Kamis, 22 Juli 2010

The Authority Part 3 (Final)


Di London, Minggu Natal, saljunya putih sekali hingga menyakitkan mata bila kita melihat keluar dari kedai minum dan melihat orang berjalan keluar. Mereka berjalan di atas sepanjang jalan yang sudah menjadi rata karena dilindas kereta salju, dan menguning terkena air kencing kuda. Berapa kali musim dingin sudah dilewati Devon di London? Sepuluh kali! Yaitu semenjak pindah SMA ke London dari Jakarta. Ia memilih ikut ayahnya.
Waktu itu di perpustakaan Oxford, Devon menutup buku yang dia baca dan merasakan (bukan mendengar) seseorang sedang mengawasinya di belakang. Devon segera menoleh tapi ternyata tidak ada siapa-siapa.
Sementara itu, Rifki sedang sembunyi di balik rak buku.
-ooOoo-
Di Share House, Pagi hari, David sedang berkutat di depan laptopnya. Dia tersenyum penuh kemenangan mengetahui jebakannya berhasil. Dia telah mendapatkan data-data dari laptop Devon sekarang.
“Lihat ini!” kata David. Rifki, Henry, Harry, dan George yang tadi sibuk dengan urusannya masing-masing langsung mendekat ke David dan melihat apa yang baru saja didapatkannya. “Ini adalah data-data di laptop sepupumu itu, Rifki.”
“Benarkah?” tanya Rifki melihat sekumpulan data-data itu. Membukanya satu demi satu. “Iya, sepertinya kau benar!”
“Hore! Kau memang hebat, saudaraku!” ujar George.
“Sst..., jangan berisik! Di rumah ini juga tinggal putri Danny Hogan,”
“Dia wanita yang baik. Kurasa tidak mungkin dia adalah mafia,” ujar Harry.
Rifki yang tadi mengecek kumpulan data-data itu mendapati sesuatu, “mereka malam ini akan berkumpul di atas gedung kondominium yang tidak terpakai. Dimana itu?” tanyanya setelah menganalisa cookies Devon Murray.
“Sepertinya aku tahu kondominium yang tidak berpenghuni. Cukup jauh dari keramaian kota,” ujar David.
Tidak lama kemudian, terdengar suara kepalan tangan mengetuk pintu.
“Masuk!” kata George. Helen Hogan masuk dan dia menatap Rifki seakan hanya bicara padanya. “Steve, seseorang mencarimu!” kata Helen Hogan.
“Mencariku?” tanya Rifki.
“Maksudku, mencari kalian semua.”
“Katakan padanya suruh kesini!” kata Rifki.
“Maksudnya, bisa kau panggil dia kesini, Helen?” tanya Harry lebih halus.
“Of course!” kata Helen lalu melangkah keluar. Beberapa saat kemudian, seorang pria 44 tahun yang tidak lain adalah ketua tim penyelidikan FBI masuk. Dia William Grasp. Setelah masuk, pria itu menutup pintu kamar mereka.
“Bagaimana?” tanya William.
“Kami baru mendapatkan data dari laptop Devon Murray,” ujar Rifki.
“Hanya itu? Rifki, ingat! Tugas ini adalah tanggung jawabmu, aku harap kau bekerja cepat menangkap Devon Murray!”
“Baik, sir!”
-ooOoo-
Siang harinya...
Rifki menyamar menjadi mafia diantara puluhan mafia di atas gedung setengah jadi ini. Shelby Wilson pasti mengenalinya sebagai Steve Hallberg, yang kemarin telah menerima menjadi anggota mafia. Rifki terperangah kaget bukan main, dia melihat Harry datang bersama Helen Hogan juga ke tempat itu. Rifki mengucek matanya mengharap dia tidak salah lihat.
“Aku ingin memberi tahu untuk kalian semua! Sekarang, di sini ada seorang mata-mata!” kata Harry lalu mendelikkan matanya ke Rifki yang berada di barisan belakang mafia. “Dia ada disana!” kata Harry lalu menunjuk Rifki. Semua mata melihat ke arah Rifki. Sialan! Dia dijebak!
Harry berjalan mendekati Rifki. “Teman, maafkan aku. Tapi aku sejak awal memang bukan FBI. Aku mata-mata,” katanya. “Aku mendapat kabar dari sepupumu kalau dia kebobolan oleh David. Aku memanfaatkannya dengan membuat seolah-olah akan ada pertemuan mafia disini dengan membuat data palsu. Itu semua agar menjebakmu. Tapi kau tenang saja, aku tidak memberitahu Devon soal kau masih hidup. Aku ingin Devon tidak pernah tahu hingga kau telah benar-benar mati!”
Rifki membelalakkan matanya kaget. “Apa maumu sebenarnya?”
“Membunuhmu,” katanya lalu mengarahkan pistol tepat ke kepala Rifki. Tapi tiba-tiba, pistol itu jatuh. Bangunan setengah jadi itu berguncang, seperti mau ambruk. Rifki memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Secepatnya.
-ooOoo-
Di dalam boks telepon, Rifki mencoba menelepon ketiga rekannya, Henry, George dan David. Tapi sudah sejak tadi nomor mereka tidak juga aktif-aktif. Ada apa ini? Rifki keluar dari boks telepon karena ada orang lain yang juga tengah mengantri. Pria yang mengantri setelahnya sedang membaca sebuah koran hangat, halaman pertamanya bertuliskan: “Tiga Orang Remaja Tewas Dimutilasi Dalam Sebuah Share House”
DEG! Rifki benar-benar terkejut sekarang. Permainan mafia Eropa memang benar tidak disangka-sangka. Tiga remaja itu tidak lain adalah Henry, George, dan David! Dan pelaku mutilasinya adalah Bibi Ann sendiri. Rifki merebut koran itu dari pria tersebut.
“Hey!” kata pria itu tidak terima.
“Kau masuk saja!” ujar Rifki menunjuk boks telepon dengan mukanya. Ia lalu membaca koran itu. Diduga Bibi Ann sejak awal terkena gangguan mental seperti yang tertulis dalam surat kabar tersebut. Rifki langsung menduganya, Bibi Ann pasti kabur dari rumah sakit jiwa karena dibantu oleh mafia. Dan yang akhirnya menentukan mereka tinggal dimana sewaktu memata-matai Devon Murray adalah Harry Compton. Dan Helen Hogan, dia pasti menaruh obat tidur di sarapan ketiga rekannya sehingga mereka tidak menyerang ketika dimutilasi. Benar-benar rapih.
Rifki terdiam dan penyesalan besar menyesaki ruang dadanya. Menangkap Devon Murray adalah rencananya, dan karena itu ketiga rekannya mati terbunuh. Rifki melangkah pergi dengan jalan gontai. Entah hendak kemana.
-ooOoo-
Seseorang mengetuk pintu secara beruntun, Nida sadar dia harus segera membuka pintu. Ketika wanita itu membukanya, ia menekap mulut dengan kedua tangannya tidak percaya. Matanya nanar. “Rifki! Kau...? Kau masih hidup...?”
“Dimana suamimu?” tanya Rifki langsung berjalan masuk. Michael Murray keluar dari kamarnya dan melihat Rifki sedang berada di ruang tengah. Pria itu membelalakkan matanya, kaget luar biasa.
“Kau! Mahatir?!”
“Paman, dimana Devon?!”
“Tunggu! Bagaimana kau bisa masih hidup?!”
“Kejadian kematianku itu hanya sandiwara agar Devon mengira aku sudah mati. Sekarang aku ingin dia melihatnya sendiri kalau aku masih hidup dan siap menangkapnya!” kata Rifki.
“Aku sudah tahu kau memang masih hidup!” ujar Devon muncul dari pelosok ruangan.
“Kau ditangkap!” kata Rifki dan memperlihatkan lencana FBI nya.
Devon menyeringai, “lencana itu sudah tidak berguna karena kau bukan FBI lagi!”
“Apa?” pekik Rifki.
“Data tentang dirimu di komputer internal FBI dan kepolisian sudah kuhapus semuanya, Steve Hallberg!” ujar Devon. “Tidak ada yang tahu kau adalah FBI, ketiga temanmu pun telah mati”
“Ketua tim penyelidikan FBI, William Grasp!”
“Kudengar dari Helen Hogan, setelah pria itu keluar dari kamarmu, Hogan langsung menembak kepalanya dengan pistol yang digulung handuk, hingga desingannya meredem.”
Rifki mengepalkan tangannya kesal.
“Ada apa ini?” tanya Nida pada suaminya itu.
“Bukan apa-apa. Aktingku bagaimana? Bagus kan?” ucap Devon yang baru menyadari ada istrinya ada disana. “Aku hanya sedang berakting. Ingin menyaingi Rifki yang dulu berakting meninggal di depanmu!”
Nida ingin sekali menampar suaminya. Bermain-main? Kenapa harus seserius ini? Rifki juga, jadi kejadian itu hanya sandiwara? Nida menghentakkan kakinya melangkah pergi. Masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.
“Katakan padaku, enam tahun lalu kau menerima tawaran Steven Herald?” tanya Michael Murray.
“Iya. Lalu?” tanya Devon.
“Aku lebih baik mati daripada punya anak sepertimu!” ujar Michael lagi.
“Siapa peduli? Lagipula uang datang kepadaku seperti hujan deras yang tidak kunjung berhenti. Kau tidak mungkin dapat melewatinya melainkan kau kecipratan airnya sedikit karena memakai payung. Sekarang awan di atasku sedang mendung, aku akan hujan-hujanan setelah membunuhmu, Rifki!”
BUG! Sekepal tangan mendarat di pipi Devon sangat keras. Rifki meninjunya. “KAU TELAH MEMAKAN UANG HARAM! AKU TAHU KAU TAHU ITU KARENA KAU JUGA SEORANG MUSLIM!!” bentaknya.
Devon mengelap darah yang keluar dari bibirnya, setelah itu balas meninju Rifki, “JANGAN PURA-PURA PEDULI?!”
“PURA-PURA PEDULI? AKU TIDAK PERNAH PURA-PURA PEDULI! KAU SEPUPUKU DAN AKU TIDAK MAU KAU TERJEBAK DENGAN KEADAAN SEPERTI INI!”
Devon terhenyak. Dia juga bisa melihat Rifki mengenakan sepatu yang diberikan darinya. Aku tahu kau memang peduli, tapi aku tidak ingin kau bersedih ketika aku sudah mati, jadi kau harus membenci diriku, batin Devon.
“Aku akan berjuang mendapatkan identitasku kembali, setelah itu aku akan langsung menangkapmu!” ujar Rifki lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Michael Murray melihat putranya dengan tatapan luar biasa shock.
“Aku memang menerima tawaran enam tahun lalu, tapi percayalah aku tidak pernah membunuh orang!” ujar Devon ingin membuat ayahnya yakin.
“Aku tidak percaya...” kata Michael Murray, “Kau bukan anakku lagi, Devon!”
-ooOoo-
Tengah malam, di sebuah pelabuhan tua yang sudah lama tidak lagi terpakai. Para mafia sedang berkumpul disini, dan Devon termasuk diantara mereka.
“Devon, kau dipanggil bos di mobil!” kata Mandarlo menghampiri rekannya itu. Tanpa berkata apapun lagi, Devon langsung berjalan menuju mobil sedan berwarna hitam. Steven Herald sedang berada di dalam sana. Pria berambut ikal itu memberi isyarat agar Devon masuk. Devon pun masuk dan duduk di samping pria yang tidak lain adalah bos terbesar mafia Eropa tersebut.
Devon mulai keringat dingin. Dia membawa pistol di saku jasnya dan ingin sekali menembak pria di sampingnya ini. Tapi seakan ada sesuatu yang menahannya.
“Aku sudah mendengarnya dari Helen Hogan kalau kau telah bertemu lagi dengan sepupumu yang ternyata FBI itu bukan?”
“Iya.”
“Walau selama ini kau menolak untuk diberi upah seperti mafia lain dan menolak untuk membunuh dan mencuri. Aku ingin kau membunuhnya. Aku sangat percaya padamu dibandingkan Danny Hogan maupun Shelby Wilson!” katanya lalu menepuk pundak Devon. “Sekarang kau bisa keluar.”
-ooOoo-
“Anda orang kesepuluh untuk minggu ini menggunakan lencana palsu atas nama FBI!” ujar seorang polisi. Malam itu, Rifki sedang berada di kantor kepolisian meminta identitasnya dikembalikan. “Lagipula tidak ada data tentang polisi bernama Rifki Mahatir ataupun Steve Hallberg. Kau tidak boleh mempermainkan polisi dengan mengaku memiliki dua nama seperti itu!”
“Itu karena data saya dihapus!”
“Siapa yang tahu kalau kau bohong?” tanya polisi itu. Rifki mendesah kesal. Dia ingin menjelaskan lebih detail lagi tapi perhatiannya teralihkan pada seseorang. Harry Compton. Mengenakan seragam kepolisiannya, bersama para polisi, sibuk sebagaimana seorang polisi. Padahal sebenarnya dia sendiri adalah mafia.
“Ayo! Kita harus ke bandara sekarang!” Harry mengenakan jaketnya yang tebal, beberapa polisi lainnya juga mengenakan jaket. Harry tampak kaget melihat Rifki menghalang jalannya.
“Sekarang saatnya mereka tahu kalau kau mata-mata kepolisian!”
“Lupakanlah masalah itu! Sekarang ada yang lebih penting!”
“Lupakan? Bagaimana bisa?”
“Karena ini sangat rumit!”
“Apa yang menghalangmu berangkat, Harry?” William Grasp tiba-tiba muncul. Rifki terkejut melihatnya, Bukankah seharusnya pria itu sudah mati? Seperti dikatakan Devon? “Rifki?” tanya William Grasp heran.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Rifki heran.
“Jika kau ingin tahu, ikutlah ke pelabuhan!” ujar Harry.
-ooOoo-
“Kenapa kau tidak juga keluar?” tanya Steven Herald.
“Malam ini yang mati ditanganku bukanlah Rifki, melainkan dirimu!” ujar Devon mengarahkan pistol yang dipegangnya ke kepala Steven Herald. Para mafia yang melihat kejadian itu langsung mengarahkan pistol mereka ke Devon dari balik jendela mobil.
“Turunkan pistolmu, nak. Kau bisa mati,” ujar Steven Herald kalem.
“Aku tahu. Tapi aku tidak seperti dulu.”
“Kau makin mirip dengan ayahmu!”
“Itu kebanggaan untukku, terimakasih,” ujar Devon seraya menarik pelatuk pistolnya. Tapi.., tidak ada bunyi peluru merajam dan yang keluar adalah gelembung-gelembung sabun. Itu pistol mainan! Devon kaget bukan main. Bagaimana bisa? Ah! Kejadian di kedai kopi ketika ia tidak sengaja menabrak seorang anak kecil! Itu pasti telah menukar pistol mereka.
“HAHAHAHA....!!!” Steven Herald langsung tertawa terbahak-bahak. “Kau memang tidak bisa membunuhku, Devon...”
Seorang mafia langsung membuka pintu mobil dan menyeret Devon keluar. Steven Herald juga keluar, dia kembali menghisap cerutunya. “Tom! Habisi bocah ini!” katanya. Seorang pria raksasa, tak jauh beda besar badannya dengan O’ Bryan muncul. Dia lalu mengangkat sebuah kursi kayu di dekat situ dan membenturkannya ke kepala Devon. Devon langsung jatuh. Dia lalu mengangkat Devon tinggi-tinggi dengan mencekik lehernya, lalu memukul-mukul perutnya. Setelah itu membanting Devon ke tanah keras-keras seakan-akan dia adalah laba-laba beracun.
“Kalian semua! Habisi dia!” suruh Steven Herald menyuruh anak-anak buahnya yang lain. Mereka pun keroyokan. Sebuah besi menghantam punggung Devon, sepatu menginjak-injak tubuhnya dan meremukkan tulang-tulangnya. Tom lalu membentur-benturkan kepala Devon dengan kepalanya, dan membantingnya lagi. Sementara Steven Herald terus menghisap cerutunya.
“Aaargh....!!!” Devon teriak kesakitan. Ia di tahap sekarat.
“Jika sudah mati buang saja ke laut!” kata Steven.
“Angkat tangan! Kalian dikepung!” puluhan polisi datang dan mengepung mereka. Steven Herald tetap tenang, dia tahu ada jalan melarikan diri. Toh, dia sudah sering kesini. Rifki hendak mengejar Steven tapi ditahan Devon yang memaksakan diri untuk berdiri.
“Steven Herald milikku! Berikan pistolmu!” Devon mengambil pistol Steve dan lalu berjalan tergopoh-gopoh mengejar Steven. Pandangannya buyar. Malam begitu dingin, Devon terus mengejar Steven hingga ujung dermaga yang menjorok ke laut. Steven terjebak.
“Kau harus mati!”
“Setelah itu kau tidak berbeda jauh denganku, Devon. Kau akan menjadi pembunuh!”
DOR!
Peluru merajam. Devon tersentak. Ia memegangi dadanya yang bolong tertembus peluru dari belakang. Shelby Wilson menembaknya. Seutas kalimat terucap dari mulutnya. Syahadat. BRUK! Tubuhnya jatuh menghantam dermaga dengan luka tembak menganga di dada Devon sebelah kiri. Dia mati. Benar-benar mati tidak seperti Rifki, Henry maupun George waktu itu.
Tidak lama kemudian...
“Angkat tangan kalian! Kalian dikepung!” kali ini puluhan polisi mengelilingi mereka. Rifki langsung berlari menghampiri sepupunya itu dan melepaskan jaketnya untuk menyelimuti jasad sepupunya itu.
-ooOoo-
Beberapa hari kemudian, kala itu mentari bersinar begitu cerah. Rifki tengah menghadiri upacara pemakaman Devon. Harry menghampirinya dan berdiri di samping Rifki.
“Kau beruntung memiliki sepupu sebaik dirinya!” kata Harry. “Devon memintaku melakukannya. Pura-pura menjadi jahat di depanmu agar Helen Hogan percaya. Cookies itu memang sengaja dibuat, agar kau datang ke atas gedung. Dan tentang Henry, George, dan David, mereka sebenarnya masih hidup dan pulang ke Skotlandia. Sementara Bibi Ann adalah utusan FBI, bukan mafia. Walaupun Helen Hogan memang memberi mereka obat tidur, tapi setelah itu dia pergi bersamaku sehingga dia tidak melihat sendiri kematian Henry, George dan David. Setelah itu untuk meyakinkan para mafia, kami membuat berita palsu di koran,”
“Gempa yang terjadi di gedung juga termasuk rencana Devon, dia ingin agar kau bisa melarikan diri. Katanya, dia pasti akan mati setelah membunuh Steven Herald, jadi dia tidak ingin kau menangisi kepergiannya!”
Rifki terdiam mendengarnya, ucapan itu menggema di seluruh rongga jiwa. Tidak lama kemudian, Henry, George, dan David datang dan ikut memandangi upacara pemakaman tersebut.
Jika akhirnya seperti ini...
Maka harmoniskanlah semuanya, Ya Robbi...
Semata hanya untukmu...

Cerita ini disingkat dari yang sebenarnya kubuat sebelumnya dengan judul yang sama.

Reaksi:
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. uwah...baru mampir nih...
    keren bgt ceritanya..
    oya, namaku ami, 15 menuju 16 th..salam kenal yaa

    BalasHapus
  2. keren banget..
    serius...
    *jd makin semangat menulis...
    btw pengarang aslinya sapa?

    oh ya,. salam kenal, berkunjung ya k blog ku..
    ^^

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...