Jumat, 08 April 2011

Strategi Menulis: Membuat Perbandingan Yang Tepat


Perbandingan yang saya maksud di sini adalah analogi, simile, atau metafora. Buat kawan pembaca Santri Menulis pasti udah tahu apa itu analogi, simile, dan metafora. Apalagi kawan yang sesama penulis, perbandingan-perbandingan seperti ini sangat penting setidaknya untuk membantu pembaca menangkap ide yang sulit digambarkan. Tapi gak ada salahnya juga untuk memosting tulisan ini sebagai tambahan referensi.
Santri Menulis mencoba untuk mengupas tentang masalah perbandingan yang emang rada sulit. Referensinya didapat dari Panduan Menulis Dalam Bahasa Inggris karya Noah Lukeman (bukan promosi, tapi buku ini memang bagus). Tetapi sebelumnya, kita kupas dulu apa itu analogi, simile, dan metafora menurut kamus besar bahasa Indonesia.
Analogi: Persamaan atau persesuaian antara dua benda atau dua hal yang berlainan.
Simile : Majas pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa, dinyatakan secara eksplisit dengan kata seperti, bagai, laksana, dll. Contoh: Budi tersentak, seperti ada yang menyengat tiba-tiba.
Metafora : Pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Misal, tulang punggung. Di kalimat: Pemuda adalah tulang punggung negara.
Perbandingan itu sendiri merupakan salah satu ruang bagi penulis untuk menunjukkan sampai di mana batas kreatifnya. Jadi gak salah kalau dikatakan simile adalah perbandingan yang puitis dan imajinatif. Metafora bahkan dianggap seni yang lebih tinggi daripada simile karena metafora menggunakan kata yang lebih sedikit jumlahnya.
Manfaat dari perbandingan cukup besar, yakni.
1. Membantu pembaca menangkap ide yang sulit dicerna.
2. Membuang deskripsi yang jumlahnya berlebihan. Hal ini dapat membuat naskah pun menjadi lebih padat dan memberikan kesempatan pada tiap kata untuk “berbicara”
3. Membuat karya lebih puitis dan berseni tinggi.
4. Dan Lain-Lain.
Meskipun bagi penulis yang terampil, manfaat perbandingan itu sangat besar. Tapi konsekuensi menggunakan perbandingan yang kurang tepat juga bisa menjadi bencana. Pasalnya, perbandingan merupakan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi apa yang dimaksud penulis. Jika perbandingan yang Anda buat kurang tepat, pastinya Anda menarik perhatian pembaca untuk berimajinasi dengan ketidaktepatan Anda.
Sementara karya tanpa perbandingan sama sekali seakan tidak bernyawa. Biasanya hanya memberikan pengetahuan, tetapi tidak emosi menggerakkan. Pembaca benar-benar memahami karya itu, tetapi entah mengapa dia meletakkan buku itu dengan alasan ia tidak tergerak buat membalik halaman selanjutnya.
Sebaliknya, naskah yang juga dipenuhi dengan perbandingan (walau perbandingannya tepat) dapat terlalu tegang, justru membuat pembaca tidak menangkap ide asalnya sama sekali karena perputaran kalimat yang melelahkan.
Lalu solusi agar kita dapat membuat sebuah naskah dengan perbandingan yang tepat, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, juga ditempatkan di posisi yang pas adalah dengan latihan dan latihan. Memang, mengganti dan menemukan perbandingan yang pas rada sulit, tetapi hal itu dapat dilakukan seiring berjalannya waktu.
Namun berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin bisa membantu merangsang imajinasi dalam membuat perbandingan:
1. Ambil satu benda dari ruangan dari cari 10 perbandingan untuk benda itu. Buatlah perbandingan simile dan metaforanya.
2. Carilah 10 perbandingan untuk menggambarkan tindakan yang dilakukan oleh benda yang sama.
3. Lakukan latihan di atas berkali-kali, entah pada benda ataupun orang.
Untuk lebih memahami materi di atas, Santri Menulis mengambil beberapa contoh simile dan metafora. Contoh-contoh simile:
  1. 1. Air sungai menghanyutkan sampah, keruh seperti susu coklat di dalam gelas.
  2. 2. Tubuhnya ramping sempurna, seakan-akan hiu putih yang elok.
  3. 3. Dia pasti baru bangun tidur. Rambutnya menjadi keriting mirip onggokan sarang burung.
  4. 4. Alisnya mengerut menghadapi kenyataan, laksana kodok melihat ular.
  5. 5. Kami berlari berebutan bagaikan ternak yang digiring.

Contoh-contoh metafora:
  1. 1. Banyak sekali kupu-kupu malam di pinggir jalan.
  2. 2. Raja hutan mengaum dengan lantang.
  3. 3. Perahu itu menggergaji ombak.
  4. 4. Engkau belahan jantung hatiku, cinta.
  5. 5. Mengukir senyuman nakal.
Nah, sekarang giliran Anda berkomentar...

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...