Kamis, 29 Juli 2010

Rainbow at The School Part 2


Jie Fei mengendap-endap masuk ke dalam kelas 3-A sambil berjinjit. Kelas itu sedang sepi, karena tiga puluh muridnya masih berada di Laboratorium Komputer. Dia mendekati meja Huang Zi yang berada di dekat jendela, sebuah tas hitam berada di atas meja tersebut.
“Ini pasti meja Kak Ho,” gumam Jie Fei. “Kak Ho, bolehkah aku membuka tasmu?” tanyanya. “Ehem! Untuk apa?” Jie Fei mendehem seraya meniru suara Huang Zi. “Aku tidak ingin kau kelaparan, jadi aku membuatkan ini!” Jie Fei menyodorkan kotak makanan ke kursi kosong tersebut. Dia mengatupkan bibirnya sembari berhati-hati memasukkan kotak makanan itu ke dalam tas berwarna hitam tersebut.
“Kenapa kau datang lagi?” tanya seseorang beberapa langkah di belakang Jie Fei. Jie Fei tersentak, dia membeku seperti patung. Perlahan tapi pasti dia menoleh ke belakangnya dan melihat seluruh murid kelas 3-A berdiri di belakangnya, mereka pasti baru saja tiba dari Laboratorium Komputer. Semua mata melihatnya dan sorotan yang paling tajam tentu saja sorotan mata orang itu. Ho Huang Zi.
“Kenapa kau datang lagi?!” tanya Huang Zi dengan nada suara lebih tinggi. Lelaki itu berjalan mendekatinya. “Sudah cukup?”
“Apa?” pekik Jie Fei.
“Berhentilah mendekatiku!”
“Tapi..., kenapa?”
“Selamanya aku tidak akan pernah menyukaimu, apa kau mengerti?”
“Tidak bisa. Setiap hari aku selalu memikirkanmu, berikan aku kesempatan untuk dekat denganmu, Kak Ho!”
Huang Zi mendesah kesal. “Masalahnya, sejak awal aku sudah membencimu, kau tahu kenapa? Karena kau bodoh! Jadi enyahlah dari sini!”
“Aku...” Jie Fei menunduk merasa terpojok. “Aku sudah lompat dari gedung tinggi seperti katamu. Kau tahu resikonya jika aku tidak mendarat di balon kan? Malam itu terlalu banyak angin dan bisa saja…”
“Aku tidak peduli.”
“Huang Zi, aku tahu ini bukan urusanku. Tapi kau hanya tinggal memberinya kesempatan,” ujar salah seorang murid laki-laki diantara puluhan murid yang berkerubung tersebut.
“Lagipula, sepertinya gadis ini benar-benar tulus menyukaimu!” ujar yang lain.
“Berikanlah dia kesempatan, tidak ada ruginya bagimu jika dia mengejarmu!”
“Kalian tidak pernah berkata begitu dengan gadis-gadis lain yang mengirim padaku surat cinta,” ujar Huang Zi.
“Itu karena dia sudah melompat dari gedung!” jawab seorang murid.
“Bagaimana kalau yang melompat dari gedung itu bukan dirinya?” tanya Huang Zi. “Bagaimana kalau dia menyuruh orang lain berpakaian seperti dirinya? Gambar itu terlalu jauh dan wajahnya tidak terlihat.”
“Aku benar-benar sudah lompat!” kata Jie Fei, walaupun pada video itu memang bukan dirinya, tapi dia kan sudah melompat seperti keinginan Huang Zi.
“Siapa yang tahu kau berbohong?”
“Aku tidak berbohong!”
“Buktikan padaku!”
“Baik! Aku akan melompat lagi sebanyak yang Kak Ho inginkan!”
“Jangan gila!”
“Aku memang sudah gila semenjak kemunculan Kak Ho tujuh tahun lalu! Aku lebih dahulu menyukaimu dibanding gadis-gadis lainnya, jadi kumohon berikan aku kesempatan!”
“Kau hanya mencintai dirimu sendiri dan terobsesi denganku. Jika kau benar mencintaiku, maka kau tidak akan membuatku terbebani seperti ini,” kata Huang Zi.
“Tidak, aku yakin dengan perasaan ini. Aku mencintaimu!”
“Aku capek. Terserah!” Huang Zi berbalik dan melangkah pergi melewati kerubungan murid-murid kelas 3-A itu. Lelaki itu keluar dari kelas, mungkin mau ke kantin sekolah. Tempat biasa yang dia kunjungi ketika istirahat kedua.
Murid-murid kelas 3-A itu langsung kembali menuju bangkunya masing-masing, sementara seorang murid perempuan mendekati Jie Fei dan merangkul pundaknya. “Ini pertama kalinya aku melihat Huang Zi bicara begitu banyak dengan wanita. Namamu siapa?”
“Aku Jiu Jie Fei dari kelas 2-F. Kakak sendiri?”
“Kau bisa panggil aku Xiao Lin.”
“Kak Xiao Lin, apa tadi itu artinya dia memberiku kesempatan?” tanya Jie Fei.
“Jangan yakin dulu. Kalau mau mengejarnya kau harus kuat! Kau tahu hampir semua gadis di sekolah ini menyukainya dan tidak ada seorang pun yang akhirnya berbekas di benak Huang Zi. Bahkan namanya sekalipun.”
“Kau tahu banyak tentang Kak Ho?”
“Tidak. Tidak ada satupun di kelas ini yang kenal akrab dengannya. Dia sepertinya tidak mudah berteman. Bahkan dia tidak pernah berkata ‘kita’ dengan siapapun.”
Jie Fei terdiam. Dalam beberapa detik dia menyadari sesuatu. Segera saja dia mengeluarkan kotak makan di dalam tas Huang Zi dan berlari keluar.

***

Jie Fei berjalan menyusuri koridor sekolah. Dia membawa kotak makanan di tangan kirinya dan tangan kanan bergaya seakan-akan akan menyulap kotak itu. “Simsalabim… setelah kau memakan ini kau akan jatuh cinta padaku!”
Ia pun tiba di kantin sekolah, dan matanya berkeliling ke seisi ruangan hingga akhirnya mendapati Huang Zi sedang makan sendirian di sebuah meja. Jie Fei tersenyum dan berjalan mendekati lelaki itu.
“Ni Hao!” sahutnya ceria sembari duduk di salah satu kursi. Tangan Huang Zi yang bergerak untuk memasukkan makanan ke dalam mulut lewat sumpit berhenti bergerak ketika menyadari kehadiran Jie Fei. Setelah itu ia kembali melanjutkan makannya. “Kak Ho mau memakan masakan buatanku?” Jie Fei menyodorkan kotak makanan tersebut.
“Tidak.”
Jie Fei menghela nafas, “Hei, mau aku ingatkan kembali tentang tujuh tahun yang lalu?”
“Tidak.”
“Kenapa Kak Ho selalu menjawab tidak?”
“Bukan urusanmu. Sebaiknya kau pikirkan dirimu yang mulai dibicarakan!”
Jie Fei menoleh ke belakangnya dan melihat gadis-gadis di kantin sekolah sedang melihat ke arahnya sambil berbisik dengan teman mereka masing-masing. Jie Fei kembali melihat Huang Zi. “Jika mereka tidak lagi membicarakanku, apa Kak Ho mau mendengar peristiwa tujuh tahun yang lalu? Apa Kak Ho benar-benar tidak mengingatnya?”
“Apa itu penting bagiku?”
“Mungkin tidak. Tapi itu penting bagiku,” kata Jie Fei. “Waktu itu Kak Ho lewat di depanku, setelah itu Kak Ho mengatakan sesuatu. Kak Ho benar-benar tidak mau mendengarnya?”
“Apa kau tidak mengerti arti kata ‘tidak’?”
“Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya!” ujar Jie Fei lalu melangkah pergi meninggalkan Huang Zi. Setelah beberapa langkah, Jie Fei kembali lagi mendekati meja Huang Zi. “Yakin tidak mau dengar?”
“Tidak mau.”
Jie Fei mengatupkan bibirnya seraya menghela nafas. Putus asa. Dia lalu berjalan pergi meninggalkan Huang Zi sendirian di mejanya. Seorang murid lewat di depan Jie Fei, dia Wen Tse, teman satu kelasnya di 2-F yang sudah membantunya membobol komputer server di Laboratorium Komputer untuk memutar video itu.
“Wen Tse!” sahut Jie Fei. Langkah Wen Tse terhenti dan dia menoleh ke arah gadis tersebut. “Aku ingin berterimakasih atas bantuanmu.”
“Sama-sama,” katanya sembari tersenyum.
“Aku tidak pernah sebelumnya hanya mengucapkan terima kasih. Aku harus memberimu sesuatu yang kau suka. Kau suka apa?”
“Apa yang bisa kau beri.”
“Apa?”
“Kotak makanan itu, itu makan siang untukku kan?”
“Sebenarnya…”
Wen Tse langsung mengambil kotak makanan tersebut dan membukanya. “Ini buatanmu?” tanya Wen Tse.
“Iya. Makanan ini sebenarnya bukan untukmu, tapi orang itu tidak mau menerimanya.”
“Ho Huang Zi,” kata Wen Tse dan Jie Fei mengangguk kecil. “Jika dia tidak mau memakannya, untukku saja! Boleh?” ujar Wen Tse.
“Tentu saja! Habiskan ya!”
Wen Tse berjalan menuju sebuah meja dan Jie Fei ikut duduk bersamanya. Wen Tse membuka tutup kotak tersebut dan mulai memakannya. Ketika makan satu suapan, lelaki itu mengunyah dengan pelan.
“Bagaimana?” tanya Jie Fei penuh antusias.
“Lumayan, rasanya unik.”

***

Wen Tse berdiri di depan cermin, tangannya menekan westafel kamar mandi khusus pria tersebut. Da memuntahkan seluruh makan siangnya tadi. Kalau mau jujur, makanan buatan Jie Fei itu sebenarnya sangat tidak enak dan dia tersiksa ketika mengunyahnya.
“Makanan apa itu?” gumamnya lalu mencuci wajah. Dia lalu menatap wajahnya di cermin. “Wen Tse, kau harus berjuang untuk mendapatkan hatinya,” ucapnya lagi. Dia pun tersenyum tipis menghadap cermin. “Setelah itu kau bisa menghancurkannya,” katanya kecil sekali, mungkin hanya terdengar oleh telinganya saja.
“Kenapa kau tidak jujur padanya saja?” Huang Zi muncul dari dalam salah satu kamar mandi. “Kau menyukai gadis itu kan?”
Wen Tse terperangah melihat Huang Zi ada disana, “Kau mendengar apa?”
“Aku mendengar semuanya. Kau berpura-pura menikmati makanan siluman itu karena kau menyukai gadis itu. Lebih baik kau katakan saja tentang perasaanmu padanya, untuk kebaikan dia dan dirimu,” ujar Huang Zi lalu melangkah pergi keluar dari kamar mandi.
Wen Tse terdiam, sepertinya Huang Zi tidak mendengar kalimat terakhir. Hampir saja, aku harus lebih berhati hati, batinnya.
Sementara itu, Huang Zi berjalan di koridor sekolah. Dalam hatinya berkata, aku mendengar kau berkata ingin menghancurkan gadis itu, tapi aku tidak peduli.

***

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...