Senin, 31 Mei 2010

Hell Phone

Oleh Dini Atika

Mikrobus seperti berjalan lambat dalam penglihatanku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari Cairo ke Alexandria. Aku baru saja bertemu dengan Kak Sarah, kakak kelasku saat di Sekolah Menengah di Alexandria. Aku tanpa sengaja bertemu dengannya saat aku menyerahkan penelitianku di Al-Azhar. Dia benar-benar berbeda sekarang. Kini ia mengenakan jilbab panjang yang menutupi rambut hitam panjangnya. Belum lagi kini ia tak mengenakan kaus ketat kebanggannya dulu. Sekarang hanya gamis panjang yang menyelimuti tubuhnya yang tinggi semampai. Ia benar-benar berubah. Kini tak semua orang bisa mengetahui kalau Kak Sarah dulu sangat cantik. Aku pun terlibat perbincangan seru dengan Kak Sarah.
“Anti bisa bilang begitu karena anti belum mengerti maksud hijab yang sebenarnya,” ujar Kak Sarah kala itu saat aku mempermasalahkan tentang hak asasi perempuan dan hal-hal lain yang menyangkut soal pornografi.
“Letak masalah bukan pada mengerti atau tidak mengerti, Kak! Justru persoalan ada pada penerapannya. Kalau sekarang diberlakukan hukum anti-pornografi bukankah banyak perempuan yang merasa diberatkan?” belaku.
Kak Sarah hanya tersenyum mendengarnya, “Kakak sendiri tidak merasa berat menjalankannya. Kakak malah merasa lebih damai.”
“Tapi bukankah dengan itu tak ada lagi yang menyukai kakak? Kakak kan terkenal cantik,” tanyaku masih penasaran. Aku termasuk salah satu feminis di kampus.
Senyum Kak Sarah mengembang semakin lebar, “Kakak tidak ingin mendapat perhatian orang lain karena kecantikan kakak. Kecantikan kakak bukan untuk dijual murah. Ini milik Kakak yang hanya akan Kakak perlihatkan ke suami Kakak nanti.”
Aku mencibir, “Bukankah justru akan susah mencari suami kalau memakai penutup kepala seperti itu?”
“Adek Shofi sebenarnya mau bertanya apa?” tanya Kak Sarah, “Mau menanyakan tentang mencari suami, atau menanyakan masalah hukum pornografi?”
“Bagiku tetap saja. Bukankah pornografi juga bagian dari seni? Bahkan Negara Jepang menganut pendapat ini. Dan mereka menjadi negara yang kebudayaannya diakui oleh Dunia...”
“Mereka juga menganut paham bunuh diri itu seni lho...” potong Kak Sarah.
“Tapi kalau begitu kebudayaan akan berbenturan dengan undang-undang dong! Sementara undang-undang juga melindungi kebudayaan,” tambahku tak menggubris ucapan Kak Sarah barusan, “Bagaimana dengan patung Juliet di Verona? Atau patung-patung Romawi yang tak mengenakan pakaian? Mereka adalah karya seni yang tak ternilai harganya. Bahkan salah satu dari kebudayaan di Negara Indonesia ada ritual memegang payudara patung leluhur mereka. Bagaimana pula dengan baju-baju tradisional? Beberapa baju sangat terbuka tapi dianggap sebagai kebudayaan. Dengan adanya Undang-undang pornografi tidak hanya perempuan yang merasa tersiksa, melainkan seni juga tak lagi mendapat tempat di negeri ini.”
“Anti terlalu jauh memikirkannya ukhti,” ujar Kak Sarah yang dari tadi mendengar celoteh panjangku, “Kebudayaan dan Seni memiliki tempatnya sendiri dalam undang-undang. Sementara Pornografi ada dalam undang-undang kriminalitas. Tidakkah anti menyadari kalau kriminalitas bermula dari satu hal?”
“Apa?”
“Wanita.”
Dan disini kini aku terdampar. Dalam Mikrobus mini menuju ke Alexandria. Saat itu aku meninggalkan Kak Sarah dengan perasaan kesal. Aku ini adalah seorang feminis. Dan perkataan Kak Sarah membuatku amat tersinggung. Bisa-bisanya dia mengatakan seperti itu sedangkan dia sendiri adalah wanita!
Mikrobus berhenti sebentar. Rupanya naik satu penumpang. Aku terlalu sibuk melamun hingga tidak menyadari bahwa mikrobus yang kutumpangi sepi. Yang naik adalah seorang Bapak tua dengan kesan kewibawaan di wajahnya. Saat naik ia memabaca do’a. Dan ketika mikrobus mulai jalan lagi Bapak itu tak henti-hentinya berdzikir. Aku langsung teringat akan Bapakku. Dia pasti tak jauh beda dengan Bapak ini kalau saja dia masih hidup.
Bapakku meninggal tiga tahun yang lalu. Ia meninggal karena serangan stroke. Ia yang paling gencar mengomeliku kalau aku ingin memakai pakaian yang sedang nge-tren saat itu. Tank Top.
“Kau ini anak gadis! Pakai pakaian seperti itu apa kau tak malu hah!? Aurat keumbar-umbar!” Bentak Bapak waktu itu.
“Tapi semua teman Shofi pakai ini,” ujarku beralasan. Alasan yang selalu sama.
“Dasar anak bodoh! Kau bisa jadi sasaran kejahatan anak-anak berandal di luar sana. Kau hanya memancing mereka!”
Kau hanya memancing mereka... kenapa perkataan Bapak hampir sama dengan Kak Sarah. Apa benar wanita yang selalu menjadi sumber kejahatan? Kalau begitu aku yang salah?
Mikrobus berhenti lagi. Kini naik seorang pemuda. Wajahnya tampan dan membuat pipiku bersemu merah. Dia menggenggam buku kecil di tangannya. Aku mengenalnya sebagai Al-Qur’an. Sudah amat lama aku tak membaca Al-Qur’an sejak Bapak meninggal. Karena tak ada lagi yang mengingatkanku untuk terus rajin membaca buku itu. Mungkin aku harus mulai membacanya. Siapa tahu jawaban pertanyaanku ada di buku itu.
Tatapanku tanpa sengaja bertemu dengannya. Aku tersenyum ramah ke arahnya. Tanpa diduga dia langsung memalingkan wajahnya. Aku benar-benar kaget. Bukannya aku bermaksud sombong hanya saja aku tak pernah gagal menundukkan laki-laki. Aku disebut-sebut primadona kampus. Aku senang dengan panggilan itu karena dengan begitu aku bisa membuktikan kalau laki-laki itu sebenarnya cuma sampah yang bisanya cuma mengemis-ngemis cinta dari perempuan. Tapi kali ini lain. Pemuda itu benar-benar tak peduli dengan kecantikanku. Apa ini pemuda yang dimaksud Kak Sarah yang hanya menghalalkan pandangannya untuk istrinya saja? Ternyata ada ya pemuda seperti itu.
Selama perjalanan Mikrobus semakin lama semakin padat. Ada Ibu-ibu dengan tujuh anaknya yang baru saja naik. Ketika mereka naik mikrobus langsung padat seketika. Kemudian yang naik berikutnya adalah seorang pria setengah baya yang menggenggam rokok di tangannya. Ia tak juga mematikan rokok tersebut meki sudah naik mikrobus dan mikrobusnya mulai jalan. Aku yang alergi rokok langsung menutup hidungku dengan sapu tangan. Perjalanan masih lama sebelum sampai di Alexandria.
Setelah beberapa lama mikrobus berhenti lagi. Aku membelalakkan mataku begitu melihat penumpang yang naik. Seorang wanita cantik dengan pakaian yang amat sensual. Baju merahnya terbuka sampai setengah dada. Bagian bawahnya pendek setengah paha dan belah sampai pangkal paha. Saat ia naik mikrobus bagian (maaf) itunya kelihatan dengan jelas. Tak hanya aku, penumpang yang lain juga ikut kaget melihatnya dengan cara berbeda-beda.
Bapak tua yang berdzikir langsung memejamkan matanya dan mengucapkan “Astaghfirullah” berulang-ulang. Pemuda yang tampan itu langsung memalingkan dan menundukkan wajahnya namun aku bisa melihat jelas wajahnya yang memerah. Dia menggenggam erat Qur’annya sambil tangannya bergetar. Ibu yang membawa anak-anaknya hanya mencibir pelan dan memerintahkan anak-anak laki-lakinya melihat pemandangan luar. Sementara pria yang merokok hanya tersenyum aneh dan matanya memandang lurus ke dada dan paha wanita itu. Aku cuma bisa diam. Inikah yang dimaksud dengan pornografi? Laki-laki tak akan melecehkan perempuan kecuali perempuannya yang mengundangnya lebih dahulu.
Aku menatap iba pada pemuda di depanku. Dia tak berani mengangkat wajahnya. Sungguh kasihan. Aku mulai merasa perkataan Kak Sarah ada benarnya. Sungguh kasihan para laki-laki jaman sekarang. Berusaha mencegah matanya melihat hal-hal yang mengundang syahwat sementara yang wanita selalu mendatangkan syahwat buat mereka. Aku tak bisa protes lagi akan hadits Nabi Muhammad yang mengatakan perempuan di surga lebih sedikit dibanding laki-laki. Karena perempuan yang selalu mendatangkan dosa kalau ia tak mampu menjaga dirinya.
Supir Mikrobus terlihat gelisah. Ia menatap kaca spionnya dan melihat wanita itu duduk berhadapan dengan pintu masuk sehingga siapapun di sepanjang jalan seperti melihat parade pornografi. Tapi ia akhirnya menjalankan mobilnya.
Wanita itu duduk dengan pose yang menantang. Membuatku geram. Aku ingin menasihatinya tapi aku sendiri saja belum siap diajak berdebat akan hal yang dua jam lalu aku anggap sah-sah saja.
“Maaf mbak...” ujar Bapak tua yang terpaksa duduk disamping wanita itu. Rupanya bapak itu memberanikan diri untuk menegur wanita itu, “Sebaiknya mbak lain kali jangan memakai pakaian seperti ini. Kami merasa terganggu dengan pakaian yang mbak kenakan.”
Wanita itu melihat Bapak tua dengan wajah kesal, “Apa urusan Bapak? Saya mau memakai apa kek, ya terserah saya dong! Hak Bapak apa mengatur-ngatur saya?”
“Maaf ni mbak ya!” Ibu dengan tujuh anak disampingku ikutan menyahut, “Mbak sama sekali tidak sopan memakai baju seperti itu di depan umum. Kalau mbak mau saya punya kain panjang. Mbak boleh menutupi aurat mbak dengan kain milik saya.”
“Saya sama sekali tidak butuh bu, makasih!” balas Wanita itu, “Saya merasa pakaian saya sopan-sopan saja kok!”
“Dosa mbak pakai pakaian seperti itu,” tambah Bapak tua, “Sama sekali tak pantas.”
“Tahu apa kalian soal dosa!?” hardik Wanita itu terlihat marah.
“Saya tahu mbak,” ujar pemuda di depanku. Ia ikut menasehati meski wajahnya masih menunduk, “Al-Qur’an yang menyebutnya. Ancaman yang pedih disediakan oleh Allah bagi hambanya yang membangkang perintah Allah untuk menutup aurat.”
“Neraka,” tambah Bapak tua.
Muka Wanita itu memerah. Ia terlihat marah. Ia lalu mengeluarkan handhpone-nya dari dalam tas sakunya, “Jika itu yang Bapak mau...”
Aku menatap wanita itu heran.
“Ini ponsel saya. Tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda!” ujar wanita itu terang-terangan.
Mikrobus berguncang sesaat. Mungkin karena supir mikrobus yang tersentak kaget seperti juga kami yang ada di dalam mikrobus. Bapak tua hanya bisa beristighfar berkali-kali dan memilih diam tak menasihati wanita keras kepala itu lagi. Pemuda di depanku juga sama. Aku hanya bisa ikut-ikutan beristighfar. Ibu disampingku melakukan hal yang sama. Kami memilih diam tak menasihati wanita kurang ajar itu lagi.
Jam demi jam berlalu. Aku mulai merasa lelah. Kulihat semuanya juga sudah pada tertidur. Wanita itu juga terlihat tertidur dengan amat pulas. Aku pun tenggelam di dalam tidur yang nyenyak.
Aku terbangun begitu menyadari kita sudah tiba di Alexandria. Semuanya juga sudah pada terbangun. Sudah saatnya turun tapi ada sedikit masalah. Tak ada yang mulai turun.
“Kenapa ini? Kenapa tidak langsung turun?” tanyaku.
“Itu dik, wanita yang tadi. Dari tadi tidak mau bangun,” jelas Ibu-ibu disampingku.
Aku melihat ke arah pintu keluar. Wanita itu terlihat tidur dengan pulas, “Kenapa tidak dibangunkan saja?”
“Sudah tadi sama ibu dik, tapi tetap tidak mau bangun. Anak ibu sudah mulai rewel nih,” ujar Ibu itu berusaha menenangkan anak-anaknya. Mereka rupanya kepanasan karena di dalam mikrobus yang tidak jalan udara menjadi panas.
Aku berinisiatif maju ke depan dan membangunkan wanita itu.
“Mbak? Mbak?” sahutku sambil menepuk pundak wanita itu. Tapi wanita itu terlihat tidak bangun juga. Aku mulai merasa ada yang aneh. Segera kupegang lengan wanita itu dan memeriksa denyut nadinya. Tidak ada! Denyut nadi wanita itu berhenti!
“Kenapa dik?” tanya Bapak tua.
Aku tak menjawab. Aku mulai merasa ketakutan. Kupegang leher untuk mengukur suhu tubuh wanita itu, dingin! Kuraba dadanya, tak ada detak jantung sama sekali! Aku mengarahkan telunjukku di bawah hidungnya namun aku tak merasakan adanya hembusan nafas!
Rupanya seisi mikrobus melihat gelagatku yang aneh dan menyadari sesuatu. Wanita yang tadi menantang Allah sudah meninggal!
“Astaghfirullah...” desis panjang seisi mikrobus termasuk aku yang terduduk lemas.
“Apa tak bisa tertolong lagi, dik?” tanya Ibu yang punya tujuh anak cemas.
Aku diam. Aku kuliah jurusan kedokteran dan aku tahu apakah wanita itu masih bisa tertolong atau tidak. Aku mencoba memeriksa pupil matanya, kemudian menggeleng lemah, “Dia sudah meninggal dari kurang lebih se-jam yang lalu.”
Semua isi mikrobus tertunduk. Kami diam didalam mikrobus untuk beristighfar beberapa kali. Sampai akhirnya dibantu dengan supir bus, aku menurunkan mayat wanita itu. Aku mulai gemetaran.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam
keadaan yang buruk...

Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada.
Based from: True story from Cairo, “Pesankan Saya Tempat di Neraka”

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...