Minggu, 16 Mei 2010

Utang Itu Harus Dibayar!



Bukan aku yang biasa kalau bilang “CB dong” (CB alias Cash Bone), rasanya mulut aneh banget, dan aku gak bisa cuekin tampang orang yang aku bilang kayak gitu. Aku lebih baik tidak jajan daripada harus mengutang.
Ya…, kalau ngutang sama orang tua sih beda lagi.
Ketika LDK kemarin, aku minta uang ke umi 1000 rupiah untuk bekal di perjalanan. Emang sih cuma seribu, tapi itu berdasarkan pengalamanku ikutan LDK Terminator 1 yang ternyata aku buang-buang uang 20.000 rupiah untuk hal yang gak penting, padahal selama perjalanan kiloan meter itu yang aku butuhkan cuma es. Ya, cuma es yang harganya paling 500 rupiah.
Itulah kenapa aku cuma minta 1000 rupiah.
Eh, ternyata, karena tidak ada larangan naik angkot, aku dan anak DPH lain naik angkot deh. Sementara uangku sudah kubelikan air minum, dan 500 sisanya lagi untuk melakukan kegiatan sosial. Jadi aku CB dulu ke Aisyah. Aku sih masih mencoba membiasakan diri, toh cuma CB 1000.
Kita pun turun di SMK Pertiwi…
Ingatan beberapa bulan lalu kembali terputar dalam benakku, SMK Pertiwi letaknya dekat dengan SMP Pertiwi dimana aku pernah jadi tenaga pengajar disana selama 5 hari dari jam 7 Pagi sampai jam 11 Siang. Aku berharap banget bisa ketemu anak-anak didikku lagi, tapi ketika kulihat wajah-wajah yang keluar sepertinya bukan anak kelas 1 SMP yang kupegang waktu itu.
Kecewa.
Aku juga ingat, aku punya janji dengan salah seorang anak didikku untuk datang ke rumahnya. Dia sangat mengharapkan aku datang tapi aku tidak juga datang-datang. Aku bukannya tanpa alasan, tapi aku tidak tahu rumahnya dimana, dan walau dia mengatakannya dimana menurutku itu terlalu jauh dan aku tidak tahu persis letaknya. Janji juga termasuk hutang, akan ditagih di akhirat kelak. Aku ingin mengutarakan maafku ke anak itu, tapi aku tidak bertemu dengannya. Rasanya berdosa banget nih.
Ya, setelah itu kita melakukan perjalanan sampai tiba di sebuah masjid, kita pun istirahat dan menghafal Qur’an disana selama 30 Menit lalu melanjutkan lagi perjalanan. Tapi, kita masih punya PR, kalau kita harus membeli gorengan seharga 3000 rupiah, masalahnya tidak ada gorengan di siang hari seperti itu. Akhirnya, kita pun membeli tahu dan tempe yang lalu digoreng padahal sudah matang. Yang penting digoreng.
Catatan, beli gorengan bukan dengan uangku lagi. Dan aku masih mencoba membiasakan diri.
Setelah itu kitapun naik angkot lagi, walau aku dibayarin sama Aisyah, aku mulai tidak enak hati. Tapi aku memasang wajah biasa aja. Kita naik angkot sampai Gedung Naskah Linggarjati, dimana itu adalah tempat yang jadi perhentian kita.
DPH sebagai pemberangkatan pertama, sampai sebagai yang kedua.
Disana, kita menghabiskan waktu dengan menghafal surat ali-Imron ayat 110 s/d 114. Cukup banyak juga. Eh, waktu di sela2 menghafal, Aisyah Sa’diyah dan Zulfa Tsania mengajak ngobrol empat orang bule dari Belanda yang juga datang ke gedung bersejarah itu. Aku menghampiri mereka walau tidak menyimak yang mereka bicarakan. Intinya sih, membicarakan maksud kedatangan ke Indonesia? Mereka dari mana? Dsb. Kita bersama pun difoto oleh kamera bule itu. Lumayan juga, itu artinya foto kita terbawa sampai Belanda (norak nih…)
Banyak yang kita lakukan bersama saat itu, sehingga mungkin aku tidak akan melupakan saat-saat menjadi DPH. Apalagi karena jumlah kita sedikit, seorang tidak ada aja sudah sangat terasa kehilangannya, jadi berbeda dengan divisi lain. Selama menjadi DPH, aku belajar untuk mengalah. Karena sebagai ketua, kita tidak boleh serakah termasuk saat pembagian makan siang, kita termasuk diakhirkan.
Juga ketika pulang, kita menjadi yang terakhir. Kita pun terpaksa membayar angkot lebih sampai HKIBS lebih soalnya kita hanya sedikit ditambah beberapa temanku yang lain. Masing2 dari kita harus membayar 3000 rupiah dan aku tidak punya uang.
“Satu orang lagi yang belum bayar, siapa ya?” tanya Azka Azizah, koordinator Divisi Magang Intelek.
Aku mengacung dan sebelas pasang mata mengarah ke arahku. Ketika itu aku mulai merasa benar-benar tidak enak mengutang.
“Aku belum, nanti aku bayar ke Zulfa deh. Zulfa, aku CB ke kamu dulu, ya?” kataku lagi. Mulutku rasanya aneh sekali dan tenggorokanku rasanya tercekik. Aku berusaha mengalihkan perhatianku ke pada pemandangan di luar angkot daripada melihat wajah teman-temanku karena aku ngutang.
Rasanya aku hanya jadi sebuah benalu bagi mereka.
Zulfa pun membayarkan aku 3000 rupiah untuk naik angkot. Dan swear, aku benar-benar ingin segera mengakhirkan semua ini. Aku ingin segera sampai di rumah dan bayar hutang-hutangku!
Itulah janji seorang Maryam Qonita.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...