Senin, 31 Mei 2010

Di Atas Pasir Pantai

Oleh Athifah Nur Shofa, Oktober 2008

Bel berdentang. Menandakan jam terakhir sekolah di tanggal 12 September ini berakhir. Sudah semenjak tadi kutunggu saat-saat ini. Dimana esok paginya aku sudah bisa pulang ke kampung halamanku di Lampung.

Ngomong-ngomong, namaku Athifah Nur Shofa. Dan aku baru saja berulang tahun ke 14 beberapa bulan lalu. Aku duduk di bangku terakhir MTs Husnul Khotimah yang terletak di daerah tiga kota Cirebon. Sedangkan rumahku berbeda pulau dengan sekolah ini. Betapa jauhnya jarak ke sekolah bila aku membandingkan dengan anak-anak seusiaku yang kebanyakan sekolahnya tak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.

Aku terlahir di keluarga sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Saudaraku hampir seluruhnya adalah perempuan, tapi ada satu orang yang laki-laki. Ya, memang benar kalau anggota keluargaku lumayan banyak jumlahnya.

Kami tinggal bersama. Sehingga aku tidak pernah merasa kesepian walaupun orang tuaku lumayan sibuk bekerja karena aku memiliki banyak saudara. Hubunganku dengan orang tuaku sangat dekat. Ada kalanya kami sangat saling menyayangi dan menghabiskan waktu lama untuk mengobrol akrab. Tapi sejurus dua jurus kemudian, aku ingat kalau mereka cukup sibuk untuk dimintai waktunya untuk hanya sekedar mengobrol. Ayahku bekerja sebagai pegawai negeri dan ibuku seorang wiraswasta.

Biarpun sibuk, mereka tetap menyisihkan waktu untuk kami semua. Misalnya ayah. Apalagi ketika aku dan kakakku pulang ke rumah karena pesantren kami sedang libur, ayah selalu mengajak kami pergi bersamanya. Senang pun menyelimuti relung hati kami. Ayah sering sekali bercanda gurau bersama kami dan mengucapkan kalimat-kalimat yang sifatnya humoris.

Ibuku? Sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi. Biarpun sebelumnya aku sempat berkata ia begitu sibuk dan lelah bekerja, tapi setiap malam ia selalu mengajari adik-adikku mengerjakan PR dari sekolah hingga kadang bisa sampai larut malam. Selayaknya seorang ibu, ia begitu menyayangi kami.

“Ayo belajar! Apa besok ada PR atau ulangan?” tanya Ibu setiap habis shalat isya. Kadang adik-adikku mulanya malas sekali dan sudah mau tidur. Tapi mereka bisa semangat lagi karena bujukan ibu di setiap malam.

Saudara-saudaraku? Dimulai dari kakak paling besar kini sedang melanjutkan kuliahnya di Akademi Kebidanan. Kakakku yang kedua sedang menginjak kelas satu madrasah aliyah di Husnul Khotimah. Adikku yang perempuan kelas lima sekolah dasar. Dan adikku yang terakhir, yang laki-laki satu-satunya itu baru menduduki bangku taman kanak-kanak. Kami ini keluarga sederhana. Tapi dari kesederhanaan itulah terpancar kebahagiaan. Tidak seperti orang-orang kaya yang lalu melupakan segenap keluarganya.

Hari Rabu, 8 Oktober 2008, aku diajak jalan-jalan oleh kedua orang tuaku. “Mau tidak kalau besok kita pergi ke Pantai Duta Wisata?” tanya Ayah kepada kami semua. Tentu saja kami sangat senang mendengarnya dan menerima usul ayah itu. Ketika itu, aku dan kakakku lalu membeli makanan ringan ke market dekat rumah untuk dibawa kesana. Di rumah, ibuku mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa ke sana. Sedangkan ayahku mempersiapkan kondisi mobil. Pada hari itu kami sangat sibuk. Mungkin adikku saja yang tinggal menikmati enaknya. Tidak terasa, hari telah semakin sore. Langit petang pun mulai memerah di lautan awan.

Hari yang dimaksud tiba. Kami pun bangun lebih awal. Setelah shalat shubuh langsung mandi. Selesai mandi kami semua sarapan. Tentunya kami tidak ingin berlama-lama menuju Pantai Duta Wisata. Ketika siap, kami tinggal memasukkan barang-barang yang akan di bawa juga tidak lupa membawa tikar. Tepat pada pukul 07.30 WIB, mobil kami meluncur di jalanan. Kami semua lalu meninggalkan rumah dengan hati gembira.

Di awal perjalan, kami tidak lupa membaca doa terlebih dahulu memohon keselamatan. Setelah itu, kami mengobrol sambil tertawa-tawa di dalam mobil. Perjalanan ini sungguh asyik dan seru. Kami juga bercanda sambil memakan cemilan yang kami bawa. Karena ayah kurang hafal jalan menuju Pantai Duta Wisata, sesekali kami bertanya pada orang yang berlalu lalang di pinggir jalanan. Mobil kami sempat tersesat jauh dari arah tujuan. Tapi akhirnya kami kembali bertanya dan lalu menemukan jalan yang benar. Di perjalanan, kami sempat melewati kantor Gubernur Lampung. Dari balik jendela mobil, kami lihat kantor itu begitu luas dan bagus.

Tak terasa perjalanan yang seru dan diselingi canda tawa ini berhenti ketika melewati plang bertuliskan “Pantai Duta Wisata”.

Sebelum memasuki pantai, kami menunggu antrian tiket untuk syarat memasuki pantai. Satu orang membayar Rp 20.000,00 dan tiket mobil seharga Rp 35.000,00

DBUUMMM…….CESSS…..

DBUUUUUMMM……..CESSS…..

Suara deburan ombak menyambut kedatangan kami. Aku sudah tidak sabar untuk segera turun dari mobil. Sebelum kami turun, ayah mengajak kami untuk mengelilingi daerah sekitar pantai. Kami pun akhirnya berkeliling melihat-lihat pemandangan di sekitar pantai.

WAAAWW…. Ternyata daerah di sekeliling pantai juga sangat indah. Aku tidak mennyesal menerima tawaran ayah. Kusaksikan di sana terdapat danau yang begitu indah dan kami bisa menaiki sepeda-sepeda air di danau tersebut.

Setelah berkeliling, kami segera mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat dan menikmati pemandangan.

WUUUUUUUUSSSSSSSSSSSSSS……………………………………

Udara segar langsung menerpa kami ketika turun dari mobil. Angin sepoi-sepoi begitu terasa dan menggerekan pohon kelapa di sekitar pantai.

“Enak ya, mba….kk……” celetuk adikku yang paling kecil. Aku membenarkan perkataan adikku itu. Dengan mantap kami segera menuju tempat peristirahatan sambil menikmati pemandangan pantai.

“Mbak, kita naik banana boats yuk…!” celetuk adikku lagi.

“Yuuk……….!” jawab kami.

Akhirnya kami pun menaiki banana boats yang dimaksud itu. Sungguh mengasyikkan apalagi ketika ombak menerpa banana boats kami. Kami menjerit. Lalu segera kami sadari, kami sudah terjatuh ke air.

WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……………………

BYUUUUUUUUUUURRRRRR………………..

Tidak terasa, hari mulai gelap. Kami pun terpaksa harus pulang. Liburan ini sungguh menyenangkan terutama bagi diriku yang jarang mengalaminya karena sekolahku yang begitu jauh.

Sesampainya di rumah, badan kami masih terasa sangat lelah. Tapi liburan telah usai sehingga aku harus menyiapkan pakaian dan barang-barang yang harus kubawa nanti ke pondok pesantren. Esok harinya adalah keberangkatanku menuju pondok tercinta.

LETS GO TO HUSNUL KHOTIMAH….




Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...