Senin, 31 Mei 2010

Salah

Salmalaila Shobariah, Oktober 2008

Angin malam berlarian hingga masuk ke kamarku. Saat itu jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku belum tertidur karena harus membereskan barang-barang karena besok aku sudah harus tiba di pondok setelah dua hari di rumah. Lalu aku bangkit dari tempat duduk untuk menutup jendela. Sebelum itu, aku menoleh ke arah rumah almarhumah nenekku. Aku jadi kembali teringat saat nenekku itu meninggal.

Tok! tok! tok!

Aku tersentak kaget. Kusadari ada seseorang yang mengetuk pintu dan membuyarkan lamunanku yang tiba-tiba teringat nenek.

“Teteh, sudah tidur belum?” terdengar suara ibuku dari luar.

“Belum” jawabku.

“Cepat tidur! Besok kita berangkat jam satu siang!” ibu menjelaskan lagi tentang hal itu.

“Baiklah, aku akan segera tidur!” jawabku sambil menutup jendela.

“Mimpi indah ya, sayang. Dan jangan lupa berdo’a” kata ibu lalu berlalu dari balik pintu kamarku ini. Aku pun segera tidur.

* * *

Tidak terasa aku telah tiba di pondok. Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih enam jam tersebut kulalui dengan rasa capek. Setelah merapihkan barang-barangku, aku bersiap untuk tidur. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku tidak langsung tidur karena kembali teringat almarhumah nenek yang meninggal lima tahun yang lalu. Aku ingat sekali saat itu ayahku menangis . Aku sempat diajak untuk pergi ke rumah nenekku tapi aku lebih memilih film kartun mingguan daripada melayat nenekku sendiri.

Sekarang barulah kusadari kalau itu adalah kesalahan besar. Aku menangis atas kesalahanku itu. Andai aku dapat mengulang waktu, aku akan kembali ke masa tersebut dan aku akan menghindari kesalahanku. Aku ingin sekali meminta maaf pada nenek. Mungkin karena lelah menangis, aku tertidur.

* * *

“Nak, kemari!”

Aku menoleh mendengar panggilan itu. Kujumpai satu sosok bercahaya dan seulas senyum yang begitu mempesona. Itu nenekku. Aku menghampirinya dan mencium tangannya.

“Anak Shalihah…” hanya itu yang diucapkan nenek. Tanpa kusadari air mataku menetes membasahi pipiku. Ada satu kata yang ingin kuucapkan saat itu. Namun aku begitu sulit untuk mengucapkan kata-kata itu. Hingga akhirnya nenekku melambaikan tangan dan pergi meninggalkan aku yang masih menangis.

* * *

Aku terbangun. Kulihat sekeliling tapi tidak kutemukan sosok nenek. Lalu kusadari kalau tadi hanyalah mimpi.

Dua minggu kemudian…

Setelah pulang sekolah, tiba-tiba wali asramaku menghampiriku.

“Neng, ayo berkemas!”

Aku heran sekali lalu aku bertanya, “Untuk apa berkemas?”

“Kamu akan diantar pulang” jawabnya singkat. Aku masih bertanya dalam hati. Pulang? Untuk apa aku pulang?, batinku.

Tapi kemudian aku lalu berkemas setelah mengahadiri panggilan untukku pergi ke gerbang utama. Sesampainya di depan gerbang utama aku bertemu dengan salah seorang guruku. Aku langsung menghampirinya.

“Bu, mau kemana?” tanyaku.

“Ayo cepat naik bus yang itu!” tiba-tiba saja guruku itu menarik tanganku tanpa menjawab pertanyaanku tadi. Ternyata guruku itu yang akan mengantarku pulang.

Di dalam perjalanan, aku terus bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka sembunyikan dariku? Mengapa mereka telah membuatku bingung seperti ini?

Di saat aku tengah kebingungan begitu, guruku yang sedang menemani perjalananku malah asyik berbincang-bincang dengan penumpang lain. Aku sedikit mendengar pembicaraan itu.

“Oh…, ngomong-ngomong mbak mau kemana?” tanya seorang ibu pada guruku.

“Oh…, saya mau mengantar anak ini” jawab guruku sambil menunjukku yang duduk di sampingnya. Aku hanya berpura-pura memandang ke jendela. Dengan memasang mimik cemberut.

“Memangnya harus diantar?” tanya ibu itu setelah dia tadi memandangiku.

“Hmm… ada yang meninggal” jawab guruku sedikit berbisik ke teman bincangnya itu.

“Inalillahi…” tukas orang tersebut. “Pantas saja dia cemberut terus” Aku tersentak kaget. Aku dengar mereka bicara ada yang meninggal hingga aku diperintah untuk pulang. Tapi siapa? Pantas saja selama perizinan guruku tidak mengajakku bicara. Aku tidak berfikir lama. Karena rasa kantuk lebih cepat bersarang di mataku dan yang lebih kupentingkan aku ingin cepat tiba di rumah.

Beberapa jam kemudian aku tiba di rumahku. Setelah aku tahu siapa yang meninggal, aku menangi histeris. Bagaimana tidak? Saat beliau sakit parah di rumah sakit, aku tidak pernah menjenguknya. Sekarang ia meninggal dan aku tidak sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...