Kamis, 20 Mei 2010

Mengejar Angkot



(Tugas Bahasa Indonesia ketika kelas 3 Tsa)
“Hah? Apa tadi Teh Dini bilang?!” tanyaku heboh. Aku baru saja muncul ke ruang televisi membawa minum dari dapur lalu tiba-tiba mendengar Teh Dini yang membacakan tulisan di depan televisi kalau katanya…
“Kamu tidak dengar tadi? AFI 2005 besok sore hadir di Mall Depok!”
Kaget adalah reaksi pertamaku. Aku sedang idola sekali sama orang-orang di AFI (Akademi Fantasi Indosiar) tahun 2005 ini. Oh, ya… ngomong-ngomong namaku Maryam Qonita. Dan sekarang aku baru saja lulus sekolah dasar dengan nilai yang Alhamdulillah memuaskan. Lalu aku juga sudah dinyatakan masuk ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Tapi sekarang masih dalam rangka liburan setelah lulus SD dan aku sedang berlibur di rumah nenek di Jakarta.
Hampir setiap libur panjang keluargaku akan mengunjungi rumah nenek di Jakarta. Karena keluargaku memang sangat suka sekali kesana. Dimulai dari warnet yang dekat, mall dekat, toko buku dekat, memakai antena Indovision, dan terutama keluarga besar semuanya ada di Jakarta. Dan hampir setiap kali libur panjang ke Jakarta, aku dan kakakku satu-satunya itu ditinggal beberapa hari di sini dahulu. Jujur saja, aku lebih betah di Jakarta. Dan nantinya ikut bersama anggota keluarga yang akan ke Kuningan. Tempatku tinggal.
Kulanjutkan kagetku tadi. Aku memang cukup kaget karena letak Mall Depok tidak begitu jauh dari rumah nenek. Dan AFI 2005 akan tampil disana sebagai bintang tamu acara fashion show cilik. Mereka mulai datang pada sore hari sekitar jam empat sore. Ini kebetulan pertama kalau AFI 2005 tampil di Mall Depok yang lumayan dekat. Hanya sekitar lima belas menit dengan angkutan umum.
Kebetulan kedua, aku dan kakakku sedang ditinggal sama keluargaku pulang ke Kuningan karena kami memang ingin di Jakarta dahulu. Sehingga tidak mungkin dimarahin. Alasan dimarahin ada beberapa. Misalnya, membuang uang dan tenaga, adik-adikku akan ingin ikut, AFI 2005 tidak akan memberikan manfaat. Ya…, bagaimana lagi? Aku sedang nge-fans banget sih.
Kebetulan ketiga, uang jajanku disini yang @ Rp 120.000,- itu tidak banyak kuhabiskan sebelumnya. Tidak seperti kakakku yang sudah tersisa sedikit. Aku masih ada Rp 75.000,-. Tentu uang segitu cukup untuk ongkos.
Jadi niatku yang kuat ingin melihat mereka di Mall Depok adalah hasil dari kebetulan-kebetulan tadi.
Tidak kebetulan, malam ini kakek mengajak kami jalan-jalan ke Mall Depok. Aku sedikit kecewa karena itu berarti aku benar-benar harus membuang uang naik angkot karena kakek sudah mengajak kami kesana malam ini. Lalu mungkin tidak akan diizinkan dengan berbagai macam penghalang. Misalnya, aku tidak akan menemukan alasan lain ke Mall Depok selain karena hari itu ada AFI 2005 dan juga barang-barang yang kami butuhkan sudah terbeli malam ini. Tapi kalau kami tidak ikut, sama saja karena kebutuhan kakek adalah malam ini.
Akhirnya aku dan Teh Dini lalu ikut bersama kakek ke Mall Depok dan setelah itu ke ITC Depok. Yang kami beli tidak banyak, hanya DVD saja dan itupun dibayarkan kakek. Jadinya uangku untuk besok tidak berkurang.
Besoknya…
Aku sudah rapih. Dan tetap rapih hingga siang hari. Aku melihat kakakku yang dengan baju santainya di depan televisi. Sudah pukul dua siang tapi aku tidak melihat kakakku mempersiapkan baju atau apa.
“Teh Dini, sudah jam dua. Teh Dini tidak siap apa-apa?”
“Siapa peduli? Teh Dini juga mau kesana tapi gak bakal diizinin dan tidak ada yang mau nganter kesana” katanya sambil menonton televisi.
“Tapi kan sudah direncanakan matang-matang. Sayang dong…”
“Diam ah! Televisinya jadi tidak kedengaran nih…” desah kakakku jengkel sambil terus memelototi televisi. Lebih tepat seharusnya aku yang jengkel.
“Eh, Deta. Kamu rapih-rapih mau kemana?” tanya Tante Feny yang baru turun dari lantai atas ke sini. Ia terlihat memakai dasternya yang berwarna coklat dan bermotif tersebut.
“Mau ke Mall Depok, tante” kataku.
“Jangan… Macet deh! Percaya sama tante! Lagian kamu ini masih kecil. Kamu juga tidak tahu harus naik yang nomor berapa. Sudah, disini saja. Nanti ikut sama tante ke Pasar Minggu. Emang, kamu mau beli apa di Mall Depok?”
Aku tersenyum tidak menjawab,
“Katanya mau ketemu AFI 2005!” ujar Teh Dini tiba-tiba. Aku jadi semakin jengkel saja. Bukankah Teh Dini tidak mau diganggu menonton televisinya? Kenapa sekarang ikut-ikutan ngomong? Tante Feny tertawa mendengar omongan Teh Dini yang tiba-tiba ikutan nyambung itu.
Pukul tiga sore lebih sepuluh menit, kulihat kakakku yang asyik berdandan di depan kaca. Tapi hanya berdandan main-mainan dengan make-up milik Teh Yuyun. Pakai bedak lalu tambahin macam-macam dan dihapus lagi. Sedangkan baju masih memakai kaus oblong dan warna kusam.
“Teh Dini, sudah Shalat Ashar belum? Biar bisa kesana cepat!” kataku begitu antusias ingin melihat AFI 2005.
“Bukannya tidak jadi? Lagian Teh Dini lagi haid” katanya.
“Jangan! Nanti kamu kesasar!” kata Teh Tati ikutan.
“Uang Teh Dini juga sudah mau habis. Tadi baru dari Pasar Minggu sama Tante Feni. Kenapa kamu tidak ikut?” tanya Teh Dini.
“Tidak mau. Deta maunya ke Mall Depok saja”
“Det, percaya deh kalau tidak bakal diizinin!” kata Teh Dini sedikit tegas.
Semua anggota keluarga yang tahu aku akan pergi berkata “TIDAK BOLEH!”. Bahkan Teh Dini yang memberi tahu kedatangan AFI 2005 padaku saja sudah seperti tidak minat kesana. Biarpun begitu, niatku tetap bulat! Bulat! Bayangkan saja, kalau kita sering sekali menonton AFI 2005 di televisi dan lalu mendapat kabar kalau AFI 2005 itu akan muncul di Mall yang tidak begitu jauh. Paling naik angkot lima belas menit saja juga sampai. Apa susahnya, sih? Tinggal pergi dan balik lagi doang.
Akupun menghampiri sepupuku yang rumahnya masih satu komplek perumahan dengan rumah nenek. Alangkah bahagianya diriku ketika dia juga mau ke Mall Depok. Lagipula dia juga lebih mengerti harus naik Angkot nomor berapa untuk ke arah Depok dari rumah nenek di Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini. Ngomong-ngomong, tidak ada yang tahu tentang kepergianku ini loh. Teh Dini saja tidak tahu.
Aku dan sepupuku yang bernama Efi akhirnya berjalan hingga ke gerbang komplek. Mendung terlihat menggelayut di awan dan gerimis mulai turun. Tapi ini hanya sebatas gerimis. Bukan masalah besar.
“Itu angkotnya!” kata Efi yang tadi tidak sadar angkot lewat dengan nomor 02 di kaca mobil angkot tersebut. Aku juga tidak sadar angkotnya lewat karena tadi kami malah keasyikan ngobrol. Kami mengejarnya tapi angkot itu sudah pergi dahulu.
Angkot kedua yang kami kejar lewat ketika kami memutuskan untuk jajan dahulu di warung seberang. Tidak tahunya angkotnya muncul dan kami mencoba mengejarnya tapi ia keburu menghilang. Kami membuat percikan dari genangan yang muncul akibat gerimis ini.
Angkot ketiga juga kami mengejarnya. Tapi sepertinya si supir tidak tahu kami kejar. Begitupula dengan angkot yang keempat dan kelima. Semua sama. Dan semua angkotnya bernomor 02. Hingga akhirnya angkot yang keenam, awalnya kami lagi-lagi memang mengejarnya tapi akhirnya dia berhenti menyadari ada penumpang yang sedang mengejaranya.
Akupun naik angkot. Baju gamisku sedikit basah tapi tidak apa-apa. Yang penting sekarang meluncur dengan menyenangkan menuju Mall Depok!
MACET!! Benar-benar tidak seperti yang kuharapkan. Tapi kulihat gerimis masih saja turun. Mobil berjalan sedikit-sedikit dan kadang berhenti. Ini mah boro-boro meluncur, berjalan dengan lancar saja tidak. Lalu akhirnya kami sampai. Tapi tidak benar-benar sampai karena harus menyebrang terlebih dahulu.
Kulihat di lantai 1 karena biasanya konser-konser di ada lantai 1. Tapi tidak ada. Berkeliling juga tidak ada. Lalu ke lantai 2 dan jawabannya sama. Hingga pokoknya tibalah di lantai paling atas dan aku lupa lantai berapa itu, aku melihat panggung fashion show yang dimaksud. Dan yang jadi pembawa acaranya adalah artis komedi yang suka ada di iklan kartu simpati waktu itu. Tapi aku dan sepupuku belum juga melihat AFI 2005 yang selama ini kutunggu.
“Det, balik sekarang yuk!” ajaknya.
“Tidak, ah. Belum lihat AFInya” kataku.
“AFInya mana sih? Kok tidak muncul-muncul?” kataku lagi.
“Tidak datang kali...” kata Efi.
“Fi, sekarang jam berapa?”
“Jam empat!”katanya setelah melirik jam di tangannya.
“Sebentar lagi karena di televisi bilangnya sekitar sore-sore seperti ini. Sabar ya... Orang sabar disayang Allah”
“Ih... Det, aku sakit perut nih lagian angkot yang ke arah rumah nenek suka habis jam segini!” katanya menjelaskan.
“Tunggu dulu, dong. Aku belum lihat AFInya nih. Tanggung”
“Nanti kalau tidak bisa pulang, bagaimana?”
“Sudah, deh... kamu pulang saja duluan. Nih angkotnya biar aku yang bayarin!”. Aku menawarkan uang Rp 10.000,- untuknya tapi dia menolak dan bersih keras aku juga pulang SEKARANG!
“Itu kali AFInya datang!” aku menunjuk ke samping panggung. Juga mencoba mengembalikan harapan agar AFInya segera datang. Dan ternyata yang kutunjuk tadi itu bukan AFI. Awalnya aku bersih keras untuk terus menunggu AFInya datang. Tapi tidak juga datang. Akhirnya, dengan paksaan yang luar biasa sekaligus kurang ikhlas aku pulang.
Di Jalan, nasib kami tidak tahu akan bagaimana. Angkot mulai habis. Sepupuku mengeluh terus sakit perut dan berkata kalau tidak akan ada lagi angkot sedangkan perjalanan ke rumah akan lumayan lama. Jauhnya satu kali jalan mungkin seperti dari sini ke Fajar Toserba lewat alun-alun desa. Gerimis masih turun Dan lalu….
Angkot lewat! Jurusan ke arah komplek pula. Kami langsung mengejarnya sejauh kami bisa. Dan kami tahu sepertinya angkot tidak berhenti karena angkotnya penuh. Benar-benar penuh. Setelah capai lari mengejar, kami tidak lagi mengejar dan angkot itu lalu hilang. Kami benar-benar tidak ada harapan. Aku jadi membayangkan tiba-tiba kakek datang dengan mobil BMW nya menjemput kami.
Kami sudah jalan lumayan jauh. Dan kami melihat angkot yang kami kejar tadi berhenti di ujung jalan yang kulihat. Kurasa dia menunggu kami karena kasihan. Tapi ternyata bukan hanya itu, dia itu adalah angkot terakhir. Efi kebagian satu kursi di depan sedangkan aku tepat sekali duduk di dekat pintu dan disapingku adalah ibu-ibu gemuk sekali. Jadi, ketika jalan miring ke kiri, aku sudah nyaris jatuh. Tempat dudukku hanya sebagian kecil bahkan untuk anak balita tidak akan muat. Jariku sampai merah menahan berat badan yang akan jatuh. Selain itu jari jemariku juga melepuh.
Sampai di rumah, akupun ketahuan kabur ke Mall Depok. Akhirnya lalu kena marah deh. Dan ketika Teh Dini mendengarkan ceritaku langsung dariku, ia langsung tertawa. Ketawanya sudah sangat mirip dengan penjahat dari gua hantu. Menyebalkan.
L L L
Semoga engkau para pembaca dapat mengambil hikmah dari kisah ini. ^.^

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...