Sabtu, 30 Juni 2012

Indonesia Terakhir Part VI (Final)


Semoga endingnya tidak mengecewakan teman-teman semua.
 

Aku terbangun dan kali ini kutemukan diriku dalam ruangan yang lebih asing lagi. Dengan cepat aku melepaskan virtual glasses dari kepala seraya bangkit. Kulihat Fathir masih tenggelam dengan dunia virtualnya. Dengan segera aku menon-aktifkan program tersebut dan melepas virtual glasses yang Fathir gunakan. Dia terbangun.

            “Ini di mana?” tanyanya bingung.

            “Aku rasa kita dijebak saat tidur. Mereka memasukkan kita ke dunia virtual agar gagal menyebarkan tentang agama Islam. Maka dari itu aku harus “bunuh diri” agar bisa terbangun. Kita harus cepat pergi dari sini!”

            Fathir masih terpaku di tempatnya. “Aku pikir semua itu nyata, kalau kita sudah menang dan berhasil mengalahkan Professor gila itu. Jadi itu hanya dunia buatan manusia?.” Fathir terdengar sangat kecewa. Tiba-tiba Professor Surya dan beberapa biobot masuk ke dalam ruangan ini membuatku berdiri bergidik. Aku tidak takut pada Professor Surya, tapi takut pada mayat-mayat berjalan itu.

            “Kau? Apa maumu sebenarnya?!” bentak Fathir.

            “Jangan begitu naif. Bukankah jelas aku ingin menciptakan dunia dengan pemerintahan tunggal dan akal sebagai tuhan? Sebuah dunia tanpa perbedaan pemahaman, ras, dan agama. Bukankah itu indah?”

            “Kau yang terlalu naif! Bagaimanapun akal manusia yang sering mengalami trial dan error tidak mungkin menjadi tuhan. Sebelum kau mau mewujudkan dunia seperti itu, bangunlah dulu rumah sakit jiwa yang banyak!” gertak Fathir
.
            “Hanya orang bodoh yang menganggap hukum agama absolut.” Professor Lincoln muncul, membuatku terperangah. “Bagaimanapun hukum tuhan hanyalah sejarah yang perlu dikaji dengan kritis. Di dunia yang sudah serba modern, maka kita harus menafsirkan hukum-hukum tuhan secara hermeneutika karena tuhan sendiri menyadari bahwa dia menciptakan manusia sudah kebablasan.”

            “Professor?” tanyaku tercekat.

       “Lintang, hanya aku yang bisa membuat dunia virtual. Professor Surya tidak bisa membuatnya karena di Indonesia tidak pernah diterapkan,” ujar Professor Lincoln lagi.

            “Kau mau bilang kalau kau yang menjebakku di dunia virtual?” tanyaku.

            “You’re right. I designed it. Isn’t you get the point, Fathir?” tanya Professor Lincoln pada Fathir. Fathir terdiam seperti tertegun menyadari sesuatu.

            “Katakan! Dimana teman-temanku?!” bentak Fathir tiba-tiba.

            “Sekarang kau peduli dimana teman-temanmu?” tanya Professor Surya. “Sepertinya kau ingin menyusul mereka, tapi sayang sekali karena kau anak Presiden Faruq, aku tak bisa membekukanmu dengan nitrogen cair sama seperti mereka.”

            “Jadi kau takut membekukanku? Atau sebenarnya alat itu tidak ada dan kau hanya menakut-nakuti saja?” tanya Fathir menantang.

            “Alat pembeku itu ada dan ini alatnya!” Professor Surya menunjukkan sebuah benda mirip pena dari saku jasnya. Dia lalu membekukan salah satu biobot untuk membuktikan bahwa alat itu benar-benar berfungsi. Professor Lincoln dengan cepat merebutnya dan membekukan Fathir. Aku terhenyak, mataku membelalak.

            “Tidak perlu takut pada siapapun sekalipun pada presiden!” ujar Professor Lincoln. “Bawa mereka!” Professor Lincoln menyuruh biobot itu menyeretku dan Fathir yang kini membeku dalam nitrogen cair. Aku benar-benar tidak percaya bahwa kami mengalami kekalahan. Professor Lincoln satu-satunya tumpuanku menyebarkan agama Islam ternyata berpihak pada Professor Surya yang menuhankan akal manusia. Fathir dibekukan dengan nitrogen cair begitu pula GenQ. Apa yang harus aku lakukan dengan seorang diri?

            Hari bergulir. Sudah sepekan semenjak Fathir dibekukan dan dibawa ke suatu tempat rahasia. Entah dimana sehingga aku tidak bisa menolongnya. Kutumpahkan pandanganku ke luar jendela sana, langit siang kini tampak jingga agak gelap dan cahayanya begitu menyengat kulit. Aku sudah merasakannya dua kali seminggu yang lalu, saat aku berusaha keras ingin memutar radio itu di Gomera.

            Nitrogen cair yang sudah membekukan Fathir dan teman-temannya. Neraka virtual yang ternyata sudah membuat kedua orang tuaku gila lalu meninggal. Aku baru mengetahuinya dari ayah dan dia menginginkan aku menurut agar tidak bernasib sama seperti mereka. Aku tahu, aku mungkin tidak punya kekuatan apa-apa sekarang. Tapi aku berjanji, sepuluh atau dua puluh tahun kemudian aku akan kembali mengibarkan panji Islam dan meluruskan filsafat yang error di dunia.

            Dalam satu pekan ini prostitusi dengan robot humanoid meningkat tajam, manusia mulai saling tidak mengenal satu sama lain, pasien sakit jiwa pun bertambah. Propaganda yang dilakukan oleh Professor Surya demi dunia impiannya terwujud. Bagiku, ini hanyalah seperti padang gersang yang penuh dahaga. Sampai akhirnya embun yang kunantikan selama ini pun tiba.

            Aku tengah berangkat sekolah dan layar besar yang menempel di sebuah gedung yang tadinya sedang menampilkan berita televisi kini mendadak berubah. Aku terkejut mendengar suara yang muncul dari layar besar tersebut. Suara riuh susul menyusul yang khas. Saling bergulat satu sama lain. Ini adalah suara radio itu!

            Dan akhirnya tetesan-tetesan embun penyegar itu mengalir. Seruan-seruan dakwah Islam pun didengarkan oleh seluruh manusia di Gomera. Mereka seakan terpaku dengan siaran tersebut. Semua aktivitas mereka terhenti karena seakan-akan ada magnet yang menarik mereka untuk mendengarnya. Aku rasa karena agama menjawab segala keresahan mereka selama ini. Bahwa ada kekuatan besar di luar manusia yang disebut Tuhan. Selain seruan dakwah, radio itu juga membongkar tentang rencana segelintir orang yang menginginkan pemerintahan tunggal yang berkuasa.

            Epilog
            Pagi merekah. Mengawali denyut nadi kehidupan yang baru. Alangkah senangnya, sekarang orang Islam tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya. Di sekolahku salah satunya, Miss Vio sekarang berani memakai jilbab tanpa perlu lagi takut akan dihukum pemerintah. Aku kaget, ternyata dia orang Islam. Proyek pembangunan masjid pun mulai direncanakan dan sumber air wudhu didapat dari pengaliran air zam-zam. Begitu pula air minum.

            Mungkin manusia tidak serta-merta masuk Islam secara berbondong-bondong. Tapi mengenalkan Islam sebagai agama yang mudah diterima merupakan suatu awal yang baik.

            Kulihat Fathir tengah duduk di bawah pohon yang kini menjadi museum di Gomera. Aku pun mendekatinya.

            “Fathir, kau berjanji mengajariku berwudhu! Cepat ajarkan sebelum kau kembali ke Indonesia.”

            “Aku akan menepati janjiku, Insya Allah.”

            “Fathir, sampai sekarang aku masih penasaran. Bagaimana kau bisa tiba-tiba mengumumkan radio tersebut? Kau kan sedang dibekukan?”

            “Kata siapa? Sebenarnya tidak seperti itu. Pembekuanku kemarin hanyalah drama.”

            “Drama?”

            “Waktu itu Professor Lincoln berkata kalau dialah yang merancang dunia virtual itu, kan? Dan dalam dunia virtual yang kujelajahi, dia memberitahuku strategi drama yang direncanakannya. Aku benar-benar terkejut karena dalam dunia virtual tersebut strategi kemenangannya mirip dengan yang kualami setelah aku bangun. Dia menginginkan agar aku memancing Professor Surya membekukanku dan agar aku bisa dibawa ke tempat rahasia untuk kembali menyusun radio yang sudah dihancurkan oleh biobot. Kau mengerti?”

            Aku mangut-mangut. Pantas saja waktu itu Professor Lincoln bertanya apakah Fathir mengerti atau tidak. Ternyata memang ada makna terselubung.

            Sekumpulan anak muda datang. Mereka adalah GenQ. Fathir melihat mereka dan bangkit untuk menyapa rekan-rekannya yang baru saja dibekukan tersebut. Aku tersenyum bersyukur bahwa usaha mereka selama ini tidak sia-sia.

            “Hai Lintang!” mereka menyapaku. Aku segera bangkit dan mereka menyambarku dengan satu pelukan erat. Beginilah persaudaraan sesama Muslim.
The End

Reaksi:
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. cerita yang bagus, unik. aku kira awalnya ceritanya bakal panjang, karena ceritanya melawan orang yang ingin menguasai dunia. teman yang unik dan jarang orang yang menggabungkan tema sains-fiksi+islami. sedikit masukan, ceritanya menurutku masih bisa dikembangkan lagi, lebih bagus lagi kalo bisa jadi novel.

    BalasHapus
  2. @Eko hari tiarto, terimakasih masukannya. Insya Allah mungkin suatu saat kukembangkan lagi, kalau bisa difilmkan. Amiin.

    BalasHapus
  3. Hey keep posting such good and meaningful articles.

    BalasHapus
  4. Aku kira anak2 gen-Q tambah panjang lagi ceritanya ka. Hehe. Menarik ceritanya, apalagi ada gen-Q hehe. Sukses terus ka.

    BalasHapus
  5. ada beberapa hal yang ingin w ekspresikan buat penulisnya.
    1. terima kasih atas karyanya, w memang lagi suka cerita fiksi selain asmara. dan fiksi ini w suka banget.
    2. buat w masih banyak misteri yang ada di cerita ini dan masih bisa banget untuk dikembangkan, makanya bikin w penasaran.
    3. endingnya menurut w masih kurang, w udah terhanyut pada sains dan scifi tentang indonesia terakhir, tapi tiba tiba ada nuansa islami yang belum smooth aja sih menurut w.
    dan sekali lagi w suka cerita ini.. thanks ya :-)

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...