Selasa, 08 Mei 2018

S2 Jerman di-Defer Karena Masalah ANABIN?


Pada postingan kali ini saya mau bicara masalah pendaftaran S2 yang lebih spesifik, jadi gak melulu soal IELTS maupun TOEFL ITP. Postingan ini mungkin bakal berguna banget buat temen-temen yang S1 di Indonesia dan mau daftar S2 ke perguruan tinggi di Jerman. Cerita sedikit awal kenapa saya mendaftar perguruan tinggi di Jerman dan kenapa ANABIN itu PENTING BANGET sekaligus RIBET BANGET.

Saya sendiri awalnya gak pernah terpikir untuk daftar S2 ke Jerman. Saya selalu berpikir untuk mendaftar ke negara yang penduduknya mayoritas berbahasa Inggris; khususnya Amerika. Sampai setelah wisuda S1 September 2017 lalu, ummi dan abi bilang kalau mereka gak ngizinin saya kuliah S2 di luar negeri khawatir saya terjerumus pergaulan bebas. Terus saya iya-in orang tua, mendaftar kuliah studi lanjut Profesi di Universitas Indonesia.

Saya hafal ortu saya, gak bisa dipaksa gitu aja kalau komunikasi, perlu pelan-pelan... Pada akhirnya, menjelang hari-hari ujian masuk UI, malam-malam saya nyelinap masuk kamar ortu terus saya bilang pas ummi lagi ngelipetin baju dan abi lagi main sama cucu, “Mi, yang di UI itu bukan S2 loh, tapi itu profesi. Kalau mau lanjut S3, ya harus ambil S2 lagi dulu.”

Terus ummi bilang, “Ya atuh percuma kalau gak bisa S3!”. Ummi saya adalah satu dari segelintir ibu yang lebih mendorong anaknya harus kuliah sampai S3.

Saya, “Kenapa gak sekalian dimana sumber ilmu Psikologi analisis murni berasal, mi? Kalau Amerika kan sumbernya Psikologi terapan dan ummi abi gak ngizinin, kalau di Jerman sumbernya Psikologi Analisis. Lagian disana banyak banget ikhwahnya mi, Deta gak lepas liqo deh.”

Eng ing eng... akhirnya dibolehin deh daftar di perguruan tinggi luar negeri! Tapi saat itu cuma Jerman aja negara yang boleh; mengingat banyak persaudaraan muslimnya (ikhwah). Yang penting boleh kuliah S2 ke Luar negeri. Horee...

Terus karena satu dan lain hal, saya akhirnya pindah jurusan setelah menelaah lebih jauh tentang jurusan dan universitas yang saya inginkan di Jerman: Master of Science in International Health (MScIH), Charite Universitatmedizin Berlin.



MScIH di Charite adalah satu-satunya jurusan kesehatan internasional tapi  minta pelamar S2 berlatar belakang Psikologi untuk penyuluhan tentang kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan psikologi (contoh: pendidikan seks, HIV, dsb). Ditambah lagi saya punya minat dan pengetahuan mengenai Keluarga Berencana.

Saya telaah lebih jauh... saya makin pengen masuk Charite gara-gara universitas ini adalah universitas kedokteran terbesar di Eropa dan bekerjasama dengan universitas kedokteran terbaik di dunia: John Hopkins University. Mengingat 120 Under 40 Global Family Planning Leader (diadakan oleh John Hopkins) yang saya ikuti kemarin menyuruh saya ikut nominasi kembali tahun 2019, it would be perfect jika saya punya afiliasi dengan Charite. Perfeeect semuanya!! Aaaa....


Intinya, ini adalah universitas paling perfect yang sesuai dengan kemauan saya dan kemampuan (saya memenuhi persyaratan semuanya). Maret 2018, semua aplikasi lengkap saya kirimkan ke admission committee untuk intake November 2018. Setelah berbagai proses, saya juga sudah mendapat sponsor yang siap membiayai kuliah dan akomodasi saya 80 juta rupiah untuk semester pertama. Serius, saya udah dapat sponsor. Jadi gak harus menunggu beasiswa DAAD ataupun Erasmus dulu untuk bisa berangkat tahun ini.

Sampai akhirnya saya dapat balasan cukup baik dengan funding statement, motivation letter, CV, professional experience, dsb... kecuali... tulisan horor yang satu ini:

“For the accreditation: the German Ministry of Education only recognizes those degree courses from the Universitas Negeri Jakarta  that are accredited by the “accreditation council BAN-PT”, and Sarjana Psikologi is not on its list.”
What? What? What??? Saya kan masih bingung terus saya tunggu beberapa minggu dan German Ministry of Education belum juga menjawab email dari Charite admission committe-nya. Terus karena saya gak bisa diem aja gitu kan, lalu saya kontak German Ministry of Educationnya sendiri lewat email. Terus mereka bilang, mereka tidak bertanggung jawab untuk masalah akreditasi dan tidak tahu menahu soal hal tersebut.

Terus saya bingung kan masalahnya dimana, lalu setelah kesasar masuk di grup whatsapp “Sekolah di Jerman”, saya langsung menceritakan masalah saya secara panjang lebar dan seseorang  menjawab “jurusannya gak masuk database ANABIN itu.”

Terus dia ngasih link video ini yang akhirnya bermanfaat banget:

ANABIN: Pastikan Gelar Akademis Kamu diakui di Jerman

Jadi saya berkunjung ke situs http://anabin.kmk.org nya dan nyari-nyari jurusan Psikologi UNJ. Akhirnya ketahuan deh masalah saya, situs ANABIN-nya (situs rujukan pendidikan tinggi di Jerman) gak update. Sepertinya terakhir BAN-PT meng-update situs ANABIN adalah sebelum tahun 2008 ketika jurusan Psikologi UNJ masih bernama Psikologi Pendidikan, sebelum akhirnya dihapuskan diganti namanya jadi Psikologi aja.

Parah banget gak sih, jurusan saya dikirain sebagai jurusan ecek-ecek padahal Psikologi UNJ dapat akreditasi A dari BAN-PT. Dan selama situs ini gak update, saya dan adik-adik kelas saya takkan ada yang bisa melanjutkan pendidikan di universitas manapun di Jerman, tak peduli status kita apa, anak presiden kek, anak orang terkaya sedunia kek, kalau jurusan tak terakreditasi di ANABIN, kita takkan bisa melanjutkan studi di Jerman.

Kalau ditanya yang salah siapa? Saya juga tidak tahu. Tapi ini jelas bukan tanggung jawab saya sebagai pelajar/alumni, melainkan pekerjaan institusi yang berwenang untuk akreditasi. Tapi kalau masalah administrasi ini terjadi, ya mau gimana lagi, kita gak bisa hanya duduk dan nonton aja kan???

Lalu apa yang saya lakukan? Saya mengikuti saran-saran dari video di atas. Tapi mungkin penjabaran dokumennya lebih banyak disini (setelah melalui birokrasi nan panjang menuju langit biru~).



Dokumen 1: Sertifikat & SK Akreditasi BAN-PT bukti kampus terakreditasi.

Saya minta sertifikat dan SK Akreditasi BAN-PT mengenai jurusan saya. Ini cerita yang panjang, karena sertifikat akreditasi jurusan saya baru aja kadaluarsa 1 April 2018. Sementar pas saya minta dokumennya adalah tanggal 3 April 2018 (H+2 kadaluarsa). Sementara itu, dokumen akreditasi yang baru masih berada di tangan wakil rektor 1 bidang akademik. Ketika saya kesana mendapat perintah dari fakultas, mereka menolak untuk memberikan dokumennya tersebut karena dokumen baru aja tiba dari BAN-PT. Barulah beberapa hari kemudian (setelah proses birokrasi + ttd konco-koncone) mereka mempostingnya di website.

Dokumen 2: 2 Surat Pengantar Wakil Rektor Bidang Akademik. 1 untuk BAN-PT dan 1 untuk ANABIN.

Kampus saya ini 250 KM jauhnya dari kampung halaman dan saya tidak memiliki tempat tinggal lagi di Jakarta. Seluruh sahabat saya udah menikah dan rumah saya dijadikan kontrakan. 3 hari di jakarta luntang-lantung ngabisin jutaan rupiah, saya meminta surat pengantar dari kampus untuk ke BAN-PT dan ke ANABIN. Setelah 2 hari meminta tanda tangan dekan, hari ketiga wakil rektor menolak tanda tangan sampai ada rapat Divisi Pengembangan Kampus, wakil dekan 1 dan juga wakil rektor 1. 7 hari kerja, barulah dokumen ditandatangani.

Lampiran yang diperlukan untuk mendapatkan surat pengantar rektor adalah:

  • Dokumen email diprint perbincangan dengan admission committe universitas Jerman.
  • Dokumen berisi halaman screenshot bukti jurusan tidak terakreditasi di ANABIN.
  • SK Pengangkatan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta.
  • Surat pengantar dari fakultas.
Setelah mendapat surat pengantar dari kampus, kita juga perlu mendapat dokumen selanjutnya dari BAN-PT.

Dokumen 3: Surat Pengantar direktur BAN-PT ke ANABIN yang mengonfirmasi jurusan kita terakreditasi oleh BAN-PT.

Jadi waktu itu saya ke BAN-PT mengobrol dengan mbak-mbaknya. Kata mbak-mbak staf di BAN-PT, beberapa dokumen ini diperlukan untuk mendapatkan surat pengantar direktur yang ditujukan ke ANABIN:
  • Surat pengantar wakil rektor ke BAN-PT terkait permohonan konfirmasi ke ANABIN.
  • SK Akreditasi dan sertifikat akreditasi jurusan sebagai lampiran.
  • Foto kopi ijazah pemohon (kasusnya kita sebagai pemohon).
  • Surat pengantar dari kita sendiri ke BAN-PT.
  • Fotokopi KTP
Semua dokumen ini bisa dikirimkan via pos, langsung ke kantor, maupun email ke alamat BAN-PT Indonesia. Karena masalah ini sudah sering, biasanya pelamar mengajukan dokumen dalam bentuk email. 7 hari kerja mereka barulah mendapat surat pengantar yang langsung ditandatangani direktur BAN-PT.

Berikut alamatnya BAN-PT:

Gedung II Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Lt, 17. Jl. M.H. Thamrin 8, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. 10340
Nomor telepon: 62213169609
Email: sekretariat@banpt.or.id


Lalu setelah itu kumpulkan semua dokumen ini:

  1. Foto kopi SK Akreditasi dan sertifikat BAN-PT tentang akreditasi jurusan.
  2. Surat pengantar rektor untuk ANABIN.
  3. Surat pengantar direktur BAN-PT untuk ANABIN.
  4. Surat pengantar diri sendiri untuk untuk ANABIN.
  5. Fotokopi paspor.

Lalu kirimkan semua dokumen itu kesini lewat Pos Indonesia maupun DHL:

KULTURMINIZTER KONFERENZ Zentralstelle für ausländisches Bildungswesen (ZAB) im sekretariat der Kulturminizeterkonferenz Graunheindorfer, Str. 157 53117 Bonn.

Jika sudah mendaftar di salah satu universitas, seperti kasus saya misalnya, coba hubungi admission officernya dan kirimkan file scanning dokumen-dokumen tersebut lewat email. Mereka akan berusaha mempercepat proses update akreditasi dengan pihak KMK Anabin-nya.

Pengurusan ini bisa berbulan-bulan lamanya guys. Mbak Findri (yang share pengalamannya melalui vlog pengurusannya bahkan mencapai 6 bulan). Jadi jika sampai universitas kalian tidak terdata di ANABIN karena ANABIN-nya gak update padahal universitas kalian bukan sekolah ecek-ecek, tentu kalian bisa memilih menyerah daripada melalui semua proses ini dan mendaftar selain di Jerman. Atau kalian bisa memilih untuk tidak menyerah dan menyelesaikan masalah perintilan ini hingga tuntas.




Saya juga beberapa kali minta menyerah sama ummi sih sampai pernah nangis kecapean karena merasa percuma; jutaan rupiah dihabiskan bulak-balik Jakarta Kuningan, biaya tiket kereta dan tempat tinggal, juga panas-panasan dibawah sengatnya sinar mahatahari ibu kota, pada akhirnya saya tahu aplikasi saya akan ke-defer juga alias tertunda intake-nya. Tapi kata ummi, “Jangan mikirin uang, namanya juga ikhtiar harus dilakukan semaksimal mungkin...”

Kalau kalian masih S1 (tingkat 3 atau 4) dan berencana melanjutkan studi S2 di Jerman, saran saya, kalian harus persiapkan dari sekarang. Jika ANABIN belum update dengan jurusan kalian karena jurusan sempat ganti nama, baru didirikan, baru diakreditasi, dsb, kalian bisa urus setidaknya dari sekarang. So aplikasi kalian gak akan ke-defer (kayak saya) atau malah tertolak.

Sebenarnya, saya sempat mengusahakan intake 2018 sih, tapi endingnya saya nyerah juga karena belum ada balasan dari KMK ANABIN-nya. Terus saya bilang ke admission officer-nya, saya intake 2019 aja. Hehe. Lalu ini balasannya dari admission officer Charite University-nya:

Hi Maryam! I’ll make a note that you defer your application to 2019, and I’ll be happy to assist with the accreditation process if I can.

Well Done! OFFICIAL! I finished! I did my job very well and the result is up to God.


 
Mengingat saya juga daftar LPDP, Australia Awards, Erasmus, dan banyak lagi universitas-universitas di luar negeri karena dah dibolehin ortu, pengurusan dokumen penuh birokrasi nan panjang antara ANABIN, KAMPUS dan BAN-PT mungkin tidak jadi begitu useful bagi saya jika saya diterima di universitas lain selain Charite. Tapi setidaknya itu memudahkan adik-adik kelas saya jika ingin melanjutkan studi S2 ke Jerman. Dan makanya, saya menulis tulisan ini, biar minimal pengalaman saya terasa bermanfaat buat orang lain, meski untuk saat ini belum terasa manfaatnya bagi saya pribadi. Hmm...

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Thanks udh sharing pengalamnya kak :) tetap semangat

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...