Senin, 20 September 2010

Rainbow at The School Part 4


Pukul 3 sore, Huang Zi melangkah menyusuri jalan menuju rumahnya setelah seharian bekerja di toko. Walau sebenarnya dia anak orang kaya, tapi dia ingin memulai semuanya dari awal sebelum perusahaan ayahnya jatuh ke tangan dia. Langkahnya semakin dekat dengan pintu rumah dan semakin dekat. Hingga akhirnya dia memutar kunci dalam lubang kunci di pintu dan membukanya…
“Selamat datang…” sahut Jie Fei yang sudah berada di dalam rumah tersebut. Dia memakai pakaian seperti seorang pelayan. Huang Zi terperangah, dia melihat seisi rumahnya yang tampak lebih rapih daripada terakhir dia tinggalkan.
“Kenapa kau bisa disini?” tanyanya dengan nada tercekat.
Jie Fei tersenyum penuh kemenangan. “Rahasia…”
“Darimana kau mendapatkan kunci rumahku?” tanya Huang Zi masih tidak percaya.
“Memangnya kenapa? Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, termasuk kunci rumahmu, Kak Ho.”
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
“Kak Ho kan sudah tahu. Aku menginginkanmu.”
“Tapi aku bukan sesuatu yang bisa kau miliki!” Huang Zi tidak kalah sengit.
“Apa?”
“Aku sudah tahu, kau adalah anak orang kaya. Kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau, bukankah begitu? Tapi apa kau tidak bisa mengerti, mengejarku hanya membuang waktumu saja. Kumohon, berhentilah melakukannya karena itu merugikanmu!”
“Tapi, setidaknya berikanlah aku kesempatan.”
“Sampai kapan?” tanya Huang Zi.
“Sampai kau jatuh cinta dengan orang lain, aku akan pergi.”
Huang Zi tersenyum tipis, dia menghela nafas. “Aku orang jahat. Bahkan jika kau tahu isi pikiranku, kau akan terkejut. Kau ataupun orang lain tidak ada artinya bagiku, jadi jangan bahas soal cinta. Itu menjijikan.”
Jie Fei terdiam. Dia mendengar dari mulut orang-orang pun, Huang Zi bukanlah orang yang mudah dekat dengan orang lain. Dia bahkan tidak pernah mengatakan kata ‘kita’ dengan siapapun. Gadis ini menghela nafas. “Kalau begitu, biarkan aku menjadi temanmu.”
“Huh?”
“Biarkan aku jadi temanmu, Kak Ho. Aku tidak akan meminta lebih daripada itu,” ujar Jie Fei walau dalam hatinya dia berharap dari pertemanan mereka, perasaan suka Huang Zi padanya akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
“Apa berteman itu mudah?”
“Tentu saja!”
“Buktikan!”
“Aku berteman dengan Wen Tse! Dia adalah orang yang baik.”
“Wen Tse? Apa kau yakin, dibalik pertemanannya denganmu tidak ada niat tersembunyi?”
“Tentu saja!”
“Jangan terlalu yakin. Saranku, berhati-hatilah!”
“Kau kenapa sih? Sejak kecil kau selalu merendahkan orang lain! Bagaimana bisa kau punya teman!” bentak Jie Fei
“Kau sendiri? Apa ketika kau kecil kau punya teman, nona?”
“A.. aku…”
“Ada seorang gadis yang mirip denganmu. Dia merasa memiliki banyak teman, padahal sebenarnya tidak. Aku sangat kasihan padanya, tapi dia juga menyebalkan. Hey, apa gadis jepang itu adalah kamu?”
“Huh?” Jie Fei tersentak. Jika Huang Zi tahu dialah gadis yang sangat kasihan dan menyebalkan itu, itu pasti akan sangat memalukan. “Tidak mungkin. Aku ini kan bukan orang Jepang!”
“Kau bisa saja orang Jepang yang sedang menyamar. Dan kau datang ke sini untuk mengejarku karena ucapanku tujuh tahun yang lalu itu telah menyadarkanmu sesuatu. Kau jatuh cinta padaku karena aku tidak sama dengan anak-anak lainnya, benar kan?”
“A.. aku tidak mengerti!” Jie Fei gugup. Bagaimana ini? Huang Zi memang tidak sebodoh yang dia pikirkan.
“Bukankah kau ingin bercerita tentang peristiwa tujuh tahun yang lalu? Ceritakan!”
“I… itu… waktu itu… aku… melihatmu dari kejauhan dan entah kenapa kau mirip seseorang. Kau mirip dengan teman lamaku yang sudah meninggal. Aku menghampirimu tapi sepertinya kau tidak menyadarinya. Tapi benar, kau memang mirip dengan Xiao Ma,” kata Jie Fei berbohong.
“Karena itu kau jatuh cinta denganku?”
“Iya, aku jatuh cinta denganmu karena kau mirip dengan Xiao Ma. Sayangnya Xiao Ma meninggal setelah dia menolongku lolos dari sebuah kecelakaan. Aku selamat, tapi dia tertabrak mobil dan dia meninggal.”
“Lalu kenapa kau berkata sejak kecil aku selalu merendahkan orang lain?”
“Karena aku mendengarnya dari anak-anak lain yang sekolah di sekolahmu. Aku menyelidiki tentang dirimu dan kata mereka kau adalah orang aneh yang suka memandang rendah orang lain!”
“Kau tahu itu. Jadi jangan berteman denganku!”
“Kenapa? Apa berteman itu sangat sulit?! Aku akan membuktikan padamu, Kak Ho! Aku akan buktikan kalau aku bisa punya banyak teman! Aku tidak akan menyerah!”
Huang Zi hanya diam. Walau sebenarnya dia terperangah mendengar Jie Fei berkata tidak akan menyerah. Huang Zi tahu kalau gadis itu… sungguh-sungguh.
***
Jie Fei keluar dari rumah Huang Zi dengan sedikit kesal. Dia seakan terbakar emosi ketika Huang Zi berkata padanya kalau berteman itu sulit, makanya Huang Zi tidak mau punya teman. Langkah Jie Fei semakin pelan. Dia mulai bisa menguasai emosinya dan menyadari apa yang baru saja dia katakan. Dia telah menantang dirinya sendiri, dia harus memiliki banyak teman! Tapi, dia bahkan tidak bisa memulainya. Ahh…. Rasanya ingin dibenam saja ke dalam bumi.
Yang Jie Fei tahu sejak kecil, caranya berteman adalah dengan memberi mereka sesuatu yang mereka sukai. Hanya itu. Tapi, dia tidak mungkin melakukan cara itu lagi. Jie Fei terduduk di bangku depan sebuah toko. Baru saja dia katakan kalau berteman itu mudah dan sekarang dia harus membuktikannya.
Gadis itu berdiri, menarik nafas, dan menyiapkan mentalnya menyapa orang yang tidak dikenal.
“Ni Hao! Selamat siang!” sapa Jie Fei ketika dua orang wanita melintas di depannya. Wanita itu hanya melihatnya dengan sorotan mata tidak mengerti dan terus berlalu. Jie Fei mendesah dan kembali duduk di bangku. Jika mencari teman di sekolah pasti juga akan sulit mengingat dia mulai dibicarakan setelah menyatakan cinta pada Huang Zi. Hff…
Ting! Tiba-tiba saja Jie Fei mendapat solusi. Kak Xiao Lin, seorang kakak yang baik hati itu pasti akan bisa membantu masalahnya. Jie Fei pun mengambil ponsel nokianya dari kantung jaketnya dan menelepon Xiao Lin.
“Wei?” tanya Xiao Lin di seberang sana.
“Apa kakak bisa membantuku?”
“Ada apa?”
“Kakak pasti punya banyak teman, kan? Kenalkan padaku dong!” ujar Jie Fei.
“Tentu saja aku punya. Memang kenapa?”
“Aku hanya ingin membuktikan pada Kak Ho kalau berteman itu mudah.”
“Pasti terjadi perselisihan di antara kalian.”
“Ya begitulah.”
“Baiklah, aku punya beberapa kenalan. Bagaimana kalau jam tujuh malam nanti kita bertemu?”
“Dimana?”
“Di depan gerbang sekolah. Setelah itu, aku akan membawamu ke tempatnya.”
“Xie xie ni,” ujar Jie Fei lalu menutup teleponnya.
***
Jam tangan Jie Fei menunjukkan pukul 5 sore. Masih ada dua jam lagi sebelum dia bertemu dengan Xiao Lin. Sekarang, Jie Fei tengah memasuki sebuah toko buku. Matanya berkeliling mencari buku tentang hubungan antar manusia. Buku tentang itu dia embat semua tanpa pandang bulu. Bahkan dia sendiri cukup kewalahan membawa tumpukan buku yang menutupi pandangannya tersebut.
BRUK! Seseorang menabraknya hingga tumpukkan buku tersebut jatuh berantakan di lantai. Orang itu meminta maaf seraya membantunya membereskan buku-buku tersebut.
“Wen Tse?” gumam Jie Fei melihat orang tersebut yang ternyata adalah temannya di sekolah.
“Eh? Jie Fei?” ujar Wen Tse seraya membereskan buku-buku tersebut.
“Kebetulan sekali ya?”
“Iya.” Wen Tse pun menyerahkan seperempat dari tumpukan buku tersebut ke Jie Fei, sementara sisanya dia yang bawa.
“Sedang mencari buku apa?” tanya Jie Fei.
“Buku tentang Humaniora. Sudah ketemu tadi di sebelah sana.” Wen Tse menunjuk dengan dagunya, itu karena dia tidak mungkin menunjuk dengan tangannya yang kini membawa tumpukan buku tebal yang hendak dibeli Jie Fei.
“Aku juga sudah ketemu banyak sekali.”
“Iya, ini pasti tentang Kak Huang Zi, kan?”
“Siapa lagi kalau bukan dia? Tadi aku berkata akan membuktikan padanya kalau berteman itu mudah. Aku berkata aku akan memiliki banyak teman.”
“Berteman? Hanya berteman?” tanya Wen Tse menaruh tumpukan buku tersebut di meja kasir untuk dihitung.
“Aku harap dari pertemanan itu dia bisa lambat laun menyukaiku,” ujar Jie Fei.
Aku harap juga dari pertemanan kita, kau bisa lambat laun menyukaiku,” batin Wen Tse. “Apa yang membuatmu menyukai pria aneh seperti Huang Zi?” tanya Wen Tse.
“Itu karena tujuh tahun yang lalu dia telah menyadarkanku arti dari pertemanan.”
“Hanya itu?”
“Iya. Lalu kenapa?”
“Dia tidak pantas menjadi orang yang menyadarkanmu arti pertemanan, karena dia sendiri tidak punya teman. Apa karena apa yang telah dia lakukan itu membuatmu sekarang punya banyak teman, tidak bukan?”
“Kenapa kau bicara begitu?”
“Aku hanya bicara apa yang menurutku benar. Tapi kebenaran itu relatif.”
“Malam ini aku ada janji dengan Kak Xiao Lin ke suatu tempat, apa kau mau ikut?”
“Tidak. Aku ada janji dengan seseorang”
“Semuanya jadi 520 yuan,” kata si kasir. Jie Fei pun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Enam lembar uang 100 yuan.
“Ini kembaliannya, nona. Terimakasih,” kata si kasir.
***
Xiao Lin membawa Jie Fei ke dalam sebuah klab malam. Jie Fei sedikit ragu memasuki tempat tersebut. Semua wanita di sana memakai pakaian seksi yang dimaksud untuk menggoda para pria. Tentu saja sejak kecil Jie Fei tidak pernah masuk ke dalam tempat ini. Bahkan melihat di televisi juga tidak pernah. Orang tuanya sangat menjaganya dari pergaulan dunia luar.
“Xiao Lin!!!” seorang gadis melambaikan tangannya ke arah Xiao Lin dari jauh. Gadis itu bersama dengan dua temannya duduk di sebuah sofa yang melingkar. Mereka memakai pakaian yang memamerkan lekuk tubuh.
Xiao Lin melangkah mendekati temannya itu sambil menggandeng tangan Jie Fei. Mereka berdua pun duduk bersama tiga gadis tadi.
“Jadi kaulah yang bernama Jie Fei?” tanya salah seorang dari mereka.
“Iya.”
“Santailah. Kita juga masih SMU.”
“Katanya kau mau memiliki banyak teman, kan? Disini sangat mudah mencari pacar, apalagi teman,” kata yang lain.
“Mulai sekarang kita semua adalah temanmu, Jie Fei,” ujar Xiao Lin tersenyum.
Dua orang pria datang menghampiri mereka. “Hey, boleh kami bergabung?” tanya dua orang pria yang tampaknya sudah kenal dengan ketiga gadis tersebut. Mereka pun langsung duduk di sofa tanpa menunggu jawaban dari ketiga gadis SMU itu. Kehadiran kedua pria tersebut membuat Jie Fei semakin tidak nyaman.
Mereka mulai bercanda satu sama lain tanpa mempedulikan kehadiran Jie Fei. Sementara Jie Fei sudah semakin mengantuk. Dia ingin pulang dan tidur malam ini. Ini bukan tempatnya. Ahhh…. Kenapa Kak Xiao Lin membawaku ke tempat seperti ini?? Jie Fei membatin.
“Jie Fei, sepertinya kau mulai bosan. Bagaimana kalau kita bermain?” tanya salah satu dari gadis tersebut.
“Bermain apa?” tanya Jie Fei.
“Lomba merayu pria melawanku. Bagaimana?”
“Apa?!” Kantuk Jie Fei seakan hilang semua. Me-ra-yu pria?
“Bukankah kita teman? Kau harus terbuka terhadap kami…”
“Jie Fei sudah memiliki orang yang dia cintai, dia tidak mungkin merayu pria lain,” bela Xiao Lin.
“Ah.., ini kan cuma mainan. Apa kau lihat anak muda yang di sebelah sana?” tanya gadis itu menunjuk seorang pria yang sedang duduk dekat meja bartender. “Namanya Kai, dan dia sangat tajir. Jika kau berhasil membuatnya mencium pipimu maka kau menang. Lalu apa kau lihat pria yang sedang menari itu? Itu bagianku.”
Jie Fei berjalan dengan gugup mendekati Kai, sementara gadis itu mendekati pria yang lain. Jie Fei tidak percaya dia akan melakukan ini atas nama pertemanan. Niatnya memperluas pertemanan, kenapa harus merayu pria segala?
“Ni Hao, apa aku boleh menemanimu?” tanya Jie Fei sedikit gugup dan duduk di samping lelaki berusia 22 tahun tersebut.
“Hm.”
“Namamu siapa?”
“Kai.”
“Namaku Jie Fei.”
“Salam kenal.”
“Sama-sama.”
“Aku tidak berniat menggodamu, tapi bisakah kau terlihat seperti mencium pipiku? Jangan cium beneran. Tapi hanya kelihatan begitu dari sana saja. Bisa kan?” bisik Jie Fei.
Lelaki itu heran tapi setelah itu dia tersenyum tipis. “Baiklah,” ucapnya seraya hendak seperti sedang mencium pipi kiri Jie Fei.
DEG! Mata Jie Fei terbelalak mendapati seorang lelaki berpakai bartender berdiri di dekat mereka melihat peristiwa itu. Orang itu… Huang Zi!
***

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. bagus ya ceritanya dramaya dapet bgt.. Haha
    dtunggu yah lanjutanya.. Hehe

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...