasa bosan seharian mendengarkan jawaban-jawaban normatif. Jawablah pertanyaan dengan data atau dengan pengalaman, sehingga secara tidak langsung menyiratkan kecerdasan kalian atau kontribusi yang selama ini telah dilakukan.

Body Language itu Penting.

Bahasa tubuh menjadi faktor yang sangat penting namun sering kali tidak disadari oleh peserta wawancara. Mengenai body language, terdapat satu video yang menurut saya pribadi sudah sangat cukup untuk latihan wawancara LPDP. Tidak perlu melihat video yang lain, cukup merujuk kesini saja.


Jangan Menyela Pewawancara, Simaklah pertanyaan dengan baik, dan jawab dengan Baik dan Jelas.

Ketika pewawancara berbicara mengenai sesuatu atau bertanya, tunggulah beberapa saat untuk memastikan apakah mereka telah selesai bertanya atau telah seelsai bicara atau belum. Karena saya sendiri pernah tak sengaja menyela pewawancara ketika dia sedang bertanya, saya pikir beliau sudah selesia. Dan raut wajah pewawancara berubah disana dan cukup memecah fokus saya sendiri. Lalu saya segera menghela napas untuk tetap fokus dan tidak panik. Bagi beberapa orang, perubahan raut wajah pewawancara bisa benar-benar tanpa sadar mempengaruhi kepercayaan diri dan jawaban kalian loh. Jadi berhati-hatilah.

Jawablah pertanyaan dengan baik, lugas, dan jelas. Jika sesekali, kalian mendapati diri kalian seperti sedang memberikan penjelasan pada nenek/kakek kalian sendiri, ketahuilah bahwa itu pertanda baik.

Jawablah Pertanyaan Dengan Santai dan Alami.

Ketika sedang latihan wawancara bersama teman-teman di Discord, seringkali saya mendapati seorang peserta seperti sedang menghafal jawaban pertanyaan dari wawancara tersebut. Mungkin ini bagian dari konsekuensi jika kita menyiapkan jawaban sejak awal. Meski bagi saya menyiapkan konten itu penting, tapi yang perlu disiapkan bukanlah susunan kontennya itu sendiri, melainkan melatih dalam mengemukakan ide dan pendapat.

Jawablah dengan santai dan alami, toh pewawancara juga manusia koq. Anggap saja ini sebagai sarana bagi kalian untuk sharing cita-cita dan kualitas diri, prestasi, dan aspirasi kalian. Bagi saya sendiri, wawancara LPDP itu seperti sarana berbagi dan diskusi. Dan ya, rasanya kurang lamaa.. hmm.

Berusahalah untuk Tidak Baper Selama Wawancara Berlangsung.

Pewawancara mungkin menanyakan kegagalan dan penyesalan terbesar dalam hidup kalian lalu tak kuasa, kalian pun menangis saat itu. Menurut saya sendiri, menangis itu tidak apa-apa. Tapi sesuai porsinya dan berusahalah agar kembali profesional. Karena ketika kalian menangis, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akan membuat kalian sulit berpikir atau membuat kalian sulit mengambil napas. Mungkin lebih baik hindari kondisi seperti ini dengan memberikan jawaban-jawaban seperlunya. Agar sisi sensitif kalian gak semakin digali oleh pewawancara.

Atau jika pewawancara melontarkan suatu pernyataan yang membuat kalian terpojok, ingatlah untuk tetap tersenyum. Jangan memulai perdebatan atau jangan ngotot. Berikanlah jawaban sediplomatis mungkin. Contoh dari pertanyaan yang membuat saya terpojok di antaranya:

Pak Rahman  :  “Jangan-jangan nanti kamu pulang dari Amerika, malah menyebarkan paham feminis lagi.”
Saya                 : “Mengenai feminis, saya tidak perlu mendefinisikan diri saya sebagai seorang feminis pak.”
Pak Rahman       : (alis beliau mengerut, karena kata-kata saya secara tidak langsung bermakna ambigu bahwa saya memiliki nilai yang sama dengan feminisme. Sebagaimana Kartini seorang feminis, tapi tidak lahir dari teori feminisme. Dan saya juga tidak tahu bagaimana pandangan beliau soal feminisme).
Saya                       : “Karena definisi feminis itu berbeda-beda tergantung budaya, adat, pemahaman, dsb. Dan jika dibahas secara ilmiah, setahu saya feminis itu lahir dalam 4 gelombang. Gelombang pertama dan kedua adalah ketika di abad pertengahan, feminisme banyak mengakhiri buta huruf di kalangan perempuan-perempuan Eropa dan juga mengusung perempuan untuk juga aktif berpolitik. Tapi feminisme sekarang nilainya sudah bercampur dengan nilai liberalisme dan kebebasan, yang seringkali bertentangan dengan syariat dengan agama yang saya yakini yaitu Islam.”

Tulisan selengkapnya mengenai wawancara full saya dapat ditemukan di link berikut:



Pelajari Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Muncul.

Seperti yang sudah saya katakan juga sebelumnya, ini merupakan bagian dari amunisi. Bukan berarti teman-teman menghafal teks ya, hanya saja, jadikan ini sebagai sarana latihan untuk mengemukakan pendapat dengan baik, intonasi yang tepat dan memiliki data yang akurat.

Misalnya, kalian mungkin akan ditanya mengenai apakah kalian setuju negara berbasis syariat diterapkan di Indonesia. Tentunya sebagai muslim kalian bisa-bisa memiliki konflik batin. Namun dengan mempelajari tipe pertanyaan seperti ini, kalian bisa memberikan pendapat yang lebih diplomatis berlandaskan nilai-nilai konstitusi dan landasan filosofis. Contoh pertanyaan saya:

Pak Itan: “Bagaimana menurutmu jika Indonesia diubah menjadi negara Islamberbasis syariat?”
Saya: “Saya merasa tidak perlu diubah, Pak. Karena sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 33 ayat 3, pemerintah wajib melaksanakan satuan pendidikan untuk mewujdukan akhlak mulia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu artinya, dalam setiap pembentukan Perpu, perda, peraturan menteri, peraturan presiden, dan juga undang-undang, harus merujuk pada rujukan filosofis dan konstitusi yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pembuatan kebijakan sudah dilandaskan kepada nilai-nilai agama yang luhur. Tinggal yang menjadi tugas sekarang adalah masalah pengimplementasiannya.”

Jadi jawaban kalian gak hanya: “Tidak boleh, Pak. Negara kita negara pancasila, bukan negara berbasis syariat!.” Padahal keduanya, pancasila dan nilai-nilai agama bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan.

Akhiri Wawancara dengan Ucapan Terima kasih dan Salam.

Setelah sesi wawancara berakhir, maka jangan lupa untuk berterima kasih kepada para pewawancara dan memberikan salam. Sembari memohon doa kepada pewawancaranya agar lulus juga boleh, seperti saya. Hehe.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...