Minggu, 24 Juni 2018

[Curhat] Afrika, I am coming...


21 Juni 2018 pukul 20.00 malam itu, handphoneku yang layarnya sudah rusak, memaksa jariku membuka aplikasi gmail secara tidak sengaja. Sangat cepat layar hapenya tergeser-geser sendiri dan langsung membuka dokumen “invitation letter” yang terlampir dalam salah satu email. Sepersekian detik kubaca judul invitation letternya, “Invitation Letter for ICFP 2018” aku langsung melompat dari kasur terlalu senang! Alhamdulillah ya Allah...

Saking senangnya mau teriak saat itu, tapi keponakanku lagi tidur, jadi aku teriak gak bersuara. Tahun 2015 lalu aku menerima email yang sama untuk hadir di ICFP 2015 di Bali, lalu aku melompat-lompat di sofa selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali normal. 3 tahun lalu memang masih kanak-kanak.

Email yang sama, hanya beda tahun.


Tapi sebenarnya tahun 2018 ini aku jauuh lebih senang lagi, karena tahun 2015 itu, pas aplikasi aku mencentang tulisan “sanggup membiayai pesawat”. Pas diterima, di emailnya tertulis aku harus biayai pesawatku sendiri. Tapi aku diminta ke kantor BKKBN dan pas mengobrol dengan staff-staff disana, barulah pesawatku digratiskan dan dibiayai BKKBN, hotel, juga uang jajan. Bisa dibilang diterimanya aku di ICFP 2016 adalah faktor kelicikan dan keberuntungan. Pendaftar seluruh dunia sedikit (hanya 180) dan pendaftar di Indonesia juga sangat sedikit. Aku rasa yang daftar di Indonesia hanya 4 dan diterima pun hanya 4, saking jueleknya videoku.



Tahun 2018 aku jauh lebih senang. Kenapa? Karena pendaftaran ICFP lewat seleksi video ini booming dimana-mana, diposting di berbagai situs opportunity, dan pendaftarnya mencapai 550 orang.. Selain itu Kigali itu di luar negeri, biaya pesawatnya mencapai 22 juta rupiah PP. Kalau jadi panitianya, pasti mikir untuk nerima banyak orang Indonesia.

Aku antara yakin gak yakin, antara pesimis dan optimis, videoku bakal diterima dengan ketatnya seleksi tahun ini. Tapi aku tahu, I did my best. Kualitas videoku jauh lebih baik dari tahun 2015, pronounciationku jauh lebih baik, data lebih up to date, dan analisisku lebih unik. Selain itu juga untuk memperkaya aplikasiku, aku telah meminta data ke 200 orang lebih mengenai persepsi mereka. Ada dua penelitian, satunya pernikahan dini dan satunya keluarga berencana. Data-data itu memperkuat argumen dan analisis di aplikasi esaiku.

Ribet banget gak sih? Untuk penelitian aku menghabiskan waktu 3 hari (dari pagi hingga tengah malam). Untuk bikin video aku menghabiskan waktu 1 hari 1 malam (dari pagi hingga pagi lagi). Ribet sih ribet, tapi ya ini investasi masa depan.



Bukan hanya biaya Kigali Rwanda yang mungkin satu orangnya mendapatkan fasilitas senilai 48 jutaan (Hasil perhitunganku untuk ICFP 2018: 22 juta pesawat + 10 juta hotel bintang 5 selama 10 hari + 10 juta uang jajan(stipend) + 6 juta biaya pendaftaran event dsb). Tapi juga networking dan recognition yang bisa didapatkan jika berpartisipasi di event itu, it will change your life, forever.

YA, AKU MENGEJAR DUNIA.

Aku tahu ini murni pertolongan ALLAH sih. Soalnya selama 10 hari tidak ada email masuk (musim lebaran, jadi gak ada aktivitas). Jam 9 pagi aku ambil wudhu dan sholat dhuha. Saat sujud aku berdoa memohon kesuksesan pada Allah “Jika memang kesuksesan itu baik berada tanganku dan bisa bermanfaat pada sesama, berikanlah aku kesuksesan dunia dan akhirat.”. Sampai malam aku gak cek email. Padahal biasanya setiap hari aku selalu cek email lebih dari 10 kali. Pas aku cek email dan dapat invitation letter for ICFP 2018, aku sadar, aku kan doa jam 9 pagi, ternyata emailnya terkirim jam 10! Allah langsung menjawabnya seketika, tapi akunya pesimis.

Ya benar, aku punya motivasi tinggi ingin sukses. Tidak apa mengejar dunia, kata Hanan Attaki, tapi ujungnya harus akhirat. Tujuanku mengejar dunia adalah karena aku ingin bisa lebih banyak menginspirasi dan bermanfaat kepada orang-orang di sekelilingku. Aku juga ingin menciptakan dunia sebagai tempat tinggal yang lebih baik. Dan kesempatan mengubah dunia itu akan mayoritas berada di tangan orang-orang yang kaya, memiliki kekuasaan, pengaruh dan posisi. Meski aku bukan orang kaya sekarang, bukan pula orang yang sudah punya posisi, tapi aku yakin, tidak perlu minder dengan anak-anak yang terlahir kaya dari orang tua mereka, its not about how much resources you have, its about how resourceful you are.




Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...