Saturday, June 10, 2023

15 Menit Meditasi

Hari ini, aku pertama kalinya meditasi kembali setelah mungkin hampir satu tahun tidak melakukannya. Aku hanya bermeditasi selama 15 menit, meskipun aku pikir aku perlu melakukannya selama satu jam.

Selama 15 menit itu, aku membiarkan isi pikiranku mengembara, berceloteh sendiri tiada henti, agar dapat kuamati apa yang dia katakan. Kemudian aku mendengar bahwa dia mengatakan, "Kamu harus beli buku ini untuk mengatasi ini" (tepatnya buku "The Untethered Soul"). Kamu harus membeli buku itu untuk mengatasi itu. Kamu harus menulis judul buku yang perlu kamu beli sebelum melupakannya. Ugh, kenapa aku harus meditasi. Tampaknya menulis judul buku yang harus kubeli saat ini jauh lebih penting."

Pikiranku mencoba membuatku untuk tidak memperhatikannya, agar dia dapat dengan bebas berjalan semaunya dan aku autopilot. Pikiranku tidak ingin aku keluar dari zona nyaman, itu untuk memproteksi dirinya sendiri dari luka dan rasa sakit. Dan pada akhirnya, ia ingin aku mengabaikan apa yang sebenarnya paling penting dan apa yang harus aku lakukan.

Aku bertahan untuk meditasi selama 15 menit dan betapa uniknya aku seperti menemukan ada dua orang di dalam diri. Satu yang menceloteh tiada henti, membuatku tidak memerhatikannya dan menjadikanku berjalan autopilot. Satu kesadaran bahwa aku harus tetap meditasi dan merasakan benar-benar apa yang aku takuti hadapi selama ini, apa hal yang aku hindari. Yaitu mendengarkan alam bawah sadarku sendiri dan apa yang dia butuhkan.

Sebenarnya aku tidak benar-benar yakin apa yang alam bawah sadarku butuhkan. Banyak hal yang bersifat paradoks. Seperti, aku harus lebih banyak mempromosikan online course di media sosial karena dengan begitu aku dapat memiliki pemasukan yang lebih banyak. Dengan pemasukan yang lebih banyak, aku bisa membangun bisnis yang lebih besar dan membeli buku apapun yang aku inginkan. Dan jika aku kaya raya, aku akhirnya bisa lebih tenang untuk tidak melakukan apapun dan bermeditasi.

Padahal saat itu sendiri, aku sedang bermeditasi dan tidak melakukan apapun. Kenapa aku tidak tenang saat itu saja?

Aku jadi ingat cerita seorang nelayan yang setiap hari hanya memancing secukupnya di pagi hari untuk menghidupi keluarganya, lalu ia pulang untuk menghabiskan waktu dengan anak-anaknya dan bermain musik dengan teman-temannya.

Kemudian, seorang pria kaya raya datang. Ia membujuknya untuk bekerja di pusat kota meninggalkan keluarganya, menjadi akuntan, lalu gajinya digunakan untuk berbisnis dan berinvestasi dan dengan begitu, si nelayan dapat menghasilkan uang banyak hingga jutaan dolar. Tetapi itu akan membutuhkan waktu 20 tahun untuk sang nelayan bisa sukses seperti itu.

Kemudian si nelayan bertanya, lalu apa yang akan terjadi jika dia telah 20 tahun bekerja meninggalkan keluarganya dan menghasilkan jutaan dolar?

Si pria kaya raya berkata, karena dengan kamu sukses, kamu bisa kembali ke keluargamu, menghabiskan waktu dengan anakmu dan di sore hari bermain musik dengan teman-temanmu.

Penjabaran sang pria kaya raya sama persis dengan apa yang si nelayan telah peroleh selama ini. Bahkan, dengan pemasukan yang kecil, si nelayan telah menjalani kehidupan kaya raya yang dia inginkan. Lalu untuk apa menghabiskan 20 tahun meninggalkan keluarga dan menjalani pekerjaan yang tidak dia cintai?

Kehidupan si nelayan sama persis dengan apa yang aku alami saat ini. Aku tinggal bersama keluargaku, tiap hari bermain dengan ponakan yang paling aku cintai, aku sudah bisa membaca banyak buku meskipun ebook, aku punya banyak waktu luang dan aku basically bekerja dengan pasif income yang cukup untuk membiayai satu keluarga. Tapi otakku terus mengatakan bahwa ini kurang dan kurang. Aku harus meraih lebih dan lebih.

Lalu untuk apa meraih lebih itu lagi? Padahal kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini?"

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb