Rabu, 27 Agustus 2014

Aduhai Beruntungnya Generasi Shahibul Qur'an


Aduhai beruntungnya... mereka yang digerakkan hatinya untuk hobi menghafal Al-Quran.

Aduhai mujur nasibnya... mereka yang panggilan jiwanya adalah Al-Qur’an

Aduhai besar pahalanya... mereka yang perisai kehidupannya adalah Al-Qur’an

Beruntung! Benar benar beruntung!

Soalnya mereka tidak pernah puas mendapat surga level rendahan. Yap! Orang-orang yang tidak puas pada surga level rendahan lah yang hanya bisa menghafal Qur’an. Dan cukuplah itu menjadi motivasi agar kita menambah dan mempertahankan tahfidz.

Rasulullah telah mengingatkan dalam sebuah hadits: “Para shahibul Quran di hari kiamat akan mendapat panggilan: Iqralah, naiklah menuju level-level surga dan bacalah dengan tartil. Sebagaimana engkau membacanya secara tartil di dunia. Maka level persinggahanmu sekarang adalah di akhir ayat yang kau baca!” (Hasan Shahih Tirmidzi, 2914)

Asyik nya... cukup membayangkan jika kita tinggal di hotel berbintang. Semakin banyak bintangnya semakin merasa nyaman dan betah. Fasilitas lengkap. Maka sungguh rugi kita kalau puas dengan surga yang lebih sederhana... karena ingat! setiap melihat naik satu saja tingkatan surga... ibarat kita melihat bintang di langit. Tinggi banget bukan?
                                                             
Fenomena tahfidz di Indonesia terus menggeliat meskipun tidak seberapa dibanding kegandrungan anak muda dengan lagu-lagu boyband dan Girlband Korea J. Kebanyakan anak Indonesia mungkin lebih hapal anggota-anggota Super Junior, Beast, 2PM dibandingkan hafal surat Al-Mulk. Meskipun begitu, semangat menghafal Quran yang menggaung 10 tahun belakangan ini perlu kita sambut dengan baik dan ikut berkontribusi.

Begitu pula muncul metode-metode menghafal yang berbeda. Ada yang metodenya dengan hitung-hitungan angka (Quranuna), dengan gambar dan gerak (Hasan), memahami dan menghafal arti (Granada), dan lain-lain. Semua metode ini tidak dibersalahkan selama niat kita ikhlas menghafal Al-Quran.

Kurikulum tahfidz di Pesantren,meski tak semua... bermula dari 5 juz terakhir. 30, 29, 28, 27, 26. Lalu berputar haluan dari Juz 1 hingga 25. Hingga sempurna khatam 30 juz. Kalau Al-Quran adalah cahaya, maka para huffazh ini adalah punggawa-punggawanya. Kiranya Allah menguatkan tekad dan memudahkan segala urusan mereka.

Saya tidak bisa membayangkan, seperti apa semrawutnya kehidupan dunia jika kampung-kampung tahfidzul Quran atau ma’had tahfidz sekaligus juru-juru tahfidz nya redup dan menghilang. Al-Qur’an tak lagi diamalkan. Maka dalam sebuah hadits, saat itulah Al-Quran dihilangkan dari muka bumi. Maka satu-satunya tempat kita menyimpan file Al-Quran adalah di dada dan hati masing-masing.  

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...