Jumat, 28 Mei 2010

Catatan Setengah Tahun

Tugas Liburan Bahasa Indonesia

Aku berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah. Perasaanku sangat tidak enak. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Assalamu’alaikum” ucapku ketika sampai di depan rumah. Aku langsung masuk ke rumah menuju kamarku. Kulepas seragamku dan berganti menjadi baju keseharian di rumah. Kurebahkan tubuhku di atas kasurku untuk menghilangkan kelelahanku. Tapi aku benar-benar tidak enak. Sepertinya perutku berbunyi. Aku ingin makan. Kubuka pintu kamarku dan sepertinya rumah sedang sepi. Aku lalu menuju meja makan. Kuambil sebuah piring dan dan mengisinya dengan lauk pauk yang sudah tersedia. Ketika aku memulai makan, aku mendengar suara dari arah depan. Ternyata ibu dan kedua adikku.

“Sudah pulang?” tanya ibu kepadaku.

“Hmm… ya” kataku sambil melanjutkan makan. Kulihat ibu menuju kamar mandi sedangkan aku terus meneruskan makan.

Sreet… kursi di sebelahku ditarik seseorang. Aku menoleh dan ternyata ibu. Ibu lalu duduk di kursi tersebut.

“Fa, ibu menemukan ini di kamarmu” kata ibu sambil menunjukkan amplop berwarna putih. Seketika aku langung merasa dunia telah runtuh. Bagaimana ibu bisa menemukan itu? Padahal aku sudah menyimpannya dengan baik! Kacau deh semua rencanaku!

“Fa!” ibu membuyarkan lamunanku. “Maksudnya apa ini?”

“Eng… cuman iseng, bu!” jawabku gugup.

“Iseng? Ibu yakin bukan sekedar iseng!”

Aku hanya diam.

“Kau benci ayahmu?” tanya ibu lagi.

Aku tetap diam.

“Kenapa kau tidak katakan langsung padanya? Bagaimana pun itu, dia tetap ayahmu. Mengapa kau sampai berpikir seperti itu?” tanya ibu. Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Terserah kamulah! Tapi ini ibu yang pegang!” kata ibu sambil menunjukkan amplop itu lalu beranjak dari meja makan. Aku pun ikut beranjak dari meja makan.

Dikamarku, aku membongkar lemariku. Kuteliti barangku satu persatu barang-barangku. Tidak!!! Sepertinya ibu memang membongkar lemariku. Kenapa? Amplop itu sih bukan masalah yang begitu penting. Kalau ibu beri tahu ke ayah juga bukan masalah. Siapa tahu ayah jadi berubah setelah itu. Tapi kalau diary? Aku benar-benar nggak rela ada orang yang membaca. Bagaimanapun juga, itu adalah sesuatu yang sangat rahasia. Ah, sudahlah lupakan saja! Aku terduduk kelelahan di kasurku.

* * *

“Fa, bangun! Gurunya sudah nungguin tuh!” . Aku terbangun dari tidurku. Kulihat ibu duduk di tepi ranjangku sambil melihat sekeliling kamarku. Ruapanya aku tertidur sebelum sempat membereskan kamarku. Aku lalu beranjak dari kasur menuju kamar mandi meninggalkan ibuku yang masih duduk di atas kasurku.

Aku segera mandi dan lalu shalat. Setelah itu kutemui guruku. Ya…, di kelas tiga ini ibuku memberiku pelajaran ekstra. Bukan masalah sih, toh gurunya yang datang ke sini! Bukan aku yang harus kesana. Gurunya juga asyik!

* * *

“Assalamu’alaikum”. Kulangkahkan kaki menuju kamarku. Langkahku terhenti ketika sampai di ruang keluarga. Kulihat sosok yang tidak asing bagiku. Ayahku. Ya, seperti biasa , ayah tidak sedikitpun berpaling dari Koran yang dibacanya. Seakan-akan aku ini tidak ada. Aku juga tidak peduli dengannya. Kupercepat langkahku menuju kamar. Tanpa melepas seragam, kurebahkan tubuhku di atas kasur. Aku pun terbuai oleh mimpi-mimpi indah.

* * *

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat jam yang terpajang di dinding kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 18:00! Lama sekali aku tertidur. Segera aku menuju kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, aku menuju dapur. Aku memang sedang lapar. Tapi tidak ada makanan yang kutemukan. Kuputuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga. Ternyata keluargaku sedang mengumpul di sana. Kenapa tak ada yang membangunkanku? Apakah aku ini tidak termasuk anggota keluarga? Apakah kehadiranku justru mengganggu? Kubalikkan tubuhku untuk kembali ke kamar. Belum sempat aku melangkah, ada yang memanggilku.

“Fa, sudah bangun? Tolong belikan lauk. Ibu nggak sempat masak!” perintah ibuku langsung kepadaku tanpa basa-basi. “Hhh!”. Aku benar-benar kesal. Bukannya disuruh gabung… ee… ini malah disuruh beli lauk! Memangnya Ina tidak bisa apa? Manja banget dia!

“Ifa, mau tidak?”. Aku benar-benar tidak bisa menolaknya. Bagaimanapun juga aku harus melaksanakan perintah ibuku. Aku beranjak dari ruang keluarga menuju kamar dan berganti baju.

“Ayam goreng satu. Nih uangnya!” kata ibu sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepadaku. “Ibu, aku ikut ya!” kata salah seorang adikku. “Aku juga!” ujar yang lainnya. “Aku juga!” ujar yang lainnya lagi. Aku tidak mempedulikan mereka. Aku segera berangkat untuk membeli ayam. Sempat kudengar panggilan ibu, tapi tak ku hiraukan. ‘Maaf, bu. Aku tak bisa mengajak mereka’.

Aku benar-benar kesal dengan perlakuan keluargaku terhadapku. Aku benar-benar ingin pergi dari rumah!

‘Minggat’, pikiran itu tiba-tiba terlintas di benakku. Aku mulai merencanakan untuk minggat dari rumah.

* * *

“Bu, aku mau ke rumah Afi!”

“Jam segini?” tanya ibu sambil menunjukkan jam yang terpajang di dinding. Ya, jam sudah menunjukkan pukul Sembilan lebih lima menit. Tapi ini memang rencanaku.

“Ini urusan penting, bu!”. Aku terus membujuk ibuku.

“Tak bisakah ditunda?”

“Tidak! Aku tidak berbohong! Aku memang ingin mengerjakan tugas!”. Dengan segala upaya yang kulakukan, akhirnya aku diizinkan.

Pukul 22.30…

Aku tidak bisa menginap di rumah Afi. Terpaksa aku kembali ke rumah. Tidak kusangka ayah dan ibu belum tidur. Ketika tahu aku datang, ibu memanggilku.

“Ifa, duduk di sini!”. Aku memenuhi permintaan ibuku. Aku duduk di hadapan ibuku dan ayahku. Perasaanku jadi tidak enak.

“Ifa, apa maksudmu?” tanya ibu. Aku benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan ibu.

“Kenapa kamu ingin minggat?”

DEG! Aku tidak menyangka ibu mengetahuinya.

“Kamu merasa tidak disayang?”. Aku hanya diam.

“Kamu merasa tidak disayang?” ibu mengulangi pertanyaan itu dengan penekanan yang lebih kuat. Aku tak bisa menjawab apapun.

“Kamu kira ayah dan ibumu mencampakkanmu?” ibu berbicara. Aku benar-benar terpojok!

“Ifa, kamu jangan pernah merasa tidak disayang. Kamu itu beruntung ayah dan ibu masih memberikan kasih sayangnya yang lebih dari cukup untuk kamu!”

‘Lebih dari cukup?! Apanya? Kasih sayang? Menegurku saja tidak pernah!’

“Kamu masih beruntung dibandingkan anak-anak jalanan atau anak-anak panti asuhan”

‘Ya iyalah. Masih beruntung! Aku masih punya orang tua yang menyayangi. Masih diizinkan tinggal di rumah ini. Memang banyak banget sampai aku tidak bisa hitung! Makasih.. Makasih..’

“Ibu dan ayah selalu menyayangimu. Tak ada yang ingin membuangmu!” kali ini suara ibu menurun. “Kembalilah ke kamar dan jangan kau ulangi lagi!”. Aku tak merespon apa-apa. Segera kutinggalkan mereka. Aku sudah malas mendengar nasehat dari mereka! Lebih baik tidur!!!

* * *

Tiga Hari sebelum UN…

Entah ada angin apa hingga ibu membangunkanku untuk shalat tahajud. Aku sangat senang. Karena sebentar lagi adalah UN, jadi ada kesempatan untuk dekat dengan Allah.

“Fa, ini siapa?” tanya ibu selesai shalat tahajud. Ibu memegang sebuah foto-foto yang sangat kukenal.

“Kamu punya hubungan apa dengannya?” tanya ibu lagi.

“Tidak ada apa-apa aku dengan dia, bu!” jawabku pelan.

“Ibu sudah lama hidup bersamamu, Fa. Ibu tak bisa kau bohongi. Jawab pertanyaan ibu, ada hubungan apa antara kamu dengan dia?” ibu mulai terlihat emosi.

“Tidak…”

“Hubungan apa?!”

“Hanya teman!”


“Kamu pernah menulis ‘Aku Benci Laki-Laki’! Tapi justru kamu yang berteman dengan laki-laki. Apakah kamu itu mengerti artinya benci itu dengan benar?”

“Ayah benar-benar kecewa denganmu! Apa maksudmu melakukan semua itu?”

DEG!

Ayah?! Kenapa ada disini? Aku jadi merasa bersalah padanya! Aku benar-benar tidak berani menatap wajahnya. Padahal sejak dulu aku ingin sekali mendengar ayah menasehatiku. Kenapa sekarang jadi begini?

“Ayah tidak ingin kamu mengulanginya!”. Lamunanku buyar. Ketika kuangkat kepalaku, ayah sudah tidak ada. Hanya ada ibu di sampingku.

Sayup-sayup terdengar suara adzan shubuh. Ku beranjak dari tempatku untuk mengambil air wudhu.

Sebelum shalat shubuh, aku sudah bertekad mulai shubuh ini aku akan berubah. Maafkan aku ayah, ibu. Aku akan membuktikan pada kalian, Aku pasti bisa memperbaiki diri!

Zainab, 16 Oktober 2008

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...