Rabu, 10 Februari 2016

[KISAH INSPIRATIF] Mengukur Tinggi Bangunan dengan Barometer


Beberapa waktu yang lalu, saya menerima telepon dari seorang rekan. Dia seorang guru, dan dia ingin memberikan nilai nol pada muridnya terkait jawaban si murid pada soal fisika, sementara murid tersebut malah meminta nilai sempurna.

Si guru dan si murid setuju untuk memilih seorang pendamai yang netral. Dan saya terpilih untuk membacakan soal ujian tersebut: “TUNJUKKAN BAGAIMANA MUNGKIN MENENTUKAN KETINGGIAN SEBUAH BANGUNAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU BAROMETER”

Jawaban si murid adalah: “Bawa barometer ke atas bangunan, ikatkan tali ke barometer, lemparkan tali sampai menyentuh jalanan, dan naikkan ke atas tali tersebut, ukur panjang tali. Panjang tali adalah tinggi bangunan.”

Si murid punya alasan kuat untuk  meminta nilai sempurna karena dia menjawab dengan benar! Akan tetapi, jika nilai sempurna diberikan kepadanya, nilai itu akan mengkonfirmasi kompetensinya di bidang fisika, sementara jawabannya tidaklah menunjukkan kompetensinya tersebut.

Saya pun menyarankan agar si murid di berikan kesempatan lagi. Saya memberikan waktu 6 menit pada si murid untuk menjawab dengan cara yang berbeda, namun menunjukkan pengetahuannya dalam bidang fisika.

5 menit berlalu, dan dia belum menuliskan apapun. Saya tanya apakah dia menyerah, dan dia menjawab bahwa dia sudah punya banyak jawaban untuk soal ini. Dia hanya memikirkan mana jawaban yang terbaik.

Di menit selanjutnya, si murid menghempaskan jawabannya yang tertulis: “Bawa barometer ke atas bangunan, dan jatuhkan sampai tanah. Hitung waktu jatuhnya menggunakan stopwatch. Dan gunakan rumus x=0.5*a*t^^2 untuk menghitung tinggi bangunan.”

Pada tahap ini, saya bertanya rekan saya apakah dia akan menyerah. Dia menyerah, dan memberikan si murid nilai sempurna.

Saat meninggalkan kantor rekan saya, saya memanggil murid itu kembali dan menanyakan jawaban-jawaban lainnya terkait soal tersebut.

“Baiklah,” jawab si murid. “Ada banyak cara untuk menentukan tinggi bangunan menggunakan barometer. Misalnya, kau bisa membawa barometer di tengah hari. Tentukan tinggi barometer, tentukan juga tinggi bayangan barometer, dan tinggi bayangan bangunan. Menggunakan proporsi tersebut, kau bisa menentukan tinggi bangunan.”

“Baguslah,” jawabku, “dan lainnya?”

“Ya,” ucap si murid. “Ini adalah metode dasar yang akan kau suka. Kau bawa barometernya menaiki tangga. Selama kau menaiki tangga, tandai jarak barometer sepanjang dinding. Hitung berapa banyak tanda, dan ini akan memberi tahumu tinggi bangunan menggunakan unit barometer.”

“Metode yang sangat langsung.”

“Tentu. Jika kau ingin metode yang lebih mutakhir, kau bisa mengulum barometer dengan tali. Ayunkan seperti bandulan, dan tentukan nilai g (gravitasi) di tanah dan nilai g di atap bangunan. Dari perbedaan nilai gravitasi, berdasarkan prinsip fisika, tinggi bangunan bisa dihitung.”

“Dengan metode mirip juga, kau bisa membawa barometer ke atap bangunan, ikatkan tali ke barometer, jatuhkan ke tanah, dan tarik seperti bandulan. Kau bisa menghitung tinggi bangunan dari periode presesi.”

“Pada akhirnya,” dia menyimpulan, “ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahn ini. Dan mungkin yang terbaik,” si murid berkata, “dengan membawa barometer ke lantai dasar, mengetuk kamar pengawas bangunan. Dan saat si pengawas membuka pintu, katakana padanya: ‘Bapak pengawas, ini adalah barometer yang masih bagus. Jika kau beri tahu padaku tinggi bangunan, aku akan memberikanmu barometer ini.”

Pada tahap ini, saya bertanya pada si murid apakah dia sungguh tidak tahu jawaban konvensional untuk pertanyaan ini. Dia menjawab bahwa dia tahu, namun dia selalu kesal dan jemu dengan gurunya yang mencoba mengajari dia bagaimana cara berpikir.


Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...