Thursday, July 22, 2010

The Authority Part 2



Di sebuah ruangan yang cukup sempit, di kantor kepolisian, Steve dan Harry Compton tengah menginterogasi Danny Hogan. Pria yang sudah menginjak usia 49 tahun itu terlihat santai sekali. Steve berdiri sementara Harry duduk di hadapan Danny Hogan.

“Kau sudah menjadi mafia sejak 12 tahun yang lalu, kau pasti tahu banyak tentang seluk beluk organisasimu,” kata Harry.

“Aku tidak akan menjelaskan apapun pada kalian,” kata Danny Hogan.

“Jangan membela diri, kau pasti tahu sesuatu tentang Steven Herald,” ujar Steve.

“Jika aku memberi tahumu apa akan menguntungkan?”

“Kau pun pasti tahu tentang Devon Murray,” ujar Steve lagi. “Kenapa dia sampai tergabung ke dalam mafia ini?” tanya Steve. Danny Hogan hanya diam sambil membuang mukanya.

“KATAKAN?!” bentak Steve sembari menarik kerah Danny Hogan. Mata mereka adu ketajaman. Harry langsung mencegah sahabatnya agar tidak terjadi adu jotos disini.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Danny Hogan mengangkat alisnya. Emosi Steve memuncak, dia mengepalkan tangannya hendak mendaratkan tinjuan ke muka orang itu. Tapi sesuatu menahannya. “Yang kutahu tentang Devon Murray hanyalah dia orang kepercayaan Steven Herald, posisinya di mafia sama dengan Shelby Wilson,”

“Kau sendiri, kenapa ingin menjadi mafia?” tanya Harry.

Danny Hogan menyeringai, “Karena jumlah uang yang kudapat banyak sekali. Jika kau mendengarnya, kau takkan sanggup menolak menjadi mafia. Hahaha…” dia tertawa, suaranya membahana mengisi seluruh sudut rumah itu dan perutnya yang buncit berguncang-guncang. Harry dan Steve hanya terdiam.

-ooOoo-

Malam hari, Steve tinggal di sebuah kondominium bertingkat bersama keempat rekannya yaitu Harry, Henry, George dan David. Henry, George, dan David sedang bertugas, sehingga di dalam ruangan ini hanya ada Steve dan Harry saja. Mereka sedang makan mie instan di ruang tengah.

“Rifki!” Harry memanggil nama asli Steve. “Aku masih memikirkan ucapan si Hogan itu. Bukankah Devon Murray itu sepupumu, makanya kami berempat disuruh pura-pura membunuhmu di depan istri Devon Murray ketika di Inggris dulu?”

“Iya, kau benar. Aku mengira dia hanya mafia biasa yang akan melaporkan identitas FBI ku pada atasannya. Ternyata dia sendirilah atasannya,”

“Sepupumu harus segera ditangkap, kemampuan hackingnya luar biasa. Kemarin dia baru saja membobol komputer pentagon milik NASA,”

“Aku tahu,” kata Rifki datar. Walau hubungannya dengan Devon Murray sangat erat, Steve tetap harus menangkap Devon dan menyerahkannya ke kepolisian.

-ooOoo-

Di saat yang sama, di kota London, Devon dan seorang pria Rusia berpakaian selayaknya sedang duduk di meja gerai sebuah kedai kopi.

“Mau pesan apa?” tanya Mandarlo, nama pria Rusia berusia sekitar 30 tahunan tersebut.

“Kau sendiri?” tanya Devon.

Mandarlo membuka buku menu dan tidak lama kemudian, seorang pelayan kedai itu datang menghampiri mereka berdua. Berdiri diam sambil memegang buku catatan dan sebatang pena. “Aku mau bubur kentang,” kata Mandarlo.

“Aku sandwich selai kacang,” kata Devon.

Pelayan wanita itu mencatatnya, “Hanya itu?”

“Ya, hanya itu” jawab Devon. Pelayan itu langsung melangkah pergi, masuk ke dalam kedai lewat pintu kayu yang terbuka lebar.

Devon membuka notebook vaio yang dibawanya. Mengoneksikannya dengan jaringan. Dia adalah hacker tingkat elit yang mengerti sistem keamanan luar dalam, sanggup mengkonfigurasikan jaringan secara global. Efisien dan terampil. Tidak percaya pada otoritas dan mampu membuat seni keindahan dalam komputer. Ia mampu menyusup ke jaringan internet langsung ke jantung operasionalnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menghack FBI dalam tiga menit,”

“Untuk apa?” tanya Mandarlo.

“Untuk melihat data seorang anggota FBI bernama Rifki Mahatir,”

“Rifki Mahatir?”

“Aku ingin tahu apa di data FBI ada data tentang kematiannya,” katanya. Tak lama kemudian, “Bingo!” serunya.

“Well, hanya dua menit,” ujar Mandarlo.

Devon terus terpaku ke dalam laptop miliknya itu. Melihat sekumpulan data rahasia milik FBI. “Sudah kuduga, datanya disini tertulis dia memang sudah mati karena ditembak preman jalanan. Dia sudah mati, atau mungkin pura-pura mati.”

“Kenapa kau peduli?”

“Tentu saja. Dia sepupuku dan sebagai FBI, dia penasaran mengapa aku tergabung ke dalam Mafia Eropa”

-ooOoo-

Enam tahun yang lalu…

Malam hari diantara lembab dan pengap dua gedung yang saling berdekatan di London. Sepi. Becek. Jarang sekali ada orang yang lewat lorong itu. Lagipula, lorong ini berakhir di pagar kawat berduri tajam setinggi lima meter.

Pada malam itu, Steven Herald dan beberapa anak buahnya sedang menikmati pemandangan mengenaskan. Seorang algojo bertubuh besar tengah menghajar Michael Murray, bukan main. Pria itu benar-benar sudah kehabisan seluruh tenaganya, ia tidak berkutik. Darah segar mengucur dari kepalanya. Dan beberapa tulangnya patah.

Steven Herald menghampiri Michael Murray yang tergolek tidak berdaya sembari menghisap cerutunya. Menghembuskan asap cerutu itu ke depan wajah Michael. “Aku sekarang sedang sangat senang bisa melihatmu begini, Murray.”

“Sebenarnya apa maumu?”

“Aku ingin kau bergabung. Tidak ada ruginya untukmu.”

“Sampai mati pun aku tidak mau!” kata Michael Murray lalu meludah ke wajah bekas sahabatnya sewaktu di universitas dulu. Steven terkejut, dia mengelap wajahnya dengan tisu dan memasukkan tisu itu ke mulut Michael.

“Habisi dia!” kata Steven menyingkir membiarkan si algojo menghajar Steven. Si Algojo mengangkat kerah Michael hingga tubuhnya terangkat, dan membenturkan kepalanya ke kepala Michael. Setelah itu melemparnya ke kawat besi berduri di dekat tempat itu.

“AKU SUDAH MEMBERIMU KESEMPATAN! TAPI KAU MENOLAKNYA! SEKARANG PIKIRKAN BAIK-BAIK SAHABATKU SEBELUM AKU MEMBUNUHMU!” raung Steven.

“Sa..sahabat?” Michael mulai bicara terbata-bata. “Aku lebih baik mati daripada memiliki sahabat sekeji dirimu!”

Steven mendengus kesal. Ia membuang cerutunya. Dahinya mengerut dan alis bagian luar mencuat ke atas. Rasanya ada api yang membara di dadanya. “DIAAAMM!!!” dia melolong seperti serigala. Para mafia lain menjauh beberapa langkah dari bosnya itu. “KAU SENDIRILAH YANG MEMBUATKU SEPERTI INI! KAU MENGAJARKAN KEPADAKU SIAPA YANG JAHAT LAH YANG AKAN MENANG!”

“Apa maksudmu?”

“KAU TAHU AKU MENCINTAI GELBY DELYS, MAKANYA KAU MEMPERMAINKANNYA UNTUK BERSAING DENGANKU! TAPI APA YANG KAU DAPATKAN? DIA MALAH RELA MATI UNTUKMU SETELAH TAHU KAU SELINGKUH DENGAN WANITA LAIN! KAU YANG MENGAJARIKU DAN MEMBUATKU SEPERTI INI! KAU HARUS TAHU ITU, MICHAEL MURRAY!”

Michael terperangah. Ternyata masalah ini yang telah membuat sahabatnya berubah. Padahal Steven Herald salah paham, dia hanya berusaha mendekatkan Gelby Delys kepada Steven. Tapi malah wanita itu jatuh cinta padanya. Mana dia tahu? Tiba-tiba Gelby Delys loncat dari gedung tinggi karena cemburu melihat Michael sudah menikah dengan seorang wanita Indonesia.

“Tom! Bunuh dia!” kata Steven Herald. Si bertubuh besar itu kembali menghampiri Michael Murray. Hendak membunuhnya. Tapi tiba-tiba…

“DON’T TOUCH MY FATHER!” Devon datang seperti pahlawan kesiangan. Membawa pistol dengan tangan gemetar dan mengarahkannya ke Steven Herald.

“Jika kau menembakku, maka kau akan mati!” kata Steven Herald.

“Tapi kau duluan yang mati!” ujar Devon.

“Aku tidak akan menyakiti ayahmu, singkirkan pistol itu!”

“Tidak!”

“Kau benar-benar bocah yang nekat. Aku suka dengan sifatmu. Bagaimana kalau bergabung saja dengan kami?”

Devon melihat ayahnya yang menggeleng-geleng kecil. “Tidak mau!” ujar Devon.

“Kalau begitu kau akan melihat kematian ayahmu!”

Tom, si Algojo langsung memukul kepala Michael dengan sebuah kayu besar. Pria itu pingsan. Devon kaget bukan main. Dia masih memegang pistolnya dengan gemeteran. Steven Herald perlahan mendekatinya dan menurunkan pistol itu, seraya berbisik di telinganya. “Demi ayahmu, nak.”

-ooOoo-

Devon masih duduk di meja gerai, berkutat dengan laptopnya. Ketika pelayan itu datang mengantarkan sandwichnya, Devon bahkan tidak menyadarinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Mandarlo sembari memakan bubur kentangnya.

“Hacking komputer pusat FBI,”

“Yang tadi kau membobol apa?”

“Itu hanya data yang tersimpan di komputer internal. Bukan jantung operasional.”

“Sulitkah?”

“FBI memiliki hacker cukup hebat bernama David Valgas. Usianya sama denganku. Dan kemampuan hacking kami hampir sama. Aku harus menemukan lubang kelemahan yang sebelumnya belum terpikirkan.”

“Berarti dia cukup hebat.”

“Gotcha!” seru Devon beberapa saat kemudian, “Akhirnya firewall dan SSL nya terbypass juga... tapi...”

“Jelaskan apa yang kau lakukan!”

“Ini.. ini seharusnya database servernya, tapi koq...” kata Devon lalu menyadari sesuatu. “Sialan mereka menjebakku dan aku terperangkap!”

“Ada apa?”

“Operating System yang digunakan secara otomatis akan menyalin data-data yang PC yang terhubung dengannya. Mereka mencuri data-dataku!” kata Devon. Sekarang dia dengan FBI sedang bertarung di dunia cyber. “Hey, tapi aku bisa memanfaatkan masalah ini!” ujar Devon lagi baru saja mendapatkan ide bagus.

“Ini pistol milikmu, ya?” tanya seorang bocah laki-laki memungut pistol yang jatuh ke lantai. Devon tersentak dan langsung merebutnya dari bocah laki-laki tersebut.

“Jangan menyentuh barang orang lain tanpa izin!” bentak Devon.

“Cih. Harganya kan cuma 2 pound, kau pelit sekali sih. Aku juga baru beli sama sepertimu barusan! Wee!!” kata bocah itu lalu melangkah pergi.

“Dua pound katanya?” ujar Mandarlo geleng-geleng kepala.

-ooOoo-

Share House milik Bibi Ann ini akan menjadi tempat tingal 5 pemuda yang tidak lain adalah Rifki, Henry, George, David dan Harry. Mereka tinggal disini karena mereka akan pura-pura menjadi mahasiswa Oxford memata-matai Devon Murray. Kebetulan rumah Bibi Ann ini dekat dengan Oxford, dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Siang itu...

“Share House ini hanya punya dua kamar kosong lagi,” kata wanita berusia 58 tahun yang tidak lain adalah Bibi Ann.

“Tidak perlu. Kita berlima cukup berada dalam satu kamar,” kata Rifki.

“Oh, baiklah kalau begitu. Kamar diatas cukup luas.”

Seorang wanita berjalan melewati ruang tamu. Tubuhnya ramping bagai hiu putih yang elok, matanya biru seperti telaga, rambutnya bergelombang seperti jerami jatuh. Cantik. Bibi Ann memberhentikan wanita yang mungkin berusia 23 tahun tersebut.

“Kenalkan! Dia juga sekolah di Oxford, namanya Helen Hogan!” kata Bibi Ann.

-ooOoo-

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb