Jumat, 28 Mei 2010

Imigran Bingung

Jam menunjukkan pukul dua belas siang, pada waktu itu aku sedang bersiap-siap untuk menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Dan memulai perjalananku yang pertama kalinya ke Brunei Darussalam sendirian.

“Fathan, siap-siap! Sebentar lagi kita berangkat!” kudengar suara eyang dari lantai bawah.

“Iya…” jawabku sambil memasukkan barang-barang ke kardus yang akan aku bawa ke sana.

Setelah segala urusannya selesai, kami lalu berangkat dengan mobil milik kakek. Mobil itu meluncur ke jalanan lumayan cepat karena buru-buru mengejar pesawat. Ketika dalam perjalanan, handphone milikku berdering pertanda ada yang sms masuk. Lalu kulihat isi sms tersebut, “Fathan, jangan lupa ketemu sama Nayo di bandara, ya. Bapak”.

“Insya Allah kalau ketemu, pak” jawabku dalam sms.

C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0293234.wmf Beberapa jam kemudian, aku sampai di bandara Soekarno-Hatta. Kurasakan jantungku berdebar dan lututku bergetar karena inilah pengalaman pertamaku berangkat ke Brunei Darussalam sendirian. Lalu aku masuk ke dalam dengan barang-barang yang dibawa oleh troli.

Kucari pamanku yang bekerja disana, karena tidak mungkin aku masuk ke dalam tanpa pamanku itu. Bisa-bisa nyasar deh. Ingin kukirim sms ke paman untuk tahu dia sedang berada di mana. Hingga kusadari handphone milikku ini tidak ada sinyalnya. Aku kebingungan. Eyang menyuruhku untuk keluar dengan harapan sinyalnya ada. Tetapi sayang sekali sinyalnya tetap tidak muncul.

Dengan paksaan luar biasa, aku masuk. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekati kami.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Mau ke Brunei Darussalam, mbak”

“Oh…, ke Brunei Darussalam? Suami saya sudah masuk dari tadi. Pesawatnya sebentar lagi mau berangkat”

DEG! Aku kaget.

“Ya sudah, boleh pinjam handphonenya tidak?”

“Silahkan. Pakai saja!”

Ia mengulurkan handphone miliknya kepadaku. Akhirnya aku mengirimkan sms untuk pamanku itu. Tetapi eyang menyuruhku untuk berusaha masuk sendirian. Dengan bujukan mereka, akhirnya aku mau dengan syarat: aku harus ditemenin!

Akhirnya dengan segala bujuk rayuku, kakekku luluh. Ia mau menemaniku untuk berbicara kepada penjaga pintu masuk tempat administrasi.

“Begini pak. Cucu saya ini baru pertama kali naik pesawat sendirian. Dia belum mengerti seluk-beluk pengurusan viskal, pajak pesawat, dan segala macamnya. Kalau bisa saya ingin menemaninya mengurus administrasi,” ujar Kakekku menjelaskan pada sang penjaga pintu.

Dengan lagak sombong petugas itu menjawab, “Maaf, pak. Bapak hanya bisa sampai disini. Kalau urusan administrasi nanti juga ada yang menemani.”

A..ah, petugas ini mau membuatku pingsan di tempat rupanya! Aku memandang kakek dengan wajah sedih. Tapi tampang kakek seolah mengatakan: Yah.. terus gimana lagi?

Mau tidak mau aku menurut. Dengan langkah berat aku melangkah masuk,setelah aku menunjukkan pasporku kepada penjaga pintu yang nyebelin itu. Ya Allah… bimbinglah hamba!

Setelah melewati pemeriksaan keamanan, aku tiba didalam dengan hati gelisah. Bingung! Bagaimana ini? Habis ini kemana lagi? Oh ya, pajak viskal! Ha… tapi dimana? Aku langsung mondar- mandir tak keruan.

“Mba…”

Aku tersentak. Nah lho! Siapa tuh?

Seorang pria dengan sapu di tangannya memanggilku. Sedetik yang lalu aku mengira dia Kakek Sihir, “Mba nyari tempat pengurusan pajak viskal ya?”

Aku mengangguk dengan semangat. Terima kasih Kakek Sihir! Eh… Tuan Pembersih Bandara yang baik hati!

Dia menunjuk suatu tempat dengan sapunya. Aku pergi tempat itu setelah mengucapkan seribu terima kasihku yang kusingkat jadi satu, “Makasih…!”

“Pak! Mau pajak viskal dong!” ujarku dengan percaya diri.

Penjaga administrasi itu melihatku yang seolah mau ngajak berantem. Pandangannya matanya mengarah ke troliku yang penuh dengan barang-barang, “Udah check in belum?”

“Belum…” jawabku dengan polosnya.

Dia mengangkat alisnya tampak kaget, “Ya ampun! Udah sana check in dulu! Kau bisa ketinggalan pesawat. Gak dapat kursi lho!”

Aku melongo dulu sebentar.

“Sana cepat!”

“Eh… iya..iya! Check in dulu kan? Eh…kemana? Kesana kan!?” aku menunjuk-nunjuk sambil panik.

Petugas laki-laki itu mengusap wajahnya kesal, “Ya! Cari aja yang keberangkatan Brunei Darussalam!”

Aku nyengir sebentar. Kayaknya dia baru pertama kali deh menemukan orang yang entah polos entah memang bodoh kayak aku.

Di tempat check in ada dua tempat. Satu dijaga wanita, satunya lagi dijaga pria. Berhubung prianya ganteng,dan aku bisa grogi kalau bicara sama pria-pria ganteng, aku memilih petugas yang wanita.

Di tempat check in aku disodorkan kertas formulir keimigrasian. Aku menulisnya dengan buru-buru dan hati yang gelisah akan ketinggalan pesawat. Kutulis dengan huruf kecil semua, meski jelas tertera ‘Tulislah dengan huruf kapital yang jelas!’ Maklum buru-buru.

Setelah kuselesaikan urusan keimigrasian aku membayar pajak bandara sejumlah seratus ribu rupiah. Lalu aku mendapatkan tiket masuk pesawat dan nomor tempat duduk.

Ketika ku menoleh kebelakang, rupanya Paman sejak dari tadi berdiri di belakangku. Setelah tadi melihat ‘Kakek Sihir’ kini aku melihat ‘Malaikat.’

“Paman! Kenapa Paman gak bilang-bilang kalau dari tadi ada di belakang Fathan? Fathan kan dari tadi ketakutan...” gerutuku.

“Kenapa mesti takut? Udah kan check in-nya? Yuk! Sekarang tinggal ke bebas viskal kan?” ajak Paman tak menggubris gerutuanku.

Aku bingung. Bebas viskal? Bukannya harusnya aku pajak viskal? Aku kan sudah lebih dari enam puluh satu hari. Yah... capek-capek mikir! Sudahlah aku nurut aja. Udah ada Paman ini.

Di tempat bebas viskal aku mengisi formulir yang sudah sejak tadi disediakan. Setelah selesai aku menyodorkan kertasnya ke petugas. Tak lebih dari satu menit aku menunggu...

“Bu Fathaniah! Bu Fathaniah!” petugas dengan logat medok kental memanggil namaku dengan tambahan ‘Bu’. Pakai pengeras suara lagi. Semua melihat ke arahku. Mukaku memerah kayak kepiting rebus. Aku setua itukah? Hiks! Hiks!

“Ya ada apa?” Pamanku langsung menanggapi.

“Gini lho! Bu Fathaniah itu udah lebih dari enam puluh satu hari. Mestinya ke sana. Ke tempat pajak viskal.” Jelasnya dengan mulut masih menempel dengan pengeras suara. Semua melihatku seolah-olah aku orang desa tak punya duit yang tidak ingin bayar pajak. Aku ingin melepas wajahku sementara untuk disimpan di dalam tas. Aku malu berat!

Pamanku memandangku seolah ada yang salah, “Gak apa-apa kan Fathan, harus pajak viskal?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tanpa dosa, “Gak apa-apa kok!”

“Kenapa Fathan gak bilang dari tadi kalau udah lebih dari enam puluh satu hari!” ujar Pamanku yang hampir habis kesabarannya. Ia juga pasti malu.

“Lho... kan Paman yang bilang kita tinggal bebas viskal. Fathan mah nurutin Paman aja!” jawabku membela diri.

Paman seperti kehabisan kata-kata meladeniku.

Setelah segala urusan administrasi yang panjang selesai, sampailah aku di antrian masuk ruang tunggu.

“Udah ya... Paman sampai disini aja nganterinnya. Salam buat ibu dan bapak di Brunei,” ujar pamanku pamit.

“Iya makasih paman...”balasku.

Setelah antrian selesai, aku pun masuk ke ruang tunggu dan mendapati ruang tunggu sudah sepi. Perasaanku langsung tak enak. Aku berlari ke arah pramugari yang menunggu di pintu pesawat. Aku menunjukkan tiket masukku beserta nomor bangkuku.

“Sini saya antar,” ujar pramugari itu dengan ramahnya.

Aku dan pramugari itu masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat aku diberi tahu tempat dudukku oleh paramugari. Bangku nomor 34 C.

Aku duduk seperti patung. Meski segala fasilitas ada didepan mata, kayak Televisi, Pemutar lagu, dan segala macam aku tetap tak berkutik. Aku gelisah. Dudukku gak tenang. Ini pertama kalinya aku naik pesawat sendirian. Saat-saat itu aku baru teringat sesuatu. Aku lupa bawa pulpen! Duuh... mana nanti harus ngisi formulir lagi di dalam pesawat. Ya Allah... bagaimana ini? Masa mau minta turun?

Pesawat pun lepas landas. Setelah beberapa lama, pramugari datang ke bangkuku. Ia memberi tissu basah kedua tanganku yang kotor karena debu. Pramugari itu menawarkan makanan kepadaku.

“Mau makan apa? Kami memiliki dua jenis makanan disini. Mau nasi goreng dan Ayam atau Mi dan Rendang?” tawarnya dalam bahasa Inggris.

Aku memilih Nasi Goreng dan Ayam. Bapak setengah baya disebelahku juga memilih menu yang sama. Namun pramugari itu lalu berbisik-bisik dengan seorang pramugari lainnya. Ia kembali ke bangku kami.

“Maaf, sepertinya nasi goreng dan ayam sudah habis. Kami menyarankan Mi dan Rendang saja, bagaimana?”

Oh...ayolah! Aku dan Bapak disebelahku hanya mengangguk-angguk. Yah... sudahlah tak apa.

Tak lama aku menunggu, troli makanan itu sampai di bangku kami. Aku menerima makanan itu yang tampaknya terlihat lezat. Setelah aku menelan satu sendok, aku langsung berubah pikiran. Mi itu tak ada rasanya! Aku mencoba menghibur diri dengan makan rendang. Hah! Rasa bumbunya hambar! Aku menoleh ke Bapak disampingku. Ia tampak hanya menghabiskan rendangnya. Mi-nya masih tersisa utuh! Duuh... mubazir. Udahlah makan dengan ikhlas, siapa tau jadi enak.

Usai makan mejaku belum ditutup. Pramugariku memberiku selembar formulir kesehatan. Aku lagi-lagi bingung. Kok hanya formulir ini? Bukankah dulu aku juga dikasih formulir imigrasi? A..ah! mungkin tak penting formulir tersebut. Aku pun mencoba memberanikan diri meminjam pulpen ke Bapak disampingku. Tentu saja setelah bapak itu usai menggunakannya.

“Pak..pak...” panggilku, “Boleh minjam pulpennya gak?”

Bapak itu tampak mengacuhkanku.

“Pak... Hallooo...!” panggilku lebih keras.

“Oh... iya-iya! Pulpen? Silakan! Silakan!” ujar Bapak itu menurunkan headsetnya. Oh, karena itu rupanya...

Aku menerima pulpen itu dengan senyum. Seusai menulis formulir, aku mengembalikan pulpen itu ke Bapak sebelah bangkuku.

Satu jam kemudian Bapak itu mulai mengajakku mengobrol. Ia menegurku, “Mba, mau kerja ya?”

Hah! Kerja? Maksudnya apa tuh? Jadi TKW gitu!?

“Gak kok! Masih SMP! Bener! Ke Brunei cuma buat liburan doang...” sanggahku.

Bapak itu terdiam sesaat. Ia tampak tak percaya, “Oh...ya-ya..”

Kami pun terhanyut dalam obrolan yang panjang. Tanpa terasa pesawat rupanya telah mendarat. Aku membuka sabuk pengamanku dan berdiri. Mataku berkeliling sebentar. Dan ketika itu aku melihat orang yang tampak tak asing lagi. Itu kan Nayo! Dia temannya kakakku.

Aku menatapnya terus. Sungguh kebetulan. Kenapa aku tak menyadarinya dari tadi ya? Padahal bangku Nayo jelas-jelas ada di seberang bangkuku.

Nayo rupanya menyadari kalau ada yang menatapnya terus-menerus. Ia melihat ke arahku, “Fathan?”

“Nayo?” sahutku. Aku senang karena aku takkan bingung lagi pas sampai ada di bandara. Ada temen! “Nanti kita turunnya bareng yuk!”

Dia cuma mengangguk-angguk setuju.

Setelah saat turun, aku kaget. Nayo sudah ada di depan duluan. Dasar! Aku kok malah ditinggalin!?

Dengan kesal aku menarik tasnya. Dia terkejut.

“Eh... Fathan,” ujarnya ringan, membuatku semakin sebal.

“Ih dasar! Tadi katanya mau nungguin!” makiku kesal.

“Oh... iya lupa,” sahutnya tanpa dosa, “Kok ga ketemu tadi?”

“Kan aku terlambat...” jelasku.

“Oh... ya udah,” sahutnya lagi.

Kami jalan setelah menyerahkan formulir kesehatan. Kita sampai di antrian imigrasi. Sesampainya disana aku melihat Bapak yang tadi duduk disampingku kembali ke belakang.

“Lupa formulir imigrasi,” jelasnya saat aku tanya.

Aku melongo dan menatap Nayo dengan wajah polos, “Emang perlu ya?”

Nayo menatapku heran, “Ya iyalah! Masa enggak sih!? Fathan belum ambil? Gih sana ke belakang ambil dulu!”

Aku buru-buru mau kebelakang namun teringat sesuatu. Aku balik ke Nayo.

“Nayo, pulpen dong!” pintaku.

Dia mendengus nafas sebal, namun mengeluarkan sebuah pulpen dari tasnya. Aku menerimanya dengan senang hati. Kemudian segera mengurus formulir imigrasi.

Setelah selesai aku pun ke ke tempat pengambilan barang untuk menjemput kardus dan tas yang sejak tadi menginap di bagasi pesawat.

Setibanya di pintu keluar. Seorang polisi wanita menghentikan langkahku.

“Eh kamu! Sini-sini!” panggilnya. Ia terlihat curiga dengan bawaanku yang banyak.

“Ih... ini tuh makanan sama baju! Gak ada macam-macamnya kok!” ujarku yang sudah menebak arah pikirannya.

“Iya tahu-tahu! Sudah, ini cutternya buka kardusnya sekarang!” balasnya dengan galak.

Aku cemberut. Tapi karena takut dikira teroris aku menuruti perkataannya. Kubuka kardus dan tas yang kubawa dari Indonesia yang sudah susah payah disolatip oleh Eyang.

Setelah itu aku keluar dan dijemput oleh Bunda dan Ayahku. Ini adalah pengalaman pertamaku naik pesawat. Rupanya aku memang pemberani juga, ya?

Kulihat Nayo sudah duluan di luar. Aku sudah ditinggal lagi sejak mengisi formulir imigrasi.

Fathaniah Zaimah, Oktober 2008

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...