Selasa, 13 Juni 2017

Hikmah Peringkat Terakhir



Dari setiap kejadian yg tidak kita sukai atau semenyakitkan apapun itu, percayalah pada suatu hari nanti kita akan menyadari hikmah dibalik peristiwa itu dan terkejut bahwa memang skenario Allah-lah yg terbaik. Salah satu cerita yg sering saya sampaikan adalah saat pergantian semester masa-masa MA di HK. Alhamdulillah ratusan anak SMA sudah mendengarnya, dan mudah-mudahan sedikit terinspirasi.

Ada orang mengatakan bahwa otak saya ini pastilah sangat cerdas, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai konferensi internasional, menjuarai berbagai perlombaan, dan menjadi mahasiswi berprestasi. Atau orang tua saya sangat kaya hingga bisa membiayai saya terbang ke Amerika dan menghadiri sebuah forum pemuda di Kantor Pusat PBB. Tidak, sama sekali tidak! 

Wallahi, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih cerdas, pintar, berkontribusi pada masyarakat daripada diri saya. Mereka orang yang memiliki kebulatan tekad, komitmen, kerja keras dan sangat dapat diandalkan oleh teman-teman & organisasi dimana mereka bernaung. Meski begitu, saya bersyukur memiliki ‘cerita’ dari pengalaman saya sendiri yang bisa saya share. Berharap mungkin orang lain ingin mendengarnya dan memotivasi mereka yang juga merasakan hal sama.

Dulu saat MA, tempat duduk favorit saya adalah kursi yang paling pojok belakang. Suatu hari, wali kelas membuat tabel rangking di kertas HVS. Lalu sehelai kertas tersebut dioper dari depan ke belakang.... saya melihat nama saya ada disana.... menduduki peringkat 29 dari 30 siswa. Sementara seisi kelas telah melihat kertas tsb karena saya paling terakhir lihat.

Juga ketika daftar akumulasi nilai (mata pelajaran umum) satu angkatan ikhwan-akhwat dikumpulkan menjadi satu tabel besar, dipajang di mading kantor Tata Usaha. Nama saya disana, berada di bagian paling bawah-bawah.

Saya memang sudah sering ditegur guru di kantor, terancam tidak naik kelas, nilai sering nol, mengerjakan tugas satu semester dalam semalam, dsb. Sementara hobi & aktivitas saya semasa MA adalah nulis berpuluh-puluh novel-novelan ala drama korea, yang sebagian ceritanya saya tulis disini. Hingga tiba hari itu... hari dimana nilai saya menjadi tontonan seisi kelas. Tangan saya gemeteran, napas tertahan, dan mau menangis di kelas saat itu juga.

Ketika menceritakan pengalaman ini di berbagai sesi talkshow, entah kenapa banyak siswa-siswi SMA relatable dengan apa yang saya alami. "Koq gue banget ya?". Pernah juga saya mengisi acara anak SMA di satu kelas yg di-judge "Paling Bodoh" siswa-siswanya. Satu kelas itu berisik minta ampun dan saya katakan dengan lantang, "Masa depan kalian tidak ditentukan oleh nilai-nilai kalian di rapot!" dan mereka terlihat tercengang mendengar itu. Yg menentukan masa depan adalah bagaimana sikap kita untuk tidak menyerah & terus belajar. Juga tentunya doa orang tua.

Apalagi ketika memasuki dunia kuliah. Kita akan belajar bahwa selalu ada langit di atas langit. Kita akan menemukan banyak orang yg lebih cerdas, pemikirannya lebih kritis, lebih rakus terhadap buku-buku, dan lebih berkontribusi pada sesama. Mereka cenderung talk less do more.  Ketidakmaluan menjadi penting untuk mengakui bahwa kita ini masih bodoh sambil terus belajar, belajar, dan belajar.

Inilah yg disebut psikolog sebagai GRIT yang akarnya adalah growth mindset (pola pikir yang terus berkembang). Inilah yang akan membedakan si pintar dan si pembelajar. Teruslah merasa bodoh, karena tujuan belajar bukan untuk menjadikan yg amatir jadi ahli lalu berhenti, BUKAN!! Melainkan demi pembelajaran itu sendiri.


“Never stop learning, because life never stop teaching.”

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...