Minggu, 16 Mei 2010

Mengembalikan Data Yang Terformat atau Terhapus

Di Husnul Khotimah Islamic Boarding School (HKIBS), untuk kelas 1 Aly akhwat yang pasti, bakal selalu ada yang namanya DRAMA BAHASA. Yap! Dari namanya bisa ditebak kalau itu adalah drama dengan bahasa asing. Kita sih nama-in drama bahasa ini DBSK (Drama Bahasa Sekolah).

Properti, akting, design ruangan, dsb sudah disiapkan jauh-jauh hari. Mungkin bagian documentasi aja yang kurang persiapan. Dan tentu saja, aku dari seksi dokumentasi. Tugasku hanyalah merekam. Ya! Hanya merekam. Kecewa sih, karena awalnya tugasku adalah menulis skrip, tapi karena skrip buatanku terlalu sulit dirubah jadi bahasa arab, ya… gak diterima deh.

Aku suka semua bagian dari DBSK, semuanya! Kecuali satu hal kecil yang sepele tapi sangat fatal, aku bakal jujur di postingan ini, kalau aku kecewa dengan ide cerita Berbie and the apa sih? Ya, pokoknya yang kembar itu. Jujur, aku suka banget cerita berbie itu, sering aku ulang malah waktu kecil. Tapi, kenapa seluruh adegannya sama? Sebelum aku nonton sih, aku setengah berharap endingnya atau apanya dibedain biar gak semudah itu ditebak, tapi ya ternyata sama aja. Jadi seperti nonton ulang tapi versi bahasa arab.

Aku minta maaf untuk seluruh anak marhalah aku. Aku sangat menghargai semua usaha kalian untuk buat drama ini. Aku sama sekali tidak marah karena aku gak jadi penulis skrip, hanya kecewa karena ceritanya sangat sama dengan yang di film. Dan aku hanya jujur. Boleh, kan?

Walaupun jadi seksi dokumentasi, weiss lah gak papa. Selain suka menulis aku juga sangat suka yang berbau teknologi. Apalagi ternyata bantuanku di dokumentasi tidak sia2, berarti yang menempatkanku di seksi itu gak salah. Yang salah kalau menempatkanku jadi translator. Kalau translate ke bahasa Inggris sih, masih mending. Lah ini ke bahasa Arab?

Hehe, nilai rapot bahasa arabku adalah 50. (moga Abi gak baca…)

Semenjak aku dipindahkan jadi dokumentasi, aku berikrar, “Walau sedikit kecewa, aku akan berusaha sebisaku untuk memenuhi amanah ini dengan baik!”

Percaya gak percaya, aku adalah kameramen utama, sama seperti kakakku yang juga di drama bahasanya ketika 1 Aly, adalah kameramen utama juga. Menurutku peran itu tidak terlalu buruk, karena ditangan kitalah apa yang akan diabadikan. Bukan di tangan orang lain. Benar, kan?

Eh, pas lagi asik2 ngerekam. MEMORY FULL??!!! Aku pun segera ganti memory, walau karena sibuk melakukan hal itu, ada satu adegan yang tidak kurekam. Aku tidak begitu yakin itu adegan apa, tapi yang jelas semua santri tertawa ketika itu. Sorry buat semuanya.

Okke2 jadi aku ganti memory, tapi sekaligus ganti kamera! Swear, gambar di kamera itu JAUUUH… lebih bening, lebih terang, lebih jelas, dsb. Aku menyesal kenapa gak dari tadi pakai kamera itu… AND WHAT??!! LOW BATTERY!!! Aku hanya merekam tiga adegan saat itu, lalu akupun ganti kamera jadi yang tadi lagi.

Setelah drama selesai, semua teman-temanku bersorak gembira. Kecuali aku. Aku tidak tahu alasannya apa, mungkin karena aku tinggal di rumah dan tidak melihat kerja keras mereka selama ini atau mungkin karena alasan lain tapi aku tidak ingin membahasnya. Intinya, aku biasa-biasa aja.

Aku hanya diam menunggu selesainya sesi pemotretan dan pengiriman data video dan foto ke komputer. Lalu aku pulang dan tidak menceritakan apapun ke kakakku yang malam itu masih terjaga.

Besok harinya, temanku Licha, datang ke rumahku dan bertanya, “Deta, kamu merekam semua adegan, kan?”

“Iya, kecuali satu. Emang kenapa?”

“Soalnya, yang berhasil dikumpulkan cuma sembilan scene.”

“Hah, masa? Aku merekam semuanya koq.”

“Waktu itu kamu minjam memory siapa?”

“Mana aku tahu, aku kan cuma merekam. Kalau memory sih yang mengurus Marwa”

“Tapi Marwanya pulang sampai hari selasa”

Intinya, membahas hal itu. Beberapa hari kemudian, Licha datang lagi dan membawa kabar buruk.

“Deta, kayaknya yang kamu pakai itu adalah memorynya Zainab”

“Terus?”

“Zainabnya ngasih memorynya ke adiknya di ikhwan. Tapi adiknya gak tahu apa-apa terus diformat. Lemes…”

Aku biasa aja, “Mungkin juga bukan memorynya Zainab” kataku sambil memandang sandal yang kupakai.

Beberapa hari kemudian, aku bertanya ke Zainab. Dan entah kenapa aku jadi sangat yakin kalau memang benar yang kupakai untuk merekam waktu itu adalah memorynya Zainab. Aku sangat lemes, walau terlambat. Tapi aku tidak bisa menyalahkan Zainab, adiknya, Marwa, atau siapapun juga, aku bilang mungkin itu sudah takdirnya.

Aku bisa lihat Zainab SANGAAAAT menyesal. Dia bahkan memarahi adiknya hingga menangis. Aku jadi simpati. Dia berkata, “Apapun akan aku lakukan kalau bisa mengembalikan data yang keformat itu. Kamu tahu caranya, gak?”

Aku menggeleng, “Andai aku bisa melakukannya. Aku akan menjadi orang kaya.”

“Please, Deta… Aku sampai sekarang masih berharap bisa balikin data itu. Memory itu bahkan aku gak apa-apain lagi…”

“Ya, gimana ya? Gak bisa. Gak bakal bisa!”

Hee ternyata aku salah, sedikit-sedikit nyari di Mbah Google ketemu deh! Dengan RECUVA, aku bisa balikin data yang keformat itu. Dan aku bisa lihat reaksi yang orang-orang yang terlihat sangat senang mendengarnya. Kamu bisa download programnya secara gratis tis tis di www.recuva.com !!!

Aku juga sudah praktek dan ternyata, mudah sekali menggunakannya. Apalagi untukku yang suka mengotak-atikkan software…

Ya, kalian tahu kelanjutan postingan ini kan?

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...