Senin, 31 Mei 2010

Julia

Oleh Afifah, oktober 2008


Sinar matahari yang sejuk menyinari tubuh seorang gadis kecil ber-bet SD. Kaki mungil yang beralaskan sandal jepit itu berjalan melewati perkebunan,menyusuri sungai dan rawa untuk bisa sampai ke sekolah, dengan semangat barunya untuk mendapat ilmu.

Gadis kecil itu terkenal dengan anak yang cerdas, rajin dan selalu berprestasi, dia sangat disegani oleh para guru maupun temannya. Ia sering mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai macam perlombaan.

Julia panggilan akrabnya, anak itu selalu hidup dengan sederhana, meski ayahnya adalah seorang dokter spesialis di sebuah rumah sakit ternama.ia memiliki 1 orang adik dan 1 orang kakak. Masa kecilnyapun dilewati dengan hari yang sangat bahagia,hingga suatu peristiwa yang mengubah semua jalan hidupnya.

Saat itu cuaca terlihat tidak begitu cerah seperti hari biasanya,tapi keceriaan di wajah si gadis tidak pernah sirna, ia berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk kembali menuntut ilmu.Tetapi tidak seperti biasanya sang adik menangis karena ingin sekali mengikuti ayah dan ibunya pergi bekerja,dengan sabar si gadis membujuk adiknya itu agar tidak terus menangis.Setelah itu baru ia pergi sekolah.

Kedua orangtua itu menggunakan sepeda motor untuk sampai ke rumah sakit tempat mereka bekerja, muka mereka saat itu jauh lebih indah dan tenang.Selama diperjalanan, tidak seperti biasanya sepeda motor yang dikendarai bapak melaju dengan tersendat sendat (agak mogok).Sesampainya di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung mereka menjalankan tugas lagi seperti biasa.

Hari mulai sore, Bapak dan Ibu Julia kembali ke rumah setelah sebelumnya membeli sedikit oleh-oleh untuk anak-anaknya.Di perjalanan sepeda motor yang dikendarai bapak melaju sangat cepat karena saat itu sedang gerimis, sampai di sebuah tikungan yang sedikit terjal tiba-tiba ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi pula menghantam sepeda motor kedua orangtua Julia dan “BRAK!” sepeda motor itupun terpental sangat jauh,begitu juga dengan bapak dan ibu,kedua tubuh mereka bersimbah penuh darah.Tidak jauh dari tempat itu datang lagi motor yang hampir melindas kedua tubuh mereka.kejadian yang sangat miris. Penduduk yang melihat kejadian itu segera memberi pertolongan dan membawanya ke rumah sakit.

Di sekolah Julia merasa kurang sehat, akhirnya ia dibawa ke UKS dan tidak mengikuti pelajaran sampai jam istirahat.Perasaannya hari ini sangat aneh ia menjadi terus memikirkan orangtunya.

Diruang UGD bapak dan Ibu segera diberi alat bantu pernafasan. Mereka berdua belum kunjung siuman.Anak pertama mereka yang sedang kuliah segera mendatangi orangtuanya. Ia memandangi tubuh orangtuanya yang dibalut perban itu sudah tidak bisa lagi dilihat jelas wajahnya, sekujur tubuh mereka juga sangat lemas karena menurut hasil pemeriksaan dokter semua tulang yang ada dalam tubuh bapak dan ibu retak.

Sementara Julia dan adik kecilnya sedang menunggu kakak dan kedua orangtua mereka di depan jendela.Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dan hujanpun tak kunjung berhenti,disaat keduanya termenung terdengar bunyi telepon “kriing..” Juliapun bergegas meraih gagang teleponnya, Ia terdiam sebentar mendengar suara diseberang yang menangis tersedu.”Ini siapa?” tanya Julia pelan,”Ini kakak” jawabnya. “Ada apa kak? kenapa kakak menangis?mana Ibu dan Bapak?” Tanya Julia lagi. “Ibu dan Bapak masuk Rumah Sakit dek ,sabar ya doakan semoga cepat sembuh..kakak mungkin akan pulang besok pagi” kata sang kakak dengan suara yang parau. Julia hanya terdiam dan mengangguk lalu menutup kembali gagang teleponnya.

Kakak menunggu disamping tempat tidur kedua orangtuanya, tak lama sang ibupun siuman dan mengucapkan beberapa patah kata yang tidak jelas,setelah itu kembali tertidur dengan tenang,kakak masih terheran-heran dan akhirnya datanglah para dokter.

Tak lama setelah itu “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” dengan bersimbah air mata kakak mengucapkan kalimat yang sangat memilukan dan “Bruk” ia tak sadarkan diri.

Julia dan adiknya sudah tertidur lelap,mereka tidak mengetahui bahwa pada saat itu kakak dan mayat orangtunya sudah sampai dirumah.

Keesokan paginya Julia masih belum mengerti dengan kejadian yang menimpa kedua orangtuanya, ia tak percaya bahwa kedunya telah kembali. Berkali-kali ia pingsan dan menangis serta menjerit-jerit memanggil ibu dan bapaknya. Adik terkecilnya pun terus berteriak ingin bertemu ibu bapaknya. Semua telah terjadi begitu cepat.dan semenjak kejadian itu Julia tak pergi ke sekolah selama berminggu-minggu.

Julia yang dulu ceria sekarang berubah menjadi Julia yang pemurung. Akan tetapi kakaknya tak berhenti untuk menyemangatinya menjadi Julia yang seperti dulu, sampai akhirnya Julia mau untuk berubah menjadi yang terbaik meski dia tidak sebahagia dulu.

Mereka tinggal bersama paman mereka,disana kehidupannya sangat jauh berbeda,lebih mewah.Tapi mereka selalu hidup sengsara tidak pernah bahagia.Selalu di siksa dan jarang diberi makan. Sampai akhirnya mereka semua kabur dan tinggal di rumah nenek dari bapak,disana kakak yang menanggung semua nafkah adiknya juga neneknya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Hari demi hari mereka lalui dengan kesabaran,Julia mendapat beasiswa masuk ke SMP favorit, sementara adiknya duduk di kelas 1 SD. Tapi tak lama kesedihan itu datang kembali, nenek merekapun meninggal. Mereka mulai kebingungan mencari tempat tinggal, dan akhirnya mereka tinggal dirumah bibinya.

Kini Julia telah beranjak remaja, tetapi kesedihan itu selalu terjadi lagi, kakak tercintanya yang selama ini membimbing dan memberi nafkah telah berpulang menyusul kedua orangtuanya,itu semua seperti peristiwa kematian beruntun. Akan tetapi Julia tidak menyesali kehidupannya, ia dan adiknya terus bertahan sampai mereka berdua sukses.

Kini Julia dan adiknya menempuh perjalanan hidup baru. Setiap harinya mereka berjualan untuk mencari uang. Biasanya mereka berangkat dari rumah di waktu shubuh. Dan pagi harinya baru menuju sekolah. Tapi semangat belajar Julia selalu meningkat. Ia tidak pernah mengeluh. Hingga Julia bisa menempuh pendidikan SMAnya dengan beasiswa lagi.

Di saat usianya yang ke-17 terjadi pertentangan diantara keluarganya. Persoalan tentang pembagian harta warisan. Karena harta peninggalan kedua orang tuanya sangat banyak. Semua saudara-saudara dan kerabat Julia selalu ingin menerima harta warisan lebih banyak. Bagi Julia dan adiknya masalah seperti itu tidak terlalu diambil pusing. Mereka tidak perlu harta yang banyak dan dengan kondisi mereka yang sederhana sekarang mereka sudah senang.

Pertentangan mereka ini berakhir di kursi pengadilan. Semua keluarga besar orang tua Julia berkumpul. Di pengadilan hakim pun memutuskan pembagian harta warisan tersebut. Akan tetapi setelah permasalahan itu selesai, keluarga dari ayah Julia masih tidak menerima. Mereka masih egois dan mereka ingin bisa menguasai harta lebih banyak. Akhirnya, secara diam-diam mereka mengambil harta warisan milik Julia berupa tanah yang berada di daerah Bandung. Julia pun belum mengetahuinya. Karena tanah tersebut sudah dibangun rumah mewah oleh keluarga dari ayah Julia. Mereka memang licik dan sampai saat ini rumah mewah itu masih ada. Tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.

J J J

Pagi yang cerah mengiringi langkah Julia untuk pergi kembali ke sekolah. Hari ini adalah pengumuman kelulusan hasil UN dan kenaikan kelas. Julia melihat papan pengumuman. Ia mencari-cari namanya. “Alhamdulillah”, ucapnya dalam hati. Julia lulus dengan nilai NEM yang tinggi. Tiba-tiba… “PUK!”. Ada tangan sesorang yang menyentuh pundaknya. Julia menoleh.

“Hey, selamat ya… kamu mendapat nilai NEM tertinggi”, katanya.

“Iya, sama-sama… kamu lulus juga kan?”tanya Julia.

“Iya. Kamu mau lanjutin kuliah dimana?”

“Kurang tahu. Bibiku belum ada uang untuk membiayai kuliah” jawab Julia dengan nada datar.

“Lho… memang kamu tidak tahu tentang test beasiswa kuliah?”

“Memang ada?”

“Ada. Test tersebut ditujukan untuk orang yang kurang mampu. Nanti akn diberikan beasiswa sampai kuliah selesai. Kamu mendaftarkan diri saja kesana”

“Oh, iya ya… terimakasih. Saya akan coba”

“Baiklah. Selamat berjuang, sahabatku…” kata Thya sambil menggandeng sahabatnya menuju kelas.

J J J

Hari ini Julia sudah tidak lagi memakai seragam abu-abu putih. Ia kini sudah menjadi orang lebih dewasa. Bulan kemarin ia baru saja dinyatakan diterima di Universitas Indonesia dengan beasiswa hingga lulus kuliah. Sementara sahabatnya, Thya melanjutkan di universitas Negeri Jakarta.

Kemudian ketika di UI…

Julia dan teman-temannya mengadakan rapat ROHIS. Saat itu ROHIS akan mengadakan acara siraman rohani bagi seluruh mahasiswa/i UI. Dan Julia sangat aktif dalam organisasi ini. Ia sangat nyaman jika berada dalam kelompok ROHIS ini. Selesai rapat, ada seniornya yang mengajak Julia hadir dalam acara talkshow “Jilbabku”. Julia sangat senang bisa dindang dalam acara ini. Ia mendapat pencerahan baru. Mendapat semua pengertian lebih masalah agama.

Keesokan harinya, Julia berpenampilan sangat menarik dan indah. Semua matapun tertuju pada Julia yang sangat manis dengan jilbab barunya juga gamis yang terlihat begitu anggun. Ia menebarkan senyum pada semua akhwat. Dan seniornya sangat shock melihat penampilan Julia saat ini. Ia langsung mengacungkan jempol dan memeluk Julia erat. “Alhamdulillah, ukhti mau berubah” ucap seniornya senang.

“Iya. Ini ana lakukan untuk Allah… ikhlas… Alhamdulillah ana merasa lebih nyaman. Do’akan ana supaya bisa tetap istiqomah”

“Iya, ukhti”

J J J

Sesampainya di rumah…

“Julia…!” panggil bibinya sedikit berteriak.

“Iya, bi. Ada apa?”

“Kenapa kamu sekarang memakai ini!?” tanya bibi sambil menunjukkan jilbab dan gamis Julia.

“Saya ingin berubah, bi. Untuk menjadi muslimah sejati” ucap Julia lembut.

“Alaah… nanti gak laku kamu kalau badan dan kepalamu ditutup-tutup!” kata bibi dengan nada agak tinggi.

“Ya… jodohkan di tangan Allah, bi…”

“Alasan saja! Awas kamu jangan nyesal kalau kamu tidak dapat…!!” kata bibi yang lalu berjalan melalui Julia yang mulai menangis.

Beberapa hari kemudian, Julia menemui seniornya dan ia menceritakan semua perilaku bibi dan saudara-saudaranya yang sangat tidak mendukung penampilannya berjilbab sekarang. Seniornya yang sudah sangat berpengalaman itu lalu menasehati dan memberikan tips-tips agar selalukuat dan istiqomah. Julia pun mengikuti saran darinya. Dan ternyata ia kuat menerima semua caci maki saudaranya meski terkadang ia masih suka bersedih hati.

Burung-burung berterbangan menyambut indahnya pagi. Julia sedang bersiap menghadapi ujian semester. Jadwalnya semakin hari semakin padat. Terkadang ia sering pulang sampai larut malam. Biarpun waktu belajarnya jadi terkurangi, ia selalu bisa menghadapi ujian-ujian dan mendapat nilai yang lumayan.

Hingga tiba saat itu, Julia dewasa kini dijodohkan oleh murrobiyahnya. Julia yang sedang menunggu sang pangeran pun menerimanya. Ia pun bisa membuktikan pada bibi dan saudara-saudaranya bahwa ia masih bisa berprestasi dan mendapat segala kebahagiaan dengan berjilbab. Dan Julia menempuh hidup barunya dengan bahagia.

Tapi juga dari pengalaman pahit yang dilalui oleh Julia serta adiknya, mereka sadar bahwa sesungguhnya hidup takkan selamanya bahagia. Pasti selalu banyak lika-liku yang dihadapi. Life is Never Flat.

J J J

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...