Jumat, 28 Mei 2010

Keluarga Penuh Cerita

Di pagi hari yang cerah mulai terdengar ayam berkokok dan bersahut-sahutan untuk mengawali aktifitas hari ini dan matahari mulai muncul menyinari rumahku . Pagi itu, seperti biasanya aku bangun pukul 05.25 WIB. Lalu aku cepat-cepat bangun dari atas tempat tidur untuk mengambil air wudhu an langsung shalat shubuh. Setelah itu, aku kembali tidur lagi. Tiba-tiba mamaku marah-marah.

“Aat, ayo cepat bangun dan lalu bantu mama masak di dapur” kata mama.

“Ah.., sebentar lagi, ma. Masih ngantuk” jawabku yang menggeliat di atas kasur.

Sementara mama memasak nasi goring dan tempe di dapur sendirian, aku hanya keenakan tertidur tidak membantunya. Bertambah lagi deh dosaku pada orang tua. Kudengar mama berteriak dari arah dapur. Sepertinya ia benar-benar butuh bantuan sekalian membangunkanku. “Aat…, cepat bangun dan bantuin mama masak!!”

Aku masih sedikit malas, tapi kupaksa diriku untuk bangun. “Iya.. iya, ma. Ini mau bangun”. Aku lalu menghampiri mama di dapur. Ia lalu menyuruhku mencuci piring.

“Bantuin mama cuci piring!”

“Jangan nyuci piring dong… Nyapu saja, ya?”

“Ya sudah, sama ngepel juga tapi”

“Dimana sapunya, ma?” tanyaku.

“Itu di depan” kata mamah.

Lalu aku menyapu dan juga mengepel hingga ketika mama menyuruhku membeli Super Pell agar tetap bersih dan wangi. Selain itu mama juga menyuruhku membeli gorengan. Akhirnya kupenuhi permintaan mama itu. Hingga aku kembali pulang dengan membawa barang yang dimaksud mama.

“Ma, ini gorengannya disimpan dimana?” tanyaku menyodorkan kantung plastik ke hadapan mama.

“Di meja” jawabanya.

Sementara mama sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, mama memanggilku untuk sarapan dahulu. Dan setelah aku makan, aku memilih menonton televisi hingga siang hari.

Tiba-tiba, bibi datang bersama anaknya yang bernama Muhammad Rizki Fadilah dan bibi mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum” kata bibi dari balik pintu.

Mama lalu bangkit dan membuka pintu. “Walaikum’salam” jawab mama. Ketika pintu dibuka, ia melihat bibi yang membawa anak laki-lakinya yang masih lucu tersebut.

“Eh, Rizki…” kata mama sambil mencubit pipinya yang menggemaskan.

“Teh Aat….!!! Bangun jangan tidur terus!” . Aku tersentak dan terbangun mendengar suara teriakan menyebut namaku. Ternyata itu adalah Rifki yang berteriak. Aku mengenali suaranya yang masih sangat anak kecil. Ya, dia sekarang baru saja empat tahun usianya.

“Apa Rizki manggil-manggil teteh?” tanyaku.

“Iya. Jangan tidur terus!” katanya.

“Bi, bibi ingin menginap disini?” tanyaku pada bibi.

“Iya… mau nitip Rizki. Soalnya neneknya Rizki sakit dan dibawa ke rumah sakit Cigugur”

“Terus bibi mau menemani nenek di rumah sakit?” tanyaku.

“Iya” jawabnya.

Kemudian bibi pulang ke rumahnya atau mungkin sekalian ke rumah sakit.

“Aat, bibi pulang dulu. Nitip Rizki, ya”

Lalu kulihat bibi pergi dan meninggalkan anaknya bersama kami. Namanya juga masih kecil, Rizki menangis ingin ikut bersama ibunya itu. Kami sedikit kewalahan karena harus bagaimana lagi? Hingga lelah, Rizki barulah berhenti. Bahkan tertidur lelap.

Beberapa hari kemudian, aku terpikir untuk menengok neneknya Rizki yang sedang sakit tipes. Tapi tidak mungkin sendirian hingga akhirnya aku mengajak mama untuk menengok nenek sama-sama. Sebelumnya, kami sempat sms pada bibi untuk mengetahui kabar nenek sekarang ini.

“Bi, neneknya sudah sembuh belum?” kataku dalam sms.

“Alhamdulillah, agak mendingan. Neneknya Rizki sudah pulang ke rumah” jawab bibi dalam sms.

Ketika memabaca sms tersebut, aku langsung memberi tahu mama.

“Ma, neneknya sudah ada di rumah” kataku.

“Ya sudah, sekarang saja kesana sekalian mengantar Rizki pulang” ujar mama.

“Ma, Aat mandi dulu, ya?’

Setelah semua urusan di rumah selesai aku, mama, dan Rizki pergi ke Sukamukti untuk menengok neneknya Rizki. Sesampainya kami disana, kulihat neneknya Rizki masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Kemudian setelah itu,

mama mengucapkan agar neneknya Rizki semoga lekas sembuh. Dan mama lalu pamitan untuk pulang ke rumah. Tetapi aku belum mau pulang karena masih ingin bermain Teh Nia. Teh Nia itu keponakannya suami bibi. Lalu aku diajak olehnya bermain bersama teman-temannya Teh Nia. Lalu kami pun bermain ke sawah dan kami menangkap capung sama-sama hingga akhirnya adzan ashar berdendang di sudut cakrawala, kami lalu pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, setelah shalat ashar, Teh Nia disuruh mengaji oleh ibunya dan kata bibi aku juga disuruh mengaji bersamanya.

“Ah, malu sama teman-teman Teh Nia” tukasku.

“Udah, coba dulu”

“Ayo, At! Kamu ikut ngaji sama teteh di TPA. Di TPA mah banyak jajanan lagian teman-temannya baik-baik lagi”

“Ya udah deh aku ikut ngaji”

Dan kami pun pergi mandi sebelum mengaji. Aku dan Teh Nia sempat rebutan mandi terlebih dahulu dan akhirnya Teh Nia mengalah. Baru setelah mandi kami lalu pergi mengaji di TPA.

“Teh, yuk kita ngaji!” ajakku.

“Yuk!” jawab Teh Nia.

“Teh, jauh tidak?” tanyaku ketika perjalanan.

“Tidak kok, bentar lagi juga sampai” jawabnya.

“Dimana sih TPAnya, teh?”

“Tuh, dekat musholla!”

“Oh… banyak teman-temannya, ya” ujarku.

Keudian aku Teh Nia lalu masuk ke dalam TPA tersebut. Dan sekarang masih belum masuk. Kemudian aku dan teman-temannya Teh Nia pergi ke warung untuk jajan. Tiba-tiba terdengar bel berdentang pertanda telah masuk. Lalu semuanya masuk ke ruang mengajinya masing-masing. Dan aku juga masuk bersama Teh Nia. Lalu teman-temannya Teh Nia pada melirik ke arahku lalu ke Teh Nia karena heran.

“Nia, dia siapa?” tanya mereka.

“Keponakan bibi aku” jawabnya.

“Namanya siapa?” tanya mereka lagi.

“Namanya Aat”

Sang guru pun datang.

“Assalamu’alaikum” ia memulai salam terlebih dahulu.

“Walaikum’salam Warrahmatullahi wabarokatuh” jawab kami.

Gurunya lalu merasa heran melihat keberadaanku di kelas ini.

“Ini siapa?” tanyanya.

“Keponakan Nia, namanya Aat” ujar Teh Nia.

Gurunya mangut-mangut sambil tersenyum ke arahku sebentar. Setelah itu kami belajar kembali dan kami mempelajari Tajwid mengaji Al-Qur’an. Hingga tiba pukul lima sore Waktu Indonesia Barat (WIB) kami lalu pulang. Syukurlah, aku dan Teh Nia pulang tepat waktu.

Sesampainya di rumah, aku dan Teh Nia makan setelah itu menonton televisi. Setelah shalat Maghrib, aku dan Teh Nia mengaji malam di TPA tersebut. Di sana kami membaca surat Yasin lalu kami pulang setelah shalat isya. Lalu aku dan Teh Nia tidur. Hingga esok tiba, aku kembali pulang ke rumah.


Aat Nursih, 16 Oktober 2008

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...