Jumat, 08 April 2011

Belajar Menulis: Hambatan Menulis dan Tips Mengatasinya


Rasanya kurang komplit kalau tidak membahas tentang hambatan menulis karena hambatan menulis adalah fase yang pasti dialami oleh semua penulis. Baik pemula maupun yang sudah professional. Dan termasuk syarat menjadi penulis hebat adalah dengan memiliki keberanian, kemauan, tekad, dan kemampuan untuk mengatasi hambatan menulis tersebut. Mari kita ulas satu-satu di sini.

Malas atau Tidak mood.

Memang hambatan terbesar menjadi seorang penulis adalah malas alias gak mood. Karena hambatan ini muncul secara internal, yaitu dalam pikiran seseorang. Untuk mengatasinya adalah dengan memotivasi diri sendiri. Bisa dengan mencari contoh penulis idola, belajar mencintai pekerjaan menulis, dan terus memotivasi dengan memikirkan imbalan yang akan kita dapatkan jika menjadi penulis.

Tapi kebanyakan penulis besar itu sendiri gak percaya dengan mood. Karena bagi mereka, menulis itu adalah sebuah budaya. Seperti pergi ke wc. Jika gak mood melanda, biasanya penulis akan memulai menulis. Karena dengan menulis itu sendiri mood akan muncul.

Kendala Waktu/Tidak Sempat

Setiap orang punya waktu yang sama, 24 jam. Dan dari 24 jam itu sebenarnya cukup luangkan minimal 1 jam saja untuk menulis merupakan sebuah awal yang baik. Pilih waktu yang sesuai. Misalnya sore hari, maka patuhilah jam biologis tersebut. Jangan melanggarnya, khawatir kita akan terbiasa tidak disiplin. Atau kalau ada kendala di sore hari, maka pilihlah malam hari. Pokoknya luangkan waktu sebisa mungkin. Toh, sebenarnya kendala waktu bukanlah masalah besar, yang penting ada niat dan kemauan.

Bingung Memulai

Bingung memulai? Untuk yang satu ini ada saran dari Mas Joni Ariadinata bahwa jika kita bingung memulai, maka ngaco aja! Tulislah dengan kacau awal sebuah cerita, itu merupakan ‘pemanasan’ yang baik. Jika sudah mendapat awal yang bagus, biasanya penulis akan mudah untuk menyambung cerita selanjutnya.

Sementara saran dari Mas Jonru, pertama kali menulis, menulislah dengan otak kanan tanpa terpengaruh apa kata otak kiri. Otak kiri baru boleh berperan setelah kita merampungkan tulisan.

Kata Mbak Lin, tulislah apa yang kita pikirkan. Jangan sampai kita memikirkan apa yang kita tulis. Pokoknya menulislah dengan mengalir.

Dan kata Bang Aswi, kalau misalnya kita bingung memulai maka buatlah sebuah kocokan. Dalam kocokan tersebut ada kumpulan kata-kata benda dalam kertas kecil yang digulung. Setelah kita kocok, ambil dua kertas dan lihat apa kata yang muncul. Misalnya jam dan sepatu. Maka berimajinasilah dengan dua kata tersebut. Misalkan seorang anak laki-laki yang terlambat sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan tapi dia tidak menemukan sepatunya. Cerita bisa dilanjutkan sesuai dengan imajinasi sendiri.

Tidak punya ide

Tidak punya ide merupakan hambatan yang sangat mudah diatasi. Kenapa? Karena ide ada di mana-mana dan melimpah ruah. Yang perlu kita lakukan adalah menghilangkan “tembok besar” antara imajinasi dan jari tangan. Semua yang ada di kepala kita tulis atau kita ketik sambil membiarkan imajinasi mengembara dan jadikan pikiran kita seakan layar lebar yang sedang menunjukkan adegan demi adegan.

Atau bawa note kecil kemana-mana. Misalnya nih saat di angkot ada percakapan ibu-ibu, ide-ide yang bisa ditangkap dari percakapan mereka bisa kita tulis di note kita. Atau misalnya di kelas ada humor dari teman yang mengocok perut, segera tulis! Pokoknya jangan sampai dunia sekitar kita yang merupakan sarang ide kita abaikan.

Untuk beberapa penulis, untuk mendapatkan ide biasanya mereka melihat gambar yang membangkitkan imajinasi. Atau mendengarkan lagu yang mereka sukai. Gak ada salahnya mencoba juga solusi yang ini.

Yang terpenting hilangkan “tembok besar” yang membuat kita mogok menulis. Jika tembok itu gak segera dihancurkan, maka menulis hanya akan menjadi sesuatu yang menyiksa, membosankan, dan membutuhkan pekerjaan yang berat.

Takut jelek

Sebenarnya tidak ada tulisan yang jelek, itu hanya penilaian orang atau diri kita sendiri. Bila karena kita merasa tulisan kita jelek dan takut dikritik maka selamanya kita pun gak pantas dipuji. Karena orang yang pantas dipuji hanya mereka yang berani menerima kritikan. Mereka menganggap kritik adalah batu yang dilempar pada mereka dan mereka membangun pondasi dari batu-batu tersebut agar makin kuat. Tidak membiarkan batu itu membuat mereka jatuh.

Jika kita takut jelek dengan rangkaian kata, deskripsi, perbandingan, dan lain-lain maka kita harus “mengikat makna” dari setiap tulisan yang kita baca. *Maksud loe?*

Nih, setiap kali kita menemukan deskripsi yang keren atau perbandingan yang tepat dalam sebuah naskah, maka segera tulis dalam sebuah buku khusus. Jangan sampai kita membaca sepintas-pintas aja. Sayang dong capek-capek baca tapi kita tidak memperkaya diri dengan kata-kata. Jika kita miskin kata, otomatis menulis jadi menyiksa kita.

Jangan takut tulisan jelek. Itu hanya penilaian editor dalam diri kita. Pokoknya kita bilang ke ‘editor’ dalam diri kita bahwa kita akan menyelesaikan tulisannya tanpa peduli yang editor katakan. Beberapa malah menyarankan untuk mematikan layar komputer saat menulis. Itu agar mereka tidak terpengaruh melihat ke belakang. Mungkin setelah naskah selesai, kita tahu bahwa itu acak-acakan, tapi kita senang karena semua ide sudah tertuang. Kita tinggal memolesnya.

Tidak Menguasai topik

Menguasai topik yang tidak biasa itu merupakan keharusan. Biasanya penulis memang fokus pada hal-hal yang ada di ruang lingkup yang itu-itu saja. Penulis islami sekarang misalnya, malah terjebak dengan cerita dengan tokoh yang tobat dan menyadari kesalahan. Bisa dibilang, masih jarang penulis islami yang menyorot sejarah, politik, dan fiksi ilmiah. Tentu saja hal ini bisa menjadikan kita stagnan dan tidak bisa mengembangkan diri. Bukankah salah satu tujuan menulis selain untuk berdakwah adalah untuk membuka cakrawala baru? Jadi tulislah hal-hal yang baru di luar ruang kita.

Walau di luar ruang kita, tidak menguasai topik bukan alasan. Sekarang kan zaman udah modern, kita tidak perlu ke Amerika jika mau menulis dengan latar di Amerika. Tidak perlu jadi hacker untuk menulis tentang hacker. Toh, sekarang ada mbah Google. So, gooling aja.

Suka tidak fokus

Suka tidak fokus merupakan salah satu hambatan yang juga sering dikeluhkan oleh penulis pemula. Biasanya saat mereka sedang menulis sebuah cerita, eh... tiba-tiba ada ide muncul untuk cerita yang lain. Mas Tere-Liye pernah bilang, kalau misalnya kita tidak fokus maka jangan dipaksa. Tulislah ide lain yang tiba-tiba muncul tersebut tapi juga jangan meninggalkan yang lama. Kita bisa meneruskan cerita manapun yang kita pilih, kan?

Kata Bang Aswi, jika kita tidak fokus menulis sebuah cerita karena terpikir ide cerita yang lain. Maka tulis aja ide cerita yang lain tersebut. Dan untuk ide cerita yang lama kita simpan baik-baik, mungkin suatu saat nanti kita akan mendapatkan ide brillian untuk lanjutan cerita tersebut.
Pokoknya, jadi penulis harus merdeka!

Menunggu sempurna

Beberapa orang menunda menulis karena menunggu sempurna. Mereka menunggu tulisan mereka menjadi kaya akan deskripsi dan metafora yang indah. Mereka pun menunggu sampai kepala mereka dibanjiri ide brillian. Please deh, jika kita belajar berenang berdasarkan panduan dan teori tanpa mempraktikannya, 99% gak akan bisa. Begitu pula menulis, kita harus langsung terjun dan praktik untuk dapat menguasainya. Ide pun hanya banjir jika kita menuliskannya.

Manusia yang benar bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah. Karena selain Rasulullah, seluruh manusia pasti punya salah. Tapi yang benar adalah manusia yang terus memperbaiki diri dan belajar dari kesalahannya. Tidak ada manusia tanpa cacat.

Jika kita menunggu kesempurnaan, maka selamanya kita tidak akan pernah menulis. Karena memang tidak ada yang namanya sempurna kecuali Allah SWT. Kita harus sadar bahwa kekurangan dan hambatan-hambatan menulis itu adalah fase wajar yang dialami semua penulis.

Kurang Membaca

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jadi kita tidak akan menjadi penulis yang baik tanpa membanjiri diri dengan buku-buku bacaan sebelumnya. Mungkin kita bisa menjadi penulis, tapi tulisan kita akan kering dan tidak bernyawa.

Lagipula, bukankah pada dasarnya menulis itu seperti ke wc? Yang dikeluarkan adalah apa yang dimasukkan. Jadi yang kita tulis adalah hasil bacaan-bacaan kita selama ini. Ahmad Tohari mengaku membaca 10 novel sebelum 1 novel. Bahkan ada yang membaca 40 novel untuk menulis 1 novel.

Tidakkah kita dengar seruan dalam Al-Qur’an? Iqro! Bacalah!

Merasa tidak bakat

Teman-teman saya bilang saya berbakat menulis. Sejujurnya saya gak setuju dengan hal itu. Karena menulis itu mudah dan satu-satunya kegiatan yang tidak butuh bakat. Andreas Harefa bahkan bilang kalau menulis adalah kemampuan tingkat dasar. Kenapa? Karena siapa yang bisa membaca pasti bisa menulis.

Sungguh, seperti ucapan Thomas Alfa Edison, bakat itu 1% dan 99% sisanya adalah kerja keras. Begitu pula kata Bill Gates.

Menulis itu in potentia, maksudnya jadi potensi untuk semua orang. Buktinya, semua orang dengan kemauan dan tekad menjadi penulis pasti bisa menjadi penulis. Dan buktinya semua penulis hebat pasti akan berkata bahwa dulu juga mereka penulis pemula yang sering mengalami hambatan. Salah jika kita down dan tidak percaya diri menulis hanya karena seorang dua orang bilang kita gak bakat. Teruslah menulis dan jangan mudah terombang-ambing, catat itu kawan!

Dari berbagai sumber

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Trimsss bangettt sangat membantu membangkitkan mood-ku dalam menulis :)

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...