Jumat, 28 Mei 2010

Sekolahku

“Assalamu’alaikum”. Aku mengucap salam sebelum memasuki rumah. Dan adalah kabar baik kedatanganku sekarang ini. Berarti Allah memberikan keselamatan perjalanan dari sekolahku di Kuningan, Jawa Barat hingga sampai ke rumahku yang berlokasi di Bekasi Timur. Sekeluarga pun menyambutku gembira.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu sampai. Sama siapa kamu pulang ke rumah?” tanya ibu dengan wajah leganya yang berganti menjadi penasaran.

“ Bersama teman Difa, bu” kataku menjelaskan. Aku lalu memasuki rumahku yang sudah lama kurindukan ketika aku sekolah di Kuningan.

Namaku Annisa Difa. Bukankah semenjak tadi aku sering berkata rumahku jauh dari sekolah? Tentu saja. Dari Bekasi Timur ke Kuningan kan lumayan jauh. Tidak seperti anak-anak seusiaku yang sekolahnya tidak begitu jauh. “Sudah sana mandi dahulu. Lalu beres-beres”

“Iya, bu” sahutku menuruti permintaan ibu. Aku berjalan menuju kamar mandi. Bibirku melebar melihat ibu sedang menyiapkan makanan. Kebetulan aku juga sedang lapar. Selesai mandi, aku berjalan menuju ruang makan. Yang kulakukan disana adalah membuat lidahku menari salsa dan perutku terisi hingga kenyang.

“Difa, kapan datang?” tanya ayah kepadaku.

“Tadi, yah” jawabku. Aku lalu menghampiri ayah dan mencium tangannya.

“Sudah. Lanjutkan saja makannya” kata beliau lagi.

Setelah selesai makan, aku menghampiri ayah dan ibu. Kuharap mereka akan menjawab sesuai yang kuharapkan.

“Ayah, ibu, lebaran nanti akan ke rumah nenek bukan?” tanyaku. Aku mulai teringat nenekku yang tinggal di Tegal. Dan kuharap mereka akan menjawab iya.

“Tidak tahu. Lihat keadaan saja dahulu” jawab ibu singkat. Aku tersenyum pasrah karena jawaban ibu belum begitu pasti juga tidak memenuhi syarat jawaban yang aku inginkan. Aku akhirnya berjalan masuk kamar. Kamarku yang lumayan lama kutinggal. Biarpun baru waktu itu liburan semester dan tidak beberapa lama kemudian, aku libur kembali yaitu sekarang. Liburan idul fitri yang lamanya sekitar sebulan kurang. Menyenangkan memang liburan itu.

Kulihat adikku juga masuk kamar dan menarik bajuku. Dia sepertinya ingin menunjukkan sesuatu padaku dan mengharapkan respon yang baik. “Kak, aku punya mainan” katanya. Adikku bernama Eca.

“Apa? Mainan apa?” tanyaku mulai penasaran. Dia lalu menunjukkan mainannya kepadaku. “Ini, kak. Lucu kan?” tanyanya.

“Wah, iya. Lucu sekali!” kataku. Kami lalu bermain bersama-sama juga dengan adik-adikku yang lain. Aku merasa senang sekali.

“Difa, sini nak”. Kudengar suara ibu memanggilku dari kejauhan pelosok rumah. Aku segera menghampirinya. “Ada apa, bu?” tanyaku tidak mengerti.

“Ibu mau mengajakmu sama beberapa adikmu untuk ke rumah nenek ketika lebaran nanti” katanya.

“Kenapa tidak ikut semua?” tanyaku masih tidak mengerti.

“Tidak bisa. Ongkos kesana tidak cukup untuk kita semua” ujar ibu. Jawabannya tidak membuat hatiku senang.

“Ibu, memang siapa saja yang akan ikut?” tanyaku lagi.

“Kamu, Eca, sama Zidan. Karena sekalian nanti setelah liburan mengantarmu ke Kuningan” jawab ibu. Aku mangut-mangut. “Oh karena itu juga. Pantas hanya sedikit yang ikut” ujarku.

“Kamu mengerti, kan?” tanya ibu.

“Iya. Terus, kapan kita akan berangkat ke rumah nenek?”

“Tiga hari setelah lebaran”

“Wah, lumayan lama dong, bu?”

“Iya”

Akupun berjalan menuju kamar hendak mempersiapkan untuk shalat maghrib. Akupun berbuka puasa setelah mendengar adzan berdendang di sudut cakrawala. Setelah itu mengambil air wudhu dan siap-siap shalat maghrib, isya, dan tarawih di masjid. Aku juga mengajak adik-adikku ikut shalat bersama. Dan mereka mau.

“Ibu, Difa berangkat shalat dulu, ya” kataku. Dan setelah itu aku keluar melewati pintu rumah. Kulihat, di depan rumah sudah ada teman-temanku yang sedang menunggu.

“Wah, kamu tambah kurus lho, Dif” kata mereka.

“Masa sih? Aku tidak percaya, ah”. Mereka lalu tertawa renyah. Rasanya senang sekali bisa melihat tertawa itu dan mendengarnya langsung, kami sudah lama tidak bertemu.

Hari demi hari telah kulalui. Inilah salah satu kenikmatan liburan yang paling besar yaitu ketika melewati liburan ini bersama keluarga dan teman-teman. Hari yang dinanti oleh umat muslim sedunia pun perlahan semakin dekat.

J J J

Malam dihiasi suara takbiran. Orang-orang turun ke jalanan ikut mengumandangkan takbir ramai-ramai. Sesekali terdengar suara petasan atau kembang api.

“Difa, bantu ibu membuat sayur ketupat!”, suara ibu dari kejauhan pelosok rumah. Akupun lalu membantu ibuku setelah segera menghampirinya. Sementara aku dan ibu di dapur, ayah sedang memberikan zakat kepada siapa yang berhak atas zakat itu. Lalu anak-anak yang masih kecil sedang asyik bermain di depan rumah. Sampai akhirnya sudah sangat malam, mereka kembali dipanggilkan lagi untuk masuk ke dalam rumah. Dan akulah yang disuruh untuk memanggilkan mereka.

“Zidan, Hakim, Eca, ini sudah malam dan kalian harus masuk!” kataku memanggil mereka. Mereka lalu masuk ke rumah dan cuci kaki. Setelah itu sikat gigi dan pergi ke kamar untuk tidur. “Kak, ayo tidur!” teriak adik-adikku dari dalam kamar.

“Ada apa? Jangan teriak-teriak gitu dong”

“Kakak, ayo tidur!” mohon Zidan berharap aku tidur.

“Nanti. Kakak mau bantu ibu dulu. Kalian tidur duluan saja”

“Aah… kakak ayo!”. Akhirnya aku menuruti pemintaan mereka. aku berpura-pura tidur untuk menemani mereka hingga akhirnya mereka tertidur.

J J J

Allahu Akbar Allahu Akbar. Adzan berkumandang. Setelah kami shalat idul fitri, kami makan ketupat bersama dan keliling rumah keluarga. Tidak terasa lebaran sudah dilewati seiring berjalannya waktu.

“Difa, beresin baju kamu untuk ke dibawa ke rumah nenek” suruh ibu kepadaku. Aku lalu membereskan barang-barang yang akan kubawa memenuhi perintah ibu dan kebutuhan diriku nanti disana.

“Difa, kata ayah kita berangkatnya hari Jum’at saja” ibu memberitahukan kepadaku. Aku mangut-mangut. Kurasa adik-adikku mendengar yang dibilang oleh ibu.

“Ini, bu. Sudah”. Aku baru saja selesai membereskan tas dan memberikannya pada ibu. Aku dan ibu pusing membereskan barang-barang karena besok kami akan berangkat. Ada rasa sedih yang terbesit di hati. Karena artinya hari ini akan berpisah dengan ayah dan adikku yang bernama Hakim. Juga Bayu, kakakku juga tidak ikut bersama kami ke rumah nenek. Masalahnya, dari rumah nenek aku akan langsung kembali ke sekolah di Kuningan.

“Sudah, Dif. Tidur saja sana” suruh ibu kepadaku. Aku mangut-mangut.

Aku meneteskan air mata ketika akan berangkat. “Yah, do’akan Difa agar Difa berhasil, ya” kataku sambil melambaikan tangan ke arah beliau.

“Iya, ayah akan do’akan selalu” jawab ayah.

J J J

“Assalamu’alaikum” ucapku sebelum memasuki rumah nenek.

“Walaikum salam. Eh, halo, Difa” sapa tanteku dari dalam rumah itu. Ia lalu mengantarkan ibu dan adik-adikku masuk lalu memberi tahu kamar tidur yang sudah disediakan.

“Makasih ya, Tri” ibu berbicara pada adiknya.

Esok harinya, aku ingin sekali jalan-jalan keluar rumah.

“Ibu, jalan-jalan yuk keluar”

“Kemana, Dif?”

“Ke kebun milik ibu” jawabku. Akhirnya aku, Zidan dan Eca lalu pergi jalan-jalan keluar. Mugkin karena aku sebentar lagi akan pulang ke Kuningan jadi ingin jalan-jalan.

J J J

Tidak terasa. Sepertinya liburan kali ini terasa begitu cepat. Seperti baru kemarin aku pulang ke rumah, eh sekarang sudah akan pulang ke Kuningan. Hari Jum,at aku kembali ke Kuningan. Dan aku juga membawa oleh-oleh dari rumah nenek. Aku merasa sedih karena harus kembali lagi ke Pesantren sedangkan aku tidak mau.

Ketika tinggal beberapa hari lagi pulang, aku dan adikku diajak jalan-jalan ke rumah saudara di daerah sana. Aku dan adikku tentu sangat senang dan begegas untuk pergi. Enaknya lagi disana kami diberi angpao. Betapa gembiranya.

Berkumpul bersama saudara. Canda, tawa, cerita ada dalam ruangan itu. Anak-anak bermain di luar, orang tua mengobrol, lalu yang remaja berercerita tentang pengalaman di sekolah masing-masing. Disana juga banyak makanan yang tersedia. Tidak terasa karena hari sudah sore, kami sekeluarga kembali ke rumah.

“Wah, senang sekali bisa berkumpul bersama keluarga” kataku berkata pada seorang saudaraku.

“Iya, ya”

Tapi dibalik kesenangan itu, kurasa ada kesedihan di hatiku yang enggan menghilang. Karena aku akan kembali ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah (HK). Dan keberangkatanku adalah besok.


“Dif, bangun Dif…!” Ibu membangunkan diriku. Aku sempat menggeliat agak malas. Karena inilah hari yang kumaksud selama ini. Lalu aku mandi dan bersiap-siap hendak berangkat. Ketika semua siap, kami lalu berangkat. Dan selama di perjalanan, aku bercanda dan tertawa bersama adik-adikku.

Setelah sampai di Kuningan, kami makan an istirahat sebentar.

“Dif, ini kasurnya diberesin dulu buat tidur”. Akhirnya setelah membereskan baju dan barang-barang kami pun jalan-jalan terlebih dahulu.

Keesokan harinya, ibuku dan adikku pulang ke Bekasi. Sebenarnya aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Tapi hatiku amat sedih sekali berpisah dengan ibu dan adik-adikku. Tidak terasa air mata membasahi pipiku setelah ibu pulang ke Bekasi meninggalkan aku disini.

J J J

Difa, Oktober 2008

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...