Jumat, 11 Agustus 2017

Pembatasan Kelahiran dan Keluarga Berencana



Akhirnya mengulas lagi tentang Keluarga Berencana (KB). Islam adalah agama universal dan harus mampu menghadapi dinamika perkembangan zaman dan menciptakan maslahah bagi ummatnya. Dan menurut penulis, ber-KB adalah salah satu bentuk ikhtiar demi mecapai kemaslahatan tersebut. Silakan dibaca artikelnya sampai selesai :D




Refleksi sejarah, program KB memang pada awalnya dipicu oleh pandangan Thomas Robert Malthus (1798) mengenai pentingnya pembatasan kelahiran (birth control). Dimana pembicaraan ini menjadi penting dengan dalih bahwa jumlah penduduk cenderung meningkat secara geometris (deret ukur) sementara kebutuhan riil seperti pangan meningkat secara aritmatik (deret hitung). Itu artinya, akan tiba suatu masa dimana terjadi ledakan jumlah penduduk besar-besaran, sementara stok pangan sangat terbatas dan kelaparan merajalela.

Namun, seiring dengan perkembangan wacana tentang “hak asasi manusia” termasuk di dalamnya adalah “hak-hak reproduksi”, konsep pembatasan kelahiran (birth control) ini pun berkembang menjadi yang kita kenal sebagai konsep Keluarga Berencana (family planning) atau KB. Dalam konsep keluarga berencana (family planning) isu yang dibahas terdiri atas dua hal: 1) Birth control dan 2) Planning Parenthood.

Birth control adalah konsep sebelumnya yang dikemukakan Robert Malthus, yaitu pembatasan kelahiran atau menjarangkan keturunan. Dalam Bahasa Arab disebut sebagai Tahdiid al-Nasl (membatasi keturunan).

Sementara Planning Parenthood ini menitikberatkan kepada tanggung jawab orang tua untuk menciptakan kehidupan keluarga yang aman dan sejahtera. Meskipun, membangun keluarga yang aman dan sejahtera ini tidak dengan membatasi jumlah anak. Dalam Bahasa arab, ini disebut sebagai Tandzim Al-Nasl (mengatur keturunan). Dengan masuknya konsep Planning Parenthood, maka bicara KB bukan melulu bicara mengenai membatasi jumlah anak, melainkan juga bagaimana membangun keluarga yang berkualitas.

Berkaitan dengan ini, beberapa ormas Islam di Indonesia sebenarnya memiliki program berkaitan dengan KB. Misalnya NU memiliki program “Keluarga Maslahah” atau juga Muhammadiyah memiliki program “Keluarga Sakinah”. Konsep KB dalam ormas-ormas Islam ini lebih bicara mengenai merencanakan keluarga, bukan membatasi kelahiran. Sesuai dengan tujuan ideal KB yakni menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Beberapa ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Sayyid Sabiq membolehkan KB dalam hal pembatasan jumlah kelahiran dengan beberapa alasan seperti masalah kesehatan ibu dan menghindari kesulitan hidup. Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah membolehkan seseorang untuk melaksanakan KB dengan alasan sang ayah adalah seorang faqir, tidak mampu memberikan pendidikan pada anak-anaknya, dan sang ibu adalah orang yang lemah jika terus melahirkan. Ingat, Kata kuncinya untuk memilih atau tidaknya ber-KB adalah “Ketangguhan Keluarga”.

Sementara itu dalam kitab Imam Al-Ghazali al-Musytasyfa, Islam hadir untuk melindungi 5 hal dasar, diantaranya adalah Hifdz Al-Nasl (hak dasar atas perlindungan keturunan, hak melanjutkan generasi) dimana KB merupakan salah satu manifestasi dari hak dasar tersebut. Karena KB bersifat sebagai ‘Hak’ dan bukan ‘Kewajiban’ maka sudah seharusnya program ini dilaksanakan tanpa ada paksaan dari siapapun. Memilih ber-KB harus dilaksanakan secara sukarela dan disertai informasi-informasi yang cukup.

Sebagai penutup, mengingat konsep “Keluarga Berencana” lebih memiliki makna sebagai perencanaan keluarga dibandingkan pembatasan jumlah anak, maka lebih penting untuk memilih calon suami atau istri yang dapat mengimbangi dalam komunikasi kehidupan berkeluarga. Misalnya dalam pembicaraan mengenai peran pengasuhan masing-masing dan pendidikan yang ingin mereka berikan kepada anak-anak mereka di masa depan. Wallahu’alam.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...